Belajar dari Negara Pencetak Anak-Anak Paling Bahagia di Bumi

“The true measure of a nation’s standing is how well it attends to its children – their health and safety, their material security, their education and socialization, and their sense of being loved, valued, and included in the families and societies into which they are born”- UNICEF

Merantau sejauh 11.340 km dari nyamannya ibu pertiwi menjadi sesuatu yang cukup menantang bagi saya, seorang ibu muda dengan anak berusia 1 tahun. Berbekal doa restu dari keluarga, saya dan anak dalam gendongan memberanikan diri menyeberangi lautan untuk menyusul suami yang tengah menimba ilmu di Belanda.

Begitu menginjakkan kaki pertama kali dan merasakan embusan dinginnya angin musim semi Amsterdam, saya pun menatap wajah lugu anak saya sambil membatin, “Ramahkah negara ini memperlakukanmu kelak, nak?

Sebagai seorang ibu baru yang minim informasi tentang Belanda, saya tidak tahu bagaimana negara yang katanya sosialis-liberal ini. Karena pernah terpapar budaya masyarakat Britania Raya saat menjalani pendidikan magister di kota Aberdeen, Skotlandia, sebenarnya saya sempat merasa tidak peduli saat pertama kali tahu bahwa suami memutuskan melanjutkan studi S3 di VU Amsterdam. Merasa ada kendala dalam bahasa Belanda dan sudah terlalu nyaman dengan semua fasilitas yang pernah kami rasakan selama menempuh studi master di Skotlandia membuat saya benar-benar enggan untuk mencari tahu lebih banyak tentang keunggulan negeri kincir angin ini.

Di pekan-pekan pertama saya tinggal di sini, tak bisa dipungkiri kerap terjadi perbandingan-perbandingan antara UK dan Belanda. Ibarat seseorang yang susah move-on dari cinta pertamanya. Berat hati ternyata sulit untuk dicari penawarnya. Sampai akhirnya media sosial seperti facebook membuka jaringan saya lebih luas yang artinya juga membantu pikiran menjadi lebih terbuka. 

Sejak itulah saya mulai bergabung di community center Amstelveen, bertemu sesama ibu-ibu muda yang anak-anaknya masih kecil untuk playdate. Kebetulan komunitas Selasa pagi dikoordinir oleh ibu dua anak asal Indonesia bernama Mbak Joice. Beliau memperkenalkan saya dengan banyak ibu baru, jadi sesekali saya bisa menggunakan bahasa Indonesia atau bahasa Inggris dengan para ibu lainnya.

 
Kegiatan anak-anak di community centre

Dari situ, saya pun melebarkan sayap mulai bergabung di komunitas ibu dan anak ekspatriat lainnya di lingkungan sekitar, salah satunya di Dynamo Amsterdam setiap Kamis pagi dan kebetulan berbahasa Inggris. Di komunitas tersebut kami bernyanyi, membuat prakarya, dan merayakan ulang tahun bersama-sama, seperti yang pernah saya bagi dalam video blog ini

Masa-masa transisi di bulan-bulan pertama tinggal di Belanda mulai bisa ditoleransi hati dan pikiran. Tak puas, saya pun mulai menantang diri sendiri untuk melibatkan diri di komunitas ibu-anak berbahasa Belanda setiap Jumat pagi. Jadilah setiap tiga kali seminggu saya ikut playdates dari satu tempat ke tempat lain. Mencari teman dan kegiatan agar otak lebih waras dan hati lebih lapang, tentunya agar anak saya juga bahagia! Happy children come from happy parents, don’t you agree?

Semenjak bergabung ke berbagai community center itulah wawasan saya jadi lebih luas. Perlahan saya menyadari bahwa negara ini setidaknya memiliki semua yang saya butuhkan untuk mendidik si kecil. 

Dari situ pun saya jadi tahu bahwa ternyata Belanda merupakan negara yang dinobatkan UNICEF menjadi negara ramah anak dengan prestasi tertingginya sebagai negara dengan anak-anak terbahagia di dunia. UNICEF sendiri setiap empat tahun sekali mengeluarkan laporan dalam bentuk comparative overview tentang prestasi setiap negara dalam hal pengelolaan hak anak-anak. Dari 29 negara maju yang dinilai dan dibandingkan, dalam 2 laporan berturut-turut pada tahun 2007 dan 2013, Belanda selalu unggul menjadi nomor 1, sedangkan posisi ke-2 hingga ke-4 ditempati oleh negara-negara Nordik seperti Swedia, Denmark, dan Finlandia. Posisi Belanda berada jauh di atas UK yang bercokol di posisi ke-24 dan Amerika Serikat pada posisi ke-26. Dari situ, saya mulai tergerak untuk menggali lebih dalam kenapa Belanda bisa mendapat predikat tersebut.

Sampai akhirnya, Allah takdirkan kami sekeluarga memiliki jalan takdir lebih seru lagi saat pindah ke kota Leiden. Sejak pindah ke Leiden, saya pun mulai jatuh hati sedikit demi sedikit dengan Belanda, sampai rasanya hati sudah penuh dan tak muat lagi menampung cinta pada negara lain!

Namun, mengapa bisa jatuh cinta sama Belanda? 

Melalui Leiden, saya jadi paham tentang cara Belanda memperlakukan anak-anak. Bagaimana negara ini mencintai anak-anak hingga mereka pun tumbuh bahagia di negaranya. Saya belajar bagaimana setiap lingkungan difasilitasi agar hak setiap anak untuk bahagia dapat tercipta dengan adil dan merata. Bahkan jika kita bekerja dan membayar pajak pada negara, maka pemerintah melalui SVB (Sociale Verzekeringsbank) akan memberikan child benefit untuk anak-anak di bawah usia 18 tahun sebagai tunjangan karena telah membesarkan seorang anak.
 
Tak salah rasanya jika banyak yang menyebut Belanda sebagai ‘a very child-centered society’ karena negara ini sangat fokus terhadap anak-anak dan pemuda. Bahkan Leiden, kota yang saat ini kami tinggali, ternyata merupakan City of Children Rights. Hal ini didukung dengan adanya program pendidikan di University of Leiden yang memungkinkan untuk mendapatkan gelar UNICEF Children’s Rights Degree Master of Laws in Advanced Studies, yang setahu saya hanya satu-satunya di dunia.

Di Leiden, kita juga bisa menemukan House of Children’s Right (Kinderrechtenhuis) tempat beberapa organisasi dan NGO yang memiliki fokus kerja pada kepentingan anak, berkumpul dan bekerjasama untuk menjamin setiap anak yang tinggal di Belanda. Tak hanya untuk anak-anak Belanda saja, bahkan anak-anak yang berasal dari negara lain di dunia mendapatkan hak yang sama untuk bermain dan berbahagia tanpa pandang bulu, baik anak imigran atau pun anak pribumi. Dari situ, saya tidak heran lagi jika UNICEF menjadikan Belanda sebagai pencetak anak-anak paling bahagia di planet bumi.

Lalu hikmah apa yang bisa dipetik dari Belanda? Ini akan saya ulas dalam tulisan berikutnya. Nantikan kisahnya ya, Urban mama! 

6 Comments

  1. avatar
    Aini Hanafiah January 4, 2018 4:31 pm

    Senang yaaa kalau di perantauan banyak komunitas ibu dan anak, jadi wadah sosialisasi yang bagus sekali ini. Saya tinggal di Norwegia, sistem sosialnya nggak jauh beda dengan Belanda tetapi kok baca ceritanya Ervina, Belanda ini masih lebih terasa 'hangatnya' :D terima kasih utk sharingnya yaa Ervina!

    1. avatar

      As .



  2. avatar
    Ratna Adiguna December 20, 2017 10:03 am

    Salah satu temanku tinggal di Belanda, dan ceritanya persis sama dengan pengalaman mama Ervina. Antara senang mendengarnya sekaligus aku ada rasa iri juga ya karena inginnya di Indonesia bisa seperti itu juga.

    Aku menunggu artikel selanjutnya ya Mama Ervina.

    1. avatar

      As .



  3. avatar
    dieta hadi December 19, 2017 9:33 am

    Keren ya kalo ada negara yang peduli sama anak-anak. Semoga kelak Indonesia pun begitu ya, aamiin. Thanks ya ceritanya ditunggu juga lanjutannya

    1. avatar
      Ervina Maulida December 20, 2017 2:58 am

      Terimakasih sudah ikut membaca :) saya optimis Indonesia sedang menuju ke negara yg lebih ramah anak, terbukti dari semangat ibuk2 zaman now yang makin aware sama parenting, insya Allah akan melahirkan pemimpin masa depan yg juga aware sama urgensi parenting :)

      1. avatar

        As .



    2. avatar

      As .



  4. avatar
    ninit yunita December 19, 2017 8:33 am

    wah keren banget ya Belanda... pas baca "rasanya hati sudah penuh dan tak muat lagi menampung cinta pada negara lain!" langsung senyum-senyum sendiri gitu :D ahaha kebayang udah bikin jatuh cinta banget ya, vin...

    jadi ga sabar buat baca artikel selanjutnya deh :)

    1. avatar
      Ervina Maulida December 20, 2017 2:59 am

      hehe thx ya udah mampir :), Indonesia tetap tanah air tercintaa kok :)
      ditunggu yaa artikel selanjutnya, semoga ada hikmah yang bisa di ambil :)

      1. avatar

        As .



    2. avatar

      As .



Post a Comment

You must be logged in to post a comment.