Because One Day Mommy, I Won’t Be This Small

Davincka
Jihan Davincka Simply a mom of 2, Nabil and Narda. 100% Buginese. Since 2009, living abroad along with her husband. Having many tremendous experiences from Tehran (Iran), Jeddah (Saudi Arabia) and now in Athlone (Ireland).

Anak saya yang ke-2 baru saja berulang tahun yang ke-2. I have reached the moment when all I hear is, “No!Ucapan “No” di hampir setiap tawaran-ajakan-pertanyaan-himbaun padanya disertai dengan kedua tangan dilipat ke arah dada. Syukur-syukur dia tidak pakai buang muka.

Dalam dunia parenting, istilah “the trouble 2″ ini cukup populer. Narda, si jagoan kecil ini, punya perangai yang berbeda dengan kakaknya, walaupun sama-sama laki-laki. Termasuk perkembangan motoriknya.

Nabil, kakaknya, biarpun terlihat sangat lincah dan supel, tapi lumayan penakut. Narda, meskipun sekilas kelihatan kalem, pemberaninya jangan ditanya.

Usia 10 bulan dia sudah lancar berjalan. Usia 13, dia sudah berlari. Cenderung terlambat berbicara dibandingkan kakaknya yang sangat verbal. Kakaknya agak takut ketemu air. Narda sekali dibawa ke kolam renang, mengamuk luar biasa saat diangkat dari kolam untuk ganti baju. Dia berani meloncat dari atas sofa ke lantai di usianya yang masih 15 bulan. Kalau kakaknya iseng mengajaknya memanjat-manjat, Narda tak pernah gentar. Kakaknya sudah turun karena takut lebih tinggi lagi, dia terus merangkak naik.

Nabil lebih mudah diarahkan. Diberitahu apa saja kemungkinan besar akan menurut. Dia takut gelap dan takut bila ditinggal.

Narda berbeda sekali. Dia suka ngambek tidak mau naik ke stroller saat akan dibawa untuk menjemput kakaknya di sekolah. Saya sebal. Saya tinggal saja dia di depan pintu apartemen, saya pura-pura akan meninggalkannya sendiri dengan harapan dia akan terbirit-birit mengikuti saya. Kenyataannya, dia malah berlari menjauh ke arah sebaliknya. Olala, waktu sudah makin sempit, direpotkan pula dengan mengejar bocah ini di sepanjang lorong lobi gedung apartemen. Jadilah saya mesti setengah berlari sambil mendorong stroller agar tak terlambat tiba di sekolah.

Kalau sedang berdinas di dapur saya inginnya dia dekat-dekat saya. Tapi dia kadang ingin bermain di dalam kamar. Saya pura-pura tutup pintunya dengan nada mengancam. Berharap dia akan berteriak-teriak menangis dan minta ikut. Lama saya tunggu. Pas pintu dibuka lagi, dia berdiri menantang dengan wajah keras. Boro-boro menangis ketakutan.

Terdengar menggemaskan, ya? Tapi percayalah, mengurusi kedua balita super aktif ini, saat nun jauh di negeri rantau, tak punya asisten sama sekali, kadang menjadi ‘cobaan’ tersendiri buat Mama-nya yang memang terkenal dengan stok kesabaran yang pas-pasan. Sebagai manusia biasa, tak jarang saya merasa putus asa dan meradang.

***

Ibu saya pernah bilang, “Dada waktu kecil dibawa naik perahu menyeberang laut. Menangis terus sepanjang perjalanan.”

Ibu bercerita tentang kakak saya yang nomor 4. Katanya lagi, saking kesalnya mau dibuang ke laut saja rasanya. Kakak saya yang ini cengeng sekali kata Ibu. Apa-apa mesti minta gendong.

Lain lagi dengan kakak saya nomor 2. Waktu memasuki usia sekolah, susah payah Ibu membujuknya untuk ke sekolah.

“Kalau tidak mau sekolah, nanti jadi tedong,” ancam Ibu (tedong = kerbau, bahasa bugis). “Biarmi jadi tedong,” jawab kakak saya sambil menangis. (Biarmi = biar saja, logat Sulawesi).

Saya pun bukannya tak pernah berulah. Perkenalkan, si kecil Jihan yang pundungan luar biasa. I’m a picky eater as well. Saking pemilihnya, waktu kecil sakit-sakitan. Kalau sakit, rewel luar biasa. Kalau mood lagi jelek waktu bangun tidur di sore hari, habislah isi lemari baju saya lemparkan semua ke lantai!

Saat kami semua telah dewasa, saya perhatikan Ibu selalu menceritakan semua kerusuhan yang kami buat saat kecil sambil tertawa-tawa. Tak ada rasa menyesal sama sekali.

***

Saya pernah membaca sebuah kisah populer via internet mengenai dialog seorang anak dengan Tuhan sebelum dilahirkan ke dunia. Sang anak mengungkapkan kegundahannya atas semua hal-hal yang akan dihadapi di dunia barunya nanti. Tuhan menjawab dengan sabar semua pertanyaan si anak dengan, “Tenang saja. Sudah kusiapkan seorang malaikat di dunia untukmu. Seseorang yang akan kau panggil… Ibu.”

Menurut cerita itu, Ibu adalah malaikat untuk anak-anaknya. Betulkah?

Di sebuah seminar parenting yang pernah saya hadiri (pesertanya sebagian besar ibu-ibu), fasilitator bertanya kepada kami, “Ibu-ibu, anak itu banyak meminta atau banyak memberi?”

Tanpa dikomando, jawaban kompak kami bergema di seluruh ruangan, “Meminta…”

Tiga kali fasilitator bertanya dan kami tetap bersikeras pada jawaban kami, anak-anak lebih banyak meminta. Kami diminta mengeluarkan hp, masuk ke folder foto, memilih foto anak kami, dan memandanginya lama-lama. Sejenak, seisi ruangan hening. Fasilitator mulai bersuara lagi, “Bayangkan kalau wajah yang Anda pandangi di foto itu sedang sakit. Sakitnya parah. Sampai Anda harus melarikannya ke rumah sakit. Ternyata, takdir tak berpihak pada kita. Anak anda dinyatakan…”

Belum selesai ucapannya, suasana hening buyar dengan tangisan Ibu-ibu peserta tadi.

Ah, kita semua terkecoh. Bukan kita malaikatnya. Merekalah malaikat-malaikat kecil yang dihadirkan di dunia untuk membawa kebahagiaan untuk orang-orang di sekitarnya. Jangankan membayangkan bila Tuhan mengambil kembali titipan terindahnya ini, melihat mereka sakit saja, nyawa rasanya sudah hilang separuh.

Kalaupun ternyata kita yang harus pergi lebih dahulu, mereka bisa dirawat oleh siapa saja. Perlahan, apalagi jika usianya masih sangat kecil, mereka mungkin sanggup menghapus bayangan ibunya. Tapi bila dibalik, Ibu mana yang sanggup membayangkan ketiadaan anak-anaknya? Sejak dua buah garis muncul di selembar testpack saja, kebahagiaan seorang (calon) Ibu sudah sedemikian membuncah-buncah.

Lagi-lagi kita terkecoh. Anak-anak tak pernah meminta dilahirkan. Justru kehadirannya yang memberikan banyak sekali hal yang sebagian besarnya berlabel “kebahagiaan.”

Waktu kecil mungkin mereka akan terlihat bagai monster mini. Apa-apa minta ditemani. Apa-apa harus diajari. Makannya pun mesti dijaga. Seperti saya, berjalan kaki ke mana-mana makin terasa repot karena ada mereka dalam stroller.

Tapi saya ingat lagi cerita Ibu. Waktu Bapak sudah tidak ada, Ibu kerepotan mencari teman untuk dibawa ke undangan karena waktunya sebagian besar di malam hari. Waktu masih kecil-kecil, semuanya heboh minta ikut. Begitu sudah ABG, sudah punya kesibukan sendiri.

Waktu masuk TK sudah ada yang tidak mau tangannya digandeng. Malu pada guru dan teman-temannya. Yang tadinya tak bisa tidur kalau tidak dipeluk sama Mama. Ke sekolah pun sudah minta jalan sendiri. Tak senang lagi bila kepalanya diusap-usap, apalagi dipeluk dan dicium.

Ibu-ibu yang kerepotan dengan balita, bersabarlah.

Sebuah puisi kecil ini (disalin dari sebuah gambar via internet) mungkin bisa menjadi bahan renungan:

I won’t always cry ‘mommy’ when you leave the room,
and my supermarket tantrums will end too soon.
I won’t always wake, daddy, for cuddles through the night,
and one day you’ll miss having a chocolate face to wipe.
You won’t always wake to find my foot kicking you out of bed,
Or find me sideways on your pillow where you want to lay your head.
You won’t always have to carry me in asleep from the car,
Or piggy back me down the road when my legs can’t walk that far.
so cherish every cuddle, remember them all.
Because one day, mommy, I won’t be this small.

***

I don’t know who the author is, but I do love this poem.

We need to remember to love this stage of life, saat mereka masih kecil dan segala yang mereka lakukan seringnya terasa sebagai beban semata. As challenging as it may be, dont worry because one day, they won’t be this small.

Takkan lama waktunya saat kita yang terduduk memandangi foto-foto kecil mereka, berharap mereka akan berlari ke pelukan kita setiap saat. Meminta waktu menerbangkan kita ke masa lalu. Kembali ke masa kecil mereka. 

Seize the day, Mommies :). You don’t know what you miss when it’s gone.

***

87 Comments

  1. ipeh
    Musdalifa Anas April 22, 2013 at 3:27 am

    Kebetulan lagi kebangun krn menyusui, baca artikel ini langsung meluk dan cium anak-anak yg sedang tertidur pulas sekarang.
    Terima kasih artikelnya mama Jihan. Btw orang Bugis ya? *salaman sesama orang Bugis* :)

  2. Kira Kara
    Bunda Wiwit April 22, 2013 at 4:59 am

    pagi2 sukses dadaku sesak membaca artikel ini.. awesome!!! What a terrific two! :D

  3. phiet_three
    Nurfithria April 22, 2013 at 7:39 am

    artikelnya ngenaaa bangettt.. Dada lgsg terasa sesak… Krn saya jg passs punya anak usia 2 th. Terima kasih mama jihan buat artikelnya yg luar biasa.. Selalu seneng baca tulisan2nya mama jihan :)

  4. siti
    siti April 22, 2013 at 8:24 am

    good artikel mom…iya bener, saat jengkeeeeel ama si kaka (3y) yg kolokan banget n terus gangguin adiknya (3m)esmosi gak abis2…tapi klo liat adiknya justru berasa ternyata si kakak udah gede, udah mau sekolah, dan sebentar lg dah gak mau deket2 bunda-nya krn malu..hehehe…

  5. nov afni
    sinta khairunnisa April 22, 2013 at 8:29 am

    bagus banget artikelnya mam..baru aja sabtu kmrn aku ngeluh gara2 anakku yg pertama ngelendot terus padahal aku lg hamil gede 7 bln..tapi skrg rasanya ga pengen ngeluh lagi.:(
    makasi sudah berbagi mam

  6. rantyti
    ranti permatasari April 22, 2013 at 9:04 am

    Pagi2 udah berkaca2 baca tulisan mama jihan.. br aja mengeluh tangan pegal2 krn 2 minggu mudik harus menggendong ezy (2thn) yang ga mau ama siapa2 kecuali ibunya.. tersadar bahwa nanti saya yang akan merindukan menggendongnya kemanamana… *lap air mata

  7. neni_arka
    Neni Setyoreni April 22, 2013 at 9:14 am

    wow….setengah mati menahan air mata biar gak mengalir. Pernah diingetin juga sih di acara “Hitam Putih”, kalo kelak ada masanya anak2 beranjak dewasa dan punya dunia sendiri, and we can’t turn back time. Tetep aja abis baca artikel ini jd pengen mewek. Tfs mom Jihan..

  8. estiadi
    estiadi April 22, 2013 at 9:43 am

    sekuat tenaga nahan biar ga nangis….
    TFS mom jihan……

  9. Rosalia
    Rosalia Surya Budi April 22, 2013 at 10:01 am

    Baca artikelnya sambil mbrebes mili nih, bener2 memberi kekuatan di saat kita sebagai seorang Ibu terjatuh dalam letih saat mengasuh buah hati. Terima kasih, Mama Jihan..:)

  10. ethanmom
    ethanmom April 22, 2013 at 10:04 am

    baca artikel ini sblum mulai ngerjain kerjaan kantor, bikin pengen cepet pulang ke rumah…TFS, Mama Jihan.. :)

  11. Mir
    Marlin April 22, 2013 at 10:46 am

    iya bener banget. pas banget semalem abis nonton DVD “I dont know how she does it”. Cerita ttg working mom dengan 2 balita. seruu… punya 2 dunia and wishing that we can grab them both…at the same time.
    Punya anak repotnya emang cuma sebentar yah…gak terasa. Raf aja udah mau 2 taun, kayaknya baru kemarin bawa pulang dari RS… gak sabar buat hamil lagi nih…. :)

  12. yulia handayani
    yulia handayani April 22, 2013 at 11:16 am

    jelbs basah disudut mata.
    Lagi stress dgn urusan kantor, iseng baca artikel mama jihan.
    ugh menohok ke dada banget.
    Pagi tadi, baru tarik urat minta alya buat mandi, pake acara nonton dlu, sambil kejar2an keliling meja makan. Mana bangunnya siang pla, mamanya mo kerja. Ughhhh kesel dibuatnya.
    Begitu sampe kantor, malah pengen pulang, bawaannya pgn maen sama anak. Mungkin sampe TK kita masi bisa & sempet, melakukan kedekatan yang bikin kita marah, jengkel, meradang, apalah lagi kata2 yang mewakili kekesalan kita. Sungguh pun begitu, itu anugrah & obat alami buat awet muda & jadi cerita kita kelak. Thanks ya mama Jihan buat artikelnya.

  13. andina
    Andina Viryandini April 22, 2013 at 11:33 am

    haduuh… susah euy nahan tangis abis baca artikel ini.. padahal lagi di kantor.. >,,< nyesel bgt marahin runa.. huhuhuhu…

  14. yusamandagi
    yusamandagi April 22, 2013 at 11:36 am

    hixx,, ga sanggup baca artikelnya sampe’ selesai,, tapi emang kalo’ badan lagi sakit, capek di kantor, dan si kecil ngga playing her role as a good baby rasanya pengen marah aja,, bener-bener pendek sumbunya,, thank you for reminding that they are indeed our angels..

  15. dessy danggraini
    Dessy April 22, 2013 at 12:57 pm

    langsung mbanjir matanya baca artikel ini. untung di kantor masih sepi lunch time. kangen anak dirumah……

  16. bramaputri
    Regina Bramaputri April 22, 2013 at 1:29 pm

    terharu :’)

  17. Airaa
    Aira Azzahra April 22, 2013 at 1:49 pm

    have to shed some tears when reading this :’) such an inspiring article.

  18. naniyusuf
    nani yusuf April 22, 2013 at 2:44 pm

    langsung deh berurai air mata
    tfs moms kembali mengingatkan betapa harus selalu mensyukuri keberadaan anak2 kita

  19. blu3bee
    Bonnita Kristanti April 22, 2013 at 3:03 pm

    lgs mewek.. tfs ya mom!

  20. aya
    aya April 22, 2013 at 3:16 pm

    Huwaaaa….mewek sore sore…
    iya banget soal bilang “no”
    semua mua kayanya jawabannya “no”
    ditanya mau pipis atau mau mandi pasti geleng geleng *hadeeehhh….

  21. jeng_karyo
    Dona Raramentik April 22, 2013 at 3:28 pm

    Ryuu~~~ *mewek*

  22. mamaqilla
    sari April 22, 2013 at 3:28 pm

    makjleb tulisanya, mata berkaca2 langsung teringat biasanya klo anak bertingkah sumbu sabar memendek, dan suamipun juga pernah bilang: biar saja masanya anak-anak bertingkah seperti jika mereka sudah besar akan jadi hal indah untuk diceritakan kan,semisal biasa2 dan datar saja nanti udah besar, ga ada memori lucu dong :D

  23. ririnungu
    Diah Eka Ciptarini April 22, 2013 at 3:35 pm

    sukses mewek. hiks….

    waktu anak pertama saya masih berumur sebulanan, rasanya capek luar biasa. soalnya anak saya pas itu kl bobo pun harus digendong, ga bisa ditaro. kesel kalo ada orang yang bilang “dinikmatin aja nanti kl udah besar juga dia udah ga mau digendong2 kayak gitu”. rasanya saat itu saya mau bilang “ngomong enak. coba aja gendong mulu seharian”. tp sekarang stlh anak beranjak besar, saya kangen juga rasanya digelendotin trus setiap hari. so yes… Seize the day… Mommies :). You don’t know what you miss when it’s gone. :))

  24. Widya
    Widya Rustiawan April 22, 2013 at 4:11 pm

    *lagi nahan air mata supaya ga nangis di kantor*
    terima kasih ya mama..mau share artikelnya sama adekku :-)

  25. haritsnsalma
    Meyga Kurnia April 22, 2013 at 4:12 pm

    Terima Kasih Mama Jihan..
    very nice article..:)

  26. otie
    otie April 22, 2013 at 5:11 pm

    TF reminding ya… berkaca2..

  27. winda.reds
    Winda PrasKrisna April 22, 2013 at 6:38 pm

    Love the article, love the poem. A very good reminder (and a slap in my wrist, too). TFS Mama Jihan :)

    Sekesel2nya sama anak, nggak ada di samping mereka sebentar aja, rasanya aneh nggak ada yang nemplok bermanja2 sama kita.

    Dan pada akhirnya, pada masa yang jauuuuh di depan sana, justru kita yang bergantung pada mereka, minta dituntun saat berjalan seperti dulu kita menuntun mereka belajar berjalan.

    Maghrib2 nahan supaya nggak mewek, hiks hiks..

  28. poyaya
    Ranni Indrawati Irawan April 22, 2013 at 7:30 pm

    mama Jihan, thank you udah nulis artikel ini yah. pas bgt ketika lg butuh doping semangat & obat sabar :p

  29. Meli
    Meli April 22, 2013 at 8:56 pm

    Artikelnya baguuuuuus *seka air mata*

  30. bundanyaraffa
    devi wardhani April 22, 2013 at 10:20 pm

    nyeseek bikin meweek T_T
    TFS mama Jihan..nice article :)

  31. wikit
    wikit April 22, 2013 at 10:48 pm

    danny-boy (22m) baru saja tertidur setelah dikeloni…
    artikel ini bikin saya bercermin + mewek…
    puisinya makjleb banget!
    I’m a mom with my precious-teribble-two-son and at the same time I am expecting another son…

    Bener banget ya…
    “Because one day Mommy, I won’t be this small.”
    Dan itu sudah saya rasakan sejak Danny-boy sudah ber”sosialisasi” di salah satu Babies Club saat ia baru saja menginjak usia 1 tahun!!

    We have to cherish every moment we have with our kids, esp. when they’re still really rely on us…

    Thanks for sharing this great article…

  32. rikavega
    rikavega April 23, 2013 at 6:29 am

    meweeeeeeeeekkk… T_T

  33. giemuth
    giemuth April 23, 2013 at 7:09 am

    Always love this article,meski uda baca beberapa kali….makasiii mba Ji uda sharing, HBD Narda

  34. LuchiaChendana
    Luchia Chendana April 23, 2013 at 8:49 am

    nice artikel moms…itu yang selalu jadi pikiran saya…anak tidak pernah meminta dilahirkan, dan kehadiran dia begitu banyak memberi kebahagiaan…

    paling suka bagian yang ini…sangat menggugah
    “Ah, kita semua terkecoh. Bukan kita malaikatnya. Merekalah malaikat-malaikat kecil yang dihadirkan di dunia untuk membawa kebahagiaan untuk orang-orang di sekitarnya. Jangankan membayangkan bila Tuhan mengambil kembali titipan terindahnya ini, melihat mereka sakit saja, nyawa rasanya sudah hilang separuh.

    Kalaupun ternyata kita yang harus pergi lebih dahulu, mereka bisa dirawat oleh siapa saja. Perlahan, apalagi jika usianya masih sangat kecil, mereka mungkin sanggup menghapus bayangan ibunya. Tapi bila dibalik, Ibu mana yang sanggup membayangkan ketiadaan anak-anaknya? Sejak dua buah garis muncul di selembar testpack saja, kebahagiaan seorang (calon) Ibu sudah sedemikian membuncah-buncah.”

    TFS moms :)

  35. Merdi Oktavia
    Merdi Oktavia April 23, 2013 at 9:18 am

    nyesek bgt baca artikel ini, jadi gak sabar nunggu jam 12 siang,untuk istirahat makan siang dirumah dan menyusui Abyaz sambil meluk dia,, hiks hiks hiks,,

  36. crey
    Chrisye Wenas April 23, 2013 at 9:40 am

    love this! :) tfs mama jihan… love the poem too :’)

  37. keevie
    keevie April 23, 2013 at 11:19 am

    Tfs mami Jihan. Gw baru nyapih anak minggu lalu aja sedih bgt merasa anak cpt bgt gedenya. Thank you utk mengingatkan kita supaya lebih sabar,krn someday they wont be this small

  38. daffiki
    -FIKi- April 23, 2013 at 11:27 am

    makasihhhh utk pencerahannya, langsung pengen mewek ini *kangen anak di rumah*…hikz hikz… :’(

  39. elisa_sby
    Elisabeth April 23, 2013 at 12:39 pm

    pas banget momentnya…..lagi nungguin 2 anakku yang sakit, iseng buka TUM ada artikel ini…..lgs berurai air mata. bikin aku smakin banyak berdoa ama Tuhan supaya anak-anak sehat selalu.
    Klo aku ada sedikit permintaan ama Tuhan, supaya aku diberikan umum panjang dan rejeki yg cukup, supaya aku bisa mendampingi dan menafkahin anak2 smp nanti kelak mereka dewasa dan mandiri, krn saat ini aku jadi tumpuan utama utk nafkah keluarga……..(hiksss…..cepet2 hapus air mata, malu klo ketahuan nangis).

  40. lucky.savitri
    lucky.savitri April 23, 2013 at 12:58 pm

    Betul skali, anak2 itu adalah malaikat kecil kita. :’)

  41. Eva Bayu
    Eva Bayu April 23, 2013 at 1:04 pm

    Nangiiiiiiiiiiisss deh baca di kantor :,((
    Guilty kenapa juga mau2an kerja lagi. Udah bagus2 kemaren jd FTM.
    Berasa ditampar dengan bacaan ini.
    Kangen baru sempet mandi sebelum solat Dhuhur
    Kangen masak sambil gendong si kecil
    Kangen liat rumah berantakan sama mainan anak2.

    HIks..hiks..

    Pas lagi mewek2 tadi, tiba2 si bos dateng nanya kerjaan. Ga..gi..gu deh jawabnya =p

  42. gitaprima
    gitaprima April 23, 2013 at 1:09 pm

    o em ji,, sukses mewek di kantor.. langsung pengen ngibrit pulang.. tp ga bisa.. huhuhuhuh.. makin mewek deh jadinya..

  43. thesusanos
    thesusanos April 23, 2013 at 1:33 pm

    Sukses blm selesai baca udah mewek duluan.
    TFS ya :)
    Anakku Carenza (2,5yo) jg lg masa2 sulit dan GTM,belom ngurus adeknya,Valeska (7mos).jadi malu krn sering mengeluh x_x

  44. adisanita
    adisanita April 23, 2013 at 1:53 pm

    makin gundah gulana nih, sepertinya target buat resign harus difokuskan.Setiap hari anak saya, Alifa kels 1 SD, nanya, mama pulang jam brp, dan yg kecil TK A, kalau pas sy telp ke rumah,pasti marah2..” mama pulang sekarang.. aku mau sama mamaaaaa”….hiks.. hiks…thanks artikelnya ya

  45. neena_ardyanti
    neena April 23, 2013 at 2:31 pm

    Pernah baca puisi itu dan sukses mewek,sekarang puisinya ditambah cerita jadinya makin mewek..
    TFS mom.. :)

  46. shiny_dean
    shiny_dean April 23, 2013 at 3:46 pm

    waaa..
    always keren niy tulisan mama jihan

  47. Davincka
    Jihan Davincka April 23, 2013 at 4:40 pm

    Thanks ya, Mommies. Sama-sama ya semua, ini saya juga kadang-kadang gundah gulana karena kelakuan dua bocah ajaib ini hehehe. Kita saling mengingatkan kalau bukan karena keinginan kita, tak akan ada mereka di dunia ini. Apalagi saya. Yang memang kedua kelahiran ini sangat direncanakan dan ditunggu-tunggu :).

  48. restyera
    resty April 23, 2013 at 7:41 pm

    pas banget, hari ini dicoba kesabaran sy sama si kakak, kolokan minta ampun…sampai sy bentak, huhuhuhuu mksh sdh diingatkan ya mama Jihan :’)

  49. marinania
    marina gardenia April 23, 2013 at 11:34 pm

    So cool.. ijin share yaaa… tfs n ganbatte mama! :)

  50. sLesTa
    shinta lestari April 24, 2013 at 11:59 am

    love this very much, mama Jihan! terharu biru bacanya.. membuka mata sekali. you are absolutely right! anak akan tetap tumbuh dengan normal kalau mamanya ga ada.. tapi mama/papa bakal sengsara seumur hidupnya kalo kehilangan anak.

    jadi inget ada film ttg pasangan yang kehilangan anaknya (meninggal) dan gue selalu inget quotenya.. “it’s not normal for parents to bury their child”

    hiks..

  51. middutt
    mia utami April 24, 2013 at 1:35 pm

    #ambil tissue dan telpon nay d rumah

  52. teszatamam
    teszatamam April 24, 2013 at 2:43 pm

    Lagi meeting, gak konsen meeting… ambil tisue… mewek gak puguh

  53. dewiamel
    dewiamel April 24, 2013 at 2:49 pm

    Uhuk……*nangiiiiisssssssss

  54. thearizkia
    thea rizkia April 24, 2013 at 4:16 pm

    huhuhu…nangis. aku juga suka bertanya-tanya gimana kalo anak tau-tau udah besar. udah malu dipeluk dan dicium. rasanya pengen mereka kecil aj deh.

  55. icut
    Cut Fika Lutfi April 24, 2013 at 7:21 pm

    Baca ini jadi reload stok sabar, makasih ya…kelakuan malik anakku persis Narda

  56. gumzkiew
    gamma sinta rini April 25, 2013 at 3:45 pm

    selalu suka tulisannya mama jihan.. bagus banget artikel yg ini. :’) really love the poem! semoga kita smua selalu bisa menikmati setiap fase indah mjd orangtua ini ya

  57. geagei
    geagei April 25, 2013 at 7:37 pm

    Thanks mama Jihan :)

  58. Lendha
    Rosalinda Esther Santoso April 25, 2013 at 8:25 pm
  59. Lendha
    Rosalinda Esther Santoso April 25, 2013 at 8:26 pm

    Mewekk… TFS ;)

  60. Habibah
    Habibah April 25, 2013 at 11:24 pm

    TFS mommy Jihan…
    Hiks bener banget deh. Kadang suka kesel kalo pas Salsa jumpalitan, ngajak kesana kemari. Capek. Eh tapi, kalau pas dia sakit n diem aja tiduran jadi sediiiih…
    ngga bisa bayangin kalo dah ABG gimana…

  61. Vibe
    Vibe April 26, 2013 at 12:50 am

    What a slap on my face! Love the article mbaa :))

  62. neni_arka
    Neni Setyoreni April 26, 2013 at 8:34 am

    mom jihan, ijin share yaa…
    thx!

  63. IkaBundaJoyKen
    IkaBundaJoyKen April 26, 2013 at 5:35 pm

    Like this article mba… d^_^b

  64. kanahayaku
    kanahayaku April 26, 2013 at 7:44 pm

    Touching bgt ,malem2 sambil nggu kenes yg udah bobo ,udah berkaca2 deh skrg ..bakal slalu ak inget tulisan nya mommy jihan :)

  65. CNAP
    Intan CnaP April 27, 2013 at 7:12 pm

    Nangiiis bacanya…huahuaa…

  66. qie
    Rizqi Amalia April 28, 2013 at 4:35 am

    abis nyusuin si kecil dan baca ini… Aku nangiiiissss…..
    Ketika udah jadi ibu, baru ngerasain yang dirasain ibuku dulu…
    artikelnya baguussss….. :’)

  67. netta
    netta April 28, 2013 at 4:27 pm

    aku nangis bacanya…
    huhuhuhu

  68. mayakeyno
    Maya Siregar April 28, 2013 at 9:54 pm

    Terharuu.. Thanks buat artikelnya..

  69. lael
    mommy lael April 29, 2013 at 3:40 pm

    Ijin share ya mom Jihan.. It’s a beautiful slap in the face..

  70. iwed
    iwed April 29, 2013 at 5:37 pm

    Huhuhu… Langsung nangis bacanya… Poemnya baguuus banget! Thanks for the reminding ya mommy Jihan… Mw copy poemnya ah… Buat pengingat…

  71. tamaelaa
    tamaelaa April 29, 2013 at 6:17 pm

    setuju bgt mom , babyku baru umur 7 buLan tp saya pengen dy cpt” gede .. padahaL pasti kLo dy uda besar nti kita kangeeennn banget sm masa keciL’y yg menggemaskan .. dan ngerasain bgt duLu gmn mama kita ngebesarin kita yia , kerasa bgt jd ibu tuh LeLah tp semua kebayar sm “kebahagiaan” yg d’anugerahkan Tuhan ini .. aaaahh Love yaaa much my baby boy :*

  72. andiah
    Andiah Zahroh April 30, 2013 at 4:19 pm

    as always, mama Jihan, artikelnya keren banget!
    Bikin nangis di kantor T___T…

  73. mamaabhy
    mamaabhy May 2, 2013 at 10:25 am

    nice artikel mama jihan, all mommies will felt the same as your story ^_^

  74. fifi wicaksono
    fifi wicaksono May 3, 2013 at 8:34 am

    ten thumbs up dahhhhh (pinjem jempolnya sapa2 :D )
    tfs *bighug

  75. iparamitasari
    indah paramitasari May 6, 2013 at 10:00 am

    baca artikel ini lagi…lagi…lagi…dan lagi
    anak petama saya agha 28month dan adiknya kaizar 11month saya SAHM tanpa bantuan pengasuh,eksklusif pumping asi*(karena berbagai hal tidak breastfeed :(
    alhasil dirumah sering kecolongan marah marah sama si sulung (dan langsung meminta maaf lagi kpdnya :( ) ketika dia tantrum…dan si adik sedang rewel sedangkan jadwal pumping sudah terlewati…daaaaan baca artikel ini membuat saya “tersadar” kembali kemudian cooling down….TFS mama jihan…big hug…..

  76. Yolan Sharlina
    Yolan Yuliasari May 6, 2013 at 11:49 am

    Baca artikel ini dikasih tau sama temen lewat BBM, sedang di kantor pula, teman wanti2 supaya jangan dibaca dikantor tapi telat,,, sudah habis terbaca semua, hahahah…
    Malaikat kecilku masih berusia 4 bulan, sedang lucu lucunya, sedang manja manja nya. tetapi kadang sempat mengeluh atas sikap manjanya yang kerap ingin digendong terus sama mamanya.
    Mebaca tulisan ini, saya tersadar, namanya juga bayi, nikmatilah ia selagi ia masih ingin digendong, dimanja, dan dipeluk. Ahhhh… jadi pengen cepet2 pulang kerumah :)

  77. honeybund
    Sri Hadzriati May 7, 2013 at 5:15 pm

    ahhh… mewek… :(… tutup laptop, saatnya pulang memeluk malaikat kecilku… TFS, salama’ ki :)

  78. sindah
    Indah Tri W May 8, 2013 at 12:26 am

    Thank u mom jihan…
    baca ini sambil menciumi, mandangi,wajah malaikat kecilku 13m yg lagi bobok…
    sekaligus sekali2 mendampinginya dan menyusuinya.

    I copied your poem.
    thank u..

  79. yulia handayani
    yulia handayani July 2, 2013 at 3:08 pm

    Sambil meeting, iseng2 buka TUM.
    Eh malah baca ini, hanya ada 1 kata dalam hati, Kangen Alya…
    Kenakalan & tingkah pola mu, bikin mama kangen.

  80. bunda almair
    bunda almair September 27, 2013 at 4:33 pm

    harus nahan nangis krn bacany d kantor,tapi dada rasany dah pengen nangis dan meluk anakku..
    ga tega membaca baris demi baris sampe akhir,
    thx mom sudah diingatkan.
    tulisan mom jihan luarr biasa.

  81. NanaUlie
    Mashuna Ulie Azmi October 4, 2013 at 3:47 pm

    love the poem and love the article, makasih udah diingatkan ya :)

  82. dina azwar
    dina azwar October 29, 2013 at 2:56 pm

    jadi pengen cepet nikah dan punya anak ,,,langsung nangis bca artikel ini.. aku ngerasa dulu aku punya adek yang slalu pengen ikut kmana aku pergi, dan sekarang dia udah gede dan ga mau lagi ikut,,berasa sepi..

  83. Lydia Amrina
    Lydia Amrina October 30, 2013 at 12:53 pm

    baru baca artikel ini, daleeemm banget..tks ya mom

  84. susansalman
    susansalman January 4, 2014 at 12:58 pm

    nyeseeeek… nie article.. tq mba jihan

  85. teta
    teta January 20, 2014 at 9:29 pm

    Betul mbak, merekalah malaikat malaikat kecil. Iya, kudu lebih sabar, namanya juga anak anak. Seize the day, amin.

  86. bunda_rizma
    bunda_rizma November 25, 2014 at 11:22 am

    *nahan tangis
    tq artikelny mba jihan…. *telat

Post a Comment

You must be logged in to post a comment.