Turn Your Wounds into Wisdom

Jihan Davincka Simply a mom of 2, Nabil and Narda. 100% Buginese. Since 2009, living abroad along with her husband. Having many tremendous experiences from Tehran (Iran), Jeddah (Saudi Arabia) and now in Athlone (Ireland).

Entah mulainya dari mana, beberapa waktu lalu banyak yang membahas soal asisten rumah tangga (ART): perlu atau tidak? Tak sedikit yang menganggap ketergantungan pada ART itu budaya 'manja' dan feodal. Bagaimana tidak, jasa tukang bersih-bersih rumah di Eropa ini bisa mencapai 20 euro per jam, sekitar Rp320.000,- per jam!

Lihat saja, ibu-ibu Eropa ini pun sebenarnya ada keinginan juga untuk menggunakan jasa ART. Tapi mungkin tidak sampai setiap hari.

Kesenjangan sosial ekonomi pada negara-negara berkembang membuat hadirnya tenaga-tenaga kerja murah meriah. Walau sudah mulai banyak yang kapok memakai jasa ART menginap, orang mulai melirik jasa tenaga ART pulang pergi. Atau hanya untuk menyetrika saja atau khusus menyapu-mengepel rumah. Mengapa? Ya karena jauh lebih murah ketimbang kita yang mengerjakan sendiri.

Saya ingat, waktu masih gadis dan mengontrak rumah bersama kakak, saya tidak menggunakan jasa tukang bersih-bersih. Tetapi kakak saya butuh. Kakak saya juga tidak sempat mencuci bajunya sendiri. Mau beli mesin cuci, siapa yang mengurusi jemuran dan menyetrikanya?  Kami berdua sibuk dari pagi hingga malam, sering tidak ada di rumah. Jadi, kakak saya punya ART khusus. Honornya dulu 300 ribu rupiah sebulan untuk mencuci dan menyetrika saja. Tentu lain cerita kalau ART menuntut gaji Rp3 juta sebulan. Terlihat bukan? Kesenjangan ekonomi adalah salah satu faktor mudahnya memanfaatkan jasa ART di Indonesia pada umumnya.

Masalah kedua, fasilitas dan kondisi. Di negara-negara maju seperti Irlandia tempat saya tinggal, yang namanya mesin cuci otomatis (pencet sekali langsung kering) dan dish washer (mesin pencuci piring) tidak tergolong barang mewah. Setiap apartemen sudah standarnya begitu. Kegiatan berbelanja dan fasilitas umum lain dibuat senyaman mungkin. Justru saya rasa harus banyak-banyak bersyukur bisa mendapat kesempatan tinggal di luar negeri. Jangan sampai menjadikan kesempatan indah ini untuk 'nyinyir' pada teman-teman yang masih banyak menggunakan jasa asisten. Takut, ah. Takut rezekinya untuk menikmati kehidupan di negara maju tidak berkah.

Saya menyadari betul, sungguh diuntungkan oleh kondisi dan situasi lingkungan di negara-negara maju. Yang membuat ibu-ibu seperti saya tak perlu bertambah pusing dengan drama asisten yang konon katanya lebih sakit daripada ditinggal pacar. Been there done that.

Di atas itu semua juga, memang tak baiklah memberi label kepada orang lain yang mungkin dianggap lebih 'pemalas'. Siapalah kita. Saya tentu mengagumi betul ibu-ibu rumah tangga di Indonesia, apalagi di Jakarta, yang masih sanggup hidup tanpa jasa ART sama sekali. Tapi juga tak merasa heran dan memaklumi 100% jika ada yang memilih menggunakan jasa orang ketiga alias ART ini, baik yang menginap di rumah maupun yang pulang-pergi.

Daripada sibuk berdebat siapa yang lebih hebat siapa dan lebih mandiri, mari saling menyemangati saja. Saling berbagi harapan semoga kelak semua bisa merasakan kemudahan fasilitas sehari-hari yang selama ini masih menjadi angan-angan saja. Yang merasa capek serba sendiri di luar negeri, berdoalah agar bisa sering-sering mudik ke tanah air. Yang ingin mencicipi mandirinya hidup di negera maju, doakan semoga jalannya bisa terbuka. Kalau sedang terpikir betapa repotnya di luar negeri yang serba mandiri, harus berlelah-lelah hidup tanpa asisten, apa-apa harus masak sendiri lalu mulai menyoroti kehidupan teman-teman lain yang jadinya kelihatan 'manja' karena ada bantuan jasa ART di tanah air, ingat saja pesan Oprah Winfrey, "Always turn your wounds into wisdom." 


“At some point, you gotta let go, and sit still, and allow contentment to come to you.”
Elizabeth Gilbert, Eat, Pray, Love

 

Related Tags : ,

11 Comments

  1. avatar
    Jihan Davincka November 3, 2014 5:25 pm

    Terima kasih komentar-komentarnya ya hehehe. Jangan digeneralisir. Ya tidak semua ibu-ibu asal Indonesia yang tinggal di negara maju berpikir begitu. Kebetulan saja saya pernah ketemu yang model begini yang jumlahnya tidak bisa dibilang minoritas (dalam lingkup pertemanan saya) :p.

    Pokoknya ya jangan suka sindir-sindir nyinyir-nyinyir ndak pentinglah :p. Sudah tahu pula perempuan itu "Perasaannya ada 9, akalnya ada 1" . Kita damai-damai sajalah :D. Saling menyemangati dan saling berbagi dalam rangka mencari solusi ^_^

    1. avatar

      As .



  2. avatar
    sri yulianti November 3, 2014 4:04 pm

    being netral...tapi berdasar pengalaman pribadi...
    Tapi poin utama nya adalah bersyukur. Hal tersebut yang kadang sulit.. kita hampir lupa untuk bersyukur terhadap kondisi yang kita alami sendiri. Great...terimakasih telah mencerahkan..

    1. avatar

      As .



  3. avatar
    hanana fajar October 29, 2014 9:42 am

    nice mba jihan...
    selalu menetralisir semua pemikiran..
    intinya setiap kondisi dan kebutuhan setiap ibu berbeda..bersyukur aja sama semua yang kita hadapi sekarang:)

    1. avatar

      As .



  4. avatar
    Gabriella F October 29, 2014 9:03 am

    Kadang memang sulit untuk menahan diri tidak berkomentar. Tapi daripada sibuk mengurusi orang lain, memang lebih baik fokus pada apa yang kita hadapi di depan mata. There is always a differrent story in every parenting style....

    1. avatar

      As .



  5. avatar
    Cindy Vania October 28, 2014 11:38 pm

    artikelnya baguus banget mba Jihan.
    setuju untuk selalu bersyukur dalam segala kondisi :)

    1. avatar

      As .



Post a Comment

You must be logged in to post a comment.