Ibu Bekerja: Dulu, Sekarang, dan Nanti

queen maha

Saya dan Ibu memandang wanita bekerja dengan cara yang sangat berbeda. Kami sama-sama wanita bekerja, ibu saya seorang guru dan sudah mengajar lebih dari 30 tahun. Saya berpindah-pindah profesi, dari guru, translator, project officer, sampai jadi translator lagi, dan berakhir jadi guru lagi. Kami sama-sama setuju bahwa menjadi perempuan harus bisa mandiri dan bisa diandalkan keluarga. Tapi kami juga selalu terperangkap dalam perdebatan panjang setiap kali membicarakan sampai sejauh mana sebaiknya seorang perempuan bekerja.

Ibu saya mulai bekerja pada awal tahun 80-an, saat jalan raya masih jauh dari macet, pembantu rumah tangga masih banyak yang setia, jam kerja masih ‘ramah keluarga’, dan kehidupan bersesama masih murni, jauh dari kecurigaan akan satu sama lain. Sementara saya bekerja pada zaman teknologi canggih, di mana waktu yang seharusnya bisa dipersingkat berkat jasa email, justru membuat saya selalu kehabisan waktu untuk menyelesaikan pekerjaan. Ini zamannya pembantu rumah tangga mengenal hak-nya, walau belum tentu kewajibannya. Ini pula waktunya orang harus berjuang lebih keras untuk kepentingan keluarganya masing-masing, walau jika itu berarti harus menyikut orang lain yang sama-sama berjuang untuk keluarganya. Di masa ibu bekerja, masih banyak pohon dan sedikit sekali motor. Dia bisa berjalan kaki mencari angkot tanpa merasa mual karena asap kendaraan. Sayangnya, jika saya bekerja, saya harus berjejalan dengan banyak orang di kereta. Lalu berlomba dengan bis tua, ojek, dan mobil pribadi yang makin tidak sabar, demi mencapai kantor tercinta. Selama puluhan tahun Ibu menempuh jarak Condet-Depok hanya selama 30 menit. Sementara saya pernah mendengarkan track iPod selama 1 jam di sepanjang Kuningan-Rasuna Said. Yah, memang perwajahan tantangan wanita yang bekerja kini sudah jauh lebih berat.

Semalam, sambil bercanda dengan ibu dan anak saya, saya melontarkan pertanyaan, “Mama dulu gak bisa menikmati aku sebagai bayi, ya? Habis kerja terus.” Dengan bangga, Ibu menjawab,” Aduh, mana sempat… Mama sibuk kerja, kerja, kerja, apalagi mama masih baru diterima waktu itu.” Lanjut saya, “Mama gak sedih? Aku sedih kalau harus pisah sama Giselle.” Dan saya terkejut waktu Ibu bilang, “Gak sedih sih…. Habis dulu hidup itu enak. Pulang cepat, pembantu kamu tuh, si Mba Inah kan baik banget. Semua beres di tangannya. Padahal gajinya cuma Rp15,000,-. Terus tetangga baik semua. Jadi tidak khawatir meninggalkan kamu. Mama bersyukurlah sama Tuhan, dulu waktu kamu kecil, hidup Mama dipermudah.”

Tidak heran bukan, jika ibu saya tidak mendukung saya waktu saya memutuskan keluar dari pekerjaan? Katanya:

  • (memikirkan biaya keperluan bayi) “Yah, kamu nanti mau makan apa? Mana cukup cuma gaji suami?”
  • (bercermin pada pengalamannya sendiri) “Semua orang juga kayak kamu, baru punya anak, sudah harus kerja.”
  • (menyerang pola kerja kutu loncat saya) “Kamu itu bukan anak gadis lagi, sekarang sudah punya anak, harus mikir kalau gak mau kerja lagi.”

Bimbang? Pasti! Tapi saat saya kembali berkutat dengan tekanan lingkungan, saya tahu ada sesuatu yang lebih baik buat saya di luar sana. Asalkan saya berani, berdoa, dan didukung oleh suami tercinta, saya tahu saya tetap bisa bekerja dengan cara yang lebih baik, tanpa harus mengorbankan waktu berharga bersama si kecil ataupun akal sehat dan kesehatan saya. Saya tersadarkan bahwa Giselle hanya menjadi bayi satu-tiga tahun saja, tidak selama-lamanya. Sementara pekerjaan (sama dengan rejeki) akan selalu ada, saya percaya. Saya tahu keuangan saya akan mempengaruhi kelayakan hidup keluarga, tapi bagi anak saya, yang disebut layak adalah ada mama di rumah. Di kereta, saya mengagumi ibu-ibu di gerbong wanita yang sebagian besar mungkin meninggalkan keluarganya untuk sebuah perjuangan. Tapi saya tahu saya terpanggil untuk cara hidup yang berbeda. Di rumah, saya teringat perjuangan Ibu. Dia wanita luar biasa yang tidak mengenal lelah, sampai  menyangkal dirinya saat dia seharusnya beristirahat karena kelelahan. Walau ia menyangkalnya, saya rasa ibu saya seorang perfeksionis. Saya bukan orang perfeksionis, saya realis.

Berangkat dari perenungan, doa, dan pengumpulan keberanian selama sembilan bulan masa mengandung, saya memberanikan diri untuk mengundurkan diri dari kantor dan mengajukan diri menjadi konsultan. Saya seorang penerjemah dan sebelumnya bekerja secara permanen dengan segala manfaat menggiurkan yang diperlukan seorang tulang punggung keluarga. Tapi dengan dukungan penuh suami, saya kini bekerja sebagai freelancer kontrak, dan hanya datang ke kantor sekali sebulan. Resikonya? Saya kehilangan asuransi keluarga, gaji bulanan, dan tunjangan-tunjangan lainnya. Saya bekerja berdasarkan ‘order’ terjemahan yang jumlahnya fluktuatif. Tidak ada kepastian, tidak ada jaminan. Yang ada hanya niat terbaik seorang ibu untuk ada bagi keluarganya sambil tetap terkoneksi dengan dirinya sendiri lewat pekerjaan yang ia cintai. Puji Tuhan, sampai hari ini, bisnis rumahan saya ini justru berbuah lebih besar dari pada saat saya bekerja di kantor.

Apa maksud saya menceritakan ini? Saya bukan menulis untuk membenarkan/menyalahkan SAHM (stay at home mom), WAHM (work at home mom), atau FAWM (full at work mom). Setiap kali merasa jalan hidup yang saya pilih ini paling tepat, saya teringat ibu saya yang berpuluh-puluh tahun bekerja di luar rumah demi melihat foto wisuda saya terpampang di ruang keluarga. Tidak, yang terbaik bagi saya belum tentu yang terbaik bagi orang lain. Yang saya ingin katakan adalah semua ibu punya pilihan. Dulu, saya sering menyalahkan keadaan, suami, orang tua, dan siapa saja selain saya. Tapi saya tahu saya salah. Saya selalu, selalu punya pilihan. Dan semua wanita harus menghormati dan mendukung pilihan yang dibuat wanita lainnya demi keluarganya.

Begitu putri saya dewasa nanti, entah sekejam apa lagi dunia bekerja di luar sana. Saya rasa keadaan mungkin tidak akan lebih manusiawi. Jadi saya ingin menanamkan pada diri anak saya bahwa ia bisa membuat keajaiban dengan pilihan apa pun yang ia akan buat sebagai wanita, entah dengan ibu yang bekerja ataupun sebagai ibu rumah tangga. Saya ingin ia mengejar keseimbangan hidup dan kedamaian sebelum materi dan kemapanan. Saya mau ia melihat saya nanti dan mengatakan bahwa saya adalah contoh yang baik buat dia, idolanya sebagai wanita, karena saya berani mengejar ketenangan dan kualitas hidup meskipun menaruh eksistensi dan materi sebagai resikonya. Saya membayangkan ia menjadi perempuan yang cerdas dan berani, yang fasih menempatkan prioritas hidup pada tempatnya dan hidup sebagai juara sejati, baik di keluarga maupun masyarakat. Dan jika ia nanti bertanya pada saya, “Mama dulu bisa gak nikmatin aku sebagai bayi?” Dengan nada bangga yang sama yang saya dengar dari mama saya, saya akan menjawab, “Aduh, pastinya! Memang repot karena Mama kerja dari rumah, tapi Mama bisa sombong karena Mama bisa mendengar kata pertama kamu: MAMA!”

*Mama Giselle, menulis ini sambil memastikan Giselle tidak memasukkan mainan di sekitarnya ke mulutnya.

60 Comments

  1. mawarbahrum
    mawarbahrum September 19, 2012 at 8:36 am

    nice post, mom. saya benar-benar terinspirasi. ;) ijin share ya

    1. queen maha
      queen maha September 20, 2012 at 10:23 am

      terima kasih mommy, do share seluas-luasnya, hehe, semoga menguatkan :)

  2. mia pradipta
    mia pradipta September 19, 2012 at 8:41 am

    luar biasa ceritannya mom…
    iri banget!!! karena bagi saya ga ada pilihan selain bekerja. bukan masalah materi tapi ini bentuk bakti saya kepada orang tua yang tetap mau saya bekerja.

    pastinya akan sangat senang berada di rumah melihat perkembangan anak kita ya…

    semua orang punya pilihan masing2, syukuri pilihan itu. semua kan berjalan dengan indah :)

    1. queen maha
      queen maha September 20, 2012 at 10:28 am

      terima kasih mba Mia :) Lucu ya, kita yang di rumah, iri sama mereka yang bisa terlepas walau sementara dari urusan per-bayi-an. Sementara yang di bekerja di luar rumah, memandang nanar kami yang ga pernah punya alasan pake ‘power suit’ ini lagi. Hahaha..intinya semua yang dilandasi cinta, pasti membawa keajaiban, baik di rumah atau di kantor. Semangat terus mama!

  3. bundaliffa
    liana kirana September 19, 2012 at 9:04 am

    “Aduh, pastinya! Memang repot karena Mama kerja dari rumah, tapi Mama bisa sombong karena Mama bisa mendengar kata pertama kamu: MAMA!” ……. TERHARU :) nice article :)

    1. queen maha
      queen maha September 20, 2012 at 10:30 am

      Terima kasih Bunda Lifa, tetap semangat buat anak tercinta.

  4. mimiarianty
    mimiarianty September 19, 2012 at 9:19 am

    Setuju sekali, pendampingan kita memang sangat dibutuhkan si kecil.
    Melihat keadaan Jakarta yg setiap hari macet, pilihan ibu sangat tepat.
    Tapi memang keadaan setiap orang lain, jd pilihannya juga lain. Pilihan kita pasti benar, kalau dasarnya adalah cinta.

    1. queen maha
      queen maha September 20, 2012 at 10:33 am

      Tepat! Persis! Itu maksud tulisan saya, kalau dasarnya cinta, keputusan setiapp ibu takdirnya benar. Ibu saya dan saya benar2 membuat keputusan yang berbeda karena kondisi kami pun berbeda. Sayangnya, dia sulit mendukung saya. Saya ingin setiap ibu mendukung satu sama lain, apa pun keputusan mereka, lewat tulisan ini. Thank for your comment Mimi Arianty :)

  5. goldy
    golda saputra September 19, 2012 at 9:42 am

    hiikss.. terharu..jadi lebih terpacu lagi untuk bisa seperti Mom-nya Giselle. sedang dalam perjalanan menuju WAHM..doain ya mba.. mudah2an dalam waktu dekat ini bisa terwujud..ammiin.. :) makasih utk sharingnya ya mba..

    1. queen maha
      queen maha September 20, 2012 at 10:38 am

      Wah selamat! Tuh kan keajaiban datang juga buat mama. Tips buat WAHM: Turunkan standar! hahaha, maksud saya, selama saya bekerja di rumah, saya bener2 repot mam, walau pun ada pembantu. Jadi jangan mendera diri kalau rumah berantakan terus dan ga ada waktu untuk mematut diri. Yang penting makan dan kesehatan kita terjaga, kita pasti bisa nikmati semuanya. Share story ya buat pengalamannya :)

  6. andinigelar
    andini ardani September 19, 2012 at 11:08 am

    Terharu..nice article Mama Giselle.
    Kita harus menghargai anak dan diri kita sendiri ya. Prioritas semua Ibu pasti berbeda, satu yang sama perjuangan Ibu membahagiakan anak dan keluarga bikin hati terenyuh. Entah apa yang mereka pertaruhkan..peluk!
    Sukses sebagai Ibu ya Mama Giselle :)

    1. queen maha
      queen maha September 20, 2012 at 10:41 am

      Akh mba Andini, kita sama ya…selalu terharu ngeliat perjuangan ibu. Baik yang menenteng makanan di kepala untuk makan keluarganya di desa, atau yang berjibaku dengan stres lingkungan di Jakarta,semua melakukannya karena naluri yang paling mendasar di kolong langit: cinta emak buat anaknya :D Terima kasih karena membaca mba yu..

  7. ernanrea
    ernanrea September 19, 2012 at 12:05 pm

    “Ibu saya mulai bekerja pada awal tahun 80-an, saat jalan raya masih jauh dari macet, pembantu rumah tangga masih banyak yang setia, jam kerja masih ‘ramah keluarga’, dan kehidupan bersesama masih murni, jauh dari kecurigaan akan satu sama lain. Sementara saya bekerja pada zaman teknologi canggih, di mana waktu yang seharusnya bisa dipersingkat berkat jasa email, justru membuat saya selalu kehabisan waktu untuk menyelesaikan pekerjaan. Ini zamannya pembantu rumah tangga mengenal hak-nya, walau belum tentu kewajibannya. Ini pula waktunya orang harus berjuang lebih keras untuk kepentingan keluarganya masing-masing, walau jika itu berarti harus menyikut orang lain yang sama-sama berjuang untuk keluarganya. Di masa ibu bekerja, masih banyak pohon dan sedikit sekali motor. Dia bisa berjalan kaki mencari angkot tanpa merasa mual karena asap kendaraan. Sayangnya, jika saya bekerja, saya harus berjejalan dengan banyak orang di kereta. Lalu berlomba dengan bis tua, ojek, dan mobil pribadi yang makin tidak sabar, demi mencapai kantor tercinta. Selama puluhan tahun Ibu menempuh jarak Condet-Depok hanya selama 30 menit. Sementara saya pernah mendengarkan track iPod selama 1 jam di sepanjang Kuningan-Rasuna Said. Yah, memang perwajahan tantangan wanita yang bekerja kini sudah jauh lebih berat.”

    Exactly the same discussion I always had with my mom :)

    Nice Post, mbak…

    1. queen maha
      queen maha September 20, 2012 at 10:45 am

      Masa mba Erna? Loh kok bisa sama yaaaaa??? hahahaha, seru dong kalo udah debat? Saya sama mama bisa sampe urat putus! hahaha, tapi dia sosok luar biasa buat saya. Saya menulis ini karena sadar saya tidak punya kemampuan seperti dia. Thank you karena sudah membaca :)

  8. adisanita
    adisanita September 19, 2012 at 12:31 pm

    thanks for sharing ya, sepertinya sekarang2 ini memang banyak ibu2 yang galau..hehehe.. dan masing2 juga punya alasan sendiri kenapa mereka memilih bekerja diluar, bekerja di rumah atau full time mother, intinya yang penting bisa happy dan menikmati apapun pilihan yg sudah diambil.
    Kalau ibu saya,dari awal menikah belum pernah bekerja, selalu jadi ibu RT, dan sejak kecil, saya selalu diultimatum agar bisa bekerja dan menghasilkan uang sendiri, jadi tidak tergantung dgn suami, bisa bantu2 orang tua, bantu adik2, bantu keluarga juga.
    Apalagi jaman saya kecil, keluarga saya termasuk yang pas2an… dan memang sampai sekarangpun saya masih memilih tetap bekerja, walaupun tetap ingin punya banyak waktu dgn anak2…( masih mencari jatidiri.com,.. hehe)

    1. queen maha
      queen maha September 20, 2012 at 10:48 am

      O betul kata itu : ‘galau’. Kita ibu-ibu seperti ditarik di dunia dunia, karena dunia ga bisa hidup tanpa kita *geeran*. Tapi kita sama mba Adisanita..Saya juga tidak mau menjadi perempuan yang akhirnya tidak produktif, hanya saja tantangannya wanita bekerja sekarang ini lebih berat. Semoga ada kalangan pemerintah yang membaca dan mau menggodok peraturan yang memudahkan ibu2 biar tetap bisa produktif dan seimbang dengan tuntutan rumah ya…Aminnn. Thank you for dropping comment :)

  9. Liza_rifai
    icha September 19, 2012 at 12:57 pm

    Terharu bacanya..
    pas banget tp dg kondisi saya yg lg mempertimbangkan akan meneruskan bekerja ato jd WAHM krn suami di luar kota dan ada keinginan utk berkumpul jd kluarga yg utuh,hehe..
    semoga bs menjadi penguatan utk segera mengambil keputusan ^_^
    Thanks for sharing Mom..

    1. queen maha
      queen maha September 20, 2012 at 10:52 am

      Wah mba Liza, saya senaaang luar biasa kalo pengalaman saya bisa menguatkan sesama ibu yang bergumul buat hal yang sama,walau kita ga saling kenal. Itu membuktikan bahwa semua ibu di dunia terkoneksi karena satu hal: ingin memberi yang terbaik bagi anaknya. Jadi tetap semangat ya, keajaiban di sisi mama senantiasa, doa saya.

  10. Anita_rahma
    Anita Rahmatia September 19, 2012 at 1:16 pm

    tulisan yg inspiratif :)
    hiidup emg ga lepas dr pilihan ya mom, apalagi ketika seorang ibu/ calon ibu dihadapkan dg pilihan bekerja, stay at home, atau bekerja dr rumah dg segala konsekuensinya. yg jelas, seorang ibu pastinya menginnginkan yg terbaik buat keluarga khususnya anak tercinta.

    sekarang aku lg hamil 8 bulan dan dr bulan2 lalu, mama ku udah wanti2 aku buat lanjut kerja lagi ‘segera’ setelah akachan (my baby) lahir. kebetulan aku hamil tepat ketika mau wisuda master yg membuat aku memilih untuk jadi ‘stay at home mom’ dulu begitu selesai kuliah.
    mama adalah pengambil keputusan dalam keluarga, beliau punya otoritas paling kuat buat nentuin jalan hidup anak2nya walopun skrg anak pertamanya ini sudah menikah dan p unya keluarga sendiri. hhmm…mungkin karena skrg aku msh numpang tingggal di rumah mama kali ya..

    di satu sisi, aku ga kabayang harus ninggalin anak buat bekerja dan membiarkan dia diasuh sm ART (mengingat mamaku punya usaha kuliner dan super duper sibuk setiap hari dan ga mungkin bisa nge-handle ngurus akachan kelak). tapi di sisi lain, aku jg ga bisa ‘menganggurkan’ latar belakang pendidikan S2 yg sudah susah payah aku kejar hingga ke negeri matahari sana.

    apapun keputusan yg bakal aku ambil nanti, I’m on your side mama Giselle ;)
    aku ingin satu hari nanti akachan bangga dengan bundanya, karena bisa jadi sahabatnya sejak ia lahir dan tetap bisa mengamalkan ilmunya kepada orang banyak dlm sebuah institusi pendidikan.

    amiiiinn….

    makasih mama Giselle buat sharingnya.. hugs!

    1. queen maha
      queen maha September 20, 2012 at 11:01 am

      Seandainya bisa ngobrol langsung, pasti kita bisa ngabisin waktu berjam2 untuk ngerumpiin ini ya mam :) Pasalnya saya pun sering terjebak dengan sikap murung selama hamil karena galaaaaauuuu mulu untuk memutuskan.

      Waktu hamil, saya mengidap hiperemesis gravidarum (muntah berlebihan). Saya sangat lemah sampai bulan ke lima tapi masih harus berjibaku dengan kerasnya bekerja di Jakarta. Ga ada yang dukung mom, setiap sy bilang mau tinggal di rumah pasca melahirkan, karena yaaaa itu, ibu sy bercermin dr keadaannya dulu yng enak bgt buat bekerja. Tapi sekali lagi, mba anita, saya selalu percaya Tuhan mengerti keresahan semua ibu berangkat dari cinta yang besar buat keluarganya. Jadi jalan mana pun yang mba Anita pilih, pasti ada keajaiban yang mengikuti. Saya bener2 bisa ngobrol seharian penuh kalo soal yang satu ini, hahahaha..Salam manis buat Akachan, a very cute name!

  11. sintayank
    sinta wati September 19, 2012 at 2:48 pm

    karna satu dan lain hal saya hrs jd WM tp tetep bersyukur Harsya diasuh mama slama aq kerja,klopun ad bbrp pola asuh yg beda kan bsa didiskusikan (berantem kecil aj koq ^_*)yah intinya kami ingin yg terbaik bwat harsya..
    Apapun namanya SAHM (stay at home mom), WAHM (work at home mom), atau FAWM (full at work mom)yang pasti semua ibu terbaik bwat anaknya

    1. queen maha
      queen maha September 20, 2012 at 11:04 am

      Waaaahhh kalo mbva Sinta ini namanya beruntung banget! Punya mama yang bosa diandalkan untuk mengurus bayi di masa sekarang ini adalah sebuah kemewahan luar biasa loh mam. Mama saya masih bekerja sampai sekarang dan mertua saya tinggal cukup jauh dari rumah. Jadi emang jalan saya harus begini dulu, saya iri sama mba Sinta, hehehe :D Thnak you so much for reading

  12. mamidastan
    elva prayoga September 19, 2012 at 4:18 pm

    semangat terus mama giselle, apapun pilihannya pasti itu yang terbaik mom ^,)dilematis seorang ibu itu selalu ada, tetapi kalo untuk anak semua harus nomer SATU. Nice Article>>

    1. queen maha
      queen maha September 20, 2012 at 11:06 am

      Terima kasih banyak mami Dastan. Memang setiap ibu istimewa ya..seharusnya setiap emak dapat piagam Nobel. Saya serius! (engga deng, ga serius, hahaha) Terima kasih karena membaca, semoga menguatkan.

  13. sLesTa
    shinta lestari September 19, 2012 at 5:22 pm

    terharu bacanya :) thanks for sharing.

    good read. i never really realized how different the situation is. iya bener juga sih, jadi ibu bekerja jaman dulu itu lebih gampang ya karena family support dan support di rumah lebih kuat. ibu jaman sekarang bergerak semua sendiri.

    i feel that too. walopun gue gak di jakarta, tapi gue juga berjuang hampir sendirian, beduaan dengan suami aja untuk membesarkan anak. untungnya di negara yang gue tinggalin boleh punya ART, jadi lebih kebantu dikit deh. tho very much grateful karena disini ga pake macet dan public transportnya reliable.

    tapi intinya apapun namanya, mau jadi SAHM, WAHM, atau employed mom, semuanya adalah IBU. perjuangannya sama kok, cara menghadapi nya aja yang beda2.

    1. queen maha
      queen maha September 20, 2012 at 11:13 am

      Hai hai mba Shinta Lestari, terima kasih karena sudah membaca. Saya pernah menghitung, jika setiap hari kita menghabiskan 4-6 jam di jalan (suburb-kota) untuk bekerja, berarti dalam setahun, ada 3 bulan yang kita habiskan HANYA bermacet-macetan di jalan. Oh tidak, betapa waktu 3 bulan itu berarti untuk anak2 kita. Lucky is your family if traffic jam is not part of your life! Seriously.

      Saya sih suka bekerja mam, tapi tekanan lingkungan dan support yang minim yang bikin semua jadi sangat challenging. Mari saling memberi semangat :)

  14. andin
    Andini Yulina Pramono September 20, 2012 at 10:42 am

    Ya ampun…pas banget lagi dilema, nemu artikel ini. Mungkin sama seperti sebagian besar ibu muda lainnya, terutama yg anak pertama spt aku, selalu ada kebimbangan utk balik kerja lagi atau nggak, memutuskan kerja part-time atau freelance, dll. Dan yg bikin sebal adalah karena hampir semua ibu bekerja yg sudah senior membandingkan dg dirinya dulu. Ternyata setelah baca artikel ini, situasinya memang beda ya… Sayang sekali ibuku sudah meninggal sebelum aku menikah, jadi nggak ada tempat utk sharing.

    Thanks for sharing, mbak!

    1. queen maha
      queen maha September 20, 2012 at 11:19 am

      Hai mba Andini..Wah ini seperti ‘full circle’ saya. Saya sering mencari sharing dari ibu2 lain di internet dulu saat galau untuk memutuskan. Betapa gembiranya saya bisa ikut menguatkan ibu2 lain setelah saya melalui ini. Terima kasih karena sudah membaca mba yu..Dan tetap percaya semua pasti diatur Tuhan. Kalau dulu Dono-Kasino-Indro bikin film judulnya “Kanan-Kiri Mentok”, naah saya percaya setiap ibu justru “Kanan-Kiri Pasti Ada Jalan!” *Loh??* hahahahaa..

      Pasti mamanya mba Andini bangga melihat perjuangan anaknya, dari atas sana. Salam manis,,

  15. iffah
    Ismar Fataya September 20, 2012 at 10:47 am

    dalem banget ceritanya… jadi terharu..

    banyak banget mommy mommy yang punya cerita, kasus dan masalah yang sama…

    mudah-mudahan pilihan kita adalah pilihan yang terbaik…

    pengen banget menjadi seperti ini “Saya mau ia melihat saya nanti dan mengatakan bahwa saya adalah contoh yang baik buat dia, idolanya sebagai wanita, “

  16. queen maha
    queen maha September 20, 2012 at 11:21 am

    Loh kok malah jadinya saya yang merinding mba Iffah? hahaha, saya sampe lupa saya tulis itu, jadi scroll lagi keatas, huahahahak.. Amin amin, semoga. Semoga kita semua mencetak anak2 baik, yang memiliki teladan yang baik di rumah. Semua mulai dari kita. Terima kasih banyak karena memberi komentar ya mbak :)

  17. otty
    Pangastuti Sri Handayani September 20, 2012 at 1:50 pm

    Tulisannya bagus deh :)

    Memang yang namanya jadi ibu pasti ada aja tantangannya. Bekerja atau ga, ada seninya masing2. Tinggal di sini atau di luar negri, beda lagi pendekatannya. Walopun di sini bisa punya ART, yah tau sendiri nyari ART yang cocok susah2 gampang (banyakan susahnya) haha…

    Gue sendiri tinggal di Surabaya, kota yang dulu menurut gue kurang keren karena nyaris ga ada yang bisa didatengin (dulu biasa tinggal di Jakarta). Sekarang setelah punya anak malah bersyukur, di sini macetnya gitu2 doang jadi ga terlalu ngabisin waktu di jalan. Pulang kantor masih bisa main sama anak, nidurin anak, trus buru2 nonton show terakhir di mall deket rumah. Masih lebih oke lah pembagian waktunya.

    Salam buat Giselle ya… Semoga anak2 kita selalu bangga sama ibunya, apa pun profesi kita.

    1. queen maha
      queen maha September 21, 2012 at 9:34 am

      Akh, terima kasih mba yu karena sudah membaca dan memberi komentar. Soal ART, wadoh itu nanti ada sendiri tulisan saya, hahaha, memang pencarian ART jaman sekarang identik dengan drama. Jaman memang sudah jauh berubah.

      O ya? Surabya ga terlalu macet ya? Enak banget!Dulu saya juga menganggap pekerjaan penerjemahan itu ga keren sama sekali. Ternyata setelah punya anak dan merasakan pembagian waktu yang fleksibel karena jadi penerjemah, saya berubah pikiran. See, every way has its own miracle. Salam buat keluarga :)

  18. nule
    nule September 21, 2012 at 7:19 am

    Seemed like i read my own life story,mba. Miriip bgt ceritanya dengan keadaan saya. Bedanya adalah there’s never good communication between me and mom. Lucky that you have mom that able to talk and argue with. Kasus saya, kami diem2an. No communication at all after i decided to resign from my job. Even she never asks about her grand daughter either. No sms, no phone call, nothing. Huhu.. dn saya enggan memulai komunikasi krn merasa saya lah pihak yg bersalah yg menyebabkan semua ini terjadi. Saya enggan memicu konflik yg hampir mungkin terjadi bila memulai komunikasi. Jd saya pilih diam dulu. Hoping that silence and distance will one day break this cold war.
    Baca cerita mba dn komen2 ibu2 lain yg senasib, menguatkan saya. Bahwa saya tdk sendiri. Bahwa saya menjalani pilihan saya atas dasar cinta saya pd anak. Sambil berharap semoga ibu saya bs memahami dn merestui pilihan hidup saya. Stay strong for all moms..

    1. queen maha
      queen maha September 21, 2012 at 9:52 am

      Halo mba Nule, mari kita berpelukan terlebih dahulu :)

      Saya tersentuh membaca kejujuran mba Nule. Well, sbenarnya komunikasi saya dan mama juga engga sukses2 amat. Ada waktunya saya menangis sesegukan sendirian di kamar karena di cap keras kepala, manja, tukang melawan, egois, dsb. Oh no banget ya? Saya cuma bisa berdoa aja, karena memang orang tua ga sebaiknya diajak perang urat begitu. Kita jadi salah karena membuat mereka sedih.

      Tapi believe me mba, waktu akan membuat mereka berubah pikiran. Ini udah kejadian banget sama aku. Pernah suatu hari, mamaku (yang ga pernah naik kereta) akhirnya terpaksa harus naik kereta di jam-jam penuh, dan hatinya pun luruh karena membayangkan aku harus begitu selama berbulan-bulan. Mertuaku (yang juga ga mendukung aku resign) juga mengalami hal yang sama. Dan banyak hal lain yang akhirnya menyentuh hati mereka untuk mengakui keadaan memang sudah berubah, begitu pula dengan cara menanggapinya.

      Semoga mba Nule tetap bisa melangkah dengan positif ya ke depan ini. Tetap kuat, kita emang ga sendirian. Doa saya, biar mama dan mba Nule bisa segera berkomunikasi lagi dan keluarga semua saling mendukung ya…hugs

  19. amaliaputri
    Amalia Putri September 21, 2012 at 8:33 am

    Nice article mama giselle :)

    Saya suka kata-kata ini “Dulu, saya sering menyalahkan keadaan, suami, orang tua, dan siapa saja selain saya. Tapi saya tahu saya salah. Saya selalu, selalu punya pilihan.”

    Menyentuh saya bangeeet.. Saya juga punya pilihan, tapi dulu saya lebih ke arah in denial..hehee..menolak menerima dan jadinya berantem mulu :D Padahal pilihan selalu ada yah..
    Sekarang setelah akhirnya berani mengakui pilihan saya, semoga ikhlas menjalaninya..amin… hihihihii
    Karena apapun pilihannya selalu anak dan keluarga yang jadi pertimbangan utama.. dan semoga (doanya sama kayak otty) anak2 kita akan selalu bangga dan sayang sama ibunya, dirumah atau dikantor.. :)

  20. queen maha
    queen maha September 21, 2012 at 10:01 am

    hai hai mba Amel..Argh, semua emak pasti pernah ada di tahap denial. Saya berhenti berperang dengan batin saat saya pasrah sepasrah-pasrahnya sama Tuhan dan percaya total aja sama pemeliharaan Tuhan. Dan memang membuat langkah pertama itu yang menakutkan banget! Gimana kalo saya salah, gimana kalo ntar saya nyesel, (yang lebih menakutkan) gimana kalo saya ga bisa menghidupi GIselle dengan layak? argghh…hahahaa.

    Apapun pilihan mama, pasti mama bisa bilang ada keajaiban yg selalu menyertai. Itu intinya tulisan sy mom, supaya kita pede dan ikhlas dengan keputusan kita atas anak. Semngat terus yaa..

  21. kayray
    kayray September 21, 2012 at 11:17 am

    aduuuh mbak, koq ceritanya mirip banget sm sayaaa, hiks… saya (bahkan sampe skrg) selalu selisih paham sm ortu kl sudah ngobrol soal kerja. saya dl pegawai perusahaan asing dgn gaji tinggi dan berhenti krn ga kuat pisah lama2 sm anak yg pd saat itu baru umur 6bln. dan tentu saja, masih teruuus aja disuruh2 cari kerja lg, dimana aja asalkan ada gaji yg sudah pasti kepegang tiap bulan.

    terus terang itu amat sangat nyakitin saya yg sdg berjuang dlm naik turunnya memulai usaha/bisnis. udah pusing mikirin anak, mikirin pembantu yg gonta-ganti, diragukan pula sm ortu,hadeeeuh…

    saya pingin bgt ortu (terutama mamah)ngerti bhw zaman itu udah jauuuuh berbeda. pingiiiin bgt bilang : 1. bhw cukup saya aja yg jd ‘anak pembantu’ yg ada apa2 itu maunya meluk si mbak, 2. bhw sy bisa stress kl kerja kantoran, ngerjain tugas diluar sambil mikirin anak2 dipegang sm pembantu yg mata&tangannya ga lepas dr hp, atau mikirin org jahat yg nyulik2in anak, 3. bhw sy ingin memperhatikan pendidikan anak2 sebaik2nya sesuai dgn bakat&kemampuannya, bukan spt saya yg asal dapet ranking saja, dan 4. bhw saya ingin berterimakasih atas investasi yg tidak sedikit pd jenjang pendidikan sy yg menjadikan sy org yg (insyaallah) mampu mengarungi hidup dgn skill yg baik. and that’s exactly why sy memilih berbisnis; demi mengaplikasikan strata pendidikan sy untuk menghargai segala biaya yg sdh ortu investasikan (ya, sy sadar betul biaya sekolah tidak murah), sekaligus membuktikan bhw sy adlh perempuan mandiri yg sanggup ikut memberi sedikit2 ke ortu dgn hasil keringat sendiri

    dan tentunya,sy jg dlm rangka ikhtiar menjalani kehidupan yg seimbang antara amanah dr Allah dlm membimbing anak2 dan melayani suami, dengan tidak menyia2kan gelar sarjana sy, insyaallah, aamiin :)

    1. queen maha
      queen maha September 21, 2012 at 3:35 pm

      Hai hai mbak…Yok kita katakan bersama Amiiinnnnnnn…Insyaallaahhh *usepusep muka..

      Memang itu yang membuat segala sesuatu jadi berat kan? Dukungan keluarga yang minim. Karena buat kita sendiri, membuat keputusan seperti ini juga sangat berat, dan di saat-saat berat seperti itu, yang kita butuhkan mereka menguatkan kita. Dulu yang bikin saya nangis melulu ya memikirkan hal-hal seperti ‘kejamnya’ ibu dan mertua, karena nge-cap saya anak manja. Dan saya pun menyanyangkan pendapat masyarakat yang masih menganggap orang kalau tidak ke kantor, ya tidak bekerja. Dan berwirausaha itu bukanlah sebuah pekerjaan. Ah, betapa salahnya pendapat itu!

      Jadi maju terus mom! Sekali lagi, lebih dari kata-kata dan perdebatan yang bisa terucap, Tuhan lebih mengerti hati seorang ibu. Dan yang tetap bersyukur dengan amanah dan iman yang akan melihat keajaiban, baik tetap di kantor ataupun mengalah di rumah. Salam manis buat keluarga yaaa :)

  22. arninta
    arninta pusiptasari September 21, 2012 at 3:59 pm

    sungguh benar2 tertolong sekali baca artikel ini, pas lg galau hamil anak pertama hahaha..tengkyu so much! :’))

    1. queen maha
      queen maha September 24, 2012 at 10:57 pm

      Halo mba arninta..wah, selamat buat kehamilannya! Selamat berpetualang dan selamat berbahagia maksudnya, hahaha..Senang mendengar cerita ini bisa menolong menguatkan mba yu, apa pun keadaanya saat ini. Sekiranya nanti kegalauannya makin intense, inget cerita ibu-ibu di sini en tetap melangkah positif ya! hidup!

  23. citralestari_np
    citra lestari September 22, 2012 at 1:09 am

    Hallo mamah giselle, rasanya saya termasuk salah satu dari ibu2 yang sedang galau akan membuat sebuah pilihan antara bekerja dan mengurus anak.
    Jujur, sampai saat ini saya pun lagi dilema, ngeliat ibu saya ampe detik ini selalu mewanti2 saya untuk kerja (sekarang saya lagi lanjutin s2 itu pun karena disuruh oleh ibu saya) yang ngebuat saya punya beban begitu berat, karena saya ga mau ninggalin anak saya seharian kalo saya kerja.
    Lebih parahnya lagi, Setelah saya lulus saya akan pindah dr rumah ortu di jakarta ke bekasi, dan bisa dibayangkan kalo saya kerja, saya bisa berangkat jam 6 pulang jam 8-9 malem ngeliat kondisi jalanan jakarta saat ini. Lingkungan di bekasi pun tidak ada keluarga dekat atau siapapun yang bisa mantau anak, berarti full bersama pembantu.

    Pilihan yang berat karena kalo saya tidak kerja, sudah 100% saya mengecewakan ibu saya, karena dalam fikirannya udah cape2 biayain sekolah tpi kok ga kerja, tapi batin saya tersiksa kalo memikirkan meninggalkan anak sebegitu lamanya sama pembantu.

    Padahal saya pun punya niatan untuk berbisnis biar waktu lebih fleksibel, tpi selalu ditentang bahwa menurut ibu saya dalam keluarganya tidak ada yang berbakat untuk berbisnis.

    Tapi ngeliat artikel ini membuat saya tersadar, kalo saya ternyata tidak sendirian yang mengalami hal ini, kalo saya harus berani memilih dan membuat keputusan, yang menurut saya paling baik, bukan menurut ibu saya.

    Dan mungkin mulai sekarang saya hrus siap dengan perdebatan2 yang panjang sama ibu saya hehehe :P doakaan sayaa ya mbaaa , semangat juga buat semua emak2 yang sedang berjuang.

    tenkyuuu for sharing mbak…! salam buat Giselle…^^

    1. queen maha
      queen maha September 24, 2012 at 11:18 pm

      Hay hay wanita hebat! Salam kenal dulu, hehe..oh saya mengerti sekali kalau mba citra sekarang galau dengan jarak Jakarta-Bekasi yang kurang manusiawi. Saya tinggal di Depok, nah lebih ga manusiawi yang mana, hayo?? hahaha.

      Dulu waktu saya hamil, bukan cuma ibu, tapi mertua (yang dua-duanya sangat saya cintai)pun tidak mendukung. Sangking niatnya mau kerja di sekitar rumah, saya melamar menjadi guru kursus di tempat les bahasa inggris di dekat rumah (yang gajinya 10 kali aja lebih kecil, uhuk, uhuk..)dan diterima kerja, 2 minggu setelah melahirkan (artinya saya masih cuti hamil). Tapi, bukannya mendukung, mama saya, tante2 saya, adik saya, dan beberapa orang lainnya menunjuk saya dengan jari dan ngecap saya tukang melawan. Oh galau, sungguh hati saya waktu itu. Semua orang menyalahartikan maksud saya. Sedih deh kalo inget mbak :( Dan persis seperti ortu mba Citra, setiap kali saya bilang mau bisnis,pasti mereka bilang, “Kalau rugi, Giselle makan apa?” Yah ampyuuunnnn..Bener2 deh, training mental banget masa2 itu.

      Saya mau kasih kekuatan ni mbak. Sekali lagi, mba Citra akan baik-baik saja apa pun keputusan mba Citra. Seandainya saya bisa menasehati diri saya lagi waktu itu, saya akan bilang, “Jangan kuatir, all will be fine. Enjoy your baby.” Tapi karena ga bisa, yaaaa.saya cuma bisa menguatkan temen2 yang masih mengalaminya. Be courages! Hugs..

      1. MamaKai
        Sriyuli Sinarta October 10, 2012 at 5:01 pm

        terharu baca tulisannya mama giselle dan juga tulisan mommy2 yang lain, ternyata banyak mom yang keadaannya lebih berat dari yang aku alami.

        seneng bisa baca dan ikut join di sini, banyak teman2 yang senasib dan saling menguatkan :)

        aku baru punya baby umur 5m, skr dijaga sama mama mertua aku, karena rumah mama mertua lebih deket dengan rumahku

        pas setelah aku masuk kerja setelah cuti, baru timbul permasalahan, karena anak aku dititip sama mama mertua dari minggu malam – jumat malam baru dijemput, itu satu niat baik dari mama mertua aku yg aku ngerti banget biar anak menantunya kerja ga keganggu bolak balik anter jemput babyku.

        tapi yang ada aku malah nangis-nangis sedih karena aku mau bobo sama baby aku,tapi malah bobo di rumah mama mertuaku, akhirnya diputuskan sama mama mertua babyku nginap dari selasa malam sampai jumat malam baru dijemput pulang, bersyukur karena akhirnya masih bisa bobo dengan babyku 4malam, tadinya cuma 2 malam.

        karena masalah ini, aku berpikir untuk resign, mau jaga anak,karena moment dengan baby aku sangat berharga,tapi aku berpikir lagi kalau sekarang resign sepertinya tidak bisa karena tidak cukup hanya dari suami saja.

        jadi aku bertekad dalam hati dan berdoa kepada Tuhan,
        jika diijinkan dalam waktu satu tahun atau kurang ini aku akan berusaha mengumpulkan modal untuk bisa mempunyai usaha sendiri supaya aku bisa resign dan mengurus babyku dan tidak merepotkan mama mertuaku.
        semoga dikabulkan. Amin :)

        satu niat untuk kebaikan dan cinta pasti akan diberikan jalan yang terbaik oleh Tuhan,para ibu ibu yang luar bisa di seluruh dunia, jadi seorang mama memang sangat mulia. (jadi ingat sama mama aku, hiks,i love you mam)kita akan lakukan apapun untuk anak kita.jadi berkaca-kaca

        semakin berdebat semakin merasa bersalah dan sedih. lebih baik tetap berusaha, bersyukur, ikhlas, berdoa dan serahkan kepada Tuhan.

        saya percaya akan ada keajaiban, sama seperti tulisan mama giselle :
        Pernah suatu hari, mamaku (yang ga pernah naik kereta) akhirnya terpaksa harus naik kereta di jam-jam penuh, dan hatinya pun luruh karena membayangkan aku harus begitu selama berbulan-bulan. Mertuaku (yang juga ga mendukung aku resign) juga mengalami hal yang sama. Dan banyak hal lain yang akhirnya menyentuh hati mereka untuk mengakui keadaan memang sudah berubah.

        so jangan putus asa ya mom, semangat demi anak kita.

        makasih banyak ya mama giselle dan semuanya.

        semoga kita bisa menjadi mama yang terbaik buat anak kita dan anak kita bisa menjadi anak yang berbakti dan bermanfaat bagi banyak orang.

        maaf kepanjangan curhatnya

        1. queen maha
          queen maha October 29, 2012 at 9:20 am

          Saya juga jadi terharu atuh baca komen MamaKai. Mari kita saling berpelukan *pelukan* :)

          Wow, sampai di tahap itukah mamakai, menitipkan anak kepada mertua berhari2? Itu pengorbanan yang luar biasa banget, dan aku kebayang hari-hari di mana mamakai menguatkan hati: ‘demi kamu, Nak, demi kamu, Nak’. Whoaaaa…pasti berat banget ya?

          Tiba waktunya mamakai resign nanti, kuatkan diri dan ikhlaskan segala sesuatu ya mom. Pasti berat gila, aku malah sampai mikir lagi, “Beneran ga sih gue mo resign? Kok malah ragu?” Tapi always berpulang ke hati nurani ya, di situ Tuhan selalu bicara soal apa yang terbaik buat kita. Maju terus mom!!!

  24. unk-timmo
    bunga prihardina September 24, 2012 at 2:50 pm

    salam kenal mama giselle,iriiiiii iriiiii,karna saya kerja di luar ruamah sedang mama giselle bisa kerja di rumah. tapi benar kalau semua itu ada pilihan dan itu tergantung kita menyingkapi
    yang penting tetep semangat demi buah hati tercinta….

    1. queen maha
      queen maha September 24, 2012 at 11:23 pm

      Hai Bunga…jangan iri atuuuhhh…Saya sebenarnya kangen banget loh sama yang namanya hang out after lunch, make baju kerja, dan *pastinya* THR euy! Bekerja dari rumah itu menuntut seni manajemen kelas berat. Saya kayanya malah lebih jago ngurusin proyek kantor deh kalo diinget-inget :D Semua baik, semua menyenangkan, semua membawa keajaiban. Tapi saya harus berhenti membandingkan diri, atau saya bisa stress beneran nanti, kasian Giselle. Hahaha…siap bu, sama-sama, tetap semangat yaaaa…

  25. ibunina
    falerina patria September 25, 2012 at 11:04 am

    salam kenal mom…
    keren tulisannya.. cukup menenangkan hati yang lagi galau. Mudah-mudahan semua urusan lancar buat kita, seluruh ibu di dunia ini!!
    ijin share ya, mom..

    1. queen maha
      queen maha October 2, 2012 at 10:36 pm

      Haii mommy, maaf atuh baru merespon yah. Oh lagi galau? Nanti juga lewat mom, masa2 galau itu, karena setiap jalan hidup punya mujizatnya masing2. Semoga yaaa…amin….hidup kita2 lancar semua…Silakan di share mom, dengan senang hati :) Salam

  26. Honey Josep
    Honey Josep September 25, 2012 at 4:37 pm

    jadi berkaca- kaca nih baca ini :)

    Salute to all Stay at home, working from home mamas out there :)

    TFS :)

    1. queen maha
      queen maha October 2, 2012 at 10:38 pm

      Mari, kita angkat topi berjamaah mbak you :D Terima kasih sudah membaca dan memberi komentar ya..Salam :)

  27. ruuzuly
    Ruliyani Nuzuly September 26, 2012 at 12:13 pm

    ahh ya ampuuun, berkaca-kaca baca cerita ini..
    rasanya kaya nemuin “pendukung”
    huhuhu.. aku dulu workaholic bangeeet sampe suamiku (dulu masih jadi pacar) seriiing protes..
    sampe akhirnya tiba keputusan, aku ga ngantor lagi, jagain Lian dari “dunia yang kejam” ini #lebay nih kebanyakan nonton berita penculikan :(

    yaah.. mamaku, eyang putrinya Lian, sampe sekarang Lian usia 2th masih ngantor, baru pensiun nanti usia 55th pas Lian 4th..

    Awalnya yaah aku tauu mama (papaku sedikiiiit lebih menerima meskippun akku tau khawatir juga papaku) keberatan banget dengan keputusanku, yang ada hampir tiap hari bicara masalah “mendapatkan pekerjaan”

    Bete? pastinya..
    ngerasa dikucilkan? :( pastinya
    apalagi seluruh keluargaku kalo ada yg ga kerja tuh dianggap “aneh” #sediiiih

    Tapi seiring berjalannya waktu, Alhamdulillah sekarang semuanya berjalan normal dan baik-baik saja.. layaknya keluarga kecil yang masih baru :p hehe..

    naik turun keadaan, aku dan suamiku selalu merasa :kenyang” dan Alhamdulillah Lian tersayang selalu tersenyum..
    ahh jadi meweeek :S

    Aku juga pernah ada dalam keadaan “tegang” sebagai WAHM (work at home mom) karena terjebak antara keadaan nyaris kembali ke asalku dulu ~> workaholic dan sebagai ibu dari balita masa Golden Age :(

    akhirnya inti dari nasehat panjang suamiku, meredakan semuanya..
    “yang paling penting itu kita hidup bahagia, Lian sehat juga senyum terus”

    sekarang.. kita.. oppstt aku maksudnya :p bisa hidup lebih banyak senyum.. ga tegang lagi.. udah aku lepasin semuaaaaa beban-beban yang sebenernya ga penting tapi dulu aku memandangnya target No.1 :(

    sekarang aku bisa lebih banyak senyum sama Lian juga suamiku.. dalam keadaan apapun juga.. yang sebenernya Alhamdulillah kita selalu “kenyang”

    TFS yaah mama Giselle :)

    1. queen maha
      queen maha October 2, 2012 at 10:50 pm

      Hai mama Lian yang baik,

      Wah wa, toss dulu kita…hahahah..Sama kok, aku juga merasa dikucilkan berat waktu membuat keputusan ini. Yang bikin sedih berat kan mengetahui bahwa lingkaran orang terdekat justru menjadi lingkaran orang terjauh di masa2 berat begini ya? Hahaha..Aku malah mendapat banyak lingkaran orang terdekat baru nih dari forum2 model begini. Akh, namanya perjuangan yah, ga ada yang enak..

      Tapi betul sekali kata Papanya Lian, “Yang penting kita hidup bahagia, Lian sehat dan senyum terus.” Kadang kita-kita perempuan memang berpikir terlalu riweh loh. Padahal kalo anak dan suami mah hepi dan mendukung berat setiap keputusan kita. Aku pun kini menantang diri: harus berpikir dan bergaya hidup lebih simple, supaya ga tegang, ga menyesal, ga stress. Semoga ya mbak, jalan hidup kita selalu di-ridhoi Yang Maha Kuasa jadi kita bisa terus melangkah pasti ke depan.

      Thanks sudah membaca yah, senang mba yu mau terbuka di forum ini. Salam :)

  28. ainul_masruroh
    ainul masruroh October 4, 2012 at 10:43 pm

    ceritanya bikin haru biru…. ijin share ya

    1. queen maha
      queen maha October 9, 2012 at 1:07 am

      wah, asal harunya bikin semangat boleh euy..jangan malah bikin sedih ya, hahahahahk..Silakan di sahre mba Ainul, salam kenal :)

  29. kikimariki
    kiki rizqi October 8, 2012 at 2:57 pm

    nangis mbacanya mom,,,teharu biruu,,serasa ada yg senasip. Pas saat ini keputusan kiki untuk berkumpul dengan suami di Jakarta *sekarang kiki diSemarang semakin mantap. Keputusan resign dari kantor merupakan keputusan yg berat buat saya,,karena saya anak pertama yg harus membantu ibu untuk membiayai adik juga yg masih kuliah..Apalagi ibu *single mom juga masih aktif ngajar di sekolah.Tapi saya juga kasian lihat my baby raYnar 4M yg kurang perhatian dr orang tuanya,saya yg harus bekerja senin – jumat 08-5sore,,dan hanya ketemu ayahnya sabtu minggu aja :(.Sering nangis sendiri dikamar,,bingung buat keputusan yg berat kayak gini. Tanggung Jawab sebagai seorang anak sekaligus sebagai seorang ibu.
    Tapi setelah ngobrol dari hati ke hati dengan mY MoM,,kiki utarakan semua kebimbangan saya,,alhamdulillah,,beliau mengerti keadaan saya :). Akhirnya mantap untuk mengambil langkah resign dari kantor n nyusul suami ke jakarta,,

    >> Saya tersadarkan bahwa Giselle hanya menjadi bayi satu-tiga tahun saja, tidak selama-lamanya. Sementara pekerjaan (sama dengan rejeki) akan selalu ada, saya percaya. Saya tahu keuangan saya akan mempengaruhi kelayakan hidup keluarga, tapi bagi anak saya, yang disebut layak adalah ada mama di rumah<< itu buat saya maKin manTap ^^ maKasihhh banyak mom,,,

    1. queen maha
      queen maha October 9, 2012 at 1:14 am

      Halo mba Yu kiki ..Pengeeeeen rasanya saya peluk bunda Raynar ini. Saya tau, mengerti, ngerasain bangettttt beratnya keputusan seperti ini. Apalagi ditambah kewajiban seperti membantu adik kuliah. Ck ck ck,,betapa seorang pejuang mba Kiki ini.

      Dulu saya pernah menangis bersama teman kantor di kosannya. Padahal kami baru kenal loh, tapi karena mengalami hal yang sama, kita akhirnya malah ga punya malu lagi. Nagis sesegukan berdua di kosannya. Saya mengerti sekali mom :) Saya senang kalau tulisan ini membantu menguatkan. Sekarang, pandang ke depan dengan positif. Tuhan pasti mencukupkan kebutuhan kuliah adik mba Kiki ya dan selamat menikmati pengalaman baru bersama bebi ya. Sehat selalu dan salam.

  30. kikimariki
    kiki rizqi October 8, 2012 at 2:58 pm

    nangis mbacanya mom,,,teharu biruu,,serasa ada yg senasip. Pas saat ini keputusan kiki untuk berkumpul dengan suami di Jakarta *sekarang kiki diSemarang semakin mantap. Keputusan resign dari kantor merupakan keputusan yg berat buat saya,,karena saya anak pertama yg harus membantu ibu untuk membiayai adik juga yg masih kuliah..Apalagi ibu *single mom juga masih aktif ngajar di sekolah.Tapi saya juga kasian lihat my baby raYnar 4M yg kurang perhatian dr orang tuanya,saya yg harus bekerja senin – jumat 08-5sore,,dan hanya ketemu ayahnya sabtu minggu aja :(.Sering nangis sendiri dikamar,,bingung buat keputusan yg berat kayak gini. Tanggung Jawab sebagai seorang anak sekaligus sebagai seorang ibu.
    Tapi setelah ngobrol dari hati ke hati dengan mY MoM,,kiki utarakan semua kebimbangan saya,,alhamdulillah,,beliau mengerti keadaan saya :). Akhirnya mantap untuk mengambil langkah resign dari kantor n nyusul suami ke jakarta,,

    saya maKin manTap ^^ maKasihhh banyak mom,,,

  31. Yuanita Tanjung
    Yuanita Tanjung January 31, 2013 at 5:03 pm

    Hi mom giselle,
    waah.. telat banget sepertinya sy baru baca artikel ini. tapi saya terharu sekali sekaligus tersenyum sembari membaca artikel tsb. kebetulan cerita sy hampir sama dg mba Anita Rahmanita.. saya memutuskan untuk hamil di saat2 tahun terakhir perkuliahan S2 saya, yang mana pada saat itu sempat ada keinginan untuk “mem-pending” urusan punya anak dulu (gosh,untung hal tsb tdk terjadi.memikirkan perempuan lain yg sampai saat ini masih blm diberikan momongan,kok bisa2nya saya menunda hal tsb). Kebetulan cuti 3 bulan kerja saya berakhir tepat sewaktu Proyek itu berakhir. Jadi saya pun tidak melanjutkan untuk ikut proyek di perusahaan asing tsb setelah masa 3 bulan kelahiran anak saya..
    Alhasil, saya pun memutar otak agar tetap bekerja & memiliki penghasilan tapi dengan tidak kembali pada rutinitas seperti dulu.. (bagi saya yg berdomisili di daerah pinggiran JKT) sempat terpikir juga, kalau harus pagi2 sekali berangkat ke kantor kemudian baru tiba kembali di rumah sewaktu anak sudah tidur (saking jauhnya lokasi rumahnya+kemacetan JKT). 3 bulan tepatnya setelah anak saya lahir, saya sdh cukup paham kebiasaan bayi sy tsb, akhirnya saya merintis usaha sendiri berlokasi di rumah sbg Sub Agent Tour & Travel. Lama kelamaan karna kebanjiran order (Alhamdulillah) jadi saya memutuskan untuk memakai jasa pembantu untuk membantu mengurus anak saya.. (karena pada saat kita memulai untuk berbisnis, profesionalisme tetap harus di maintance)..
    Alhamdulillah, sampai 2 Tahun saya berhasil memberikan ASI Ekslusif untuk anak saya sembari bekerja dari rumah WAHM (work at home mom). Bedanya dg mom giselle, saya sempat berdebat dg adik saya mengenai soal pekerjaan ini. Saya typical wanita yang “idealis” prefer bekerja untuk menguntungkan diri sendiri ketimbang org lain (Wirausaha – mksdnya), keinginan untuk hal tsb sangat besar namun terpentok oleh modal. Tetapi untuk kembali lagi bekerja di kantor dan meninggalkan anak saya diasuh oleh Baby Sitter (misal), sepertinya saya harus berpikir berkali2. Dan jawaban dari Adik saya (laki2) “trus, blm bisa Wirausaha ngga mau balik kerja kantoran akhirnya Kakak jadi Ibu Rumah Tangga aja kan”.
    Mendadak tidak bisa menjawab, sedih, sebel. Ya itu sudah semua jawabannya.. Saya ingin berdebat kembali dan menjelaskan pun, pasti Adik saya belum mengerti perasaan Perempuan2 yang memiliki posisi seperti saya skrg ini.
    semoga kita bisa menjadi Ibu yang terbaik buat anak kita dan anak kita bisa menjadi anak yang berbakti dan bermanfaat bagi banyak orang.

    maaf kepanjangan curhatnya

  32. suhemah
    suhemah February 25, 2013 at 11:29 am

    aduuuh berkaca2 nih mom….. stiap ibu pasti pengen liat perkembangan anak qt. suami belum siap ambil keputusan ini. smoga dpet jalan terbaik amien…

  33. mirnajayatirta
    mirnajayatirta March 5, 2014 at 11:51 am

    Mommy Giselle, aku baru baca artikel ini setelah memutuskan resign dari kantorku bekerja selama 6 tahun terakhir. Ya, bisa dibilang sejak lulus udah ngantor disini, hihi bareng sama Mom Arninta yg komen di tahun 2012 lalu. Dapet info artikel ini dari sesama temen pumping di kantor.

    Seneng, sekaligus terharu berkaca2 baca-nya, ternyata bener2 banyak yang sehati sama aku. Setelah lahiran sampe skrg masih tinggal d rumah nyokap, dan rencananya mau pindahan April-Mei nanti ke rumah sndiri, inilah yg jadi pemicu aku mau resign. Papaku sempet kasi usul, supaya my baby Sharlene dititip d rumah ortu selama wkdys, waduuhh, ngebayanginnya aja aku ud ga kuat :(. Banyak alternatif yang udah dipikirin, tp kayanya ga ada yang ok untuk dijalanin, terutama yang bikin ga tahan jauh dari anak selama ber-jam2, cuma bisa menikmati video kiriman papa mamaku di jam2 kerja, dan denger perkembangan Sharlene tanpa ngelihat langsung itu rasanya.. :( :( :(.

    Waktu memutuskan mau resign dan bilang ke ortu, sedih banget sbnrnya ngelihat mereka antara setuju dan engga, sementara aku sendiri galau, worry karena sebagian finansial d rumah masih ku-support, walaupun ga banyak, tp setidaknya dengan tidak lagi menerima gaji bulanan, maka pengetatan-pun harus dilakukan toh. Awalnya mama-ku setuju dan mendukung, tapi belakangan sempat berusaha supaya aku tetap beekrja, begitupun papa, “kamu ga sayang keluar dr kantor? kan udah lama, udah cocok dan lingkungannya baik banget sama kamu, blalalaala..” *galau mendadak* tapi masih bisa bilang ke papaku, “aku mau urus Sharlene sendiri pa..”

    Untungnya, aku masih bisa freelance design, dan memang awalnya itulah profesiku sebelum kerja kantoran seperti sekarang. Bulan ini adalah bulan terakhirku bekerja kantoran, dan masih deg2an seperti apa dunia nanti rasanya setelah resign ya. Baca artikel ini sungguh..sungguh..sangat membantu, thanks ya mommy2 atas sharing2nya, terlebih buat mama Giselle yang udah open sharing duluan. Menerima dan menjalani keputusan itu yang paling susah, moga2 kita semua kuat ya Mom, aminnn.

Post a Comment

You must be logged in to post a comment.