Bahasa Ibu Sebagai Kunci Pengembangan Mental Tools

aldilenggana
Have question for our experts ?
Feel free to ask them here!
dr. Rinaldi Lenggana

Pendidikan: Fak Kedokteran Umum UKM Bandung. ’96 dan S2 Unika Soegijapranata Semarang ’07 Konsentrasi Magister Hukum Kesehatan.

General Practitioner dan PNS Dinkes Sumedang, PKM DTP Jatinangor, Sumedang (2004-sekarang).

“That you may be strong be a craftman in speech for the strength of one is the tounge and the speech of one is mightier than all fightings”
~Ptahhotep (written 5.000 years ago)

Orangtua memahami pentingnya pendidikan sebagai fondasi sukses. Namun sayangnya kebanyakan orangtua kurang kritis dan hanya mengikuti trend yang sedang “in”. Salah satunya adalah mengenai bahasa.

Orangtua dan pendidik mempunyai tujuan yang baik dan mulia. Namun sayangnya mereka tidak menyadari bahwa persepsi mereka mengenai sukses didasari oleh asumsi yang salah. Asumsi adalah sesuatu yang diyakini sebagai hal yang benar tanpa didukung oleh data-data yang valid. Asumsi yang salah selanjutnya mempengaruhi persespsi. Persepsi ini kemudian menjadi koridor berpikir yang menentukan arah dan hasil proses pikir mereka.

Nah, kembali ke masalah bahasa. Sebagai orangtua, pendidik, pembicara publik, penulis buku, dosen psikologi, dan juga seorang terapis saya banyak menemukan kasus anak yang ”hang” karena harus memenuhi ambisi dan tuntutan orangtua. Banyak orangtua yang bangga bila anak mereka sejak usia belia telah bisa cas cis cus (baca:berbicara) minimal bahasa Inggris atau kalau bisa sekalian Mandarin.

  • Ada kawan yang anaknya baru berusia 4 tahun 3 bulan telah dicap sebagai anak yang bodoh karena, setelah dikursuskan, masih mengalami kesulitan menulis dalam bahasa Mandarin.
  • Ada klien yang saat di PG/TK disekolahkan di sekolah yang bahasa pengantarnya Inggris dan Mandarin. Namun saat masuk SD si anak, karena orangtuanya tidak mampu menyekolahkan di sekolah internasional atau yang bi-lingual karena mahal, masuk ke sekolah biasa dengan bahasa pengantar bahasa Indonesia. Anak ini mengalami kesulitan belajar yang luar biasa dan akhirnya mengalami trauma yang cukup berat. Selidik punya selidik ternyata anak ini cukup cerdas. Masalahnya adalah di bahasa. Jelas tidak mungkin kita bisa mempelajari sesuatu dengan bahasa yang kita tidak kuasai. Dalam hal ini anak mengalami double-trauma. Pertama, anak trauma dengan bahasa dan yang kedua adalah dengan materi pelajaran.
  • Ada lagi anak yang  ”down” setelah di kelas tiga SD. Alasannya sama. Anak mengalami kesulitan menguasai bahasa Inggris atau Mandarin yang digunakan untuk menyampaikan materi pelajaran.

Semua ini terjadi karena orangtua, karena ambisi yang didasari oleh asumsi yang salah, tidak bisa membantu anaknya di rumah. Di sekolah anak harus belajar dengan bahasa Inggris atau Mandarin. Sedangkan di rumah anak berkomunikasi dengan bahasa Indonesia atau bahasa daerah. Ditambah lagi orangtua juga nggak bisa bahasa Inggris atau Mandarin. Akibatnya sangat fatal bagi perkembangan anak. Dalam hal ini perkembangan kecerdasan linguistik anak menjadi terhambat dan ini mempengaruhi aspek kehidupan lainnya.

Pernah ada orangtua, yang anaknya saat itu di SD kelas 3 bermasalah akibat dipindahkan dari sekolah biasa ke sekolah dengan pengantar bahasa Inggris, saat konsultasi dengan kami, berkata pada anaknya, saat itu si anak bersin, ”Clean your nose. Jhu jhi. Ambil tissue, cepat”.

Hebat kan orangtua ini. Dalam satu kalimat ia menggunakan tiga bahasa sekaligus. ”Clean your nose” artinya bersihkan hidungmu (ini bahasa Inggris). ”Jhu jhi” artinya keluar (ini Mandarin), dan “Ambil tissue, cepat” (bahasa Indonesia).

Tolong jangan salah mengerti. Saya tidak anti pendidikan dengan bahasa pengantar bahasa Inggris atau Mandarin. Yang saya ingin sampaikan adalah sebagai orangtua dan pendidik, kita harus hati-hati dan tidak hanya ikut trend. Kita harus mendasari tindakan kita dengan alasan dan pengetahuan yang benar.
Ada banyak kawan saya yang anaknya sekolah di sekolah bi-lingual dan anak mereka berkembang sangat baik. Kawan saya ini ternyata menguasai bahasa asing dengan sangat baik. Dengan demikian mereka mampu membantu anak berkembang dengan optimal.

Pertanyaannya sekarang, ”Kapan waktunya mengajari anak bahasa asing? Bukankah waktu anak kecil otak mereka mampu belajar banyak hal termasuk bahasa? Kalau tidak diajarkan banyak bahasa nanti apa nggak terlambat?”

Saya ingin meluruskan satu hal. Kita boleh menstimulasi anak dengan bahasa apa saja. Namun jangan memaksa mengajar anak banyak bahasa. Lha, apa bedanya? Mengajar mengandung konsekuensi harus bisa. Sedangkan menstimulasi adalah memberikan pengalaman belajar sebanyak-banyaknya, anak tidak harus bisa.

Kesulitan belajar bahasa timbul sebagai akibat proses belajar bahasa yang salah. Cara belajar yang benar adalah kita belajar bicara dulu. Baru setelah itu kita belajar tulis dan baca. Jadi, dari lisan ke tulisan. Jangan dibalik. Coba perhatikan anak kita saat belajar bahasa ibunya. Anak, saat masuk PG/TK, telah mampu berkomunikasi dengan baik. Saat di sekolah barulah anak belajar membaca dan menulis. Proses ini bisa berjalan mulus karena anak telah menguasai bahasa lisan.

Terlepas dari apa bahasa yang akan kita ajarkan kepada anak, satu yang harus benar-benar orangtua perhatikan adalah anak membutuhkan fondasi untuk menguasai bahasa lainnya. Fondasi ini adalah bahasa ibu yaitu bahasa Indonesia. Mengapa bahasa Indonesia? Ya, karena kita tinggal di Indonesia. Ini bukan masalah nasionalisme namun ini kita bicara proses tumbuh kembang anak.

Pater Drost, di salah satu tulisannya, pernah bercerita bahwa anak sekolah di Belanda, selama 6 tahun di sekolah dasar hanya diajarkan satu bahasa yaitu bahasa Belanda. Tidak diajarkan bahasa lain. Namun begitu anak-anak itu naik ke SMP dan SMA langsung diajarkan banyak bahasa asing. Hasilnya? Mereka mampu menguasai dengan baik bahasa Inggris, Jerman, dan Perancis. Kok bisa? Ya karena fondasinya kuat. Anak-anak itu menguasai bahasa ibu mereka, bahasa Belanda, dengan sangat baik.

Lalu, apa hubungan antara apa yang telah saya uraikan panjang lebar dengan judul artikel ini? Sangat erat. Sekarang saya akan membahasnya secara lebih teknis.

Tool atau piranti adalah sesuatu yang membantu kita dalam memecahkan suatu masalah, sebuah instrumen yang membantu kita melakukan suatu tindakan. Selain mengembangkan piranti untuk membantu dan memudahkan kerja, kita juga mencipta dan mengembangkan mental tools/piranti mental, atau piranti pikir, untuk mengembangkan kemampuan mental kita. Mental tools ini membantu kita untuk bisa memperhatikan, mengingat, dan berpikir lebih baik.

Ide mengenai piranti pikir atau mental tools dikembangkan oleh Lev Vygotsky, psikolog Rusia (1896-1934), yang menjelaskan bagaimana anak mengembangkan kemampuan mental yang semakin kompleks.
Para penerus Vygotsky percaya bahwa mental tools memainkan peran yang sangat penting dalam pengembangkan kemampuan berpikir. Seiring dengan proses tumbuh kembangnya, anak secara aktif menggunakan piranti yang telah mereka ciptakan dan kembangkan serta mengembangkan piranti baru sesuai kebutuhan mereka.

Kekurangan atau ketiadaan mental tools membawa akibat jangka panjang negatif terhadap pembelajaran karena mental tools mempengaruhi tingkat berpikir abstrak yang dapat dicapai seorang anak.

Mental tools bermanfaat untuk mempelajari dan memahami konsep abstrak di bidang sains dan matemaika. Tanpa mental tools anak dapat menghafal dan mengeluarkan fakta-fakta saintifik dari memori mereka namun tidak bisa menerapkan pengetahuan ini untuk mencari solusi dari pertanyaan/masalah yang mereka hadapi, yang sedikit berbeda dengan contoh yang telah mereka pelajari sebelumnya.

Kemampuan berpikir abstrak dibutuhkan tidak hanya di sekolah namun juga dalam mengambil berbagai keputusan dalam banyak aspek kehidupan saat dewasa kelak, misalnya bagaimana membeli mobil, memilih investasi keuangan, berpikir level tinggi (analisa, sintesa,dan evaluasi), termasuk juga membesarkan dan mendidik anak yang sudah tentu membutuhkan kematangan dalam kecakapan berpikir.

Bahasa adalah mekanisme untuk berpikir, suatu mental tool. Bahasa membuat berpikir menjadi lebih abstrak, fleksibel, dan independen. Bahasa memungkinkan anak untuk membayangkan, memanipulasi, mencipta ide-ide baru, dan berbagi ide dengan orang lain. Dengan demikian bahasa mempunyai dua fungsi utama; bahasa penting untuk mengembangkan kemampuan pikir dan bahasa juga merupakan bagian dari proses pikir.

Bahasa dapat digunakan untuk mencipta berbagai strategi untuk menguasai banyak fungsi mental seperti atensi, memori, perasaan, dan pemecahan masalah.

Salah satu kekuatan pendekatan Vygotsky adalah ia tidak hanya berbicara pada tataran teori namun juga praktik. Apa yang ia formulasikan telah dicobakan dalam mengajar mental tools pada anak-anak. Sebagai pembanding terhadap pendekatan Vygotsky pembaca bisa mempelajari pemikiran Piaget (constructivism), Watson dan Skinner (behaviorism), Freud (psychoanalysis), Koffka (Gestalt psychology), dan Montessori.

Terdapat empat prinsip yang mendasari pendekatan Vygotsky yaitu:

  • Anak mengkonstruk pengetahuan.
  • Pengembangan diri anak tidak bisa dipisahkan dari konteks sosial.
  • Pembelajaran dapat membantu pengembangan diri.
  • Bahasa memainkan peran vital dalam pengembangan mental.

Bila kita cermati maka keempat prinsip di atas semua menggunakan bahasa sebagai medianya. Tidak mungkin tanpa bahasa. Oleh sebab itu penguasaan bahasa, khususnya bahasa ibu, dengan baik mutlak dibutuhkan agar anak mampu berkembang secara optimal.

Bila kita tarik benang merahnya ke kehidupan dewasa, khususnya dalam aspek finansial, maka satu pertanyaan menarik dari Kevin Hogan layak kita simak, ”What is the difference between the top 20% of people who earn 80% of the money and the 80% of the people who earn 20% of the money?”

Jawabannya adalah:

  • Dua puluh persen orang itu adalah pakar di bidang komunikasi. Mereka tahu bagaimana mengajukan pertanyaan dan menemukan kebutuhan dan keinginan orang lain.
  • Orang sukses adalah pakar di dua bidang. Pertama, di bidang pekerjaan mereka yang mereka komunikasikan dengan sangat baik dengan orang lain. Kedua, komunikasi pada level pikiran bawah sadar.
    Sekali lagi, ini semua melibatkan kemampuan bahasa yang tinggi.

Sebagai penutup artikel ini saya ingin memberikan pertanyaan bagi urban Mama Papa, untuk menguji kemampuan bahasa Indonesia. Bisakah urban Mama dan Papa rasakan apa bedanya pernyataan ini, ”Saya bertanggung jawab kepada anda namun saya tidak bertanggung jawab untuk anda”.

37 Comments

  1. tiaaja
    tia December 16, 2010 at 6:09 am

    mencoba jawab: bertanggung jawab untuk saya artinya anda mengambil tanggung jawab atas apapun yg saya lakukan.

    artikel yg keren. makasih, dok. makasih TUM.

  2. ninit
    ninit yunita December 16, 2010 at 6:22 am

    setuju sama tia. artikelnya bagus, dok! alde jg di sekolah yg sekarang diajarin mandarin. untung dulu saya sempet les mandarin jadi yg simple2 sih ngerti. tapi bener bgt, kalo orangtuanya ga ngerti bhs tsb, susah banget ya… pas di spore juga gitu, cerita bbrp temen yg anaknya ambil bahasa mandarin, anak – ortu sama2 stress krn kurang menguasai mandari dengan baik.

    tks, dr aldi atas pencerahannya.

  3. asti_kurniawan
    Chitra Novalastia December 16, 2010 at 6:47 am

    Coba jawab,artinya anda bertanggung jawab atas perbuatan/perkataan anda pd saya,tp anda tidak menanggung jawab apa yang saya lakukan,saya sendiri yg bertanggung jawab untuk itu. Bener ga? *gak PD**kaya main kuis* hehehe terima kasih dokter ulasannya,benar sekali mau bidangnya apa,sebagian besar yang paling sukses adalah yang jago komunikasi :)

  4. bundapiaradaku
    bundapiaradaku December 16, 2010 at 6:53 am

    tapi dok, gmn dengan kondisi Indonesia yang multikultur? seperti saya misalnya, saya tiggal di Jogja dengan bahasa sehari-hari adalah bahasa jawa, menggunakan bahasa Indonesia saat-saat tertentu saja, misalnya saat mengikuti seminar, bertemu dengan orang dari luar jogja, dll…?

    Njawab kuisnya ah :D
    maksudna (mungkin), bahwa anda bertanggungjawab pada saya bukan karena saya tetapi krn amanah yg dibebankan pada anda atau krn hal lain. :D

  5. Indah Prabandono
    Indah Prabandono December 16, 2010 at 6:56 am

    Oh dokter…trims banged banged untuk artikelnya. Anak saya termasuk ‘Late Talker’ dok dan sekarang saya ikutkan terapi(selain stimulasi di rumah). Selama ini saya tidak pernah mengajarkan/berbicara bahasa selain bahasa ibu sama anak saya, tapi gimana ya dok kalau nantinya dia terpaksa harus pindah ke lingkungan sekitarnya yang tidak berbahasa ibu padahal dia baru saja sedikit-sedikit bisa berbicara? Saya khawatir perkembangan bahasanya nanti mundur lagi padahal dia sudah mau memasuki usia playgroup.

    Kalau mau konsul sama dokter kemana ya dok?

    U/ Urban Mamas/Papas maaf ya ganggu sama pertanyaan saya…

    1. cizkah
      Fransiska Mustikawati December 16, 2010 at 7:30 am

      nah…ini kmrn juga pernah jadi bahan diskusi aku ma suami. (sayang aku gak tau link artikel yg dibaca suami).

      Di artikel/tutorial tsb, dikatakan justru anak itu yg paling mudah nyerap bhs yang ada dilingkungannya. Krn mereka adl pebelajar bhs yg paling sabar (bayangin slama 1th awal hidupnya cuma denger ortunya ngomonggg…abis itu baru mula dikit-dikit ngomong).

      Ziyad juga dulu telat ngomong (2th 3bln)*ini telat ga ya?* . Mau belajar ngomong stlh kami ajak ke Jkt. Di sana nenek, om, semua orang motivasi dia ngomong (terutama neneknya). Ternyata pulang ke rumah, tau-tau dia mulai ngomong dan yg slama ini kita ajarin ternyata sbnernya dia nangkep cuma antara gak pede sama males untuk ngelafalinnya.

  6. asti_kurniawan
    Chitra Novalastia December 16, 2010 at 7:02 am

    eh iya ga ada kata ‘me-’ nanggungjawab ya.. *ketahuan bodohnya* maaf yaa kalo ada salah kata atau salah jawab hehehehe :p

  7. thelilsoldier
    inga December 16, 2010 at 7:10 am

    Artikel panjang yang ditulis dengan sangat bagus dok.
    Jawaban atas pertanyaan (eh ini jadi kuis? Maklum dok, banci kuis):
    Saya mempertanggungjawabkan yang saya kerjakan kepada anda tapi saya tidak bertanggungjawab atas apa yang ada lakukan.

  8. cizkah
    Fransiska Mustikawati December 16, 2010 at 7:19 am

    Nah…jadi agak bingung sebenernya. Bandingin sama artikelnya mba Willy di TUM

    http://theurbanmama.com/topics/tips/129/mengajarkan-multibahasa-pada-anak.html

    Di situ mba Willy keliatannya berhasil banget ngajar anaknya berbagai bahasa.

    Trus kalo dibilang di Belanda slama 6 tahun cuma diajarin 1 bahasa, zaman dulu kan kita juga diajarin cuma satu bahasa pas di SD. Nah mule SMP diajarin bahasa Inggris. Tapi yang berhasil menguasai bahasa tersebut juga cuma dikit huhu. Aku kepikiran, mungkin metode pengajarannya yang kurang tepat ya.

    Beberapa waktu lalu, suami banyak baca tentang belajar bahasa, intinya belajar bahasa adalah belajar bicara/bercakap-cakap. Bukan belajar grammar atau eyd terlebih dahulu.

    Mungkin ada yang bisa kasih kesimpulan atau jawaban dari kebingungan aku…soalnya pengen ngajarin anak bahasa laen juga jadi takut2 krn kmrn Ziyad juga umur 2th 3 bln baru mule lancar setelah kita fokus ngajarin 1 bhs (bhs Indonesia)

  9. aldilenggana
    Rinaldi Lenggana December 16, 2010 at 7:22 am

    dear urban mamas dan papas :

    terima kasih atas semua tanggapan dan komentarnya, semoga artikel ini sedikitnya ada manfaat.

    ada peribahasa lidahmu harimaumu, yang artinya nahasa adalah cerminan dari keperibadian seseorang. Kebetulan saya bekerja didaerah, banyak guru sekolah dasar yang brkonsultasi mengenai pertumbuhan dan perkembangan anak didiknya. Banyak siswa SD yang disekolah tampak murung, tidak aktif dikelasnya, dan ternyata setelah diselidiki ternyata kemempuan bahasa berperan cukup tinggi dalam proses adaptasi mental, dan pergaulan seorang anak. janganka dari bahasa Indonesia – Asing, namun mata pelajaran Mulok (diantaranya bahasa daerah) dimasing-masing daerah yang tentunya mempunyai kurikulum bahasa yang berbed sesuai dengan budaya daerahnya, contoh di lingkungan parahyangan, murid SD diajarkan bahasa sunda. Hal ini tentu akan berpengaruh pada para siswa yang datang dari luar daerah (sunda) dan pada akhirny bisa berpengaruh terhadap perkembangan mental disekolah itu sendiri.

    Bahasa daerah memang harus kita lestarikan, bahasa asing juga penting bagi seorang anak dalam mengahadapi era globalisasi. Namun yang terpenting kita sosialisasikan yaitu bahsa universal dimana si anak dibesarkan atau sekolah. Gunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar, karena anak adalah seorang “Good Listener dan Good Replying”, apa yang orang tua katakan, maka kata itu pula yng anak gunakan disekolahnya.

    Berikan pengertian secara berulang kepada anak apabila berada dilingkungan yang baru. Berikan rasa percaya diri kepada anak, dan tentu saja kita juga harus berkomunikasi dengan guru pengajar dikelasnya (wali kelas) agar si anak diberikan motivasi dan rangsangan agar aktif berbicara didepan kelas.

    kemampuan tumbuh dan kembang seorang anak selalu berkembang, kesimpulannya urban mamas dan urban papas tidak perlu khawatir akan ketertingalan putra dan putrinya, yang penting terus berikan pengertian dan stimulus kepada para putra-putri tercinta.

    wassalam
    Rinaldi ([email protected])

  10. vennyvernita
    venny vernita December 16, 2010 at 7:59 am

    trimakasih yaa artikelnya.. pencerahan banget di pagi hari.

  11. superpippo
    Astrid Lim December 16, 2010 at 8:29 am

    Suka sama artikelnya, sangat informatif dan meski agak teknis masih bisa dimengerti. Thank you dr.Aldi =)
    oya dok, gimana dengan metode glenn doman atau sejenisnya yang marak akhir” ini, yang menstimulasi kemampuan membaca anak dulu, bahkan jauh sebelum kemampuan verbalnya berkembang? apakah ini akan membantu si anak atau sebaliknya justru menghambat perkembangan bahasanya?

    ps: thanks a lot untuk TUM, please share lebih banyak lagi artikel bermanfaat dari para expert seperti ini. Two thumbs up! =)

  12. BunDit
    BunDit December 16, 2010 at 8:35 am

    Wiww..TUM makin keren deh, nambahin topic baru “Expert Explains” dan dr. Rinaldi mengawalinya dengan artikel yang bagus banget, saya demen baca beginian :-)

    Mengenai bahasa, saya sempet baca2 juga supaya tidak membuat anak bingung, emang harus diajarkan bahasa ibu dulu, yaitu bahasa indonesia. Meski sedikit2 saya mengenalkan bahasa Inggris dan bhs Jawa (maklum saya dr Jawa :D ) ke anak saya. Kalau bhs jawa sih baru sebatas ngitung angka, buat fun aja.

    Saya mau share pengalaman saudara, krn bapaknya org mandailing/batak dan ibunya org Jawa (sama spt saya dan suami) dan anaknya sekolah di daerah yg masuk prop Jawa Barat (Bekasi/Depok) jdnya di sekolah diajarkan bhs Sunda. Pengalaman saudara saya itu, Bapaknya stress, ibunya stress krn gak bisa ngajarin bhs sunda. Anaknya makin stress lagi soalnya susah mempelajari krn temen2 nyapun rata2 adalah pendatang jd ya bhs sehari2 bhs Indonesia tp di sekolah dituntut hrs bisa bhs sunda.

    Pertanyaan saya, apakah masih relevan diajarkan bhs Sunda di sekolah yang rata2 muridnya adalah pendatang?. Kalau semasa kecil dulu saya memang diajarkan bhs Jawa krn memang murid2 nya asli daerah. Bagaimana menurut doktor? Maaf jika pertanyaan saya agak menyimpang dr topik, tapi takut aja kalau nanti anak stress (anak saya msh 2,5 th sih, belum sekolah). Terima kasih dok :-)

  13. titiestiti
    titi esti December 16, 2010 at 8:57 am

    Yuhuy..makin demen sama TUM. Terimakasi Dokter,jadi berani berharap, anakku masih bisa mendalami bahasa Asing setelah lulus SD nanti. Karena aku masih sebatas menstimulus, dengan ngenalin ke bahasa Asing lewat kursus. Tapi jarang sekali mempraktekkan untuk komunikasi di rumah.

  14. sukie
    Sukma Pertiwi December 16, 2010 at 9:06 am

    waah artikelnya bagus..Bener juga ya, kadang saya sendiri masih merasa kurang bisa berbahasa Indonesia dengan baik dan benar, udah kepengen aja ngajarin anak bahasa lain. dari artikel ini saya jadi tahu bendanya stimulasi dan mengajar..hehehe..sippp :)

    sekalian ikut kuisnya, tertantang juga nih :
    ”Saya bertanggung jawab kepada anda namun saya tidak bertanggung jawab untuk anda”.

    Artinya :
    1. Orang tersebut (A) mempunyai sesuatu untuk dipertanggungjawabkan kepada orang lain (B), dan
    2. A melakukan pertanggungjawabannya karena kesadarannya sendiri, bukan karena kewajibannya untuk bertanggungjawab kepada si B.

    haduh kayaknya simpel tapi susah juga yaaa ;p
    *menanti jawaban yang benar*

    1. sukie
      Sukma Pertiwi December 16, 2010 at 9:07 am

      eh mungkin maksudnya bukan kuis ya, tapi pertnayaan reflektif. tapi kalau ada jawabannya, please diinfo dong, penasaran juga nih… :)

  15. peachmargarita
    peachmargarita December 16, 2010 at 9:07 am

    Betul, kita harus mengerti kondisi dan sifat/karakter anak terlebih dulu, dan kalau mau mengajarkan mereka bahasa lain kita sebagai orangtua juga sebaiknya paham.

    Masih ingat ada teman yang terlalu memaksakan anaknya belajar bahasa Inggris dan Mandarin padahal dia sendiri tidak fasih keduanya – lalu anaknya stres. Padahal masih kelas 1 SD, umur 6 tahun, tapi tuntutan orang tua begitu tinggi. Niatnya memang baik, membekali anak di masa depan, tapi mungkin ekspektasi dan caranya yang salah.

    Lain halnya mungkin kalau orangtua bisa bahasa tersebut dengan fasih / bahasa ibu, transisi anak pun akan lebih mudah.

    Contohnya keponakan saya, umur 6.5 tahun, ibunya (kakak ipar saya) Perancis, ayahnya dari Letvia, tinggal di London. Dengan ibunya dia bicara bahasa Perancis, dengan ayahnya bahasa Rusia dan di daycare/sekolah bahasa Inggris. Transisi ini berjalan lancar karena memang bahasa2 tersebut merupakan bahasa yang digunakan orangtuanya sehari2 dan pada usia yang sama dengan anak teman di atas, keponakan saya sudah bisa 3 bahasa (meski kalau baca tulis hanya bahasa Inggris yang diajarkan di sekolah).

    Menarik juga ya mengamati fenomena trend sekolah Indonesia sekarang yang banyak sekali mengagung-agungkan bahasa asing (Inggris dan Mandarin terutama) tapi bahasa Indonesia sendiri, yang sangat penting – karena kita tinggal di Indonesia – malah tidak diberi porsi lebih. Semua sekolah berlomba-lomba menjadi sekolah plus dengan embel2 bahasa pengantar asing dan cenderung melupakan bahasa Indonesia.

    Satu lagi masalah yang saya amati, ada sekolah tempat kenalan saya mengajar, yang awalnya hanya bertitel “sekolah unggulan” lalu ingin menambahkan interest dengan menjadi “sekolah bilingual plus” – dan mengganti bahasa pengantar dari bahasa Indonesia ke bahasa Inggris.

    Masalahnya, perubahan ini terkesan dipaksakan sekali, kenapa? Karena tidak ada persiapan sama sekali. Staf pengajar mereka tidak ada yang bisa bahasa Inggris dengan baik! Guru-guru mereka sebagian besar merupakan guru yang bagus, tapi mereka tidak dapat mengajar dalam bahasa Inggris karena memang tidak pernah belajar/diarahkan ke arah situ. Dengan bahasa Inggris yang patah-patah dan grammarnya masih bolong-bolong di sana sini, guru2 tersebut DIPAKSA oleh kepala sekolah untuk memberikan materi pengajaran dalam bahasa Inggris, dengan dibantu pengajar freelance native speaker, yang rasionya hanya 1 pengajar native speaker untuk 20 guru.

    Saya rasa sekolah ini bukan satu2nya yang seperti itu – seenaknya mengukuhkan diri sebagai “sekolah bilingual plus dengan bahasa pengantar Inggris” tanpa memperhatikan persiapan maupun transisi yang seharusnya.

    Gimana anak2 mau belajar dengan baik wong pengajarnya aja nggak bisa bahasa asing tersebut…saya juga kasihan sekali dgn guru2 yang terhambat pengajarannya dan tentu merasa tertekan karena harus menggunakan bahasa yang dasarnya memang bukan keahlian mereka.

    Thank you dokter Rinaldi untuk artikelnya yang bagus ya…ditunggu artikel2 berikutnya!

  16. mommyaira
    jarvi kurnia lestari December 16, 2010 at 9:23 am

    Aaahhh, baca artikel ini jadi inget suatu hari…saya datang ke Klinik Tumbuh Kembang di salah satu RS untuk seleksi Aira. Di sana saya bertemu dengan orangtua seorang anak yang sepertinya hiperaktif (usianya sekitar 3 tahun lebih)…herannya, selama kami mengantre saya memperhatikan tidak sekali pun anak itu bicara, bahkan kepada orangtuanya. Kebetulan sekali giliran kami berurutan (dia dulu baru Aira). Setelah giliran kami tiba dan tim seleksi yg terdiri dari dokter saraf anak+psikolog anak menilai kemampuan motorik Aira, si psikolog tanya, “Di rumah berapa bahasa yg dipakai?” jujur saya jawab bahwa saya terkadang bicara dalam bahasa inggris dengan Aira. Kemudian beliau bilang, “Saat ini gunakan hanya satu bahasa, bahasa indonesia saja…jgn diselingi bahasa lain. Aira blm berkata2, jgn bikin dia bingung. Ibu tahu yg barusan keluar tadi? Anak itu di rumah pakai 4 bahasa, Indonesia, Inggris, Jerman, Mandarin…hasilnya? Dia gk mau ngomong.” Kesimpulan saya, bahasa yg terpenting itu memang bahasa ibu. Sekali lagi, mengenalkan multilingual pada anak sama sekali tidak salah. Selama anak itu bisa beradaptasi dengan baik, toh tidak masalah. Hanya terkadang kita harus melihat dan merasa dari sisi si anak. Stimulasi atau pembelajaran yang terlalu bertubi-tubi terkadang memiliki efek yg berbeda bagi setiap anak. Yang pasti kita sebagai ortu juga tidak ingin anak kita kesulitan beradaptasi dengan lingkungannya sampai mengalami trauma hanya karena masalah bahasa. Nice article doc ;)

  17. sLesTa
    shinta lestari December 16, 2010 at 9:26 am

    what a great artikel, dok! saya setuju banget nih.. kadang saya prihatin dengan para orangtua yang begitu kepengennya anaknya bisa ngomong english so early sampe anak dimasukin ke sekolah yang bahasa pengantarnya bhs inggris. kalo saya bilang untuk membandingkan dengan generasi kita yang dari kecil selalu berbahasa indonesia, tapi kita bisa survive untuk berbahasa inggris dengan baik dan bisa keep up dengan era globalisasi, jadi kenapa harus pressure anak untuk bhs inggris dari awal ya?

    walopun saya tinggal di singapur, dengan anak yang lahir & akan besar dan sekolah di singapur, saya juga dari awal yakin, anak saya mesti belajar bahasa indonesia dengan benar dulu. dia harus nyaman untuk ngomong bahasa indonesia, krn nanti ketika dia sekolah, dia akan pick up english pretty easy. anak saya (2thn8bln) sudah masuk daycare sejak umur 22bln, dan honestly dia pun tetap bermasalah untuk berkomunikasi dengan teman2nya waktu itu krn dia ga PD untuk berkomunikasi dalam bhs inggris dan dia tau teman2nya gak ngerti dia ngomong apa (krn pake bahasa indonesia). tapi gurunya justru meyakinkan kalau dia mesti tetap berbahasa indonesia aja, whichever she is comfortable with. dan ternyata benar, walopun naia di rumah selalu ngomong pake bhs indonesia dengan kita, she starts to understand english perfectly dan udah bisa ngomong english dan komunikasi dengan guru2 & teman2nya.

    dan kami di rumah tetap berbahasa indonesia dgn naia. only when we go to public place (where everyone speaks in english) we would switch and speak in english so that she doesn’t feel alienated for speaking a different language.

  18. cinta
    Cinta Alexandria December 16, 2010 at 10:19 am

    bagus banget artikelnya, saya setuju dengan apa yg ditulis dokter. rata2 ortu skrg pengen anaknya bisa komunikasi dgn dua bhs, kadang saya juga mikir. klo sehari2 anak2 bersama ortunya 24jam sih masih oke bilingual, tp kadang kan anak2 ditinggal kerja ortunya dan waktunya lebih byk dgn si mbak dirumah yg tdk semuanya bisa komunikasi dgn bhs inggris.

    terima kasih atas pencerahannya dok :)

  19. December 16, 2010 at 10:27 am

    setuju ama yg lain, artikel yg keren dan diulas dengan sangat baik :) tfs ya, dok… bener2 ngebuka mata kita sbg orang tua untuk tdk buru2 mengajarkan bahasa lain kpd anak selain bahasa ibunya dl…
    looking forward for your next article ya dok :))

  20. aldilenggana
    Rinaldi Lenggana December 16, 2010 at 10:55 am

    hai urban mamas dan papas

    sedikit mengulas tentang teori atau metoda glenn doman, dimana dalam bukunya yang berjudul “How To Teach Your Baby To Read” (chapter 7) dimana metoda pengajaran membaca sudah dapat diperkenalkan pada bayi berusia 10 bulan. Memang ada benarnya karena pada usia 10 bulan ini seorang bayi fungsi kognitif, pengenalan akan benda, dan ketertarikan atas suatu benda sudah mulai timbul.

    Pengajaran dengan metode ini lebih kepada pengenalan benda dalam bentuk huruf (secara implisit mengajarkan pengenalan huruf dari bentuk suatu benda). memang benar adanya, cuma mungkin pengenalan ini harus disesuaikan dengan kondisi yang ada dan memerlukan suatu konsistensi dari para mamas atau papas, contonya bila kita berusaha memperkenalkan dengan huruf latin, maka konsisten lah dengan huruf latin dan jangan dicampu adukan dengan huruf arab atau mendarin.

    Pengajaran dengan metode ini bukan dengan cara metoda perintah, tapi dengan merangsang kesenangan anak untuk bermain akan benda atau mainan itu sendiri. Cara ini pada dasarnya dimana para orang tua harus menghormati perkembangan dan kegemaran si anak. Mulailah dengan mainan (mungkin bentuknya balok atau boneka) yang tentunya berwarna mencolok (terang) sehingga si anak merasa senang dengan mainan barunya.

    makasih banyak atas komentar dan tanggapan dari mama dan papa, semoga anak” kita kelak menjadi anak yang dapat mengisi bangsa kita dan menjadikan negara kita lebih maju lagi.

    wassalam
    Rinaldi

  21. bun2.mila
    Mila Nur Millah December 16, 2010 at 11:40 am

    Artikelnya bermanfaat bgt dok, makasih bgt udh d share d TUM
    Alhamdulillah ada artikel ini karena sebagai ibu baru dr bayi yang umurnya baru mw 6bln saya masih belum punya banyak pengalaman tentang mendidik anak :)
    Semoga info yg dokter sampaikan dpt balasan pahala yg berlipat dr Allah SWT amiin

  22. maminya_naufal
    maminya_naufal December 16, 2010 at 11:59 am

    keren banget artikelnya…sayapun sampe sekarang suka males dengan sekolah-sekolah dasar yang mengadopsi bilingual kemudian memaksa guru untuk bisa bhs inggris, tp begitu dijelaskan ke siswa, ternyata siswa bingung…

    oia dok, saya sempet browsing, ternyata metode glenn doman, di Amerika sendiri sudah dilarang/menjadi kontroversi karena terbukti destruktiv terhadap perkembangan otak anak..

  23. charissarhanie
    rani nurcharissa December 16, 2010 at 12:19 pm

    artikel yang menarik. saya sendiri masih menggunakan bahasa indonesia untuk percakapan sehari-hari dengan keira (26mo) meskipun kami tinggal di singapura. ini semata2 karena kita pengen dia menguasai bahasa indonesia dulu sih, kasian juga kalau pulang ke tanah air gak bisa ngobrol sama sepupu2nya. kebetulan kita juga gak khawatir dia gak bisa bergaul dengan teman2nya, krn selama ini fine2 aja kok. malah kadang2 dia ngoceh pake bhs inggris hasil bawaan ‘gaul’ dari teman2nya :)

  24. CNAP
    Intan CnaP December 16, 2010 at 12:46 pm

    Keren banget artikelnya!!
    Kalo suami minta aku ngajari bhasa jawa kromo halus (kusebut bhs jawa tingkat tinggi) ke Faiz (8 bulan) supaya faiz ga lupa asal daerahnya.
    Tapi kutolak dg lembut lah,wong bhs jawa biasa aja aku berantakan abis,apalagi bhs jawa tingkat tinggi haha..jadi kayak apa dong ntar? Jd ayahnya aja yg nanti ngajak faiz komunikasi mggunakan bhs jawa tingkat tinggi.
    Kalau aku pribadi pengen menggunakan bhasa inggris tp stlah bc TUM jd kepikiran bhs indonesia aja dulu,
    Karena di rumah ini pake 5 bahasa,kalau faiz bingung kasian jg.
    Thanks dr rinaldi!

  25. ning_ambu
    ning_ambu December 16, 2010 at 1:30 pm

    Dok,,,TFS ya,dapet pencerahan bagus banget.Insya Allah saya ingat dan berusaha terapkan pada pengasuhan terhadap anak saya…

    Saya jadi ingat menentukan nama panggilan yang nyunda di rmah tapi kalo pada ngomong di rumah ya tetep bahasa Indonesia.

  26. melz
    Amel December 16, 2010 at 3:35 pm

    wah.. makasih artikelnya dok, mencerahkan neh..
    nanti insyaAllah akan menerapkan bahasa indonesia yg baik dan benar dulu aja sama anak..
    skrg saya ngerti kenapa dulu ortu hanya mengajarkan bahasa indonesia untuk sehari-hari, daripada mengajarkan bahasa sunda sekaligus..hehe, tnyt bahasa sunda mah bisa dipelajari kemudian, apalagi bahasa inggris dll.. :D

    nuhun pisan :)

  27. tisyonk
    tisa 'tisyonk' December 16, 2010 at 9:52 pm

    TFS dok, manstab sekali artikelnya :)

    Jadi pengen tanya dok.

    Saya berencana memasukkan anak pertama saya nanti ke playgroup ketika dia berusia 2 tahun (sekarang dia berusia 13 bulan), dengan pertimbangan dia butuh sosialisasi dengan anak2 seusianya. Kenapa 2 tahun? berdasarkan sharing dengan teman2 yg tinggal di sekitar saya, at least umur 2 tahun sudah lumayan mengerti bahasa indonesia (saya tinggal di norway) & saya bisa lebih konsen ngurus adiknya yg sebentar lagi akan dilaunching :)

    Pengalaman teman2 saya yg memasukkan anaknya ke playgroup sebelum umur 2 tahun: anak2 mereka mengalami speech delay karena bingung dengan bahasa, walaupun pada kenyataannya nantinya ada waktunya di mana mereka fasih beberapa bahasa.

    Pertanyaan saya :
    Apa yg harus saya lakukan untuk nge-boosting kemampuan berbicara anak saya sebelum dia masuk playgroup?
    selama ini siy saya mencoba selalu cerewet ngobrol dengan anak saya menggunakan bahasa indonesia walau dia masih merespon dengan bahasa planet :P Saya tidak pernah mengajarkan bahasa norway ke anak saya, karena banyak saran mengatakan akan lebih baik kalau ’1 person for 1 language’.selain juga karena bahasa norway saya masih acak adut :P

    Mba Slesta,
    kasus kita mirip kali yah? any suggestion?

  28. lei
    Lady Fitriana December 17, 2010 at 12:24 am

    Waw artikel yang bermanfaat banget! Kebetulan saya dan suami juga sedang mempertimbangkan bagaimana metode yang paling cocok untuk urusan multilingual ini untuk anak kami. Tidak ingin membuat anak overwhelmed tapi tidak ingin melewatkan momen emas dalam mengenalkan bahasa lain kepada anak.

  29. Indah Prabandono
    Indah Prabandono December 17, 2010 at 6:10 am

    Trims ya dok atas responnya. Emang ya anak sekarang pressure-nya tuh besar banged. Kalo gag dari ortunya, ya dari lingkungan. Untungnya saya gag pernah prefer untuk menyekolahkan anak (basic education) yang multilingual pengajarannya. Sampai-sampai kakak ipar saya tanya “indah gag takut nanti anaknya kalah sama anak-anak lain?” Tentu gag dong, kita jangan cuman terpatok berorientasi sama hasil tapi juga pada proses. Pendidikan anak itu kan bertahap dan berjenjang. Kapasitas penerimaan anak tentu juga terbatas sesuai umurnya. NTAR KALAU TERLALU DIKARBIT (DIPAKSA MATANG) YANG ADA RASANYA MALAH PAHIT…

  30. aldilenggana
    Rinaldi Lenggana December 17, 2010 at 12:11 pm

    @bunda melz : benar sekali….anak usia 2 tahun sangat membutuhkan sekali layihan sosialisasi serta juga melatih motorik halusnya yang mana program di playgroup tentu lebih tersistematis dibanding dirumah. Selama kita mampu memberikan yang terbaik buat anak kita mengapa tidak (diluar konteks finansial). Ada beberapa kekurangan atau efek negatif juga memasukan anak sekolah usia dini :
    1.anak bosan dan jenuh untuk melanjutkan sekolah
    2.sosialisasi dengan teman sebaya dengan kultur, didikan, dan disiplin yang berbeda (dari rumahnya) sehingga berdampak kepada perubahan pola perilaku dari biasanya
    3.ekonomi
    Apa yang bunda lakukan sudah benar bun..kadang kita mesti sabar dan butuh ekstra tenaga untuk menanggapi semua keingintahuan buah hati kita diusia segitu (rasa ingin tahu anak yang semakin tinggi.
    Sekedar Tips, berkatalah dengan ucapan yang jelas dimana seringkali kita mengajak ngobrol anak kita dengan bahasa baby (susu jadi cucu, mobil jadi mbum, sayang jadi cayang, asem jadi acem etc).

    @all mamas : thanks banget, mudaha”an kita bisa lebih baik lagi dalam mendidik anak”, dan mereka jadi anak sukses tentunya. Yang penting, kita selalu ingat masa kanak_kanak adalah masa bermain, sosialisasi, dan aktualisasi diri anak. Berikan mereka yang terbaik menurut kita dan anak kita (harus 2 pihak), ajak mereka berdiskusi dan tanamkan pola demokratis dirumah. Sayang bukan berarti memberikan semua yang mereka mau, tetapi memberikan apa yang mereka butuhkan untuk tumbuh kembangnya.

    ”Saya bertanggung jawab kepada anda namun saya tidak bertanggung jawab untuk anda”. antara empati dan simpati, dalam mendidik anak gunakanlah empati kita, namun untuk sayang dan cinta kepada anak maka bersimpatilah.

  31. rereazizah
    Rere Azizah December 17, 2010 at 5:57 pm

    Artikel yang luar biasa bermanfaat!
    Padahal tadi maunya saya dan suami saya menggunakan bhs indonesia dan bhs inggris dirumah supaya anak saya, Khansa (2 bln), nantinya bisa berbahasa inggris lebih lancar. Tapi setelah baca artikel ini, saya jadi tahu kalau bahasa ibu harus diperkuat dulu supaya nanti anak bisa pick up new languages easily.
    Makasih banyak dok:)

Post a Comment

You must be logged in to post a comment.