Menyusui Langsung Mempertahankan Bonding Anak dan Ibu Bekerja

Febi Purnamasari A new mother of two who loves sharing whatever she has learned from seminars and books especially related to parenting issues. She’s now developing her career path as journalist for a national television. Belly-dancing is her hidden obsession.
Saat hari kerja, saya biasanya terpisah dari anak-anak minimal sembilan jam. Tentu sering ada kekhawatiran akan kemungkinan anak menjadi kurang dekat dengan saya karena kondisi ini. Untungnya, meski tidak bisa berada dekat mereka 24 jam penuh, saya adalah sosok yang selalu diperebutkan ketika berada di rumah. Sepulang kerja, si bungsu Janna (8 bulan) pasti akan menjerit kegirangan karena ingin saya gendong, sementara si sulung Kafi (23 bulan) akan mengejar saya seraya bilang, "Nenen... nenen..." Kalau sudah begitu, saya pasti langsung tersanjung!
 
 
Saya bersyukur sampai saat ini masih ditakdirkan untuk menyusui Kafi dan Janna secara langsung. Mereka memang tidak mendapatkan ASI eksklusif karena padatnya rutinitas kerja membuat saya gagal menyetok ASIP yang melimpah. Namun, kesempatan untuk dapat terus menyusui langsung tetap bertahan sampai sekarang. Menurut saya, kegigihan untuk dapat terus menyusui Kafi dan Janna secara langsung adalah kunci kelekatan kami selama ini. 
 
Ketika saya menyusui mereka langsung, saya bagaikan berada di posisi ternyaman dan terindah di dunia. Saya bisa menyentuh dan membelai buah hati sambil memandangi mata mereka. Bahkan dengan si kakak, main tebak-tebakan bagian wajah dan tubuh sudah menjadi kebiasaan kami saat sesi menyusui. Hal lain yang membuat menyusui langsung sangat penting dalam pengasuhan adalah it's a cure for all pain! Ketika Kafi dan Janna sakit, takut maupun kaget akan sesuatu, atau sehabis memgalami kecelakaan kecil, menyusui langsung dapat lebih menyamankan dan meredakan tangis mereka. Apalagi ketika anak-anak demam berhari-hari, kami harus nempel setiap saat dan sama-sama merasa jauh lebih tenang begitu.
 
 
Manfaat menyusui langsung yang saya rasakan selama ini pun diamini penulis buku What to Expect: the First Years, Heidi Murkoff. Menurut Murkoff, menyusui dapat membangun bonding antara ibu dan anak.
 
"The benefit of breastfeeding you're likely to appreciate most is the bond it nurtures between you and your little one. There's skin -to-skin and eye-to-eye contact, and the opportu ity to cuddle, baby-babble, and coo built right into every feed." - Heidi Murkoff
 
Menyusui langsung juga punya memberikan banyak manfaat bagi kondisi emosional ibu. Menurut Konselor Menyusui F.B. Monika dalam Buku Pintar ASI dan Menyusui, manfaatnya antara lain:
  1. Mengurangi stres dan kegelisahan (Mezzacapa, 2002). Saat bayi megisap dan kulitnya bersentuhan dengan kulit ibu, hormon prolaktin dilepaskan dari tubuh ibu dan membuat tenang serta rileks.
  2. Mengurangi risiko ibu menderita depresi pascapersalinan (Kendall, 2007). Hormon oksitosin yang dilepaskan saat menyusui menciptakan kuatnya ikatan kasih saya, kedekatan dengan bayi, dan ketenangan.
  3. Mengurangi tindakan kekerasan ibu pada anak (Strathearn, 2008). Pernyataan tersebit didukung kuat dengan bukti penelitian terhadap 5.890 ibu selama 15 tahun.
 
 
Jadi, bagi calon ibu maupun mama baru, saya amat sangat menyarankan untuk terus berjuang menyusui buah hati secara langsung bila tidak ada indikasi serius yang menjadi penghalang untuk melakukannya. Awalnya memang sulit, mulai dari puting sering lecet dan berdarah sampai anak kesulitan dan mogok menyusu. Namun dengan terus memperjuangkannya, ikatan yang terjalin dengan anak-anak pada akhirnya terasa lebih indah. Khususnya bagi Urban Mama yang bekerja, it's a life saver!

10 Comments

  1. avatar
    retno erlina September 13, 2017 2:54 pm

    ahhh.... berasa bercerminnnn....

    nyesss banget hati ini pas baca, ikut bahagia, mbak

    1. avatar
      Febi September 17, 2017 3:19 pm

      oya? Mirip-mirip ya, mba ceritanya? :)

      1. avatar

        As .



    2. avatar

      As .



  2. avatar
    Inka Amaliawati September 8, 2017 6:36 am

    Mbak Febi, aku termasuk gagal dalam hal ini. Rencana anak kedua ku harus full dari aku biar lebih ada ikatan bonding nya. Thank you for sharing mbak Feb

    1. avatar
      Febi September 17, 2017 3:20 pm

      Semangaaat, mba! Semoga berhasil, Amiiin

      1. avatar

        As .



    2. avatar

      As .



  3. avatar
    Amallia Sarah September 5, 2017 2:31 pm

    Ah mba Feb... Salam kenal dari Mama Rayyan.. Aku pengen banget dari dulu bisa Menyusui langsung. Alhamdulillah walau telat, di usia Rayyan 9 bulan aku sudah bisa menyusui langsung. Bahagia nya sulit di ungkapan ya mba... Thank you sharingnya ya Mba Feb

    1. avatar
      Febi September 17, 2017 3:21 pm

      Ikut senang, mba Amallia. Iya bahagia banget rasanya yaa

      1. avatar

        As .



    2. avatar

      As .



  4. avatar
    Agatha Nuri Prasanti September 5, 2017 11:32 am

    Toss mama Febi! Aku pun merasakan banget manfaat menyusui langsung sampai saat ini. Mau secapek apapun pas pulang kantor, kalau udah sampe rumah dan menyusui si kecil pasti rasa capeknya langsung berganti bahagia :)

    1. avatar
      Febi September 17, 2017 3:22 pm

      toss mba! Iya secapek apapun, kalau udah nyusuin sambil baringan langsung berasa ilang capeknya :)

      1. avatar

        As .



    2. avatar

      As .



  5. avatar
    ninit yunita September 5, 2017 8:20 am

    jadi ingeeet msa-masa menyusui waktu anak-anak masih bayi :) indah banget dan damai yaa rasanya.
    buat mama-mama yang bekerja di luar rumah, tetap semangat yaaa. in syaa Allah dengan menyusui langsung, bonding antara mama dan si kecil terus terjaga. contohnya mama febi ini kaaan... selalu jadi rebutan dan idola kalau sampai di rumah :)

    1. avatar
      Febi September 17, 2017 3:23 pm

      Terima kasih dukungannya, teh Ninit <3

      1. avatar

        As .



    2. avatar

      As .



Post a Comment

You must be logged in to post a comment.