Mengapa Mama Perlu Paham Literasi Digital?

Pernahkah Urban mama 'terjebak' percaya sebuah berita hoax atau fake news? Atau sekadar jempol ringan tak berhenti berkomentar di berbagai media sosial, sampai meneruskan artikel 'bagus'? Hal-hal tersebut seringkali mudah terjadi, ya. Kalau sampai baper (terbawa perasaan) setelah membaca newsfeed di Facebook, pernahkah? Mudah-mudahan hanya saya yang menjawab 'oh setiap hari'.

Pernahkah juga mama menulis status atau komentar di media sosial dan kemudian menyesal? Atau tidak sengaja menyinggung perasaan orang lain? Atau sekadar re-share artikel yang kita terima padahal kemudian diketahui bahwa isinya salah atau kredibilitasnya diragukan?

Ini semua hal yang mendasar, ya.

Masih hangat di media sosial, perseteruan antara ibu vaksin dan ibu anti-vaksin. Apakah Urban Mama menjadi bagian atau hanya penonton? Belum lagi hilang dari ingatan sisa-sisa perpecahan di masa pemilihan presiden, bahkan pemilihan gubernur Jakarta. Namun yang terlihat jelas adalah sungguh sangat mudah bagi netizen Indonesia untuk terbawa sebuah isu, yang bahkan diangkat oleh pihak yang belum tentu benar-benar paham.

Sedih, sih. Mengapa bisa sampai seperti ini?

Belum cukup dengan pertentangan di sana sini, ibu di era digital juga dibuat ngeri dan baper oleh efek hoax dan fake news yang beredar di berbagai media sosial. Mastel memberikan press release hasil survei bahwa 44,3% responden menyatakan menerima hoax setiap harinya. Ini horor, padahal penyebabnya ‘cuma’ hal bohong. Sedih berkepanjangan rasanya membayangkan hal ini. Apa yang akan terjadi pada kita jika keadaan terus seperti ini? Ini kita yang mudah mengakses dan klarifikasi kebenaran berita, bagaimana saudara kita di luar sana yang tidak seberuntung kita?

Ada pula beragam berita mengerikan tentang isu pornografi, LGBT, cyber bullying, adiksi game & gadget, dan berbagai efek buruk gadget. Ada pula berita biasa saja tapi dengan hebatnya bertajuk cerai, selingkuh, narkoba sebagai headlineYou name it. Semua kita temui dalam berbagai bacaan sehari-hari. Ini juga horor, tapi kali ini penyebabnya hal nyata, beserta kengerian yang disajikan secara maksimal.

We live in constant fear and alert, BUT we are not even in a war zone or conflict states.

What's wrong with us?

Sebelum menjawab, mari kita lihat dari sudut pandang yang positif. Betapa teknologi memudahkan hidup kita semua. Tak terhitung jumlah kesempatan yang diperoleh dan waktu yang dihemat sejak kehadiran media digital. Namun ada pula dengan kesusahan yang ditimbulkan akibat lelah berlari mengikuti segala informasi maupun perubahan yang berlangsung sangat cepat. Disrupsi. Akibat mutlak dari perkembangan teknologi yang terus ada dalam upaya mempermudah hidup manusia. Disrupsi menuntut kita tidak hanya mampu menghadapi perubahan, tapi menjadikan perubahan bagian dari diri kita. Setiap hari.

Saya memahami bahwa salah satu kunci menghadapi disrupsi adalah dengan memahami teknologi itu sendiri, tren perkembangannya, cara memanfaatkannya dengan bijak untuk segala lini kehidupan, dan lebih jauh, menjadikannya jembatan untuk menjadi pribadi yang lebih baik. 

Is it important? Let's look at our apples of the eye. The generation-Z.

Kita sebagai orangtua adalah generasi milenial, orangtua zaman now, yang hidup di era sebelum dan sesudah digital. Anak kita adalah Generation-Z, digital innate, born-digital. Mereka tidak paham ada masa sebelum Google atau sebelum Youtube. Akankah era media sosial berakhir? Mungkin. Akan tetapi bukan kembali ke masa seperti yang lalu, melainkan digantikan teknologi yang lebih canggih lagi. Hal ini juga berimbas terhadap bagaimana cara anak-anak kita belajar dan bersosialisasi. 

Jika diberikan umur panjang, mungkin kita akan me nyaksikan masa di mana anak bisa belajar bermodalkan curiosity, oh ya dan internet. Persoalannya adalah apakah kita/anak kita mampu mengeksplorasi sendiri, memilih ilmu yang tepat, memilih sumber belajar yang tepat, dan memilih cara belajar yang tepat?

Tantangan kita, terutama orangtua zaman now itu bukan hanya horor seperti yang telah dipaparkan di atas. Tantangan kasat matanya adalah mendampingi anak-anak kita, para generation-Z, mampu memilih apa yang mereka boleh dan tidak boleh lakukan dalam menggunakan media digital. Apa yang harus tetap dilakukan secara manual, dan apa yg bisa digantikan teknologi. Mereka akan hidup di era serba digital dan menjadi bagian dari disrupsi pendidikan. Mereka mungkin akan jarang merasakan cara belajar sebagaimana orang tuanya dulu, yaitu satu arah dari gurunya. Mereka akan lebih mengenal cara belajar secara mandiri (self directed learning) menggunakan berbagai media yang sudah ada, termasuk media digital. 

Inilah pentingnya digital literacy; literasi digital; kemampuan digital; kemampuan memanfaatkan media digital dengan bijak.

Tidak seperti ilmu lainnya. Banyak yang diajarkan melalui sekolah. Ada juga yang kita pelajari sambil jalan. Bahkan kita cukup beruntung mempelajari beberapa ilmu melalui teladan. Bagaimana dengan literasi digital? Kita tidak pernah belajar di jalur sekolahan, tidak pula pernah memperoleh teladan. 

Ini bukan soal mengoperasikan media digital. Bukan pula soal bikin aplikasi di media digital. Apalagi soal memperbaiki gadget yang kecemplung ke air. Bukan.

Ini hanya ilmu dgn tujuan sederhana: mampu memanfaatkan teknologi/media digital dengan bijak. Hal utama yang dipelajari juga 'hanya' bagaimana cara menerima informasi dan menyampaikan informasi.

Related Tags :

1 Comments

  1. avatar
    kaarsekar April 30, 2020 2:43 am

    Thanks for bringing up this issue!

    1. avatar

      As .



Post a Comment

You must be logged in to post a comment.