Turn Your Wounds into Wisdom

Davincka
Jihan Davincka Simply a mom of 2, Nabil and Narda. 100% Buginese. Since 2009, living abroad along with her husband. Having many tremendous experiences from Tehran (Iran), Jeddah (Saudi Arabia) and now in Athlone (Ireland).

Entah mulainya dari mana, beberapa waktu lalu banyak yang membahas soal asisten rumah tangga (ART): perlu atau tidak? Tak sedikit yang menganggap ketergantungan pada ART itu budaya ‘manja’ dan feodal. Ada juga kalangan ibu-ibu yang kebetulan memang tinggal di luar negeri semua saling membanggakan betapa mandirinya mereka yang tinggal di luar negeri bisa hidup tanpa ART. Capek tapi keren. Semacam itulah.

Ini sempat menjadi polemik seru di dunia ibu-ibu.

Kalau untuk saya pribadi, ini tidak melulu masalah mental. Di Arab Saudi pun, budaya ber-ART ini masih sangat lazim. Apakah ada hubungannya dengan agama? Pastinya tidak. Karena di Iran, yang juga mayoritas muslim, kehidupannya sudah seperti di negara-negara maju, jarang ada yang menggunakan jasa ART.

Masalah pertama, kesenjangan sosial-ekonomi. Bukan masalah budaya feodal juga. Karena saya pernah senyum-senyum mendengar dua orang ibu-ibu di sekolah anak saya yang sekarang yang mengeluh soal capeknya mereka sehabis pulang liburan. Mereka berpikir untuk mengambil asisten rumah tangga, tapi marah-marah karena upahnya terlalu besar menurut mereka. Bagaimana tidak, jasa tukang bersih-bersih rumah di Eropa ini bisa mencapai 20 euro per jam, sekitar Rp320.000,- per jam!

Lihat saja, ibu-ibu Eropa ini pun sebenarnya ada keinginan juga untuk menggunakan jasa ART. Tapi mungkin tidak sampai setiap hari.

Kesenjangan sosial ekonomi pada negara-negara berkembang membuat hadirnya tenaga-tenaga kerja murah meriah. Walau sudah mulai banyak yang kapok memakai jasa ART menginap, orang mulai melirik jasa tenaga ART pulang pergi. Atau hanya untuk menyetrika saja atau khusus menyapu-mengepel rumah. Mengapa? Ya karena jauh lebih murah ketimbang kita yang mengerjakan sendiri.

Saya ingat, waktu masih gadis dan mengontrak rumah bersama kakak, saya tidak menggunakan jasa tukang bersih-bersih. Tetapi kakak saya butuh. Kakak saya juga tidak sempat mencuci bajunya sendiri. Mau beli mesin cuci, siapa yang mengurusi jemuran dan menyetrikanya?  Kami berdua sibuk dari pagi hingga malam, sering tidak ada di rumah. Jadi, kakak saya punya ART khusus. Honornya dulu 300 ribu rupiah sebulan untuk mencuci dan menyetrika saja. Tentu lain cerita kalau ART menuntut gaji Rp3 juta sebulan. Terlihat bukan? Kesenjangan ekonomi adalah salah satu faktor mudahnya memanfaatkan jasa ART di Indonesia pada umumnya.

Masalah kedua, fasilitas dan kondisi. Di negara-negara maju seperti Irlandia tempat saya tinggal, yang namanya mesin cuci otomatis (pencet sekali langsung kering) dan dish washer (mesin pencuci piring) tidak tergolong barang mewah. Setiap apartemen sudah standarnya begitu. Kegiatan berbelanja dan fasilitas umum lain dibuat senyaman mungkin. Di kota-kota besar negara maju, angkutan umumnya lengkap, aman dan nyaman. Membawa stroller juga bisa memanfaatkan kereta atau bus umum. Coba di Jakarta, naik Kopaja atau bus TransJakarta kalau sudah sesak begitu, masih berani mau memasukkan kereta bayi? 

Mental ibu-ibunya tentunya terbangun dari lingkungan tempat mereka berada. Makanya, saya meyakini, ibu-ibu Indonesia yang tinggal di luar negeri tadi mungkin tak punya pengalaman menjadi ibu rumah tangga di Jakarta. Mungkin lho ya, mungkin saja begitu. Begitu menikah langsung pindah ke luar negeri, melahirkan pun di luar negeri.

image credit: http://www.freestockphotos.name

Saya juga yakin, ibu-ibu Indonesia yang terbiasa dengan ART jangan risau jika harus tinggal di luar negeri. Saya yang terbiasa di Jakarta hidup dengan ART, begitu pindah ke Jeddah lalu Athlone nyaris tidak mengalami syok apa-apa dalam pekerjaan rumah tangga. Justru saya rasa harus banyak-banyak bersyukur bisa mendapat kesempatan tinggal di luar negeri. Jangan sampai menjadikan kesempatan indah ini untuk ‘nyinyir’ pada teman-teman yang masih banyak menggunakan jasa asisten. Takut, ah. Takut rezekinya untuk menikmati kehidupan di negara maju tidak berkah.

Saya menyadari betul, sungguh diuntungkan oleh kondisi dan situasi lingkungan di negara-negara maju. Yang membuat ibu-ibu seperti saya tak perlu bertambah pusing dengan drama asisten yang konon katanya lebih sakit daripada ditinggal pacar. Been there done that.

Di atas itu semua juga, memang tak baiklah memberi label kepada orang lain yang mungkin dianggap lebih ‘pemalas’. Siapalah kita. Saya tentu mengagumi betul ibu-ibu rumah tangga di Indonesia, apalagi di Jakarta, yang masih sanggup hidup tanpa jasa ART sama sekali. Tapi juga tak merasa heran dan memaklumi 100% jika ada yang memilih menggunakan jasa orang ketiga alias ART ini, baik yang menginap di rumah maupun yang pulang-pergi.

Daripada sibuk berdebat siapa yang lebih hebat siapa dan lebih mandiri, mari saling menyemangati saja. Saling berbagi harapan semoga kelak semua bisa merasakan kemudahan fasilitas sehari-hari yang selama ini masih menjadi angan-angan saja. Yang merasa capek serba sendiri di luar negeri, berdoalah agar bisa sering-sering mudik ke tanah air. Yang ingin mencicipi mandirinya hidup di negera maju, doakan semoga jalannya bisa terbuka. Yang tinggal di luar negeri, mari bersyukur karena dimudahkan dengan segala fasilitas umum lengkap. Yang tinggal di Indonesia (terutama Jakarta, karena saya tak punya pengalaman menjadi ibu RT di kota lain), juga harus bersyukur masih dimudahkan dengan adanya jasa ART.

Sungguh tak mudah untuk senantiasa bersyukur dalam segala situasi? It’s OK. Itu artinya kita semua masih manusia biasa.

Kalau sedang terpikir betapa repotnya di luar negeri yang serba mandiri, harus berlelah-lelah hidup tanpa asisten, apa-apa harus masak sendiri lalu mulai menyoroti kehidupan teman-teman lain yang jadinya kelihatan ‘manja’ karena ada bantuan jasa ART di tanah air, ingat saja pesan Oprah Winfrey, “Always turn your wounds into wisdom.” 

“At some point, you gotta let go, and sit still, and allow contentment to come to you.”
― Elizabeth Gilbert, Eat, Pray, Love

 

11 Comments

  1. Kira Kara
    Bunda Wiwit October 27, 2014 at 9:20 am

    Jihaaann… Always loove your article. Beneerrr banget! Setuju..! Apapun kondisinya, bersyukur dan saling support saja yuukk!!! :)

  2. MJs Mommy
    MJs Mommy October 27, 2014 at 9:26 am

    iyaa.. bener banget ni.. terkadang kita suka lupa bersyukur atas semua kemudahan yang kita dapatkan..
    jadi mari sekarang kita saling support dan bersyukur.. :D

  3. mama carlo
    mama carlo October 27, 2014 at 3:45 pm

    couldn’t agreee moreee..
    semangaat moms….

  4. Vibe
    Vibe October 28, 2014 at 12:50 am

    Lho baru tau skrg ada drama kalo-punya-ART-namanya-ibu2-manja. Kirain semua org mau punya ART (paling ga utk nyuci-ngepel/bersih2) selama affordable & dapat dipercaya, hehehe..

  5. bunda rizqi
    bunda rizqi October 28, 2014 at 4:00 am

    Sukaa artikelnya mba Jihan. Tp saya jg termasuk yg br tau ada anggapan punya art= manja. Kalo saya blm kepikiran punya art lebih krn suka sereeem sendiri akibat kebanyakan nonton art did child abuse.kadang pake jasa part time kl emang udah mentok ga bs ngatasi.

  6. mummyhilya
    Ummi Kaltsum October 28, 2014 at 12:28 pm

    cannot agree more! kalau masih bisa pake art atau punya support system yg oke, bersyukurlah. kalau engga, pokoknya harus tetep bisa hidup. :) saya sempat punya pengalaman dinyinyiri orang juga karena “tega” bekerja dan meninggalkan 2 anak balita di TPA dan 1 baby di rumah dibawah asuhan nenek+tante. saya sih cuek saja, karena mmg tujuan saya adalah do the best that i can for my children. toh orang yang nyinyir itu juga ngga bantu jagain anak saya atau cariin saya sumber penghasilan dekat rumah.. jadi anggep angin aja.

    dan yes, emg kl di negara maju “support system” nya bukan orang tapi perangkat (fisik dan sosial), ada aneka alat elektronik yg make things easier, ada nurseries, jam sekolah yg wajar, kurikulum layak, ada baby sitter jam2an, dll dsb.

    So, bener kata mama jihan, dinikmati saja, semoga “cobaan” kita (punya art juga cobaan, loh.. kl artnya bikin masalah, piye?) akan bikin kita lbh tangguh. :)

  7. cindy
    cindy vania October 28, 2014 at 11:38 pm

    artikelnya baguus banget mba Jihan.
    setuju untuk selalu bersyukur dalam segala kondisi :)

  8. gabriella
    Gabriella Felicia October 29, 2014 at 9:03 am

    Kadang memang sulit untuk menahan diri tidak berkomentar. Tapi daripada sibuk mengurusi orang lain, memang lebih baik fokus pada apa yang kita hadapi di depan mata. There is always a differrent story in every parenting style….

  9. hananafajar
    hanana fajar October 29, 2014 at 9:42 am

    nice mba jihan…
    selalu menetralisir semua pemikiran..
    intinya setiap kondisi dan kebutuhan setiap ibu berbeda..bersyukur aja sama semua yang kita hadapi sekarang:)

  10. sri yulianti
    sri yulianti November 3, 2014 at 4:04 pm

    being netral…tapi berdasar pengalaman pribadi…
    Tapi poin utama nya adalah bersyukur. Hal tersebut yang kadang sulit.. kita hampir lupa untuk bersyukur terhadap kondisi yang kita alami sendiri. Great…terimakasih telah mencerahkan..

  11. Davincka
    Jihan Davincka November 3, 2014 at 5:25 pm

    Terima kasih komentar-komentarnya ya hehehe. Jangan digeneralisir. Ya tidak semua ibu-ibu asal Indonesia yang tinggal di negara maju berpikir begitu. Kebetulan saja saya pernah ketemu yang model begini yang jumlahnya tidak bisa dibilang minoritas (dalam lingkup pertemanan saya) :p.

    Pokoknya ya jangan suka sindir-sindir nyinyir-nyinyir ndak pentinglah :p. Sudah tahu pula perempuan itu “Perasaannya ada 9, akalnya ada 1″ . Kita damai-damai sajalah :D. Saling menyemangati dan saling berbagi dalam rangka mencari solusi ^_^

Post a Comment

You must be logged in to post a comment.