Asi & Vaksinasi, Perlindungan Terbaik Untuk Buah Hati

monicapurba
Berliana Monika , ST , MM Konselor Laktasi & La Leche League (LLL) Leader of Rochester South NY, US. Lulusan S1 Fakultas Teknik Sipil&Perencanaan ITB & S2 Magister Manajemen Universitas Indonesia.
Have question for our experts ?
Feel free to ask them here!

Berdasarkan data dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), diperkirakan setiap tahun 130 juta bayi dilahirkan di dunia dan 4 juta bayi meninggal dalam 28 hari pertama kehidupannya. 75% kematian bayi tersebut terjadi di minggu pertama kehidupan bayi dan 25% kematian bayi terjadi dalam 24 jam kehidupan bayi. Kematian bayi berkontribusi 40% dari total kematian balita (anak di bawah 5 tahun) di seluruh dunia. 67% kematian bayi di dunia terjadi di 10 negara dan yang utama di Afrika dan Asia.

Tentu saja fakta tersebut sangat menyedihkan. Apa sajakah penyebab utama kematian bayi-bayi tersebut? 3 penyebab utama kematian bayi di seluruh dunia yang pertama adalah karena menderita infeksi (terutama sepsis, pneumonia, tetanus, dan diare) – 36%. Penyebab kematian bayi yang kedua adalah kelahiran prematur – 28% dan yang ketiga adalah birth asphyxia (asphyxia artinya kekurangan oksigen. Birth asphyxia terjadi ketika otak bayi dan organ lainnya tidak mendapatkan cukup oksigen sebelum, selama atau setelah kelahiran) – 23%.

Pertanyaan selanjutnya: Bagaimana cara menurunkan angka kesakitan dan kematian terutama pada bayi, sejak bayi tersebut dilahirkan?

Apakah ASI saja cukup untuk melindungi bayi dari berbagai penyakit sehingga ada pihak-pihak yang mengeluarkan statement Imun Is ASI yang maksudnya ASI saja cukup, tidak perlu lagi vaksinasi?

Tulisan saya kali ini akan membahas mengenai hal ini.

Imunisasi adalah suatu upaya & proses untuk menimbulkan kekebalan/ imunitas terhadap penyakit. Imunisasi ada 2 macam yaitu Imunisasi pasif dan Imunisasi aktif.
Imunisasi pasif didapatkan ketika seseorang diberikan antibodi yang berasal dari luar tubuh. Walau Imunisasi pasif dapat memberikan perlindungan/proteksi saat itu, tapi efek Imunisasi pasif ini hanya temporer atau tidak berlangsung lama/dalam jangka waktu yang panjang. Beberapa contoh Imunisasi pasif misalnya bayi yang mendapatkan antibodi dari Ibunya melalui plasenta. Contoh lain, penyuntikan Imunoglobulin (misalnya Anti Hepatitis B, Anti hepatitis A, rabies).

Contoh lain imunisasi pasif adalah ASI. Berbagai keunggulan ASI pasti Mama sudah mengetahuinya (ASI yang terbaik untuk bayi & Mama). Sejak dilaksanakannya IMD (Inisiasi Menyusu Dini), bayi mendapatkan ASI awal/kolostrum yang jumlahnya sedikit tapi luar biasa manfaatnya untuk bayi. ASI tidak hanya memberikan nutrisi yang terbaik bagi bayi, tapi juga memberikan perlindungan pada bayi.



Di dalam kolostrum/ASI awal yang keluar hari pertama hingga sekitar hari ke empat pasca kelahiran, terdapat 100.000 hingga 5 juta lekosit /ml dan bertahap menurun sehingga ASI matang (pasca 2 minggu kelahiran) mengandung 1.000 – 5.000 lekosit /ml. Lekosit kita kenal sebagai sel darah putih yang membantu tubuh melawan infeksi. Selain itu ASI mengandung berbagai antibodi (M, A, D, G, E) dimana sIgA (Secretory Immunoglobulin A) yang jumlahnya paling banyak.

Dari berbagai penelitian, ASI dapat melindungi bayi dari beberapa penyakit seperti otitis media/infeksi telinga, penyakit pada saluran pernafasan (seperti batuk pilek/common cold), penyakit pada saluran pencernaan (seperti diare), ISK / infeksi saluran kemih.
Seperti yang telah saya sebutkan sebelumnya, kekebalan yang diberikan ASI itu hanya sementara, serta ASI tidak bisa merangsang tubuh bayi untuk membentuk antibodi sendiri. Selain itu perlindungan ASI tidak untuk semua penyakit, dengan kata lain, ASI tidak dapat melindungi bayi dari berbagai penyakit berat dan spesifik.

Gambar di bawah ini adalah contoh penyakit-penyakit spesifik/khusus yang tidak bisa dicegah hanya dengan memberikan ASI saja (cacatkarena polio, tetanus, pertussis/ batuk rejan, rubella, hib, cacar air, selain itu ada juga penyakit campak, meningitis, TB/ Tuberkulosis, dll).


Sumber: Canadian Immunization Awareness Program

Jenis Imunisasi yang kedua adalah Imunisasi aktif.
Imunisasi aktif didapatkan ketika tubuh mendapatkan paparan dari organisme suatu penyakit sehingga sistem kekebalan tubuh memproduksi antibodi untuk penyakit tersebut.
Paparan terhadap organisme suatu penyakit dapat terjadi melalui infeksi penyakit sebenarnya (hasilnya natural immunity) atau melalui dimasukannya organisme penyakit yang sudah dimatikan/dilemahkan melalui Vaksinasi (hasilnya vaccine-induced immunity). Imunisasi aktif sifatnya jangkapanjang bahkan bisa seumur hidup. Bisa dilihat dalam gambar di bawah ini bagaimana kekebalan aktif didapatkan. Tentu saja suatu pemikiran yang berisiko jika menunggu untuk sakit dulu agar mendapatkan kekebalan alami. Seperti gambar sebelumnya, banyak penyakit berat yang dapat menimbulkan kecacatan bahkan kematian. Vaksinasiadalah ‘shortcut’ atau jalan pintas untuk mendapatkan kekebalan aktif dengan risiko yang jauh lebih kecil (KIPI atau Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi umumnya ringan seperti demam atau sedikit bengkak di lokasi suntikan vaksin).


Istilah Vaksinasi itu sendiri sering disebut dengan Imunisasi. Dengan Vaksinasi (Imunisasi), sekitar 2-3 juta kematian anak di dunia dapat dicegah. Keuntungan Imunisasi dalam jangka panjang dan skala yang lebih luas adalah pemberantasan penyakit dari suatu daerah bahkan dunia. Sebagai contoh penyakit variola/cacar/smallpox yang sudah musnah (eradikasi) dari bumi sejak tahun 1979. Selain itu penyakit polio di beberapa negara sudah tidak ada dan badan kesehatan dunia sedang mengejar tercapainya eradikasi/ musnahnya penyakit polio di dunia. Gambar di bawah ini adalah contoh bukti keberhasilan program Vaksinasi dalam menurunkan angka kematian akibat berbagai penyakit yang sudah ada vaksinnya di US.


Sumber: Centers for Disease Control and Prevention (CDC)

Banyak yang bertanya kenapa vaksinasi diberikan pada usia yang sangat dini, bahkan sejak bayi lahir seperti pemberian vaksin Hepatitis B? Jawabannya, karena penyakit-penyakit yang dapat dicegah dengan pemberian vaksinasi biasanya menyerang bayi di awal kehidupannya, dimana sistem kekebalan tubuh bayi belum mampu melawan serangan kuman tersebut walau bayi masih membawa kekebalan dari Ibu (maternal immunity) dan menerima ASI. Misalnya saja vaksin campak diberikan saat bayi berusia 9 bulan, karena maternal immunity hanya sampai usia bayi 9 bulan, dan itupun sifatnya imunisasi pasif.
Selainitu, waktu pemberian vaksinasi juga disesuaikan dengan pola penyakit yang biasanya menyerang anak pada rentang usia tertentu, sehingga Vaksinasi dapat melindungi anak lebih awal sebelum penyakit tersebut menyerang anak. Dapat dilihat di bawah ini adalah Jadwal Imunisasi Anak Umur 0-18 tahun Rekomendasi IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia) 2011.

Apabila gambar tersebut kurang jelas sila download jadwal imunisasi tersebut di website IDAI.

Hal yang terakhir yang akan saya sampaikan adalah manfaat ASI dalam meningkatkan respon kekebalan dari vaksin. Dari beberapa penelitian ternyata bayi-bayi yang menerima ASI dan vaksinasi Hib, tetanus, BCG kadar antibodinya lebih tinggi dibandingkan dengan bayi-bayi yang menerima vaksinasi tersebut dan tidak/kurang mendapatkan ASI.

Semoga Mama paham bahwa ASI saja tidak cukup untuk melindungi bayi dari berbagai penyakit. Jadi memberikan ASI & Vaksinasi kepada anak-anak kita adalah salah satu upaya kita untuk melindungi generasi penerus.

31 Comments

  1. Sri Hastuti Bur
    Sri Hastuti Bur December 18, 2013 at 10:41 am

    Mbak, makasi banget atas informasinya.
    Anak saya usia 6 bulan 15 hari alhamdulillah sudah diimunisasi wajib dan tambahan seperti Rotavirus dan PCV. Saya dan suami berniat memberikan vaksinasi yang lengkap. Jenis imunisasi terus bertambah ya mbak seiring perkembangan zaman. Saya harap apa yg sudah saya lakukan mampu melindungi anak saya dari penyakit yang semakin banyak dan kompleks.

  2. monicapurba
    Fatimah Berliana Monika December 18, 2013 at 6:04 pm

    Dear Mba Sri Hastuti,

    Waduh terharu saya :).. Semoga banyak orang tua yang berpikiran seperti Mba dan suami ya..
    Iya bener banget ilmu, teknologi terus berkembang, termasuk dalam hal vaksinasi. Yang masih terus dikembangkan itu Vaksin Demam Berdarah yang kabarnya sulit sekali untuk dibuat. Kita doakan saja dimudahkan para ilmuwan dalam mengembangkan vaksin2 baru ya Mba.. Aamiin

    -Monik

  3. monicapurba
    Fatimah Berliana Monika December 19, 2013 at 6:15 am

    Dear Mamas,

    Berikut ini info dari CDC Released: December 09, 2013: Measles in Indonesia

    Sedihnya ada report khusus dari Indonesia :(

    Yuk yuk gandengan tangan Edukasi, sebarkan informasi yang benar dan berimbang mengenai Imunisasi – dengan cara yang wise & elegan ya , ga perlu twitwar-FB war dan war2 lain deh. Pikirkan keputusan kita bukan hanya untuk kepentingan anak kita tapi juga untuk community . Ingat ada kelompok anak2 yang kurang beruntung walaupun ingin menerima vaksinasi tapi tidak bisa seperti pada kasus2 Immunocompromised .

    What is the Current Situation?

    As of November 11, 2013, the World Health Organization has reported more than 6,300 confirmed measles cases in Indonesia during 2013. In August 2013, a US traveler returned from Indonesia with measles and spread the disease in a Texas community. In October, five Australians were diagnosed with measles after returning from Bali.

    What is measles?

    Measles is a disease caused by a virus that is spread through the air by breathing, coughing, or sneezing. Measles virus is highly contagious and can remain so for up to 2 hours in the air or on surfaces. Symptoms of measles are rash, high fever, cough, runny nose, and red, watery eyes. Some people who become sick with measles also get an ear infection, diarrhea, or a serious lung infection, such as pneumonia. Although severe cases are rare, measles can cause swelling of the brain and even death. Measles can be especially severe in infants and in people who are malnourished or who have weakened immune systems (such as from HIV infection, cancer, or from certain drugs or therapies).

    Measles remains a common disease in many parts of the world, including Europe, the Middle East, Asia, the Pacific, and Africa. In the United States, most measles cases result from international travel. The disease is brought into the United States by people who get infected in other countries. Measles outbreaks can result when returning travelers spread the disease to people who have not been vaccinated or have not had measles as a child. Anyone who is not protected against measles is at risk of getting infected when he or she travels internationally.

    Selengkapnya :

    http://wwwnc.cdc.gov/travel/notices/watch/measles-indonesia

    Salam prihatin – Monik

  4. elzahra
    elzahra December 19, 2013 at 10:22 am

    thanks mba monik….
    Subhanallah

  5. rikavega
    rikavega December 19, 2013 at 9:40 pm

    jazakillah mbak monik ^^

  6. azaleashazs
    azaleashazs December 24, 2013 at 11:51 am

    setujuhhhh bgt..membukakan pikiran kolot kl ASI adalah salah satu mekanisme utk pertahanan tubuh..tp bukan segalanya..catet :) tks 4 sharring mom ^^

  7. Yunellia
    Yunellia December 26, 2013 at 3:08 pm

    Thanks mba informasinya. Setuju 100%, bila setiap bayi saat ini mendapat asi dan vaksinasi lengkap, Insya Allah generasi mendatang akan jauh lebih sehat dan berkualitas tentunya. By the way, dr laporan cdc tersebut, artinya turis dr us dan australia tersebut blm mendapat vaksin waktu bayi, mungkin produk jadul ya.

  8. monicapurba
    Fatimah Berliana Monika December 26, 2013 at 6:41 pm

    Dear Mba Yunellia,

    Vaksin MMR dewasa sebanyak 2x sangat disarankan untuk dilengkapi, apalagi bila akan melakukan perjalanan internasional. CDC sudah mengeluarkan rekomendasi cacing disarankan untuk memasuki suatu negara. Misal ke negara 4 musim selain wajib Vaksin MMR juga Influenza. Ke Saudi Arabia wajib vaksin Meningitis dan Influenza. Beberapa negara wajib vaksin Yellow fever. Dll..

    -Monik

  9. Yunellia
    Yunellia December 27, 2013 at 12:22 am

    Mba Monik, tks info tambahannya. Iya bener, vaksin mmr jg penting untuk calon ibu hamil yg belum mempunyai kekebalan thd rubella, sebagai tindakan preventif thd campak rubella. Campak rubela berbahaya utk ibu hamil karena virus rubella dapat merusak janin yg sedang dikandung. Janin yang terinfeksi rubella mungkin akan lahir dengan kecacatan ganda seperti buta, tuli, kelainan jantung dan keterlambatan mental. Sayangnya di Indonesia campak rubella belum menjadi perhatian depkes. Anak kedua saya terinfeksi rubella sejak dari kandungan, sehingga lahir dengan kondisi mata kiri katarak, jantung bocor dan penyempitan, gangguan pendengaran berat, pengapuran otak dan fungsi hati sgot sgpt di atas normal. Dari pengalaman ini, saya selalu menyarankan vaksin mmr untuk calon ibu hamil dengan tes torch sebelumnya. Dengan bbrp teman senasib sy sedang berusaha menarik perhatian depkes agar ikut aktif utk mengkampanyekan bahaya rubella dan pencegahannya, dengan mendukung program dari Measles Rubella Initiative yg dibentuk oleh bbrp badan kesehatan dunia diantaranya WHO dan CDC. Untuk membentuk generasi mendatang yang lebih baik, selain imunisasi utk bayi, rang dewasa pun perlu imunisasi yg direkomendasikan. Sebenernya ingin sharing pengalaman saya, ttp sy tdk bisa akses submit article.

  10. monicapurba
    Fatimah Berliana Monika December 27, 2013 at 1:34 am

    Dear Mba Yunellia,

    Turut prihatin ya dan senang Mba yg termasuk peduli untuk mengkampanyekan pentingnya Vaksinasi dewasa. FYI saya termasuk dalam Tim Medis Gerakan Pranikah.org, yg Meng Edukasi masyarakat berbagai pengetahuan yg perlu dipersiapkan sebelum menikah. Salah satunya dalam hal kesehatan ya Screening dan Vaksinasi dewasa (penekanan pada vaksin sebelum hamil). Contoh tulisan saya dan teman2 saya yg berprofesi sebagai dokter (salah satu nya ada tulisan ahli Vaksin /Vaccinologist, dr Dirga Rambe, buka section medis : http://www.pranikah.org.

    Bila Mba mau maka Sharing Mba bisa diemail ke saya untuk diterbitkan di web Pranikah.org. Email saya : [email protected] (at) gmail.com

    -Monik

  11. baiq_intan
    baiq_intan December 27, 2013 at 7:26 am

    Alhamdulillah,terima kasih mbak monik.
    Hanya saja karena kami ditugaskan di kupang.Beberapa vaksin seperti Rotavirus dan PCV entah kenapa tidak masuk disini waktu saya ke dsa.Semoga saat kami mudik ke jawa bisa menyempatkan waktu untuk imunisasi susulan.

  12. monicapurba
    Fatimah Berliana Monika December 29, 2013 at 11:12 pm

    Dear Mamas,

    Sekedar tambahan info mengenai Jadwal kejar imunisasi, tulisan di FB saya sbb :

    Dear Smart Parents (Sps) ,

    Berhubung minggu2 terakhir ini media sosial “ramai” soal Imunisasi, maka mau menjelaskan sedikit mengenai Catch Up Immunization Schedule.

    Sebelumnya maaf untuk yang minta tag, share baru bisa saya lakukan semingguan lagi karena saya akan menghadiri Muktamar IMSA (Indonesia Muslim Society in America (IMSA) ) 21-26 Dec 2013 di Kentucky , Insya Alloh.

    Sebelum kita bicara apa itu Catch up immunization schedule maka silahkan para SPs memeriksa kembali kelengkapan imunisasi anak2nya sejak lahir. Jadwal Imunisasi Anak IDAI 2011 yang bisa didownload di sini :

    http://idai.or.id/wp-content/uploads/2013/02/Jadwal_Imunisasi_IDAI2011.pdf

    Karena satu dan lain hal, banyak bayi dan anak2 tidak menerima Imunisasi sesuai jadwal direkomendasikan (bahkan saya pernah mendapat informasi orang tua yang sebelumnya anti vaksin kemudian sadar dan setuju untuk memberikan vaksinasi kepada anak2nya).

    Kemudian timbul pertanyaan : Bila sudah terlambat apakah masih bisa mendapatkan Vaksinasi yang tertinggal tersebut? Nah saat itulah Sps perlu paham yang namanya Catch Up Immunization Schedule atau dalam bahasa Indonesianya adalah Jadwal Kejar Imunisasi.
    Sayangnya setau saya (CMIIW ya) sampai saat ini IDAI belum/tidak mengeluarkan Jadwal Kejar Imunisasi seperti CDC (Centers For Disease Control & Prevention). Maka dalam tulisan ini saya mengulas sedikit Catch Up Immunization Schedule CDC yang terbaru yaitu 2013.

    CDC mambagi 2 kategori Jadwal Kejar Imunisasi Anak, yaitu untuk anak Usia 4 bulan – 6 tahun dan 7 tahun sampai 18 tahun. Saya bahas yang kelompok pertama berhubung saya lebih banyak berurusan dengan bayi dan anak2.

    Sekilas Sps bisa melihat Tabel Kejar Imunisasi di gambar ini atau membuka link CDC ini :

    http://www.cdc.gov/vaccines/schedules/hcp/imz/catchup.html

    Kekurangan dari Jadwal Kejar Imunisasi CDC adalah rekomendasi tersebut tidak berlaku untuk semua negara, oleh karena itu jenis rekomendasi vaksinnya tidak lengkap seperti tidak adanya vaksin BCG, Vaksin Campak , Polio Oral (OPV) dalam daftar (catatan : bayi2 di US sudah tidak perlu lagi vaksin BCG bertolak belakang dengan Indonesia di mana Vaksin BCG adalah vaksin dasar & wajib mengingat Indonesia masih menjadi negara endemis TB/Tuberkulosis, juga Amerika Serikat sudah bebas Polio makanya menggunakan IPV bukan OPV).

    Saya paparkan beberapa daftar vaksin dalam Rekomendasi Jadwal Kejar Imunisai CDC 2013 (selengkapnya silahkan download tabelnya dari link yang saya berikan di atas).

    1. Vaksin Hepatitis B
    - Lengkapi sampai 3 seri
    - Dosis 1 ke dosis ke2 selangi/interval 4 minggu, sementara dosis 2 ke dosis 3 selang 8 minggu & paling tidak 16 minggu pasca dosis pertama
    - Umur minimum untuk dosis terakhir (dosis 3 ) adalah usia 24 minggu

    2. Vaksin Rotavirus
    - Umur maksimun untuk dosis 1 adalah : 14 minggu 6 hari
    - Vaksin ini tidak boleh diberikan bila bayi sudah berumur >= 15 minggu 0 hari
    - Umur maksimum untuk dosis terakhir adalah : 8 bulan 0 hari
    - Jika menggunakan RV-1 (Rotarix) pada dosis 1 dan 2 maka tidak perlu lagi memberikan dosis 3

    3. Vaksin DPT / DTaP
    - Dosis 1 ke dosis ke2 selangi/interval 4 minggu, sementara dosis 2 ke dosis 3 selang 4 minggu . Dosis 3 ke dosis 4 selang 6 bulan, Dosis 4 ke dosis 5 selang 6 bulan
    - Dosis ke-5 (Booster) tidak perlu jika dosis keempat selesai dilaksanakan saat usia >= 4 tahun

    4. Vaksin MMR
    - Dosis 1 ke dosis 2 selangi/interval 4 minggu
    Vaksin MMR sangat disarankan untuk dilengkapi bila akan melakukan perjalanan internasional. Baru saja share dari CDC bahwa terjadi kasus Campak di US pasca warga US yang melakukan perjalanan ke Indonesia

    http://wwwnc.cdc.gov/travel/notices/watch/measles-indonesia

    5. Vaksin Cacar air/Varicella
    - Dosis 1 ke dosis 2 selangi/interval 3 bulan

    6. Vaksin Hepatitis A
    - Dosis 1 ke dosis 2 selangi/interval 6 bulan

    Semoga bermanfaat , silahkan selengkapnya baca link dan footnote nya ya…

    https://www.facebook.com/photo.php?fbid=10202739379471477&set=a.1070999501093.13218.1409280466&type=1&theater

    -Monik

  13. Kaditha
    Kaditha December 30, 2013 at 12:27 pm

    mba monik, anak saya belum vaksin Hep B semenjak lahir sekarang 12hari..apakah terlambat untuk vaksin?karena sebelumnya dia disinar karena bilirubin tinggi menurut dsa pemberian vaksin ditunda sampai nilai bili normal..

  14. monicapurba
    Fatimah Berliana Monika December 30, 2013 at 6:41 pm

    Dear Mba Kaditha,

    Wah ikut prihatin ya. Berapa kadar bilirubinnya sehingga harus disinar?
    Menurut CDC : Hepatitis B Vaccine Contraindications and Precautions
    Severe allergic reaction to a vaccine component or following a prior dose
    Moderate or severe acute illness

    Ok yang penting sekarang segera kejar pemberian Vaksin Hepatitis B yang pertamanya. Nanti dosis 2 yang di jadwal IDAI usia 1 bulan dimundurkan jadi interval 4 minggu dari pemberian dosis pertama ya.

    HTH
    -Monik

  15. elforeni
    MeLa naiBaHo January 3, 2014 at 2:34 pm

    dear mba monik,
    aq masih agak bingung dengan penjelasan point 2 vaksin rotavirus.
    pertanyaan pertama
    anak pertama masih pakai panduan imunisasi 2008 dan belum ada imunisasi rotavirus, sekarang usia 3y11m, apakah berpengaruh?
    kedua
    kalau lihat tabel imunisasi 2011, imunisasi ini diberikan umur 2,4 dan 6 bulan tetapi penjelasan di atas apa maksudnya pemberian dosis 1 maksimum umur 14w5d?

    mohon informasinya

    thx

  16. monicapurba
    Fatimah Berliana Monika January 3, 2014 at 7:54 pm

    Dear Mba MeLa naiBaHo,

    Ya kalau sudah usia 3y11m tidak bisa diberi Vaksin Rotavirus lagi. Pengaruhnya ya anak tidak terproteksi dari Penyakit GE akibat virus Rotavirus.

    Soal jadwal, maksudnya jadwal rekomendasi untuk Vaksin Rotavirus itu usia 2, 4 dan 6 bulan.
    Sementara bila terlambat atau lewat usia 2 bulan belum diberikan Vaksin Rotavirus dosis pertama maka usia maksimum bisa diberikan vaksin rotavirus dosis pertama ya usia 14 minggu 6 hari alias sekitar usia 3,5 bulan. Repeat: bila setelah usia 3,5 bulan BELUM divaksin Rotavirus maka TIDAK bisa lagi diberikan/dikejar.

    Semoga paham ya:)
    -Monik

  17. Kaditha
    Kaditha January 4, 2014 at 9:06 am

    tx mba monik atas jawabannya, kmrn nilai bili 15,5 disinar 24jam turun menjadi 11..4 hari kemudian kontrol langsung vaksin Hep B dan polio..

  18. Sri wahyuning
    Sri wahyuning January 5, 2014 at 7:57 am

    info nya sangat bermanfaat sist… izin share yah :)

    [Heart]7 kemudahan berbelanja sayuran[Heart]

    1. Pesan hari ini melalui tlp/sms..pesanan diantar besok pagi

    2. Lebih cepat & hemat

    3. Tidak perlu repot cari tukang sayur

    4. Bukan barang freezer atau stock gudang, tapi langsung beli dari pasar

    5. Pembayaran dilakukan setelah pesanan diantar

    6. Tersedia semua jenis Sayuran, buah-buahan, lauk pauk

    7. Free ongkir utk wilayah lebak bulus, cilandak, ciputat, cirendeu, pd cabe, fatmawati, dan sekitarnya

    Info&pemesanan :
    - 0818829820/081399386687
    - Wechat&Line ID : pesanantarsayuran

    Follow our twitter :
    @sayurpesanantar

    email & fb :[email protected]
    fb fanpage : facebook.com/sayuranpesanantar

  19. mama aliya
    mama aliya February 5, 2014 at 12:04 pm

    Mba fatimah saya mau tanya bagaimana dengan vaksinasi PCV? Aliya (8m) sampai sekarang belum vaksinasi. Saya sudah berencana di umur 4m (sebenarnya terlambat). Beberapa kali pada saat jadwalnya vaksinasi PCV, aliya dalam kondisi sakit (panas tinggi, batuk atau pilek) sehingga diundur terus. Adakah batas waktunya?
    Mengenai vaksinasi pranikah, saya tidak melaksanakannya. Apakah masih harus dilaksanakan walaupun telah memiliki 1 anak? saya masih berencana untuk hamil lagi. Terima kasih.

  20. monicapurba
    Fatimah Berliana Monika February 6, 2014 at 3:05 am

    Dear Mama Aliya,

    Silahkan baca tulisan saya soal Catch up vaccination, bisa print original dokumennya untuk bahan diskusi dengan dsa.

    https://www.facebook.com/photo.php?fbid=10202739379471477&set=pb.1409280466.-2207520000.1391630655.&type=3&theater

    Mengenai vaksin dewasa ya penting banget untuk dilengkapi. Silahkan baca tulisan saya ini, di bagian akhir ada mengenai jadwal Imunisasi dewasa PAPDI.

    http://pranikah.org/pranikah/cek-kesehatan-sebelum-menikah/

    HTH

    -Monik

  21. imme_hutajulu
    imme_hutajulu April 1, 2014 at 5:00 pm

    dear mbak monik, anak saya divaksin rotavirus (rotarix) dosis 1 kalau saya hitung-hitung sudah lewat 17 minggu. artinya tak ada gunanya lagikah mbak?

  22. monicapurba
    Fatimah Berliana Monika April 3, 2014 at 5:34 pm

    Dear Mba Imme Hutajulu,

    Sampai saat ini saya belum ketemu referensinya yang menginformasikan apakah sudah tidak efektif sama sekali atau berkurang sampai sekian % efektifitasnya. Kalau sudah ketemu saya infokan kembali ya.

    -Monik

  23. sweetbunny
    sweetbunny May 20, 2014 at 12:28 pm

    Mba monik, baru saja kemarin ini teman saya bilang bahwa pemberian vaksin terlalu banyak bagi anak menimbulkan hyper ? telat bicara. terus terang mendengar ini saya sedikit kaget… bukannya makin banyak vaksin yg kita berikan, harapan saya bisa mencegah anak saya dr sakitnya.

    Bagaimana menjelaskan hal ini pada teman saya ya…

    Krn papa saya pernah nyeletuk yg membekas di hati juga, ga ada vaksin yg mahal, buat anak segitu ya tdk mahal… dan setelah saya pikir2 lagi, bener juga ya… sebisa mungkin dicegah dari awal… cuma apakah bener tuh makin banyak vaksin ada efek negatifnya???

    makasih mbak

  24. monicapurba
    Fatimah Berliana Monika May 20, 2014 at 4:25 pm

    Dear Mba Sweet bunny (siapa nama panggilannya ? :) ),

    Waduh mitos salah tuh soal pemberian vaksin terlalu banyak efek sampingnya seperti itu.

    Coba baca ini deh ya, Multiple Vaccine safety dari CDC, berikan ke temannya juga ya..

    Quote :

    Frequently Asked Questions about Multiple Vaccinations and the Immune System
    On this Page
    How many vaccines does CDC recommend for children?
    Why does CDC recommend that children receive so many vaccinations?
    Why are these vaccines given at such a young age? Wouldn’t it be safer to wait?
    I’ve heard people talk about “simultaneous” and “combination” vaccines. What does this mean? Why are vaccines administered this way?
    Is simultaneous vaccination with multiple vaccines safe? Wouldn’t it be safer to separate vaccines and spread them out, vaccinating against just one disease at a time?
    Can so many vaccines, given so early in life, overwhelm a child’s immune system, suppressing it so it does not function correctly?
    Related Links
    Related Scientific Publications
    How many vaccines does CDC recommend for children?
    Currently, CDC recommends vaccination against 16 vaccine preventable diseases for children.

    Why does CDC recommend that children receive so many vaccinations?
    Vaccines are our best defense against many diseases, which often result in serious complications such as pneumonia, meningitis (swelling of the lining of the brain), liver cancer, bloodstream infections, and even death. CDC recommends vaccinations to protect children against 16 infectious diseases, including measles, mumps, rubella (German measles), varicella (chickenpox), hepatitis B, diphtheria, tetanus, pertussis (whooping cough), Haemophilus influenza type B (Hib), polio, influenza (flu), and pneumococcal disease.

    Why are these vaccines given at such a young age? Wouldn’t it be safer to wait?
    Children are given vaccines at a young age because this is when they are most vulnerable to certain diseases. Newborn babies are immune to some diseases because they have antibodies given to them from their mothers. However, this immunity only lasts a few months. Further, most young children do not have maternal immunity to diphtheria, whooping cough, polio, tetanus, hepatitis B, or Hib. If a child is not vaccinated and is exposed to a disease, the child’s body may not be strong enough to fight the disease.

    An infant’s immune system is more than ready to respond to the very small number of weakened and killed infectious agents (antigens) in vaccines. From the time they are born, babies are exposed to thousands of germs and other antigens in the environment and their immune systems are readily able to respond to these large numbers of antigenic stimuli.

    Top of page

    I’ve heard people talk about “simultaneous” and “combination” vaccines. What does this mean? Why are vaccines administered this way?
    A combination vaccine consists of two or more different vaccines that have been combined into a single shot. Combination vaccines have been in use in the United States since the mid-1940′s. Examples of combination vaccines in current use are: DTaP (diphtheria-tetanus-pertussis), trivalent IPV (three strains of inactivated polio vaccine), MMR (measles-mumps-rubella), DTaP-Hib, and Hib-Hep B (hepatitis B). Simultaneous vaccination is when more than one vaccine shot is administered during the same doctor’s visit, usually in separate limbs (e.g. one in each arm). An example of simultaneous vaccination might be administering DTap in one arm or leg and IPV in another arm or leg during the same visit.

    Giving a child several vaccinations during the same visit offers two practical advantages. First, we want to immunize children as quickly as possible to give them protection during the vulnerable early months of their lives. Second, giving several vaccinations at the same time means fewer office visits. This saves parents both time and money, and may be less traumatic for the child.

    Top of page

    Is simultaneous vaccination with multiple vaccinations safe? Wouldn’t it be safer to separate vaccines and spread them out, vaccinating against just one disease at a time?
    The available scientific data show that simultaneous vaccination with multiple vaccines has no adverse effect on the normal childhood immune system. A number of studies have been conducted to examine the effects of giving various combinations of vaccines simultaneously. These studies have shown that the recommended vaccines are as effective in combination as they are individually, and that such combinations carry no greater risk for adverse side effects. Consequently, both the Advisory Committee on Immunization Practices and the American Academy of Pediatrics recommend simultaneous administration of all routine childhood vaccines when appropriate. Research is underway to find methods to combine more antigens in a single vaccine injection (for example, MMR and chickenpox).

    Top of page

    Can so many vaccines, given so early in life, overwhelm a child’s immune system, suppressing it so it does not function correctly?
    No evidence suggests that the recommended childhood vaccines can “overload” the immune system. In contrast, from the moment babies are born, they are exposed to numerous bacteria and viruses on a daily basis. Eating food introduces new bacteria into the body; numerous bacteria live in the mouth and nose; and an infant places his or her hands or other objects in his or her mouth hundreds of times every hour, exposing the immune system to still more antigens. When a child has a cold they are exposed to at least 4 to 10 antigens and exposure to “strep throat” is about 25 to 50 antigens.

    Adverse Events Associated with Childhood Vaccines, a 1994 report from the Institute of Medicine, states: “In the face of these normal events, it seems unlikely that the number of separate antigens contained in childhood vaccines …would represent an appreciable added burden on the immune system that would be immunosuppressive.”

    http://www.cdc.gov/vaccinesafety/vaccines/multiplevaccines.html

    HTH
    -Monik

  25. laticia
    laticia August 2, 2014 at 11:04 am

    Selamat siang mbak monic,saya mau tanya soal vaksin rotavirus dan pneumokokus. anak saya sekarang berusia 4 bulan, dan dijadwalkan oleh dokter untuk vaksin nya pas umur baby 3 bulan, yang mau saya pertanyakan apakah bermasalah apabila program vaksin nya terlambat seperti ini mbak. makasih dan mohon saran nya..

  26. monicapurba
    Fatimah Berliana Monika August 2, 2014 at 1:32 pm

    Dear Mba Laticia

    Silahkan pelajari tulisan saya soal Jadwal Kejar Imunisasi:

    https://m.facebook.com/photo.php?fbid=10202739379471477&id=1409280466&set=a.1070999501093.13218.1409280466&source=43

    -Monik

  27. laticia
    laticia August 2, 2014 at 3:07 pm

    wah makasih banget ya mba.. tapi saya agak kurang paham dengan yang Rotavirus.. umur anak saya sekarang kan 16minggu 3 hari.. sedangkan dijadwal yang mbak berikan itu dijelaskan kalau rotavirus tidak boleh diberikan untuk > 15minggu.. boleh mohon penjelasan nya .. makasih ya mbak..

  28. monicapurba
    Fatimah Berliana Monika August 2, 2014 at 6:47 pm

    Mba Laticia,

    Kan saya tulis dosis pertama vaksin Rotavirus maksimal usia bayi 14 minggu 6 hari atau setelah bayi usianya lewat dari 14 minggu 6 hari maka Vaksin Rotavirus dosis pertama tidak bisa diberikan, seperti anak Mba.

    -Monik

  29. laticia
    laticia August 3, 2014 at 5:53 pm

    makasih ya mbak atas infonya mbak… dan oh ya 1 lagi ya mbak hehe maaf rewel mbak, bekas imunisasi BCG anak saya kan nanahnya pecah sendiri mbak dan belum keluar semua eh udah kering.. itu gimana ya mba mau dipencet sampai bersih atau bagaimana ya , makasih banget ya mbak..

  30. monicapurba
    Fatimah Berliana Monika August 3, 2014 at 9:56 pm
  31. laticia
    laticia August 4, 2014 at 1:55 pm

    sekali lg mksh infonya monik…

Post a Comment

You must be logged in to post a comment.