Mother: We Don’t Judge

aginourie

image credit: www.gettyimages.com

Saya masih ingat ucapan Ibu ketika akan melahirkan anak pertama di tahun 2010 lalu. Saat itu saya sibuk sekali mempersiapkan segala sesuatu untuk kebutuhan si kecil. Terus terang sebagai calon ibu baru saya takut salah. Takut kalau apa yang saya lakukan dianggap salah oleh orang sekitar dan mengundang komentar miring yang bikin panas kuping. Saya sibuk mengumpulkan informasi dari dunia maya, bahkan rajin jadi anggota milis ini dan itu, demi mengantisipasi kesalahan ibu baru. Ibu saya yang besar dengan pola pengasuhan zaman dulu hanya berkomentar “Semua yang dilakukan seorang ibu terhadap anaknya itu tidak pernah salah, mereka pasti mau yang terbaik, jangan takut dinilai jelek sama orang lain. Mereka kan tidak tahu kebiasaan anak kita, kondisinya bagaimana. Yang bagus buat anak orang lain belum tentu bagus buat anak kita sendiri. Don’t judge, Ibu itu ya Ibu”.

Tidak lama berselang, si kecil lahir  melalui operasi sesar dan bukan normal birth, water birth atau hypnobirth. Walaupun sungguh luar biasa rasanya menjadi seorang Ibu, di dalam hati kecil saya agak sedikit sedih karena melahirkan melalui operasi sesar, dan bukan normal. Rasanya seperti melahirkan bukan dengan usaha sendiri tapi dibantu tenaga medis. Seperti dugaan saya, komentar negatif pun mengalir seiring ucapan selamat, “Kenapa sesar? Kan mahal, kan tidak alami, tidak menjadi perempuan seutuhnya” atau “pasti memilih operasi soalnya malas berusaha, malas capek ya”. Padahal sudah berulang kali saya terangkan, operasi sesar dipilih karena kondisi medis.

Kesedihan semakin menjadi ketika saya tidak bisa IMD sebagaimana seharusnya, lalu karena stres saya sempat mengalami baby blues dan ASI tidak mengalir deras. Akhirnya si kecil dibantu dengan susu formula. Ini juga kemudian mengundang komentar yang tidak kalah negatif seperti “Kenapa tidak ASI, malas ya?”. Aduh, kalau saja memang saya bisa memberikan ASI secara eksklusif tentu akan saya berikan, tapi setelah usaha ini itu, ASI tidak keluar sebanyak yang saya inginkan padahal saya sudah berusaha. Ada banyak saran yang saya dapat, mulai dari yang masuk akal sampai luar biasa aneh. Beberapa saran tentu saya jalani seperti banyak mengonsumsi makanan bergizi atau susu, tapi ya tetap tidak berhasil. Si kecil tetap dibantu dengan susu formula, saya merasa gagal menjalin ikatan Ibu-Anak dengan si kecil. Walaupun belakangan saya sadar, bahwa ikatan Ibu-Anak terjalin secara alami dan tidak menjadi makin kuat lantaran si anak hanya minum ASI ketika bayi atau menghilang karena si anak minum susu sapi.

Setelah si kecil terlambat tumbuh gigi, komentar kembali bermunculan, “Kok umur segini belum tumbuh sih giginya, anak saya umur segini dulu udah sepasang lho giginya, makanya rajin makan ini itu” atau “Kamu pasti pas hamil jarang minum susu ya, kurang kalsium nih anaknya”. Dan komentar lain pun selalu hadir menemani pertumbuhan si kecil, mulai dari saat ia belajar tengkurap, merangkak, hingga berjalan. Saat si kecil mulai belajar makan ada kalanya saya tidak sempat membuat sendiri MPASI, sehingga meracik bubur instan, tidak jarang banyak yang meremehkan si bubur instan itu “Aduh, jangan dikasih bubur instan, ada pengawetnya” atau “Memang tidak bisa masak sendiri, sekarang resep MPASI kan gampang”. Padahal saya sendiri terpaksa sekali berurusan sama si bubur instan itu.

Kemudian saat akan kembali akan berkerja setelah cuti selama 3 bulan, banyak yang protes dan berujar bahwa kodrat wanita itu kan mengurus anak dan suami. “Nanti kalau kerja, anaknya tidak terurus, lho” atau “Masa jadi anak pembantu sih”. Sempat terpikir untuk resign saja dan fokus mengurus anak dan suami sesuai yang dikatakan sebagai kodrat wanita tadi, tapi Ibu saya mendukung agar saya tetap bekerja, karena beliau masih kuat menjaga cucunya.

Pernah suatu hari si kecil sakit dan dokter anak memberikan obat. Teman saya yang “lebih ahli” mengkritik dokter anak tadi dan bilang “Aduh kok dokternya tidak RUM sih”. Saya cuma tersenyum saja. Komentar bernada menghakimi lain mulai terasa familier mulai dari “Kenapa sih anaknya tidak pakai kaos kaki, kan nanti masuk angin”, “Kok rambutnya tidak dibotak sih? Itu kan rambut kotor” atau pada saat saya memilih disposable diapers dan bukan cloth diapers, saya dituduh boros dan tidak ramah lingkungan, and it goes and will never stop. Mungkin para ibu yang hobi komentar tadi tidak sadar kalau mereka sedang menghakimi orang lain, ada yang memang niatnya cuma membagi pengalaman. Awalnya saya sempat galau dengan “judgement” orang-orang, namun akhirnya saya cuek. Toh saya yang menjalani, and we are not in the same shoes.

Lalu saya melahirkan anak kedua (tetap secara sesar karena kondisi medis), berhasil mendapatkan IMD selama dua jam, memberikan ASIX selama 6 bulan, dan saat ini si kecil sudah berusia 7 bulan walaupun masih belum bisa duduk sendiri, but I’m proud. Apa pun pandangan orang terhadap cara saya mengasuh, saya tidak ambil pusing. Saya teringat ucapan Ibu bahwa, tidak sepatutnya kita mengkritik, menghakimi pola pengasuhan orang lain, dan tidak pada tempatnya pula jika kita mengajarkan pola pengasuhan yang kita terapkan pada buah hati kepada Ibu lain. Karena orang yang tahu apa yang diperlukan oleh si kecil tidak lain adalah Ibunya sendiri.

-quote dari film “What to expect when you’re expecting”…“DON’T JUDGE”

51 Comments

  1. ZataLigouw
    Zata Ligouw August 26, 2013 at 1:38 am

    Gitaaa..what a touching article… suka deh bacanya, udah pernah ngrasain smuanya juga, yup, semuanya.. Gw sesar 3x dan pernah ada yang bilang bahwa nggak lengkap jadi ibu kalo ngga pernah ngerasain lahiran normal. What?! gw rasanya pengen marah, nangis, dll, saking keselnya. Kok segitu dangkalnya orang menilai ttg menjadi seorang ibu, ya?. Apakah dng mrasakan lahiran normal itu ibu lbh baik dari ibu lainnya meski pun dia misalnya ngga ngurus anaknya dng baik, ngga ngasih kasih sayang yang cukup, dll, dll, ya ngga juga kan ya, moms? *nyari dukungan, hehehe*
    Pernah juga anak gw masuk RS dan ada salah seorang kenalan yg keceplosan bilang bhw mungkin anak gw masuk RS krn kurang diurus. Hmmm..kebayang nggak sih, anak lg di rs, gw lagi panik abis, eh, dengerin kalimat itu. Maksud gw sih, kalo pun dia mikir gitu, nggak usah diungkapin di dpn gw yg lagi sedih dong, gak ada empatinya bgt. Saat itu gw pengen bilang ke orang itu “you have no idea how much i love my children” dan mana dia tahu seberapa besar ‘effort’ yg gw lakukan untuk selalu menjadi yg terbaik buat anak2 dan keluarga gw, kalo pun akhirnya dia sakit, ya itu lah yang terbaik yg bisa gw lakukan dan banyak sekali faktor luar yg ngga bisa kita kontrol..namanya juga manusia..
    Masih ada bbrpa penghakiman lain yang gw terima sebagai ibu, namun pada akhirnya gw berusaha untuk santai dan justru mengambil pelajaran dari banyak kejadian itu, gw jadi lebih hati2 agar ngga menghakimi ibu lainnya (scara sengaja mau pun tidak) dan justru selalu berusaha untuk mendukung keputusan temen2 or kluarga lain dng pilihannya yang biasanya selalu untuk kebaikan anak dan kluarganya..

    ehh..kok gw malah curcol ya?? maaphhh..
    sekali lagi makasih udah nulis artikel ini ya Git, and YES, we don’t judge…

  2. nirmala kautsar
    nirmala kautsar August 26, 2013 at 8:25 am

    heyooo…what a great article. saya lahiran normal, masih menyusui sampe skrg (9m), memakai clodi, mpasi rumahan. tapi, beri pelukan dan siap beri stock sabar tak berbatas untuk ibu-ibu yang lahirannya caesar, ngasih sufor, mpasi instan, dan kangen tak terhingga buat anak, karena harus pergi ngantor.
    coz there is always a different story in a parenting style and also, WE DON’T JUDGE

  3. middutt
    mia utami August 26, 2013 at 8:57 am

    nafsu banget pingin ngeshare artikel ini !! #korban judging

  4. mamanyapanyanya
    mamanyapanyanya August 26, 2013 at 9:28 am

    stuju banget dengan isi artikelnya
    kadang jadi korban judging >.<
    *lahiran cesar, untung asi eksklusif, bb gk turun2, vaksin katanya kemahalan, pake popok disposible, kembali kerja pas anak 2 bulan
    cara tiap orang beda2 ya kan :D

  5. azaleashazs
    azaleashazs August 26, 2013 at 10:30 am

    sedikit byk mirip…melahirkan caesar..byk judge negatif..n ngerasa g bener2 jd seorang ibu krn g lahiran normal…terus berlanjut ke soal pemberian mpasi..pake botol susu (harusnya g boleh)…blh siy denger mereka yang udah lebih dl jadi ibu…tp semua balik ke diri kita masing2..toh mereka g berada d posisi kita :)

  6. Travinan
    Travina August 26, 2013 at 10:52 am

    *bumil mberebes mili disudirman*

    i feel you !

  7. bunda_keisha
    bunda_keisha August 26, 2013 at 11:05 am

    Semangat trs ya untuk semua mama.. just do u’r best no matter what they say…. Salam

  8. dianps
    dianps August 26, 2013 at 11:16 am

    *berkaca-kaca*, as a working mum ya tentunya aku sering banget dibandingkan dengan mommy yang bisa stay at home. Artikelnya bikin semangat, TFS git #mwuah

  9. arinta
    arinta hapsari August 26, 2013 at 12:04 pm

    *peluuuuuuk*
    I feel you! been there!

  10. siawcu
    mega August 26, 2013 at 12:20 pm

    Very good article!!! Hampir mirip yg kualami, baby saya caesar krn kondisi medis, setelah berjuang mati2x an krn ASI sedikit, bulan pertama sudah lancar, ada kondisi medis juga.Yg mengharuskan operasi sehingga baby diberi sufor+stop ASI akibat malpraktek. Serasa gagal jadi seorg ibu. Berurai air mata terus2x an kenapa juga mengalami hal seperti ini.Tapi Tuhan tetap adil,baby sehat,gemuk,lucu,lincah. Memang jgn keburu suka judge negatif dulu, apapun yg terjadi alangkah sebaiknya mendukung bukan judge negatif.

  11. neni_arka
    Neni Setyoreni August 26, 2013 at 1:06 pm

    setuju mom…kalopun gak bisa mendukung paling nggak jangan kasih komentar yang negatif lah. Apalagi kalo sama2 sebagai ibu. Just like TUM says, there’s always different story in every parenting style.

  12. eka
    Eka Wulandari Gobel August 26, 2013 at 1:06 pm

    huhu..sedih banget deh rasanya kalo segala ini itu dihakimi :(
    hari gini masih ada aja ya, yg seneng cari-cari kesalahan org lain. rempyong banget deh ya hidupnya, cyin :D
    semoga semua mama2 di sini pada sehat2 & rukun2 yaa *hugs*

  13. raras aurell
    raras aurell August 26, 2013 at 1:21 pm

    what a good article..buat orang2 di luar sana : terimakasih sudah memberi banyak masukan ini itu kepada kami, tapi tetap saja hak itu ada di tangan seorang ibu. plis don’t judge, coz a mother wants the best for their children.. :)

  14. sapta
    sapta ningsih August 26, 2013 at 2:00 pm

    well mamas, yg paling tau perjuangan kita sbagai ibu hanya kita sendiri..no matter what they say, ttp semangat..
    saya melahirkan caesar, masih memberikan ASI smp skarang anak saya 18 bulan dan selalu membuat home made MPASI untuk anak..
    tapiiii masih saja ada yg berkomentar anak saya anak pembantu karna saya adalah working mom dan orang tua/mertua tidak bisa dititipi anak..
    Ibu tidak dilihat dari cara persalinan, memberikan ASI atau tidak, working mom atau full time mom, memasak untuk anaknya atau tidak..Ibu adalah Ibu, tanpa embel2..Ibu sejati itu adalah ibu yang memberikan semua hal terbaik untuk anak, even itu kurang baik di mata orang lain..

  15. August 26, 2013 at 2:33 pm

    i feel you kecuali lahiran gue dua2nya normal. Susu formula, anak pembantu, ga kasih ASIX. Semangat yah untuk semua mamas disini. Untuk Sapta Ningsih, quotenya ijin copas ya, bagus deh :
    Ibu tidak dilihat dari cara persalinan, memberikan ASI atau tidak, working mom atau full time mom, memasak untuk anaknya atau tidak..Ibu adalah Ibu, tanpa embel2..Ibu sejati itu adalah ibu yang memberikan semua hal terbaik untuk anak, even itu kurang baik di mata orang lain.

  16. sinta wati August 26, 2013 at 2:54 pm

    wah senangnya ternyata bukan saya sendiri yg mengalami ini, pas mau lahirran aj debat dulu ama DSOG gegara saya mau normal sdkn kondisi bayi sdh tidak memungkinkan.. untung saya g ngotot yah, mama jg yang yakinin caesar atau normal namanya tetep jadi Ibu, berlanjut Harsya g full asi waah rasanya sedih ke2 kmudian MPASI yg g full homemade.
    rasanya g jadi ibu yg sempurna buat HArsya :(

  17. ANGGI RAMBE
    ANGGI RAMBE August 26, 2013 at 3:58 pm

    seperti pengalamanku juga.aplgi dijudge tentang susu formula yg dikonsumis anakku..karena termasuk murah, ada yg pernah komen: aduh kok susu itu, nanti anaknya gk pintar lo, gak gini gitu.bla bla..ternyata skrg raissa termasuk anak yg pintar menurutku dan orang lain juga yg menilai :)

  18. Gie
    Anggi August 26, 2013 at 4:23 pm

    Been there done that..saya pun termasuk yg “tidak sempurna” menjadi ibu, tapi saya percaya dan terus berusaha yg terbaik yg saya bisa untuk anak-anak dan keluarga….terima kasih mba Gita untuk sharingnya,..

  19. yanasaphira
    Yana Saphira August 26, 2013 at 6:21 pm

    *BIG HUG* semangat ya mom, menjadi seorang ibu memang harus siap mental, dan punya rasa percaya diri yang kuat bahwa kita memberikan yang terbaik untuk anak kita, bukan anak orang lain! Yang paling penting lagi perasaan bersyukur dan bahagia atas kehadiran anak kita, sehingga si anak juga merasa diterima oleh orangtuanya. Saya yakin (tanpa pengetahuan ilmiah, hanya berbekal keyakinan) bahwa jika kita merasa sedih dan kecewa atas keberadaan anak kita entah karena dia kurus atau terlambat bicara, atau apapun yang jika dibandingkan dengan anak orang lain, ada saja kurangnya, si anak secara batin juga merasa tidak diterima. So, happy mommy happy kid, susu formula/ASI, lahir secara normal/caesar, bukan penentu anak kita akan tumbuh seperti apa. Saya dua kali melahirkan secara caesar, anak anak saya bukan bergelar sarjana asi ekslusif hehe.. dan sehari hari diasuh oleh mba dan orangtua, alhamdulillah mereka tumbuh sehat, normal dan pintar. Allah menitipkan anak-anak saya untuk saya besarkan dan didik dengan baik. Saat saya tidak bersama anak-anak saya, saya juga titip balik ke Yang Punya :)

  20. winda.reds
    Winda PrasKrisna August 26, 2013 at 9:11 pm

    Nggak ada kata lain selain SETUJU sama apa yang disampein di artikel keren ini. Dihakimi selalu nggak enak, apapun topiknya, apapun alasannya.

    Mungkin orang2 lupa ya sama lagu “Kasih Ibu”, bahwa apa yang ibu kasih buat anaknya adalah sebuah bentuk dedikasi dari amanah Tuhan, hanya memberi dan tak harap kembali. Baik buruknya apa yang dilakukan ibu untuk anaknya, ya bukan manusia lagi yang nilai, tapi pemberi amanahnya yang berhak evaluasi.

    Well said, Mama Gita. Let’s group hug, Mamas. Supporting each other rather than obnoxiously judging others.

  21. uthe
    uthe August 26, 2013 at 9:13 pm

    setuju bgt dengan kata2nya “we are not in the same shoes” krn kadang jadi ‘korban’ juga, kita bahkan hampir punya cerita yg sama mbak gita, saya punya 2 anak yg lucu dan pinter2, kk nya umur 2,6 thn asip sampe 6 bulan saja, adeknya asi eklusif sampe 6 bulan ini, menjadi ibu adalah anugerah dan harus terus disyukuri walaupun dengan cara yg berbeda krn TUHAN menciptakan kita gak ada yang sama.. nice stories mb..

  22. kanahayaku
    kanahayaku August 26, 2013 at 11:10 pm

    Yes !we don’t judge !

    Semua ygdilakukan ibu ,terlebih ibu baru yg masih meraba2 semua adalah yg terbaik untuk anak nya :)

  23. anastashaa
    astrid anastasha August 27, 2013 at 12:25 am

    been there done that :)
    terima kasih Gita untuk sharing-nya ;)
    ayo yang masih dihakimi sekitarnya, semangat yaaa gerakan tutup kupingnya, hehe.. (lanjut tutup kuping)

    #WeDOntJudge

  24. ninit
    ninit yunita August 27, 2013 at 6:59 am

    there’s always a different story in every parenting style… that’s why ada the urban mama :)

    we don’t judge. hugs gita…

  25. Bunda Falisha
    Bunda Falisha August 27, 2013 at 7:13 am

    Trm ksh mba gita buat sharingny.. Smg kita smua tdk mnjd gol org2 yg slalu merasa paling benar Aamiiin
    Btw ttg cesar vs normal itu, bagi saya & teman2 yg pernah ngerasain dua2ny, kita pd ngerasa cesar lbh sakit lho! Cb aja ambil piso trs belek perut lo hehehe
    #sadis

  26. ainiqz
    Nurul Aini August 27, 2013 at 9:22 am

    mengalami semua itu mba :’) thanks for sharing. btw bener loh, cesar tuh suakiiitttt buangeeeettt (udahannya). bs2nya dibilang males sakit *geleng2 :(
    buat urusan pola asuh, kita jg mesti kompakan sm suami dan yg ngasuh anak.. jd orang “luar” mau ngomong apa kek santai weee :p dg tetap open mind untuk saran2 yg baik & membangun :) semangat, mommies!

  27. sLesTa
    shinta lestari August 27, 2013 at 11:21 am

    i second ninit’s comment! cuz fundamentally, that’s why we created the urban mama in the first place. soalnya kita bertiga (saya, ninit & thalia) adalah 3 orang mama yang punya latar belakang yang berbeda, dan punya pola pengasuhan yang sangat berbeda, tapi kita bisa saling sharing dan dapet ilmu dari masing2, tanpa perlu judging.

    dan itu lah yang kita inginkan dengan mama2 yang lain, supaya bisa nyaman untuk sharing tapi harus disalah benarkan. kalau emang pengalaman mama yang lain ada yang bisa diterapkan ya why not, kalo gak? ya terima kasih udah sharing gitu aja.. no judging is necessary!

    thanks udah reminding us all once again, yah mama Gita!

  28. betajoseph
    yohana beta August 27, 2013 at 1:00 pm

    saya korban judging *tunjuk jari*
    tp bodo amat deh..niat melahirkan normal tp hrs caesar dibilang ga mau berusaha,ga jadi wanita seutuhnya..awal2 asi masih sedikit tp niat kuat membaja kasih asi tiap kali baby nangis MIL bilang asi ga keluar itu,cuma dikit bayi mana kenyang,ga kasian anak..blablabla..pake babywrap dibilang ibu males ga mau gendong pake kain jarik,stok asip sebanyak2nya dibilang anak dikasih asi bekas,asi basi,asi ga bagus..dll dll dll
    tapi bodo amat,selama suami&aq kompak whatever they said..selama anakku sehat2 saja..feel free to comment..kasih senyum aja,and like my mother said waktu aq curhat sambil berlinang air mata “bilang aja terimakasih sudah perhatian sm anakku”..karena menjadi ibu adalah anugerah..thanks for sharing all moms..

  29. Retno Sawitri Listya
    Retno Sawitri August 27, 2013 at 1:58 pm

    Judging? korban juga nih. Apalagi saya dulunya org kota en kini tinggal di dusun. Wheeww…Bener2 deh pengen nabokin org2 itu.
    Di tpt sy, melahirkan sesar itu aib. Jadi omongan. ASI-x gak kenal, kalo sufor kenal. ASI gk wajib, sufor yg wajib. Gelisah mereka kalo bayi2 gak dikasih sufor. MPASI gk kenal (apalagi MPASI rumahan taunya bubur instan). Bayi Baru lahir harus udh dikasih makan. Itu belum termasuk mitos2 dari jaman pra sejarah yg masih terus dianut hingga saat ini.
    Saya dulu terpaksa pake cara “kekerasan” *memang tidak terpuji* Krn menurut sy, mrka ini trlalu ‘jahiliyah’
    Mrka nabok pake mulut, saya tabok juga pake mulut en tabok juga mereka dgn sikap yang konsisten.
    Saya tidak merasa paling benar atau lebih benar dr mrka. Tpi inilah cara yg sy anggap paling tepat dgn kondisi yg saya alami. Sy yg alami, mrka tau apa. Paling ya gitu, mrka cm bsa banyak cocot aja, gk bsa beri kontribusi positif.
    Akhirnya, stlh mrka lihat sy konsisten dan komitmen dgn cara sy, mrka jdi diem sndiri. Kalopun ngomong paling beraninya di belakang saya. Jadi sy trkenal sbg “orang yg tidak bisa diganggu gugat” Hahaha
    Alhamdulillah, atas izin Allah, sgla upaya sya berbuah manis. Mereka malah balik nanya cara2 yg sy pake bwt urus anak sy. Tpi ya gitu deehh…bbrpa dr mereka msi ngeyel-ngeyel juga.
    But no matter what. Di akhir kata sy tekankan pd mereka bahwa: “pahammu, adl pahammu, pahamku adl pahamku. caraku, adl caraku, caramu adl caraku. so, terserah elu”
    Selesai dahhhh…

  30. Retno Sawitri Listya
    Retno Sawitri August 27, 2013 at 2:05 pm

    Ralat: caraku adl caraku, caramu adl caramu. hehehe

  31. agnes_mamanya afiqah
    agnes_mamanya afiqah August 27, 2013 at 4:49 pm

    waaahhh beeennn theeeree juga..bahkan sampai hari ini,, :( tp selalu percaya aja bahwa semua yg kita lakukan buat anak kita pasti yang terbaik..

  32. viavia
    viavia August 27, 2013 at 9:15 pm

    Subhanallah, manis banget artikelnya..
    Aku juga sering dibilang, ibu yg ‘tega’ sm anak..

    Sedih, terima kasih ‎​​sudah mau berbagi..
    Salam kenal ya, Mba.

  33. euna
    ratna firdausy August 28, 2013 at 9:21 am

    duluuuuuuu, sebelom punya anak sempet ga suka banget liat cara kaka ipar ngasuh anaknya, dulu saya liatnya cenderung kasar..rasanya pengen bgt komentar ini, komentar itu… tp setelah punya anak, kerasa deh kalo hanya ibu yang paling mengerti gimana cara menangani anaknya… nice artikel mom :)

  34. mamizidan
    Azzahro Wijaya August 28, 2013 at 10:50 am

    very nice sharing Bun…
    saya juga suka sebel dengerin pendapat cara ngurus anak begini begitu… mandiin anak kok pake baby bather sih? mandinya ga dibalikin badannya? kamu mah ga pinter pake gendongan kain sih… lebih enak… kaos kakinya ga usah dipake tuh, ngebekas… disiksa ya anaknya? jalan-jalan atuh.. anaknya dikurung terus di kamar? bla bla bla and blablabla.. :p

    saya sendiri sih lebih seneng ngurus anak sndiri daripada dibantuin sama MIL atau siapapun…

    kalau dengerin kata orang lain mah ga akan ada ujungnya…
    mendingan ngurus anak sendiri.. ibu ga akan berusaha mencelakain anaknya sendiri kan?

    (tapi kalau anak celaka pasti yang no.1 disalahin adalah ibunya!) :) ga dimana ga dimana sih.. hehe

  35. mail_neti
    mail_neti August 28, 2013 at 3:06 pm

    Give a big hug for Mama Gita.. :)

    I feel you..melahirkan caesar, gak bisa kasih Asi ekslusif karena dari lahir udah dicampur formula (sampai sekarang berusaha untuk tetap kasih Asi), gak bisa gendong pakai kain jarik, pake disposable diaper, berusaha kasih MPASI homemade..

    Ya..every mom have different style to teach their children..
    We can share, but don’t judge..

  36. Theresa
    LiliputMenari August 28, 2013 at 4:41 pm

    Big hug bt smua mamas diatas…
    Lg naek bus smbil mangku coolerbag…mbrebes mili mbacax..
    Smua ibu pst brusaha yg tbaik bt anaknya..dan smua pst punya caranya sndri2..
    Thx 4 sharing y moms..

  37. Annisya Yasmin
    Annisya Yasmin August 30, 2013 at 11:05 pm

    hugs buat bundas…
    aku juga ngelahirin dragons lewat c sectio, menurut aku sih tetep berasa lahiran jg. sama aja kayaknya sama yg normal, wong setelah biusnya ilang sakitnya amit amit kayak sakratul maut hehehe ;p

    waktu di rumah sakit, dragons sempet dikasih sufor, aku sih rileks aja, insyaALLAH itu yg terbaik buat dragons. Walo waktu belom lahiran udah ketemu konselor laktasi, trus setelah lahiran ketemu konselor laktasi lagi, tetep masih belom lancar jg ngasi. di rumah sakit aku tetep mompa asi , jadi anak” dikasih asi lewat feeder cup, tp tetep masih campur sufor. hari terakhir di rumah sakit baru bisa kasih asi pake gaya football, dan sejak saat itu dragons asix sampe 3,5 bln, lalu baru ditambah sufor sp sekarang krn bunda udh ngantor.

    gaya setiap pengasuhan memang beda”, kalo semua sama bisa basi banget deh hidup ;p jd ga usah khawatir omongan atau tanggapan orang as long we’re happy, cuek ajah.

    -bundanyadragonbabies-

  38. ummiye
    Ine susilawati September 1, 2013 at 10:18 am

    Thanks mom for sharing, tenyata banyak jg mama yg mengalami hal serupa. Termasuk saya. Sampai agak stress kalo denger komentar orang lain. Alhamdulillah, ketika anak kedua saya lahir. Saya lebih santai menanggapi komentar2 miring. Toh,saya yang tau bagaimana kondisi anak. Yang tiap hari mengasuh dan merawat adalah kita.bukan orang2 yang berkomentar. We know what best for them..

  39. bionique
    Monique Carolina September 2, 2013 at 3:09 pm

    Hi mommy Gita, thankz for sharing..

    mengingatkan saya pada kondisi saya waktu anak pertama.. lahiran normal, niat asix tp kondisi tidak mendukung.. biarpun saya bergelut di ranah gizi, saya pun tahu bahwa asi terbaik untuk bayi, tp sufor juga nggak seluruhnya haram kan? malah di anak ke 2 saya bertekad asi+sufor dari lahir..

    MPASI pun campur antara instan dan home made. hasilnya? anak saya tidak susah makan, tumbuh kembang oke..

    merasa bersalah? nggak kok.. malah bangga.. malah pengen nabokin org2 yg dulu nge-judge saya.. yah, every mom has their parenting style, yg tentu saja terbaik untuk anak2nya..

    big hug mommy Gita…

  40. rifa arinoviananto
    rifa arinoviananto September 2, 2013 at 3:59 pm

    YES, totally 100% AGREE. Terpaksa mengandalkan jasa asisten untuk ngasuh si kecil, tp bukan berarti mengalihkan pengasuhan, dan tidak berarti anaknya jadi anak mbak ya. Kita tetap orang tuanya. Setiap pilihan datang dengan konsekuensinya. Yang penting kita tetap berusaha berikan yang terbaik, dan ikhlas saja, Tuhan Maha Baik, DIA pasti selalu menjaga anak-anak kecil kita semua. Aaamiiin. Semangat ibu-ibu…

  41. windyasari
    windyasari September 2, 2013 at 4:05 pm

    terima kasih banyak atas artikelnya, artikel kaya gini jelas berguna, krn mewakili banyak suara hati ibu. ngga cuma komen tapi menulis, berbagi dan ‘menolong’ yang lain. ketika ibu lain belum sempat atau belum bisa menyuarakan isi hatinya. betul sekali, ga semua ibu berada di atas sepatu yang sama. THIS!!
    ASAL KAGA HARAM GA USAH BANYAK BACOOOOOOOOOOOOTTTTTTTTT!!!!!!!!!!

  42. bunda Opi
    bunda Opi September 2, 2013 at 4:16 pm

    bersyukur bgt baca artikel ini… membantu mengurangi rasa bersalah saya karena tdk bisa ASIX… :).makasih banyak…. :D

  43. teta
    teta September 2, 2013 at 11:26 pm

    We don’t judge ;-)

  44. golda
    golda September 3, 2013 at 7:31 am

    artikel yang bagus.
    dulu saya mungkin pernah judging secara tidak sadar, kebetulan saya orangnya demen komentar dan rada idealis. tapi pelan-pelan saya belajar ngerem diri karena saya sendiri ngga suka di judging.
    sejak punya anak, saya sadar di sekeliling saya pasti akan ada orang orang dengan mulut gatal dan masih idealis seperti saya dulunya. saya udah wanti-wanti ke suami untuk siapkan kalimat ultimate untuk membalas secara sopan tapi tocker buat bikin judger mingkem. soalnya kalau saya keburu tersinggung, omongan balasan saya pasti jauh lebih tajam hahah.

  45. Niniek Rofiani
    niniek rofiani September 3, 2013 at 1:25 pm

    saya ibu bekerja dgn satu toddler(2,5y). edo diasuh mertua, awalnya saya idealis, lama-lama capek juga. krn pasti di sana-sini banyak kekurangan dibandingkan kalo saya sendiri yang asuh. yg penting pertumbuhan nya baik dan sehat. meskipun kadang ngiri juga pengen di rumah aja :)

  46. yani elok
    yani elok September 5, 2013 at 1:32 pm

    big hug buat mamas semuanya…. saya juga pernah di jugde karena ngasih ASIP, gak bisa pke jarik… tapi semua omongan panas itu saya anggap angin lalu.. meskipun kadang tetep menusuk juga sih

  47. fazzahra
    Fatimah Azzahra September 20, 2013 at 12:48 pm

    Nangis baca artikelnya :( saya ngrasain smuanya dr pas baru bgt berojol di RS, ibu baru yg blum tau apa2,ngelahirin khayla (2bln) sectio,ga bisa asi ekslusif krna asi blum deras dan khayla trnyata Jaundice msuk perina 2hri,mkin stress krna yg ngjudge ibu mertua sndiri, smpe sya ngrasain symdrom baby blue,nangis mlu tiap hri,ngerasa brsalah sm khayla,dikatain bayinya kyk ga diurus,terlantar lah,apalg sya sndirian krna long distance married dg suami,tp saya sadar sdh jadi ibu harus kuat,dan yg bisa nyemangatin diri qt adlah qt sndiri,tetep ngasih yg trbaik buat khayla, tetep ngASI buat khayla wlaupun tetep tmbahan sufor.

  48. felicimone
    felicimone September 27, 2013 at 11:32 pm

    Aah saya ngerasain banget ini hampir semuanya mbak. Dan saya yakin masi buanyaaaakkkk orang yg ngerasain apa yg kita rasain ini. Menjadi seorang ibu itu memang susah, karena apapun yg kita lakukan akan tetap terasa salah. Padahal sebenernya tidak ada yg salah dari setiap keputusan, hanya saja konsekuensinya beda2. Saya merasakan jadi IRT dari hamil sampai anak saya 15bulan. Dan dihakimi itu sudah biasa. “Kok ibunya dirumah tp anaknya kurus sih? Kok anaknya nempel banget sih sama ibunya, cengeng?”ni kok bs sakit sih anaknya, td dikasi makan apa sm ibunya?” And so on. Saat saya memutuskan kembali bekerja juga ngga kalah heboh reaksi sekitar. “Ya ampun ga kasian sm anak, emang anaknya uda bs dipegang org lain, sini deh anaknya titipin aja disini kasian sendiri kayak anak ilang, aduh kodrat perempuan itu dirumah aja” and so on and so on. Andalan saya biasanya bales omongan mereka sambil ketawa “mau nggaji saya sebesar gaji saya kantoran tiap bulan nggak? Kalo enggak mau, yaudah. Jangan banyak komen”. Hehehe.

  49. bundosyafiq
    bundosyafiq August 12, 2014 at 11:03 pm

    Semangat ya moms,semoga semakin banyak para ibu yg bercita cita mulia seperti bunda gita dan bunda lainnya,lahiran normal,asix,no diapers,mpasi homemade,bisa jd full time mum. Yang bikin sedih adalah pemikiran menganggap bahwa -cesar,sufor,anak diasuh pembantu,pake diapers terus,bunda sibuk karier- sebagai sesuatu yang modren,bergengsi dan membanggakan.
    Semoga semakin byk yg bisa mewujudkan cita2 tersebut. Saya alhamd bisa lahiran normal,asix,no diapers n be a full time mom..sama seperti mba NIRMALA KAUTSAR salam peluk hangat untuk semua ibu yg telah berusaha keras memperjuangkan yang terbaik untuk anak2nya.

  50. indri.s
    Indri Wangsadinata August 26, 2014 at 12:18 am

    I feel u… Sedihnya tiap kali dgr, belum sah jd ibu krn ga ngerasa lahiran normal (siapa blg lahiran cesar ga sakit..sama jg sakit pas udahannya kan)

    Skrg tiap kali ada yg kritik, ksh saran2 yg ga make sense or judging, cukup kasih senyum manis n say : thank u for ur attention or i’ll think about it..

    Group hug bu ibu

  51. lemonandhien
    lemonandhien November 17, 2015 at 3:13 pm

    jadi ibu harus pinter2 filter kuping dan tersenyum…
    semangat mommies…we know what best for our kids…

Post a Comment

You must be logged in to post a comment.