ASI Donor

monicapurba
Berliana Monika , ST , MM Konselor Laktasi & La Leche League (LLL) Leader of Rochester South NY, US. Lulusan S1 Fakultas Teknik Sipil&Perencanaan ITB & S2 Magister Manajemen Universitas Indonesia.
Have question for our experts ?
Feel free to ask them here!

Mother’s milk is the gold standard in infant feeding. Berbagai organisasi kesehatan internasional seperti WHO, AAP (American Academy of Pediatrics), AAFP (American Academy of Family Physician), dan organisasi pendukung ASI-menyusui serta kesehatan anak seperti UNICEF, The World Alliance for Breastfeeding Action (WABA), La Leche League sangat mendukung dan terus melakukan berbagai upaya agar bayi-bayi di dunia mendapatkan ASI sebagai standar emas makanan bayi. Berbagai manfaat ASI dan menyusu bagi bayi sudah saya bahas di sini, sementara manfaat menyusui bagi Mama dan keluarga (lingkungan) bisa dibaca di sini. Tidak ada susu formula buatan yang dapat menyamai ASI dari segi kandungan gizi, enzim, faktor pertumbuhan, hormon, serta kandungan imunologis dan anti-inflammatory nya. Seperti yang saya pernah tulis bahwa ASI adalah cairan ‘hidup’ yang dapat menyesuaikan kebutuhan bayi mulai dari kolostrum untuk bayi baru lahir sampai berubah menjadi ASI matang setelah bayi berusia 2 minggu. ASI matang pun tiap detiknya berubah mulai dari Foremilk yang bening/encer berfungsi untuk melepaskan haus bayi, mengandung lactose yang bermanfaat untuk perkembangan otak bayi, beralih bertahap menjadi hindmilk yang lebih pekat, kaya kandungan lemak dan mengenyangkan bayi.

Kesuksesan menyusui memang harus dipersiapkan semenjak kehamilan, dilanjutkan dengan Inisiasi Menyusu Dini (IMD) selama minimum 1 jam pertama kelahiran bayi, dilanjutkan rooming in/rawat gabung Ibu dan bayi selama 24 jam tanpa intervensi pemberian cairan lain seperti susu formula, air gula dll tanpa indikasi medis/petunjuk dokter.

Pada beberapa kasus yang akan saya paparkan kemudian, ada beberapa kondisi di mana bayi memerlukan suplementasi/tambahan asupan lain, dengan kondisi bayi menyusu langsung pada Mama maupun tidak. Menurut WHO, hirarki/urutan asupan bagi bayi sejak lahir sampai 6 bulan pertama kehidupannya/siap menerima Makanan Pendamping ASI/PASI adalah sebagai berikut:

    1. Bayi menyusu langsung dari Mamanya.
    2. Bayi menerima ASI perah dari Mamanya.
    3. Bayi menerima ASI donor / ASI dari Mama menyusui lain.
    4. Susu formula.
    5. Cairan lainnya, misal air gula, air putih,dll.

Sangat jarang untuk bayi yang lahir dengan sehat dan cukup bulan memerlukan suplementasi. Saya kutip sedikit AAP Policy mengenai Suplementasi Rutin: Bayi baru lahir tidak boleh diberikan suplementasi (air, air gula, susu formula, dll) kecuali bila terdapat indikasi medis. Dengan informasi & latihan yang memadai, suplementasi sangat jarang diperlukan. Suplementasi dan pemberian empeng (pacifier) pada bayi harus dihindari dan bila terpaksa digunakan hanya boleh dilakukan ketika proses menyusui sudah berjalan dengan baik & lancar.

Hal ini sangat penting karena banyak sekali para Mama menyusui yang sehat (bayipun kondisinya sehat serta cukup bulan) ‘menyerah’ di awal, langsung buru-buru meminta ASI donor tanpa mengupayakan Manajemen laktasi semaksimal mungkin. Manajemen laktasi yang utama meliputi Posisi & Pelekatan serta teknik memerah baik itu perah menggunakan tangan (Hand Expression) maupun menggunakan alat perah (Breast Pump), juga apabila Mama dan bayi masih kesulitan menyusu maka teknik pemberian ASI perah juga perlu dikuasai. Kondisi Mama dan bayi akan menentukan apakah suplementasi sifatnya sementara / menetap.

Lalu kondisi bayi seperti apa yang memerlukan suplementasi? Berikut ini adalah beberapa kondisinya:

    1. Berat badan bayi turun >10% setelah hari ke-5 kelahiran karena berbagai sebab.
    2. BBLR / Bayi Berat Lahir Sangat Rendah (< 1500 gram) atau gestasi/ usia kehamilan <32 minggu.
    3. Bayi hipoglikemia karena gangguan adaptasi metabolik/peningkatan kebutuhan glukosa.
    4. Bayi yang mengalami dehidrasi ( kehilangan cairan akut) misal bayi kuning/Jaundice yang memerlukan PT/fototerapi/terapi sinar , walau sudah diupayakan menyusui langsung &memerah ASI tetap belum mencukupi.
    5. BAB bayi masih berupa mekonium >5 hari pasca kelahiran.
    6. Bayi yang mengalami Slow Weight Gain/pertumbuhan yang lambat serta Failure To Thrive (FTT) / Gagal tumbuh.
    7. Kelahiran multiple, kembar 2, 3 dst walau sudah diupayakan menyusui langsung&memerah tetap tidak mencukupi kebutuhan bayi-bayi tersebut.
    8. Bayi adopsi.
    9. Bayi yang menderita penyakit berat atau memiliki kelainan anatomi seperti bibir & langit-langit sumbing sehingga tidak dapat menyusui langsung.

Sementara dari pihak Mama pun ada beberapa kondisi Mama di mana Mama tidak dapat / tidak boleh memberikan ASI nya baik via menyusui langsung maupun ASI perah Mama. WHO dan UNICEF mengeluarkan dokumen Alasan Medis Menggunakan Pengganti ASI sebagai berikut:
A. Kondisi Mama yang dapat membenarkan alasan penghindaran menyusui secara permanen:
Infeksi HIV1 , jika pengganti menyusui dapat diterima, layak, terjangkau, berkelanjutan, dan aman (AFASS)

B. Kondisi Mama yang dapat membenarkan alasan penghentian menyusui untuk
sementara waktu

    1. Penyakit parah yang menghalangi seorang Mama merawat bayi, misalnya sepsis.
    2. Virus Herpes Simplex tipe 1 (HSV-1): kontak langsung antara luka pada payudara Mama dan mulut bayi sebaiknya dihindari sampai semua lesi aktif telah diterapi hingga tuntas.
    3. Mama yang sedang menjalani pengobatan berikut dan tidak ada pengganti yang
    aman:
    – Obat-obatan psikoterapi jenis penenang, obat anti-epilepsi dan opioid
    – Radioaktif iodin-131 & yodium atau yodofor topikal
    – Kemoterapi

Jadi ketika opsi ASI donor yang diperlukan & dipilih, perlu diketahui bahwa ada prosedur ketat yang harus dijalani (catatan: bagi yang beragama Islam ada hukum saudara sepersusuan yang perlu dipahami, saya akan singgung sedikit di akhir tulisan mengenai Bank ASI). Pemberian ASI donor tanpa melalui prosedur yang benar / Informal Sharing of Milk sangat berisiko. HIV, Hepatitis & virus-virus lain dapat ditularkan melalui ASI. Saat ini juga ada jenis/strain bakteri baru yang resistent terhadap obat (Antibiotika) dan sangat berbahaya yang bisa ditularkan melalui ASI. Walaupun seorang Mama meminta ASI donor dari Mama yang sudah dikenal/dari pihak keluarga sendiri, kondisi kesehatan Mama donor tersebut tidak dapat diketahui pasti tanpa melalui Screening karena walau Mama donor terlihat sehat, bisa jadi tubuh Mama tersebut sedang mengalami infeksi virus/bakteri tapi asymtomatic/tidak menunjukkan gejala. Oleh karena itu, Centers for Disease Control and Prevention (CDC) sangat melarang pemberian ASI donor tanpa melalui prosedur yang benar.

Sayangnya sampai saat ini di Indonesia belum ada RS yang melaksanakan prosedur Screening sesuai standar yang dilakukan Human Milk Bank/Bank ASI di negara-negara maju seperti HMBANA (Human Milk Bank of North America-organisasi non profit dan Mama donor tidak menerima bayaran). Selain itu biaya Screening kesehatan Mama, proses Screening ASI donor, pemrosesan dan penyimpanan membutuhkan biaya yang sangat tinggi.
Nah, bagaimana proses ASI donor tersebut? Yang pertama tentu saja Screening awal Mama menyusui. Apakah Mama tersebut sanggup memberikan ASI dengan syarat, bayi/anaknya sendiri tercukupi kebutuhan ASInya. Tahap terpenting selanjutnya adalah proses tanya jawab mengenai kondisi kesehatan Mama (calon) donor yang juga diklarifikasi oleh dokter yang menangani Mama donor. Mama menyusui tidak dapat menjadi Mama donor karena hal-hal berikut :

    1. Menerima transfusi darah dalam waktu 12 bulan terakhir
    2. Menerima transplantasi organ/jaringan dalam waktu 12 bulan terakhir
    3. Mengkonsumsi minuman keras lebih dari 2 ounces/60ml dalam 1 hari
    4. Mengkonsumsi obat-obatan dalam jangka panjang
    5. Mengkonsumsi vitamin/suplemen herbal dalam dosis tinggi
    6. Vegetarian murni dan tidak menkonsumsi suplemen vitamin B-12
    7. Menggunakan rokok & obat-obatan terlarang
    8. Pernah menderita penyakit Hepatitis, infeksi kronis seperti HIV, HTLV, TBC
    9. Memiliki partner sexual dalam 12 bulan terakhir yang beresiko menderita HIV, HTLV,
    Hepatitis, atau pengguna obat-obatan & menggunakan jarum baik jarum suntik/jenis lain untuk hal-hal lain seperti untuk tato / piercing

Kemudian Screening kesehatan tahap kedua adalah Mama donor menjalani serangkaian tes darah meliputi: HIV-1 , HIV-2, HTLV, Hepatitis B, Hepatitis C, dan syphilis.

Apabila Mama donor lolos dalam semua tahapan tersebut maka Bank ASI telah memiliki protokol sejak Mama donor memerah. Tahap pertama adalah menjaga kebersihan dimulai dari mencuci tangan dan alat pompa dengan bersih, sementara wadah ASIperah steril sudah disediakan oleh Bank ASI yang selanjutnya Mama akan membekukan ASIperah tersebut. Wadah ASIperah menurut standar Bank ASI adalah wadah selain plastik ASIperah karena plastik ASIperah lebih berisiko untuk robek/bocor, lemak lebih banyak menempel , serta lebih tinggi resiko kontaminasi . Ilustrasi di bawah ini adalah prosedur yang dilakukan di HMBANA (Human Milk Bank of North America):

    1. Scrubbing / membersihkan tangan
    Tim pasteurisasi ASI donor membersihkan tangan dengan sabun antimikroba sebelum menggunakan sarung tangan. Sarung tangan selalu dipakai mulai dari penerimaan ASI donor.

    2. Pouring / menuang
    Selanjutnya ASI donor dipindahkan/dituang dari wadah ASIperah ke gelas kaca khusus.

    3. Mixing & Pooling
    Setiap kelompok ASI donor (biasanya dari 3-5 donor) akan digabungkan agar komponen ASI terdistribusi dengan baik

    4. Filling bottles
    Setiap gelas wadah ASIperah diisi sebanyak 4 ounces (1 ounce = 29,57 ml) sebelum proses pasteurisasi

    5. Pasteurisasi dengan metoda Holder
    ASI yang berada di dalam wadah ASIperah no 3 dipanaskan di suhu 62,5C selama 30 menit dalam box khusus berukuran besar berisi air. Pasteurisasi dapat mematikan bakteri dan mempertahankan kandungan nutrisi ASI.

    6.Tes Laboratorium
    Setelah proses pasteurisasi selesai, maka akan diambil beberapa sampel untuk di tes kultur agar diketahui apakah terdapat bakteri. ASI yang terkontaminasi segera dibuang.

    7. Tahap akhir
    ASI yang telah dipasteurisasi dan dinyatakan berkondisi baik kemudian dibekukan kembali untuk kemudian didistribusikan sesuai kebutuhan.

DI bagian terakhir khusus bagi para Mama menyusui yang beragama Islam saya menyampaikan sedikit hal mengenai Fatwa Ulama berkaitan dengan Bank ASI. Kalau mengenai hukum saudara sepersusuan silahkan digali sendiri lebih lanjut. Fatwa Ulama dunia hampir semua menyatakan bahwa Bank ASI hukumnya haram karena tidak bisa dijaganya hukum saudara sepersusuan, jadi ada bahaya bahwa bayi kelak dapat menikah dengan saudara sepersusuan/anak dari Mama susunya.Begitu juga dengan Fatwa dari The Council of the Islamic Fiqh Academy yang dikeluarkan di Jeddah tahun 1985 mengenai Bank ASI menyatakan bahwa Bank ASI dilarang dalam Islam dan dilarang menerima ASI donor dari Bank ASI. Beberapa ilmuwan Muslim menyatakan bahwa daripada menggunakan format Bank ASI, alternatif lain adalah menggunakan istilah Milk Sharing/Sharing ASI.

Beberapa persyaratan Sharing ASI yang perlu menjadi perhatian sehingga hukum saudara sepersusuan tetap terjaga adalah sebagai berikut:

    1. Mama donor dibatasi memberikan ASI nya hanya untuk 1 anak saja.
    2. Tidak boleh mencampur ASI donor dari beberapa Mama donor.
    3. Semua ASI donor harus dilabel/diberi keterangan yang menyatakan identitas Mama donor secara lengkap & harus diinformasikan kepada keluarga penerima ASI donor. Baik Mama donor maupun keluarga penerima ASI donor menandatangani consent/surat pernyataan dan dilampirkan di akta kelahiran.
    4. Hanya bayi dari Mama dengan kontraindikasi medis (seperti yang sudah saya sampaikan di atas) atau Mama meninggal dunia dapat menerima ASI donor untuk jangka waktu yang lebih panjang dan Apabila Mama donor hanya memiliki 1 anak atau memiliki lebih dari 1 anak tapi berjenis kelamin sama maka ASI donor diupayakan diberikan kepada bayi dengan jenis kelamin yang sama.

Jadi benang merah yang bisa ditarik, bagi yang beragama Islam, Bank ASI hukumnya haram selama terjadinya pencampuran ASI donor dari lebih dari 1 sumber Mama donor, dan bila ingin menggunakan ASI donor dapat mengikuti langkah-langkah di atas baru dilanjutkan ke prosedur Bank ASI seperti HMBANA kecuali bagian Mixing & Pooling / tidak adanya pencampuran ASI donor dari lebih dari 1 Mama donor.

Semoga tulisan saya kali ini bermanfaat, Happy breastfeeding :)

24 Comments

  1. eka iswahyuni
    Eka Iswahyuni July 29, 2013 at 9:55 am

    Mbak Berliana, mau nanya ya. Aku WM, jadi setiap hari aku mompa untuk stok anak ku minum pas hari kerja. Umur anak ku 4,5 bulan dengan berat badan normal dan sehat. Tapi, eh tapi, hasil mompa ku sedikit. Sekali mompa dapetnya sekitar 50 – 80 mL aja. Selain itu aku sering rapat ke luar kantor dan susah sekali dapat waktu untuk mompa.

    Minggu lalu stok ASI beku ku abis, jadinya aku minta donor ASI ke temenku (2 orang) dan alhamdulillah bisa meng-cover kebutuhan baby ku. Aku coba mompa terus, tapi tetep aja kayaknya bakal kurang. What should i do ya, mbak? Boleh kah donor ASI nya berkelanjutan? Terima kasih :)

  2. monicapurba
    Fatimah Berliana Monika July 29, 2013 at 5:56 pm

    Hi Mba Eka,

    Panggil saya Monik saja ya:). Menerima donor ASI tanpa Screening alias Informal Milk Sharing kan tidak direkomendasikan, alasannya ada di tulisan saya ini. Solusinya ya optimalkan memerah terutama malam sampai dini hari ketika hormon Prolaktin sedang tinggi2nya.

    -Monik

  3. arika saputra
    Arika Noormala August 3, 2013 at 5:09 pm

    Mba monik lalu bagaimana solusinya jika mama kandung bner2 tidak bs mengeluarkan Asi?, pdhal sbagaimana kita ktahui kandungan Asi sangat jauh lbh baik dibanding sufor. Pengalaman sy dgn 4 anak asi sy, 1 baru meminta Asi sy ktika dia sakit dan jika mengkonsumsi Asi dia lbh cpat sembuh, 1 lagi anak asi sy ktika dia sakit hb-nya drop hingga memerlukan transfusi darah tp ttp tidak ada kenaikan namun ktika diberi Asi Hbnya bs naik drastis, sdgkan yg 2 lagi sy menolong diawal kelahirannya krn ibu mereka tdk bs mengeluarkan asi slama 3 hari pertama mereka lahir. Selama ini sy jg mengupayakan sll menjaga steril dlm proses pemerahan Asi, lalu bagaimana apa sy harus berhenti menolong?padahal sy punya keyakinan jk Allah memberi kelebihan maka berarti sy harus memberi. sy jg mengharuskan anak asi sy harus laki2, karna menjaga saudara sepersusuan anak2 asi saya dan juga meminta ktp dan kk mereka jd tetap saling tahu hingga dewasa nanti (berkaitan jika kelak sy punya anak perempuan). Jika sy berkaca pada riwayat Nabi muhammad jg waktu kecil punya ibu susu “Halimatus sa’diyah” bukannya minum susu unta atau sapi kan ya mba

  4. monicapurba
    Fatimah Berliana Monika August 3, 2013 at 11:27 pm

    Hi Mba Arika,

    95% BuSui bisa menghasilkan ASI dalam cukup yang cukup bahkan lebih, hanya 1 dari 1000 Ibu tidak bisa menghasilkan ASI dengan berbagai kondisi penyakit Ibu. Artinya… sangat jarang Ibu menyusui tidak bisa menghasilkan ASI.
    Ketika BuSui tidak bisa mengeluarkan ASI solusinya kan bukan buru2 memberikan ASI donor, yg utama cari penyebabnya dan segera atasi Manajemen Laktasinya. Ketika bayi dalam kondisi red flag membutuhkan asupan nah pilihannya kan apakah BuSui punya stok ASIp? Bila tidak ada maka pilih antara SuFor atau ASI donor. Menjawab pertanyaan utama Mba, dalam koridor medis harus dipilih dimana Benefit > Risk. Nah pemberian ASI donor tanpa prosedur yang benar seperti yg saya tulis Risk nya > Benefitnya. Alasannya kan sudah saya tulis juga. Jadi buat para BuSui yang ingin jadi pendonor ASI seperti Mba Arika bukan hanya masalah saudara sepersusuan bagi yg beragama Islam tapi juga yang penting : sudahkan Ibu pendonor melakukan Screening kesehatan dll seperti yang saya tulis? Sayangnya memang pemerintah belum mensupport biaya Screening ini sehingga ya kalau mampu BuSui mengeluarkan biaya sendiri.
    Sekedar berbagi pengalaman salah satu teman saya KL, seorang dokter yang menangani bayi prematur di NICU tanpa diketahui pihak RS , Ibu bayi tsb memberikan ASI donor dan akhirnya si bayi menderita reaksi alergi. Reaksi alergi ringan masih cepat teratasi, nah bagaimana dengan transfer penyakit? Tentu resikonya lebih besar lagi.

    Semoga paham ya Mba
    -Monik

  5. arika saputra
    Arika Noormala August 4, 2013 at 4:14 am

    Trimakasih byk mba monik atas tambahan infonya
    Para ibu susu normalnya sadar diri akan kondisi kesehatan dan penjagaan thd badan mereka (misalny pny pykit tbc/hiv,minum minuman keras,dan poin2 ygba monik sbutkan diatas).krn ibu susu ini tentu saja jg menyusui anak kandungnya tentunya naluri seorang ibu tidak akan mencelakakan anak kandungnya.
    Alhamdulillah sy terpenuhi syarat2 yg mba monik sebutkan untuk donor asi.
    Sy setuju skali dgn mba monik agar para ibu untuk bs menyusui anaknya sendiri.tp bbrp hal kdg membuat para ibu tdk dpt memenuhi kebutuhan asi anaknya.lalu apakah harus menyerah pada sufor?
    Sy termasuk org yg kontra dgn sufor,apalagi stlh membaca bbrp buku yg menjelaskan bahwa tubuh manusia kurang match dgn susu sapi.buku terbaru yg sy baca “the Myracle of enzym” karangan Hiromi sinya.profesor kebangsaan Amerika yg berdarah jepang.Hasil risetnya ketika membedah ribuan usus pasien yg rusak tryata mereka byk mengkonsumsi susu sapi dari kecil
    Bbrp org diberkahi dgn susu melimpah spt yg sy katakan sblmny berkelimpahan brati pny kewajiban membagi.
    Alangkah senangnya jk nanti Indonesia jg dpt menyediakan fasilitas uji lab asi agar kualitas asi benar2 terjamin
    Bayi setau saya lbh banyak alergi susu sapi dibanding asi mba.anak sy alergi jg si ktika sy mengkonsumsi seafood tp hanya gatal2 saja efeknya, bukan alergi yg spt ditimbulkan susu sapi
    Trjadi peristiwa di Kl mnrt sy kok kecil skali ya mba prosentasenya dibanding bayi yg menjadi membaik kondisinya karna mendpat donor asi.sy sudah buktikan sendiri jg pada anak penerima donor asi sy
    Tp bagaimanapun sy seneng skali sm tulisan mb monik,agar para ibu pendonor lbh aware untuk meningkatkan kualitas asinya

  6. monicapurba
    Fatimah Berliana Monika August 4, 2013 at 6:47 am

    Hi Mba Arika,

    Sadar diri akan kesehatan saja tidak cukup Mba, tetap harus dicek melalui Screening. Kalau boleh tau, berapa biaya untuk Screening HIV-1 , HIV-2, HTLV, Hepatitis B, Hepatitis C, dan syphilis di Indonesia seperti yang sudah Mba lakukan?
    Saya sendiri walau Konselor laktasi berusaha berimbang memberikan informasi dan part of my duty adalah menginformasikan para Ibu/keluarga untuk tidak anti sufor, karena pada kasus tertentu sufor adalah pilihan yang lebih baik. Buku Miracle of Enzyme sudah lama sekali (bertahun2 lalu) saya baca dan saya bahas bersama teman2 praktisi kesehatan dan banyak sekali pro kontra mengenai isinya dan dr Hiromi sendiri tidak melakukan proper research sesuai kaidah EBM (Evidence Based Medicine). Di FB Group GESAMUN (Gerakan Sadar Imunisasi) pernah dibahas panjang sekali soal ini. Link kalau ga mau group tsb:
    https://www.facebook.com/groups/GESAMUN/406444916096671/
    https://www.facebook.com/groups/GESAMUN/455162167891612/
    Betul bahwa sufor lebih sulit dicerna dan segudang manfaat ASI vs Sufor tapi tetap kembali kepada point saya sebelumnya setiap kondisi tetap mempertimbangkan Risk vs Benefit atas pilihan ASI donor vs Sufor.
    Duh maaf jadi OOT ya hehe

    -Monik

  7. arika saputra
    Arika Noormala August 5, 2013 at 8:59 am

    Mba monik wah makasih byk ya mba updetan ilmunya maklum ibu yg baru anak baru smpet baca bukunya Hiromi
    Wah brp ya mba dl tes2 lab itu dr persiapan menikah kan byk tu paketan dr lab cek ini itu buat memastikan bagus smua,trus cek lagi untuk program hamilnya.Maklum mba mau pny anak kan pengennya pny bibit unggul ya cek dl smua trmasuk tes Torch itu jg include.Ga inget brp ya totalnya.yang aku pkirim investasi jangka panjangnya jd ga aku inget2 hehe
    Klo ttg imunisasi anakku aku imunisasi.iya ni y mlah jd oot ke imunisasi wkwkwk
    Klo aku pendapat pakar baik dr hiromi erikar lebang dkk aku ambil yg mnrt insting seorang ibu benar dan cocok dgnku
    Klo perkara donor asi slama aku yakin klo sy sehat dan sudah mnjalani tes pyakit2 yg warning spt yg monik blg jg anak asi yg meminta donor aku rasa sgt membutuhkan asi aku tlg mba.pandanganku jg bersumber ke agama dmn Rosul jg mendapat asi dr ibu susu waktu beliau bayi bukannya minum sus sapi/unta/kambing,bahkan beliau smpe tgl bersama ibu susunya,apa yg dicontohkan Rosul tdk mungkin buruk bagi umatnya
    Aniwei seneng pny expert spt mba monik di Tum ini,jd bs pny wadah untuk sharing dan
    brainstorming

    Salam kenal mba monik
    Arika

  8. eka iswahyuni
    Eka Iswahyuni August 19, 2013 at 8:07 am

    thanks sarannya mbak Monik,,

    aku sekarang lagi ngebut mompa lagi supaya stok nya cukup terus. semangaatt :)

  9. momilk
    mommy milk August 23, 2013 at 10:11 am

    Hi Mba Monik,

    Terima kasih atas informasinya, sangat berguna dan informatif sekali.
    Mengutip tulisan mba yang :
    - Mama donor dibatasi memberikan ASI nya hanya untuk 1 anak saja.
    Bagaimana dengan trend sekarang ini yang banyak seorang ibu mempunyai stok ASIP yang melimpah di kulkas, dan ingin mendonorkan ASIPnya melalui twitter dan medsoc lainnya. Untuk yang beragama islam, memang ibu slalu pilih jenis kelamin yang sama kaya anaknya, karena akan menjadi saudara sepersusuan.

    dan satu lagi, kira-kira jika saya ingin minta donor ASIP dr seorang ibu, apa saja yg perlu saya tanyakan? Umur bayi yang berbeda ada pengaruhnya kah?

  10. monicapurba
    Fatimah Berliana Monika August 23, 2013 at 10:25 am

    Hi Momilk,

    Makin banyak jumlah anak donor kan makin sulit mengontrolnya.
    Syarat ideal Ibu donor kan sudah ada di tulisan saya. Paling tambahannya lebih baik jika usia bayi Ibu donor dekat/seumur dengan bayi Mba.

    -Monik

  11. mitsa
    mitsa September 26, 2013 at 10:01 pm

    u para bunda smua..sy kebanyakan ASIP,tadinya buat stok selama saya kerja,tp malah ga jadi masuk kerja lagi dan baby saya pun,4bln,tidak mau mimi dr botol,cup fedeer jg udah dicobain,tetep aja maunya dr mamanya.kalo ada yg kurang ASI bole hub sy aja,disarankan yg bayinya cewe ya,krn bayi saya jg cew hehehhe biar punya saudara sepersusuan

  12. bunda_rizma
    bunda_rizma October 4, 2013 at 10:02 am

    Pagi bunda smua…
    Begini, wkt anak sy u 5bulan, aku donor ASI ke baby pemilik rumah kontrakan kami. Saat itu ibunya dirawat di RS dan sy pny bny stok. Tidak bny donornya, namun saat itu blm bc artikel ini. Sy wkt melahirkan transfusi darah hampir 3kantorng. Yg artinya sy tdk memnuhi syarat mjd mama donor poin 1. Kira2 bgmn ya bunda?
    Sudah terlanjur donor, apa bs ada akibat fatal atau bgmn?
    Trims…

  13. monicapurba
    Fatimah Berliana Monika October 4, 2013 at 6:35 pm

    Dear Bunda Rizma,

    Yang pertama bila Mba beragama Islam lakukan pencatatan bahwa Mba sudah menjadi Ibu donor sehingga konsekuensi saudara sepersusuan sudah berlaku sejak Mba berikan ASI nya dulu. Berikan pula copy surat tersebut ke keluarga penerima ASI Mba tersebut.
    Yang kedua, bila Mba ada dana lebih lakukan screening kesehatan seperti dalam tulisan saya, seperti Hepatitis B, HIV dll.

    Semoga semuanya sehat selalu.
    -Monik

  14. idoes
    idoes October 7, 2013 at 9:35 pm

    dear bunda mitsa bole saya minta no hp ny , sy lg butuh donor asi baby saya permpuan usia 2bulan ,terima kasih.

  15. nisya
    nisya October 8, 2013 at 1:06 pm

    deaar bunda… saya butuh asi pendonor, anak saya perempuan,usia 3 bln… bila ada yg bersedia boleh hubungi saya di (08115034439) thanks :)

  16. mitsa
    mitsa October 9, 2013 at 2:37 pm

    Dear bunda nisya….maaf ni reply disini,sy posisi di bintaro,jaksel,jauh ya?kalo saya sebelumnya ada nyobain banyak makanan dan minuman u banyakin asi,soalnya buat stok kan, coba aja ni bun,barangkali bisa bantu
    1. Minum the sacret tea, bisa pesen,kalo mau ntar aq bantu pesenin
    2. Makan pare
    3. Sering makan semangka,krn kan banyak kandungan airnya
    4. Kacang ijo,rebus biasa aja,kasi jahe dikit
    5. Makan pepaya
    6. Vitamin laktafit,kalo ini sih resep dr dokter aq setelah aq kluar dr rs pasca lahiran
    Moga2 ada manfaatnya bun… n happy enjoy aja,krn kalo ga nyaman,asi kita juga kurang

  17. mitsa
    mitsa October 9, 2013 at 2:40 pm

    Dear bunda nisya….maaf ni reply disini,sy posisi di bintaro,jaksel,jauh ya?kalo saya sebelumnya ada nyobain banyak makanan dan minuman u banyakin asi,soalnya buat stok kan, coba aja ni bun,barangkali bisa bantu
    1. Minum the sacret tea, bisa pesen,kalo mau ntar aq bantu pesenin
    2. Makan pare
    3. Sering makan semangka,krn kan banyak kandungan airnya
    4. Kacang ijo,rebus biasa aja,kasi jahe dikit
    5. Makan pepaya
    6. Vitamin laktafit,kalo ini sih resep dr dokter aq setelah aq kluar dr rs pasca lahiran
    Moga2 ada manfaatnya bun… n happy enjoy aja,,coz kalo ga nyaman,asi kita juga kurang,selamat berjuang ya,pasti bisa :-) :-)

  18. monicapurba
    Fatimah Berliana Monika October 9, 2013 at 6:46 pm

    Dear Mba Idoes,

    Bisa di share kenapa butuh ASI donor?

    Dear Mba Mitsa,

    Sebenarnya Mama menyusui prinsipnya makan sehat seimbang n cukup cairan saja kok, gak usah ribet harus makan ini makan itu, konsumsi suplemen yang -katanya- bisa boost produksi ASI. Kan ASI itu hukumnya supply demand, makin banyak dikeluarkan dengan kondisi PD kosong makin banyak diproduksi. Saya pernah tulis soal Nutrisi Mama Menyusui di sini : http://theurbanmama.com/articles/nutrisi-untuk-mama-menyusui.html

    HTH
    -Monik

  19. mitsa
    mitsa October 10, 2013 at 9:47 pm

    Dear mba idoes,kalo mau boleh aj, 02199355528
    Mba monik, makasi infonya, mungkin krn sy terlalu kuatir ga bisa ngasi asi,jd saya kalap makan ini makan itu,tp sampe saat ini kebetulan yg saya makan lebih k buah dan sayur,jd ga ngrasa beban jg si,kebetulan sy juga suka,lagian sy ga mau ngulang kejadian kayak anak pertama sy,axell,4th,minum asix cuma sampe usia 5bln,sisanya pake sufor,kasian,daya tahan tubuhnya kurang, gampang sakit. Gitu dehh

  20. carlarae
    carlarae October 24, 2013 at 4:28 pm

    Dear moms,
    bagi yg perlu ASI, aku ada ASI berlebih. Baby-ku perempuan, usia 6 minggu. Udah stok sejak September. Kurang lebih sampai saat ini ada sekitar 40 botol. langsung saja hubungi aku melalui sms ke no hp 0812 1058 1487

  21. carlarae
    carlarae October 24, 2013 at 4:28 pm

    Dear moms,
    bagi yg perlu ASI, aku ada ASI berlebih. Baby-ku perempuan, usia 6 minggu. Udah stok sejak September. Kurang lebih sampai saat ini ada sekitar 40 botol. langsung saja hubungi aku melalui sms ke no hp 0812 1058 1487

  22. winbun2
    winbun2 December 13, 2013 at 5:16 pm

    Maaf, ada yang bahas soal donor asi harus seagama/boleh beda agama ga Monik?

  23. teta
    teta December 20, 2013 at 12:16 am

    Artikelnya bagus banget. Saya seorang muslim, dan saya setuju bahwa baiknya ibu donor asi hanya untuk satu bayi penerima donor saja.. Setuju lagi sama pertimbangan benefit dan risk di atas. Kebetulan saya bisa memberikan asi hingga 2 tahun pada anak saya jadi tidak perlu asi donor ataupun sufor, tapi saya gak antipati dengan sufor bila ada ibu yang memilih untuk memberikan sufor pada bayinya.
    Yakin dan percaya saja bahwa setiap ibu pasti punya asi untuk anaknya, gak terkecuali ibu adopsi. Tuhan Maha Pencipta.

  24. alyamoi
    alyamoi May 9, 2015 at 7:27 am

    Ada tidak y bun pendonor asi wilayah surabaya sidoarjo…

Post a Comment

You must be logged in to post a comment.