Let It Go, Let It Go

Davincka
Jihan Davincka Simply a mom of 2, Nabil and Narda. 100% Buginese. Since 2009, living abroad along with her husband. Having many tremendous experiences from Tehran (Iran), Jeddah (Saudi Arabia) and now in Athlone (Ireland).

“Let it go, let it go… couldn’t keep it in, Heaven knows I tried…
Don’t let them know, don’t let them see…”

Film “Frozen” pas sekali menjadi hits kala musim dingin tengah melanda belahan utara dunia.

Saat berjalan hampir mencapai pintu gerbang gedung apartemen di Kamis pagi kemarin, pemandangan mendadak berubah. Kapas-kapas putih berjatuhan dari langit.

Bukan pertama kali saya bertemu hujan salju. Sudah pernah beberapa kali. Pas sedang tidak ingin keluar rumah pula waktu itu. Mengintip lewat kaca jendela saja. Biasanya, hujan saljunya sedikit dan tidak lama.

Tapi pagi itu, lebat sekali. Irlandia memang tidak akrab dengan hujan salju. It’s not something common here. Sudah terlanjur mau berangkat ke sekolah. Sempat ingin balik badan untuk berteduh. Dipikir, hujannya tidak lama, 5 menit beres.

Untung saya tetap berangkat, salju terus mengguyur lebat sampai sekitar 30 menit.

Di jalan, awalnya Nabil heboh, “Mommie, look at your coat, it’s all white. Look at the road! Look at Narda’s stroller.”

Norak-norak bergembiralah pokoknya, pertama kali jalan-jalan di bawah guyuran salju. Tapi dinginnya minta ampun.

Bodohnya saya. Karena tidak mengira bakal turun salju, saya dan Nabil tidak membawa sarung tangan. Setengah perjalanan, Nabil mulai menggigil, “Mommie, I can’t hold the umbrella. My hands are freezing.”

“Sudah dekat. Tahan ya, Sayang. Payungnya jangan dilepas.”

Nabil sebenarnya ingin memasukkan tangannya ke dalam saku sementara saya tak bisa membantu memegang payung. Saat itu saya juga harus mendorong stroller.

Untungnya, sampai sekolah Nabil langsung gembira lagi.

Pulang ke rumah, saking senangnya menikmati hujan salju, tak sadar tangan sudah memerah. Walaupun beberapa menit setiba di rumah telapak tangan rasanya sakit sekali dan merahnya agak lama baru memudar, tetap saja senyum-senyum sendiri. Dalam hati terus bergumam, “It’s really beautiful. No regret.” 

***

Mungkin, memimpikan berjalan di bawah salju seperti memimpikan gelar seorang ibu. Sebelum hamil, pikir kita, ah, pasti senang banget sekali kalau hamil-melahirkan-merawat anak dan seterusnya. Yang terbayang yang indah-indahnya saja.

Giliran hamil, mual dan muntah berbulan-bulan sepanjang hari. Melahirkan juga jangan dikira ringan. Mau normal, mau via SC, perjuangannya tetap berat. Apalagi giliran merawatnya, antara mau bersenandung atau mau jambak-jambak rambut ini.

It’s not easy but still… it’s beautiful :).

Saat musim dingin berlalu, kala musim semi bergantian musim panas, rasanya ingin melihat salju lagi. Sama dengan punya anak. Begitu sudah lewat masa-masa ‘sulit’, kembali bermanja-manja ke suami, “Pa, bikin lagi, yuk!”

Menjadi perempuan, dramanya tidak sedikit. Sudah pakemnya mungkin. Dari usia sekolah sirik-sirikan model rambut, pas abege berebut pria pujaan, begitu dewasa, menikah dan punya anak, ajang kompetisi berlanjut ke masalah anak.

Waktu masih bekerja sehabis melahirkan dan masuk kantor kembali, saya rutin mengunjungi nursery room untuk memompa ASI. Suatu sore, saya masuk ke dalam ruangan nursery seperti biasa. Tumben, sepi. Saya pikir tidak ada orang, karena ruangannya berbentuk huruf L. Eh, tiba-tiba terdengar suara teman yang lagi menelepon. Kalau tidak salah, kira-kira dia memberikan instruksi seperti ini,

“Iya, kasih saja susu yang itu. Kalau habis, kaleng barunya ada di lemari dapur, ya. Tempat biasa.”

Saya tentu tahu itu suara siapa. Saya sudah keburu masuk. Saat ia berbalik badan dan melihat saya, ia mendadak gagap.

Akhirnya saya yang duluan bersuara, “Dicampur, ya. Tidak apa-apa. Saya dulu sebelum lancar mompa, sempat memberikan sufor, lho.”

Ia tersenyum kikuk, “I..iya, nih. Anak saya minumnya banyak. ASI pas-pasan.”

Ia menuju pintu, sebelum keluar, ia menengok sebentar dan berbisik malu-malu, “Mbak, jangan cerita ke yang lain, ya.”

“Sip, sip.”

Sebagai sesama ibu-ibu, saya paham maksudnya apa.

Di masa-masa ‘dunia’ memprotes ‘pola didik ala Budaya Timur’ yang dianggap menafikan kebebasan anak, Amy Chua menyeruak dengan bukunya yang menjadi best seller kala itu, “The Battle Hymn of TheTiger Mom.” Amy Chua blak-blakan menuliskan caranya mendidik para gadisnya yang diungkapkannya sebagai, “Cara Ibu Cina.”

Tentu saja, pro kontra bermunculan. Tak sedikit orang mengkritik Amy Chua yang dianggap terlalu ekstrem.

Lalu, belum lama sempat mencuat pula masalah homeschooling. Lalu ada pro kontra calistung di usia balita yang sempat ramai dan membuat saya geleng-geleng kepala. Ada yang menuduh calistung di usia balita sudah tidak zaman. Tidak ada negara maju yang menerapkan calistung pada anak sekolah usia balita.

Kata siapa? Di Irlandia sini, di sekolah anak saya, dari usia 4 tahun, calistung sudah diajarkan secara ketat.

Ada juga pertentangan SAHM vs WM. Memutuskan untuk menjadi ibu rumah tangga? Ikhlaslah. Tidak perlu sambil sentil sana sentil sini, kan?

“To believe in your choice you don’t need to prove that other people’s choices are wrong.”– Paulo Coelho

Hal-hal seperti ini yang kadang membuat sebagian ibu menjadi gamang. Sibuk mencari pembenaran dan pasrah tidak jelas. Ingat rumusnya, “Every Mom Has Her Own Battle”. Jangan risau. Tak guna berbohong yang tidak penting.

Gelar ibu kan tidak otomatis membuat kita sempurna. Namanya manusia. Sudah punya anak pun tidak menuntut kita menjadi dewa.

Melahirkan normal atau SC, hendak terus berkarier di luar rumah atau melepaskan kesempatan untuk berdedikasi dari rumah, mau menjadi “Tiger Mom” atau “Rabbit Mom”, berangan-angan homeschooling atau tetap menyekolahkan anak di ‘sekolah formal’… it’s all yours.

Namun, hendaknya selalu disadari. Bersama setiap keputusan, selalu ada konsekuensi yang mengikuti. Be prepared.

Jadi, bukan ini yang seharusnya kita perjuangkan sebagai ibu untuk anak-anak kita, “I would do anything to make YOU happy.”

It’s always be US, OUR happiness. Keluarga itu kan satu paket, ya, ada orangtua ada anak-anak.

Mungkin lebih tepat bila kita, ibu-ibu, punya ikrar begini, “I would do anything to make US happy.” 

Apa pun pilihannya, bertahan saja dengan keputusan yang dirasa terbaik yang sudah diambil.

There were moments when you believed you were the smartest Mom in the world and then incidentally you were hit by the fact that someone else was doing much better somewhere out there. Suddenly, you felt lost. Lesson learned: Being grateful all the time is challenging. 

Rumput tetangga selalu lebih hijau. Terima saja.

Dari lirik lagu soundtrack Frozen di awal tulisan tadi, mari memetik pelajaran:

” … And the fears that once controlled me
Can’t get to me at all.”

Apa, sih, yang kita takutkan? Lupakan pencitraan. Anak-anak jangan dijadikan ajang kompetisi masing-masing ibunya. Ingat, mereka bukan beban. Mereka adalah separuh hati kita. Seorang ibu tetap menjadi pribadi yang utuh terlepas dari akan menjadi apa anak-anaknya kelak.

Just be your self, Mommies. Let it go, let it go.

Seperti apa pun ‘citra Ibu’ yang kita pilih, let’s celebrate our own choices. Dengan atau tidak persetujuan orang lain. Lagi pula, hal yang sia-sia untuk mencoba menyenangkan semua orang, bukan?

36 Comments

  1. eka
    Eka Wulandari Gobel December 30, 2013 at 12:25 am

    sip..sip..setujuuu deh, mama ji!
    pokonya happy2 aja yaa kita!

    btw, cantik banget sih, pake turban merah :*
    dan NN udah besar yaa..ganteng!

  2. Davincka
    Jihan Davincka December 30, 2013 at 4:12 am

    Waaahh, terima kasih, Urban Mama. Tayang hari ini ternyata ^_^. Eka enggak tidur, ya. Di Indo bukannya tengah malam hehehe. Iya NN ganteng-ganteng, turunan mama pastinya hihihi *benerinPoni*.

  3. syifaratna
    syifaratna December 30, 2013 at 6:39 am

    bagus banget ini mbaa :) setujuuu :D

  4. ninit
    ninit yunita December 30, 2013 at 7:09 am

    selalu suka tulisannya jihan :)
    selalu nunggu2…

    thanks for sharing, jihan… sekarang udah ada di irlandia aja… kapan dong ke jakarta? kabar2i yaa kalo mampir, biar ketemu :)

  5. arninta
    arninta pusiptasari December 30, 2013 at 7:57 am

    sama ky teh ninit, aku jua suka banget tulisan2 mba jihan :’))

  6. febriandina
    febriandina December 30, 2013 at 8:00 am

    bagus banget mbak tulisannya..
    baca ini di kantor pagi2 dan hampir banget nangis *drama*
    tulisanannya pas banget sama suara hati yg lagi ga ikhlas krn harus menyapih anak pas nanti dia satu tahun cuma karena takut sama omongan orang karena ga nyususin sampe 2 thn..
    InshaAllah apapun keputusannya nanti, akan jadi yang terbaik untuk sang anak :)

    thanks for sharing mbak :)

  7. Shinta_daniel
    Shinta Daniel December 30, 2013 at 9:44 am

    Meh meh meh, asik banget ulasannya Jihan *kasih 2 jempol*. Good for self reminder. Kalau ngomong pencitraan sih gak ada abisnya ya, padahal gak ada satupun manusia (ibu) yang sempurna dan harusnya kita bisa lebih realistis, live life to the fullest as its best on your own. Menjadi yang TERBAIK untuk anak itu luas sekali implementasinya, just do it!
    Setuju untuk kalimat “I would do anything to make US happy”

  8. December 30, 2013 at 10:19 am

    ijin share di FB ya mba jihan. Keren banget artikel inih :)

  9. miminya kaka n babang
    miminya kaka n babang December 30, 2013 at 1:18 pm

    Nangis baca’nya.
    Selama ini ngerasa bukan good mimi for kaka’ & babang.
    Tapi tercerahkan berkat tulisannya Mom Jihan.
    Makasih banyak pencerahannya…

  10. Hazah
    Hazah December 30, 2013 at 1:27 pm

    suka sama setiap artikelnya mba Jihan,, Love it

  11. Sri Hastuti Bur
    Sri Hastuti Bur December 30, 2013 at 1:50 pm

    Baca artikel ini sukses membuat saya menangis.
    Really touching my heart. Thanks for sharing mba..
    dan salam kenal semua moms..

  12. dikavally
    andika fitria putra huza December 30, 2013 at 2:48 pm

    Top artikel..mewek terharu bacanya..bunda yg sedang berjuang di musim dingin

  13. bint
    bint December 30, 2013 at 4:08 pm

    speechless…thanks mb artikelnya..

  14. winda16
    winda16 December 30, 2013 at 7:04 pm

    suka sama artikelnya. tks for sharing mba..

  15. siska.knoch
    Siska Knoch December 30, 2013 at 9:09 pm

    Suka bacanya :)) tfs jihan.
    dan idem sama teh ninit, kabarin kalo mampir ke ibukota ya.
    salam jagoan buat NN!

  16. zulfi zumala
    zulfi zumala December 30, 2013 at 9:41 pm

    selalu suka sama tulisannya mbak Jihan di TUM..

  17. winda.reds
    Winda PrasKrisna December 30, 2013 at 10:31 pm

    Great article, Mama Jihan! “Menampar” aku banget, yang sering nggak pede sama kemampuan diri ini jadi Mama. Bener banget ya, demi ego, anak2 dijadiin bahan kompetisi. Sering lupa kalo yang kita besarin itu manusia, bukan robot yang bisa diprogram seenak hati.

    TFS Mama Jihan. Ditunggu artikel2 inspiratif yang bisa terus ngingetin n nguatin langkah ini :)

  18. kanahayaku
    kanahayaku December 31, 2013 at 7:58 am

    terharu baca nya…
    kompetisi terselubung para ibu2 ni kalo d rasa malah lbh makan energi drp ngurus anak ny sndri ,pdhl anak ny jg santai2 aja ..

    thanks for a great article :)

  19. aulia1779
    aulia muharram December 31, 2013 at 4:23 pm

    Bagus bgt mba tulisannya. Mencerahkan buat saya yg srg b’tanya pd diri sendiri bisa gak jadi ibu yg baik dan asyik buat ayana. ;-)

  20. shintadeviw
    shintadeviw December 31, 2013 at 8:31 pm

    Mungkin sy termasuk dalam kompetisi tsb:-) Tulisannya mencerahkan, mba. Salam kenal yaa.

  21. ZataLigouw
    Zata Ligouw January 1, 2014 at 12:13 am

    makasih Jihan.., artikelnya bagus banget.., mencerahkan dan bikin semangat :)

  22. Mama Windy
    Windy Agnestien January 2, 2014 at 8:06 am

    keren banget mbak, tulisannya.. :) indah, tapi ngena..
    bener juga ya (bahkan senada dgn pendapat para lelaki, glek..)kita, perempuan, emang sering kompetitif untuk hal yg kurang perlu..yg berujung dgn stres dan uring2an untuk hal yg gak perlu juga..
    tulisan dari sesama perempuan dengan konten keren yang kaya gini yang bisa ngingetin kita.. :)

  23. bunda ichi
    bunda ichi January 2, 2014 at 2:28 pm

    love it Mama Jihan, terima kasih :)

  24. ririsuchan
    Athiah Listyowati January 2, 2014 at 3:07 pm

    Great article Mama Jihan,
    Kadang-kadang karena alasan sepele kitan malah melupakan alasan yang lebih penting di balik semua keputusan. Kita yang menjalani, harusnya kita dong ya yang megang kendali,

    Salam kenal,

  25. nadharest
    nadharest January 3, 2014 at 10:20 am

    Suka semua sama tulisannya mbak Jihan.. selalu mewakili apa yg kita alami & rasakan as a mother..
    Thanks & salam kenal..

  26. berryl.fanny
    berryl.fanny January 3, 2014 at 11:32 am

    aahh..bagus banget mbak Jihan, bener2 dapet banget maknanya..makasih banget uda bikin tulisan ini, sebagai ibu muda, banyak disalahin karena dianggep ga sesuai sama pakem yang dulu berlaku pada ibu2 dan ibu mertua..its really cherish me, mbak Jihan..terima kasih :)

  27. Sri wahyuning
    Sri wahyuning January 5, 2014 at 7:35 am

    artikel nya keren banget mama :)

    [Heart]7 kemudahan berbelanja sayuran[Heart]

    1. Pesan hari ini melalui tlp/sms..pesanan diantar besok pagi

    2. Lebih cepat & hemat

    3. Tidak perlu repot cari tukang sayur

    4. Bukan barang freezer atau stock gudang, tapi langsung beli dari pasar

    5. Pembayaran dilakukan setelah pesanan diantar

    6. Tersedia semua jenis Sayuran, buah-buahan, lauk pauk

    7. Free ongkir utk wilayah lebak bulus, cilandak, ciputat, cirendeu, pd cabe, fatmawati, dan sekitarnya

    Info&pemesanan :
    - 0818829820/081399386687
    - Wechat&Line ID : pesanantarsayuran

    Follow our twitter :
    @sayurpesanantar

    email & fb :[email protected]
    fb fanpage : facebook.com/sayuranpesanantar

  28. tikuka
    atika larasati January 6, 2014 at 2:53 pm

    salam kenal dari surabaya mba jihan..
    langsung mewek baca tulisannya mba jihan..
    indeed, every mom has her own battle.. :’)

  29. Silpe
    Silfa Reskhy January 6, 2014 at 3:39 pm

    self reminder, nice article mba Jihan :)

  30. ikanwulan
    Ika Nawang Wulan January 7, 2014 at 3:10 pm

    nice artice mbak. bikin saya makin bersyukur sudah menjadi seorang ibu :’)

  31. ikanwulan
    Ika Nawang Wulan January 7, 2014 at 3:11 pm

    nice article mbak. bikin saya makin bersyukur sudah menjadi seorang ibu :’)

  32. bilarina
    Nabila Syafrina January 7, 2014 at 3:56 pm

    Mba Jihan, aku boleh yaa kutip paragraf ini:
    “There were moments when you believed you were the smartest Mom in the world and then incidentally you were hit by the fact that someone else was doing much better somewhere out there. Suddenly, you felt lost. Lesson learned: Being grateful all the time is challenging. “

  33. opybastian
    opybastian January 11, 2014 at 3:45 pm

    “Lagi pula, hal yang sia-sia untuk mencoba menyenangkan semua orang, bukan?” Suka bgt dengan bagian ini. Benar2 sedang sy alami, tidak bisa menyenangkan semua orang.
    Makasih mba Jihan atas sharingnya

  34. Inke R. Amanda A.
    InkeAmanda May 20, 2014 at 3:21 pm

    Bagus bgt artikelnya mba.. :’)

  35. ibumaliq
    ibumaliq May 21, 2014 at 9:37 am

    anothers cool, inspiring, honest n smart article from cute mommy jihan, tfs :)

  36. IbundaKani
    Kencana Hikmah March 9, 2015 at 12:27 pm

    Thank you for sharing, moms… Ya, dunia perempuan yah. Emang kompetisi penuh drama tiada akhir. Suka banget sama kata-kata yang ini…”Apa, sih, yang kita takutkan? Lupakan pencitraan. Anak-anak jangan dijadikan ajang kompetisi masing-masing ibunya. Ingat, mereka bukan beban. Mereka adalah separuh hati kita.”

Post a Comment

You must be logged in to post a comment.