Berdamai dengan Mertua

Kira Kara

Sebelumnya tidak pernah terbayangkan dalam benak saya 4 atau 5 tahun yang lalu bahwa saat sudah menikah saya akan tinggal bersama mertua. Karena dulu saya punya angan-angan ingin hidup mandiri, ingin tinggal di rumah sendiri ketika sudah menikah nanti, bagaimanapun keadaannya. Bahkan saya sudah menyiapkan diri dengan mengambil KPR jauh sebelum saya punya rencana menikah. Bahkan dulu saya punya kriteria, calon suami saya harus sudah punya rumah sebelum menikah dengan saya.

Namun semua di luar dugaan, mimpi itu bubar jalan tepat ketika saya memutuskan akan menikah. Suami saya mengambil keputusan kami akan tinggal bersama orangtuanya. Meskipun saat itu suami saya punya rumah yang dapat ditempati dan saya juga sudah memiliki rumah sendiri.

Pada awalnya saya berpikir mungkin karena alasan ekonomi suami saya meminta saya untuk tinggal bersama mertua. Maklum, tepat saat kami memutuskan untuk menikah, kontrak kerja suami tidak diperpanjang. Itu artinya suami saya tidak memiliki penghasilan tetap untuk sementara. Di saat suami sudah memiliki penghasilan sendiri, saya dalam keadaan hamil tua dengan kehamilan berisiko tinggi. Karena khawatir dengan kehamilan saya, kami tetap memutuskan tinggal bersama mertua untuk sementara, hingga si kembar lahir. Ketika si kembar lahir pun, kami masih tetap tinggal bersama mertua, karena suami saya tidak ingin anak-anak kami hanya diasuh baby sitter di rumah ketika kami berdua berangkat kerja. Bila kami tinggal di rumah mertua, pengasuh dapat dikontrol oleh mertua selama kami di kantor.

Seperti layaknya cerita menantu dan mertua pada umumnya, awal kehidupan saya tinggal bersama mertua banyak diselingi perbedaan pendapat yang sering berujung pada perselisihan dan air mata. Perbedaan pendapat tentu saja tidak bisa dihindari karena kami datang dari latar belakang keluarga yang berbeda. Banyak perbedaan saya dan mama mertua saya. Mama mertua saya dulu bekerja sebagai sekretaris direktur sebuah BUMN. Sehingga Mama terbiasa mengatur segala sesuatunya, termasuk di keluarga. Mama adalah orang yang tangkas dan cekatan. Bila merencanakan sesuatu, semua direncanakan dengan detail dan matang, serta memastikan semua harus berjalan sesuai rencana. Sementara saya memiliki ritme kerja dan rutinitas yang berbeda. Saya bukan perempuan yang cekatan seperti Mama, bahkan saya cenderung ceroboh dan kikuk. Di kantor, saya seorang sekretaris dari seorang manager yang easy going. Beliau membebaskan saya mengatur ritme kerja saya sendiri, asalkan semua laporan dan tugas selesai tepat waktu dan beres. Saya merasa tertatih-tatih ketika harus berhadapan dengan Mama yang memiliki ritmenya sendiri, sementara saya dengan ritme saya sendiri. Ini membuat masa adaptasi dengan keluarga suami, saya jalani dengan sangat berat.  Banyak kebiasaan keluarga di luar kebiasaan saya yang harus saya jalani dan harus saya maklumi, termasuk perbedaan pola asuh dan saya tahu tidak akan pernah habis untuk membicarakannya.

Setelah menyadari betapa banyak perbedaan-perbedaan itu, dan tidak mungkin disatukan, sementara belum memungkinkan bagi kami untuk tinggal di rumah sendiri, akhirnya saya memilih berdamai dengan perbedaan. Saya berpikir, kami adalah dua individu yang berbeda yang memiliki tujuan yang sama. Saya tahu mama mertua dan saya memiliki karakter yang serupa, visi yang sama dan tujuan yang sama, namun  kami sering memilih jalan yang berbeda. Saya tidak bisa memaksa mertua saya untuk berjalan di jalan yang sama dengan saya karena kami memiliki alas kaki dan kekuatan yang berbeda. Demikian juga mertua saya tidak dapat memaksa saya karena saya memiliki tantangan dan gejolak semangat yang berbeda dengan beliau. Berbagai macam diskusi tidak dapat menyatukan kami. Perdebatan tidak membawa kami ke jalan yang sama. Bagaimanapun juga memang kami tetap berbeda. Hingga saya memilih untuk tidak lagi berdebat. Saya memilih berdamai di jalan yang berbeda. Bila ada kesempatan, saya memilih untuk bercanda dan mengobrol ringan bersama mertua sebagai quality time dan menjalin ikatan di antara kami. Bila mama ulang tahun, saya selalu menyempatkan untuk memilih sendiri kado spesial untuk beliau. Hampir setiap pagi, saya selalu menyempatkan untuk menemani mama memasak sambil bercanda, bercerita ringan bahkan bergosip sekalian belajar memasak dengan beliau.

Hingga akhirnya ketika Kira dan Kara tumbuh dan kami mampu mandiri secara ekonomi, kami pun tetap tinggal bersama mertua. Saat itu suami saya berkata, entah berapa lama lagi orang tua kita dapat menemani kita, entah berapa lama lagi kita diberi kesempatan membahagiakan mereka. Kita semestinya bersyukur diberi kesempatan membahagiakan orangtua dengan cara yang jauh lebih mudah, tidak dengan harta berlimpah, tidak dengan pengorbanan berdarah-darah, cukup dengan mengizinkan mereka melihat cucu-cucu mereka setiap hari dan menikmati perkembangannya bersama kita. Perbedaan di antara kami masih tetap ada, karena memang pada dasarnya tidak ada dua manusia yang sama. Namun kini kami lebih memilih untuk saling memaklumi, saling mengerti dan memahami pribadi kami.  Apa pun yang terjadi di antara kami, sebesar apa pun perbedaan jalan kami, kami sama-sama menyadari bahwa kami memiliki tujuan yang sama: mendidik Kira dan Kara menjadi anak-anak yang tangguh dan mandiri. Karena itulah perbedaan yang ada tidak lagi menjadi perselisihan yang berlarut-larut. Kini kami mampu berjalan bergandengan tangan meskipun kami berjalan di jalan yang berbeda.  Semoga kami dapat terus belajar menjadi lebih arif dan bijak menyikapi perbedaan kami. Semoga kami dapat selalu tertawa dan berbahagia bersama melihat tumbuh kembang Kira dan Kara.

16 Comments

  1. teta
    teta February 27, 2014 at 10:17 am

    Salut buat mbak Wiwit. Betul mbak, jalan terbaik ya berdamai dengan perbedaan yang memang pasti ada.. Yg penting tujuannya sama. Semoga saya dan mama mertua juga memiliki kualitas hubungan yang baik seperti mbak dan mama mertua. Tfs ya ;-)

  2. errika
    Errika Aprilia February 27, 2014 at 10:52 am

    mbak, setuju banget, mau sampai kapanpun kita menghindar, berdebat atau berargument ga akan pernah ada jalan keluar,justru malah nambah masalah baru,memang mengalah jadi jalan terakhir yang terbaik. salut mbak. :)

  3. nadiapuspa
    nadia pusparini February 27, 2014 at 11:10 am

    aah…samaan mbak, coba saling menghargai dan ambil jalan tengah lah, pokoknya yang terbaik buat anak lah

  4. sLesTa
    shinta lestari February 27, 2014 at 11:13 am

    suka ama tulisannya wiwit iniii… salut buat wiwit yang bisa meredam ego dan mengalah untuk agree to disagree sama mama mertua. gak gampang pastinya, tapi emang itu yang terbaik karena sama2 ingin meraih yang terbaik juga untuk keluarga.

    salut wit!

  5. ZataLigouw
    Zata Ligouw February 27, 2014 at 1:29 pm

    Wiwittt.., gw bacanya sambil berkaca-kaca huhuhu, terharu. Bagus dan inspiratif!

    makasih ya Wit sudah mau berbagi. Setuju banget dengan inti dari tulisan Wiwit, saat ada perbedaan, nggak perlu susah payah menyamakan, cukup saling mengerti dan mengormati perbedaan tersebut.., semua akan terasa indah kok saat dijalani dan dinikmati *pengalamanpribadi*

  6. ninit
    ninit yunita February 28, 2014 at 6:05 am

    wittt…
    tulisanmu bagus banget deeeh. terharu bacanya. seneng krn wiwit bisa “berdamai dengan perbedaan” dengan mertua.
    baca komen suami ttg tinggal sama mertua, waaah… bener banget wit. suamimu bijak sekali :)

    semoga mertua sehat2 selalu yaaa wit, salam untuk beliau.

  7. drost
    drost February 28, 2014 at 10:17 am

    setuju sama suami mbak wiwit, kami semua jauh dari orang tua masing2, januari pas lahiran di RB di tanya “mana bu kelarganya yang lain, koq cuma berdua saja?” mak gleghhhh………duh gimana deh rasanya sementara yang lain komplit!

  8. eka
    Eka Wulandari Gobel February 28, 2014 at 11:14 am

    wiwit.. salut deh! terharu bacanya. semoga selalu rukun dan sehat yaa wiwit!

  9. ipeh
    Musdalifa Anas February 28, 2014 at 1:19 pm

    wiwit, artikelnya bagus banget. Ingat pesan mama sebelum nikah, ibu mertua itu seperti mama juga, perlakuannya harus sama seperti mama. Dan setuju banget dengan pendapat suami.
    semoga beliau sehat-sehat terus ya wit, salam untuk ibu dan Bapak.

  10. dewiamel
    dewiamel February 28, 2014 at 1:38 pm

    iyes….saya pun akhirnya memilih perdamaian. tp kl harus tinggal satu atap sepertinya blm mampu hehehehehe
    salut deh ama mba wiwit. ayo kapan kira kara punya adik #eh :p

  11. fanny
    Fanny Hartanti February 28, 2014 at 6:20 pm

    wiwit.. bagus tulisannya.
    salut untuk wiwit

  12. bunda ichi
    bunda ichi March 3, 2014 at 10:47 am

    dan di ujung tulisan, saya menangis..hiks sering banget masih belum berdamai sama mertua >.<

  13. sintanirmala
    sintanirmala March 4, 2014 at 11:05 am

    ngena banget tulisannya mbak. salut sama mba yang sabar banget unk berdamai dengan perbedaan, saya masih belajar untuk seperti itu hehe

  14. sinta wati March 4, 2014 at 1:14 pm

    kalimat ini yg ngena banget “Saya tidak bisa memaksa mertua saya untuk berjalan di jalan yang sama dengan saya karena kami memiliki alas kaki dan kekuatan yang berbeda”
    yah saya belum bisa kompak 100% sama mertua tapi kalimat itu ada benarnya dan ditambah mencoba berdamai dengan keadaan rasa-rasanya semua lebih mudah. toh suami yg saya kagummin dengan segala kelebihan dan kekurangannya hasil didikan mereka ^_*

  15. arinur
    arinur March 5, 2014 at 10:14 am

    terharu bacanya…pengalaman hampir sama saya alami, memang susah berdamai, tapi kalau tidak berusaha berdamai, malah bikin cape ati :)

  16. siennaMom
    siennaMom August 22, 2014 at 5:52 pm

    Mbaaaaak tulisannya bikin mata berkacakaca. Bener banget mbak seperti apapun perbedaannya kita harus berusaha untuk berdamai apalagi dengan mertua. It takes time, but we have to :)

    Karna suatu saat nantinya kita juga akan jadi orangtua dan mertua…

Post a Comment

You must be logged in to post a comment.