Sebelum Melahirkan: Apa yang Harus Diketahui & Disiapkan?


*image dari gettyimages.

Saya Monika, ibu dari 2 putra yg berumur 5 tahun dan 3 tahun. Saya mulai tertarik dunia kesehatan anak sejak tahun 2010 dan kemudian lebih spesifik ke dunia ASI sehingga akhir tahun lalu mendalami untuk menjadi Konselor Laktasi dengan mengikuti Program 40 Hrs Breastfeeding Counseling Course modul WHO-UNICEF. Sampai saat ini saya aktif mendampingi para mama yang membutuhkan dukungan dan edukasi ke semua lapisan masyarakat (termasuk edukasi dan penyuluhan ke desa-desa).

Saya ingin mencoba menyebarkan informasi mengenai ASI, Manajemen Laktasi, dan beberapa hal yang berhubungan dengan kesehatan anak (tidak mendalam ya, karena saya bukan dokter hanya sekadar menyarikan beberapa referensi). Rencananya saya runutkan mulai dari persiapan sebelum melahirkan, lanjut IMD, ASI eksklusif, Manajemen laktasi, problem-problem menyusui, tips n trik, dll. Insya Allah bermanfaat. Yuk kita mulai topik mengenai persiapan menyambut si buah hati.

Kalau para ibu hamil berkumpul, apalagi yang sudah hamil memasuki trimester ketiga, biasanya obrolannya seputar persiapan-persiapan menyambut kelahiran bayi. Apalagi yang baru hamil anak pertama biasanya excited sekali membicarakan apa saja yang sudah dibelanjakan untuk keperluan bayi nanti. Tapi apakah dilakukan juga persiapan ilmu/pengetahuan mengenai bagaimana proses melahirkan nanti, apakah normal atau SC (Sectio Cesaria), kalaupun harus SC alasannya apa, kemudian bila memang berdasarkan kondisi bayi dan ibu harus SC tipe biusnya apa, karena mempengaruhi juga ke proses IMD (Inisiasi Menyusui Dini). Kemudian sudahkah shopping tempat bersalin yang sayang Ibu dan bayi? Tempat bersalin ini bisa di RS, di klinik bersalin, di bidan, di rumah, dll. Kemudian sudahkah shopping DSA yang nanti mendampingi bayi sejak dilahirkan dan selanjutnya? Nah list-nya jadi panjang ya, bukan hanya mengenai baju bayi, selimut bayi, stroller, dll.

Saya coba rangkum dari beberapa sumber termasuk pengalaman pribadi, beberapa informasi yang perlu diketahui calon Mama dan Papa.
1. Menguasai ilmu/pengetahuan mengenai ASI, Menyusui, Manajeman Laktasi.
Ada banyak cara untuk mendapatkan informasi mengenai hal-hal tersebut. Bisa belajar otodidak seperti browsing di internet, bisa melalui buku-buku, bisa melalui diskusi dengan teman, dokter, bergabung dengan grup-grup yang mendukung pemberian ASI, mengikuti kelas-kelas edukasi, dll.
Sebisa mungkin lakukankah ketika sedang menjalani proses kehamilan dan sebaiknya jangan terlalu dekat dengan waktu persalinan/kelahiran.
Beberapa materi yang penting untuk diketahui diantaranya: IMD (Inisiasi Menyusui Dini), rawat gabung/rooming in, teknik-teknik menyusui (posisi, pelekatan/latch on), baby blues syndrome, manajemen laktasi (teknik perah, penyimpanan/ storing, handling), dll.
Saran lainnya ajak pula diskusi anggota keluarga lainnya, terutama yang tinggal serumah dengan calon Mama dan Papa, biasanya Ibu dan Ibu mertua yang membantu Ibu di awal-awal kelahiran bayi.
Diskusikan pula bila memungkinkan siapa yang dapat membantu Mama dalam pengurusan bayi terutama di bulan-bulan pertama kelahiran.
Sukses/tidaknya pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan dan dilanjutkan sampai 2 tahun bukan hanya beban/tanggungjawab Mama tapi juga tanggungjawab Papa (Breastfeeding Father) dan pihak-pihak lain.

2. Negosiasi dengan atasan dan rekan kerja bagi Mama yang bekerja di kantor.
Untuk Mama yang bekerja, ketika memasuki trimester ketiga sudah mendiskusikan beberapa hal seperti kapan dimulainya cuti melahirkan dan berapa lama (disesuaikan dengan peraturan kerja di tempat kerja masing-masing, di mana umumnya cuti melahirkan selama 3 bulan).
Kemudian mulai disosialisasikan bahwa diperlukan beberapa saat Mama perlu waktu (sebisa mungkin rutin 3 jam sekali) untuk memerah ASI. Bisa dibicarakan pula dengan Departemen SDM apakah ada Nursing Room beserta tersedianya kulkas untuk menyimpan ASI perah.
Rekan kerja terutama bagi Mama yang bekerja sebagai front liner sangat diharapkan dukungannya. Apabila di kantor ada rekan kerja yang sedang menyusui juga bisa menjadi support group yang saling mendukung dan menguatkan.

3. Memilih tempat bersalin yang mendukung pemberian ASI eksklusif.
Hal ini sebaiknya dibicarakan dengan dr kandungan/bidan yang akan menangani persalinan. Memasuki Trimester ketiga mulailah mencari informasi mengenai tempat bersalin yang mendukung pelaksanaan Inisiasi Menyusui Dini (IMD), mendukung pemberian ASI eksklusif (bebas dari promosi susu formula), apakah dapat melakukan rawat gabung/rooming in dengan bayi pasca melahirkan, apakah tempat bersalin tersebut memiliki klinik laktasi/Konselor Laktasi, dll.

Yang terakhir sebagai tambahan, terdapat 10 kriteria RS Sayang Ibu dan Bayi (RSSIB) yang tercantum dalam Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 237 Tahun 1997 tentang pemasaran pengganti ASI. Pemerintah Indonesia melalui Kepmenkes Nomor 450 Tahun 2004 juga mendukung langkah tersebut. Sayangnya hampir tak ada rumah sakit di Indonesia yang benar-benar menerapkan kesepuluh langkah tersebut secara lengkap.


    1. Sarana Pelayanan Kesehatan mempunyai kebijakan Peningkatan Pemberian Air Susu Ibu tertulis yang secara rutin dikomunikasikan kepada semua petugas.

    2. Melakukan pelatihan bagi petugas dalam hal pengetahuan keterampilan untuk menerapkan kebijakan tersebut.

    3. Menjelaskan kepada semua ibu hamil tentang manfaat menyusui dan penatalaksanaannya dimulai sejak masa kehamilan, masa bayi lahir sampai umur 2 tahun, termasuk cara mengatasi kesulitan menyusui.

    4. Membantu ibu mulai menyusui bayinya dalam 30 menit setelah melahirkan, yang dilakukan di ruang bersalin. Apabila ibu mendapat operasi sesar, bayi disusui setelah 30 menit ibu sadar.

    5. Membantu ibu bagaimana cara menyusui yang benar dan cara mempertahankan menyusui meski ibu dipisah dari bayi atas indikasi medis.

    6. Tidak memberikan makanan atau minuman apa pun selain ASI kepada bayi baru lahir.

    7. Melaksanakan rawat gabung dengan mengupayakan ibu bersama bayi 24 jam sehari.

    8. Membantu ibu menyusui semau bayi tanpa pembatasan lama dan frekuensi menyusui.

    9. Tidak memberikan dot atau empeng kepada bayi yang diberi ASI.

    10. Mengupayakan terbentuknya kelompok pendukung ASI dan rujuk ibu kepada kelompok tersebut ketika pulang dari rumah sakit/rumah bersalin atau sarana pelayanan kesehatan.

Semoga bermanfaat, ya Mama. Insya Allah tulisan berikutnya mengulas tentang Inisiasi Menyusui Dini (IMD).

12 Comments

  1. avatar
    Ester June 14, 2013 10:30 am

    Wah! semakin banyak tau tentang ASI.. makasi moms :)

    1. avatar

      As .



  2. avatar
    devi tan March 20, 2013 2:41 pm

    hi mommies .....apakah ada referensi RS atau klinik bersalin yang mendukung IMD dan asi ekslusif di seputaran Jakarta Pusat dan sekitarnya? thx for share

    1. avatar

      As .



  3. avatar
    gie_ps January 12, 2013 2:24 pm

    Bagus banget mba artikelnya, sangat membantu saya yang sudah hamil 7 bulan ini.. Trimakasi mba monik

    1. avatar

      As .



  4. avatar
    devilusy December 11, 2012 10:44 am

    thanks mbak monika. bermanfaat utk calon ibu seperti saya. jadi inget belum ikutan kelas senam hamil pdhl udha hamil gede. hehe

    1. avatar

      As .



  5. avatar
    hanana fajar November 14, 2012 10:36 am

    nice article Mommy Monika..Semoga bisa memberikan ASIX untuk calon anak pertamaku ini:)

    1. avatar

      As .



Post a Comment

You must be logged in to post a comment.