#IbuBerbagiBijak: Mengelola Keuangan UMKM

Beberapa waktu lalu Visa Worldwide Indonesia bekerjasama dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan The Urban Mama kembali mengadakan kampanye #IbuBerbagiBijak. Kampanye #IbuBerbagiBijak kali ini mengangkat tema tips mengelola keuangan bagi UMKM, dibawakan oleh financial educator Prita Ghozie. Tahun ini program #IbuBerbagiBijak diadakan di Bandung, 28 Agustus 2019 dan di Yogyakarta, 3 September 2019.



Saat membuka acara kampanye ini di Bandung, Bapak Rico Abdurrahman selaku Presiden Direktur PT. Visa Worldwide Indonesia mengemukakan fakta bahwa kemampuan perempuan untuk mengelola keuangan ternyata hanya sebesar 20%. Padahal harusnya seorang ibulah yang berperan penting sebagai 'menteri keuangan' dalam keluarga, apalagi bila dibarengi dengan mengelola bisnis rumahan. Maka dari itu, VISA memiliki program Ibu Berbagi Bijak dengan tujuan untuk mengedukasi para ibu agar mendapatkan literasi keuangan yang lebih baik.

Financial educator Prita Ghozi berbagi financial literacy terkait bagaimana mengelola keuangan bagi urban Mama yang memiliki usaha mikro kecil dan menengah (UMKM).

Tantangan menjadi pemilik usaha
Ada beberapa tantangan dalam memulai usaha, yaitu:
    1. Mau usaha apa. Ini bisa dimulai dengan mencari tahu, apa hobi atau kesukaan urban mama? Apakah ada pasar untuk hasil dari hobi tersebut? Seperti apa jam kerja yang disukai?
    2. Tidak tahu untung-rugi. Dalam mengelola usaha, pisahkan keuangan pribadi dan usaha. Ingat selalu untuk punya untuk catatan arus kas. Identifikasi modal investasi dan biaya.
    3. Pertimbangan lain: apakah saat memulai usaha ingin bermitra atau sendiri? Modal dari mana?

Membuat Rencana Usaha
    1. Pahami modal dan kebutuhan dasar:
    a) Modal investasi awal: properti, fasilitas pendukung, pelatihan tenaga kerja.
    b) Modal kerja operasional: barang dagangan, barang pendukung.
    c) Biaya tetap: biaya telpon, listrik, internet, biaya pemasaran dan biaya pegawai.

    2. Pertimbangan kunci dalam usaha:
    a) Pembiayaan: dana sendiri atau pinjaman? Bagaimana untuk perluasan usaha?
    b) Operasional: praktis dan taktis. Apa saja strategi untuk mencapai tujuan usaha?

    3. Pertimbangan dalam pengambilan pinjaman:
    a) Hitung kebutuhan pendanaan
    b) Tambah 10% dari kalkulasi
    c) Pertimbangan alternatif sumber pendanaan: Bank, Lembaga Keuangan (Multifinance), P2P Lending (Pinjaman Online)

Pinjaman online adalah fasilitas pinjaman uang tunai yang proses pengajuan dan pencairannya dilakukan secara online oleh perusahaan atau situs tertentu, tanpa harus ke bank atau lembaga keuangan, dan harus dilunasi beserta bunga dan biayanya dalam jangka waktu tertentu. Ada beberapa plus-minus terkait pinjaman online ini, di antaranya:
    a) Plus: proses cepat secara online sehingga dapat diakses dari berbagai lokasi. Persyaratan peminjaman relatif lebih mudah dan sederhana.
    b) Minus: tenor jangka pendek dan biaya administrasi besar. Bunga pinjaman lebih tinggi dibandingkan bunga bank. Jumlah dana pinjaman terbatas.

Namun urban mama perlu berhati-hati jika memilih fasilitas pinjaman online. Bapak Teguh Rahayu selaku Kepala Bagian Edukasi & Perlindungan Konsumen OJK Regional Jawa Barat berpesan untuk selalu waspada dengan munculnya berbagai start-up abal-abal berkedok Fintech yang tidak terdaftar resmi di OJK. Apabila kita menemukan kendala dengan Fintech ilegal, kita tidak bisa mengadukannya kepada OJK, terjerat bunga dan denda yang melambung, serta Fintech tersebut dapat mengakses kontak orang terdekat kita juga melakukan aksi teror untuk menagih pelanggannya.

(Foto oleh Finna Yudharisman)

Bagaimana mengelola manajemen keuangan?
Menurut Mbak Prita, sebagai pelaku usaha harus concern sekali dengan Arus Kas Usaha. Kas keuangan ini berupa modal kerja, omzet (pendapatan), pembayaran pinjaman, operasional usaha dan pembelian barang modal. Sebagai pemilik usaha, urban Mama juga wajib mengetahui apakah bisnis yang dijalankan profit, loss atau break even. Bagaimana cara mengukurnya? Tentu saja menggunakan Financial Analysis, di mana keuntungan, kerugian ataupun impas dapat dianalisa berdasarkan laporan keuangan, neraca, laporan rugi laba, dan pencatatan arus kas yang jelas serta terukur. Semuanya harus tercatat rapi dalam laporan keuangan bulanan ataupun tahunan. Jadi jangan mengandalkan feeling analysis alias mengira-ngira “kayaknya saya sudah untung deh”, padahal ya belum tentu untung.

Mbak Prita pun kembali menjelaskan tentang metode pengelolaan keuangan a la Zap Finance yaitu ZAPFIN, dengan alokasi besaran sebagai berikut:
Z : Zakat, Infaq, Sedekah (5%)
A : Assurance / Asuransi dan Dana Darurat (10%)
P : Present Comsuption /kebutuhan rutin (40%)
F : Future Spending / Menabung terlebih dahulu (15%)
IN: Investment/investasi (30%)

Dalam kesempatan acara tersebut, mbak Prita juga berbagi tips bagaimana mengelola keuangan bagi urban Mama yang memiliki usaha (mamapreneur):
    1. Punya rencana pengeluaran
    2. Hindari utang konsumtif
    3. Tabung dan investasi
    4. Siapkan dana darurat
    5. Jangan lupa untuk menyiapkan asuransi kesehatan dan jiwa


Indonesia Tanpa Uang Tunai
Metode pembayaran tanpa uang tunai semakin digemari oleh generasi milenial. Ada banyak promo menarik ditawarkan sehingga makin menggoda untuk menggunakannya. Kemajuan teknologi juga sangat memengaruhi hal ini. Studi Consumer Payment Attitudes 2018 menyebutkan, sebanyak 8 dari 10 sudah mencoba bepergian tanpa uang non tunai.

Menjalani gaya hidup non tunai menjadi lebih mudah dan menarik bagi masyarakt Indonesia karena banyak opsi cara membayar, mulai dari pembayaran menggunakan kartu, teknologi nirkontak, hingga berbasis QR code. "Konsumen juga menginginkan proses pembayaran yang lebih cepat, mudah, dan aman, yang mendorong mereka untuk semakin mengurangi penggunaan uang tunai & memulai gaya hidup non tunai," ujar Riko Abdurrohman. Lanjutnya, Bapak Rico Abdurrohman menjelaskan bahwa keamanan bertransaksi menggunakan uang non tunai tetap menjadi prioritas. "Studi Consumer Payment Attitudes yang dirilis Visa menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia semakin percaya diri untuk bepergian tanpa uang tunai, dengan keamanan informasu pribadi menjadi fokus utama mereka. Karenanya, Visa berkomitmen untuk menghadirkan teknologi pembayaran dan keamanan digital terbaru seperti Visa Contactless dan Visa Token Service, agar konsumen dan pelaku usaha di Indonesia dapat semakin percaya diri saat bertransaksi," paparnya.



Bagaimana urban Mama, menarik bukan program #IbuBerbagiBijak ini? Terima kasih kepada VISA Worldwide Indonesia, OJK Indonesia, narasumber mbak Prita Ghozie atas workshop yang sangat bermanfaat ini.

0 Comments

Post a Comment

You must be logged in to post a comment.