Kondisi Lahan Dalam Membangun Rumah Anda

erlina_erlina
Erlina Anastasia, ST Lulusan dari Departemen Arsitektur ITB. Pernah bergabung di sebuah studio penulisan arsitektur terkenal di Jakarta. Kini kesibukannya mengurus ketiga putrinya sambil terus menulis, mengerjakan beberapa architecture project dan juga berbisnis. Buku terbaru yang ditulisnya secara mandiri adalah 20 Desain Salon Rumahan yang diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama.
Website: http://ibuarsitek.blogspot.com/
Have question for our experts ?
Feel free to ask them here!

Sebuah lahan atau kavling siap bangun sudah ditangan Anda. Untuk mewujudkannya menjadi rumah tinggal idaman, Mama Papa perlu juga memperhatikan hal-hal yang berkaitan dengan kondisi lahan. Apa saja sih? Kita bahas ya satu persatu.

Kontur tanah
Seperti apa kontur (keadaan naik-turunnya permukaan tanah) tanah Mama Papa? Ada lahan yang berkontur atau justru cenderung rata. Lahan berkontur bisa menghasilkan desain arsitektur yang menarik, misalnya lantai rumah dibuat split level atau naik-turun mengikuti kontur lahan. Namun bila konturnya perlu penanganan lebih lanjut, biasanya arsitek akan melakukan cut and fill atau melakukan pengurugan dan pemangkasan tanah di beberapa bagian lahan untuk menghasilkan desain yang diinginkan.

Jadi bila kontur tanah dirasa tidak ‘bersahabat’, diskusikan dengan arsitek Mama Papa solusi yang mungkin dilakukan-tidak harus selalu melakukan cut and fill karena biayanya cukup mahal

Keadaan tanah
Saya sering menganjurkan pada teman-teman yang akan membeli lahan di developer untuk mencari informasi-dulunya lahan tersebut bekas apa? Apakah bekas kolam, kebun, rawa, atau mungkin bekas kuburan yang tergusur. Kondisi masing-masing lahan, terutama kualitas air dan kepadatan tanahnya seringkali berbeda. Tanah bekas rawa tentu saja perlu penangan khusus.

Arah hadap lahan
Hal ini seringkali diabaikan, padahal sangat penting loh. Begini, di negara kita tercinta ini matahari bersinar hampir sepanjang tahun. Sepanjang tahun berjalan itulah rumah kita akan terpapar sinar matahari. Betul tidak? Menurut teori, lahan yang paling nyaman adalah lahan yang menghadap utara atau selatan. Bukan berarti lahan yang menghadap barat-timur tidak bagus ya.

Intinya, tentu saja kembali ke solusi desain. Arsitek seharusnya mempertimbangkan hal ini masak-masak saat mendesain rumah. Rumah yang menghadap barat akan mendapat matahari siang ke sore yang berlimpah, seperti rumah tetangga saya di muka rumah. Sementara rumah saya adem ayem dari siang ke sore hari, rumah tetangga saya ‘diguyur’ sinar matahari sepanjang siang ke sore hari. Suhu di dalam rumahnya otomatis lebih panas daripada suhu ruang di rumah saya. Hal-hal seperti inilah yang perlu dicarikan solusi desain, misalnya arsitek bisa mendesain secondary skin untuk menahan sinar matahari dan sebagainya.

Garis Sempadan Bangunan (GSB)
Adalah garis imajiner yang ditetapkan oleh pemerintah atau pengelola kawasan sebagai garis batas terluar bangunan, dihitung batas ruas jalan di hadapannya. Besarnya bisa berbeda-beda di setiap kawasan tergantung kebijakan setempat, biasanya disesuaikan juga dengan lebar jalan yang dimaksud. Tentu saja sebagai warga negara yang baik saya sangat menganjurkan untuk mematuhi aturan ini.

Koefisien Dasar Bangunan (KDB)
Adalah prosentase luas lantai dasar bangunan yang diperbolehkan untuk dibangun dibanding dengan luas kavling. Di kawasan tertentu, besaran KDB bisa lebih dari 50% karena kawasan tersebut dianggap merupakan kawasan resapan air. Misalnya kita mempunyai lahan 200 m2, KDB lahan 30%, maka luas lantai dasar yang boleh dibangun adalah sebesar 140 m2. Bila lebih, harus dikurangi dan dianjurkan untuk digunakan sebagai area resapan air.

Koefisien Luas Bangunan (KLB)
Bila KDB hanya memperhitungkan lantai dasar, maka KLB adalah jumlah perbandingan seluruh luas lantai dengan luas lahan. Setiap kawasan atau lokasi tentu saja mempunyai ketentuan yang berbeda.

Nah, sekarang Mama Papa punya ‘bekal’ ya untuk berdiskusi dengan arsitek berkaitan dengan kondisi lahan yang akan dibangun. Semoga proses diskusinya menghasilkan desain rumah yang efisien, ramah lingkungan, optimal, dan tentu saja sesuai dengan peraturan yang ditetapkan pemerintah dan pengelola kawasan setempat.

Selamat membangun rumah!

6 Comments

  1. eka
    Eka Wulandari Gobel February 28, 2013 at 7:41 am

    infonya detil sekali, terima kasih sharingnya ya mama :)

  2. sLesTa
    shinta lestari February 28, 2013 at 2:57 pm

    ih keren banget infonya deh! jadi pengen punya rumah landed gini.. kapan yaa? gak mampu beli landed property di singapore soalnya hihi..

  3. fanny
    Fanny Hartanti February 28, 2013 at 6:56 pm

    iya, berguna banget. langsung bookmarked!
    makasih ya

  4. anjaniMY
    ANJANI MIRTHA YUNIARA March 1, 2013 at 10:33 am

    Arah hadap lahan jadi salah satu pertimbangan utama waktu nyari rumah. Soalnya ngalamin sendiri sih, rumah orangtuaku yg menghadap barat bikin suhu rumah dari siang ke sore hari tuh panaaaasss banget. Bikin ga betah nongkrong di teras/ruang tamu karena terik & silau -___- Jadi ketika mulai hunting rumah aku langsung bilang ke suamiku aku ga mau rumah yg menghadap barat. Akhirnya dapat rumah hadap selatan dan senang karena bisa dapat sinar matahari sepanjang hari tapi hawanya tetap sejuk :)

  5. erlina_erlina
    Erlina Anastasia March 1, 2013 at 11:27 am

    Thank you all…ini ada ralat sedikit mengenai GSB:
    Garis Sempadan Bangunan (GSB)
    Adalah garis imajiner yang ditetapkan oleh pemerintah atau pengelola kawasan sebagai garis batas terluar bangunan, dihitung DARI batas ruas jalan di hadapannya. Besarnya bisa berbeda-beda di setiap kawasan tergantung kebijakan setempat, biasanya disesuaikan juga dengan lebar jalan yang dimaksud. Tentu saja sebagai warga negara yang baik saya sangat menganjurkan untuk mematuhi aturan ini.

    @Anjani…nah ini ada kasus nyata, karena kalau tidak mengalami sendiri hal mengenai arah hadap lahan ini sepertinya mengada-ngada ya, tapi memang penting dan harus dicari solusinya dengan baik.

  6. rikavega
    rikavega May 14, 2013 at 10:51 pm

    berguna bangeeet…^^
    terutama poin keadaan tanah itu mbak :)
    karena rencananya mau mbangun rumah di lahan dari ortu, kebetulan bekas rawa walaupun sudah jadi daerah pemukiman…
    sepertinya harus hati” cari arsitek-developer yah mbak :)

Post a Comment

You must be logged in to post a comment.