Memberi Pilihan Pada Anak

Bagi sebagian orang, memenuhi permintaan anak bukanlah masalah. Tinggal buka dompet, keluarkan beberapa lembar, dan selesai. Rasa senang yang membuncah usai menyenangkan hati anak memang tak ada duanya.

Untuk saya saat ini, menyenangkan anak juga bukan masalah. Anak saya masih dua tahun, permintaannya masih terbatas pada mainan. Kebetulan ia juga tidak terlalu ribet sama baju dan makanan, ia seringnya pakai apa yang ibunya belikan dan makan apa yang ibunya siapkan. Beda dengan mainan.

Belum lama ini kami sekeluarga berjalan-jalan ke lapangan besar di Minggu pagi. Ada pasar kaget yang lumayan ramai di sana. Saya mencari-cari sarapan, suami mencari-cari minuman, si kecil tiba-tiba menarik lengan saya sambil menunjuk ke lapak mainan. Saya menuruti permintaannya, niatnya sih hanya mampir sebentar. Menurut saya mainannya kurang menarik, tapi menurut si kecil berbeda. Ia minta satu mainan, saya menolak.

Sepanjang pagi sampai siang, muka si kecil tertekuk. Menurut saya, mainan yang ia inginkan hampir sama dengan mainan yang ada di rumah. Paling-paling hanya dimainkan sebentar dan lalu bosan. Sayang juga uangnya.

Belakangan ini saya suka memberi pilihan kepada si kecil. Sederhana saja, misalnya ia mau makan dulu atau mandi dulu. Mau ganti baju atau tidak. Mau giginya disikat oleh ibunya atau sikat sendiri. Mau jajan biskuit atau kacang. Mau beli baju warna merah atau cokelat.

Sebisa mungkin saya menghormati pilihannya. Kalau saya rasa pilihannya kurang tepat, saya utarakan pendapat soal pilihannya itu. Kalau ia menukar pilihan ya bagus, kalau tidak ya sudah.

Kenapa tidak saya ambil alih semuanya, supaya aman tenteram? Karena saya mau belajar dari sekarang kalau anak itu cuma titipan. Saya ditugaskan merawat, setelah besar dia bebas berpendapat dan memilih hendak hidup bagaimana dan dengan siapa.

Saya tidak ingin ia ikut-ikutan. Saya mau ia tahu alasan mengapa ia pilih A, pilih B, atau pilih C. Kalau sudah bisa memilih dengan sadar, si kecil perlahan akan belajar soal konsekuensi dari tiap pilihan yang dia buat.

Mungkin terkesan jauh sekali pemikiran kami. Tapi itu hanya kelihatannya saja. Waktu berlalu begitu cepat, pasti tak terasa sebentar lagi si kecil sudah jadi gadis remaja. Saya dan suami makin tua. Semua harus bersiap-siap.

------

Hari ini saya dan si kecil ke luar rumah berdua. Saya tanya mau gendong atau jalan? Pilihannya jalan. Setelah jalan agak jauh, saya tanya lagi mau naik angkot atau lanjut jalan? Pilihannya jalan.

Sampai di toko tujuan, saya beri ia hadiah dua koin untuk naik odong-odong. Odong-odongnya ada 4, bentuk mobil, gajah, jerapah, dan kuda.

Sebelum naik odong-odong kuda, dia sudah memilih odong jerapah.

Saya: Koinnya tinggal 1, kamu mau naik kuda, gajah, atau mobil?
Embun: Mau naik kuda dulu, terus naik gajah.
Saya: Gak bisa, koinnya tinggal 1, harus pilih kuda atau gajah.
Embun : (Berpikir lama, bolak-balik antara kuda dan gajah.) Kuda saja...
Saya: Oke...

Odong-odong kuda berhenti goyang, ia tetap minta naik ke gajah.

Saya: Koinnya sudah habis. Gajahnya gak bisa jalan.
Embun: Gak apa-apa, naik saja...


Ia masih berharap gajahnya bisa goyang.

Mengapa saya tidak belikan koin lagi padahal harga koinnya hanya Rp1.500,- saja?
Karena saya tidak mau ia menangkap kesan kalau saya ini ibu yang plin-plan. Omongannya tidak bisa dipegang. Kalau omongan saya tidak bisa dipegang nanti ia tidak percaya sama saya. Saya mau ia belajar 'menderita' sedikit. Kalau apa-apa dituruti nanti ia sulit mengerti kalau orangtuanya susah. Tahunya apa-apa ada di depan mata. Saya ingin ia belajar berusaha untuk mendapatkan keinginannya.

 

Related Tags : ,,,

14 Comments

  1. avatar
    Ibu Gede Gesang June 18, 2014 6:08 pm

    Wah,,, gesang harus di terapin ini.

    1. avatar

      As .



  2. avatar
    mamajibi January 3, 2014 3:47 pm

    Bunda Embun, samaaa deh kita.Toh tujuan membiasakan dia"berakit ke hulu" ITU kan demi kebaikan dia di masa depan ya, terkadang bbrp org menganggap data Dan suami agak kejam pada anak, he he....biarlah, toh bkn mreka yg akan ikut susah kalaau anak kami ngga terbiasa fight besok kan. Bismillah yg terbaik deh

    1. avatar

      As .



  3. avatar
    Seymour Magabe December 12, 2013 8:54 am

    tfs mbak, terutama untuk menghormati pilihan anak :)

    1. avatar

      As .



  4. avatar
    iqa Umi-nya bintang December 11, 2013 12:23 pm

    Setuju buangeeed...
    Disiplin harus sedini mungkin. Agak ngeri kalo liat anak tetangga yang nangis ngambek didepan toko gara2 keinginannya ga dikabulin orang tua. Terbiasa semuanya diturutin. Semoga lancar belajar disiplinnya....

    1. avatar

      As .



  5. avatar
    blankdakruz December 10, 2013 4:46 pm

    setuju mba... emang penting banget kasih anak pilihan. membiasakan supaya anak tahu, belajar, dan tentunya itu membuat anak semakin percaya diri; karena anak tau orang tuanya sudah membiarkannya memilih :).

    1. avatar

      As .



Post a Comment

You must be logged in to post a comment.