Melawan Post Natal Depression

Bagaimana rasanya hidup berdampingan dengan malaikat penjaga neraka? Bagaimana rasanya setiap hari dibayang-bayangi malaikat maut? Bagaimana rasanya hidup dipenuhi dengan rasa takut luar biasa tentang perpisahan dan kematian? Saya pernah mengalaminya. Dan rasanya: sakit. Sangat sakit. Sakit sampai-sampai saya hanya bisa duduk dipojok kamar memeluk kaki sendiri. Menangis dan sesak nafas karena tidak tau bisa apa lagi.


Hari-hari itu saya lalui dengan tatapan kosong, rambut lepek karena tidak mau mandi berhari-hari, badan bau karena tidak mau ganti baju, kurus karena tidak nafsu makan sama sekali, bahkan saya sempat menghabiskan hari-hari saya di kolong kasur. Ngapain? Bersembunyi dari malaikat maut!


Suatu hari 6 bulan yang lalu,
Tiba-tiba kepala saya sakit dan nafas saya sesak. Saat itu, yang terus terbayang-bayang di kepala saya hanya satu: sebentar lagi saya mati dan saya masuk neraka. Tentu saja saya menangis meraung-raung. Untung bayi saya punya pengasuh. Saya biarkan anak pertama saya yang baru berusia 3 bulan menangis kehausan digendongan pengasuhnya. Buat apa saya urus bayi saya? Toh, nanti ketika dia besar, dia akan nakal dan saya yang akan disalahkan semua orang. Anak salah asuhan! Lalu Tuhan ikut marah. Saya masuk neraka.


Saya pikir kejadian dan pikiran-pikiran seperti itu hanya berlangsung sehari. Saya lelah mengurus bayi, saya lelah mengurus suami. Saya kelelahan.. wajar kalau pikiran saya kalut. Tapi ternyata saya salah.. Pikiran dan perasaan negatif itu datang setiap hari, setiap menit, setiap detik, setiap waktu! Ketakutan saya semakin menjadi. Saya tidak hanya menangis, tapi juga meraung-raung di bawah pancuran air sampai menggigil, bahkan mengawasi setiap angin dengan tatapan sinis. Iya, saya khawatir kalau angin besar datang. Jangan-jangan itu malaikat maut..


Suami saya tidak tinggal diam, dia berkonsultasi kepada teman dokternya mengenai keadaan saya yang semakin hari semakin mengkhawatirkan. Teman suami saya menyatakan satu hal yang saya sama sekali baru pernah dengar: "Istri kamu kena baby blues. Syndrom pasca persalinan..". Setelah pernyataan itu, suami saya lebih tenang menghadapi keadaan saya. Karena temannya melanjutkan: "Dibiarkan aja. Asal dijaga.. nanti juga kembali normal". Suami saya meyakinkan saya bahwa semuanya akan segera berakhir. Hidup bahagia bersama anak pertama di depan mata. Saya harus sabar menjalani hari-hari menyedihkan itu. Suami saya siang dan malam meyakinkan saya.


2 Minggu berlalu..
Saya sembuh? Tidak sama sekali. Malah keadaan menjadi semakin parah. Yang membayangi saya tidak hanya malaikat maut, tapi juga kemungkinan hidup dengan penyakit jiwa. Saya gila. Dan tidak akan pernah sembuh sampai malaikat maut menjemput. Anak saya akan punya ibu gila, dan sebentar lagi tidak punya ibu. Saya semakin ketakutan..


Sebulan menjalani hari-hari paling berat dalam hidup, saya berontak! Saya lelah dengan kegilaan yang saya buat sendiri. Saya mencari jalan keluar sendiri yang suami saya tidak bisa temukan. Saya menjadi istri galak yang terus menyalahkan suami karena tidak becus merawat istri. Saya menjadi ibu kejam yang hampir membanting bayi saya sendiri. Saya marah dengan keadaan. Saya gila dan tidak ada yang peduli dengan itu. Saya harus mengobati diri saya sendiri.. Saat itu, yang terlintas di pikiran saya adalah: "Persetan dengan anak dan suami. Saya mau sembuh dan hidup saya akan bahagia tanpa mereka..".


Untunglah,
Tuhan menjaga anak dan suami saya dengan sangat baik. Di kondisi puncak kemarahan saya akan keadaan yang terus memburuk, seorang teman saya yang pelatih Yoga menulis status twitter dan saya kebetulan sekali membaca. Dia bercerita panjang lebar di twitternya soal baby blues dan Yoga. Tanpa pikir panjang, saya langsung menghubunginya via telepon.


Dengan ketenangannya, dia menjelaskan kepada saya soal baby blues. Soal perubahan hormon yang terjadi dalam tubuh saya. Soal bagaimana cara menghadapinya dan soal malaikat maut yang hanya halusinasi. Malaikat maut ada di sekitar kita, tapi dia bukan hantu yang akan meneror kita setiap hari. Dan soal saya bersembunyi di kolong tempat tidur membuatnya tertawa ngakak karena menurutnya itu reaksi yang wajar tapi konyol. Rata-rata penderita baby blues akan mengalami hal-hal 'ajaib', termasuk bersembunyi dari malaikat maut di kolong tempat tidur.


Saya sedikit tenang, semuanya akan segera berakhir dan hidup saya akan kembali normal..
Sampai seorang teman yang sempat menyaksikan kegilaan saya bilang, "Coba deh googling soal Post Natal Depression. Gangguan yang lebih parah dari baby blues. Kamu mungkin kena itu.. Biasanya di forum-forum Mama online ada cara mengatasinya". Saat itu, yang terlintas di kepala saya adalah bertanya pada akun twitter TUM dan segera sembuh. Alhamdulillah.. Tuhan saya sangat sangat baik. Twit saya dibalas oleh admin twitter TUM dengan beberapa artikel seputar PND (Post Natal Depression), bahkan beberapa Urban Mama ikut membalas twit saya dan bercerita soal pengalaman PND nya. Saya ingat betul, saat itu seorang mama dengan akun @RheeaNanda, membalas twit saya dengan "Been there! Done that!". Saya tidak mau kecolongan, saat itu juga saya langsung mengirim twit personal ke Mama tersebut dan minta tolong dibantu. Saya tidak minta banyak, saya hanya mohon dia mau sharring soal bagaimana ia bisa sembuh dari 'kejamnya' PND.


Tuhan saya tidak pernah tidur.. Dia tau saya butuh pertolonganNya..
Pertolongan itu datang melalui Mama Nanda (pemilik akun @RheeaNanda), dia dengan sangat baik mengirim saya email dan bercerita soal pengalaman PND nya. Dia bercerita pernah membekap bayinya dengan bantal, bahkan temannya yang juga terkena PND sempat dikejar-kejar malaikat maut. Alhamdulillah.. saat itu untuk pertama kalinya saya tersenyum. Menyadari bahwa saya memang sakit namun akan bisa sembuh. Dan saya tidak sendirian :)


Dibantu suami yang terus meyakinkan bahwa saya pasti sembuh, saya terus dibimbing oleh teman saya untuk berlatih Yoga setiap hari. Dia bilang, Yoga dapat membantu mengembalikan hormon-hormon yang berantakan dan menyembuhkan PND saya. Dua bulan saya tidak menyerah.. Menangis dan jerit-jerit sudah menjadi rutinitas saya. Tapi saya tidak berhenti untuk berusaha sembuh. Buah hati saya.. penyemangat yang tidak tergantikan. Tawa kecilnya adalah nutrisi jiwa bagi saya. Saya harus sembuh.


Sebulan kemudian, dengan keprasahan pada yang Sang Maha Pemilik..
Saya membaik..
Saya sudah berhenti menangis setiap hari, saya berhenti diteror malaikat maut, saya tidak lagi merasa hidup berdampingan dengan malaikat penjaga neraka, bahkan saya sudah berani keluar rumah dan beraktifitas seperti biasa. Alhamdulillah... Rasa syukur saya saat itu benar-benar mentok. Saya tidak tau harus berterima kasih dengan cara apalagi pada Tuhan. Saya membaik.. saya akan sembuh..


Hari ini, setelah 4 bulan semuanya berlalu, apakah saya sembuh total? Saya inginnya begitu, tapi ternyata Tuhan masih memberi saya sedikit pelajaran. Saya masih sesekali 'kumat', dan masih terbayang-bayang dengan hari-hari kelam itu. Bahkan menulis ini, dada saya terasa sesak mengingat semuanya. Tapi saya memberanikan diri.. saya harus membagi apa yang saya alami karena Mama saya pernah bilang "Berbagi itu memberi kebahagiaan pada kaca. Kamu yang akan dapat paling banyak". Saya bosan dengan PND yang masih sesekali datang ini, semoga dengan berbagi tulisan ini.. Tuhan mengijinkan saya untuk sembuh total :)


Untuk Mama lain yang mengalami gejala yang sama.. Saya punya sedikit tips menghadapinya. Insya Allah.. dengan dukungan suami dan keyakinan dari hati, PND bisa disembuhkan :)


- Saat gelisah memuncak (perasaan sudah dijemput malaikat maut, sudah akan mati, sebentar lagi bencana alam, kota akan perang besar, atau apapun yang sangat buruk), duduklah.. atur nafas.. nikmati nafas dan yakinkan diri sendiri kalau ini adalah 'serangan' dan sama sekali bukan firasat buruk. Saat keadaan ini berlangsung, usahakan jauhkan diri dari bayi karena bisa berbahaya kalau nekat.


- Berbagi apapun yang dirasakan pada suami. Apapun... gelisah.. takut.. sedih.. kecewa.. ceritakan semuanya. Ini bisa membuat Mama lebih lega.. Dengan catatan, ketika suami sedang lelah dan tidak bisa jadi tempat sampah curhat, kendalikan emosi. Saat PND, saya sering sekali marah tanpa alasan pada suami. Kalau sudah ada alasan untuk marah, suami bisa saya cakar-cakar bahkan saya tinju :)


- Konsultasi dengan dokter atau terapis soal keadaan yang dialami. Jangan didiamkan! Tidak tau bahwa kita sedang PND, akan membuat kita merasa bahwa itu penyakit jiwa dan tidak bisa sembuh. Percayakan keadaan pada orang profesional.. jangan pernah nekat menghadapi sendiri. Saya memercayakan kesembuhan saya pada seorang pelatih Yoga.. Kalau saat itu saya nekat berjuang sendiri, mungkin sampai hari ini saya masih 'gila'.


- Beritahu suami soal PND dan memohonlah agar dia sabar menghadapi dan mendampingi. Saya yakin, suami saya pasti setengah mati mengendalikan emosinya saat saya cakar, tinju bahkan saya maki-maki dengan kata-kata kasar. Tapi disitulah cinta dibuktikan.. Dia sabar dan kami berhasil :)


- Saat mengambil keputusan besar (kabur dari rumah, bunuh diri, cerai dengan suami), nikmati saja keputusan itu. Setelah keputusan dibuat, Mama akan merasa menang dari keadaan. Tapi, kendalikan diri sendiri untuk tetap duduk dan menunda melakukan keputusan tersebut. Katakan saja pada diri sendiri "Iya.. aku mau bunuh diri, tapi nanti sore! Iya.. pasti aku bunuh diri nanti..". Nanti kalau gelisah atau sesaknya sudah mereda, keputusan besar itu akan berubah menjadi senyum-senyum malu dan tertunda untuk selamanya.


- Terakhir, tentu saja.. serahkan keadaan Mama pada Si Pemilik Segala. Pemilik hati sekaligus kegelisahan jiwa. Pasrahkan saja semuanya.. Ikhlaskan.. kembalikan semuanya.. Saat kita sudah tidak sanggup, biar si Maha Esa yang turun tangan. Tuhan maha pengasih lagi maha penyayang :)



Saya bukan dokter, saya bukan ahli, saya hanya ibu dari seorang anak yang pernah mengalami dan berjuang melawan Post Natal Depression. Kalau Mama mengalami dan dokter berkata lain dari yang saya katakan, percaya saja pada dokter, mereka lebih ahli dan lebih tau. Tulisan ini hanya berbagi, bukan mengajarkan atau menggurui, semoga bermanfaat dan terimakasih bagi yang berkenan membaca.


Terimakasih TUM, Terimakasih Mama Nanda.. Kalian menjadi bagian terpenting dalam proses penyembuhan gangguan paling mengerikan dalam hidup saya. Sampai kapanpun, Mama Nanda dan admin di balik akun twitter TUM saat itu, akan lekang dalam ingatan saya. Terima kasih :)

Silakan mampir ke thread tentang Baby Blues dan Post Natal Depression di forum, untuk berbagi cerita dan diskusi.

38 Comments

  1. avatar
    vebri September 3, 2016 9:17 pm

    dear mba Pungki dan mama2 yang sedang atau pernah kena depresi dengan diikuti sakit kepala dan kecemasan yang sangat, apakah kalian mengkonsumsi obat domperidone untuk melancarkan asi?
    saya dan teman saya juga mengalami seperti mba pungki dan kami sama2 mengkonsumsi obat ini selama 3 bulanan. dan pada brosur obat ini terdapat efek samping sakit kepala dan cemas, dan saya juga pernah menemukan artiket diinternet yg menyebutkan bahwa obat ini dapat menyebabkan depresi. Saya jadi penasaran dan coba meriset kecil kecilan, siapa tau ini bisa menyelamatkan ibu2 baru yg sedang berusaha memberikan yg terbaik untuk bayinya..

    1. avatar

      As .



  2. avatar
    Yulifish April 29, 2016 12:11 am

    dhilah umidzaki , keep fighting.. semua akan berlalu, tapi untuk bisa melalui semuanya butuh proses dan pengorbanan.. cup cup.. babynya kembar kah? Tinggal sendiri ?

    1. avatar

      As .



  3. avatar
    dhilah umidzaki April 24, 2016 7:26 am

    Sedang mengalami ini spanjang hari, takut mati, takut tutup pintu kalo masuk kamar mandi, tidur ga tenang sering terbangun di kala malam, takut terkena penyakit ini itu sampai muter2 dr tp hasilnya nihil, cm aritmia aja yg akhirnya nempel krn pikiran takut sakit jantung yg slalu menghantui, kaki nyelekit sdikit dikira knapa2, temperamental smpai suka membentak anak2, sering menangis ga jelas, curhat ke mama dbilang krasukan jin, ga bisa curhat plong ke suami krn dy kurang peka dan sibuk sm kerjaan kantor sering skali pulang malam, kelelahan mengurua dua anak bayi dan balita sendirian, maunya kluar rumah trus, gatau harus gimana skrg, ini sdh berlangsung sejak hamil anak kdua smpe skrg dy berusia 8bulan, setiap hari seperti itu, lelah ga bs bilang ke siapa2 smpe kdg ngerasa gila krn suka marahin anak2, tkut anak2 jd punya trauma sm ibunya :(

    1. avatar

      As .



  4. avatar
    Yulifish April 23, 2016 3:00 pm

    Cm ingin membantu memberikan masukan untuk @Ebn, saat kegelisahan dan ketakutan melanda mommynya, jgn biarkan emosi suami jg tersulut. Semua yg dibicarakan atau kata" yg keluar yg bs membuat tidak enak untuk didengar, jgn diambil hati. Krn PND atau yg mengalami BB itu mengalami emosi yg rasanya ingin dikeluarkan agar lega.. kdng susah dikontrol.. coba mencari cara apa yg bisa membuat mommy nya happy. Mungkin hal" kecil seperti ikut membantu mengurus anak walau sebentar yg mana mommy nya bs merasakan Me time sesaat. Cm masukan aja. Tq...

    1. avatar

      As .



  5. avatar
    Yulifish April 23, 2016 2:47 pm

    Thanks buat sharing ceritanya. Ternyata gak cm sendiri mengalami PND.. hikzz.... skrng anakqu umur 3 tahun 1 bulan. Dan sepertinya selama ini qu berjuang sendiri terhadap PND ini. Rasanya gak bs digambarkan. Yg selalu dipikirkan seperti ingin mengakhiri hidup agar lepas dr yg namanya penderitaan. awal hbs lahiran baby mengalami kolik.. ampir 40 hari lamanya. Setelah itu blk tinggal brng mertua. Bs dibayangkan rasanya mengurus ank sendiri, sermh sm mertua. Dan mengalami PND (mungkin ini yg sy alami dulu)... tp belakangan sudah gak terlalu kambuh... tp kalau ank lagi rewel nangis gak berenti dan bingung maunya apa, kdng blk mikir lg, jgn mikir yg aneh".. cm itu.. sepertinya menurut sy PND bener" butuh suport org terdekat yaitu suami.. butuh yg namanya hiburan dr kelelahan dan kakunya rutinitas.. sy selama ini tidak pernah berkonsultasi sm namanya dokter. Mungkin krn tkt... tp lewat bacaan ini, membuat sy berani memberikan sharing dan comment. Buat para mommy di luar, saat merasa down, mungkin bs saling sharing agar bs saling support satu sama lain. Krn support bs membantu membangun pikiran qta yg sedang kacau kalau bahasa saya. Keep fighting... akhir kata, sorry kalau ada kata dan kalimat yg salah..

    1. avatar

      As .



Previous Comments

Post a Comment

You must be logged in to post a comment.