Every Mom Has Her Own Battle

Davincka
Jihan Davincka Simply a mom of 2, Nabil and Narda. 100% Buginese. Since 2009, living abroad along with her husband. Having many tremendous experiences from Tehran (Iran), Jeddah (Saudi Arabia) and now in Athlone (Ireland).

sumber: www.gettyimages.com

Salah satu ‘perang dingin’ yang tak kunjung usai antara sesama ibu-ibu adalah masalah SAHM vs WM. Stay at Home Mom vs Working Mom. Please, don’t say ‘Full time Mom’, karena tidak ada yang namanya ‘Part-time Mom‘.

“Alhamdulillah ya, sesuatu banget. Gajian lagi hari ini. Bisa beli ini-itu tanpa nyodorin tangan ke suami. Nikmatnya menjadi wanita mandiri.”

Kubu sebelah siap membalas, “Alhamdulillah ya, badan encok karena sibuk BBM an. Kerja gratisnya tidak sia-sia, lho. Insya Allah surga balasannya. Super sesuatu.” BBM = beberes, benah-benah, memasak.

Dan akhir-akhir ini, kancah pertarungan diramaikan oleh pendatang baru: Working at Home Mom. Biasanya di Jumat sore, saat macet menaklukkkan ibukota apalagi jika dibombardir dengan hujan, kubu yang ini siap berkicau:

“Aduh, hujan nih. Berkah namanya. Alhamdulillah ya, di rumah-rumah saja dari tadi. Bebas dari lebatnya hujan. Tapi kantong tetap basah, gak ikut-ikutan kering. Main sama anak sekaligus dapat penghasilan sendiri. Sesuatu banget.”

Yang satu mengatasnamakan kemandirian. Ada yang merasa berhak atas surga. Dan ada yang merasa sebagai pemenang sejati, “Hey I get both, mandiri plus kebersamaan bersama keluarga.”

***

Parenting style itu unik tiap keluarga. Saya tidak pernah meragukan itu. Saya tidak percaya jika lebih banyak SAHM yang berhasil mengantar anak-anaknya ke gerbang kesuksesan. Jika para WM harus mengorbankan keluarganya demi karier. Contoh nyatanya banyak di sekitar saya. Yang saya lihat langsung.

Ibu saya bukan SAHM. Mama panggilannya. Saya ingat betul saat pulang sekolah dulu, bukan Mama yang menyiapkan makanan di meja. Bukan wajahnya yang pertama kali muncul saat saya membuka mata setelah waktu tidur siang usai. Yang meladeni saya berganti-ganti.

Tapi saya tidak pernah lupa yang mana Mama saya. Apalagi berniat memanggil yang berganti-ganti itu dengan sebutan ‘Mama’. Tidak pernah. Kalau waktu bisa berjalan mundur pun, saya tidak akan meminta agar Mama stay at home for us. Cukup seperti dulu. She’s always be the best Mom for us.

Salah satu kerabat yang saya kenal juga berprofesi sebagai WM. Dari awal perkawinan hingga detik ini. Ketiga anak-anaknya tumbuh diatas rata-rata. Yang bungsu kini tengah menempuh pendidikan kedokteran di universitas negeri ternama di tanah air. Kakak-kakaknya tidak kalah hebatnya secara akademis maupun non akademis.

Dan ada beberapa kerabat yang memilih jalur SAHM. Tapi entahlah, anak-anaknya malah belum mampu berdiri secara tegak bahkan ketika mereka telah memasuki gerbang pernikahan.

Tapi ketika saya memutuskan mengakhiri status sebagai Working-Mom 3 tahun yang lalu bukan karena figur mana pun. It’s my own choice. Buat saya pribadi, itu adalah pilihan terbaik yang paling cocok untuk saya. Belum tentu buat orang lain.

Tentu ada adjustment yang harus dilakukan. Tidak 100% kerelaan langsung berlabuh dalam hati.

***

“Ah, dia tidak mengurus anak. Seharian saja di kantor. Anak dikasih ke pembantu.” Cibiran buat Ibu pekerja kantoran.

Tapi, sepanjang hari di kantor, statusnya sebagai Ibu tidak dilepas begitu saja. Subuh-subuh sudah harus bangun mempersiapkan makanan si kecil. Pagi – siang – sore menelepon ke rumah mengecek si kecil di sela-sela kesibukan kantor.

Jangan mencibirnya. Belajar saja akan ketangguhannya membagi waktu. Kekuatan hati yang tanpa batas untuk senantiasa membagi pikiran antara pekerjaan di kantor vs pekerjaan di rumah.

“Ih, kok mau yaaaa, sekolah tinggi-tinggi kok lha ya BBM-an doang di rumah.” Definisi BBM nya diatas, masih ingat kan?

Sepanjang hari di rumah bersama anak tidak hanya menggunakan kekuatan fisik saja, batin juga mesti kuat ya. Jangan bertanya-tanya, ambil saja hikmah kesabaran seluas samudera yang dimiliki mereka, yang memilih jalan ini.

“Ih, paling keren gue dong. Bisa sepanjang hari di rumah. Uang mengalir terus. Dekat sama anak sekaligus mandiri secara keuangan.” Mau, mau, mau!

Pada umumnya yang model seperti ini ikut bisnis MLM. Wah, berkarier di dunia MLM ini beda lagi lho tantangannya. Atau untuk yang berbisnis lain di rumah, pasti repot membagi pikiran sekaligus tenaga jadi dua di saat yang sama. Kita bisa melihat dan mencontoh persistensi mereka yang tak ada habis-habisnya.

Jadi, intinya bukan di seberapa banyak waktu yang diluangkan untuk keluarga. Apa artinya bila pilihan itu tak bermakna dan malah menjadi bumerang?

Relakah meletakkan karier demi anak tapi sepanjang hari meratapi pilihan itu?

Apa sanggup setiap hari menghabiskan waktu di belakang meja, tapi tak kunjung rela bila membayangkan anak harus berada di tangan orang lain?

“Sebesar apa pun keinginan untuk membahagiakan anak dan keluarga, jangan pernah mengabaikan kebahagiaan diri sendiri.”

Apa yang coba ditawarkan kepada mereka, jika kita sendiri telah merasa kebahagiaan kita telah tercabut dari akarnya? Ingat petunjuk keselamatan dalam pesawat untuk pertolongan pertama saat sirine tanda bahaya berbunyi, “Selamatkan diri Anda terlebih dahulu sebelum menyelamatkan orang lain.”

***

“Surga dibawah telapak kaki Ibu.” Bukan di bawah telapak kaki Ibu Rumah Tangga, Ibu Pekerja Kantoran, atau Ibu Pengusaha. Tapi di telapak kaki (semua) Ibu.

Semua pasti ada pengorbanannya. As every Mom has her own battle. Win yours without being ‘nyinyir’ to others.

Sepakat?

 

135 Comments

  1. nanad
    swastikha nadia July 5, 2012 at 5:11 am

    keren artikelnya nih jihan :D

    angguk2 terus selama baca ini dari atas smpe bawah,bahasanya juga lugas.
    setuju banget quote terakhirnya..lets win ours!!

    1. Davincka
      Jihan Davincka July 6, 2012 at 8:35 am

      Thanks, Nadia. Betul…lets win ours ;)

  2. proet
    putri mahardhikarini July 5, 2012 at 6:56 am

    Ceritanya ‘kita banget’ mba, itu pembicaraan yg saya dengar tiap hari di sekitar saya pas di kantor dan di rumah. Thank you so much for sharing, karena ceritanya lagi di persimpangan jg pengen pindah kubu :-)

    1. Davincka
      Jihan Davincka July 6, 2012 at 8:37 am

      Wah,kenapa mau pindah? hehehe. Sebenarnya ndak perlu ada kubu-kubuan, kan judulnya sama-sama IBU/MAMA/BUNDA/MOMMY ^_^

  3. wardani
    liana wardani July 5, 2012 at 7:42 am

    Setuju … Saya memutuskan “terpaksa” keluar dr kerja krn anak gak ada yg pegang (kebetulan memang sdh diniatkan tp waktunya jd jauh lebih cepat). Itu pilihan, betul kata jihan ternyata gak mudah juga, perlu kesabaran seluas samudra …:-). Bahkan sampai sekarang saya masih trus belajar … Jadi salut buat yg kerja tp ttp bs ngatur keluarga …. Hidup itu pilihan, maka bertanggungjawablah …. Atas apa yg sdh dipilih

    1. Davincka
      Jihan Davincka July 6, 2012 at 8:38 am

      Betul. Saya dulu malah molor mau berhenti kerjanya. Tadinya pas anak lahir. Tapi baru’siap’ saat dia berumur 8 bulan hehe.

  4. nuynuy
    nurul setiawan July 5, 2012 at 7:44 am

    Ini artikelnya ngena banget.. Dulu waktu kerja, dibombardir cibiran karna ninggalin anak, tapi karna diprotes anak jdnya resign dan jadi stay at home mom. Skrg dicibir sama tmen tmen kerja dulu.

    1. Davincka
      Jihan Davincka July 6, 2012 at 8:40 am

      Waktu saya masih kerja, saya dan teman-teman saya suka ‘gosipin’ ibu-ibu rumah tangga saat kami lagi di nursery kantor meres ASI hihihihi. Pas jadi SAHM, giliran tetangga-tetangga saya yang SAHM yang ‘gosipin’ ibu-ibu kantoran. Ya, intinya, ibuk-ibuk memang suka bergosip hehehehe… :D

  5. utary
    Utary July 5, 2012 at 7:44 am

    Ah iya, artikel ini membuka mata. Saya pun sering ikut2an perang status cuma karena ‘panas’ sama inu2 yg lain, padahal saya sendiri yg memutuskan utk stay at home for my daughter. Yak makasi ya mom artikelnya yg menyadarkan.

    1. Davincka
      Jihan Davincka July 6, 2012 at 8:41 am

      Sama-sama, Mom:). Salam kenal ^_^

  6. Risqa Prasista
    Risqa Prasista July 5, 2012 at 7:49 am

    Sepakaaaat…*ketokpalu*

    1. Davincka
      Jihan Davincka July 6, 2012 at 8:52 am

      Salam kenal ^_^

  7. mila
    Mila I'anawati July 5, 2012 at 7:57 am

    Sepakat! Banget! Couldn’t agree more! *salaman sama semua ibu2*

  8. sinta wati July 5, 2012 at 8:05 am

    Kena bgt artikelnya,ska sedih pas mertua cerita dgn bangga anak2nya diasuh sendiri bkn “anak pembantu” lgsg brasa ditonjok,mana aq wm dan mamaku dulu jg wm,tp aq ttp syg dan hormat dgn ibuku,apalg stlh pnya anak rasanya smakin bangga dgn perjuangannya. smoga apapun statusnya sahm or wm ttp bsa jaga dan didik anak-anak kita dgn baik yah ^_*

    1. Davincka
      Jihan Davincka July 6, 2012 at 8:43 am

      Iya, yang ngantor dan yang di rumah, judulnya sama-sama “IBU” kok :D

  9. wully
    wully July 5, 2012 at 8:08 am

    hadoohh…”ngena” bangeeett…beberapa bulan terakhir semenjak ikut suami dinas di daerah bener2 bikin telinga panas ndengerin para ibu2 komplek mengomentari pilihanku sbg working mom #kebanyakanibu2komplekSAHM#.
    thanks bt artikel yg menguatkan hati ini ya mbak Jihan *ikut di belakang mbak Mila salaman sama semua ibu2*

    1. Davincka
      Jihan Davincka July 6, 2012 at 8:45 am

      Ajak arisan bareng aja, MOm hehehe

  10. Sidta
    Dian Arsita Kurniawati July 5, 2012 at 8:12 am

    nggak ada pilihan tanpa resiko, so .. pilih mana yang terbaik dan tanggung jawab sama konsekuensinya ..

    kebahagiaan itu bakal lebih sempurna kalau ngga ada nyinyir-iri-dengki ke orang lain

    top tulisannya mbak, aku padamu :)

    1. Davincka
      Jihan Davincka July 6, 2012 at 8:44 am

      Ajak arisan bareng aja, Mom. Hehehe.

      1. Davincka
        Jihan Davincka July 6, 2012 at 8:47 am

        Eh, salah reply hehehe. KOk malah yang ini arisan juga hehehe… Yup, tinggal pilih yang terbaik aja. As simple as that ;).

  11. vee_chan
    vera dp dewi July 5, 2012 at 8:15 am

    Sepakat mbak!
    Menjalani salah satu posisi diatas bikin sadar kalo ternyata being nyinyir itu bentuk ke’iri’an kita atas posisi lain..
    Jadi bisa aja, ibu pekerja yg nyinyirin ibu RT itu krn saking irinya pengen drumah bareng anak..atopun sebaliknya :))
    Semoga semua ibu bisa bertanggung jawab penuh atas pilihannya..
    Nice article!!!

    1. Davincka
      Jihan Davincka July 6, 2012 at 8:51 am

      Hehehehehe… being nyinyir salah satu bentuk peer pressure juga kali, yah. Sama lah kayak ASI vs SUFOR, dll :D.

  12. bundanadiandra
    bundanadiandra July 5, 2012 at 8:25 am

    Setujuh banget!!
    Yang laen yang masi suka nyinyir kaya diatas -> #MamaYeah banget!!!!

    1. Davincka
      Jihan Davincka July 6, 2012 at 8:52 am

      Masih aktif kah account MamaYeah :P. Lumayan baca-baca tweetnya untuk lucu-lucuan hehehe.

  13. indahmumut
    Indah Wahyuni July 5, 2012 at 8:29 am

    Aaa.. Setujuuuu.. i lop yu puul mbak..
    terima kasih sudah buat artikel ini.. :)

    1. Davincka
      Jihan Davincka July 6, 2012 at 8:53 am

      Sama-sama, salam kenal, ya. Love you too, Mommy *ciumPipi*

  14. eksinads
    Eksi Nadiasti July 5, 2012 at 8:34 am

    Setujuuuuuuuuuuuuuuuuuu!! :-)

    “Sebesar apa pun keinginan untuk membahagiakan anak dan keluarga, jangan pernah mengabaikan kebahagiaan diri sendiri.”

    *joget-joget* Makasih ya mba udah bikin artikel ini! :-)

    1. Davincka
      Jihan Davincka July 6, 2012 at 8:54 am

      Ibu yang senang lebih mampu menyenangkan anak dan keluarga :D.

  15. indriani budi utami
    indriani budi utami July 5, 2012 at 8:35 am

    nice article :)

    Secara pribadi, Saya sih nggak pernah mikirin perdebatan antara mana yg paling TOP antara jadi SAHM ataupun WM, karena bagi Saya dua-duanya itu pilihan ya, yg tentu saja didukung oleh sikon keluarga ybs.

    Saya sendiri, 3 tahun ini memutuskan untuk jd SAHM dulu karena memang saat ini anak Saya sedang membutuhkan peran Saya.Tapi sekarang ya, beberapa tahun mendatang sih hanya Tuhan yg tahu..

    Ga perlu ya mencibir WM itu begini begitu..lha wong kita sebagai SAHM juga butuh mereka..misal, yang jadi guru anak-anak kita juga seorang WM kok hehehe

    1. Davincka
      Jihan Davincka July 6, 2012 at 8:55 am

      Betul Mbak. Sayangnya masih ada saja, ya. Padahal ya, kalo sudah pada punya anak, judulnya cuma satu : “IBU” :).

  16. bundaliffa
    liana kirana July 5, 2012 at 8:48 am

    “Semua pasti ada pengorbanannya. As every Mom has her own battle. Win yours without being ‘nyinyir’ to others.” I love this quote dan ijin copas yak :p buat “nyentil” emak2 yg nyinyir di luar sana :P

    Nice article.. bener-bener ngena bangeet deeeh mommy jihan hii
    aku padamu juga deh

    1. Davincka
      Jihan Davincka July 6, 2012 at 8:56 am

      Silakan :). Duh, jangan sentil-sentilan hehehe. Tuker-tukeran gosip aja :P.

  17. Dinniw
    Dinniw July 5, 2012 at 9:00 am

    setujuu mba jihan, apa yang aku pikir udah ketulis semua disini. hariini lagi berusaha win the battle dgn pagi bikin makanan & cemilan buat fay dan sekarang duduk di cubicle dengan setumpuk kerjaan :)

    1. Davincka
      Jihan Davincka July 6, 2012 at 8:56 am

      Dinniiiiiiiiiiii ^_^

  18. BunDit
    BunDit July 5, 2012 at 9:06 am

    Good writing mom. Awal saya jadi ibu, ngeblog, gabung di milist/web parenting, geleng2 kepala juga dengan “huru-hara” WM, FTM, SAHM, WAHM, whatever we called. Kenapa harus dipermasalahkan dengan saling mencibir, merasa paling benar. Lha wong kita sama2 seorang ibu, hanya pilihannya saja yang berbeda. Tapi lucunya malah kadang bukan saling nyinyir, tapi justru saling iri. Entahlah iri beneran apa gak :D

    Kalau menurut saya pribadi, apapun pilihan kita, jangan pernah merasa pilihan kita salah dan kemudian iri dengan pilihan ibu lain even hanya membatin atau meninggalkan jejak komentar di blog dengan “waaah enak ya jadi SAHM, bisa dekat sama anak2 sepanjang hari” atau “waaah..seru ya kalau jadi WM bisa beli ini itu dengan uang sendiri”. Saya menghindari banget spt itu. Saya sih mensugesti diri untuk mantap dengan pilihan saya. Saya memang bekerja, tapi Insya Allah saya pun bisa menjadi ibu yang baik buat anak saya. Biar gak guilthy feeling dengan pilihan, apalagi sampai nyinyir dengan ibu lain :-)

    1. Davincka
      Jihan Davincka July 6, 2012 at 8:58 am

      Betul. Bener banget itu Mom. Bikin capek aja, manfaatnya juga gak ada. Paling cuma jadi punya banyak bahan untuk nge-tweet atau bikin status di FB hehehe.

  19. neni_arka
    Neni Setyoreni July 5, 2012 at 9:14 am

    awesome…!!!
    setuju banget….bagi saya sih, mau SAHM atau WM selama hati kita selalu untuk keluarga sih sama hebatnya. Saya sendiri WM yang setiap hari berusaha win the battle untuk nyiapin kebutuhan si kecil sebelum saya antar ke ibu pengasuhnya. Secara sekarang arka dah mulai MP ASI dan saya ingin semua yang masuk ke perutnya adalah hasil karya saya.
    luv u mom jihan…:)

    1. Davincka
      Jihan Davincka July 6, 2012 at 9:00 am

      Wah, hebat, Mommy ;). Luv U too ^_^

  20. otty
    Pangastuti Sri Handayani July 5, 2012 at 9:21 am

    Artikelnya bagus… Gue sampe menitikkan air mata pas baca, keinget anak di rumah :’)

    1. Davincka
      Jihan Davincka July 6, 2012 at 9:01 am

      Hehehehe, saya baca cerita oleh-oleh ASIP buat Niska-nya. Way to go, Mbak Otty ;).

  21. thearizkia
    thea rizkia July 5, 2012 at 9:39 am

    setuju bangeet deh ini. kita punya cara kita sendiri untuk menjadi ibu terbaik untuk anak-anak kita.

    1. Davincka
      Jihan Davincka July 6, 2012 at 9:02 am

      Indeed ;). Cara sendiri yang unik tiap orang. Capeklah kalau mau banding-bandingi terus :D.

  22. dian islami
    Dian Islami July 5, 2012 at 10:02 am

    meleleh pagi-pagi baca ini…peluk buat ibu-ibu terbaik di dunia insyaAllah terbaik di akhirat juga…

    1. Davincka
      Jihan Davincka July 6, 2012 at 9:02 am

      Amiiinnn :)

  23. prastawa
    Nita Prastawaningrum July 5, 2012 at 10:09 am

    dang!

    sebagai WM yg saat ini lg dapat kesempatan ‘trial’ sbg SAHM..gileeeee ngerasain juga deh susah dan enaknya ngejalanin kedua pilihan itu. Dua2nya sama2 enak dan ga enaknya sih! haha..but u’re right mba, neither is better than the other, they’re all mom to their children :)

    nicely written.

    1. Davincka
      Jihan Davincka July 6, 2012 at 9:03 am

      Terima kasih. Good luck buat trialnya hehe.

  24. geezta
    Mevyenna Agizta Konig July 5, 2012 at 10:23 am

    this is why i love TUM.
    semua saling menghargai pilihan n parenting style masing-masing.
    mau wm/sahm/wahm , mau asi/sufor, mau breasfeed/eping ga ada yg saling menjatuhkan,malah saling dukung..
    senang :D
    salute buat semua ibu xoxo

    1. Davincka
      Jihan Davincka July 6, 2012 at 9:04 am

      Yup, sesuai motto kerennya : There’s always a different story in every parenting style ;)

  25. nina
    nina July 5, 2012 at 10:33 am

    i agreed

    1. Davincka
      Jihan Davincka July 6, 2012 at 9:05 am

      sip ;).

  26. ninaKriya
    nina kriya July 5, 2012 at 10:56 am

    agh, keren banget tulisannya! Setuju..setiap ‘title’ juga sudah berjuang habis2an. ditambah nyinyir ke orang lain, ntar semakin habis energinya :)
    *balik lagi BBM-an*

    1. Davincka
      Jihan Davincka July 6, 2012 at 9:05 am

      Ahahahahaha… salam BBM :P

  27. koelyd
    Lydia Ocshalina July 5, 2012 at 11:06 am

    sepakat mom

    1. Davincka
      Jihan Davincka July 6, 2012 at 9:15 am

      Sip :D

  28. dadidedo
    Anggraini Karimuddin July 5, 2012 at 11:24 am

    Jihan tulisan loe ini keren banget!! Couldn’t agree more. Setuju buat semuanyaaa.. :-* :-*

    1. Davincka
      Jihan Davincka July 6, 2012 at 9:28 am

      Sip Nggi :D

  29. resty prasetio
    resty prasetio July 5, 2012 at 11:43 am

    As every Mom has her own battle. Win yours without being ‘nyinyir’ to others.

    setujuuuuu banget sama kata2 ini, hehe….
    sesama Ibu2 jangan saling ‘nyinyir’ yahh… ;)

    1. Davincka
      Jihan Davincka July 20, 2012 at 11:16 am

      Padahal pada dasarnya saya orang yang nyinyir, nih…ahahahahaha :D. Salam kenal Mbak Resty ;).

  30. m@m@n@th@n

    nice aarticle…aq ngalamin yg ” sayang ya sekolah tinggi ga kerja “, apalagi di komplek rumah rata2 wm..but that a choice..kuping seh panas pertama nya, apalagi kalo udah menyangkut keuangan ” kan enak tu kalo dua2 ny kerja, duit nya lebih banyak ” tapi kembali lagi ke kita nya ( ada yg cocok pake bs/art, ada yg tidak cocok ato keluarga nya jauh)..buat q mau jd sahm/wm ato apapun sebutan nya itu kembali ke diri qt sendiri utk ngejalanin nya…

    1. Davincka
      Jihan Davincka July 20, 2012 at 11:17 am

      Betul, yang paling tahu ya orang yang menjalani :).

  31. Kira Kara
    Bunda Wiwit July 5, 2012 at 11:59 am

    sepakat bangeeettttt!!!
    Sedikit menghibur ditengah dilema nih.. Thanks for Share.. :)

    1. Davincka
      Jihan Davincka July 20, 2012 at 11:18 am

      Apa pun dilemanya, good luck ya, Mom ^_^.

  32. adisanita
    adisanita July 5, 2012 at 12:04 pm

    Nah.. setuju bgt..

    setiap ibu yg normal, pasti ngga ada yg ngga sayang dgn anaknya, jadi apapun yg dilakukan ibu, atas pilihannya pasti adalah yg menurut dia itu yg terbaik, semua tergantung kondisi dan keadaan.

    Ibu saya, dari awal menikah adalah ibu RT murni, tp seiring berjalannya waktu, kebutuhan makin meningkat, demi membantu ayah saya yg gajinya sangat pas2an untuk menyekolahkan dan membiayai ke empat anaknya, ibu saya memutuskan untuk berdagang, pernah jualan warung rokok, pernah buka agen minyak tanah, pernah buka warteg demi untuk membantu keluarga, dan saya yakin… ibu saya ikhlas melakukannya demi kebahagiaan dia dan keluarganya.

    Tapi sekarang, keempat anak2nya hampir semua bekerja, hanya satu orang,adik saya yg dalam dua tahun terakhir ini kena phk jd tidak bekerja lagi, dan full jd ibu RT.

    Jadi, balik lagi, semua keputusan didasarkan atas kondisi dan keputusan yg sudah dipikirkan konsekwensinya, yg terpenting adalah setiap keputusan yg sudah diambil, harus dijalani, tanpa mengeluh, bersyukur dan selalu belajar menjadi ibu yg lebih baik.. Aamiin.

    Semangat buat para moms semua….( ingat, surga balasannya)

    Wass,

    1. Davincka
      Jihan Davincka July 20, 2012 at 11:18 am

      Sepakat. Kondisi tiap orang tidak sama. Dan juga ada dimensi waktu yang menentukan :).

  33. bundanayasmin
    ika fitriana July 5, 2012 at 12:13 pm

    sepakat mommy jihan…..

    1. Davincka
      Jihan Davincka July 20, 2012 at 11:19 am

      Salam kenal ya Bunda :D

  34. Honey Josep
    Honey Josep July 5, 2012 at 12:21 pm

    Sepakat!!!

    Semua pasti ada pengorbanannya. As every Mom has her own battle. Win yours without being ‘nyinyir’ to others.

    Kalimat di atas keren sekali :)

    1. Davincka
      Jihan Davincka July 20, 2012 at 11:20 am

      Lets win ours! :D. Salam kenal Mommy ;)

  35. kembanggeulis
    kembanggeulis July 5, 2012 at 1:16 pm

    thanks for share..
    berasa banget akhir2 ini lagi galau karena diriku seorang WM yang pengen jadi SAHM tapi belum bisa mengingat kebutuhan yang tinggi..
    alhamdulillah cukup terhibur dengan artikel ini.. nice article..

    1. Davincka
      Jihan Davincka July 20, 2012 at 11:26 am

      Semangat, Mom. Mungkin saat ini, menjadi WM adalah pilihan yang lebih bijaksana :).

  36. diannyakakak
    Dian Prihatini July 5, 2012 at 1:17 pm

    “Surga dibawah telapak kaki Ibu.” Bukan di bawah telapak kaki Ibu Rumah Tangga, Ibu Pekerja Kantoran, atau Ibu Pengusaha. Tapi di telapak kaki (semua) Ibu.

    Thank you for sharing mom *kecup*

    1. Davincka
      Jihan Davincka July 20, 2012 at 11:26 am

      Kecup balik (yang lebih basah) hehehehe ;).

  37. uminyakiera
    Era July 5, 2012 at 1:37 pm

    Yes, setuju. Stop being “nyinyir”, apapun bentuknya.

    1. Davincka
      Jihan Davincka July 20, 2012 at 11:27 am

      Sepakat! Salam kenal ;).

  38. arvasmom
    ade nuryulianti July 5, 2012 at 3:09 pm

    aah,, suka banget sama artikel ini :)

  39. ibu_kei
    erma anindyari July 5, 2012 at 3:46 pm

    Jihan Davincka, artikelnya bagusssss sukses bikin mata banjirrrrr :D

  40. ninit
    ninit yunita July 5, 2012 at 4:07 pm

    artikel ini bagus bangeeet :) kereeen jihan!

  41. erina
    Erina Ramdhani July 5, 2012 at 4:23 pm

    abis mampir ke blognya Woro, langsung kabur kesini.. makasih artikelnya ya Jihan.. lovely. Very lovely :)

  42. twinkle
    efy July 5, 2012 at 4:42 pm

    very well said.. bener banget..setuju banget ama tulisan ini mau working mom , stay at home mom or working at home mom, semua adalah pilihan yang terbaik untuk masing masing orang yang ga bisa disama ratakan,, tergantung sikon masing masing. TFS :)

  43. fifu
    tika dewangga July 5, 2012 at 5:06 pm

    setuju sekali, we have our very own battle :’) and none is less worthy.
    sedikit nambahin yah, ttg issue working at home mom yg tampak spt best deal… sbnrnya mungkin nggak selalu begitu juga kok :)
    yg namanya kerja meskipun dirumah, ttp aja namanya kerja, nggak selalu bisa disambi. kalo nggak nyetok sabar sama ilmu multitasking sama manajemen waktu… bisa justru jd cobaan :p quality time sama keluarga gak dapet, kerjaan gak slese, bawaannya malah jd butek, apa2 gak ada yg bnr2 beres… sementara social judgement-nya sering gak sensitif sama yg begituan… kalo pms bisa jd merasa gagal, incapable, dsb lah, heheheh *curcol

  44. JenSuta
    Jennifer Sutarsa July 5, 2012 at 5:07 pm

    yup, masing2 ada plus minusnya, masing2 harus pinter ngaturnya, satu sama lain, ga ada yang lebih baik atau lebih buruk, yang penting manusianya
    Saya sendiri sebagai WM, kalau lagi kangen anak yah paling bisa telpon sama liatin fotonya, karena ga memungkinkan untuk pulang ke rumah.

  45. GrcYrn
    Grace Yurianne July 5, 2012 at 5:22 pm

    Sepakattt!!! No nyinyir, kelarin aja dulu kerjaan sendiri, daripada nyinyir ga jelas:p

    Dulu sebagai working mom, yah gitu mentok2 kalo lagi kerja terus kangen, nelpon sama liatin foto, senengnya pas pulang, disambut anak di depan rumah, terus dipeluk, hua kalo uda gitu, luluh langsung, cape juga ilang:D

    Sekarang, karena sudah bisa bekerja dari rumah, paling keluar rumah kalo perlu aja, senengnya, pagi2, masih bisa santai & guling2an sama anak, mau jalan2 sama anak bisa kapan aja. Tapi giliran lagi ada perlu mau pergi, agak susah nih minta ijinnya sama anak, dikomplen “pergi2 terus, kapan mainnya sama aku” *toenk*

    hohoho

  46. miund
    miund July 5, 2012 at 5:27 pm

    baru pertama berkunjung sebagai member *cieee* dan langsung jatuh cinta sama artikel ini. membuka mata banget, ternyata silent war-nya sampe segitunya. hedeh banget deh.

    artikel ini juga bagus karena yang kerjanya kaya saya emang ga ada kategorinya sih, pagi siaran, siang kerja di rumah, kadang syuting. jadi kalo dikategoriin juga repot. Working Everywhere Mom mah aneh atuh ya hahahaha…

    thanks for writing this!

  47. starlastar
    starlastar July 5, 2012 at 5:37 pm

    super setuju dengan artikel ini. :)

  48. shanti_nartha
    Shanti Nata Artha July 5, 2012 at 8:13 pm

    Saya sering menghadapi cap WM yg tega ninggalin anak sendiri dan dibandingin sm SAHM…sampai pd akhirnya sy brani bilang klo orang2 yg ‘melabeli’ saya, yaah they’ve just never been in my shoes…

    Anyway,terima kasih sudah menuliskannya mba Jihan!! :)

  49. ghifAruni
    meccarania dila July 5, 2012 at 11:01 pm

    keren artikelnya mba *empatjempol

    aku pernah berada di posisi memilih jadi SAHM, tapi ternyata butuh kesabaran ekstra besar, kadang ya jadi uring-uringan.

    pada akhirnya ritmenya ketemu, tetep bisa kerja ga full time. masih punya waktu cukup banyak sama anak-anak, tapi juga bisa menyalurkan passion bekerja.
    jauh sama anak sementara waktu justru bikin quality time lebih ngena.

    anyway, ga jaminan juga WAHM anak keurus, kadang sibuk sama kerjaan anak dicuekin. been there semuanya akuu

    paling penting bahagia sama yang kita jalani :)

  50. cluelessmom
    Mia Aristanti July 6, 2012 at 9:42 am

    Apapun statusnya, asal dikerjakan dengan senang hati pasti bisa memenuhi kebutuhan anak dan keluarga. Intinya ga usah mendambakan ataupun menghakimi posisi orang lain, tapi mensyukuri dan mencintai posisi sendiri. Anak pun akan bahagia jika ibunya bahagia. Seperti lagu Barney, “my family’s just right for me” yang bagi saya berarti anak tetep hepi dalam situasi keluarga apapun (ibu bekerja atau ayah tinggal di luar kota atau keluarga yang bercerai) selama dia merasa tidak kekurangan kasih sayang dan rasa percaya pada orang tuanya.

  51. titididi
    fitri Annisa July 6, 2012 at 11:20 am

    Yeaaayy!!

    salam kenal mbak Jihan, suka dan sangat setuju dengan artikelnya.
    Saya, Working Mom karena kebutuhan tp InsyaAllah anak tetep nomer 1.

  52. andiah
    Andiah Zahroh July 6, 2012 at 11:46 am

    salam kenal mbak Jihan
    terharu baca artikel ini :’)
    setuju bangeeettt sama semuanya, mewakili hati nurani para SAHM, FTM, dan M M yang lain, hehehe..

  53. andiah
    Andiah Zahroh July 6, 2012 at 11:48 am

    Eh, edit
    bukan FTM tapi WM :p

  54. umi farhat
    Yayu Romdhonah July 6, 2012 at 12:45 pm

    Duh! Mbak Jihan bener bgt. sampe meneteskan air mata bacanya..
    Saya, SAHM, suka terprofokasi sama lingkungan sekitar yg nyinyir “ngapain lulusan s2 cuma BBMan..” (minjam istilahnya mba jihan hehe..)
    so keinginan u jd WM kadang menggelayut di pikiran,tp selalu kalah dg senyum dan tawa farhat. so, sampe sekarang farhat 1 th, i’m still a sahm.

  55. ernanrea
    ernanrea July 6, 2012 at 1:11 pm

    Hidup itu penuh perjuangan, bagaimanapun caranya, di tempat kerja, di rumah….
    Dan saya yakin semua yang sudah menjadi Ibu adalah pejuang buat keluarga nya, jadi sama2 pejuang saling mendukung lah, gag usah merasa sempurna sendiri ya….
    SETUJU banget mbak Jihan, nicely written…..

  56. dparamita
    Dita Paramita July 6, 2012 at 3:19 pm

    very very nice and smart article. Mbak, bolehkah aku share di FB ku?

  57. annchaja
    anita mardiana July 6, 2012 at 4:08 pm

    sepokat banget sist!!! sma kyk dita, very smart article..

  58. PatYunan
    Patricia Yunanta July 6, 2012 at 5:38 pm

    sepakad sama artikelnya, apa pun itu, masing-masing ada serunya sendiri, salam kenal :)

  59. Martha Rainy
    Martha Rainy July 6, 2012 at 5:57 pm

    salam kenal mbak!

    very nice and inspiring article!

    Ijin copas ya mbak kalimat yang bawah itu:

    “As every Mom has her own battle. Win yours without being ‘nyinyir’ to others.”

  60. aniwul
    Anita Wulandari July 6, 2012 at 5:58 pm

    Salam kenal ya mama Jihan..
    *peyuukkkk* hehe..d article came just in d right time for me..disaat sy sedang gamang dg kondisi sy.. semoga setelah bc artikel ini bisa menetapkan hati utk keputusan yg terbaik bagi semua, tq mom =)

  61. ayupermatadewi
    Ayu Permata Dewi July 6, 2012 at 9:18 pm

    seeppppaaaakkaatttttt….
    hebat artikelnya, sangat memotivasi semua ibu dengan profesi apapun :)

  62. CindyBudiana
    Cindy Budiana July 7, 2012 at 1:28 am

    keren artikelnya! :)

  63. rozalina
    Rozalina L Zulkarnain July 7, 2012 at 7:02 pm

    Nice article..!! thanks for sharing ya Jihan….:)

  64. nidafauzi
    nida fauzia July 8, 2012 at 4:49 pm

    wew..artikelnya pas sekali,mbak jihan :) tgl 2 kemarin saya mulai masuk kerja lagi diusia aliyya yang baru 2,5 bulan. galau itu pasti. bahkan sempet tangis-tangisan sama suami. tapi ya sudahlah karena aliyya saya tinggal sama nenek juga art jadinya saya agak tenang. baca bismillah setiap pagi sambil afirmasi diri dengan ngucap “ikhlas..ikhlas..ikhlas, ya Allah” :)

    jadi wm semata-mata pengin bantu suami berjuang supaya keluarga lebih baik, apalagi biaya kebutuhan anak yang cukup tinggi. insyaallah kalau suami uasahanya udah lebih settle ya pengin juga jadi SAHM :)

    TFS mbak :)

  65. July 8, 2012 at 6:16 pm

    sejak aku hamil, aku resign. Sejak saat itu jadi SAHM.

    dengan kondisi proses divorce. Aku mulai menyadari banyak kelemahan istri yang tidak bekerja di strata sosial. i feel it!

    Kedepan, after divorce. Aku mau kembali membangun karirku.

    Sampai matipun aku tetap ibu dari anakku.
    tapi untuk mendapatkan harga diri dan ‘perlindungan’ optimal memang butuh profesi alias pekerjaan tetap. Kalau bisa di perusahaan terbaik.

    pesan terbaik yg aku dapatkan dari masalahku :

    Wanita harus bekerja.
    Karena nanti ditinggal HIDUP (cerai) tetep hidup
    ataupun ditinggal MATI tetep hidup

  66. bita tj
    bita tahajjaddati July 9, 2012 at 12:37 pm

    ijin copy ya mba..mak jleb..hehe

  67. phiet_three
    Nurfithria July 9, 2012 at 1:32 pm

    like this article so much… & setuju banget sama quote di kalimat trakhir..
    Thanks 4 sharing mom jihan… :)

  68. marinania
    marina gardenia July 9, 2012 at 2:42 pm

    woooww keyen jihan!

    karena so far i’m a working mom… aku setuju banget sama bagian ini…

    “Tapi, sepanjang hari di kantor, statusnya sebagai Ibu tidak dilepas begitu saja. Subuh-subuh sudah harus bangun mempersiapkan makanan si kecil. Pagi – siang – sore menelepon ke rumah mengecek si kecil di sela-sela kesibukan kantor.”

    so we’re all full time mom ya :)

  69. umi mita
    mita agustina July 10, 2012 at 1:39 pm

    Suara hati bangeet iniih …

    Stop nyinyir satu sama lain. We’re in the same battle as a mother :)

  70. Sella
    Ananda Ansella July 10, 2012 at 3:43 pm

    Setujuuuuu….!! Love the quote so much..
    Sebenernya jd WM karena kebutuhan bukan keinginan.. Tp udah pernah nyoba jd SAHM jg gak kuat secara mental, krn biasa pegang duit sendiri tiba2 jd minta sama suami mulu.. Jd sering merasa bersalah klo mo blanja ini itu krn ngerasa buang2 duit suami… Insya Allah saat suami udah lebih “lumayan” n OL shop yg kurintis udah lbh mapan, pengen jd WAHM.. Semangat..!!

  71. mamasha
    mamasha July 10, 2012 at 6:11 pm

    Love your article!!! dilemma ibu2 bgt.
    Yup hidup Ibu!

  72. lisa namuri
    Lisa Namuri July 11, 2012 at 2:15 pm

    setuju banget….. mau jadi wanita kerja atau di rumah aja, selama kita bisa selalu mengambil pelajaran dari keseharian kita, ngga ada masalah ya kayaknya.. kalau dasarnya aktif, mau dimana aja pasti akan tetep aktif dan kreatif.. jangan pikir tinggal di rumah aja ga bisa bikin kreatif loh.. berasa banget soalnya dari cosmopolitan mama.. (cieeee.) sekarang bener-bener kerjain semua home duties sendiri… but I enjoy it as much as I worked before.. thanx Jihan:)

  73. TessNuss
    Tessa Nussy July 11, 2012 at 3:13 pm

    suka deh sama artikel ini, tidak menjatuhkan profesi yang manapun baik SAHM atau WM :)

  74. almy
    Nurul Almy July 12, 2012 at 1:12 pm

    love love love the quote : ““Surga dibawah telapak kaki Ibu.” Bukan di bawah telapak kaki Ibu Rumah Tangga, Ibu Pekerja Kantoran, atau Ibu Pengusaha. Tapi di telapak kaki (semua) Ibu.”

  75. nadned
    Nada Fatma July 12, 2012 at 9:22 pm

    udah baca di fb, lupa siapa yg share, tapi ga bosen baca lagi dan lagi, bagus banget artikelnya. Thanks for sharing, Jihan

  76. patria
    patria kusumaningrum July 13, 2012 at 3:19 am

    sepakat banget n very well said! semua ibu pasti pengen yg terbaik buat buah hatinya, siapapun dia, WM atopun SHM :) that’s just it!

  77. debba
    debba July 19, 2012 at 4:39 am

    i heart you :) waktu jadi WM dulu saya suka kepikiran anak terus, dan pas awal2 resign n jadi SAHM saya suka minder dikatain SAHM, apalagi yang bilang ibu sendiri, hadeeehh kalu dengerin apa kata orang mah ga bakalan bahagia hidup kita…

    tapi sekarang saya makin sadar kalu SAHM pun membutuhkan skills, ilmu, ikhlas dan sabar buat menghandle semua urusan anak dan urusan domestik rumah tangga.. sekali lagi, i heart you mba..

  78. annisamaulina
    Annisa Maulina July 19, 2012 at 7:28 pm

    Aku lulus kuliah abis itu kerja, dan baru belajar jadi SAHM selama cuti melahirkan 3 bulan skrg ini, dan baru tau berat2nya kerja ngurus anak dan urus2 domestik (kebetulan PRT pulang kampung jg). Jadi sebenernya mau kerja atau di rumah, jadi mom sama2 beratnya :D dan saya salut sebenernya ma SAHM, karena butuh kesabaran lebih tinggi kayaknya yaa..

  79. purplefenty
    Fenty July 20, 2012 at 8:45 am

    A very nice article…couldn’t agree more. Thumbs up ya mba Jihan

  80. Mama Windy
    Windy Agnestien July 20, 2012 at 9:44 am

    bagus tulisanmu, mba,… like it! :)
    yup,.. kadang suka risih klo ada di forum, baik offline maupun online yg beradu antara WM dan SAHM (klo WAHM sih, ga terlalu ambil pusing saya, sebab biasanya itu ujung2nya ngajak jd member MLM.. :) ). besok2 klo terjebak di forum kaya gitu, aku kasih link ke tulisanmu ini ah.. ;)

    Almarhum mama saya SAHM, saya WM
    saat sama2 dihadapi masalah yg sama, yaitu anak sakit yang cukup parah, stresnya mama saat sadar dia ga bs bantu papa menyiapkan dana untuk biaya perawatan yg lebih baik, sama dengan stresnya saya saat anak sakit dan sadar saya ga bisa ambil cuti untuk nemenin anak saya krn ada tugas penting hari itu.

    Berjuangnya juga sama beratnya, mama berjuang dgn sebisanya jual2 simpenan perhiasan beliau yg sebenrnya ga seberapa untuk sedikit mbantu papa. saya berjuang dgn seefektif mungkin menggunakan jam kerja saya, shg diharap tugas cepet selesai, bisa pulang lebih cepat, malam nungguin anak, urusan istirahat dilakuin di bis saat perjalanan PP kerja.

    Sama2 stres, sama2 berjuang yg terbaik, cuma bentuknya beda aja.. :)

    artinya, sama2 sayang anak, cuma “bahasa”nya beda aja..
    Sama2 berjuang yg terbaik untuk anak, cuma caranya beda..
    Jadi harusnya sama2 terbaiklah buat anaknya, dengan pendekatan yg berbeda

  81. osi
    rosiana damaiyanti July 31, 2012 at 9:05 am

    Paaas bgt baca artikel ini disaaat gw galau mau tetep jadi WM atau SAHM. top bgt artikelnya

    1. Davincka
      Jihan Davincka October 5, 2012 at 12:25 am

      Thanks. Ini ternyata banyak yang belum kena reply,ya hehehe. Semoga keputusan yang terbaik :).

  82. rizqa_amalia
    rizqa_amalia September 22, 2012 at 12:50 am

    subhanallah keren banget deh artikelnya..
    dalemm banget for all kinds of mum ya
    ijin share boleh ya mba? untuk menginspirasi ibu2 lainnya

    makasi banyak ya mba

    1. Davincka
      Jihan Davincka September 25, 2012 at 2:32 pm

      Silakan :).

  83. September 25, 2012 at 11:11 am

    *tahan napas selama baca artikel ini
    *fiuuuuuh…
    keren, dan sangat menginspirasi. ijin share ya, mbak jihan..
    makasih..

    1. Davincka
      Jihan Davincka September 25, 2012 at 2:33 pm

      Terima kasih :). Bolehlah pastinya di share hehehe :)

  84. kikimariki
    kiki rizqi October 8, 2012 at 4:51 pm

    iJin share ya mom,,,keren bangeeetttt

    1. Davincka
      Jihan Davincka October 9, 2012 at 4:57 pm

      Bolehlah pastinya. Tautkan ke link ini saja. Biar yang baca bisa intip-intip ke banyak tulisan lainnya di UrbanMama ini ;).

      1. Hanska
        Hanska Pratiwi October 21, 2012 at 10:27 am

        Pendatang baru nih mom, ijin share ya :)

  85. Fara Amarala
    Fara Amarala November 29, 2012 at 3:36 pm

    bagus banget mba jihan artikelnya.. jadi terharu..

  86. Davincka
    Jihan Davincka December 16, 2012 at 1:25 pm

    Thanks Mbak Fara :).

  87. Ummu Aiya
    Ummu Aiya December 27, 2012 at 8:09 am

    Subhanallah artikelnya… Keren bgt mba.. Aku jg mau share k temen2… ‘Sesuatu bgt’.. :p
    Jazakillah mba Jihan.. :)
    *member baru jg ni*

  88. Davincka
    Jihan Davincka January 1, 2013 at 1:29 pm

    Salam kenal, Ummunya Alya :).

  89. Wiwid
    Wiwid May 10, 2013 at 7:22 pm

    waduh mba Jihan, artikelnya JLEBBB banget.. kereeeenn.., salam kenal ya mba

  90. Rene82
    Rene82 May 21, 2015 at 3:53 pm

    Saya seorang WM yg sedang berproses menjadi SAHM dan sudah kenyang dinyinyirin orang sekantor karena langkah yg saya ambil. Sy rela meninggalkan karir dan penghasilan bulanan yg nilainya lumayan banged untuk sy, 7x UMR di Jakarta saat ini. Sy tidak pernah berpikir sy akan memutuskan begini. Tapi sy amati dan sy kadang merenung anak2 generasi jaman sekarang semakin ke sini seperti bertumbuh menjadi individu2 yg cuek, agresif, dan semakin banyak masalah sosial di masyarakat yg beragam kasusnya. Bullying, seks bebas, drugs, pornografi, perkosaan, there are just too much illness in our society nowadays. Rasanya dahulu kala dunia tidak sekeras sekarang. Apakah ada kaitannya dgn trend ibu bekerja (yang berangkat masih gelap pulang sudah gelap) bbrp dekade terakhir ini? I believe so. Anak2 yg masih kecil terkesan sanggup ”mandiri” ditinggal seharian. Kenyataannya sy lebih banyak menjumpai anak2 dgn ”kemandirian semu”. Anak2 yg terlalu dibiarkan berkembang sendiri memang terkesan “mandiri” tetapi dlm arti yg “individualistis”. Ignorant. Di balik itu adalah anak2 yg lebih sering bermasalah baik dlm hal perilaku, kematangan emosi (eq),, akademik, maupun sosial. WM tidak mengapa tetapi jika ada kondisi darurat misalnya kelangsungan hidup terancam jika istri berhenti bekerja. Jangan semata-mata bekerja karena sikap egois, rasa gengsi, & mengejar materi berlebih-lebihan. Ada satu buku yg mungkin bisa jadi referensi mengenai ibu yg bekerja, 7 MYTHS ABOUT WORKING MOTHER by SUZANNE VENKER. It’s really eye-opening!

  91. Rene82
    Rene82 May 21, 2015 at 4:07 pm

    You can have it all, but you can’t have it all at one time. At the same time. Saya yakin anak bukan alasan bagi perempuan untuk “tidak bergerak”. Tetapi, semua ada masanya dan ada porsinya. Semua adalah soal pilihan. Bukan anak yang harus dikorbankan agar kita bisa memiliki kehidupan yang kita inginkan. Melainkan kita yg berkorban agar anak2 kita mendapat kehidupan yg layak. A happy and healthy childhood creates a well-developed adult.

Post a Comment

You must be logged in to post a comment.