Healing Baby Blues with Breastfeeding

MommyMinjee

Mendekati 40 minggu kehamilan, saya makin tidak sabar untuk segera bertemu dengan bayi saya. Semua perlengkapan bayi sudah saya persiapkan dan saya juga sudah melahap semua informasi tentang bayi mulai dari cara memahami arti tangisan dan menanganinya, cara memandikan dan memijat bayi, posisi menyusui bayi, cara mencuci baju bayi dan berbagai hal lain tentang bayi. Ini adalah anak pertama kami yang akan menjadi “panggoaran” atau yang dalam adat Batak merupakan sebutan bagi kami orangtuanya. Karena ketika sudah memiliki anak, kami tidak lagi dipanggil dengan nama kami, melainkan dipanggil dengan “Bapak… (nama anak pertama) atau Mama… (nama anak pertama). Wow… She’s so special.

Saya masih ingat betapa semangatnya saya mencuci baju bajunya dan mengelus perut saya kemudian  berkata “Mama sudah siap nih, Nak, ayo cepat keluar kita main sama-sama.”

Perkiraan dokter, dia akan lahir pada 6 November 2011, tapi akhir bulan Oktober tiba-tiba air ketuban saya pecah dan saya pun dilarikan ke rumah sakit. Akhirnya setelah 24 jam saya berada di ruang persalinan, dengan rasa sakit yang luar biasa bayi saya lahir dengan selamat.

Pertemuan pertama dengan bayi yang saya beri nama Chila tidaklah seperti pekiraan saya. Semasa kehamilan saya selalu berangan-angan bahwa pertemuan itu sungguhlah mengharukan, Chila akan diletakkan di dada saya untuk inisiasi menyusui dini, kemudian saya menyapanya dan dibalas dengan tatapan matanya. Namun tidak ada yang seperti itu, karena saat Chila keluar, tiap adegan berlangsung dengan cepat dan “rusuh”. Chila langsung dilap dan dihanduki. Sementara itu dokter masih menjahit luka robek persalinan saya dan bidan menekan-nekan perut saya untuk mengeluarkan darah. Setelah dihanduki Chila diberikan di samping saya, saya kaget dengan bentuk rupa Chila. Badannya keriput, mata dan bibirnya merah, kepalanya lonjong dan kecil sekali, hanya seukuran botol air mineral. Saya hanya menyapanya “halo” kemudian tidak mau melihat dia lama-lama karena takut melihat kepala Chila yang begitu lonjong dan berdenyut denyut. Suster pun segera mengambil Chila untuk dirawat diruang bayi. Tidak ada proses IMD yang sejak awal saya ajukan kepada pihak rumah sakit. Suami keluar menemani suster ke ruang bayi, suami saya menangis terharu saat itu. Saya hanya merasakan rasa lega dan lelah luar biasa.

Setelah dipindahkan ke ruang perawatan, suster memberi tahu bahwa saya tidak diperbolehkan menyusui karena obat dari infus. Informasi yang diberikan pun tidak jelas karena diterjemahkan untuk kami oleh teman warga negara Korea. Suster menginformasikan bahwa Chila akan diberikan susu formula dan air glukosa sebagai pengganti ASI. Beruntung semasa kehamilan saya banyak mencari info mengenai ASI. Saya tahu bayi bisa bertahan selama 3 hari setelah dilahirkan tanpa asupan makanan apa pun. Saya menolak Chila diberikan susu formula atau air glukosa.

Sorenya saya menghubungi ruang bayi, saya memohon supaya Chila hanya diberikan ASI. Saya sangat bersemangat sekali untuk ASI eksklusif. Setiap 2 jam suster pun menelepon ke kamar saya untuk datang ke ruang bayi. Selama 3 hari perawatan bayi hanya berada di ruangannya tidak bisa dibawa ke ruang rawat ibunya. Saya tidak bisa berdebat untuk rooming-in atau meminta Chila dibawa ke kamar saya untuk disusui. Dengan kondisi badan yang sangat lemas dan luka jahitan yang masih sakit, saya berjalan menuju ruang bayi. Ruang bayi terlihat seperti akuarium besar dengan kaca lebar yang di dalamnya berisi puluhan bayi, ada yang tidur, menangis, ada juga yang digendong susternya sambil diberikan susu formula.

Saya menelepon ke dalam dan menyebutkan nomor bayi saya “chil bon egi juseyo” yang artinya “bayi nomor tujuh, please” saya pun masuk ke ruang menyusui, mencuci tangan dan duduk di sofa yang diberikan bantal berbentuk donat untuk mengurangi rasa sakit di bekas jahitan. Suster  masuk membawa  Chila dan memberikannya kepada saya. Setelah dilahirkan pukul 16.00, baru pada pukul 11.00 siang berikutnya, saya bisa menggendongnya untuk pertama kali. Padahal seharusnya bayi cepat dipertemukan dengan ibunya agar dapat disusui dan membangun ikatan batin. Lagi-lagi karena kendala bahasa, saya tidak bisa berdebat untuk hal itu. Kepala Chila sudah tidak lonjong lagi, matanya berkedip, mulutnya terbuka tertutup. Saya mencoba menggoda Chila, tetapi tidak ada reaksi.

Setelah memberikan Chila, suster langsung meninggalkan saya. Saya bingung bagaimana saya harus menyusuinya. Saya tidak mengerti caranya. Saya melirik ke kanan dan ke kiri melihat cara ibu-ibu menyusui dan menirunya, tetapi Chila hanya tertidur lelap. Begitu terus setiap 2 jam saya terseok-seok menuju ruang bayi untuk menyusui. Yang awalnya saya sangat bersemangat untuk menyusui, lama-kelamaan saya menjadi tersiksa dengan kegiatan ini selama di rumah sakit.

Sepulangnya dari rumah sakit, saya masih ceria dengan adanya anggota baru keluarga kami. Teman-teman juga datang untuk melihat Chila. Hampir semuanya berkomentar bahwa Chila mirip sekali dengan papanya. Saya menjadi sedih, kok saya yang setengah mati kesakitan melahirkan Chila, tapi semua bilang lebih mirip papanya. Tidak adil!

Malam pertama Chila tidur di rumah sangat membuat saya syok, karena selama di rumah sakit saya tidak pernah rooming-in. Jadi saya tidak tahu bagaimana keadaan di malam hari bersama bayi. Semua informasi yang pernah saya baca, menguap begitu saja. Chila buang air besar dan kecil berkali-kali, menangis tidak berhenti. Saya jadi lupa arti tangisan bayi karena saya benar-benar panik ketika Chila menangis. Kulit dan mata Chila berwarna kuning. Chila terlihat menyeramkan. Abang, suami saya, memasang alarm setiap 2 jam sekali agar kami bangun dan menyusui Chila. Chila hanya tertidur dan tak bereaksi. Kami elus pipi dan kupingnya, mengelitik kakinya, membuka bedong, bahkan menelanjanginya!! Tapi Chila tertidur lelap sekali. Saya berpikir dalam hati “Mama juga mengantuk!! Mau tidur, tapi kamu harus menyusu, Nak!! Kamu kan kuning.”

Suami terus menyemangati saya untuk menyusui, saya mulai merasa terpaksa untuk menyusui Chila. Tubuh saya mulai lelah karena kurang tidur, luka jahitan masih sakit sekali ketika duduk, obat pengurang nyeri yang diberikan membuat saya gatal-gatal karena alergi, serta meriang setiap malam karena payudara yang penuh ASI. Saya tiba-tiba berkata pada suami “Kita kasih saja sufor yang dikasih rumah sakit, Bang!” Emosi saya benar benar labil dan terguncang, padahal dulu saya yang paling semangat kampanye tentang ASI pada suami. Tapi untungnya suami tidak langsung menuruti saya yang sedang labil. Abang bilang “Sudah kita coba hapuskan saja opsi tentang sufor, ya…”

Suami pun mengusulkan supaya dia yang memberi ASIP di malam hari agar saya bisa beristirahat. Saya perah ASI dan saya pun tidur sambil menggigil, meriang setiap malam. Pada malam hari dalam keadaan lemah saya terbangun, melihat suami sedang menggendong Chila dan memberinya ASIP. Saya merasa kasihan sekali melihat Abang yang mengantuk. Abang bilang “Sudah kamu tidur saja, Sayang.” Saya pun tertidur sambil menangis.

Hari ke-3, suasana di rumah masih tetap sama. Sepi sendu di siang hari dan mencekam di malam hari karena tangisan Chila yang tidak berhenti. Diperparah dengan puting saya yang terbelah dan berdarah karena Chila belum bisa menyusu dengan benar. Sakitnya seperti disayat pisau walaupun hanya bersentuhan dengan baju. Saya tidur berdua dengan Chila sementara Abang tidur di sofa, saya menangis semalaman, tidak menyangka bahwa akan jadi seperti ini. Saya seperti menolak kehadiran Chila, saya tertekan sekali saat itu. Semua benar-benar hanya saya dan suami yang kerjakan tidak ada yang membantu kami.

Sampai akhirnya cuti suami untuk istri hamil selama 3 hari berakhir. Saya ketakutan setengah mati. Saya tidak tidur di malam hari maupun siang, karena saya takut kalau saya sudah nyenyak tiba-tiba Chila nangis. Saya termasuk tipe orang yang suka kesal kalau dibangunkan karena bangun mendadak bikin pusing. Ketika Chila menangis, saya ikut menangis. Bahkan saya pernah berteriak sewaktu Chila nangis “Diam! Mau kamu apa?” Di malam hari saya mengajak suami untuk tidur bersama  di tempat tidur, bukan di sofa. Selain karena saya kasihan, saya juga tidak nyaman berdua dengan Chila saja di tempat tidur. Entah kenapa saya bisa begitu. Akhirnya kami tidur bertiga dengan posisi horizontal supaya muat. Chila di pojok, saya di tengah dan abang di pinggir.

Sehabis menyusui, saya letakkan Chila dan saya langsung tidur menghadap Abang tetapi memunggungi Chila. Abang bilang “Kita tidurnya menghadap ke Chila dong, kasihan dia sendirian!” Saya pun menangis, tidak jelas sebabnya. “Tidak mau, aku mau sama Abang aja!” jawab saya.

Pernah kami sampai bertengkar karena situasi ini, saat Chila menangis terus, saya bilang ke Abang “Tidak enak ya rumah kita jadi berisik!” Abang yang saat itu juga dalam keadaan capek luar biasa menjawab ketus “Masih mending anak kecil yang berisik, daripada orang dewasa yang berisik!” Saya menangis makin menjadi-jadi, Abang pun membawa Chila keluar karena pusing mendengar dua orang menangis bersahutan. Semua rasanya menjadi frustrasi.

Saya merenung sendiri kenapa bisa jadi seperti ini. Banyak orang yang menginginkan anak, tetapi tidak punya. Anak ini yang dulu saya sayang-sayang di dalam kandungan, mengapa sekarang saya menolaknya. Suatu hari saat sedang menyusui, tangan saya ingin mengambil handphone tetapi tangan Chila menangkap tangan saya lalu digenggam erat sekali seperti tidak mau dilepaskan. Momen itu sangat berkesan sekali. Saya merasa bersalah punya perasaan menolak Chila walaupun kata orang itu disebabkan oleh hormon. Cara Chila menggenggam tangan saya seperti ingin bilang “Aku sayang Mama, jangan tolak aku, ya”. Setelah menyusu, Chila tertidur dan tersenyum, bahkan tertawa. Kejadian itu membuat saya kembali bersemangat menyusui Chila. Setiap hari saya melakukan “prosesi” skin to skin dengan Chila. Saya mulai mencoba berpikir bahwa Chila menangis karena memang seperti itu caranya berbicara. Saya membanggakan dan memuji diri sendiri yang bisa melakukan semua pekerjaan merawat bayi tanpa dibantu siapa pun agar saya tidak stres. Saya banyak curhat dengan teman teman yang juga baru melahirkan agar tidak merasa sendirian.

 

Tanpa terasa waktu berjalan, baby blues saya hilang tanpa saya sadari. Saya jadi menikmati kebersamaan saya bersama Chila. Saya sudah tidak takut ditinggal berdua saja dengan Chila. Chila sekarang makin bertumbuh, makin montok, dan makin cantik. Kalau saya pergi tanpa Chila, pasti saya ingin cepat pulang karena kangen. Saya bersyukur sekali bisa diberi anugerah anak selucu ini, Chila sangat murah senyum!

Baby blues memang tidak bisa dihindari tetapi kita bisa meringankannya dengan berpikir positif. Kalau memungkinkan setelah melahirkan sebaiknya ada yang membantu, karena rasa capek membuat kita jadi mudah stres.

Menyusui juga bukan sekadar “memberi makan” bayi kita. Menyusui bisa membantu kita menciptakan kontak batin dengan bayi kita. Menyusui jugalah yang membantu saya bisa sembuh dari baby blues.

31 Comments

  1. Teekaa
    Teekaa May 14, 2012 at 6:39 am

    luar biasa.. mengharukan sekali mba.. bisa menjadi pelajaran berharga buat saya yang sedang menantikan buah hati pertama.

  2. MommyMinjee
    MommyMinjee May 14, 2012 at 7:12 am

    Hehe.. Iya mba, semoga lancar ya persalinannya dan setelah melahirkan… Sehat2 semuanya

  3. dina noermadi prastyawan
    dina prastyawan May 14, 2012 at 8:42 am

    speechless mbak, mau nangis bacanya…terima kasih ya artikelnya menjadi modal buat saya yg sedang menunggu kelahiran anak pertama =)

  4. silvia pridana
    silvia pridana May 14, 2012 at 8:59 am

    Beneran nangis bacanya mba. Keingat pengalaman sendiri.. Setuju sekali pasca melahirkan sebaiknya ada yang membantu.. karena pastinya pasti bisa ngurangin kelelahan ibu. Top Markotop buat papa chila yang rela bangun tuk ngasi chila ASIP..^^

  5. noveriya
    noveriya husni sanjaya May 14, 2012 at 10:39 am

    cerita yg sangat mengharukan, teringat pengalaman hari2 pertama bersama wafa. mmg benar, harus ada yg mebantu kita stlh melahirkan agar kita bs punya waktu walau sesaat untuk sekedar beristirahat krn semalaman tdk tdr. papa chila hebat :)mamanya pun tak kalah hebat, bs merawat ndirian, tfs!

  6. Jules
    Juliana Debora May 14, 2012 at 10:50 am

    Halo, mommy minje! :) *peluk dulu ah*

    Saya terharu sekali baca ceritanya. Saya juga sempat mengalami baby blues waktu anakku lahir. Padahal sebelumnya saya pikir saya ga mungkin ngalamin baby blues karena, ya sama seperti mba, semua sudah saya siapkan. Saya yakin saya pasti bisa. Ternyata kenyataan beda banget ya ama teori, hehehe..

    Waktu itu saya merasa saya ibu yang gagal, tidak berguna, dan sangat tidak berdaya. Hampir tiap malam saya menangis. :(

    Obatnya memang seperti yang mba bilang, berpikiran positif. Saya coba untuk menikmati aja semuanya, toh semua ini suatu saat akan berlalu. Akhirnya saya bisa melewati masa-masa baby blues saya.

    Sekarang anakku (panggoaran kami dan panggoaran ompungnya juga :D) udah hampir 7 bulan dan masih ASI. Tetap semangat menyusui ya, mba / eda! Hehehe.. Salam buat Chila. ;)

  7. farahmonza
    farah monza May 14, 2012 at 11:44 am

    Ya ampun mba, terharu bacanya, saya juga pernah mengalaminya sewaktu hamil anak yang pertama, sudahlah menunggu hampir 2 th baru punya anak, koq bisa ya begitu lahir, saya panik nggak karuan. Padahal udah banyak baca-baca tentang proses persalinan, tetapi tetap saja semuanya hilang dari kepala. Hebat ya mba, bisa mengatasi semuanya ber dua suami. Waktu itu, saya yang dibantu oleh kakak saja, masih sempat merasakan baby blues. Hari ketiga baru ASInya keluar, ditambah sama seperti mba, puting yang luka dan mengeras, baru sembuh setelah sebulan.Tiap kali hendak menyusui, harus menangis karena sakit.
    Semoga perjuangan ibu yang mengalami baby blues akan terbalas dengan anak yang berbakti pada orang tua nya. Amin.

  8. andin
    Andini Yulina Pramono May 14, 2012 at 12:07 pm

    hiks…jadi ikutan nangis ;’(

    mulai panik nih, mbak, insyaAllah 2 hari lagi direncanakan SC anak pertama. Sama spt mbak juga, saya sudah semangat menyiapkan semuanya & cari pengetahuan yg dibutuhkan sejak hamil.

    Nggak ada mama karena sudah meninggal dan mertua di luar kota, jadi kemungkinan juga nggak ada yg bantu, meski masih di dalam negeri ya..

    Semoga saya bisa menjalani masa transisi ini dengan smooth.
    Kiss kiss utk Chila :*

  9. MommyMinjee
    MommyMinjee May 14, 2012 at 12:20 pm

    Dear all.. Mom, mba, kakak, eda… Hehehe..

    Ya senasib ya… Ternyata banyaak yg ngalamin kaya gini… Hebat2 semua deh kita yaa… Sekarang bayinya makin lucu kita jadi bingung kenapa dulu kita kaya gt yaaa… Hahahaha

    Buat mamas yg mau lahiraan.. Jgn khawatir.. Ga semua kena baby blues… Dan klopun ada itu kan NORMAL.. Jd enjoy aja… Klo udah besar malah jd kangen lg masa2 nifas.. Hehe.. Yg penting ingetin suami dr skrg klo ntar kita bakal labil dan galau… Jd suami udah siap duluan….

    Keadaan pasti bs bikin kita mampu deeh… Dulu aku pas mama akhirnya dateng bantuin manja bgt ga ngapa2in.. Pas mama pulang ya dikerjain lg sendirian.. Bisa kook.. Ga ada yg ga bisa… Fighting moms!!!

  10. sLesTa
    shinta lestari May 14, 2012 at 3:44 pm

    huhuhu.. gue terhari sampe menangis bacanya, dan gue bukan orang yang gampang nangis loh! terharu kalo elo mesti ngalamin hal seperti ini, baby blues bukanlah hal yang mengada2 dan gak bisa ditepis begitu saja. terharu karena dirimu bisa menjalani dan mengatasinya, walopun dengan susah payah, tapi akhirnya berhasil. dan chila tumbuh jadi anak yang cantik. terharu ama suami yang bener2 support!

    terharu karena emang sesungguhnya jadi orang tua itu gak gampang, menyusui itu gak gampang, tapi semuanya indah ketika melihat si kecil tersenyum ya..

    semangat ASI terus ya, kisskiss buat chila yang cantik!

    1. MommyMinjee
      MommyMinjee May 16, 2012 at 4:47 am

      hai eda… boru apa da? *martarombo

  11. niquen
    Niquen H. Harjo May 14, 2012 at 9:10 pm

    Terharu-biru bacanya :’(

    Aku juga ngurus baby-ku sendiri setelah melahirkan, tanpa dibantu mama / mertua. Dari hari pertama pulang dari RS, aku nolak ngga mau dibantu, khawatir jadi tergantung sama mereka n ngga bisa mandiri ngurus anakku. Kupikir, “Ibu2 yg lain bisa kok sendirian ngurus anaknya, masa aku ngga bisa?” Mama / mertua cuma datang berkunjung sekali2, main aja gitu.

    Alhamdulillah aku ngga sampe kena baby-blues, thanks to suamiku yg TOP banget deh.. Tapi pernah pas anakku umur 1 minggu-an, saat dia nangis2 ngga bisa tidur tengah malam, sempat terlintas pikiran kayak gini: “OMG, what is she doing here? I’m stuck with her for the rest of my life! Harus ngurus, ngasuh, & njaga dia sampai dia besar & mandiri!”

    Kalo sekarang mikir2, ckckck bener2 ya pengalaman mengasuh our first newborn itu mbikin stres. Salut buat kita-kita yg berhasil ngelewatin dengan sukses jaya! :D

    Dan sekarang mikirnya, “All my life is for her (my daughter). What will I do without her??”

  12. kappachan
    Retno Nindya May 15, 2012 at 2:15 pm

    Aduh, sampe nangis bacanya :( Aku sedikit merasa mirip kaya mom Minje juga saat ini ke anakku, Wira (4 weeks.) Waktu masih di kandungan, disayang-sayang banget. Begitu lahir dan menghadapi segala macam hal yang baru mengenai bayi (ini anak pertama) aku jadi frustrasi sendiri dan ngerasa takut aku bukan ibu yang baik.

    “Saya menjadi sedih, kok saya yang setengah mati kesakitan melahirkan Chila, tapi semua bilang lebih mirip papanya.”

    Sama, mom! Sama banget. Diem-diem suka ngerasa sakit hati kalo orang (terutama dari keluarga suami) pada bilang, “iiih, mirip ayahnya!” Aku langsung ngebatin, “saya? Saya, sebagai ibunya?” *nah, nangis lagi deh nih…*

    Baby blues yang aku alamin pelan-pelan ilang justru ketika di saat yang aku ga sangka. Ketika Wira rewel karena ga bisa tidur semaleman (perutnya kembung,) aku ngeri kalo paginya aku jadi keras ke dia karena sama-sama capek. Eh, kok ya ternyata Alhamdulillah ga yah. Kalo sebelumnya pas baby blues aku bisa nyaris teriak, “kamu maunya apa?!” ke Wira, pas pagi itu aku cuma nanya pelan, “maunya apa sih, nak? Udah menyusu, baju juga kering, popok juga kering lho…” Dan malah jadi belajar arti tangisannya dia, hihi. Sekarang Alhamdulillah udah lebih santai dan cool ngadepinnya :) Setuju sama mom Minje, menyusui bikin baby blues ilang juga. Yang penting ketika menyusui itu komunikasi sama bayi. Insya Allah, senyumnya si bayi bikin ilang semua derita deh, hihi *lebay ya?*

  13. MommyMinjee
    MommyMinjee May 16, 2012 at 4:46 am

    hehehe.. seneng ya klo disini mamas2 nya pengertian semua.. dulu pas disini aku dihakimin gt beberapa ibu2 indonesia. bahkan ada yg bilang “hanya orang bodoh yg ga mau liat bayinya, baby blues itu cm mengada2″ dibilang gt rasanya depresi bgt..

    trus chila lahiran pas masuk musim dingin.. ga bisa keluar rumah sama sekali.. jenuh tingkat tinggi..

    heehe.. pokoknya cara paling sembuh cerita sama temen yang senasib deh.. klo dateng sm orang yg ga ngerasain ,malah maik tertekan deh :)

  14. MommyMinjee
    MommyMinjee May 16, 2012 at 4:48 am

    kiss kiss from chila untuk tante2 semua… *poppoo

  15. wibiayu
    wibiayu May 16, 2012 at 11:21 am

    Hiks,,,hiks saya terharu bgt bacanya. Jadi semakin tau apa yang mungkin terjadi setelah melahirkan. Alhamdulillah bacanya pas dedek masih di perut. TFS MommyMinjee…

  16. meitaro
    Dwi meita Mardhika May 16, 2012 at 5:16 pm

    Semangat ya mommy…

  17. Honey Josep
    Honey Josep May 16, 2012 at 6:45 pm

    :’)

    chila montok ya :)

    tfs mommy minje :)

  18. eend.wahyuni
    Endang Wahyuni May 22, 2012 at 4:45 pm

    Terharu bgt bacanya….. Tetep smangat mommy minjee….I feel uuuu
    Kebayang tinggal sendiri di korsel.. Klo gak salah banyak himpunan org indo dsna..smoga bs tetep sharing ama mereka (suami pernah skolah dsna).
    Dulu jg gak pernah kepikir bakal ngalamin baby blues….tnyata aq ngalamin jg… Krn pas mo lahirkan langsung pindah ikut suami….dan harus meninggalkan teman, pekerjaan… Dan tinggal di tempat yg bener” baru buatku…jauh dr kluarga dan teman. Membuatku stuck…stress..tumplek blek jd satu…
    Alhamdulillah dng berjalannya waktu….dengan byk sharing dgn ibu ibu baru walo lewat dunia maya…termasuk intip” TUM… dan tentunya bantuan suami..Smuanya terlewati ..
    Saluttt buat mommies yg hebattt di TUM….
    Yuppp sharing is caring…….

  19. misspucca
    Littledragon May 23, 2012 at 10:19 am

    Terharuuu bgtt bacanya, saat chila genggam tgn mommy, :) samaaaaa aku juga kena baby blues, setelah nunggu 2 tahun lebih akhirnya hamil juga, semua informasi udah diserap, nyuci baju buat persiapan senang bgtt.. Tp pas abis lahiran, saat hubby pergi kdg saya nangis sendirian, koq jd mommy begini ya? Cape, stress, puting yg terluka, harus bangun tengah malem, ganti popok.. Hikssss!! Untung hubby bantu ngurusin tengah malem, bantu jemur pagi2, ganti popok tengah malem bergantian sama saya. Bener bgt tuh, klo abis lahiran hubby harus kerjasama sama kita, sgt menolong sekali support dari hubby lhoo.. Tp bener kata mom minjiee, semuanya pasti berlalu seiring waktu.. Belajar menikmatiii masa2 ngurus baby, dengan begitu kita jadi tau bahwa dulu ibu kita sama kyk kita, betapa sengsaranya ibu dengan perilaku kita.. Soo, enjoying be a mommy it so wonderfull time & blessing for us,, and love your mother moree and moreee… :)

  20. MommyMinjee
    MommyMinjee May 23, 2012 at 4:15 pm

    Hehehe… Moms.. Ada yg ngirim sms ke aku protes krn aku nulis begini dan dimuat di TUM.. Katanya baby blues itu krn ga bersyukur udh dikasi anak.. Hmmmm…. Ya namanya pendapat ya…

  21. ayayoe
    Ayu Sari May 23, 2012 at 7:39 pm

    OMG… klise banget tapi aq mau bilang: SAMA!

    ternyata memang normal yah merasa spt itu…dlu aq merasa gak berguna jadi ibu dan sedih sekali karena merasa tidak ada ikatan batin dgn baby… untungnya pekerjaan suami memungkinkan untuk sering di rumah, I dont know what would I do without him.. =)

    tapi yang disayangkan proses persalinan pas di rmh sakit ya mom…bisa jadi pertimbangan juga kl lebih baik melahirkan di negeri sendiri agar kl ada apa2 at least bisa ‘ngeyel’ ke petugasnya, hehe..

  22. eka
    Eka Wulandari Gobel May 23, 2012 at 11:53 pm

    terharu bacanya :’(

    Kiss kiss buat chila yg cantik yaa!

  23. MommyMinjee
    MommyMinjee May 24, 2012 at 4:54 am

    @ayayoe : sebenernya bs ngeyel mom klo saya bisa bahasa korea dan orang rumah sakitnya bs bahasa inggris… Hehehehe! Masalah komunikasi susaah bgt emang… Saya bs bahasa korea cm bahasa pasar, buat beli barang blum blajar vocab dirumah sakit.. Hahha.. Tp jd kenangan sendiri lahiran pake bahasa masing2…

    @eka : kiss kiss jg buat aunty… :*

  24. farahfaizah
    Farah Faizah May 25, 2012 at 7:49 pm

    bayi nya lucu bangettt,, salam kenal ya Mba.

  25. MommyMinjee
    MommyMinjee May 26, 2012 at 9:22 am

    Salam kenal jg.. Iya makin lama bayi emang lucuuu… Pdhl pas lahiran ceyyeeem… Hihihihi!

  26. bundanyaAlisha
    BundanyaAlisha June 28, 2012 at 9:09 pm

    Pengalaman yang sama… Untungnya setiap malam saya msih ditunggu umi saya.. Siang pun sendirian.. Ini saja saya sempat anemia dan merasa sendiri.. Puting pun berdarah.. Rasanya nyeri sekali… Sampai saya tanya teman2 lain ternyata pengalaman mereka sama.. Jadi pikir positif semua ibu pasti ngalamin fase ini.. Sekarang saya sudah mau masuk kantor lg.. Suka nangis sendiri kalo mikir bakalan berkurang wktu untuk ketemu anakku…

  27. Ranti Rizanti
    Ranti Rizanti January 25, 2013 at 10:06 pm

    wah.. baca artikel-nya, jadi inget pengalamanku waktu baru melahirkan…

    rasanya mirip banget… dari yg awalnya SENENG BANGET setelah berhasil melahirkan,, eh tau2 BINGUNG, berusaha mengerti tangisan Ibra; CEMBURU, waktu ngeliat keluarga kok lebih perhatian ke dia daripada ibunya…hmmmm..campur2…

    tp alhamdulillah, udah lewat deh Baby Blues-nya…
    ternyata bener yaa; anak itu Anugrah sekaligus Cobaan..

    Salam MommyMinjee, artikelnya baguus! kalo banyak artikel kayak gini, siapa tau calon2 ibu lain jadi lebih siap dan ga kena baby blues..
    Baby blues bukannya ga bersyukur yaa; tapi bagian dari PROSES untuk belajar bersyukur :)

  28. suci ryzkya putri
    suci ryzkya putri June 22, 2013 at 8:17 pm

    senangnya…;)

Post a Comment

You must be logged in to post a comment.