Melawan Post Natal Depression

pungkyalpheratz

Bagaimana rasanya hidup berdampingan dengan malaikat penjaga neraka? Bagaimana rasanya setiap hari dibayang-bayangi malaikat maut? Bagaimana rasanya hidup dipenuhi dengan rasa takut luar biasa tentang perpisahan dan kematian? Saya pernah mengalaminya. Dan rasanya: sakit. Sangat sakit. Sakit sampai-sampai saya hanya bisa duduk dipojok kamar memeluk kaki sendiri. Menangis dan sesak nafas karena tidak tau bisa apa lagi.

Hari-hari itu saya lalui dengan tatapan kosong, rambut lepek karena tidak mau mandi berhari-hari, badan bau karena tidak mau ganti baju, kurus karena tidak nafsu makan sama sekali, bahkan saya sempat menghabiskan hari-hari saya di kolong kasur. Ngapain? Bersembunyi dari malaikat maut!

Suatu hari 6 bulan yang lalu,
Tiba-tiba kepala saya sakit dan nafas saya sesak. Saat itu, yang terus terbayang-bayang di kepala saya hanya satu: sebentar lagi saya mati dan saya masuk neraka. Tentu saja saya menangis meraung-raung. Untung bayi saya punya pengasuh. Saya biarkan anak pertama saya yang baru berusia 3 bulan menangis kehausan digendongan pengasuhnya. Buat apa saya urus bayi saya? Toh, nanti ketika dia besar, dia akan nakal dan saya yang akan disalahkan semua orang. Anak salah asuhan! Lalu Tuhan ikut marah. Saya masuk neraka.

Saya pikir kejadian dan pikiran-pikiran seperti itu hanya berlangsung sehari. Saya lelah mengurus bayi, saya lelah mengurus suami. Saya kelelahan.. wajar kalau pikiran saya kalut. Tapi ternyata saya salah.. Pikiran dan perasaan negatif itu datang setiap hari, setiap menit, setiap detik, setiap waktu! Ketakutan saya semakin menjadi. Saya tidak hanya menangis, tapi juga meraung-raung di bawah pancuran air sampai menggigil, bahkan mengawasi setiap angin dengan tatapan sinis. Iya, saya khawatir kalau angin besar datang. Jangan-jangan itu malaikat maut..

Suami saya tidak tinggal diam, dia berkonsultasi kepada teman dokternya mengenai keadaan saya yang semakin hari semakin mengkhawatirkan. Teman suami saya menyatakan satu hal yang saya sama sekali baru pernah dengar: “Istri kamu kena baby blues. Syndrom pasca persalinan..”. Setelah pernyataan itu, suami saya lebih tenang menghadapi keadaan saya. Karena temannya melanjutkan: “Dibiarkan aja. Asal dijaga.. nanti juga kembali normal”. Suami saya meyakinkan saya bahwa semuanya akan segera berakhir. Hidup bahagia bersama anak pertama di depan mata. Saya harus sabar menjalani hari-hari menyedihkan itu. Suami saya siang dan malam meyakinkan saya.

2 Minggu berlalu..
Saya sembuh? Tidak sama sekali. Malah keadaan menjadi semakin parah. Yang membayangi saya tidak hanya malaikat maut, tapi juga kemungkinan hidup dengan penyakit jiwa. Saya gila. Dan tidak akan pernah sembuh sampai malaikat maut menjemput. Anak saya akan punya ibu gila, dan sebentar lagi tidak punya ibu. Saya semakin ketakutan..

Sebulan menjalani hari-hari paling berat dalam hidup, saya berontak! Saya lelah dengan kegilaan yang saya buat sendiri. Saya mencari jalan keluar sendiri yang suami saya tidak bisa temukan. Saya menjadi istri galak yang terus menyalahkan suami karena tidak becus merawat istri. Saya menjadi ibu kejam yang hampir membanting bayi saya sendiri. Saya marah dengan keadaan. Saya gila dan tidak ada yang peduli dengan itu. Saya harus mengobati diri saya sendiri.. Saat itu, yang terlintas di pikiran saya adalah: “Persetan dengan anak dan suami. Saya mau sembuh dan hidup saya akan bahagia tanpa mereka..”.

Untunglah,
Tuhan menjaga anak dan suami saya dengan sangat baik. Di kondisi puncak kemarahan saya akan keadaan yang terus memburuk, seorang teman saya yang pelatih Yoga menulis status twitter dan saya kebetulan sekali membaca. Dia bercerita panjang lebar di twitternya soal baby blues dan Yoga. Tanpa pikir panjang, saya langsung menghubunginya via telepon.

Dengan ketenangannya, dia menjelaskan kepada saya soal baby blues. Soal perubahan hormon yang terjadi dalam tubuh saya. Soal bagaimana cara menghadapinya dan soal malaikat maut yang hanya halusinasi. Malaikat maut ada di sekitar kita, tapi dia bukan hantu yang akan meneror kita setiap hari. Dan soal saya bersembunyi di kolong tempat tidur membuatnya tertawa ngakak karena menurutnya itu reaksi yang wajar tapi konyol. Rata-rata penderita baby blues akan mengalami hal-hal ‘ajaib’, termasuk bersembunyi dari malaikat maut di kolong tempat tidur.

Saya sedikit tenang, semuanya akan segera berakhir dan hidup saya akan kembali normal..
Sampai seorang teman yang sempat menyaksikan kegilaan saya bilang, “Coba deh googling soal Post Natal Depression. Gangguan yang lebih parah dari baby blues. Kamu mungkin kena itu.. Biasanya di forum-forum Mama online ada cara mengatasinya”. Saat itu, yang terlintas di kepala saya adalah bertanya pada akun twitter TUM dan segera sembuh. Alhamdulillah.. Tuhan saya sangat sangat baik. Twit saya dibalas oleh admin twitter TUM dengan beberapa artikel seputar PND (Post Natal Depression), bahkan beberapa Urban Mama ikut membalas twit saya dan bercerita soal pengalaman PND nya. Saya ingat betul, saat itu seorang mama dengan akun @RheeaNanda, membalas twit saya dengan “Been there! Done that!”. Saya tidak mau kecolongan, saat itu juga saya langsung mengirim twit personal ke Mama tersebut dan minta tolong dibantu. Saya tidak minta banyak, saya hanya mohon dia mau sharring soal bagaimana ia bisa sembuh dari ‘kejamnya’ PND.

Tuhan saya tidak pernah tidur.. Dia tau saya butuh pertolonganNya..
Pertolongan itu datang melalui Mama Nanda (pemilik akun @RheeaNanda), dia dengan sangat baik mengirim saya email dan bercerita soal pengalaman PND nya. Dia bercerita pernah membekap bayinya dengan bantal, bahkan temannya yang juga terkena PND sempat dikejar-kejar malaikat maut. Alhamdulillah.. saat itu untuk pertama kalinya saya tersenyum. Menyadari bahwa saya memang sakit namun akan bisa sembuh. Dan saya tidak sendirian :)

Dibantu suami yang terus meyakinkan bahwa saya pasti sembuh, saya terus dibimbing oleh teman saya untuk berlatih Yoga setiap hari. Dia bilang, Yoga dapat membantu mengembalikan hormon-hormon yang berantakan dan menyembuhkan PND saya. Dua bulan saya tidak menyerah.. Menangis dan jerit-jerit sudah menjadi rutinitas saya. Tapi saya tidak berhenti untuk berusaha sembuh. Buah hati saya.. penyemangat yang tidak tergantikan. Tawa kecilnya adalah nutrisi jiwa bagi saya. Saya harus sembuh.

Sebulan kemudian, dengan keprasahan pada yang Sang Maha Pemilik..
Saya membaik..
Saya sudah berhenti menangis setiap hari, saya berhenti diteror malaikat maut, saya tidak lagi merasa hidup berdampingan dengan malaikat penjaga neraka, bahkan saya sudah berani keluar rumah dan beraktifitas seperti biasa. Alhamdulillah… Rasa syukur saya saat itu benar-benar mentok. Saya tidak tau harus berterima kasih dengan cara apalagi pada Tuhan. Saya membaik.. saya akan sembuh..

Hari ini, setelah 4 bulan semuanya berlalu, apakah saya sembuh total? Saya inginnya begitu, tapi ternyata Tuhan masih memberi saya sedikit pelajaran. Saya masih sesekali ‘kumat’, dan masih terbayang-bayang dengan hari-hari kelam itu. Bahkan menulis ini, dada saya terasa sesak mengingat semuanya. Tapi saya memberanikan diri.. saya harus membagi apa yang saya alami karena Mama saya pernah bilang “Berbagi itu memberi kebahagiaan pada kaca. Kamu yang akan dapat paling banyak”. Saya bosan dengan PND yang masih sesekali datang ini, semoga dengan berbagi tulisan ini.. Tuhan mengijinkan saya untuk sembuh total :)

Untuk Mama lain yang mengalami gejala yang sama.. Saya punya sedikit tips menghadapinya. Insya Allah.. dengan dukungan suami dan keyakinan dari hati, PND bisa disembuhkan :)

- Saat gelisah memuncak (perasaan sudah dijemput malaikat maut, sudah akan mati, sebentar lagi bencana alam, kota akan perang besar, atau apapun yang sangat buruk), duduklah.. atur nafas.. nikmati nafas dan yakinkan diri sendiri kalau ini adalah ‘serangan’ dan sama sekali bukan firasat buruk. Saat keadaan ini berlangsung, usahakan jauhkan diri dari bayi karena bisa berbahaya kalau nekat.

- Berbagi apapun yang dirasakan pada suami. Apapun… gelisah.. takut.. sedih.. kecewa.. ceritakan semuanya. Ini bisa membuat Mama lebih lega.. Dengan catatan, ketika suami sedang lelah dan tidak bisa jadi tempat sampah curhat, kendalikan emosi. Saat PND, saya sering sekali marah tanpa alasan pada suami. Kalau sudah ada alasan untuk marah, suami bisa saya cakar-cakar bahkan saya tinju :)

- Konsultasi dengan dokter atau terapis soal keadaan yang dialami. Jangan didiamkan! Tidak tau bahwa kita sedang PND, akan membuat kita merasa bahwa itu penyakit jiwa dan tidak bisa sembuh. Percayakan keadaan pada orang profesional.. jangan pernah nekat menghadapi sendiri. Saya memercayakan kesembuhan saya pada seorang pelatih Yoga.. Kalau saat itu saya nekat berjuang sendiri, mungkin sampai hari ini saya masih ‘gila’.

- Beritahu suami soal PND dan memohonlah agar dia sabar menghadapi dan mendampingi. Saya yakin, suami saya pasti setengah mati mengendalikan emosinya saat saya cakar, tinju bahkan saya maki-maki dengan kata-kata kasar. Tapi disitulah cinta dibuktikan.. Dia sabar dan kami berhasil :)

- Saat mengambil keputusan besar (kabur dari rumah, bunuh diri, cerai dengan suami), nikmati saja keputusan itu. Setelah keputusan dibuat, Mama akan merasa menang dari keadaan. Tapi, kendalikan diri sendiri untuk tetap duduk dan menunda melakukan keputusan tersebut. Katakan saja pada diri sendiri “Iya.. aku mau bunuh diri, tapi nanti sore! Iya.. pasti aku bunuh diri nanti..”. Nanti kalau gelisah atau sesaknya sudah mereda, keputusan besar itu akan berubah menjadi senyum-senyum malu dan tertunda untuk selamanya.

- Terakhir, tentu saja.. serahkan keadaan Mama pada Si Pemilik Segala. Pemilik hati sekaligus kegelisahan jiwa. Pasrahkan saja semuanya.. Ikhlaskan.. kembalikan semuanya.. Saat kita sudah tidak sanggup, biar si Maha Esa yang turun tangan. Tuhan maha pengasih lagi maha penyayang :)

Saya bukan dokter, saya bukan ahli, saya hanya ibu dari seorang anak yang pernah mengalami dan berjuang melawan Post Natal Depression. Kalau Mama mengalami dan dokter berkata lain dari yang saya katakan, percaya saja pada dokter, mereka lebih ahli dan lebih tau. Tulisan ini hanya berbagi, bukan mengajarkan atau menggurui, semoga bermanfaat dan terimakasih bagi yang berkenan membaca.

Terimakasih TUM, Terimakasih Mama Nanda.. Kalian menjadi bagian terpenting dalam proses penyembuhan gangguan paling mengerikan dalam hidup saya. Sampai kapanpun, Mama Nanda dan admin di balik akun twitter TUM saat itu, akan lekang dalam ingatan saya. Terima kasih :)

Silakan mampir ke thread tentang Baby Blues dan Post Natal Depression di forum, untuk berbagi cerita dan diskusi.

38 Comments

  1. eka
    Eka Wulandari Gobel September 18, 2013 at 12:30 am

    Hiks… peluk pungky!
    Asli deh jadi nangis baca ceritanya :(
    Senang bisa membantu sedikit. Semoga makin membaik dan sehat terus yaa..!

  2. feee
    feee September 18, 2013 at 8:41 am

    Sudah sering sekali mendengar tentang baby blues maupun PND, tapi baru kali ini membaca true story dari mama di komunitas ini. Ternyata beneran ada dan nggak main-main ya.. Salut buat Mom Pungky, tetap semangat dan optimis ya! TFS.

  3. mamoy
    Arum cahyani September 18, 2013 at 8:55 am

    Thanks for sharing Pungky, lagi hamil soalnya jadi seneng baca ceritanya, salut deh buat perjuangannya.
    Semoga sehat terus ya, tetap semangat…

  4. hestia
    Hestia Amriyani September 18, 2013 at 9:35 am

    Merinding bacanya. Syukurlah Pungky sudah menemukan bantuan ya, nggak terbayang gimana ibu-ibu lain yang senasib dan “sendirian” menghadapinya :(

  5. Kira Kara
    Bunda Wiwit September 18, 2013 at 10:42 am

    *peluk mama pungky*
    Salut untuk perjuangannya. terima kasih telah berbagi. Semoga tulisannya banyak menginspirasi keluarga yang lain untuk sama kuatnya, sama tegarnya seperti keluarga mama punky :)

  6. dina noermadi prastyawan
    dina prastyawan September 18, 2013 at 12:06 pm

    thanks for sharing pungky…*peluk kencang*

  7. thalia
    thalia kamarga September 18, 2013 at 12:26 pm

    waa, Pungky, thanks for sharing! bisa coherent pulak sharingnya… buat aku, susah banget utk nulis ttg PND, soalnya…

    gapapa kok, PND lama2 ilang… aku dulu on/off selama 2 tahun, karena awalnya ga nyadari itu apaan. di bulan ke-8 udah pake obat, tapi masih suka kumat… kadang2 kalo lagi high-pressure, jadi teriak2 sendiri dan pukul2 diri sendiri. tapi belakangan makin jarang, kayak 2-3 bulan sekali. kumat terakhir itu pas aina ampir 2 tahun umurnya, salah satu dari attempted suicide lagi.

    tapi sehabis itu, ilang sama sekali… so, hidup akan kembali normal kok. dan kalo udah normal, bagian2 yang gelap, suram dan bikin takut itu ga bakal balik lagi.

    *hugs*… you’re a strong woman, blessed with a strong husband and family :)

    btw, di forum TUM, suka ada mama2 yang berbagi cerita ttg PND yang dialaminya: http://theurbanmama.com/forum/topic34-baby-blues-and-post-natal-depression.html siapa tau bisa jadi bagian dari support group :)

  8. sLesTa
    shinta lestari September 18, 2013 at 12:33 pm

    *peluk mama Pungky*

    ceritanya bikin terharu. saya tidak pernah mengalami PND, paling baby blues ringan saja. jadi gak bisa bilang tau gimana rasanya. tapi cerita mama Pungky, seperti kata thalia, coherent banget, karena bikin kita-kita yang tidak merasakan jadi bisa mengerti.

    semoga support group yang ada bisa meringankan PND-nya dan membaik yaa.. *hugs* thanks udah sharing ini, pasti akan banyak mama-mama lain yang juga mengalami jadi merasa mereka gak sendiri.

  9. sukie
    Sukma Pertiwi September 18, 2013 at 2:29 pm

    huhuhu ternyata serius banget ya…:(
    Bacanya sampe merinding tapi akhirnya lega ketika akhirnya mama Pungky bisa mengatasi semuanya.
    mama Pungky hebat! TFS ya…

    kalau saya pernah merasa gagal, merasa ga berguna, pengen kabur juga. Tapi sepertinya masih dalam skala ringan..
    ga kebayang yang dialami mama Pungky.. semoga makin lama makin baik ya mama…

  10. dianAditya
    dianAditya September 18, 2013 at 4:04 pm

    “peluuukk mama pungky dulu aaahh…”
    been there jugaaa…n skrg jg masih on off hehehehe

  11. ZataLigouw
    Zata Ligouw September 18, 2013 at 10:08 pm

    Pungky..makasihhh banget tulisannya. Gw jadi jauh lebih mengerti ttg PND itu setelah baca tulisan ini lho.. sekali lagi makasih ya..

    kalo gw pribadi, sampe sekarang pun masih on-off dng baby blues. ada masa di mana malem2 saat anak2 udah tidur, gw merhatiin wajah mereka satu2, lalu gw nangis karena sangatttt takut kehilangan mereka atau di sisi lain sangattt takut gw dipanggil duluan oleh yg di atas, nanti bagai mana dng anak2? duhhh..kalo lagi kambuh rasa sedihnya gak tertahan, seolah2 gw bener2 udah kehilangan mereka. Tapi ya itu, dukungan suami trutama bikin gangguan itu memupus, apalagi suam ngingetin untuk inget agama dan ikhlas..alhamdulilah udah hampir gak pernah gitu lagi 6 bln trakhir ini..

  12. rheananda
    Nanda Suprihatno September 19, 2013 at 5:59 am

    Hallo Mama Pungky. Alhamdulillah bisa mendengar kabarnya lagi. Dan sudah jauh lebih baik dari terakhir kita ngobrol via email. *peluuukk
    Saya jadi malu disebut-sebut. Hihi.. Padahal saya hanya berbagi cerita & pengalaman.
    Yap, saya memang pernah juga mengalami PND. Seperti yg diceritakan diatas, saya pernah membekap anak saya dengan bantal hanya karena dia ngga berhenti menangis.. Duuh, ngga sanggup rasanya kalo mengingat kejadian itu. Alhamdulillah, suami selalu berada disamping saya. Selalu mendukung dan membantu saya untuk sembuh. Sama seperti Thalia, proses nya on off selama hampir 2 tahun. Dimulai dari anak saya berusia dua bulan. Pada saat itu saya benar-benar ngga punya semangat untuk hidup. Tiap hari rasanya malas sekali untuk beraktivitas. Hanya ingin tidur-tiduran, chatting sm teman-teman, browsing, nonton tv. Remote TV dan Hp hampir ga pernah lepas dari tangan saya. Sampai akhirnya pada suatu titik saya berfikir bahwa anak-anak masih butuh saya. Butuh Ibunya.. Apa jadinya kalo saya terus-terus ‘sakit’. Setelah melalui proses yang lumayan panjang, akhirnya saya bisa lepas dr PND.
    Untuk mama yg sedang mengalami PND, tidak perlu takut dan malu untuk membagi apapun yg dirasakan kpd orang lain. Terutama suami dan keluarga. Bisa juga sahabat terdekat. Atau di forum seperti TUM ini. Mudah-mudahan para mama disini selalu sehat yaa..
    Untuk mama Pungky.. Mama benar-benar wanita yang kuat dan hebat. Mudah-mudahan sehat selalu, tetap tegar & semangat.. *peluklagii

  13. ninit
    ninit yunita September 19, 2013 at 6:45 am

    hugs pungky,
    terharu baca tulisannya… you are a strong woman, indeed.
    memang ngga mudah untuk melalui PND tapi alhamdulillah pungky bisa dan seneng banget baca kalau TUM salah satu support groupnya.

    terima kasih sudah berbagi, semoga mama2 yang mengalami PND tau kalau kita selalu support supaya bisa melalui PND dengan baik2.

  14. amadeus
    Utami Hadianti September 19, 2013 at 2:48 pm

    wah, merinding bacanya, thanks for sharing mbak Pungky.. saya sedang hamil 34 minggu, anak pertama, sharing-nya bermanfaat banget. Salut juga buat perjuangan suaminya mbak Pungky yang udah sabar banget membantu mbak Pungky melewati PND.

  15. sypuspa
    Desy Puspa Andriany September 19, 2013 at 3:56 pm

    Ya ampuuun merinding bacanya.
    baru tau klo PND bisa sampe separah itu.
    Untungnya aku udah 2x melahirkan ga pernah mengalaminya.
    Salut buat para mommy yang bisa terlepas dari sindrom ini.
    Semoga semakin baik ya mba Pungky,Thanks for sharing.

  16. chikachuba
    Fransiska September 20, 2013 at 3:38 pm

    Setuju sama yang lainnya! Thanks for sharing ya, mom!
    Jadi dapet pencerahan soal PND, mumpung belum lahir bayinya. Selama ini cuma ngebayang2 doang soal PND dan baby blues. tp sekarang lebih jelas, mudah2an ga sampe kejadian, ya kalo kejadian ya ingat2 artikel mom Pungky.
    Semoga segera pulih total ya para mom yang ngalamin PND ini..

  17. febridwi
    febridwi September 21, 2013 at 5:34 pm

    Asli merinding bacanya…TFS mama pungky..baru tw baby blues bisa separah itu….*big hug*

  18. Tenryita_vivie
    Tenry Ita Isviyana September 25, 2013 at 9:43 am

    Wow baca kalimat pertamanya “Bagaimana rasanya hidup berdampingan dengan malaikat penjaga neraka? Bagaimana rasanya setiap hari dibayang-bayangi malaikat maut? Bagaimana rasanya hidup dipenuhi dengan rasa takut luar biasa tentang perpisahan dan kematian?”, langsung bikin emosiku naik

    Dan aku jadi tau, kayaknya saat ini aku sepertinya kena sindrom PND
    kirain baby blues tow PND hanya “menyerang” sebulan pasca lahiran en aku “senang buangetss” lancar djaya gak mengalami itu eehh ternyata dapet “serangan” di umur hamka 8.5 bulan Tepatnya “serangan” awal datang pas 17 Ramadhan 1434H jam 2 dini hari (inget buangetss deh moment itu mpe sekarang)
    Tiba2 kayak didatangin malaikat maut yang siap “menjemput” kuw en disitu aku menangis en berkata dalam hati: “gimana dengan hamka kalau aku mati so aku minta diberikan kesempatan lagi tuk menunaikan tugas yang utuh sebagai seorang ibu. Aku berdoa, semoga takdir hamka punya ortu kandung yang utuh mpe dia menikah dan aku entar berubah status dr ibu jadi nenek (doohh panjang buangets harapannya, tp yah itulah yg kupikirkan dan terlintas di lisankuw)

    Hiks3 menderita bgt yaks mom???
    Aku ajiah yang “hanya” seperti ini sudah menderita saat “serangan” datang
    Naahhh dr tulisannya, kebyg “serangan” ke mom pungky

    Alhamdulillah aku gak sampe bekap anak kyk cerita mom nanda tow sembunyi di kolong kasur (intinya krn gak ada kolong kasur, wong kasurnya dilantai krn ada bayi hhiihiiii intermezo)

    PND ku sepertinya kayak mom ZataLigouw (sowri ga tau namanya) tulis diatas: “di mana malem2 saat anak2 udah tidur, gw merhatiin wajah mereka satu2, lalu gw nangis karena sangatttt takut kehilangan mereka atau di sisi lain sangattt takut gw dipanggil duluan oleh yg di atas, nanti bagai mana dng anak2? duhhh..”

    Kadang dikantor tiba2 gelisah, dada sesak en aku lgs berdoa lagi tuh dalam hati seperti saat kejadian 17 ramadhan
    Nah dr cerita mom pungky, nmbh 1 lg hal yg dpt dilakukan saat gelisah yaitu “atur nafas dan yakinkan diri sendiri kalau ini adalah ‘serangan’ dan sama sekali bukan firasat buruk” (firasat buruknya itu yang bikin jd gak tentu rasanya, yah kan mom pungky?). Btw TFS mom pungky

    Dan mpe saat ini, “serangan” itu masih kadang datang, tetapi sekarang aku tau klo ini adalah PND dan “insya allah” meyakini diri semua akan berakhir

    Mom Pungky
    Makasihhh banget tulisannya. Jadi paham dan jadi tau kalau aku “terserang” PND
    Sekali lagi makasih ya..

    Dan yang terpenting, sekarang aku bisa cerita ke suami apa yang sedang terjadi padaku
    Selama ini aku belum cerita klo aku terserang perasaan gelisah atau perasaan takut kayak “dikejar” karena aku ga pengen dia sedih (yah kukira firasat buruk ini tanda kalo aku emang akan “pergi selamanya” dalam waktu dekat)

    Semoga “serangan” itu cepat menjauh darikuw dan perasaankuw kembali normal. Love my baby boy and my hubby :*

    Salam

    Vivie

  19. Ati Yuliarti
    Ati Yuliarti September 25, 2013 at 10:36 am

    Semoga Alloh selalu menjaga dan melindungi mom pungki sekeluarga aamiin…
    salut deh mom pungki bs melewatinya,,
    berarti aku yang masih suka nangis2 gak jelas kalau pulang kantor itu trmasuk baby blues ya?aku ngantor sehari-hari mengendarai motor, di perjalanan yg kurang lebih 15KM, sering terbayang jika di tengah perjalanan terjadi sesuatu yg bikin aku gak bisa ketemu anak-anakku selamanya.Atau tiba2 berasa gak pengen pulang ke rumah, dan menghilang dari suami dan anak-anakku.Tapi untungnya perasaanku kembali normal tdk lama kemudian. Semoga kita semua dijauhkan dan dilindungi dari “serangan” mengerikan itu aamiin

  20. sunita
    sunita September 25, 2013 at 11:15 am

    peluk mama pungky
    sedih bacanya,, semoga kita semua selalu dilindungi Allah,,
    aamiin

  21. mama_Nara
    mama Nara September 25, 2013 at 11:18 am

    Waaaa…serem bgt yah…alhamdullilah aku tidak kena babyblues atau PND. Dulu 2 minggu pertama lahiran aku nangis terus pagi-siang-malam terasa tertekaaaaan bgt, mana dirumah sendirian (mertua cuma temenin 3 hari pertama dirumah), di rumah bersalin aku 4hari 3malam ditahan sama bidannya karena ASI aku gak keluar-keluar, tapi akhirnya aku maksa pulang karena gak betah bgt disana anakku tidur dikamar terpisah. Ibu warung dekat rumah pernah crita ttg babyblues yang nimpa mantunya, dengan ciri mantunya tidak mau menyusui bahkan sentuh anaknya. Jadi aku berpikir aku bukan babyblues krn aku kebalikkannya, tidak ada orang yang boleh sentuh anakku, rasanya cemburu besar deh. Suami becandain anak aku cemburu, bahkan mertuapun aku larang gendong anakku. Semua aku yang lakukan sendiri dari mandiin sampai tidurin (padahal aku gak pernah melakukan sebelumnya, ganti popok ponakan dulu saja belepotan & jijik). ASIku baru keluar setelah pulang ke rumah. Krn aku pindah rumah 1 hari sebelum melahirkan, jadi pulang ke rumah masih berantakan. Tiap hari aku kerjaannya beres-beres melulu. Aku pikir ASI gak keluar & 2 minggu tertekan itu karena hal-hal lain yang bikin stress saja : gak betah di rumah bersalin, rumah berantakan (aku biasa teratur), gak pengalaman ngurus bayi, cuma sendirian dirumah, lingkungna baru, suami brangkat pagi sekali & pulang malam setelah isya, daaaannnn sehari setelah lahiran anakku didiagnosa ada kelainan jantung bawaan. Setelah 2 minggu aku masih suka dadak nangis sampai sesegukan bahkan ketika lagi sibuk kerja banget, berlanjut hingga anakku 1-2 tahunan. Sekarang dah gak papa, bahkan sudah kasih kepercayaan penuh anakku main sepeda sendiri dalam gang depan rumah. Btw, ngeri bgt dengan PND atau babyblues itu. Untung mama pungki tidak ‘sendirian’ & ditunjukkan jalan sama Tuhan. Jadi ibu memang tugas yang sangat amat berat & mulia *hugs*

  22. pipit dwia
    pipit dwia September 26, 2013 at 8:46 am

    Hai mba Pungky. U did it, mba! everything WILL BE FINE. percayalah… *peluk eraat* Saya juga “mantan” penderita PND. Dan PND saya berlangsung selama.. 3 tahun lebih! Saya hidup pisah kota dgn suami, jadi saya lewati 3 tahun berdua dengan bayi saya dan “malaikat maut” itu. I know how that feel. i know it well. Dan gak hanya itu, ketika akhirnya saya memutuskan utk pndh ke Jakarta, ikut suami, saya didera masalah lain, yaa.. semacam prahara rumah tangga. Mungkin suami yg slama ini gak pernah liat gmn derpresi saya ngadepin anak, tiba2 melihat itu setiap hari, diapun mungkin ikut depresi, dan “lari” ke luar rumah. Begitulah.. Tapi Allah Maha Baik, its true! Saya maju, saya bertarung, saya lawan semuanya. Saya sempat benci Nawla anak saya selama 3 tahun lebih, tapi anak-anak itu.. emang produk asli syurga ya mba.. Pada akhirnya, Nawla-lah satu-satunya partner saya dalam menghadapi semua itu. Lewat Nawla, Allah menolong saya dengan cara-caraNya yang luar biasa. Sekarang, Insya Allah saya sudah pulih. Saya dan Nawla menjadi partner paling hebat di dunia :) Saya mencintainya, lebih dari apapun yang bisa saya jelaskan. Dan cinta sempurna ini adalah paket Tuhan bagi setiap ibu. Kita pasti memilikinya, cepat atau lambat. Keep fighting mba!!

    Oya, just share, mungkin puncak kepulihan saya adalah di bulan Agustus lalu, saat saya dan Nawla menerbitkan buku bersama. Nawla menulis buku cerita anak pertamanya di usianya yg ke-5. Saya menulis novel pertama, yg terinpirasi PND saya. Silakan, bila berkenan membaca, ebooknya bs didownload gratis di http://duniapipit.blogspot.com/2013/09/my-novel-eyhonia.html :)

    Everything will fine, Mba :)

  23. sinta wati September 26, 2013 at 10:37 am

    mama pungky hebat bisa lewattin smuanya,PND saya ringan aj rasanya udah nelangsa ^_*

  24. mgrauna
    mgrauna October 1, 2013 at 9:28 pm

    Subhanallah mama pungky… :) aku seneng bacanya..berasa di dunia ini ga sendiri lagi..suamiku jg yg mempertemukanku dng TUM krn kondisi PND or babyblues ini..Iya Allah ga pernah tidur,aku yakin.

    Aku jg ky mama pipit cm berdua dng baby krn suami kerja di luar.tp skr aku bener2 berdua sama baby merantau ngelanjutin thesisku yg terrtunda setahun krn cuti kehamilan bedrest & pasca bersalin.

    Smga PND ini berangsur2 pulih dng rutinitas baru. Aamiin.

    Bersyukur dan berbahagialah krn kita telah dipercaya dan dianugerahkan generasi penerus oleh Allah Swt.

  25. irowati
    irowati February 12, 2014 at 7:38 am

    Sering denger ttg hal ini tp br baca critanya lgsg skrg, rasanya tdk msk akal tp nyata…bersabar & terus berusaha bersabar, iklas dlm setiap keadaan & tawakal adalah kunci kesembuhan dr segala penyakit…serahkan semua kepada Pemilik semesta…Semoga terus membaik dan sembuh total ya mama punky…

  26. desmaul
    desmaul February 26, 2014 at 3:39 pm

    terimakasih pungky. sekarang saya bisa yakin kalau saya tidak gila. dan akhirnya saya berani bercerita. terimakasih…

  27. bunda deassy
    bunda deassy April 28, 2014 at 9:48 am

    Saya pernah membaca kisah Ibu yang membunuh 5 anaknya tahun 2002 karena kena PPD. Mungkin pernah baca beritanya ya di Amerika, namanya Andrea Yates. Kisahnya dibukukan dalam sebuah novel yang berjudul “Luka Cinta Andrea”. Saya membuat resume buku itu, tapi saya sendiri tidak mengalami PPD. Namun kisanya menarik perhatian karena saya juga menemukan kasus yang sama dengan Ibu yang mengakhiri nyawa 3 anaknya di Bandung tahun 2006 lalu. Ternyata latarbelakangnya sama karena pengaruh PPD itu juga.

    Ada halusinasi bahwa keduanya bukan Ibu yang baik untuk anak anaknya. Sehingga mereka memilih mengakhiri nyawa anak anaknya dengan tangannya sendiri. Saya tahu bahwa sesungguhnya baik yang di Amerika maupun di Bandung adalah Ibu-Ibu yang penyayang. Namun sindrom PPD itu telah membuat mereka tidak sadar telah melakukan sesuatu yang membahayakan nyawa anak-anaknya.

    Buat Bunda Pungky…jika berkenan…saya ingin membuat kisahnya dalam sebuah buku… juga untuk bunda bunda lain yang mau berbagi kisahnya. Sehingga tidak ada lagi seorang Ibu yang harus terpaksa mengakhiri nyawa anak-anaknya karena penyakit ini. Peluk….!!!

    Kalau boleh saya minta no hp nya ya….

  28. Vini Hujan
    Vini Hujan May 4, 2014 at 11:04 am

    Alhamdulillah ya Mbak Pungky bisa keluar dari situasi yang sangat sulit seperti itu :)

    Aku baru melahirkan 15 hari. Aku kena pre-eklampsia berat dan harus di SC, bersyukur krn bayiku baik2 saja meskipun beratnya agak kecil krn lahir di usia baru 37w. Selama 15 hari pula aku ngerasain perasaan cemas, takut,marah, kesal, muak, sedih setiap hari. aku tinggal bersama mertua, ipar dan keponakan. aku muak, benci, sakit hati dengan kondisiku sekarang. aku kecewa sma diri sendiri kena harus kena PEB sampe hrs disesar. Tersiksa aku lahir batin di rumah ini. aku gak tau harus gimana. berkali-kali aku minta untuk tinggal dulu di rumah orangtuaku tp suami tdk mengijinkan krn kuatir ibu mertuaku tersinggung dan katanya lingkungan rumah orang tuaku jorok dan gak bersih buat bayiku. aku merasa sama sekai tidak diperhatikan di rumah ini. setiap malam cuma bisa nangis sampe bener-bener sakiiiit dada ini nahan sakit bekas jaitan SC. sama sekali gak ada yg memperhatikanku bahkan suami sangat konsen ke bayi. setiap aku berkeluh kesah suami tidak pernah menanggapi dengan sungguh-sungguh. aku ingin keluar dari penderitaan ini. aku merasa nggak kuat lagi. Bayiku akhir-akhir ini lebih rewel dan terus-terusan mau menyusu. aku kelelahan fisik dan mental. badan sakit semua serasa patah semua tulang. Bagaimana aku bisa keluar dari situasi paling buruk dalam hidupku ini? apa aku mengalami baby blues?

  29. des_qy
    des_qy May 5, 2014 at 2:04 pm

    Ngerasa gak sendiri.
    Baru paham bener ternyata aku termasuk yang menderita PND, hingga saat ini, anak2ku usianya 9 bulan.
    Aku ibu dari kembar yang gak identik, sebelum lahiran gak pernah terbayang bagaimana repotnya punya kembar, dan sudah dipastikan shock berat.
    Awalnya aku kira ini baby blues syndrome, tapi kok perasaannya gak ilang2.

    Sering ngerasa kesal, marah kenapa harus dikasih anak kembar, tapi sering juga ngerasa bersyukur karena gak semua orang tua dikasih kesempatan mengasuh anak kembar.

    Pernah, disaat mereka usia 2 bulan, keaadaan dimana ada di titik paling bawah, stress punya 2 babies, orang tua yang gak mendukung, bukan memberi support tapi justru bikin down.
    di siang hari itu,aku membekap anakku yang satunya dengan bantal, karena menurutku dialah biang keladinya, seandainya dia tidak pernah ada.
    Dan terkadang sampai saat ini perasaan itu masih suka muncul, alhamdulillah tidak pernah sampai terulang kejadian itu, selalu beristighfar, dan hilang, tapi ketika emosi kembali tidak labil, muncul kembali perasaan itu.
    Ini berpengaruh ke sikapku terhadap mereka, berbeda. Sikapku ke si kakak dan si adek berbeda.
    Aku bisa sangat mesra ke si kakak, tapi tidak begitu ke adek.

    ini menyiksaaa :(
    Harus bagaimana ya aku ini? hiks..

  30. Mama Cattleya
    Diana Christianti May 25, 2014 at 8:59 pm

    moms, boleh minta info soal thread baby blues n PNDnya? barusan aku coba buka ga bisa. Ada teman yang membutuhkan. thank b4 ya moms..

  31. Ebn
    Ebn August 15, 2014 at 11:05 am

    Maaf mungkin saya satu-satunya Pria yang ikut nimbrung di Obrolan ini. Terkait dengan baby blues, isteri saya mengalaminya. dan bertahan sampai sekarang ( > 2 tahun). semua cara sudah dilakukan. walaupun mungkin tidak separah awal awal BB, namun efeknya masih terasa sampai sekarang. Ketakutan tanpa sebab, susah tidur dan banyak hal yang menunjukkan kegelisahannya. Lalu dia memberikan link ini ke saya, http://theurbanmama.com/articles/melawa … ml.setelah saya baca, sungguh sebuah perjuangan yang luar biasa untuk bisa sembuh. Mohon bantuan dari ibu ibu hebat sekalian disini apabila ada saran atau cara untuk bisa sembuh dari PND atau BB ini. Terima kasih.

  32. LokahittaLover
    LokahittaLover October 14, 2014 at 11:05 am

    Terharu biru bacanya
    Hug hug mama pungky

  33. Yulifish
    Yulifish April 23, 2016 at 2:46 pm

    Thanks buat sharing ceritanya. Ternyata gak cm sendiri mengalami PND.. hikzz…. skrng anakqu umur 3 tahun 1 bulan. Dan sepertinya selama ini qu berjuang sendiri terhadap PND ini. Rasanya gak bs digambarkan. Yg selalu dipikirkan seperti ingin mengakhiri hidup agar lepas dr yg namanya penderitaan.

  34. Yulifish
    Yulifish April 23, 2016 at 2:47 pm

    Thanks buat sharing ceritanya. Ternyata gak cm sendiri mengalami PND.. hikzz…. skrng anakqu umur 3 tahun 1 bulan. Dan sepertinya selama ini qu berjuang sendiri terhadap PND ini. Rasanya gak bs digambarkan. Yg selalu dipikirkan seperti ingin mengakhiri hidup agar lepas dr yg namanya penderitaan. awal hbs lahiran baby mengalami kolik.. ampir 40 hari lamanya. Setelah itu blk tinggal brng mertua. Bs dibayangkan rasanya mengurus ank sendiri, sermh sm mertua. Dan mengalami PND (mungkin ini yg sy alami dulu)… tp belakangan sudah gak terlalu kambuh… tp kalau ank lagi rewel nangis gak berenti dan bingung maunya apa, kdng blk mikir lg, jgn mikir yg aneh”.. cm itu.. sepertinya menurut sy PND bener” butuh suport org terdekat yaitu suami.. butuh yg namanya hiburan dr kelelahan dan kakunya rutinitas.. sy selama ini tidak pernah berkonsultasi sm namanya dokter. Mungkin krn tkt… tp lewat bacaan ini, membuat sy berani memberikan sharing dan comment. Buat para mommy di luar, saat merasa down, mungkin bs saling sharing agar bs saling support satu sama lain. Krn support bs membantu membangun pikiran qta yg sedang kacau kalau bahasa saya. Keep fighting… akhir kata, sorry kalau ada kata dan kalimat yg salah..

  35. Yulifish
    Yulifish April 23, 2016 at 3:00 pm

    Cm ingin membantu memberikan masukan untuk @Ebn, saat kegelisahan dan ketakutan melanda mommynya, jgn biarkan emosi suami jg tersulut. Semua yg dibicarakan atau kata” yg keluar yg bs membuat tidak enak untuk didengar, jgn diambil hati. Krn PND atau yg mengalami BB itu mengalami emosi yg rasanya ingin dikeluarkan agar lega.. kdng susah dikontrol.. coba mencari cara apa yg bisa membuat mommy nya happy. Mungkin hal” kecil seperti ikut membantu mengurus anak walau sebentar yg mana mommy nya bs merasakan Me time sesaat. Cm masukan aja. Tq…

  36. dhilah umidzaki
    dhilah umidzaki April 24, 2016 at 7:26 am

    Sedang mengalami ini spanjang hari, takut mati, takut tutup pintu kalo masuk kamar mandi, tidur ga tenang sering terbangun di kala malam, takut terkena penyakit ini itu sampai muter2 dr tp hasilnya nihil, cm aritmia aja yg akhirnya nempel krn pikiran takut sakit jantung yg slalu menghantui, kaki nyelekit sdikit dikira knapa2, temperamental smpai suka membentak anak2, sering menangis ga jelas, curhat ke mama dbilang krasukan jin, ga bisa curhat plong ke suami krn dy kurang peka dan sibuk sm kerjaan kantor sering skali pulang malam, kelelahan mengurua dua anak bayi dan balita sendirian, maunya kluar rumah trus, gatau harus gimana skrg, ini sdh berlangsung sejak hamil anak kdua smpe skrg dy berusia 8bulan, setiap hari seperti itu, lelah ga bs bilang ke siapa2 smpe kdg ngerasa gila krn suka marahin anak2, tkut anak2 jd punya trauma sm ibunya :(

  37. Yulifish
    Yulifish April 29, 2016 at 12:11 am

    dhilah umidzaki , keep fighting.. semua akan berlalu, tapi untuk bisa melalui semuanya butuh proses dan pengorbanan.. cup cup.. babynya kembar kah? Tinggal sendiri ?

  38. vebri
    vebri September 3, 2016 at 9:17 pm

    dear mba Pungki dan mama2 yang sedang atau pernah kena depresi dengan diikuti sakit kepala dan kecemasan yang sangat, apakah kalian mengkonsumsi obat domperidone untuk melancarkan asi?
    saya dan teman saya juga mengalami seperti mba pungki dan kami sama2 mengkonsumsi obat ini selama 3 bulanan. dan pada brosur obat ini terdapat efek samping sakit kepala dan cemas, dan saya juga pernah menemukan artiket diinternet yg menyebutkan bahwa obat ini dapat menyebabkan depresi. Saya jadi penasaran dan coba meriset kecil kecilan, siapa tau ini bisa menyelamatkan ibu2 baru yg sedang berusaha memberikan yg terbaik untuk bayinya..

Post a Comment

You must be logged in to post a comment.