Perlukah Suplementasi Zat Besi Pada Bayi Yang Disusui Ekslusif?

Inayati
Dyah A Inayati, PhD Health & Nutrition Researcher, Nutrition Advisor, Halal Food Auditor. Pendidikan S1 di Universitas Indonesia, S2 di Universitaet Karlsruhe (Jerman), S3 di Universitaet Hohenheim (Jerman) dengan bidang pendalaman nutrisi dan nutrisi populasi/komunitas. Ibu dari dua putera dan satu puteri.
Have question for our experts ?
Feel free to ask them here!

“Bayiku yang masih disusui eksklusif sepertinya terlihat baik baik saja. Pertumbuhannya juga sesuai dengan kurva perkembangan. Apakah perlu diberikan suplemen zat besi?”

Hal serupa nampaknya makin sering ditanyakan oleh para orangtua balita seiring munculnya rekomendasi terbaru dari American Academy of Pediatrics (AAP) di tahun 2010 dan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) berkaitan dengan anjuran pemberian suplemen zat besi pada bayi usia 4 bulan, termasuk bayi yang masih diberikan ASI eksklusif.

Tak dapat disangkal lagi, zat besi adalah mikronutrisi esensial yang memiliki fungsi penting dalam tubuh. 70% zat besi di tubuh ditemukan dalam sel darah merah (hemoglobin) dan sel otot (myoglobin). Hemoglobin (Hb) berfungsi sebagai alat transportasi oksigen dari paru paru ke seluruh jaringan tubuh sedangkan myoglobin memiliki fungsi kritis dalam proses penerimaan, penyimpanan, transportasi, serta pelepasan oksigen. Tak hanya itu, mikronutrisi ini juga berperan vital dalam proses perpindahan energi antar sel tubuh, metabolisme, sistem enzim, dan sistem pertahanan tubuh terhadap penyakit.

Kekurangan zat besi dapat mengakibatkan beberapa spektrum efek negatif tergantung dari tingkat keparahan defisiensi yang ada. Kekurangan mikronutrisi besi yang berlanjut ke anemia dapat menyebabkan turunnya performa intelektual, daya kekebalan tubuh, daya konsentrasi, performa belajar, serta nafsu makan. Walaupun kekurangan zat besi bukan satu satunya penyebab anemia, WHO menyebutkan bahwa 50% kasus anemia disebabkan oleh kekurangan mikronutrisi besi.

Data WHO 2005 menunjukkan bahwa 47% anak anak usia pra sekolah di seluruh dunia menderita anemia. Bagaimana dengan Indonesia? data Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) 2001 mengindikasikan bahwa 48% anak usia balita di tanah air masih menderita anemia. Prevalensi anemia yang tinggi ini mengindikasikan adanya masalah kesehatan masyarakat yang sangat serius di Indonesia dan harus ditindak lanjuti segera.

Menurut WHO, pemberian suplemen zat besi disarankan bila prevalensi anemia di suatu negara lebih dari 40%. AAP sendiri merekomendasikan di tahun 1999 agar suplementasi zat besi hanya diberikan pada bayi yang tidak disusui ataupun yang hanya mengalami partial breastfeeding. Bayi prematur, bayi dengan berat lahir rendah, bayi yang lahir dengan masalah hematologi, serta bayi yang punya kandungan besi inadekuat saat lahir juga dinilai memerlukan tambahan zat besi berdasarkan anjuran AAP di tahun 2005. Sebaliknya, bayi yang masih disusui eksklusif dinilai tidak perlu memperoleh suplemen mikronutrisi ini.

Kebingungan para orangtua terkait dengan pemberian zat besi pada bayi yang masih disusui secara eksklusif muncul seiring dengan adanya revisi rekomendasi AAP 1999/2005 yang dipublikasikan di tahun 2010, dan kemudian diadaptasi oleh IDAI. Berbeda dengan rekomendasi AAP terdahulu, rekomendasi terbaru AAP 2010 menganjurkan pemberian suplemen zat besi pada bayi usia 4 bulan, termasuk pada bayi yang masih diberikan ASI eksklusif. Akibatnya, pertanyaan tentang perlu tidaknya pemberian mikronutrisi ini menghiasi diskusi para orangtua, baik di ruang klinik maupun di dunia maya. Bagaimana para ahli menyikapi persoalan ini? Apa yang harus kita lakukan sebagai orangtua? Pro dan kontra yang terjadi bukan tanpa dasar. Beberapa penelitian ilmiah tentang suplementasi zat besi pada bayi yang masih disusui eksklusif hasilnya masih campur-campur. Hal ini diperparah dengan dengan metode penelitian yang beragam dengan hasil yang bervariasi. Kubu pro suplementasi zat besi untuk bayi yang mendapatkan ASI menyajikan data penelitian yang mendukung manfaat pemberian tambahan mikronutrisi ini. Sementara kubu kontra suplementasi zat besi pun memberikan data penelitian yang memaparkan bahayanya pemberian zat besi serta lemahnya metode penelitian yang digunakan. Membingungkan bukan?

Pro Suplementasi Zat Besi
Rekomendasi AAP 2010 yang menganjurkan pemberian universal suplemen zat besi pada bayi usia 4 bulan, termasuk pada bayi yang disusui eksklusif, beranjak dari kekhawatiran efek jangka panjang yang merugikan dari defisiensi zat besi dengan atau tanpa anemia pada perkembangan syaraf anak. Revisi kebijakan AAP 1999/2005 didasarkan dari hasil studi Friel et al. pada tahun 2003 yang menemukan bahwa bayi yang disusui secara eksklusif dan diberikan suplementasi zat besi pada usia 1 hingga 6 bulan memiliki konsentrasi Hb yang lebih tinggi di usia 6 bulan dibandingkan grup kontrol yang tidak diberikan tambahan mikronutrisi ini. Penambahan mikronutrisi ini juga berdampak positif pada aktivitas visual serta tingginya indeks Bayley Psychomotor Developmental. Karenanya, AAP merekomendasikan agar bayi yang disusui secara eksklusif sebaiknya tetap diberikan suplemen zat besi sebanyak 1 mg/kg/hari sejak usia 4 bulan hingga saat diperkenalkan bahan makanan tambahan yang kaya kandungan mikronutrisi esensial ini.

IDAI juga menilai pemberian zat besi pada bayi usia 4 bulan yang masih diberikan ASI amat penting dilakukan mengingat status anemia dan kekurangan zat besi pada anak Indonesia cenderung stagnan. Pemberlakuan tambahan zat esensial ini juga dinilai tepat sebagai tindakan pencegahan karena seiring dengan rekomendasi WHO untuk melakukan program suplementasi zat besi bila suatu negara punya angka anemia lebih dari 40%. Menurut salah satu ahli di satgas anemia defisiensi besi IDAI, suplementasi mikronutrisi besi juga tidak perlu dikhawatirkan karena telah terbukti aman mengingat tubuh memiliki mekanisme pengaturan sendiri: bila kadar besi dalam darah dianggap cukup, kelebihannya otomatis akan dibuang. Sedikit berbeda dengan AAP, IDAI menganjurkan pemberian suplemen zat besi sebanyak 2 mg/kg/hari pada anak usia 4 bulan hingga 2 tahun.

Kontra Suplementasi Zat Besi
Rekomendasi AAP 2010 tentang pemberian zat besi sejak usia 4 bulan ini ternyata banyak mengundang kontra dari para ahli, terutama ahli-ahli laktasi. Chairperson AAP di komisi breastfeeding berpendapat bahwa pencarian evidens dan diskusi lanjut harus terus dilakukan untuk mengetahui kedudukan suplementasi zat besi pada bayi yang masih disusui. Studi yang dijadikan rujukan untuk suplementasi universal mikronutrisi besi juga dianggap tidak cukup kuat untuk mengevaluasi efek potensial yang berbahaya dari pemberian tambahan zat tersebut pada bayi dengan level kandungan besi cukup, yang telah ditemukan di penelitian lain seperti kenaikan risiko infeksi dan perlambatan pertumbuhan (panjang dan lingkar kepala). Studi klinis yang dijadikan patokan kebijakan suplementasi universal inipun hanya didasarkan dari satu penelitian tunggal di tahun 2003 dengan sampel yang terlalu kecil (n=77), nilai drop out yang cukup tinggi (34%), low compliance terhadap konsumsi suplemen besi (56%), serta tingginya konsumsi susu formula pada responden. Usia anjuran pemberian mikronutrisi besi dari AAP inipun tidak sesuai dengan subjek studi yang terlibat di penelitian tersebut. Karenanya, banyak para ahli yang menilai kelemahan desain studi yang dijadikan dasar bagi anjuran suplementasi besi universal pada anak usia 4 bulan yang masih diberikan ASI.

Menurut temuan penelitian terdahulu, kemungkinan seorang bayi yang disusui secara eksklusif menderita kekurangan zat besi dan/ataupun anemia amatlah kecil mengingat bioavailibilitas zat besi dalam ASI lebih baik dibandingkan zat besi yang terdapat dalam cairan ataupun makanan yang difortifikasi serta cadangan besi pada full term babies dapat bertahan paling tidak hingga 6 bulan. Studi terbaru Ziegler di tahun 2009 yang dimuat di American Journal of Clinical Nutrition juga mendukung fakta bahwa prevalensi anemia zat besi amat rendah (3%) pada bayi yang disusui dan tidak mendapatkan tambahan zat besi di enam bulan pertama kehidupannya.
Pemberian suplemen zat besi ataupun makanan yang diperkaya mikronutrisi ini, khususnya pada 6 bulan pertama kehidupan bayi, amat kontra produktif karena dapat mengurangi tingkat efisiensi penyerapan zat besi, termasuk menurunkan kemampuan pengikatan zat besi dari protein dalam ASI. Akibatnya, bayi malah cenderung memperoleh zat esensial ini dengan kuantitas yang lebih rendah.

Mana yang harus dipilih?
Terlepas dari pro dan kontra para ahli terhadap suplementasi zat besi pada bayi usia 4 bulan yang masih disusui secara eksklusif, tidak dapat dipungkiri mereka tetap sepakat bahwa mikronutrisi besi memiliki fungsi penting dalam tubuh. Mereka juga tetap merekomendasikan pemberian secara perlahan bahan makanan tambahan yang kaya akan kandungan zat besi sejak usia 6 bulan.

Untuk menjembatani pro-kontra tersebut, komisi breastfeeding AAP mengeluarkan anjuran di tahun 2011 untuk melakukan skrining pada bayi yang dianggap berisiko memiliki kadar zat besi yang rendah. Hal ini hendaknya digunakan sebagai panduan dalam menentukan pemberian suplemen besi bagi bayi yang berusia di bawah 6 bulan. Mereka juga menyarankan ditundanya penjepitan tali pusar saat proses kelahiran agar bayi dapat memiliki cadangan zat besi yang cukup.

Berdasarkan data dan informasi terkini, pemberian zat besi di usia < 6 bulan pada bayi yang masih disusui eksklusif memang masih dalam perdebatan. Akan tetapi, pilihan memberikan tambahan zat besi pada bayi yang masih diberikan ASI ataupun tidak menyediakan mikronutrisi ini, kembali pada masing masing orangtua. Yang jelas, untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan si kecil, ia butuh zat besi yang cukup. Kapan saat yang tepat dan di kondisi mana perlu diberikan tambahan mikronutrisi ini, hanya anda sebagai orangtua yang mampu memutuskan.

Selamat mengambil keputusan dengan bijak!

34 Comments

  1. siska.knoch
    Siska Knoch July 8, 2014 at 8:46 pm

    Waa baru saja kemarin bahas tentang ini di group birthclub FEB 2014, yang rata2 usia bayi kami yg rata-rata 4-5 bulan. Terima kasih atas pencerahannya Dok :)

  2. Inayati
    Inayati July 10, 2014 at 4:53 am

    @ siska: sama sama sis, senang bila bermanfaat :). btw, share juga dong, jadinya hasil diskusi di grup nya ttg issue ini apa siska?

  3. Yenni274
    Yenni274 July 13, 2014 at 3:47 pm

    Waktu anakku yang pertama kena virus rosella baru ketahuan dia kurang zat besi (asix) waktu itu usianya uda 1,5 tahun. Tapi anaknya seh sehat dan aktif.. sekarang adiknya 4 bulan jg sehat2 aja.. perlu dikasih vit zat besi jg ga yah? Jd G•A•L•A•U… (˘ε˘ƪ) klo ga sakit ku skrining papinya ga bakalan setuju..

  4. nioanio
    nioanio July 14, 2014 at 9:39 am

    jadi bagaimana kesimpulannya? tetap saja bingung perlu memberikan tambahan zat besi dalam bentuk apa untuk bayi umur 6 bulan

  5. Inayati
    Inayati July 14, 2014 at 3:51 pm

    @ yenni: dear yenni, kalau saya sih menganjurkan sesuai dengan komisi breastfeeding AAP. Bila menurut yenni, sang adik berisiko punya kadar zat besi rendah, lebih baik tetap dilakukan skrining supaya tidak salah langkah :). Diajak diskusi intens saja yen sang papa si kecil dengan menimbang manfaat dan kerugian skrining :). selamat berdiskusi ya :)

  6. Inayati
    Inayati July 14, 2014 at 4:01 pm

    @ nioanio: kesimpulan dari saya yang ada di paragraf terakhir artikel di atas nih :). Keputusannya sendiri saya serahkan pada mama sekalian karena pasti akan dapat mengamati secara kasat mata dan dengan naluri keibuan keadaan si kecil. Kalau saya ditanya scr pribadi apa yg akan saya lakukan, saya akan melakukan screening pada si kecil untuk mengetahui keadaan zat besi di tubuhnya. Bila memang perlu diberikan suplementasi zat besi, akan saya berikan. Bila kadar zat besi masih dalam range normal, saya ndak akan memberikan suplementasi tsb. Lepas dari dua keadaan tersebut, intake besi dari sumber diet, akan saya lebih perhatikan :). Semoga sedikit bermanfaat yaa.

  7. siska.knoch
    Siska Knoch July 15, 2014 at 10:11 am

    maaf untuk slow responnya..
    kesimpulan di grup tetap beragam mba, satu pihak, memang ada 1 ibu yg memiliki anemia dan disarankan untuk memberikan zat besi tambahan, maka beliau mengikuti saran dsa dengan memberikan zat besi tambahan untuk putra/putrinya.
    Sementara untuk ibu yang tidak memiliki keluhan anemia memilih untuk mengikuti MPASI/MPASU rekomendasi WHO yang tidak menunda terlalu lama untuk pemberian protein hewaninya. Beragam solusinya memang tapi kembali lagi ke kita sbg orang tua untuk memutuskan seperti kata mbak ina diatas :)

  8. elfahadisty
    elfahadisty July 15, 2014 at 10:34 am

    dokter yeni, saya baru aja konsultasi ke DSA ketika anak usia 15 bulan. waktu itu dia sakit panas lebih dari 3 hari. dan saya pun menanyakan tentang pemberian vitamin atau suplementasi utk anak karena sedari bayi saya tidak pernah kasih vitamin apapun ke anak karena saya beri asi dan mpasi rumahan pula. dokter menyarankan utk pemberian suplementasi zat besi karena rata-rata anak di indonesia kurang zat besi dan akhirnya saya diberikan suplementasi zat besi yg diberikan kepada anak 1xsehari sebanyak 1ml dan pemberian sampai 2th. tapi saya belum kasih juga ke anak dok. bagaiman sebaiknya ya sedangkan saya masih kasih asi ke anakk

  9. isniyanti22
    isniyanti22 August 5, 2014 at 10:06 am

    Saran saya utk yg masih bingung apakah perlu atau tidak, satu2nya jalan ada dengan melakukan skrining. Jd tidak ada menimbulkan perdebatan lagi. Tidak hanya kadar Fe nya tetapi juga cadangannya seperti Feritin, tibc, dll. Supaya kita tdk bertanya2 apakah anak kita besinya sudah cukup dari asupan saja atau mmg harus dari luar. Pengalaman ponakan saya sendiri asi eksklusif pertumbuhan normal, sesuai usia. Tp saat sakit panas dan dicek lab ternyata Hb 6 setelah ditelusuri dgn Hb analisis ketauan bahwa ternyata menderita anemia def.besi. Bahkan yg kurang sampe ke cadangan2nya. Untung ketauan skrg coba bila gak kasian bisa akibat fatal utk perkembangannya nanti. Berdasarkan hal itu jd saran sy tdk ada salah ya kita melakukan skrining. Drpd ketauan saat sudah sakit.
    Wassalam.

  10. Inayati
    Inayati August 6, 2014 at 12:13 pm

    @ siska: makasih update infonya yaa

  11. Inayati
    Inayati August 6, 2014 at 12:17 pm

    @ elfahaditsy: maaf ya elfa, telat sekali saya meresponsnya :(. terkait dengan pertanyaan elfa, kalau saya lebih menyarankan di skrining terlebih dahulu agar dapat lebih jelas, si kecil membutuhkan suplementasi besi ataupun tidak. semoga sedikit membantu ya.

  12. Inayati
    Inayati August 6, 2014 at 12:18 pm

    @ isniyanti22: setuju isni dengan saran skriningnya, langkah demikian lebih aman dan bijaksana :).

  13. mrswibowo
    mrswibowo August 8, 2014 at 5:56 pm

    Mau sharing, anak saya 16 bulan, masih asi, selalu saya beri makanan kaya zat besi (daging, ati, bayam, dll), saya berikan suplemen zat besi sejak usia setahun tp saya berikan tidak setiap hari, krn saya yakin zat besi dari makanan cukup. Namun alangkah menyesalnya saya ketika diperiksa hb anak saya hanya 9. Teman saya pun memiliki pengalaman serupa, dia tidak memberikan suplemen besi, namun ketika dicek hb anaknya pun rendah sekali. Anak dgn anemia zat besi lebih rentan thd infeksi, mudah lelah dan sulit makan, tumbuh kembangnya tidak optimal. Saya merasa sedih sekali krn sebenernya anemia zat besi bisa dgn mudah dicegah dgn skrining dan pemberian suplemen zat besi sesuai dosis. Anemia defisisensi zat besi di Indonesia tinggi pada anak2, sehingga Ikatan Dokter Anak Indonesia menganjurkan skrining dan pemberian suplemen zat besi. Kalau menurut saya, lebih baik skrining daripada terlambat sudah anemia. :(

  14. frizielia
    frizielia August 9, 2014 at 6:52 pm

    Mau tanya nih.. kemarin anak saya 9 bulan kena diare krn bakteri krn uda panas 3 hari, DSA nyaranin buat tes darah ternyata HB cuma 9. Katanya DSA mau dikasi suplemen tambah zat besi setelah selesai diare karena saya dan anak saya vegetarian, anak saya masih ASIX sampe sekarang. Menurut teman saya yang dokter juga mending saya nya yang minum suplemen dan ditransfusikan ke anak melalui ASI. Kira2 bisa ga yahh kalo begini? Bisa minta pencerahannya.. makasihh

  15. sarahanief
    sarah audia August 15, 2014 at 2:51 pm

    Tfs Bu Inayati artikelnya bagus sekali. Perkenalkan saya dr.Sarah. sharing sedikit bulan juni 2014 kemarin saya sempat ikut simposium IDAI juga, direkomendasikan oleh IDAI sebaiknya dilakukan screening kadar serum iron, Ferritin,tibc si baby pada usia 4 bulan, jika ada indikasi diberikan suplemen besi. Jika masih baik, bisa ditunda saat pemberian MPASI usia 6 bulan. Semoga kita para ibu dan DSA semakin bijak dalam menyikapi hal ini mengingat begitu pentingnya zat besi untuk pertumbuhan dan perkembangan bayi

  16. elzahra
    elzahra August 20, 2014 at 3:27 pm

    di group TUM Juli 2013 bulan kemarin ada isu mengenai pemberian zat besi ini, ada yang bilang harus, ada yang bilang boleh, ada yang bilang biasa saja. Koq setelah saya baca-baca dampak kekurangan zat besi ini mengerikan ya, akhirnya saya beli vitamin zat besi di apotik, karena setiap imunisasi di RS, dsa nya tidak pernah menganjurkan anak saya untuk ditambah asupan zat besi. begitu

  17. bunda_raul
    Rika August 28, 2014 at 8:44 am

    Hello all,
    Anak saya termasuk yang tidak dikasih zat besi saat 4 bulan. Saat usia 1 tahun di screening dan hasilnya tidak ada defisiensi, padahal anaknya sangat susah makannya dan ngga suka daging.
    FYI, anak saya lahir dengan penundaan tindakan pemotongan tali pusat, yang saat ini saya percayai mengurangi risiko anemia ke depannya, minimal apada masa asi eksklusif. CMIIW

  18. raniari
    raniari August 28, 2014 at 10:11 am

    Haii mau sharing juga aah..
    Anak saya sejak usia 4 bulan samapai 6,5 bulan sudah diberikan suplemen zat besi dan dilanjutkan MPASI tinggi zat besi (daging merah tiap 2 hari sekali).
    Waktu usia 1 tahun saya screening tuh.. daaann hasilnya diluar dugaan! anakku Anemia Defisiensi zat Besi (ADB).
    Kemungkinan besar saat saya hamil, asupan zat besi saat anak saya di kandungan masih kurang. (cmiiiww)
    Bersyukur banget anak saya screening zat besi, jadi udah ketahuan sejak dini daripada baru tahu saat udah besar kan kasihan anak. Sekarang udah ga ADB lagi. Lega deh.. tinggal pola makannya dipertahankan tinggi zat besi

  19. mamatody
    Tieka Andrea August 28, 2014 at 11:57 am

    ikutan yaaa… perluu… anak pertama saya juga dulu dikasih suplemen zat besi, plus sama seperti mom raniari juga disarankan makan MPASI tinggi zat besi, walau ngga pernah screening zat besi, alhamdulillah sehat2 sampai sekarang. kata DSAnya indikasi anak kurang zat besi bisa dilihat salah satunya warna rambutnya merah (CMIIW) :D intinya intake makanannya harus selalu termasuk makanan tinggi zat besi seperti daging, bayam, dsb :)

  20. raniari
    raniari August 28, 2014 at 12:52 pm

    anakku juga ga ada keluhan mba Tieka, sehat-sehat aja. berat badan juga sesuai GC, makannya lahap.
    saranku sih mending screening sebagai langkah preventif kita :)

  21. mamatody
    Tieka Andrea August 28, 2014 at 2:35 pm

    Wah, ngga terdeteksi ya mba? Iya mba raniari… Anak kedua ini nanti coba screening :)

  22. mummyhilya
    Ummi Kaltsum August 29, 2014 at 10:07 am

    setuju dengan bu Inayati, secara pribadi saya ngasih supplemen zat besi ke anak2 balita dan baby saya. setau saya, tidak ada side effect negative kepada baby kl diberikan suplementasi zat besi, dibandingkan kl tidak diberikan. jangankan pada baby, prevalensi anemia pada ibu hamil dan menyusui juga tinggi.

  23. ibuaufa
    Gugik Rahayu August 29, 2014 at 2:21 pm

    Maaf mau tanya, screening tuh maksudnya dengan tes darah ya Dok..maaf klo blm tau, hihihi..trus biayanya berapa ya rata-rata, para mama’s ada yg tau ?

  24. Inayati
    Inayati October 13, 2014 at 5:00 pm

    @ mrs wibowo: setuju banget, lebih baik lakukan screening untuk mengambil keputusan yang tepat

  25. Inayati
    Inayati October 13, 2014 at 5:01 pm

    @ frizielia: bila si kecil masih di usia menerima asi ekslusif, mungkin yang perlu ditegakkan diagnosanya juga apakah mama nya anemia atau tidak karena seorang ibu yang anemia memiliki resiko si kecil akan punya masalah dengan defisiensi zat besi. namun karena si kecil sudah berusia 9 bulan, dari yang saya pernah dapatkan, sebenarnya intake zat besi tidak akan tertutupi dengan pemberian asi karenanya amat penting mengenalkan BMT yang tepat. ttg suplementasi, mungkin ada baiknya ibu berkonsultasi intensif dg dokter anak ibu tentang hal ini ya agar Hb si kecil dapat ditingkatkan segera.

  26. Inayati
    Inayati October 13, 2014 at 5:02 pm

    @ sarahaudia: terimakasih bu dokter atas pelengkap informasinya :).

  27. Inayati
    Inayati October 13, 2014 at 5:12 pm

    @ elzahra: benar sekali, dampak kekurangan zat besi ini memang mengerikan. karenanya, orang tua harus menyikapinya dengan bijak. kalau saya sih tetap menganjurkan dilakukan screening terlebih dahulu untuk mengetahui keadaan zat besi dalam tubuh, bahkan tidak hanya hb, namun kadar besi jangka panjang di tubuh spt yang dr. sara telah infokan. sbg tambahan informasi, tes serum ferritin utk saat ini tetap dianggap sbg tes yang lebih sensitif dan reliable utk mendeteksi defisiensi zat besi.

  28. Inayati
    Inayati October 13, 2014 at 5:20 pm

    @ rika: selamat ya bu, si kecil tidak mengalami kekurangan zat besi. mohon dijaga pola makannya dan tetap waspada :). benar sekali, salah satu anjuran yang ibu kemukanan mengenai penundaan pemotongan tali pusar bayi adalah salah satu upaya yang dianjurkan who untuk mencegah terjadinya defisiensi zat besi. Beberapa upaya pencegahan lainnya, bila saya dapat menginfokan adalah ibu tidak anemia saat hamil, bayi lahir sehat cukup bulan dan berat badan lahir normal (2500-4000 gram), pemberian ASI eksklusif dg kondisi ibu tidak anemia dan memulai MPASI dg baik dan tepat saat bayi umur 6 bulan. walau intake daging tidak harus dalam jumlah yang banyak bu, namun tolong diperhatikan ya si kecil tetap mau mengkonsumsi sumber besi dari hewani yang kaya akan besi dalam bentuk heme iron. Btw, heme iron ini lebih efisien dicerna dan diserap oleh si kecil daripada zat besi bentuk non-heme, yg banyak terdapat dalam sayuran :).

  29. Inayati
    Inayati October 13, 2014 at 5:32 pm

    @ raniari: dipertahankan ya bu agar si kecil tidak kurang zat besi lagi. selain beberapa risiko yang membuat anak mengalami kurang zat besi spt yg saya tuliskan di atas (dijawaban ke ibu Rika), ada beberapa hal yang mungkin membuat si kecil beresiko IDA walau telah mengkonsumsi makanan kaya zat besi ataupun supplementasi, salah satunya adalah mengkonsumsi beberapa bahan makanan yang menghambat terserapnya besi di dalam tubuh. Phytic acid (6-fosfoinositol) dan polifenol yg juga banyak terdapat di sayuran sayangnya adalah zat zat yang menghambat absorbsi besi. Sebagai contoh dalam keluarga kacang polong, kandungan zat besinya tinggi namun penghambat-penyerapan zat besinya juga tinggi. selain itu tanin yang ada di teh, kopi, coklat juga terhitung inhibitor utk si besi ini. ada banyak inhibitor lainnya, namun mungkin akan saya bahas dalam kesempatan lain. karenanya dianjurkan, saat melahap makanan kaya zat besi hendaknya diiringi dengan mengkonsumsi enhancer yang berfungsi utk meningkatkan penyerapan zat besi seperti minuman yang mengandung vit C. semoga sedikit bermanfaat ya.

  30. Inayati
    Inayati October 13, 2014 at 5:33 pm

    @ tieke andrea: iya bu, lebih baik discreening terlebih dahulu

  31. Inayati
    Inayati October 13, 2014 at 5:37 pm

    @ ummi kaltsum: benar bu, lebih baik screening terlebih dahulu. terlalu banyaknya besi dalam tubuh sayangnya dapat mengurangi tingkat efisiensi penyerapan zat besi, termasuk menurunkan kemampuan pengikatan zat besi dari protein dalam ASI, sehingga bayi malah cenderung memperoleh zat esensial ini dengan kuantitas yang lebih rendah :(.

  32. Inayati
    Inayati October 13, 2014 at 5:41 pm

    @ gugik rahayu: benar bu, yang dimaksud screening adalah pemeriksaan kadar besi dalam tubuh. sebenarnya hasil yang lebih valid untuk mengetahui kadar besi dalam tubuh seseorang adalah melalui pemeriksaan kadar simpanan besi jangka panjang dalam tubuh. hal tsb dapat diketahui melalui pemeriksaan yang seperti dr. sara sampaikan yaitu pemeriksaan serum iron atau Ferritin atau tibc. pemeriksaan hb hanya dapat mendeteksi kadar iron sesaat, namun memang relatif mudah dilakukan.

  33. vania_c
    vania_c October 22, 2014 at 9:34 pm

    Salam kenal semuanya. Anak saya 15 bulan sudah hampir 1bulan lebih sangat sulit utk makan. Dilihat memang sdg tumbuh gigi. Pdahal sebelumnya makannya lahap dan apa saja doyan. sy jg ada kekhawatiran kalau anak sy kekurangan zat besi (dr beberapa sumber yg sy baca slh satu penyebab menurunnya nafsu makan adlh krn kekurangan zat besi). Anak saya lahir cukup bulan (39weeks) dan BB dalam range normal (3,4kg). selama hamil sy tdk pernah melakukan cek apakah sy kekurangan zat besi atau tdk (tetapi tekanan darah selama hamil cenderung rendah). Anak sy masih asi dan mpasi rumahan sampai skrg. Hanya agak sulit utk makan protein hewani seperti daging. Utk suplemen sy berikan scot emulsion tp tidak rutin. Yg ingin sy tanyakan apakah pemberian suplemen zat besi harus dgn resep dokter? Mengingat anak sy kalau makan bayam (yg mengandung zat besi tinggi) akan mengalami sembelit. Terimakasih.

  34. Inayati
    Inayati November 18, 2014 at 4:52 pm

    @ vania: salam kenal juga vania :). tentang pertanyaan vania, kalau saya cenderung menganjurkan agar konsultasi ke dokter terlebih dahulu untuk memastikan si kecil membutuhkan tambahan supplementasi zat besi ataupun tidak. tentang ciri kekurangan zat besi, sebenarnya cirinya berkombinasi, tidak hanya hilang nafsu makan. coba vania amati apakah si kecil juga terkategori lemah, lesu, letih, muka pucat, susah berkonsentrasi? bila banyak jawabannya yang ya, baiknya vania segera hubungi dokter untuk konsultasi. namun semoga tidak ya vania dan si kecil dalam keadaan baik baik saja, aamiin.

Post a Comment

You must be logged in to post a comment.