Ketika Anak Sulit Disapih

Menyusui bayi merupakan kebahagiaan bagi seorang ibu. Meski proses menyusui tidak selamanya mulus, tetapi ketika bisa melaluinya, rasanya bisa dibilang sebagai pencapaian awal seorang ibu. Setelah menyusui, ada lagi fase yang harus dilewati yaitu fase berhenti menyusui atau menyapih anak. Inilah fase yang dinilai susah-susah gampang, baik bagi anak maupun ibunya.

Dari pengalaman pribadi, saya cukup mengalami kesulitan saat awal-awal menyapih Rayan. Dokter mengatakan bahwa Rayan termasuk anak yang 'sakau nenen'. Tentu saja ini hanya bercanda, kata 'sakau' sendiri lebih sering kita dengar sebagai sebutan untuk orang yang kecanduan mengonsumsi obat-obat terlarang.

Sejak masih bayi, Rayan termasuk bayi yang kuat sekali menyusu. Orang bilang karena bayi laki-laki biasanya kuat menyusu. Saya terima saja anggapan tersebut, toh saya juga belum pernah merasakan menyusui bayi perempuan. Pokoknya yang harus saya lakukan adalah membuat produksi ASI berlimpah, agar cukup untuk kebutuhan Rayan menyusu.

Seiring berjalannya waktu, Rayan pun tambah besar dan semakin sering menyusu. Hal ini saya anggap normal saja, toh perkembangan dan pertumbuhan anak disertai pula dengan bertambahnya asupan makanan yang anak butuhkan. Walaupun sudah dibarengi dengan MPASI, rupanya ini tidak mengurangi frekuensi menyusu Rayan, sebaliknya malah bertambah. Saat usia Rayan menginjak 18 bulan, saya sempat merasa ASI semakin menipis, apa cukup untuk Rayan?

Sebenarnya saya tidak ngoyo harus ASI, hanya saja Rayan tidak mau susu formula. Berbagai merek susu formula pernah saya coba ke Rayan, tapi tidak ada yang dia suka. Jadinya malah buang-buang susu, mubazir. Setiap harinya Rayan bisa minta menyusu lebih dari sepuluh kali; lapar sedikit minta menyusu, rewel sedikit minta menyusu, bahkan seringkali tiba-tiba minta menyusu. Dalam semalam Rayan masih bangun dua sampai tiga kali untuk menyusu.

Ketika Rayan diimunisasi pada usia 20 bulan, sekalian saja saya tanyakan ke dokter mengenai berkurangnya produksi ASI saya dan masalah Rayan yang sedikit-sedikit minta menyusu. Sebenarnya saya pun juga merasa lelah, lelah menyusui. Tercetuslah istilah 'sakau nenen' tersebut, yang maksudnya lebih ke kondisi dimana bayi sulit lepas dari menyusu. Ini ditandai dengan sedikit-sedikit minta menyusu, bahkan saat tidak ada apa-apa pun bayi juga meminta menyusu ke ibunya.

Adapun dokter menjelaskan, bahwa kondisi sedikit-sedikit menyusu ini bukan lagi karena rasa lapar si bayi, tetapi lebih karena anak mencari rasa nyaman. Kenyamanan ini paling mudah diperoleh si bayi adalah ketika menyusu dari Ibunya. Meskipun ASI yang keluar sudah sedikit atau bahkan tidak keluar sama sekali, namun si bayi tetap saja minta menyusu karena nyaman dan sudah terbiasa.  

Sebagai solusi, dokter menyarankan agar saya mulai menjadwalkan waktu menyusui Rayan, misalnya sehari cukup tiga kali: pagi, siang dan malam sebelum tidur. Ini berkaitan juga agar bayi belajar pola menyusu yang baru dan memudahkan proses menyapih untuk kedepannya.

Untuk membuat Rayan disiplin menyusu dengan jadwal yang baru tidaklah mudah, karena Rayan termasuk anak yang 'nempel' sama ibunya. Bagaimana tidak, kami tidak memiliki pembantu; sementara suami bekerja, sehari-hari Rayan hanya di rumah bersama saya.  Ketika Rayan mulai 'sakau nenen', tidak ada orang yang membantu mengalihkan Rayan dari saya. Akhirnya saya usahakan untuk aktif mengalihkan perhatian Rayan ke hal lain, seperti aktivitas bermain, bercerita, dan mengajak makan dengan cara yang fun. Cukup membantu, meski pada awalnya memang setiap melihat saya, Rayan masih ingin menyusu terus.

Sebenarnya semua proses menyapih akan berhasil, hanya saja masing-masing anak punya tingkat kesulitan yang berbeda. Ada yang bisa langsung saja diberi brotowali atau lapisan dalam biji mahoni yang dioleskan pada puting ibu, agar anak mencicipi langsung dan tak mau menyusu lagi. Namun kembali lagi, masing-masing anak punya tingkat kesulitan yang berbeda, proses menyapihnya pasti berbeda. Selain itu, kembali ke pilihan masing-masing Urban mama. Belum lagi apakah ibunya sebenarnya sudah siap menyapih si anak? Selain kendala dari anak, seperti susah lepas nenen, ada juga faktor-faktor dari ibunya. 

Saya sempat menunda-nunda saat ingin mulai menyapih Rayan, padahal segala solusi sudah dikantongi, mulai dari tips-tips menyapih, cara mengalihkan, hingga biji mahoni yang diberikan ibu tukang jamu. Namun jujur saja, sempat ada perasaan yang terbersit dalam hati saya: nanti kalau Rayan sudah bisa lepas nenen, lalu siapa lagi yang membutuhkan saya? Apakah akan memutus keintiman ibu dan anak?

Padahal jawabannya sudah pasti ya, cepat atau lambat, anak memang harus disapih.

Menyusui bukan hanya soal memberikan nutrisi untuk anak, tetapi juga menciptakan ikatan batin dan memberikan energi terbaik ibu untuk buah hati. Menyusui juga menjadi pengalaman terindah dan tak terupakan bagi seorang ibu. Mungkin karena saya terlalu terbawa emosi dan kebanyakan kasihan. Selain itu, memang cara terampuh menidurkan dan mendiamkan Rayan ketika rewel adalah dengan disusui. Meskipun tak jarang saya uring-uringan karena Rayan tak berhenti menyusu, tapi itu tidak mengurangi niat saya untuk menyusui Rayan hingga usia 2 tahun. 

Sekarang sudah hampir 3 bulan Rayan lepas dari ASI. Segalanya sudah jauh lebih mudah buat saya. Apalagi melihat Rayan mulai bisa makan sendiri dengan lahap dan minum susu UHT. Walaupun sudah tidak menyusui, tetapi saya merasa transfer 'energi' tidak akan terputus. Rayan tentunya bisa merasakan kasih sayang dari kami yang tak terhingga.

8 Comments

  1. avatar
    Vivi Aprillia November 24, 2017 10:39 am

    halo mom, aku baca di forum ibu dan balita mereka ada artikel tentang tips and trik menyapih kalo mom tertarik nih aku kasih linknya: https://www.ibudanbalita.com/artikel/trik-menyapih-tanpa-sedih

    1. avatar
      Dahlian Ayu Novanti November 28, 2017 11:52 am

      terimakasih referensinya :)

      1. avatar

        As .



    2. avatar

      As .



  2. avatar
    Amy Tjia November 14, 2017 5:33 pm

    Wpw. Luar biasa perjalanan menyusuinya... thank you sudah sharing bunda. jadi belajar untuk anakku ke depannya.

    1. avatar
      Dahlian Ayu Novanti November 28, 2017 11:52 am

      Sama2 mama amy, kalau sudah siap lebih baik mulai sounding dr jauh2 hari biar nggak kaget menyapihnya :)

      1. avatar

        As .



    2. avatar

      As .



  3. avatar
    Anesa Nisa October 8, 2017 6:29 am

    waaaa anakku mau 22 bulan besok. dari 21 bulan udah di sounding si, 24 bulan berhenti total nenen, malam waktunya tidur tanpa harus minta susu lagi. cuman step by step nya belum tau gimana.

    baca tulisan mama Dahlian jadi tau. Harus kurangi dulu ya perlahan, jangan langsung drastis. Anakku nenen pas mau tidur siang dan mendusin tidur siang. Pun begitu saat malam. masih 3-4 kali mendusin dah. Sometimes aku ngerasa capek juga, si. cuman kalau belum 2 taun dilepas nggak rela juga :D serasa masih ada kewajiban. Hehehe

    1. avatar
      Dahlian Ayu Novanti October 12, 2017 1:55 pm

      Iya mbak anes, kudu mulai disounding dari sekarang2, biar kedepannya anak lebih gampang lepasnya. Aku juga selelah2nya aku nyusuin Rayan, tetep pingin goal 2 tahun. :)

      1. avatar

        As .



    2. avatar

      As .



  4. avatar
    Musdalifa Anas October 5, 2017 9:57 am

    jadi kangen masa-masa menyusui, priceless moment banget. Dulu anak kedua saya baru berhasil disapih saat usianya 2,9 tahun, karena prinsip saya dulu saya gak mau menyapih saat anak belum siap, gak mau ninggalin "trauma" dengan memberikan/mengoles ini itu ke payudara. Saya pengennya natural aja, perlahan dan tapi berhasil. Tapi ya itu, masa tenggannya sampai 9 bulan :p

    sehat selalu ya Rayan.

    1. avatar
      Dahlian Ayu Novanti October 5, 2017 2:48 pm

      Kalau inget masa itu jadi kangen menyusui ya, soalnya sebagai ibu kita merasa dibutuhkan banget ;p Anak jadi nggak bisa jauh-jauh dari kita :D

      1. avatar

        As .



    2. avatar

      As .



Post a Comment

You must be logged in to post a comment.