Menyelamatkan ASI Perah dari Mexico City ke Jakarta

Awal tahun 2016 adalah masa-masa yang saya nantikan sekaligus mendebarkan. Seluruh perasaan campur aduk antara senang dan bersemangat, namun di satu sisi tegang sekaligus sedih. Bagaimana tidak, saya ditugaskan untuk membuat liputan dokumenter sebanyak empat episode yang akan tayang bulan Ramadhan mendatang. Liputan ini bertema kehidupan para muslim di luar negeri dan kali ini tujuan saya adalah Meksiko dengan masa tugas 18 hari.

Kalau sebelum punya anak bawaan ke luar kota cukup ringan, kali ini saya harus membawa tas yang lebih berat. Tas ransel agak besar yang terdiri atas dua kompartemen untuk dokumen perjalanan dan barang-barang pribadi lainnya, serta pendingin di bagian bawahnya untuk membawa ASI perahan serta peralatan breastpump.

Perjalanan ke Meksiko memakan waktu kurang lebih 28 jam. Pertama-tama saya harus transit di Hong Kong lalu menempuh perjalanan 14 jam ke Toronto - Kanada, dan lanjut lagi terbang sampai akhirnya tiba di Mexico City. Bagaimana dengan aktivitas memerah yang jadi kebiasaan rutin saya?

Saya sudah tiba di Bandara Soekarno Hatta sejak pukul 01.00 dini hari 17 Februari 2016 dan lepas landas pukul 05.00 pagi menuju Hong Kong. Awalnya saya bermaksud memerah di dalam pesawat, namun para pramugara/i sepakat kalau saya tidak bisa menitipkan ASI perah (ASIP) beserta ice gel di pendingin pesawat dengan alasan kebersihan. Saya pun memerah di bandara Hong Kong dengan payudara yang sudah membengkak.

Alhamdulillah, nursery room tersebar di banyak gate Hong Kong International Airport. Tempatnya nyaman karena tersedia sink wastafel, tisu, penghangat susu, dan sofa tunggal yang empuk. Sayangnya tidak ada pendingin atau freezer ASIP. Misi utama saya saat itu adalah mempertahankan kualitas ASIP yang baru diperah. Tak kehabisan akal, saya pun mencari es batu untuk ditaruh dalam beberapa kantong plastik agar pendingin di ransel tetap dingin. Saya minta satu gelas es dari gerai makanan cepat saji dan tiga gelas es di sebuah cafe, semuanya diberi gratis cuma-cuma. Buru-buru saya letakkan esnya dalam plastik ASIP sebagai pengganti ice gel dan dimasukkan ke tas pendingin. It worked! Setibanya di pesawat tujuan berikutnya, yakni Toronto, ASIP tetap dingin.

Tugas selanjutnya: membuat ASIP tetap dingin sampai tiba di Meksiko sambil tetap memerah. Syukurlah, para pramugari pesawat tujuan Toronto bersedia menyimpan ASIP saya dalam pendingin pesawat mereka. Tiap menjelang pendaratan, mereka juga bersedia memberikan es batu. Pumping di pesawat pun berhasil walau cuma sekali saja, yaitu saat dalam perjalanan menuju Toronto. Soalnya agak repot memompa di pesawat karena ruang gerak yang super sempit dan hasil perahan yang kerap tercecer di baju karena sulit memantau. Terlebih penumpang di sebelah adalah kameraman saya sendiri.

Rutinitas memerah ketiga pun berlangsung di Toronto International Airport di dalam toilet. Sedihnya, tidak ada satu pun ruang menyusui di sana. Para petugas di sana pun tidak terbiasa mendengar istilah nursery room di bandara. Dengan kondisi payudara bengkak (lagi), saya memerah di bilik toilet tidak ada pintu penutup. Saya mengucap doa saja dalam hati sambil berusaha menangani ASIP sebersih mungkin.

Pembengkakan payudara akan terjadi bila ASI tidak dikeluarkan. Kondisi terparah adalah demam yang sudah pernah saya alami sebelumnya dan itu rasanya sangat menyiksa.

Selama perjalanan Toronto-Mexico City pun saya dapat kembali menitipkan ASIP ke dua orang pramugari. Mereka dengan senang hati membantu dan menjelang akhir perjalanan. Mereka penasaran bertanya, "Where's your baby?" Saya menjawab, "At home..." sambil menjelaskan kepada mereka bahwa saya ingin membawa pulang seluruh hasil ASI perahan selama perjalanan.

 

Selama Bertugas di Mexico City

Modal cuek. Itulah hal yang saya tanamkan dalam diri agar dapat tetap memerah selama 18 hari dinas luar negeri. Saya sering kali memompa di mobil ditutup nursing apron karena jadwal liputan sangat padat. Rekan kerja dalam perjalanan ini kedua-duanya pria dan saya cuek saja karena yakin dapat memompa dengan rapi. Pernah juga satu kali saya memompa di rumah narasumber. Itupun karena waktu liputan kami cukup lama di sana. Jika tidak di mobil, ya di tempat saya menginap yang kebetulan merupakan tempat penginapan lokal yang dapurnya memiliki kulkas dengan freezer.

[caption id="attachment_115838" align="aligncenter" width="320" caption="Selalu membawa cooler bag selama bertugas"][/caption]

Kala harus melakukan perjalanan ke luar Mexico City, saya menitipkan ASIP dan ice gel ke pihak hotel dan mereka dengan senang hati memberikan bantuan. Asalkan cooler bag selalu dalam keadaan dingin, saya yakin ASIP tetap aman untuk disimpan sesampainya di tempat kost.

 

Produksi ASI Kian Menyurut

Hari demi hari di Meksiko dan jauh dari bayi saya, produksi ASI pun kian menurun. Ditambah kondisi badan sangat lelah dan stres pikiran. Dari 100-150 ml sekali pompa, produksi ASIP turun menjadi 90 ml, sampai kemudian tak lebih dari 60 ml. Sedih rasanya. Padahal saya rela tidur lebih larut agar bisa memperoleh stok ASIP. Ada kalanya rutinitas memompa  membuat saya frustrasi. Saya yang tidak pernah memerah dengan tangan, mau tidak mau mencoba teknik tersebut agar ASI bisa keluar karena tak lagi ampuh memerah dengan breastpump. Meski begitu, saya berusaha konsisten memerah minimal sekali setiap hari.

 

Perjalanan Pulang pun Tiba

Awalnya saya sempat ragu dapat menyelamatkan berkantong-kantong ASI perahan yang telah ditabung. Bagaimana tidak, blue ice pack yang saya beli mudah sekali cair. Ada seorang anggota Milis Sehat yang merekomendasikan penggunaan dry ice atau biang es, namun (lagi-lagi) padatnya jadwal tidak memungkinkan saya memperoleh dry ice di tempat bertugas.  Pasrah, akhirnya saya menyiapkan diri dengan 'alat tempur' seadanya yang saya bawa dari Jakarta:

1. Cooler bag merk lokal kapasitas 15 liter

2. Tiga buah wadah penyimpan makanan khusus makanan dingin kapasitas 2,1 liter untuk menyimpang berkantong-kantong ASIP beku

3. Alumunium foil untuk mempertahankan suhu dingin dalam wadah penyimpan makanan yang kemudian dilapisi lagi dengan pembungkus plastik agar pengepakan ASIP lebih rapi dan mengurangi potensi bocor

4. Koran lokal sebanyak-banyaknya untuk melapisi ruang-ruang cooler bag yang tersisa

5. Lima buah ice block cooler ukuran kecil

6. Untuk mensiasati sumber dingin yang sangat terbatas, saya pun menambahkan lima kantong ASIP berisi es batu yang diberi taburan garam. Garam dapat menurunkan suhu pada es batu

7. Terakhir, kertas bertuliskan 'Fragile, perishable item, breast milk for baby' yang ditempelkan pada penutup cooler bag.

Cooler bag yang sudah terisi rapi kemudian saya masukkan ke dalam koper untuk menghindari keribetan kala screening bandara. Surat keterangan dokter bahwa saya sedang menyusui pun sudah di tangan, just in case akan bawaan saya ini akan dipertanyakan di bandara.

Perjalanan pulang pun dimulai.

 

Perjalanan Pulang

Kondisi dan kesan-kesan perjalanan pulang kurang lebih sama dengan keberangkatan. Pramugari pesawat tujuan kota transit, Vancouver dan Hong Kong, bersedia menerima ASIP untuk disimpan sementara di pendingin mereka. Hanya saja, kali itu saya sempat mendapatkan tatapan aneh dari 1-2 orang pramugari atau mungkin saya hanya terbawa perasaan saja.

Tantangan berikutnya, saya harus bermalam di Hong Kong karena penerbangan selanjutnya baru ada keesokan paginya. Sempat khawatir juga karena bagasi saya langsung checked-through sehingga cooler bag di dalamnya tidak dapat saya periksa dan tidak sempat memperoleh penanganan apa pun sampai nanti tiba di Jakarta. Saya pun hanya bisa pasrah dan berdoa semoga seluruh stok ASIP dalam kondisi layak sampai di rumah nanti.

[caption id="attachment_115839" align="aligncenter" width="347" caption="Transit selama 16 jam di Bandara Hong Kong"][/caption]

Sementara itu, saya mengisi waktu saya di sana dengan jalan-jalan di sekitar terminal, dan memerah ASI sambil internetan sepuasnya. Saat itu saya belum bisa tidur pulas karena terkena jetlag. Untuk menjaga ASIP tetap dingin, saya masih menggunakan metode sebelumnya: meminta es batu dari restoran/cafe kemudian dibubuhi garam. Sayangnya saya lupa membekukan ice gel yang saya bawa dalam ransel. Untungnya tidak menjadi masalah saat melewati screening bandara. Bandara transit seperti di Vancouver maupun Hong Kong sepertinya sudah paham dengan prosedur bawaan ibu menyusui.

 

Stok ASIP dari Mexico City Tiba di Jakarta

Perjalanan Jakarta-Hong Kong memakan waktu empat jam. Berkaca dari pengalaman mengudara dengan pesawat Jakarta-Hong Kong sebelumnya, saya menjadi enggan menitipkan ASIP saya dan membiarkannya dingin di cooler bag saja.

Setibanya di Jakarta, saya pamit dengan rekan kerja untuk tidak ikut jemputan kantor agar bisa pulang dengan keluarga. Kedua orangtua saya datang menjemput dengan membawa termos berisi biang es. Termos ini langsung saya gunakan untuk menyelamatkan seluruh stok ASIP, baik ASIP dalam wadah penyimpan makanan maupun cooler bag ransel.

Sesampainya di rumah, hal yang langsung saya lakukan adalah mengecek kondisi ASIP. Ajaibnya, ice block cooler yang saya kira akan seluruhnya mencair ternyata masih dalam kondisi beku. Mungkin ini karena kondisi dingin rendah tekanan dalam tempat penyimpanan bagasi di perut pesawat. Sementara ASIP dalam wadah penyimpan makanan di bagian atas cooler bag juga masih beku. Berbeda dengan ASIP pada dua wadah penyimpan makanan di bawahnya, ada beberapa yang mencair total dan ada yang sudah setengah mencair namun masih beku di beberapa bagian. Mungkin karena lapisan korannya lebih sedikit di bagian bawahnya.

Dua kantong ASIP ternyata bocor dan langsung saya buang. Namun secara keseluruhan, misi membawa ASIP pulang ini sukses! Alhamdulillah, dua minggu setelah kepulangan, anak saya bisa mengonsumsi seluruh stok ASIP tersebut dengan baik.

[caption id="attachment_115840" align="aligncenter" width="496" caption="Stok ASIP selamat sampai di rumah!"][/caption]

Tantangan Berikutnya: Nursing Strike

Selama 18 hari tanpa menyusu langsung pada ibunya, tak heran si kecil jadi enggan menyusu. Melihat puting ibunya saja sudah buang muka. Kondisi itu sempat membuat saya sedih. Ditambah produksi ASI yang semakin surut dan payudara terlihat kempes sekali. Untungnya teman-teman di grup TUM Birth Club September 2015 terus menyemangati saya. Seorang teman menyarankan saya untuk lebih sering menggendong si kecil dengan skin-to-skin contact agar membantu kembali keinginan si kecil untuk menyusu.

[caption id="attachment_115837" align="aligncenter" width="400" caption="Bersama Kafi yang ini berusia enam bulan"][/caption]

Seminggu kemudian, anak saya diimunisasi DPT yang kemudian diwarnai demam dan rewel. Di saat-saat sulit itu, saya terus melakukan skin-to-skin contact dan kangaroo care dengan anak, selama siang-malam. Bahkan tidur pun ia hanya mau dalam dekapan saya, sampai-sampai saya masuk angin. Alhamdulillah selama di masa-masa 'romantis' itu, anak saya kembali ingin menyusu. Kebiasaan ini masih berlanjut sampai sekarang. Saya pun gembira, perjalanan ini memiliki akhir yang manis. Sungguh kisah yang tak akan terlupakan seumur hidup.

Bagi urban mama yang sedang menyusui dan ingin menabung ASIP selama perjalanan dinas, yakinlah bahwa hal ini dapat berhasil dilakukan. Asalkan segala halnya mama siapkan dengan teliti dan seksama, menjaga niat serta terbuka melihat semua kemungkinan, mama dapat berhasil menabung ASIP selama perjalanan dinas.

26 Comments

  1. avatar
    Febrina Lebang August 10, 2018 10:50 am

    hi mba Febi, mau banyak bertanya nih ttg perjalanan dinas ke LN sambil tetap pumping dan bawa pulang ASIP dengan selamat sampai Indonesia lagi.

    1. bawa ice gel ke atas kabin pesawat dalam kondisi beku amankah? dalam kantong asip amannya brp ml ya dalam satu kantong?
    2. saat packing asip untuk dibawa pulang sudah dalam kondisi beku semua ya?
    3. urutan packingnya suggest nya seperti apa mba? seperti kotak kemasan didalamnya kita taruh ice pack juga sama2 dengan kantong asipnya kah? kemudian alumunium foil-nya dipakai untuk bungkus kotak kemasannya dulu ya?

    mohon dibantu ya mba sharing infonya, thanks ;)

    1. avatar

      As .



  2. avatar
    Pejuang ASI July 29, 2016 3:33 pm

    Perjuangan mom memang TOP banget, modal cuek yang penting tetap bisa memompa asi untuk buah hati

    1. avatar

      As .



  3. avatar
    Nikendiaz April 11, 2016 5:15 pm

    Mbak salam ya untuk dek Kafi, beruntung punya mama yg hebat. Sehat2 ya mbak sekeluarga

    1. avatar

      As .



  4. avatar
    Febi April 7, 2016 11:39 am

    Iya mba Aini. Modalnya PD dan yakin kalau ASIP yang ditabung bakal selamat :)

    Mba Etta, terima kasih. Akupun nggak nyangka bisa melaluinya :)

    Mba Wie, terima kasih. Akupun sedih banget pas tinggalin anak dinas :(

    1. avatar

      As .



  5. avatar
    Febi April 7, 2016 11:37 am

    Mba Nadirah, Waalaikumsalam wrb. Amin, terima kasih doanya :) Merk cooler bag yang buat bawa seluruh tabungan ASIP namanya KIS tipe C, kisarannya 550-600 ribu gitu mba. Tahannya ya 2 hari perjalananku itu. Aku berangkat 3 Maret subuh, tiba di JKT jam 1 siang tanggal 5 Maret. Penting banget isi ruang2 kosong di coolerbagnya dengan koran supaya ngga gampang cair.

    1. avatar

      As .



Post a Comment

You must be logged in to post a comment.