Berharap untuk Generasi yang Lebih Baik

dhira rahman

Dengan semakin seringnya membaca, menonton televisi, akses internet, dan kesemuanya menayangkan soal narkoba, free sex, kejahatan, dan yang terbaru, bunuh diri, saya semakin miris dan pesimis menghadapi dan membayangkan, dunia macam apa yang akan dihuni anak saya? Kehidupan dan jalan hidup macam apa yang direntasnya? Tak putus doa saya untuknya setiap malam sejak hari pertama saya tahu ia ada didalam rahim hingga hari ini, supaya ia diberi kehidupan yang baik, ditunjukkan jalan yang lurus, dan diselamatkan dunia-akhirat.

generasi

Saya mau jujur, karena kehadiran Zua hidup saya berubah. Saya dulu anak gaul sejati, tidak sambang dapur, tapi kehadiran Zua di usia saya yang 23 tahun, menjungkir balikkan dunia saya. Berbagai buku teori parenting saya baca. Banyak sudah situs parenting saya kunjungi, dan saya semakin ngeri. Mulai dari GTM *gerakan tutup mulut*, separation anxiety, tantrum, sampai potty training, sampai pengaruh pengasuhan kakek-nenek terhadap perkembangan anak, name it, I’m an expert on it (lebay).

Main interest saya adalah bagaimana caranya mendidik Zua menjadi anak yang baik, tidak neko-neko dan masuk golongan selamat dunia akhirat seperti yang saya tulis diatas.

Dari riset kecil-kecilan yang saya buat, akhirnya saya menemukan kombinasi yang saya terapkan sejak Zua berusia seminggu, so far sampai Zua 29 bulan, segalanya berjalan dengan baik dan sesuai (melebihi) harapan saya. Caranya saya selalu menceritakan padanya bahwa yang paling sayang padanya adalah Tuhan (kami keluarga muslim, jadi saya bilang Allah) karena Allah menyayangi Zua dan kami (ayah-bundanya), maka Allah mengirimkan Zua pada kami. Saya juga selalu membacakan al-fatihah pada Zua setiap ia mau tidur dan di usia 2 tahun, dia sudah hapal al-fatihah.

Kenapa saya memilih menjelaskan bahwa Tuhan sayang padanya? Karena saya tidak dibesarkan di keluarga yang fanatik. Yang diajarkan dikeluarga saya adalah bahwa Tuhan amat baik dan amat sayang makhluknya. Kami tidak diajarkan untuk beribadah karena mengharap pahala, atau karena takut dosa, tapi kami beribadah karena kecintaan kami pada Tuhan, jadi pendidikan itu juga yang ingin saya tanamkan buat Zua.

Belakangan, ketika Zua semakin besar, saya mulai melibatkannya dalam kebiasaan beribadah kami, misalnya shalat berjamaah. Hasilnya? 29 bulan, dan Zua sudah hapal seluruh gerakan shalat, dan bisa tertib mengikutinya.

Oh ya, saya dan suami juga mengajarkannya untuk berbagi pada sesama. Bahwa dalam setiap milik kita, ada terselip milik orang lain, karena Tuhan cinta kami, maka kami harus membagi apa yang kami punya untuk sesama. Ramadhan lalu, 3 kali Jum’at saya membonceng Zua untuk membagi-bagi 30 kotak nasi, 50 bungkus kolak dan 50 bungkus kacang hijau, saya sediakan uangnya dari uang kami, dan dari uang Zua yang diberi grandparents-nya.

Menjelang lebaran, kami menyediakan 50 paket untuk dibagikan, dan juga amplop-amplop uang. Dalam setiap hal ia terlibat, Zua ikut menyumbang uang, ikut berbelanja, ikut membungkus, dan ikut membagikan. Hasilnya, alhamdulillah lagi, Zua sudah bisa merasakan kasihan pada penderitaan dan kesusahan orang lain, dan tidak merasa eman untuk membagi apa yang dimilikinya untuk membantu meringankan orang lain.

Banyak hal yang saya pelajari dari proses saya mendidik Zua. Bahwa sebetulnya dalam proses mengajari itu, saya juga belajar, bahwa ketulusan, adalah sebuah hal yang mahal!, saya mengajarkan hal-hal diatas pada Zua, saya mengharap sesuatu, saya tidak benar-benar tulus, tapi anak kecil ini, ia tulus!!, jadi saya berusaha akan meniru ketulusannya.

Jika teman-teman mau meniru apa yang saya lakukan, mari saya beri 2 kunci gampang.

  1. Contohkan
  2. Repetisi

<

p>Ingin anak yang baik? maka jadilah kita orang baik. Ingin anak kita berbicara dengan kata-kata yang baik?, maka bicaralah kita dengan kata-kata yang baik. Ingin anak kita dekat dengan Tuhan? maka dekatlah kita dengan Tuhan.

 

Lalu ulanglah! Ingatlah bahwa otak anak kita (apalagi di usia golden age) serupa spons kering, amat mudah menyerap. Semoga apa yang diserap anak-anak kita adalah hal-hal baik, yang akan dibawanya dalam perjalanan menuju kedewasaannya.

28 Comments

  1. Mommika
    Mommika December 28, 2009 at 7:57 am

    Very good article, Dhira!
    Inspiring banget.

    Btw, nanya dong..
    Melibatkan (mengajarkan) anak buat sholat itu bagus dari umur berapa sih?
    Rai dulu waktu belum bisa gerak sering dibawa sholat jamaah di kamar. Karena dia anak yang anteng, nggak nangisan jadi acara sholat jamaah bisa berhasil dengan syuksyes.
    Eh, giliran dia udah lasak, bisa berguling dan merangkak..wah, bubar jalan deh kalo diajak jamaah. Yang ada emaknya ga khusyuk. Sholat sambil mata kemana2 ngikutin gerakan rai, dan lebih sering akhirnya refleks nangkap dia.
    Pas lebaran haji kemaren juga gitu, dibawa sholat ied..eh dia nangis. Mommy ga jadi sholat deh. Padahal waktu lebaran idul fitri dia masih bisa anteng dibawa sholat ied.
    Help me ya moms…karena aku pengen banget didik agama terutama sholat sejak dini (biar ketularan sholeh kaya uazua juga :D). TIA.

  2. thelilsoldier
    inga December 28, 2009 at 8:10 am

    Suka banget artikel ini. Saya termasuk yg lebay urusan parenting. Semakin banyak informasi dari buku, situs, tv, semakin lebay deh.
    Saya setuju banget dengan lead by example. Makanya sejak punya anak saya sendiri merasa menjadi org yg lebih baik.

  3. HaidarMoms
    Sari Hermalina Fitri December 28, 2009 at 8:29 am

    Dear Dhira,

    Artikel yang menyentuh dan baguss Dhira….aku juga ingin menerapkannya pada Haidar…semoga aku bisa mengikuti langkahmu…InsyaAllah Amiinn.

  4. ninit
    ninit yunita December 28, 2009 at 8:34 am

    dhira, artikelnya bagus banget… ini juga bagian dari resolusi saya untuk tahun ini dan tahun depan (dan seterusnya).

    btw, zua hebat banget yaaa udah hapal gerakan sholat :) dan tertib lagi! waw!

    di foto, khusyuk banget do’anya.

    terima kasih dhira, untuk selalu mengingatkan saya. :)

  5. G-Mom
    Indah Kurniawaty December 28, 2009 at 8:51 am

    Dhira,
    Artikelnya bikin aku termotivasi untuk lebih baik dalam mendidik Ganesh.

    Sekarang aku selalu membiasakan bicara dengan lemah lembut ke Ganesh dengan harapan Ganesh bisa menirunya mommynya.

    Makasih ya udah sharing dan mengingatkan aku untuk memberi contoh lebih mendekatkan diri pada Allah jika memang aku menginginkan Ganesh jadi anak yang sholeh.

    This article is very inspiring…for everyone!

  6. sLesTa
    shinta lestari December 28, 2009 at 9:09 am

    very nice and inspiring writing, dhira!
    sama kayak yang laen, thanks udah ngingatin juga ya. zua pintar banget udah bisa ngikutin shalat.. bisa jadi patokan buat naia nih. 9 more months to go! :)

  7. cicik
    cicik December 28, 2009 at 9:44 am

    nice! Bundabun memang touub.

  8. metariza
    Meta December 28, 2009 at 9:48 am

    Dhira, very well put and very inspiring…thanks for sharing :)dan mengingatkan kita untuk lebih banyak memberi contoh kepada anak daripada sekedar memberitahu dan menyuruh.

  9. mamadedev
    devina alfarani December 28, 2009 at 10:18 am

    great article, bun.. love it.. alhamdulillah kyra udah suka niruin takbir dan sujud kalo papa-mamanya lagi sholat (well, sujudnya lebih ke arah tengkurep terus leyeh2 di atas sajadah sih, hehehe..) dan selalu meninggalkan apa pun yg lagi ia kerjakan kalo dia denger adzan maghrib di tv. mudah2an waktu kyra seumur zua nanti, udah hapal juga gerakan sholat.
    anyway, thanks for reminding and sharing, dhir..

  10. December 28, 2009 at 11:53 am

    very inspiring article, indeed… setuju banget, leading by example is the way to go.

    “Ingin anak yang baik? maka jadilah kita orang baik.”

    quotenya nendang banget, dhir… emang punya anak bikin kita berusaha untuk jadi orang yang baik karena kita pengen dia jadi yang terbaik. amazing how much they change us… we actually learn from them (and for them) as much as, if not more than, they learn from us.

  11. lanaline
    Mirta Dwi December 28, 2009 at 12:09 pm

    Plaakkk! Bundabu aku bagai tertampar ;P
    Bagus banget artikelnya mengingatkan aku supaya jadi contoh dulu jangan menuntut dulu buat Lanafarra.
    Ga akan hentinya khususnya aku belajar jadi ibu, termasuk juga belajar dari sharing the urban mama disini, kewl…keren!
    Like u said, we entering a university of life
    TFS, so inspiring bundabu & uazua
    :D

  12. nyanya
    almaviva landjanun December 28, 2009 at 12:52 pm

    @dhira setujuuu..Mudah2an nanti saya dan suami jadi contoh yg baik buat si calon baby.Amin.Makasih ya,udah diingetin dgn nulis artikel ini :)

  13. eka
    Eka Wulandari Gobel December 28, 2009 at 3:41 pm

    nice posting bun,
    kadang kita menempatkan diri sebagai pendidik, padahal sebenarnya anak-anaklah yg mendidik kita :-)

  14. ipeh
    Musdalifa Anas December 28, 2009 at 3:48 pm

    dear Dhira..
    artikelnya bagus banget dan sgt menyentuh. Tidak mudah menjadi seorang Ibu krn tanggungjawab besar terhadap anak dan Allah, namun itulah tugas mulia dari seorang Ibu. Semoga kelak kita menjadi orangtua yang bangga terhadap anak dan Allah, amien :)

    Terimakasih ya sdh diingatkan kembali..

  15. chint13
    Shinta Sutono December 28, 2009 at 8:41 pm

    Amin..

    Dhira, sukaaaa banget artikel ini.
    Terima kasih sudah mengingatkan kembali.
    Jadilah CONTOH terlebih dahulu. Itu yang mesti berulang kali kita ingat :)
    Insyallah.

  16. chint13
    Shinta Sutono December 28, 2009 at 8:41 pm

    Amin..

    Dhira, sukaaaa banget artikel ini.
    Terima kasih sudah mengingatkan kembali.
    Jadilah CONTOH terlebih dahulu. Itu yang mesti berulang kali kita ingat :)
    Insyallah.

  17. chint13
    Shinta Sutono December 28, 2009 at 8:41 pm

    Amin..

    Dhira, sukaaaa banget artikel ini.
    Terima kasih sudah mengingatkan kembali.
    Jadilah CONTOH terlebih dahulu. Itu yang mesti berulang kali kita ingat :)
    Insyallah.

  18. RinyChintia
    RinyChintia December 29, 2009 at 7:52 am

    bunda dhira,…

    makasih yah buat share nya,ini sangat berarti untuk calon ibu seperti saya.. jadi smangat!
    yess we can do it bunda’s!

  19. eksinads
    Eksi Nadiasti December 29, 2009 at 8:43 am

    meskipun aku belum menikah jadi belum punya anak, aku suka kepikiran dgn hal2 begini… Inspiring banget Dhira :) Makasih ya udah sharing… Mudah2an aku bisa kaya Dhira nantinya :) hehehe

    Kalau boleh tau, sehari2 Dhira kerja gak?

  20. dhira rahman
    dhira rahman December 29, 2009 at 10:38 am

    @mommika : saya selalu sholat didepan zua, tadinya dia suka naikin punggung saya kalau sujud, dan saya tetep shalat aja sih, ingat cerita Rasulullah ketika cucu2 beliau menaiki punggungnya ketika shalat.. Nggak apa2, namanya anak kan memang belum punya kesadaran tentang apa yang dilakukan, makanya kita aja yang kasih contoh, lama2 akan behave juga kok..

    @eksinads : saya dulu bekerja, sekarang saya tidak lagi bekerja, pekerjaan saya adalah menjadi ibu. Gajinya besar loh, dibayar Tuhan dan cinta anak :)

  21. alin
    alin ramadhan December 29, 2009 at 1:27 pm

    wah dhira, hebat sekali ya zua… anak saya doa belum tidur aja belum hapal :( gimana ya ngajarinnya? padahal udah diulang terus tiap hari di depan dia. tapi kok kayaknya dia susah nginget yaa… tipsnya apa yaa dhira?

  22. shinantya
    Shinantya Prijomustiko December 30, 2009 at 6:14 pm

    Dear Dhira,

    Thanks for sharing with us :)

    Memang kadang kita lupa kalau kita contoh buat anak kita. Memberi contoh juga mesti sabar, karena gak selalu anak akan ngikutin. Mesti pelan-pelan dan pakai banyak jurus. Karena anak juga makin pinter lho. Kita mesti bisa bikin strategi untuk nanggepin kepinteran anak.

    Semoga ibu-ibu gak lupa kasih contoh yang baik sama anaknya karena Ibu orang yang paling deket sama anak. Doaku biar aku bisa jadi contoh yang baik buat Kerlap, anakku :)

  23. lie.antonia
    lie.antonia December 31, 2009 at 9:31 am

    Dear Dhira,

    sukaa dehh artikelnya…

    “Karena saya tidak dibesarkan di keluarga yang fanatik. Yang diajarkan dikeluarga saya adalah bahwa Tuhan amat baik dan amat sayang makhluknya. Kami tidak diajarkan untuk beribadah karena mengharap pahala, atau karena takut dosa, tapi kami beribadah karena kecintaan kami pada Tuhan, jadi pendidikan itu juga yang ingin saya tanamkan buat Zua.”

    i’m very agree with this paragraph.

    thanks for the inspiring thoughts

    antonia

  24. mamafathir
    Tutik Sriyati January 5, 2010 at 11:47 pm

    hmm bagus banget….TFS..jadi malu sendiri secara umur Dhira masih muda banget dibanding saya…

  25. dhira rahman
    dhira rahman January 8, 2010 at 9:10 pm

    @ alin ramadhan : saya coba terapkan prinsip hypnoparenting, mengulangnya terutama disaat anak udah setengah berangkat kealam tidur, alhamdulillah, it works :D

    @ mamafathir : ah, saya jadi malu nih.. i’m a student in this university of life

  26. marsyalina
    marsyalina January 15, 2010 at 6:36 pm

    Bener banget, harus menanamkan kecintaan dulu kepada Tuhan..
    Kalo udah cinta, apapun pasti bakal dilakukan demi Yang Dicintai..
    makasih ya mba Dhira…

    semoga bisa mendidik Zahra seperti itu, :)…
    pasti ga gampang ya??

  27. dhira rahman
    dhira rahman January 16, 2010 at 9:43 am

    @ marsyalina : jangan bilang nggak gampang, pikiran kita amatlah menentukan… tanamkan saja : “pasti bisa” maka insyaAllah akan bisa!!

  28. sasa_mommytwinnie
    Elisa Darmadi January 25, 2010 at 6:00 pm

    very inspiring bundabu….i love u full…..

    bener” ngingetin kalo kita adalah contoh anak” kita….
    kadang selalu menuntut mereka jadi anak” yg baik….tapi kadang kita kelepasan ngomong dengan nada tinggi di depan mereka…

    thx u so much bundabu….uda ingetin aku….smoga aku bisa jadi contoh yg baik buat twinnie…

Post a Comment

You must be logged in to post a comment.