Jalan Jalan Keluarga ke Taman Nasional Tanjung Puting

Beberapa waktu lalu, kami kembali berkesempatan libur bersama sekeluarga. Kali ini, menjelajah kawasan taman nasional memang menjadi tujuan kamii. Kami memilih berkunjung ke Taman Nasional Tanjung Puting dengan total perjalanan 3 hari 2 malam.

Hari masih pagi ketika kami tiba di pelabuhan Kumai. Saya dan Azzam lantas menengadah ke langit biru. Tidak ada awan, hanya langit biru, dan silau.  

“Prediksi saya, sebentar siang akan hujan. sebentar lagi awan akan berkumpul,” kata Iman.

Dan demikianlah kehendak yang memiliki alam raya ini. Begitu hari makin siang, awan berdesak-desakan bergulung, langit pun berubah menjadi kelabu. Udara terasa pengap dan sumuk. Dan kemudian, tanpa aba-aba, hujan tercurah sungguh sangat lebat sekitar pukul 11:30 siang. Kamipun harus menunda keberangkatan menyusuri sungai untuk menuju ke Taman Nasional Tanjung Puting.

Sekitar pukul 13:00, setelah makan siang di dalam kapal yang bersandar di dermaga pelabuhan dan diguyur hujan, akhirnya kami berangkat. Saat itu, hujan masih turun. Rintik saja, namun meredanya hujan cukup membuat kami kembali bersemangat, karena petualangan selama 3 hari 2 malam hidup di atas kelotok sambil menyusuri sungai Sekonyer di kawasan Taman Nasional Tanjung Puting, akan segera di mulai.

Saya selalu suka melihat orangutan. Berkesempatan melihat mereka di habitat aslinya, tentunya menjadi kemewahan tersendiri. Setelah sebelumnya berkesempatan melihat mereka di Bukit Lawang, Taman Nasional Gunung Leuser, kami sekarang melihat mereka langsung di konservasi orangutan di kawasan taman nasional Tanjung Puting, Kalimantan Tengah. 

Sekitar 90% populasi orangutan, ada di Indonesia yaitu di Sumatera dan Kalimantan (informasi dari Borneo Orangutan Survival Foundation). Prediksi jumlah yang ada adalah 71.820 orangutan yang tersebar di berbagai hutan di kedua pulau tersebut (berdasarkan hasil Population and Habitat Viability Assessment (PHVA) orangutan tahun 2016. Dari total angka tersebut, Sekitar 4000 orangutan tinggal di TN Tanjung Puting. Namun, jumlah itu tidak bisa membuat kita bernafas lega. Mereka terancam punah karena terjadi deforestasi hutan, yaitu hilangnya karena pohon-pohon di habitat asli mereka (hutan), banyak yang ditebangi untuk kepentingan manusia. 

Untuk dapat melihat orangutan di kawasan Taman Nasional Tanjung Puting, kita perlu menyusuri sungat Sekonyer yang membelah hutan Kalimantan Tengah. Mau tidak mau kita perlu menyewa jasa operator ekowisata untuk mengantar kita ke beberapa camp rehabilitasi dan konservasi di Kawasan TN Puting Ini. Selama 3 hari 2 malam di sana, kita bisa  mengunjungi 3 camp yaitu camp Tanjung Harapan, camp Pondok Tanggui, dan camp Laekey. 

Sungai Sekonyer, berarus tenang. Cenderung misterius bagi saya, karena airnya berwarna mulai dari coklat tembaga sampai hitam legam. Sungai yang berada di atas rawa gambut ini membuat dasar sungai menjadi berwarna hitam dan kemudian berefek pada warna air sungai. Padahal sih, aslinya jernih banget. Kalau saja tidak banyak buayanya, kami pasti sudah berenang-renang setiap kali perahu merapat ke dermaga. 

Bonus dari penjelajahan ini, yang menurut saya tak kalah menawannya adalah, kami bisa melihat bekantan berbulu keemasan yang duduk duduk manis di dahan-dahan pohon sepanjang sungai Sekonyer. Pagi-pagi, suara siamang ramai berseru-seru. Selain itu, cuitan suara burung-burung merdu terdengar sepanjang perjalan 3 hari 2 malam di atas kelotok. Beragam jenis burung, tinggal di kawasan taman nasional ini. Kami beruntung bisa melihat beberapa diantaranya, antara lain elang, Bornean Bristlehead, dan King Fisher. Ketika malam hari, suguhan mewah kerlap kerlip kunang-kunang diantara pelepah daun daun pohon nipah dalam gulitanya hutan akan memukau siapa saja yang menyaksikannya. Sungguh pengalaman yang mewah dan luar biasa.

 

Mengunjungi tiap camp, ketika sampai di dermaga, kami perlu berjalan kaki masuk hutan menuju tempat feeding time. Orangutan yang akan kami lihat adalah orangutan yang telah di bebasliarkan oleh para petugas konservasi dan rehabilitasi orangutan. Mereka ini sebagian besar adalah para survivor yang berhasil diselamatkan dari hutan yang dibabat untuk ditanami pohon kelapa sawit. Kami membutuhkan antara 20 menit sampai 30 menit untuk menuju feeding time di tiap camp konservasi. Rute bervariasi dari jembatan kayu sampai tanah becek karena hujan. Oh ya, jangan lupa bawa lotion anti nyamuk kalau masuk hutan karena cukup banyak nyamuk di sana.
 
 
Setelah berjalan masuk hutan selama beberapa waktu, kami tiba di area feeding orangutan. Di sini, kita diminta untuk tidak berisik sehingga tidak mengganggu dan mengusik orangutan yang akan makan. Selama lebih dari 30 menit kita akan puas melihat langsung tingkah laku mereka lengkap dari sang pemimpinnya sampai anak orangutan yang masih digendong ibunya kemanapun si ibu pergi.
 

Secara umum, menjelajah Taman Nasional Tanjung Puting sangat menyenangkan untuk dilakukan dengan keluarga. Minimnya sinyal di sana membuat kita tidak bersibuk ria update status atau ngecek timeline social media kita. Kita bisa puas ngobrol dan bercanda dengan keluarga, baca buku, memandang alam sepanjang sungai ataupun melakukan hal lainnya untuk mengisi waktu. 

Yuk, masukkan Taman Nasional Tanjung Putting dalam wishlist liburan keluarga kita. 

9 Comments

  1. avatar
    Aliya Suprapto November 5, 2018 9:52 am

    Aku udah pernah ke Tanjung Puting! dan liat artikel ini rasanya pengen balik lagi ke sana. Ndak puas! Cantik banget. Pengalaman yang luar biasa liat orangutan. Seneng!

    1. avatar

      As .



  2. avatar
    bundanouf November 4, 2018 7:49 pm

    Cindy Vania.... katanya sih begitu. tapi aku gak tidak melihat. Kalau orangutan, bekantan, burung, banyak banget. Juga yang mewah, malam-malam ada kunang2 banyak banget... Kebayang kan, makan malam pakai cahaya kunang kunang dan lilin. keren deh...

    1. avatar

      As .



  3. avatar
    Cindy Vania November 3, 2018 7:10 pm

    Whoaaa seru banget! Bisa lihat orang utan, bekantan, dan burung2! Btw itu di sungainya ada buaya? Keliatan juga nggak mba?

    1. avatar

      As .



  4. avatar
    Honey Josep November 2, 2018 11:10 am

    sejak dee lestari nyebut tanjung puting di novel supernova-nya saya juga pengen banget bisa kesini! Tfs bunda nouf :)

    1. avatar

      As .



  5. avatar
    ninit yunita November 1, 2018 1:51 pm

    tambah pengin banget ke siniii... semoga suatu saat bisa. makasih artikelnya yaaa bunda nouf.

    1. avatar

      As .



Post a Comment

You must be logged in to post a comment.