Waspada Anemia

Inayati
Dyah A Inayati, PhD Health & Nutrition Researcher, Nutrition Advisor, Halal Food Auditor. Pendidikan S1 di Universitas Indonesia, S2 di Universitaet Karlsruhe (Jerman), S3 di Universitaet Hohenheim (Jerman) dengan bidang pendalaman nutrisi dan nutrisi populasi/komunitas. Ibu dari dua putera dan satu puteri.
Have question for our experts ?
Feel free to ask them here!

Apa sih anemia? Apakah anemia sama dengan “kurang darah”? Sebenarnya apa perbedaan istilah “kurang darah” dengan “darah rendah”? Mengapa anemia berbahaya dan bagaimana kita dapat menghindarinya? Bila beberapa pertanyaan di atas ada di benak urban mamas, mari simak di tulisan singkat berikut mengenai hal-hal yang berkaitan dengan anemia.

Apakah anemia?
Anemia adalah keadaan dimana seseorang memiliki jumlah sel darah merah atau mutu sel darah merah yang rendah.

Bisa dijelaskan bagaimana gejala anemia yang dapat diamati dengan mudah?
Munculnya keluhan letih, lemah, lesu, dan loyo berkepanjangan merupakan gejala khas yang menyertai anemia. Selain gejala gejala yang telah disebutkan, biasanya juga akan muncul keluhan sering sakit kepala, sulit konsentrasi, muka-bibir-kelopak mata tampak pucat, telapak tangan tidak merah, nafas terasa pendek, kehilangan selera makan serta daya kekebalan tubuh yang rendah sehingga mudah terserang penyakit.
Kadang gejala anemia dapat saja tak terasa bila masih dalam tahapan awal, namun gejala akan semakin bertambah dengan semakin meningkatnya tingkat severitasnya.

Apakah anemia berbahaya bagi kita? Bila ya, mengapa berbahaya?
Ya, keadaan anemia amat berbahaya bagi tubuh kita. Dalam kondisi tubuh yang anemia, tubuh akan memproduksi sel darah merah “sehat” dalam jumlah yang minim ataupun dengan kualitas yang rendah. Padahal fungsi sel darah merah amat strategis, diantaranya sebagai sarana transportasi zat gizi terutama oksigen. Oksigen amat diperlukan tubuh untuk proses fisiologis dan biokimia di seluruh jaringan tubuh. Dengan kondisi tubuh yang anemik maka pasokan oksigen ke seluruh tubuh akan berkurang. Akibatnya akan muncul berbagai macam gangguan fisiologis.

Mengapa dapat terjadi anemia?
Ada beberapa keadaan yang dapat menyebabkan terjadinya anemia seperti kehilangan darah karena luka berat, tindakan pembedahan, menstruasi, kecelakaan, terlalu sering menjadi donor darah bahkan melahirkan.
Anemia juga dapat timbul karena kerusakan sel darah merah. Kerusakan itu sendiri dapat diakibatkan karena kondisi kurang gizi, terdapatnya patogen/zat beracun, kanker pada organ penyimpanan serta pembentukan darah seperti hati, limpa, dan sumsum tulang dan faktor keturunan.
Penggunaan zat besi untuk kepentingan lain di luar pembuatan sel darah merah dapat pula menjadi penyebab menurunnya kuantitas sel darah merah yang nantinya dapat menyebabkan anemia. Selain itu anemia juga dapat disebabkan akibat menurunnya kualitas dan kuantitas hemoglobin sel darah merah.
Namun umumnya kasus anemia disebabkan karena kekurangan zat besi (Fe). Untuk mengetahui pencetusnya perlu dilakukan pemeriksaan darah lengkap. Kadang pemeriksaan lain bahkan diperlukan jika diduga adanya kasus anemia non-gizi.

Sama tidak sih “kurang darah” dan “darah rendah”?
“Kurang darah” dan “darah rendah” adalah dua kondisi yang berbeda. Seseorang yang menderita kurang darah mungkin saja memiliki tekanan darah yang rendah, normal ataupun tinggi. Di keadaan “kurang darah” maka kuantitas yang kurang adalah unsur darahnya.
Seseorang yang memiliki darah rendah berarti ia memiliki tekanan darah di bawah rata rata, namun unsur darahnya sendiri bisa saja normal dan dapat tidak normal.

Berapa macam tipe anemia yang saat ini dikenal?
Terdapat dua tipe anemia yang dikenal, anemia gizi dan non-gizi. Anemia gizi biasanya terjadi akibat adanya defisiensi zat gizi yang diperlukan dalam pembentukan dan produksi sel darah merah. Hal itu mencakup kualitas dan kuantitas sel darah merah. Anemia gizi sendiri ada beberapa macam seperti anemia gizi besi, anemia gizi vitamin E, anemia gizi asam folat, anemia gizi vitamin B12, anemia gizi vitamin B6.
Sedangkan anemia non-gizi adalah keadaan kurang darah yang disebabkan karena adanya perdarahan (luka, menstruasi dll) atau penyakit darah yang bersifat genetik. Hemofilia, thalassemia adalah beberapa contoh penyakit genetik yang dapat menimbulkan kondisi anemia.
Tak heran, pengobatan anemia harus diberikan sesuai dengan penyebabnya. Tanpa mengobati penyebabnya, maka kondisi anemia akan dapat diderita kembali.

Lalu, kapan seseorang dikatakan anemia?
Untuk mengetahui apakah seseorang menderita anemia atau tidak, selain dilakukan pengamatan terhadap gejala anemia yang kasat mata, perlu dilakukan tes kimia darah di laboratorium. Beberapa indikator yang sering digunakan adalah kadar serum ferritin (SF) dan kadar hemoglobin (Hb). Bagi pria/wanita yang memiliki kadar serum ferritin di bawah 12 mcg/l, dikategorikan menderita anemia. Anemia juga akan dimiliki oleh wanita dengan kadar Hemoglobin < 12 g/dl dan pria dengan Hb < 13 g/dl.

Adakah faktor risiko yang dapat menyebabkan kondisi anemia?
Ya, ada beberapa faktor risiko yang dapat menimbulkan kondisi anemia. Beberapa di antaranya adalah pola makan rendah kandungan besi dan vitamin, khususnya folat; gangguan intestinal yang akan mempengaruhi absorpsi zat-zat gizi ke dalam tubuh; kondisi kehamilan dimana tubuh memerlukan asupan besi yang lebih tinggi; menstruasi; penyakit penyakit kronis; riwayat kesehatan keluarga dengan kasus anemia serta pecandu alkohol.

Bagaimana keadaan kasus anemia yang ada di Indonesia?
Anemia gizi masih merupakan masalah gizi utama di Indonesia. Walaupun telah dilakukan banyak upaya untuk menurunkan kasus anemia, data terakhir tetap menunjukkan bahwa prevalensi anemia gizi besi tetap tinggi. Terlebih dengan terjadinya krisis ekonomi di Indonesia, kasus anemia gizi, khususnya pada anak balita miskin, makin meningkat.
Survey yang dilakukan oleh Hellen Keller International di kawasan kumuh beberapa kota besar di Indonesia menunjukkan bahwa 65% balita yang ada menderita anemia gizi besi (HKI, 1999). Menurut Kodiyat (1995), prevalensi anemia gizi besi pada ibu hamil di Indonesia sebesar 63,5%, balita (55,5%), anak usia sekolah (20 -40%), wanita dewasa (30 – 40%), pekerja berpenghasilan rendah (30 – 40%) dan pria dewasa (20 – 30%). Jelas dapat diamati bahwa anemia (khususnya gizi besi) masih merupakan “PR” besar yang harus diselesaikan oleh bangsa Indonesia.

Bagaimana cara yang dapat dilakukan untuk menghindari kondisi anemia?
Beberapa jenis anemia, khususnya anemia non-gizi, memang tidak dapat dihindari keberadaannya. Namun untuk beberapa jenis anemia gizi seperti anemia gizi besi ataupun anemia yang disebabkan defisiensi vitamin, pola hidup sehat serta diet makanan variatif amat bermanfaat dalam menghindari jenis anemia tersebut.
Sumber makanan kaya besi yang terbaik adalah produk daging-dagingan. Besi juga dapat dijumpai dalam jenis makanan kacang kacangan, telur dan sayuran berwarna hijau tua. Namun penyerapan besi dari sumber hewani lebih baik dibandingkan sumber nabati.
Dalam mengkonsumsi produk kaya kandungan besi, hindari pengkonsumsian makanan yang mengandung fosfat dan oxalat phytate karena akan menghambat penyerapan zat besi ke dalam tubuh. Sebaliknya, iringi dengan pengkonsumsian makanan kaya vitamin C agar penyerapan zat besi oleh usus dapat berjalan optimal.

Bagaimana dengan pengkonsumsian supplemen besi atau multivitamin dengan kandungan besi di produknya?
Dokter memang mungkin akan meresepkan supplemen besi atau multivitamin dengan kandungan besi bagi seseorang yang membutuhkan kandungan besi yang tinggi dan mungkin tak dapat tercukupi dari pola makan yang ada. Namun perlu diperhatikan, tambahan supplemen besi sebaiknya dilakukan hanya melalui proses konsultasi dokter.
Karenanya indikasi berupa kelelahan, lemah, lesu sebenarnya bukan merupakan alasan untuk mengkonsumsi tambahan supplemen besi. Menambah zat besi pada tubuh yang normal justru malah akan membahayakan tubuh. Salah satu akibat over dosis besi yang dapat muncul adalah penyakit keracunan besi/haemosiderosis yang dapat berakibat fatal bagi tubuh.
Setelah menyimak sedikit tulisan tentang anemia di atas, semoga urban mamas dapat lebih memperbaiki pola makan sehari hari sehingga intake makro- maupun mikronutrisi harian dapat mencukupi kebutuhan anggota keluarga. Dengan terciptanya pola makan yang variatif dari segi kualitas dan kuantitas, semoga kasus anemia, khususnya anemia gizi dapat dihindari munculnya pada keluarga di rumah.

13 Comments

  1. Kira Kara
    Bunda Wiwit November 26, 2013 at 11:34 am

    wah.. terima kasih pencerahannya. Sekarang jadi tahu bedanya kurang darah dan darah rendah.. Dan baru tahu juga kalau zat besi dari sumber hewani lebih mudah diserap dibanding sumber nabati :) TFS!

  2. sapta
    sapta ningsih November 26, 2013 at 11:57 am

    brarti mengkonsumsi suplemen zat besi yang beredar di pasaran itu tidak disarankan juga yaa..hmm..kita memang harus teliti dan memperhatikan semua asupan..

  3. Inayati
    Inayati November 28, 2013 at 2:39 pm

    @bunda wiwit: sama sama bunda wiwit, semoga bermanfaat ya :)

  4. Inayati
    Inayati November 28, 2013 at 2:44 pm

    @ saptaningsih: sebenarnya sih mbak, kalau Hb yang kita miliki normal, sama sekali ndak perlu mengkonsumsi supplemen tsb :). benar banget, kita memang harus teliti dan memperhatikan semua asupan yg kita konsumsi sehari hari :)

  5. ipeh
    Musdalifa Anas November 29, 2013 at 4:56 pm

    terima kasih informasinya mbak, selama ini saya selalu asumsi kalau darah rendah sama dengana anemia. Saya sendiri tekanan darahnya rendah sekitar 80-90/60-70, dan cek lab terakhir Hb normal. Kalau darah rendah seperti ini berbahayakah mbak? TIA

  6. fanny
    Fanny Hartanti November 29, 2013 at 6:42 pm

    wah, tiap hari belajar informasi baru nih, TFS ya!

  7. Shinta_daniel
    Shinta Daniel November 30, 2013 at 3:25 am

    Mb. Inayati: darah rendah dan kurang darah? Saya banget jaman dulu. Waktu masih ada miom, sy sering ngalami anemia karena haid keluar diluar batas normal yg menyebabkan kadar HB rata-rata 9, tekanan darah 100/80. Mau makan sayur, buah, suplemen sebanyak dan sebaik apapun gak ada pengaruhnya karena memang penyebabnya bukan kurang asupan, mungkin ini yg dimaksud anemia non gizi ya mbak? Rasanya menderita bgt setiap kali anemia.. Kepala pusing, mata berkunang-kunang nyaris pingsan, perut nyeri sangat, gak bisa konsentrasi, badan rasanya sehat tapi lemas letih lesu spt ga bertenaga.. Alhamdulillah setelah miom diangkat, siklus haid normal dan sudah gak anemia lagi.

    Kalau tanda2 darah rendah, biasanya gak bisa duduk jongkok lama-lama dan kalau seketika bangun berdiri langsung pusing kepalanya, bener begitu gak mbak?

  8. Inayati
    Inayati November 30, 2013 at 4:44 am

    @ musdalifa anas: alhamdulillah bila sedikit tercerahkan ya mb antara perbedaan darah rendah dan kurang darah :). ttg pertanyaan mb, yang saya ketahui, bila mb memang terbiasa memiliki tekanan darah rendah namun merasa baik baik saja (spt saya nih mb :)), dan selama ini keadaan kesehatan mbak yang terpantau melalui pemeriksaan rutin juga baik baik saja, maka mungkin tidak perlu terlalu dikhawatirkan. namun bila mb tiba tiba mengalami gejala atau tanda darah rendah yang sebelumnya tidak pernah mb alami, mungkin sebaiknya mb segera menghubungi dokter krn mungkin saja ini mengindikasikan ada masalah yang lebih serius. semoga sedikit membantu ya mb.

  9. Inayati
    Inayati November 30, 2013 at 4:46 am

    @ fanny: sama sama mb :). senang bila bermanfaat :).

  10. Inayati
    Inayati November 30, 2013 at 5:05 am

    @ shinta daniel: alhamdulillah, sekarang anemia nya sudah dapat di atasi ya mb :). krnnya memang benar, untuk menyembuhkan kondisi anemia, memang harus dicari penyebabnya dan si penyebabnya ini harus “diatasi” :).

    nah kalau pusing setelah dari posisi duduk, dari yang pernah saya ketahui, penyebabnya dapat beberapa seperti anemia, diabetes, termasuk tekanan darah yang rendah. krnnya bila kondisi ini sering muncul dan amat menganggu, akan lebih baik bila mb menghubungi dokter untuk mengetahui penyebabnya sehingga mendapatkan penanganan yang tepat. utk tekanan darah rendah, biasanya bila telah mencapai 90/60 mmHg, gejala yang muncul adalah pusing, sering menguap, pengelihatan berkunang kunang, muncul keringat dingin, cepat lelah, bahkan hingga pingsan. jadi, diwaspadai aja ya mb bila gejala tekanan darah rendah ini sudah dalam tahap mengganggu aktivitas mb dan baiknya segera konsultasi ke dokter ya :). semoga sedikit membantu ya mb.

  11. cory angelina December 1, 2013 at 3:15 pm

    Terima kasih sharing nya mba..terkait dgn defisiensi zat besi ini, dsa anak saya menganjurkan untuk pemberian suplemen zat besi dgn merek ferr*z. Umur anak saya 4 bln 3 hari dgn bobot 8.7 kg dan masih asi ekslusif.. Beliau menyarankan untuk memberi setiap hari 1 ml dgn alasan mengacu akan idai dan who yg concern akan zat besi. Setelah saya lihat kandungannya ada pemanis buatan aspartam. Jadi semakin galau saya untuk memberikannya mengingat anak saya aktif berat badannya alhamdulillah bgs knp harus diberi suplemen sintetik seperti ini ya..mohon pencerahan nya ya mba..:)

  12. Inayati
    Inayati December 10, 2013 at 2:53 pm

    @ cory: dear Mb. Cory, terus terang saya ndak bisa memberikan masukan detail karena saya ndak memiliki data lengkap tentang status gizi dan kesehatan si kecil mb dan ndak bisa observasi langsung :(. namun kalau saya menjadi mb, mungkin saya akan tanyakan lebih lanjut lagi ttg alasan dasar pemberian supplemen besi.

    Memang, anjuran universal pemberian supplementasi besi (di ind, khususnya) muncul setelah adanya revisi rekomendasi AAP 1995/2005 yang dipublikasikan 2010 dan diadaptasi oleh IDAI. Berbeda dengan rekomendasi AAP terdahulu, rekomendasi terbaru AAP 2010 menganjurkan pemberian suplemen zat besi pada bayi usia 4 bulan, termasuk pada bayi yang masih diberikan ASI eksklusif.

    Namun, perlu kita ketahui juga, di level internasional perlu tidaknya pemberian supplementasi besi universal ini masih diperdebatkan oleh para ahli. Chairperson AAP di komisi breastfeeding pun berpendapat bahwa pencarian evidens dan diskusi lanjut harus terus dilakukan untuk mengetahui kedudukan suplementasi zat besi pada bayi yang masih disusui. Studi yang dijadikan rujukan untuk suplementasi universal mikronutrisi besi juga dianggap tidak cukup kuat untuk mengevaluasi efek potensial yang berbahaya dari pemberian tambahan zat tersebut pada bayi dengan level kandungan besi cukup, yang telah ditemukan di penelitian lain seperti kenaikan risiko infeksi dan perlambatan pertumbuhan (panjang dan lingkar kepala). Mungkin di tulisan saya selanjutnya, saya akan mengangkat tema ini. Semoga sedikit bermanfaat ya mb :)

  13. fridia
    fridia April 6, 2015 at 11:16 pm

    Gejala-gejala tsb bener semua, saya pernah ngalamin hb 6, semenjak itu saya dicekokin ati ayam, syukur sekarang uda naik jd 9. Sekarang jd tau makanan2 penambah selain ati. Terimakasih ;) habis paling gasuka dikatain lemah & kepingin ikutan donor darah,, hehe

Post a Comment

You must be logged in to post a comment.