Jurnal Menyusui Satu Tahun

fety

Catatan Pembuka:

Desember 2007-Oktober 2011 adalah masa penantian kehadiran Fatah di keluarga kecil kami. Saat mencari info tentang berbagai cara untuk program kehamilan, saya belajar bahwa menyusui hingga 2 tahun adalah hak seorang anak.

Februari - Oktober 2011

Tiga puluh delapan minggu, kami belajar tentang manajemen ASI dan ASIP. Saya hamil Fatah di akhir studi S2. Rencananya saya akan cuti dari kantor dan menemani suami menyelesaikan sekolahnya. Namun Allah mempunyai rencana lain.

Peraturan di kantor tidak memungkinkan saya untuk cuti. Pilihan yang diberikan oleh kantor saya hanya dua: kembali ke Indonesia atau melanjutkan studi S3. Kami memilih yang kedua. Pengalaman LDR selama sekitar 4 tahun membuat kami berpendapat: suami istri dalam satu atap rumah adalah kunci kebahagiaan sebuah rumah tangga.

Sesungguhnya ini membuat saya takut: bisakah saya memberikan ASI hingga 2 tahun kepada Fatah? Ketakutan yang lebih jauh pun muncul: adakah perusahaan/foundation yang mau memberikan beasiswa untuk ibu hamil, menyusui, dan punya bayi untuk melanjutkan S3-nya?

Oktober 2011

Fatah lahir tanggal 3 Oktober 2011. Bulan ini hanya saya dan suami yang bergantian mengurus Fatah. Ibu belum bisa datang ke Jepang. Tentu saja capek. Alhamdulillah dikaruniai suami yang tidak malu membantu pekerjaan domestik rumah tangga.

Target kami untuk bisa lebih tahu tentang manajemen ASIP juga sudah terpenuhi. Selain membelikan botol kaca, suami juga sudah bisa mencairkan ASIP dan memberikannya ke Fatah dengan dot. Saat saya ke kampus, itu berarti suami mesti meliburkan diri dan mengurus Fatah.

Saat kedatangan bidan dari kantor kecamatan untuk mengecek kondisi kesehatan Fatah setelah beberapa minggu keluar dari rumah sakit, saya menceritakan ketakutan tentang peraturan di beberapa tempat penitipan anak usia 0-5 tahun milik pemerintah Jepang yang tidak menerima pemberian ASIP. Ini berdasarkan pengalaman beberapa teman yang juga harus menitipkan anak saat harus ke kampus. Walau kaget mendengarnya, beliau berjanji akan menanyakan hal ini langsung ke atasannya. Beliau juga bertanya tempat penitipan mana yang akan saya daftar sebagai tempat penitipan pilihan pertama.

November 2011 - Januari 2012

Ibu sudah datang ke Jepang sejak akhir Oktober. Saya sudah mulai aktif ke kampus. Saat saya berada di kampus pukul 10.00-17.00, Fatah dijaga oleh Ibu. Alhamdulillah, pada akhirnya Ibu mendukung pilihan kami memberikan ASIP kepada Fatah. Mulai aktif di kampus, itu berarti saya juga memulai aktivitas memerah ASIP. Biasanya saya memerah ASIP 1 kali di kampus sekitar pukul 16.00. Siang hari, saya memilih pulang ke rumah. Di rumah saya juga memerah ASI satu kali, yaitu sekitar pukul 4 pagi.

Saya memberanikan diri bertemu dengan Sensei untuk mendaftar beberapa beasiswa untuk tahun 2012. Pada awal kuliah S3 sejak April 2011, beasiswa saya sangat kecil. Suami juga kuliah tanpa beasiswa. Karena itu pula, sejak Juni 2011, di akhir minggu, suami mesti kerja sambilan. Alhamdulillah, Sensei tetap mau memberikan rekomendasi. Beliau juga mengizinkan saya berada di lab dari pukul 10.00-17.00 meskipun tidak ada kompensasi untuk laporan-laporan setiap pertemuan kemajuan penelitian.

Saya mulai melanjutkan kerja sambilan sebagai guru bahasa Indonesia. Capek memang, tapi kami berdua tahu semua ini konsekuensi dari pilihan kami untuk berada dalam satu atap. Satu hal yang sangat kami syukuri, Fatah tidak bingung puting. Selama saya berada di kampus, ibu memberikan ASIP ke Fatah dengan dot. Kenaikan berat badannya juga sangat bagus.

Rentang 3 bulan ini, kami mulai mencari info pendaftaran tempat penitipan anak milik pemerintah. Beberapa minggu sebelum mendaftarkan Fatah, saya menerima telepon dari bidan yang pernah datang ke rumah kami di bulan Oktober. Kali ini dia benar-benar memastikan jika tidak ada larangan memberikan ASIP di tempat penitipan anak milik pemerintah Jepang.

Survei tempat penitipan anak yang akan kami pilih, saya lakukan bersama suami. Dengan bersepeda, kami menghitung jarak beberapa tempat penitipan anak dari rumah atau kampus. Pertimbangan jarak ini sangat penting. Saya sudah berkomitmen sebisa mungkin menyusui Fatah langsung saat istirahat siang. Saya dan suami mantap memilih tiga tempat penitipan anak. Prioritas utama kami adalah tempat penitipan anak yang paling dekat dengan apartemen kami.

Februari-Maret 2012

Visa Ibu habis akhir Januari 2012. Fatah tidak diterima di tempat penitipan anak untuk pendaftaran bulan Februari-Maret 2012. Saya dan suami tetap berjuang mengikuti seleksi beberapa beasiswa. Maret 2012 adalah tenggat waktu yang kami tetapkan berdua, jika hingga akhir Maret 2012 saya atau suami tidak mendapatkan beasiswa, kami akan meninggalkan kuliah S3 kami dan akan kembali ke Indonesia. Kami lalu memutuskan: saya akan ke kampus 2 kali seminggu sedangkan suami akan ke kampus sebanyak 3 kali seminggu.

Saya kembali menghadap Profesor, menjelaskan keadaan kami. Beliau mengizinkan tapi tetap tidak ada kompensasi dengan kemajuan penelitian. Karena jarak pp rumah-kampus suami kurang lebih 5 jam dan suami tidak mempunyai beasiswa, serta harus kerja part time di akhir minggu, Profesornya mengizinkan suami tidak ke kampus setiap hari. Tapi kompensasi ini tidak berlaku untuk kemajuan riset suami. Sungguh, masa-masa ini adalah masa-masa yang sangat capek bagi kami, lahir batin. Tapi, bukankah makna hidup adalah berjuang?

Selama saya ke kampus 2 hari seminggu, suamilah yang bertugas memberikan ASIP kepada Fatah. Satu momen yang sangat saya ingat hingga sekarang adalah saat saya menemukan rumah kami dalam keadaan gelap gulita, suami tertidur sambil duduk dengan Fatah yang tertidur di pangkuan, sementara botol susu, sapu tangan, dan pernak-pernik lain berserakan di sekitar mereka.

April-Oktober 2012

Setelah badai datang, memang hari akan cerah. Setelah hujan kadang ada pelangi. Setelah kesulitan, memang kemudahan akan menghampiri. Itulah sunatullah. Tinggal bagaimana kita bertahan dan berjuang di akhir perjalanan saat kemudahan ditetapkan Allah menjadi takdir kita. Tentu saja, kami juga mempersiapkan banyak hal jika memang kami tidak bisa melanjutkan studi S3 dan mesti kembali ke Indonesia.

Alhamdulillah, akhirnya kami bisa tetap melanjutkan kuliah S3 kami. Suami mendapatkan beasiswa pertamanya setelah dua tahun kuliah tanpa beasiswa dan mesti membayar setengah biaya kuliah. Beasiswa suami kali ini termasuk biaya sekolahnya. Alhamdulillah, Allah juga memberi saya beasiswa. Fatah juga diterima di tempat penitipan anak milik pemerintah Jepang.

Saya tetap berusaha untuk menyusui langsung di saat istirahat siang. Kalau memang tidak memungkinkan mengunjungi Fatah, titipan ASIP akan lebih banyak. Memerah ASIP di kampus juga masih saya lakukan. Oktober 2012, Fatah tepat berumur satu tahun. Datangnya bulan Oktober juga ditandai dengan tidak adanya stok ASIP di freezer. Kebutuhan susu Fatah di sekolah besok adalah oleh-oleh yang saya bawa pulang hari ini. Saya tidak lagi datang ke sekolahnya untuk menyusui langsung saat istirahat siang.

Masih ada kurun waktu 6 bulan lagi bagi suami saya untuk menyelesaikan studi S3-nya. Masih ada rentang waktu 1,5 tahun lagi bagi saya untuk menyelesaikan kuliah S3 ini. Perjalanan masih panjang. Perjuangan memang belum usai. Tapi, setidaknya setahun kemarin Allah sudah mengajari kami jika hidup memang berjuang. Makna berjuang adalah kado terindah yang kami berikan untuknya.

27 Comments

  1. sofia
    Sofia Andalusia November 27, 2012 at 6:12 am

    Menurut suami saya, kalo ujiannya berat, Insya Alloh hadiahnya juga berat.. Amiiiiiin..
    # Fatah kayak bayi Jepang #

  2. ninit
    ninit yunita November 27, 2012 at 7:10 am

    hugs fety,
    waaa perjuangannya luar biasa! kalian hebat banngeeet! *angkat topi*
    ihhh komennya sama banget kayak sofia, fatah kayak baby jepang :) lucuuu pipinya merah2 gitu.

    sehat2 yaaa fatah. semoga lancar segala rencananya yaa ty.

  3. honeybund
    Sri Hadzriati November 27, 2012 at 10:27 am

    MasyaAllah… Kereeen banget… Terharu juga bacanya, jadi malu sama diri sendiri krna selalu ngeluh capek dan jenuh dengan aktivitas sekolah, keja tugas, ngurus pasien pluuuus ngurus keluarga… Padahal esensi hidup kan memang berjuang… TFS dear Fety :-). Sukses yak S3 nya… Serasa pengen lanjut sekolah lagi juga

  4. rikandun
    rikandun November 27, 2012 at 10:36 am

    *mewek*

    Terharu..jd berasa cemen suka ga bersyukur dgn kemudahan yg ada.
    Smangat ya Fet sekolahnyaa!nanti klo ud lulus buat artikel lg hihii..
    Fety, suami, Fathan…Ganbattee!!

  5. fety
    fety November 27, 2012 at 11:09 am

    Aamiin untuk doanya :)

  6. fety
    fety November 27, 2012 at 11:16 am

    @Sofia, aamiin untuk doanya. Tenang, Fatah tetap anak Indonesia.

    @Ninit, karena dulu saya sering sekali mantengin forum manajemen ASIP di sini, sengaja tulisan ini pengen diposting di sini, Teh Ninit. Beneran, banyak ilmu yang didapatkan dari web ini. Hugs juga. Aamiin untuk doanya.

    @Sri Hadzriati, Ayo sekolah lagi :) Saya suka membaca kisah-kisah orang lain. Selesai membaca biasany juga berfikir yang sama. Intinya, ibu-ibu itu memang perjuangannya sungguh hebat.

    @Rikandun, *sodorin tissue* Aamiin, mohon didoakan yah :) Jadi keidean, nanti nulis lagi cerita tentang ASI di tahun kedua. Gambarimashou!! *pasang ikat kepala :)*

  7. sLesTa
    shinta lestari November 27, 2012 at 11:47 am

    huhu terharu sampe berkaca-kaca bacanya. i feel you! perjuangan gue mungkin gak seberat dirimu, tapi sebagai working mom yang harus berjuang untuk fokus di kantor, dituntut dengan berbagai tuntutan untuk tetap profesional sementara juga harus menyeimbangi dengan kebutuhan anak2 di rumah, itu berat sekali. sekarang saya juga masih berjuang di tahun pertama nih untuk neishia, anak kedua saya. walopun alhamdulillah lebih gampang.

    *sambil baca sambil inget anak yang lagi sakit di rumah, gak bisa ditaro di daycare. sementara kantor lagi sibuk banget, jadilah gantian cuti ama suami*

  8. November 27, 2012 at 2:53 pm

    touching story…mewek mode on ditengah setumpuk pekerjaan dikubikel kantor..

    inget pengalaman 1 tahun lalu, Reya sempat dititip didaycare selama 1 bulan, pernah ada kejadian ditelpon daycare krn bekal asipnya kurang, suami lg tugas ke luar kota, akhirnya nekad ngilang dr kantor sebentar buat ngedrop ASIP..thank god waktu itu ada partner dikantor yang bs bantu nge-back up. sekarang liat si bocah udah disapih jadi kangen masa-masa itu.

    semangat terus yaa..setaun lagi ga akan kerasa…begitu lewat masanya, kuangeenn-nya bakalan pol :)

  9. missasoen
    missasoen November 28, 2012 at 4:30 am

    wahhhhhh!!*berkacakaca* semoga semuanya semakin dilancarkan yah, say.I’m so amazed and i can feel you.Syukurnya,suamimu juga sangat-sangat proaktif banget yah, jarang lho hari gini suami model begini :) alhamdulilah, suamiku juga termasuk 1 diantaranya ^^

  10. raniyulianty
    Rani Yulianty November 28, 2012 at 8:42 am

    Fatah lucu banget… nice story…keren banget bisa melakukan program ASI di tengah ‘kesulitan’ berada di negeri lain. Inspiratif …

  11. fety
    fety November 28, 2012 at 8:52 am

    @ Shinta, perjuangan working mom yang kerja di negeri orang itu lebih berat klo menurut aku. Klo mahasiswa kan masih bisa ijin ngerjain tugas di rumah, nah klo working mom kan gak setiap saat bisa cuti, bukan? Ha..ha..saya dan suami juga sering gantian ke kampus klo fatah sakit. Perjuangan kita sama nih, masih ada satu tahun lagi untuk memberikan ASI :)

    @ Anna, doakan yah, biar semangat terus.

    @ misssasoen, iya bersyukur sekali punya suami yang gak malu ngerjain tugas-tugas domestik rumah tangga.

    @ Rani, hi mbak rani ketemu lagi di sini :) Mbak rani juga menginspirasi aku dengan web cerita-cerita anak islamnya.

  12. Lilik
    Lilik November 28, 2012 at 10:32 am

    1st, selalu salut dengan cerita2 perjuangan menyusui
    2nd, selalu salut ke ibu2 yg sekolah lagi

    So, double salutnya deh ;)

  13. eka
    Eka Wulandari Gobel November 28, 2012 at 2:27 pm

    waaah salut sama perjuangannya! kalian hebat!

    fatah lucuuu pipinya merah kayak kartun jepang :)

    semoga sehat2 dan semoga lancar urusannya yaa *hugs*

  14. Ihdina Eka
    Ihdina Eka November 29, 2012 at 10:56 am

    masya allah hebat bgt.. *angkat topi* *angkat jempol* *angkat fatah*

  15. IndriBracov
    Indri Bracov December 1, 2012 at 6:55 pm

    sumpeh, keren banget! S3, di Jepang pula. Kaya apa disiplin dan ketatnyaaa…masih bisa give the best, ASI buat baby. Fatah, mama papamu keren abiiiz… :’)

  16. rizqa_amalia
    rizqa_amalia December 7, 2012 at 3:08 pm

    subhanallah..
    kebayang banget perjuangan mba..

    aku juga lahiran anak ke 2 di jepang, sambil urus anak yg besar, tp aku nemenin dinas suami aja, ga kuliah.

    aku bener2 paham dan bisa merasakan perjuangan mba yg sambil kuliah..di negri orang (yang luar biasa mahal itu yaa )
    luar biasa banget.. *mata berkaca-kaca…

    semoga selalu diberikan kesehatan dan kebahagiaan di keluarga ya mbaa

  17. Anita_rahma
    Anita Rahmatia December 10, 2012 at 3:00 pm

    yuhuuuuu mba Febtyyy…ikutan urbanmama jg toh???
    hihihihi…gmn Chiba teh?
    Fatah udah gede bgt yaaaa!!
    maen yuk sm baby Arham :D

  18. fety
    fety December 10, 2012 at 6:31 pm

    Baru balik lagi ke sini :)
    @ all, setiap ibu memang punya cerita hebat yah. Kalian juga ibu yang hebat :)

    @ Anita, iya sejak zaman sebelum hamil udah jadi silent reader di forum-forumnya the urban mama :) Aku juga tulisanmu tentang awal kehamilan di Jepang itu :) Chiba udah dingin, mungkin bentar lagi salju akan turun. Gimana klo baby Arham aja yang balik lagi ke Chiba?

  19. Anita_rahma
    Anita Rahmatia December 12, 2012 at 1:56 pm

    pengennya jg gitu mba, pgn main ke sana lagi. sempga ada rezekinya satu saat nanti :)
    amiiiiiiiiinnnnn~
    salam buat tmn2 PPI ya mba :D

  20. noorfiya
    noorfiya umniyati December 13, 2012 at 9:26 am

    aaaah…ini ternyata fety toh :-) long time no see.
    pejuang asi di negeri sakura nih…inspiring :-) TFS yaaaa…

  21. dyahru
    dyah ru December 27, 2012 at 3:57 pm

    TFS, mengharukan sekali…
    Fatah, orang tuamu luar biasa…

  22. bundaKinjiro
    bundaKinjiro December 30, 2012 at 12:22 pm

    Perjuangannya sekolah, ngurus keluarga dan tetep ngasih ASIP salut buat mommy fatah..
    Semangat ya

  23. tantee
    tantee December 30, 2012 at 12:28 pm

    salut banget, kisah yang memberikan inspirasi..
    jadi tambah semangat ngasih ASIP (anaku 3mos)
    mudah2an cerita ini mengisnpirasi moms yang lain..

  24. Honey Josep
    Honey Josep January 9, 2013 at 6:38 pm

    salut! percaya deh perjuangan kalian ga sia- sia *peluk*

    Fatah mirip bayi Jepang :*

  25. zii_zz
    Yulia Purnama Sari June 19, 2013 at 9:47 am

    yang harus aku camkan di pikiran ini adalah :

    Setelah badai datang, memang hari akan cerah. Setelah hujan kadang ada pelangi. Setelah kesulitan, memang kemudahan akan menghampiri.

    Luar biasa mba perjuangannya…

  26. kiekys adityo
    kiekys adityo June 19, 2013 at 10:11 am

    “Setelah badai datang, memang hari akan cerah. Setelah hujan kadang ada pelangi. Setelah kesulitan, memang kemudahan akan menghampiri. Itulah sunatullah. Tinggal bagaimana kita bertahan dan berjuang di akhir perjalanan saat kemudahan ditetapkan Allah menjadi takdir kita.”
    Amiin….

  27. MommyManda
    MommyManda September 6, 2013 at 4:47 am

    Inspiratif bgt ceritanya..
    Bikin kita2 semangat memenuhi hak anak2 kita utk mdptkan ASI..
    #two thumbs mam#
    Smg sukses ya S3 n karirnya..
    #fatah ur moms n paps d best deh ;D

Post a Comment

You must be logged in to post a comment.