Converting to Clodi


Saat hamil saya sudah bertekad untuk tidak menggunakan disposable diaper selama 24 jam bagi Nara, karena takut dengan bahan kimia yang terkandung di dalam diaper tersebut. Makanya setelah Nara lahir saya memutuskan untuk menggunakan popok tali dan celana pop kecuali saat tidur malam. Ternyata Nara sangat mudah risih dan terbangun kalau celananya basah, akibatnya tidurnya sering terganggu. Karena hal ini saya pun mulai mencari produk yang bisa berfungsi sepert disposable diaper tanpa kandungan kimianya, karena berdasarkan informasi yang saya baca, kandungan kimia dalam disposable diaper dapat bereaksi dengan urine bayi dan menyebabkan ruam.


Alasan lainnya saya kurang suka terus menerus menggunakan disposable diaper adalah jumlah sampah yang dihasilkan. Dalam 1 hari saja sampahnya sebanyak 1 kantung, terbayang berapa banyak sampahnya jika diakumulasi selama bertahun-tahun.


Lagipula setelah saya hitung-hitung, kebutuhan untuk membeli disposable diaper setiap bulan cukup besar. Nara menggunakan 6 buah disposable diaper setiap hari, berarti dalam sebulan membutuhkan minimal 180 disposable diaper. Kalau dikonversi ke dalam rupiah, berarti pengeluaran dalam sebulan untuk disposable diaper sekitar Rp 500.000,- dan pengeluaran total sampai lulus toilet training (misalnya umur 3 tahun) sebesar Rp 18.000.000,-. Jumlah yang cukup besar dan rasanya sayang kalau harus berakhir di tempat sampah.


Akhirnya saya mendapatkan informasi tentang cloth diaper modern dan mulai mencari lebih jauh merk apa yang kualitasnya baik tapi harganya masih terjangkau. Saya mencari produk yang memiliki daya serap bagus, inners yang dapat menjaga kulit bayi tetap kering, serta potongan yang bisa digunakan sejak bayi hingga balita.


Produk yang menurut saya sesuai dengan kriteria di atas adalah Moo Moo Kow yang saya dapatkan di Clodi.Net. Harganya terjangkau dan kualitasnya sama dengan produk yang harganya lebih mahal. Setiap diaper Moo Moo Kow sudah termasuk 2 insert (ukuran infant dan toddler) sehingga harga yang ditawarkan terasa lebih murah karena tidak usah membeli insert tambahan. Jika volume pipis anak cukup banyak atau diaper akan digunakan untuk waktu lama, kedua insert tersebut bisa ditumpuk sehingga memberikan daya serap lebih tinggi ditambah lagi dengan inners yang terbuat dari suede cloth yang cukup menjaga kulit bayi tetap kering. Nara sering menggunakan Moo Moo Kow untuk tidur malam hari tanpa insiden bocor dan pagi harinya saat dibuka, bagian dalamnya masih terasa cukup kering. Potongannya juga cukup besar dan saya yakin bisa digunakan hingga Nara lulus toilet training karena sekarang berat badan Nara 12 kg dan masih menggunakan pengaturan kancing medium, jadi masih bisa diatur lagi kalau Nara bertambah besar.


    


Perawatannya juga sangat mudah, cukup dibilas dan dimasukkan ke dalam mesin cuci dan diaper siap dijemur. Pemakaian listrik dan air juga bisa dihemat dengan mencuci 2 hari sekali, sehingga kita tidak bolak-balik mencuci diaper dalam jumlah sedikit.



Jika saya bandingkan antara pengeluaran cloth diaper (ditambah air dan listrik) dan pengeluaran untuk disposable diaper, tetap jauh lebih hemat pengeluaran untuk cloth diaper. Untuk pencucian setiap 2 hari sekali saya membutuhkan 18 buah cloth diaper dengan total harga sekitar Rp 4.500.000,-. Cloth diaper ini dapat digunakan selama 3 tahun atau lebih lama lagi karena dengan perawatan yang tepat cloth diaper dapat “diwariskan” untuk anak selanjutnya. Pengeluaran air dan listrik untuk mencuci cloth diaper kira-kira Rp 80.000,- per bulan berarti Rp 2.880.000,- selama 3 tahun.


Total pengeluaran selama 3 tahun adalah:


Rp 4.500.000,- + Rp 2.880.000,- = Rp 7.380.000,-


Penghematan yang sangat jauh dibandingkan dengan penggunaan disposable diaper terus menerus.


Memang pada akhirnya tergantung kepada gaya hidup tiap keluarga untuk menentukan mana yang lebih cocok, menggunakan disposable diaper atau cloth diaper atau kombinasi dari keduanya.


Saya pribadi sebisa mungkin selalu menggunakan cloth diaper, dan Moo Moo Kow jelas merupakan merk yang selalu saya rekomendasikan karena kualitasnya bagus dengan harga yang terjangkau.

Related Tags : ,

38 Comments

  1. avatar
    [email protected] February 4, 2011 6:25 pm

    wah...terima kasih reviewnya. udah kepikiran pgn beli clodi tp bingung merek dan model yang mana. BTW clodi itu udah bisa dipake buat newborn atau minimal usia 3 bulan yaa??? tenkyu sebelumnya buat infonyaaa :D

    1. avatar

      As .



  2. avatar
    herlina achmad January 26, 2011 3:00 pm

    nadya (12m) baru saya pakaikan cloth diaper setelah umur 10m karena ternyata kulit nadya sdh sangat jenuh dgn bahan kimia di pospak, dan muncullah ruam2 yg ga bisa sembuh hanya dgn salep rash diapers yg dijual bebas di apotek, tapi kalo ga pake pospak....mana tahaaaaan. akhirnya setelah browsing sana-sini ketemulah yg namanya cloth diaper one size pocket....taraaaaa....ilang deh ruam popoknya :)

    1. avatar

      As .



  3. avatar
    Desi Wulansari January 26, 2011 10:08 am

    hmm...setelah banyak mereview sana sini.. akhirnya radit pake clodi diumur yg 3,5 bln...
    lumayan irit dispo... so far skrng sih br punya 3, masih mo nyicil beberapa lg...
    pengen nyoba ah beli MMK... ^^

    1. avatar

      As .



  4. avatar
    shinta lestari November 25, 2010 6:09 pm

    @renny: kalo udah umur segitu, sayang kalo pake clodi. clodinya udah ga sanggup nampung krn harusnya pipis anak umur segitu udah banyak. mendingan mulai di potty-train aja.

    1. avatar

      As .



  5. avatar
    renny ryana November 23, 2010 11:42 am

    Rafa (18m), telat ga ya kalo dikenalin clodi?
    denger2 clodi suka bocor? bener ga sih? soalnya Training Pants Disneynya Rafa tuh tak kuasa untuk menahan laju pipisnya, jadi sebentar aja ganti....
    jadi rada mikir pake clodi, takutnya nasibnya sama kaya si Te Pe Disney

    1. avatar

      As .



Post a Comment

You must be logged in to post a comment.