Membuat Anak Senang Belajar lewat Gaya Belajar yang Sesuai

AnnaSurtiNina
Anna Surti Ariani, S.Psi., M.Si., Psi. Family & child psychologist di Klinik Terpadu, Fakultas Psikologi UI, Depok (021-78881150) dan Medicare Clinic, Menara Kadin, Kuningan, Jaksel (021-5274556)
Have question for our experts ?
Feel free to ask them here!

Bayangkan apabila seorang guru satwa mengumpulkan beberapa binatang untuk dites: gajah, singa, burung rajawali, monyet, ikan hiu, kura-kura, dan beruang kutub. Kemudian si guru mengatakan, “Demi keadilan, saya akan menyetarakan tes kalian. Siapa di antara Anda semua yang paling cepat melintasi selat Bali, akan diangkat menjadi raja hewan di Indonesia.” Siapa yang kiranya paling diuntungkan? Sangat mungkin ikan hiu bersorak, sementara singa yang selama ini menjadi raja hutan akan bermuka kecut. Adilkah tes semacam itu? Tentu saja tidak! Tes semacam ini mengasumsikan bahwa semua binatang memiliki gaya yang sama untuk mencapai suatu hasil, padahal jelas berbeda.

Manusiapun demikian, ada gaya yang berbeda untuk mencapai hasil yang sama. Dalam psikologi, kita menyebutnya sebagai gaya belajar/learning style. Gaya belajar mulai terbentuk sejak masa kanak-kanak dan cenderung bertahan sampai dewasa. Jika kita memahami gaya belajar anak kita, maka kita akan jauh lebih mudah mendorongnya untuk belajar, anak akan lebih cepat mengerti apa yang diajarkan, dan apa yang dipelajari cenderung bertahan lebih lama. Menarik kan!

Kalau urban mama dan papa googling di internet tentang gaya belajar, akan ada beberapa nama yang muncul, yaitu nama para ahli yang meneliti tentang gaya belajar. Sebutlah beberapa nama, ada David Kolb, Anthony Gregorc, Carl Jung, Neil Fleming, dan banyak nama lain. Mereka masing-masing memiliki teorinya sendiri tentang gaya belajar, semuanya benar tapi dari sudut pandang yang berbeda. Supaya tidak terlalu membingungkan, mari kita bahas salah satu yang paling mudah dipahami saja, yaitu hasil karya Neil Fleming.

Fleming (2001) menyebutkan bahwa ada 4 gaya belajar berdasarkan indera manusia, coba deh kenali gaya belajar kita dan anak kita:

  1. Visual, yaitu memahami sesuatu lewat apa yang dilihat. Misalnya ketika seorang anak memesan makanan dengan menunjuk gambar paling menarik di kartu menu.
  2. Aural, dulu disebut auditori, yaitu memahami sesuatu lewat apa yang didengar. Misalnya ketika seorang anak minta diceritakan dulu oleh mama tentang calon makanan yang akan dipesan.
  3. Read/write, yaitu memahami sesuatu lewat proses membaca dan menulis. Misalnya ketika si anak berusaha membaca menu.
  4. Kinesthetic, yaitu memahami sesuatu setelah mencoba melakukannya sendiri. Misalnya ketika anak hanya mau memesan makanan yang pernah ia coba.

Sebagian besar anak memiliki gaya belajar kinesthetic di awal hidupnya, karena kemampuan anak untuk menyerap informasi cenderung kongkrit, alias perlu benar-benar terasa tak hanya dibayangkan saja. Namun setelah semakin besar, maka semakin jelas gaya belajar yang betul-betul dominan. Fleming (2001) sendiri menemukan bahwa 41% orang memiliki salah satu gaya belajar di atas secara dominan, artinya ada yang hanya visual saja, aural saja, read/write saja, atau kinesthetic saja. Sekitar 27% memiliki dua gaya belajar sekaligus, misalnya visual dan kinesthetic. Ada 9% yang memiliki sekaligus 3 gaya belajar dominan, misalnya visual, aural, dan read/write. Sekitar 20% sisanya memiliki sekaligus keempat gaya belajar di atas, sehingga mudah baginya untuk memahami segala informasi dan pelajaran lewat gaya apapun.

Anak-anak yang memiliki 3-4 gaya belajar sekaligus biasanya dianggap sebagai anak yang pintar, apapun yang dilakukan orangtuanya untuk mengajarinya akan segera ditangkap. Biasanya ini membuat orangtua lebih santai untuk mengajari anaknya. Sebaliknya anak yang memiliki hanya 1 atau 2 gaya belajar saja, ketika gaya belajarnya berbeda dari orangtua dan guru yang mengajarinya, seringkali jadi punya masalah: sulit menangkap pelajaran, sulit mengingat apa yang sudah dipelajari, sulit berkonsentrasi, dan seringkali menghasilkan nilai yang pas-pasan saja. Gara-gara nilai pas-pasan, orangtua jadi lebih khawatir dan berusaha menjejali anak dengan berbagai pelajaran, yang kemudian membuat anak jadi lebih malas lagi belajar. Akibatnya proses belajar jadi tidak menyenangkan dan cenderung menyiksa.

Masalahnya, dari temuan Fleming, hampir 70% orang memiliki hanya 1-2 gaya belajar yang dominan. Sangat mungkin kita dan anak kita juga termasuk di dalamnya! Kalau kita tidak mengenali gaya belajar anak yang dominan, maka kita sangat mungkin kesulitan mengajari anak kita, dan anak jadi membenci proses belajar. So, penting kan mengenali gaya belajar.

Setelah tahu, atau setidaknya mengira-ngira gaya belajar anak, maka berikut ini adalah cara-caranya untuk membantu anak kita belajar. Lakukan hal-hal berikut ini untuk tiap topik pelajarannya:

  • Visual: tunjukkan gambar / ilustrasi, buatkan mindmap dengan warna-warni dan gambar menarik, bantu memilah pelajarannya lewat bagan / diagram / grafik, warnai atau tuliskan kata-kata penting dengan huruf berbeda, atau carikan disain cantik untuk alat belajarnya.
  • Aural: rekam suara Anda atau guru saat mengajarkan suatu topik dan biarkan anak mendengarkan rekaman kembali ketika belajar, berdiskusi dan mengobrol, ganti lirik lagu favorit dengan kata-kata yang harus dihapalkan anak, juga tunjukkan minat terhadap pelajaran lewat intonasi suara Anda.
  • Read/write: carikan berbagai bacaan pendukung yang berkaitan dengan pelajaran di sekolah, perbolehkan anak menulis ketika sedang belajar, dorong anak membuat ringkasan dari apa yang dipelajari, bantu cek kelengkapan buku catatannya.
  • Kinesthetic: selalu usahakan contoh nyata / demonstrasi dari apa yang sedang dipelajari, usahakan belajar dengan membuat tangan dan kakinya bergerak, ajak anak mendramakan apa yang dipelajari, usahakan anak membuat proyek dari pelajarannya.

Jika gaya belajar kita berbeda dengan anak, sangat mungkin kita tidak memahami bahwa hal yang sulit buat kita bisa jadi mudah buat anak, dan sebaliknya hal yang sangat mudah buat kita jadi hal yang sulit buat anak. Tapi yang namanya menjadi orangtua, bukankah kita harus membuka diri tentang apapun yang dapat mengoptimalkan anak kita?

Selamat mengenali dan mengoptimalkan proses belajar anak kita!

6 Comments

  1. Kira Kara
    Bunda Wiwit December 7, 2012 at 2:06 am

    waaah…menarik nih bahasannya.. jd mempelajari learning style diri sendiri sblm mengenali learning style anak. terima kasih pencerahannya ibu… :)

  2. AnnaSurtiNina
    Anna Surti Ariani December 7, 2012 at 7:13 am

    Betul sekali! Harus kenali diri sendiri dulu, baru bisa optimalkan anak kita. Terimakasih komentarnya Bunda Wiwid.

  3. Medy
    medy December 7, 2012 at 7:40 am

    Terimakasih penjelasannya ya mba Nina…:) Sangat mencerahkan, ternyata bisa ya kombinasi dari ke empat gaya. Selama ini saya pikir hanya bisa kombinasi 2 gaya saja..he..he..

  4. eka
    Eka Wulandari Gobel December 7, 2012 at 7:53 am

    terima kasih penjelasannya mbak nina. saya sendiri termasuk tipe kombinasi itu, yg akan lebih mudah paham ttg sesuatu hal kalau sudah lihat, dengar, tulis/baca dan mempraktekkannya sendiri.
    dan agak lambat kalo hanya dengar dan tulis saja :D

  5. farahmonza
    farah monza December 7, 2012 at 9:42 am

    makasih mba infonya, berguna banget, abis kadang suka bingung juga gmn caranya ngajarin anak-anak yang tepat dan bikin dia nggak bosan. Kedua anak -anak saya sepertinya berbeda cara belajarnya, kapan2 boleh dunk mba saya konsultasi lagi :)

  6. gabriella
    Gabriella Felicia December 7, 2012 at 12:29 pm

    wah ada nina… tfs ya… sekarang masih terus memperhatikan apa ya learning style albert…

Post a Comment

You must be logged in to post a comment.