Breastfeeding and Nursing Nazis

metariza

Buat saya, urusan ASI dan menyusui itu sensitif. Sensitif karena itu private. Sukses atau ngganya seseorang memberikan ASI tergantung dari banyak faktor. Dan itu sebabnya saya suka tidak nyaman kalau mendengar nursing/ breastfeeding Nazis. Nursing Nazis tidak sama dengan fellow moms yang simply mendukung pemberian ASI dan menyusui. Nurzing Nazis lebih ke arah menghakimi ibu yang tidak menyusui atau tidak bisa memberikan ASI exclusive.

Sebagai ibu, saya mendukung ASI. Menurut saya ASI adalah yang terbaik untuk bayi, apalagi dalam 2 tahun pertama kehidupannya. Dalam kitab suci agama yang saya anut pun disarankan demikian and not to mention a massive amount of research regarding breastmilk.

Saya pernah mengalami ketidaknyamanan dengan nursing Nazis. Para nursing Nazis ini ngga tau seluruh cerita dan perjuangan saya untuk memberikan ASIX tapi berani-beraninya melihat dengan tatapan merendahkan diikuti dengan ucapan-ucapan tajam.

 

This Is My Breastfeeding Story

Saya nggak menyusui langsung pada Nara. Dua minggu pertama, saya masih struggle untuk menyusui langsung but I guess that didn’t count for nursing Nazis :p my nipple was sorta inverted (nggak keluar), so it was so hard for me to breastfeed. Di sisi lain, ASI saya melimpah ruah jadi pas merembes, saya pompa aja karena saya ngga mau rugi. Nah, ternyata ASI saya itu pernah diberikan suster pada Nara saat saya sedang tidur karena susternya tidak tega membangunkan saya. Jadi suster memberikan ASIP saya pada Nara. Saya ngga mikir panjang. Saya pikir jadi bisa selang seling antara menyusui langsung dan memberikan ASIP untuk menahan rasa sakit ketika menyusui.

Saya juga mulai pake botol untuk memberikan ASIP pada Nara. Kenapa? Simply karena menurut pengalaman saya, kalau menggunakan sendok banyak yang tumpah. Sampai rumah, baca-baca buku lagi trus kaget. Katanya bayinya bisa bingung puting. Gubrak, paniklah saya…pantes aja Nara makin susah nyusu ke saya karena saya selang seling dengan botol. Masa nyusuin itu rasanya kaya berantem sama Nara karena dia kesusahan dengan kondisi nipple saya yang ngga keluar, ditambah Nara udah ngerasain enaknya pake botol.

Abis itu saya langsung berangkat ke klinik laktasi. It may work with lots of people, but not me. Mungkin saya ngga ketemu sama konselor yang pas. Saya lebih banyak disalahkan dan kesalahan saya sering diulang-ulang. I wasn’t happy about it! Saya tahu ada yang salah dengan cara saya menyusui (latch on-nya), that’s the main reason why I went there. What I need is a solution. Tapi saya sangat menyesalkan, konselor tersebut menyalahkan saya dan itu dilakukannya berulang-ulang. Terus terang saya jadi ngga konsen dan mood saya udah keburu turun. Tidak hanya pada saya, tapi suami juga dimarahi oleh konselor tersebut karena suami di luar memberikan Nara ASIP dengan menggunakan botol. Pada saat itu, Nara haus, saya sedang ada di dalam dan suami ngga boleh masuk. Jadi bagaimana suami harus memberikan ASI?

Keluar dari sana, saya masih ingin menyusui langsung. Saya masih mencoba tapi karena pengaruh konselor yang sama sekali tidak membantu, membuat mood saya down. Saya akhirnya punya kesimpulan, yang penting saya masih bisa memberikan ASI, apapun medianya.

Konsekuensinya? Repot. Karena saya harus mompa terus. Kalau jalan-jalan ke mall, bawaan segambreng. Membawa ASIP, air di termos untuk menghangatkan ASIPnya, botol yang steril untuk  Nara belum lagi drama kalau telat menyiapkan ASIPnya, Nara bisa nangis karena kesal. Benar-benar heboh dan jauh lebih repot dibandingin orang yang menyusui langsung. Tinggal buka baju, beres.

Tapi alhamdulillah ASInya banyak, jadi selain untuk ke Nara juga untuk stock persiapan masuk kantor lagi. Saya yakin banget bisa memberikan ASI eksklusif dan lebih dari 6 bulan. Saya pernah baca juga ada urban mama yang memiliki pengalaman yang sama dan bisa memberikan ASI lebih dari setahun lewat ASIP. Jangan salah, once in a while saya tetap mencoba menyusui langsung tapi end up dengan saya nangis karena rasanya seperti berantem dengan Nara. Dia nangis-nangis kejer begitu saya coba. Saya seperti menyiksa anak. Akhirnya pemberian ASI saya lakukan dengan botol.

Cobaan selanjutnya adalah asisten di rumah menelepon saat saya sedang pergi, katanya rumah saya mati lampu. Super panik memikirkan ASIP saya sebanyak itu yang ada di kulkas. Heboh minta dibelikan es supaya ASIP tidak cair atau rusak. Mertua saya juga membawakan es dan meminjamkan genset. Sampai rumah, ada banyak kantong stok ASIP yang cair dan akhirnya ASIP cair itu diberikan pada Nara. Padahal saya sudah punya sistem sendiri, memisahkan yang mana untuk dikonsumsi Nara sehari-hari dan mana yang untuk stok persiapan saya saat kembali ke kantor. Setelah kejadian tersebut, saya dan suami bela-belain beli genset. Sebegitu protektifnya saya dengan stok ASIP untuk Nara. Karena dengan stok ASIP ini lah harapan saya supaya Nara bisa ASIX.

Beberapa hari kemudian saya pengen tau apakah ASIP lain bekas kejadian mati lampu itu baik-baik aja. Saya cium baunya, menurut saya aneh. Jadi saya membuang berkantong-kantong ASIP sambil menangis. Saya simpan untuk dibawa ke dokter. Sedihnya, doktern bilang itu nggak apa-apa, ngga rusak. Tambah nangis lagi saat ingat kantong-kantong ASIP yang sudah saya buang.

Tapi saya masih semangat nyetok ASIP sampai saya mulai ngantor lagi. Di kantor rajin mompa karena saya ingin apa yang saya perah hari ini cukup untuk Nara sehari supaya jumlah stok saya tetep banyak. Untuk jaga-jaga growth spurt.

Sebulan ngantor, saya diminta untuk mengikuti in house training selama 6 minggu. Trainingnya berat, karena tiap hari bahannya banyak dan tiap minggu ujian. Saya determined banget ingin menunjukkan  bahwa walaupun saya punya bayi, begadang dan lain-lain tapi saya juga bisa keep up dengan apa yang diajarkan. Tapi di sisi lain, karena saya ngga enak untuk ‘kabur’ saat pelajaran, saya hanya mompa 2 atau 3 kali maksimal. Sebelum mulai, saat lunch, dan pulang. Stok saya perlahan menipis begitu pula dengan hasil pompaan saya. Yang tadinya sekali merah bisa 200ml kiri 200ml kanan, perlahan tapi pasti menurun kuantitasnya. Mau nggak mau, sadar nggak sadar, ada stress juga dengan IHT yang saya ikuti karena saya harus belajar untuk ujiannya, di kelas dibutuhkan konsentrasi yang tinggi (dan tidak mudah konsentrasi setelah begadang).

Sampai suatu hari, siang-siang pengasuhnya Nara telepon dan bilang stok di rumah hampir habis, hanya tinggal sebotol. Nara menangis kehausan. Akhirnya saya memutuskan untuk memberikan Nara campuran susu formula.

Malemnya Nara langsung panas, demam.

Saya stress!

Selama diberi ASI, Nara nggak pernah sakit sama sekali, sedikitpun. Bayangkan perasaan saya yang terpaksa memberikan susu formula lalu anak saya langsung sakit? Perasaan guilty itu udah cukup buruk tanpa harus dihakimi sama orang lain.

Saya masih terus mengusahakan ASIP untuk Nara sampai akhirnya di umur 7.5 bulan, tiap mompa hanya mendapat 5ml. Saya stress dan akhirnya berhenti mompa. Dan setelah itu, Nara full diberikan susu formula.

 

Lesson Learnt

  • Bagi saya, pengalaman adalah pelajaran. Bagi saya dan bagi orang lain.
  • Pengetahuan saya tentang latch on dan ASI kini sudah jauh lebih banyak dibandingkan 2.5 tahun lalu. Saya bertekad untuk bisa menyusui anak kedua saya dengan pengetahuan saya sekarang. Saya yakin bisa. Insya Allah.
  • Saya ngga mau ngepush orang lain untuk memberikan ASI. Kalau ada yang bertanya pada saya, saya akan menjelaskan tentang kelebihan ASI. Saya akan dorong untuk memberikan ASI. Kalau orangnya semangat juga, saya akan tambah semangat untuk support dia. Tapi kalau orangnya nggak mau atau ngga bisa, I keep my mouth shut! Stop right there.
  • I’m proud to say, dengan share pengalaman saya, beberapa temen deket saya yang tadinya nggak yakin dan nggak tau/peduli dengan ASIX, Alhamdulillah akhirnya mereka memberikan ASIX dan lanjut sampai anaknya sekarang hampir berumur 2 tahun. At least pengalaman saya berguna bagi orang lain.
  • In my opinion, kalau seseorang menceritakan kesulitannya tentang memberikan ASI, saya bisa membantu dengan menanyakan dimana masalahnya dan saya coba untuk memberi solusi. Kalau masih ada harapan dan orangnya semangat, saya akan support terus. Tapi kalau ada yang menceritakan pengalamannya tidak bisa memberikan ASI, yang mana kejadian itu udah berlalu, lalu orang memberikan komentar seperti nursing Nazis alias masih saja menyalahkan, itu yang membuat saya tidak nyaman.

 

About Nursing Nazis

Sampai detik ini pun apapun yang saya lakukan adalah semua yang saya pikir terbaik buat Nara. Dan menurut saya ngga ada orang yang berhak menghakimi ibu yang tidak bisa memberi ASI exclusive sebagai ibu yang buruk. Hey, do you know exactly what she’s been through? Tahu alasan sebenarnya dia ngga bisa nyusuin? Kalaupun iya dia tau ASI itu baik, dia bisa nyusuin dan tetep ngga mau nyusuin, apakah itu lantas memberi nursing Nazis ini hak untuk mengatakan si ibu tersebut ngga sayang sama anaknya? Who are you to judge?

Justru tekanan-tekanan dari luar yang membuat perjuangan menyusui lebih berat. Being constantly asked “are you breastfeeding” and usually continued with “why not?” and “well you should’ve…”

It made me feel like I’m a failed mum. Untungnya suami terus-terus memberi semangat. He never once blamed me or put a pressure on me. He believes in me. He holds my hand and gives me strength. So does my parents and my parents in law. They’re the biggest supporter. They knew that I’d give the best for my baby, their grandson. It’s enough to keep me sane.

By the way, want to check if you’re one of nursing Nazis or not? See some of the categories in this link.

90 Comments

  1. nyanya
    almaviva landjanun July 23, 2010 at 12:35 am

    Meta,huhuhu..baru tau crita ttg nyusuin Nara. Trus gue jg baru tau ttg Nursing Nazis. Duh,jgn sampe deh ketemu org yg termasuk nursing nazis *knock on wood* TFS ya,Met.Btw,cuman mo blg a good mom ga diukur dr mampu atau tdknya ngasih ASIX ko. Yg pasti, Meta yg gue tau = bunda yg keren dan canggih buat Nara..dan Insya Allah buat si baby jg :-*

  2. eka
    Eka Wulandari Gobel July 23, 2010 at 1:32 am

    *elus2 punggung meta*
    sabar yaa meta..
    btw, u’re a very good mom, anyway!
    nara would be proud about u!

    setuju meta,
    gw juga bakal seneng bagi2 pengalaman ttg menyusui kalo orangnya semangat dan seneng nanya2 ma gw.
    tapi kalo orangnya males2an sih kayaknya gak ngaruh ya gw cerita2 ttg tips sukses menyusui :)

    nah, kalo orangnya kayak nyanya,
    gw seneng tuh ngasih konseling. bahkan konsultasi di tengah malem sekalipun! hehehe..

  3. fanny
    Fanny Hartanti July 23, 2010 at 2:04 am

    Met, toss!
    gue juga bete banget sama nursing nazis. kayaknya mereka merasa jadi ibu yang udah hebat banget kalau bisa nyusuin anak. padahal belum tentu juga kan?
    pernah baca curhatan seorang ibu yang di’hujat’ gara2 gak kasih ASI, padahal dia sakit keras dan harus konsumsi obat2an. (kalau gak salah chemo deh). makanya dia gak boleh kasih asi.
    anyhow whatever the reason is, nggak adalah yang berhak menilai seseorang gitu aja *murka* :)

  4. Liz
    Liz July 23, 2010 at 3:23 am

    baru tau istilahnya dari blognya meta, serem deh istilahnya.
    Setuju breastfeeding is a personal choice, hate people who judge other for something that is not their bizniz.

  5. gabriella
    Gabriella Felicia July 23, 2010 at 5:16 am

    TFS Meta, semua ibu pasti memperjuangkan yg terbaik untuk anaknya, dan itu tidak hanya bisa diukur dengan sukses menyusui atau tidak.

  6. tiaaja
    tia July 23, 2010 at 5:22 am

    terharu bacanya. TFS ya meta. jadi tahu ttg nursing nazis. kenapa sih orang nggak ada kerjaan ngurusin urusan orang lain? coba dia ada diposisi orang yg dihujatnya, kira2 masih bisa komen nggak?

  7. superpippo
    Astrid Lim July 23, 2010 at 5:54 am

    Met, thanks sharingnya, gw juga senmpet ngalamin yg namanya dijudge org karna gak asix,dan ngasih formula.belum lg kalo baca beberapa blog yg pandangannya sinis sama ibu non asix.sedih,sempet baca di salah satu blog yg bilang klo: anak manusia itu minumnya asi, kalo minum susu sapi namanya anak sapi.
    Fyi,nyokap juga gak ngasih asix ke gw,dan gak pernah sekalipun gw berpikir klo dia adalah ibu yg gak baik,atau bonding kt gak kuat.she’s the best mum ever, and I believe so are you. Chayo buat anak kedua yaaa.

  8. rhisuka
    riska nurmarlia July 23, 2010 at 6:10 am

    Tfs met.. Gue pertama kali baca di cerita lo di salah satu milis emak2. And no worries met, banyak mama-mama keren di luar sana yang setuju sama lo. You rocks girl! Dengan perjuangan lo yang sampe segitunya. *salute* Semoga berhasil di baby #2 yaaaa.. *hugs* :)

  9. shinod
    Shinto Husnul Khotimah July 23, 2010 at 7:07 am

    *dua jempol buat Meta* Perjuangan loe luar biasa bgt!! Mengerikan jg ya dunia perASIan ini, kadang2 gw jd berpikir apa ibu2 diluar sana memberikan ASI ke anaknya krn benar2 sadar manfaat ASI atau krn tuntutan pergaulan?

  10. SunShine
    Fitria Adriadi July 23, 2010 at 7:14 am

    TFS Meta…Salut buat perjuangannya..!
    Baru tau juga tuh istilah Nursing Nazis :) how horrible!!
    Semoga nanti adiknya Nara lancar ASIX yaa….aminnn!!

  11. Mirza Resita
    July 23, 2010 at 7:20 am

    Hallo mba’ Meta, saya baru tau ttg nursing nazis, kejam bgt kedengarannya. Anyway saya salut sama perjuangan mba’ Meta utk kasih ASIX ke Nara, *kasih jempol*
    Klo sy justru aneh,ada 1 keluarga yg malah ngejudge sy PELIT krn ga mau kasih susu formula, padahal alhamdulillah asi saya berlimpah. Memang anak saya Darrell sampai saat ini bingung puting, ga mau minum ASIP, maunya langsung aja. sampai pada akhirnya usia 7 bulan sy capek di bilang anak sy ga gemuk2 (padahal bbnya saat itu 8kg,cuma anak saya tinggi), sy coba ksh susu formula, dan hasilnya, udh 3 kaleng sufor di buang krn Darrell ga mau sufor. Masa sy harus maksain, wong bocahnya ga mau.
    Malah sy dimarahin oleh suburban family itu krn tdk membiasakan sufor ke Darrell, aneh2 memang. Sy tdk ekstrim terhadap ASIX, sy sgt menghargai ibu yg tdk bs ksh ASIX, krn pasti punya alasan yg kuat. Dan sekarang, usia Darrell hampir 9 bulan dia masih ASI alhamdulillah. Jadi, sufornya sy campurin saja ke juz buah-buahannya supaya ga dibuang buang lagi:)

    Btw, Seneng sekali udah bisa ‘numpang’ sharing disini… Sekali lagi, salut utk mba’ Meta :)

  12. niens
    Nina Setyawati July 23, 2010 at 7:21 am

    Meta, salut buat perjuangannya… Don’t worry, Insya Allah bakal sukses di anak ke2. Gw belajar banyak dr ‘kegagalan’ ASIX anak pertama gw dan Alhamdulillah sampai anak ke2 gw mau 10 bulan sekarang masih bisa full ASI.

  13. retnasihombing
    retna neary July 23, 2010 at 7:33 am

    meta, merinding baca perjuangannya.. Sama banget pengalamannya pas konsultasi ke klinik laktasi malah ‘dimarah2in’ ;( tapi justru perlakuan ‘kasar’ itu yg membuat gw mencari tau sebanyak2nya ttg asi: buku, browsing, pengalaman orang tua, nanya2 ibu lain pas nyusuin di ruang laktasi di mall hehe..
    Justru krn pengalaman menyusui gw tdk mudah, makanya gw sangat berhati2 saat memberikan saran kpd ibu2 lain&jgn sampe deh gw mjd one of those nazis hehe.. Sukses utk anak ke2 ya. Semoga pengalaman dgn nara bs memperlancar proses menyusui adiknya nara ;))

  14. Mirza Resita
    July 23, 2010 at 7:45 am

    TFS Meta, ternyata gw ga sendirian ;)

  15. dindai
    Dini Setyowati July 23, 2010 at 7:51 am

    Salut buat Meta. You’re really a great moms!
    aku juga baru tau nursing nazis dari blognya Meta.
    Tfs ya.

  16. Mirza Resita
    July 23, 2010 at 8:11 am

    Jeunk meta TFS ya .. br tau ada istilah Breastfeeding Nazis .. salut buat perjuangannya. Setubuh banget kalo yang namanya menjadi ibu yang baik gak cuma di ukur dr bisa ngasih asi or gak ..teteup smangat ya. You go girl

  17. charissarhanie
    rani nurcharissa July 23, 2010 at 8:18 am

    Waw, I heart you banget nih.. Successfuly giving your baby breastmilk doesnt give you the right to judge the other mums. gue masih percaya ada ibu2 yg secara natural gak bisa nyusuin anaknya di luar sana, jd ya try to live with it lah, lagian susu formula jg bukan racun kok.

    emang rada sensitif ya topik2 yg menyinggung SARA (suku, agama, ras, dan ASI), hihihi :D

  18. charissarhanie
    rani nurcharissa July 23, 2010 at 8:20 am

    Waw, I heart you banget nih.. Successfuly giving your baby breastmilk doesnt give you the right to judge the other mums. gue masih percaya ada ibu2 yg secara natural gak bisa nyusuin anaknya di luar sana, jd ya try to live with it lah, lagian susu formula jg bukan racun kok.

    emang rada sensitif ya topik2 yg menyinggung SARA (suku, agama, ras, dan ASI), hihihi :D

  19. Mirza Resita
    July 23, 2010 at 8:32 am

    Hai Meta…
    Fuuuhh… ngebacanya sampe mo nangis nih. sama persissss ama kejadianku. Ngebaca artikelnya, jadi berasa mengulang lg masa-masa itu. Sedih, stres, kecewa, ngerasa gagal ga bisa ngasih ASIX buat Carissa. Those kind of feelings. Hiks. Sampe skr Carissa umur 13bulan, gw masih blm bisa recover from those feelings. Though, I’m trying.
    Semangat, met!! yang penting kita kasih yang terbaik buat anak kita..

  20. Mirza Resita
    July 23, 2010 at 8:39 am

    tfs meta. mengingatkan aku supaya tidak menjadi seorang Breastfeeding Nazis. jangan sampai hal ini malah membuat orang yang semangat memberi asi malah menjadi down..

  21. July 23, 2010 at 8:41 am

    Metaa, tfs ya! Baru tau cerita lengkapnya… Tp bener, salut bgt buat lo yg nyari segala macem cara buat ngasih asi ke nara… Para nazis itu kelaut aja deh kok ya main ngejudge seenak jidat aja…
    Sama kaya astrid, gw juga samsek ga nyicipin asi tp bukan berarti nyokap ga sayang dan ga ada ikatan batin.. Malah she’s my greatest supporter buat berjuang ngasih asix buat el..
    Smangaatt ya buat adenya nara nanti :)

  22. Mirza Resita
    July 23, 2010 at 8:52 am

    mursing nazi maupun sufor nazi banyaaakkk bgt disekitar kita,
    ketika ada beberapa moms yg dijudge krn ga kasih ASI, disisi lain ada juga moms2 yg ditekan karena kekeuh ngasih anaknya ASI tanpa susu tambahan
    klo menurut aku, semua org boleh ngomong apa aja, menjudge apa aja, berpikir apapun mengenai pilihan kita sebagai ibu
    yang penting kita sendiri, sebagai seorg ibu engga ‘down’ dan ‘menyesali’ apapun keputusan atau jalan yg harus dijalani. yang penting kita sudah memikirkan masak2 dan berusaha memberikan yg terbaik bagi anak kita bukan?
    Tunjukkan kalo kita ibu yang kuat, yang berusaha memberikan segala hal yang terbaik bagi anak kita.
    Dilingkungan saya juga ngga ada yang dukung saya kasih ASI, tapi sebodo saya pede aja, walau kadang suka mewek jg sampe ASI sempet seret…

    Pokoknya tetap semangaattt yah moms!!! :D

  23. mommyaira
    jarvi kurnia lestari July 23, 2010 at 8:55 am

    I’m with you Meta…aku adalah termasuk yang “gagal” kasih ASIX buat Aira….asiku kering ring….cuma bertahan sekitar 2 bulan….saat itu sudah cukup tercabik2 rasanya…tapi lambat laun aku mencoba berpikir logis…dan aku memilih untuk kasih anakku sufor daripada dia malah gk minum susu…n u’re right sist….bonding dengan anak gk melulu harus lewat breastfeeding…ada sejuta cara yang bisa membuat ikatan kita dan si anak tetap kuat…semangat terus ya Meta…and so for all moms in the whole universeeee!!!!!

  24. metariza
    Meta July 23, 2010 at 9:29 am

    @Nyanya & @Eka
    Ekaa…ntar gw juga bole telp-telp dong buat konsultasi? Hehe apa konsultasinya sama Nyanya aja sebagai protégé-mu? Nyanya kan udah ahli banget sekarang, bisa nyusuin sambil kerja juga ya Nya?
    Thanks ya ibu-ibu :D

    @Fanny,
    Huu kasian denger ceritanya…gimana ngga stress ya ibu itu, udah sakit keras masih dihujat juga :(

    @Liz,
    Hmm, istilahnya rada ‘serem’ dan to be honest gw ngga terlalu suka istilahnya karena jadi inget Hitler dan rasanya juga terlalu jahat nyamain sama Nazi *pernah baca sejarah istilah ini tapi lupa dimana*

    @Ella, thanks ya..

    @Tia, thanks yaa…entahlah, mungkin niatnya baik ya Ti, mau mendukung tapi caranya kurang pas dan ngga tau cerita sesungguhnya?

    @Astrid, thanks ya Tid, mudah-mudahan bonding gw sama Nara bisa sekuat lo dan nyokap karena itu salah satu yang bikin gw stress banget adalah karena katanya klo nyusu langsung bondingnya tak tergantikan dibanding klo ngasi lewat botol…but u and your mom proved it wrong :D

    @Riska, amin…semoga gw sukses dengan baby#2 *pelukbalik* btw di milis mana Ris? Gw ngga pernah posting selain di blog (dan disini) soalnya…

    @Shinto, hehe ‘tuntutan pergaulan’ lucu juga istilahnya…tapi di satu sisi gw seneng banget karena awareness dan pengetahuan ibu-ibu untuk memberikan asi udah jauh lebih baik daripada, let say 10 tahun lalu? So let’s campaign without intimidate :)

    @sunshine, aminn…makasih yaa :)

    @Annisa, makasih yaa…wah Darrell emang pinter, dikasih sufor ngga mau . Ada-ada aja ya komentar orang…udah bagus Darrel minum asi malah dikomporin minum sufor. Cuekin aja yang bilang pelit Nis, yang komentar ngga ngerti tu…

    @Niens, amin…makasih yaa. Semoga gw juga bisa kaya lo :)

    @Retna, waa hebat…ilmu emang bisa didapet dimana aja ya, ikut seneng deh lo justru tambah bersemangat dan jadi sukses asinya. Amin, makasih ya doanya…

    @Siska, *peluk*

    @Dini & Nukta, makasih ya Dini dan Nukta :)

    @Rani, haha SARA ya bok…doain ya semoga ntar gw bisa sakseys asi buat baby#2 yaa..

    @Yasmin, I feel you…rasa guiltynya lamaaa banget ilang (sampe sekarang pun belum ilang sama sekali) dan bikin mellow. But what’s done is done…bisa dijadiin pelajaran dan next time ada kesempatan bisa berjuang lebih keras, setuju? *semangaattt…*

    @Rika, thanks yaa…

    @Crey, thanks ya…gw dulu mikir apa yang gw bisa lakuin ya gw lakuin, yang penting usaha, doa dan sisanya pasrahin…
    Tfs juga ya, semoga gw sama Nara juga punya bonding yang kuat kaya lo n nyokap.
    btw klo mertua gw kebalikannya, doi ngasi asi ke anak-anaknya, tapi ngga membuat gw feel guilty atau intimidated sama sekali dengan ketidaksuksesan gw. bless her. Nyokap gw terbengong-bengong liat gw mompaaaaaa mulu…kagum sama kecanggihan teknologi, soalnya jamannya nyokap dulu taunya mompa pake tangan aja, hehe. Sementara yang kocak adalah komentar nenek gw pas liat gw mompa, dia bilang asinya bakal basi karena udah kena udara, trus nanti bayinya bisa masuk angin…LOL.

    @Dila, motherhood world can be so cruel…semuaa bisa dikomentarin, cara melahirkan normal vs. c.sect lah, asi-sufor, etc etc..tapi gw setujuu banget, semua ibu pasti pengen yang terbaik buat anaknya dan pasti berusaha cari tau dulu dan mempertimbangkan konsekuensi dari setiap keputusan yang menyangkut anaknya sebelum melakukan sesuatu. Thanks yaa…

    @Jarvi, makasih yaa…

  25. phyut
    Putri Kemala Sari July 23, 2010 at 9:30 am

    hiks… gue juga ngalamin….

  26. lie.antonia
    lie.antonia July 23, 2010 at 9:43 am

    Meta…and all mom teman seperjuangan…maapin yaa

    soalnya aku sometimes judge ” kok ga kasi asix sih”– well untung selama ini aku cuma ngomong dalem ati aja…next time i will think ” she must be fought hard ”

    oya mom meta, dulu aku juga punya inverted nipples dan kesusahan menyusuin sampe ga mau kasi langsung soalnya nyeri banget..–I FEEL U MOM..

    ganbate ya semua mama !!!!

  27. dieta hadi
    agwina dieta July 23, 2010 at 9:57 am

    Meta….kau mengingatkan ku pada masa lampau, yang hanya bisa ngasih mika ASI cuman sampe 3 bulan. Segala macem gw lakuin, dari mulai makan katuk, minum Asiffit dan berfikir positif, ternyata ASI gw keluarnya bener2 dikit. sampe mau masuk kerja, kalo gw pompa cuman dapet 10ml. udah gt Mika udah mulai ga sadar puting. Ini jg kesalahan gw, gw terlalu memberika dia Asi lewat botol, karena biasanya dia kalo nyusu di PD gw, nenen sebentar trus tidur, pas dia tidur, asi gw merembes terus, jadilah di peres terus,hiks. Tapi ini buat pelajaran gw kedepan, anak ke 2 gw musti dapet ASI min 6 bulan.

    gw jg sebel tuh sama Nurzing nazis, kalo ada orang yg nanya sama gw: masih asi ga? gw jawab ga. dia langsung berubah gt ma gw, dari pandangan sinis, kayak gw hina gt dimata dia, sampe kata-kata: kenapa udah ga? arrrgghhhh kalo bisa pengen gw tampol aja tuh orang,hehehe.

    thanks ya met….

  28. otty
    Pangastuti Sri Handayani July 23, 2010 at 10:02 am

    Gue udah baca ini 2-3x dan tetep masih ngerasa terharu. Tenang aja, pokoknya kan udah usaha :) *hugs*

  29. Mirza Resita
    July 23, 2010 at 10:08 am

    hufhh…meta..i’ve been there sist
    *hug for momy nara*
    walaupun skr gw masih asi+sufor krn byk faktr yg lo bil diatas knp gw jg sm g kasih fullASI…but that a choise y
    we still love our baby’s right

  30. Mirza Resita
    July 23, 2010 at 10:14 am

    Ihiks, sampe mo nangis bacanya… sungguh penuh perjuangannya menuju ASI eksklusive… Thumbs up…
    Tantangan menyusui emang beda2 y tiap org, but one thing for sure, indeed setiap ibu pengen memberikan yg terbaik untuk anaknya… TFS ya…

  31. Mirza Resita
    July 23, 2010 at 10:15 am

    Baca cerita Meta, aku jadi paham perasaan ibuku. Dari 6 anak, cuma adikku yang nggak ASI. Itu terjadi karena beliau sakit. Sampai sekarang (adikku udah 32 tahun) ibu masih sering mengulang-ulang betapa menyesalnya beliau tidak memberi ASI kepada adikku.
    Alhamdulillah, adikku tetap deket kok sama ibu. Nggak beda dengan kami. Bahkan kadang-kadang dia suka “ngedate” sama ibu, meskipun udah punya istri.

    Bukan hanya ASI atau nggak ASI … tapi kenapa ASI kenapa nggak ASI.

  32. mamoy
    Arum cahyani July 23, 2010 at 10:28 am

    Thanks for sharing…
    terharu bacanya deh, hebat perjuangannya
    sangat memotivasi gw yg lagi nyusuin Tanisha

  33. Mirza Resita
    July 23, 2010 at 10:52 am

    TFS ya met…memang dunia perASIan tu kejam.. Aku juga pernah ngerasa down waktu pertama2 nyusuin Va’

    Tapi itu karena akju ngerasa asi ku banyak..tapi ga didukung buat ngasih ASIX… Jadilah 2 bulan pertama Va’ campur sufor…

    Setiap aku ngotot mau ASIX selalu disalah2in katanya anaknya nanti kelaperan lah..asi nya encer lah…gizinya kurang lah, dll,dst,dsb.. (malah pas 2 bulan sama eyang nya mulai dikasih air putih segala kalau pagi, kalau siang sufor,pdhl asip di kulkas ada tp ga mau dipake :( )

    Down banget…(hehheheehe tapi untung -dan entah kenapa- di bulan ke-3 sampe sekarang Va’ tiba2 nolak segala jenis sufor n botol…dilepeh2 gt)
    Jadilah skg asix … Horeeee

    Tp aku setuju..ga ada orang yang boleh nge judge orang lain cuma karena dia ngasih ntah sufor,asip,atau asix ke bayinya…
    Karena semua ibu pasti berusaha yang terbaik unt anaknya..
    Dan menyusui memang bukan merupakan pengalaman yang mudah…

  34. Mirza Resita
    July 23, 2010 at 11:04 am

    TFS ya Meta,,salut bgt sama usaha-nya biar tetep bisa kasih ASI.Berasa banget tanpa tekad baja dan dukungan orang2 sekitar, ga mungkin bisa. Dan ga boong deh,berkali2 tergoda untuk kasih sufor, pas masa2nya kejar tayang stok ASIP. Dulu juga pernah konsultasi ke klinik laktasi yg jadi rujukan orang2,sampe sana cuma diajarin ilmu yg udah pernah dibaca sendiri, ga helpful sama sekali. Emang hrs ketemu konselor yang punya ‘hati’. Gw juga punya kakak perempuan, yg terpaksa kasih sufor krn hrs rawat inap,dan tau bgt betapaa dia pengen ttp ksh asi, tapi ga bisa. Lagian, I believe parenting is not only about ASI/nutrition. Sekarang, gw gabung di salah satu breastfeeding association, supaya dapat banyak ilmu baru ttg breastfeeding, yg mudah2an bisa berguna buat gw pas anak ke-2 atau org2 yang memang perlu ilmunya (tanpa jadi b’feeding nazi tentunya :p)
    Mudah2an pas anak kedua lancar jaya ya,,,,,

  35. Mirza Resita
    July 23, 2010 at 11:13 am

    Hi Meta,

    Proud of u.. N Dila, betul bgt, setiap ibu berhak memutuskan apa yg terbaik buat anaknya..
    Gw ga tau apa gw termasuk bursing naziz ato ga, tapi gw slalu memberikan smangat ke temen2 yg lagi usaha breastfeeding, cuma suka menyayangkan kalo mereka menyerah dg alasan yg mnurut gw terlalu excuse,
    Tapi gw setuju bgt, asalkann terus berjuang, bagaimanapun caranya yg penting asi bisa dikonsumsi oleh anak.. Gw jg sedikit iri, meskipun putingnya ga keluar, tapi asi berlimpah, kalo gw smua OK2 tapi asi pas2an, but aq keep smangat ngasi asi, ampe resign dr kerja, n fw jg berjuang sendiri, krn hampir smuanya nyaranin ngasi sufor even mama gw sendiri.. *hikshiks…

    So buat para ibu yg asi.. Tetep smangat n berjuang…

    Cheers

  36. July 23, 2010 at 11:22 am

    Mba Meta, i feel u :(
    atha dr umur 2bln sampe 20bln minum ASI pk botol. awalnya krn gw kena DBD hrs opname 7hr di RS. DSA dia nyuruh kasih ASIP pake sendok jgn pake botol, tp yg bener aja udah nitip atha tidur ma nyokap selama gw di RS masa masih hrs ngerepotin nyokap ngasih ASIP malem2 pake sendok? tp ya resikonya pas gw keluar dr RS dia kena bingung puting. bener bgt, setiap hari kyk mau berantem ma atha krn maksain utk nyusu lgsg tp yg ada anaknya malah tambah ngamuk.
    paling kesel ya sama para ASI nazis itu, ga sodara sendiri ga orang yg baru kenal di milis enak bgt ngejudge baik/tidak seorang ibu seenaknya hanya krn ASI. dikirain kita ga berusaha apa yaa? tp prinsip gw cuma satu, *semua ibu pasti tau dan mau yg terbaik utk anaknya*. bodo amad deh orang2 mau komen apa, wong anak2 kita ya? :D
    good luck for breasfeed adenya mas Nara ya mba!

  37. Mirza Resita
    July 23, 2010 at 11:34 am

    TFS y Meta…
    Saya juga bisa ngerasain gmn perjuangannya ngasih ASI. Mgkin bwt bbrp orang g da kesulitan tp bwt bbrp orang butuh perjuangan. Saya jg waktu hari pertama pulang dr RS, krn masih penyesuaian (smua saya kerjain sendiri krn g mw ngerepotin, jdny fisik ngdrop), kurang tidur krn baby Megumi mimik n bobony bentar2x jd saya g punya wkt tidur n g sempet makan, plus stress jadilah ASIny g kluar, panik babyny nangis n takut kekurangan cairan yg bisa berakibat bayi kuning akhirny terpaksa kasih susu formula (untung babyny g suka n cuma mw skitar 20ml), saya sedih bgt n ngerasa gagal jd ibu. Tp alhamdulillah kluarga g ngjudge n tetep dukung, so mpe skarang alhamdulillah masih kasih ASI n g pernah kasih susu formula lg (cuma skali wkt itu n mdh2xan g pernah kasih lg sampe babyny 2thn). Siapa mreka berhak ngejudge kita pdhal g tw apa yg kita alamin. Sbg ibu kita pasti sll ingin kasih yg terbaik bwt baby kita. So tetep smangat y, cuekin aja orang2x yg kaya gitu. Sukses y breastfeeding anak keduanya amiin

  38. cittacitta
    citta July 23, 2010 at 12:02 pm

    meta,,tfs,,,
    ,aku juga sama dgn dirimu,berjuang asix,,dan gak gampang,biarpun ftm tp ada aja halangannya,, :(

    nursing nazis memang menyakitkan hati,padahal banyak diantara org yg suka kaya gitu adalah org yg terpelajar,,aku juga pernah terintimidasi sama nursing nazi,,bt rasanya :(((
    “gak semua orang seberuntung mereka” belum tentu mereka lebih baik,,
    sukses breastfeeding anak ke2nya yah met :)

  39. piw
    yanti widyariny July 23, 2010 at 12:43 pm

    Met…tfs ya…
    I feel you…sangat…
    Gw gagal ngasih asix…dan juga ngalamin komentar2 orang yang justru bikin tambah down dan tambah stress…
    Kadang pengen jerit “you dont know what i’ve been through…who are you to judge?!!!”

    Well…itu udah lewat…sekarang lagi hamil anak kedua dan mudah2an ntar bisa full asi…
    Sama2 berusaha ya Met…

  40. Medy
    medy July 23, 2010 at 12:46 pm

    couldnt agree more meta…been there.When gw stand up for my decision,malah di judge ama org yg gw ga kenal. Gw disuruh bersyukur krn masih byk org yg care ama anak gw.What?? just bcoz gw ga asix make me a mother yg ga care ama anaknya gitu?cck..ck..masa iya gw harus crita ke semua org yg ga gw kenal ‘perjuangan’ gw utk tetep bisa breastfeed anak gw sampai skrg?

    Dan gw jg agree kalo istilah buat mereka rada kejam ye,they simply people who lack of emphaty,imo

    btw tdnya gw jg mau nulis artikel dgn topik yg sama loh cuma Alhamdulillah udh keduluan meta..(mak mak pemalas ngeles aja)hi..hi..Gud luck buat pregnancynya ya..kabar2i kalo udh lahiran..

  41. NisaNara
    Nisa July 23, 2010 at 1:15 pm

    saya membaca lagiiii :)

    met…gw mau nambahin lagi, untuk bisa share pengalaman ini butuh keberanian banget loh, since ya u saud Bf-ing, like money, is a sensitive issue. Tapiii tanpa keberanian, a lotta people wudnt know and woudnt change.. TFS met. Semoga pengalaman lo ini menjadi eyeopener bagi “mereka” dan semoga sukses di anak ke 2 yaaaa *peluk meta*

  42. leena
    Herlina Dewiyanti July 23, 2010 at 1:46 pm

    Amit2 jabang bayi met…ada juga manusia yang kayak gitu, beneran baru tau ada klan baru dari kelompok Nazi…hihihi. Aku sih pernah rasan2 ama suamiku tentang orang yang nggak mau menyusui bayinya (bukan nggak bisa lho ya, tapi nggak mau). Dengan polosnya dia bercerita kalo dia emang nggak mau nyusuin bayinya karena takut PD-nya nggak kenceng lagi. Yah…wajar kan kalo aku akhirnya berpikiran miring tentang ibu yang seperti ini ? Tapi ya itu cuma dibatin aja dalam hati, nggak hobi sih ngomentari kelakuan orang, kelakuan sendiri aja juga belum tentu bener….hehehe. Anyway met, it is a very inspiring story….jadi tau ada jenis manusia baru yang perlu diwaspadai. TFS dan keep fighting ya met….

  43. Mirza Resita
    July 23, 2010 at 1:56 pm

    Waaah… ternyata banyak yah yg ngalamin gimana susahnya ngasih ASIX. Jadi terhibur =) Skr pun kl aku baca artikel/tulisan yg isinya “menyapih anak”.. duuh.. miriiiisss banget. Campur aduk deh ni perasaan.
    Tapi positive thinking aja lah ya… Tetep semangat membesarkan dan memberikan yang terbaik buat anak kita.. =)

    Chayo…

  44. sukie
    Sukma Pertiwi July 23, 2010 at 2:27 pm

    *hugs* meta, tetep semangat yaa, dan maafkanlah para nazis di luar sana. :). Introspeksi juga buat gue, secara kadang2 gue secara tidak sadar terlalu bersemangat untuk menyemangati temen gue yang abis melahirkan untuk menyusui dan memberi ASI only for their babies, mungkin suntikan2 semangat memang harus di sikon yang tepat, kalo ga justru membuat ibu2 ini stress kali yah..:(

  45. Mirza Resita
    July 23, 2010 at 2:41 pm

    Met, thx sharingnya… Gw juga pengalaman ketemu ama orang2 kayak gitu pas anak pertama… Tapi baru denger tuh istilahnya..”Nursing nazi…” Ha2 ngakak deh gw…:D

  46. Mirza Resita
    July 23, 2010 at 2:53 pm

    Meskipun saya seorang ayah yang udah pasti ngga bisa nyusuin (kalo bisa, malah jadi serem ya ??), tapi saya sangat bersimpati pada mbak Meta.

    Saya juga pernah mengenai hal ini di Kompasiana.
    Hasilnya ?
    Dalam sekejap para Nazi itu segera menyerbu & membantai tulisan tersebut.

    Monggo bisa diliat di
    http://kesehatan.kompasiana.com/group/ibu-dan-anak/2010/06/04/asi-eksklusif-anjuran-yang-kerap-menjadi-doktrin-sebuah-pembelaan-untuk-para-ibu-yang-kurang-beruntung/

    Kebanyakan dari mereka yang mengaku sebagai Konsulen, sebenarnya hanyalah orang2 awam. Yang secara kebetulan tau lebih dulu daripada orang lain & bisa berhasil dalam melakukan ASI eksklusif.
    Namun orang2 seperti ini biasanya terjebak dalam Stigma kesombongan. Suatu penyakit lumrah yang sering hinggap pada orang yang awalnya “rakyat biasa” tiba2 mendadak jadi “pejabat daerah”.

    Kalaupun ada dari lingkungan Medis, umumnya mereka berpikiran sempit dan cenderung memaksakan kehendak. Jika dia Dokter, biasanya pasiennya ga banyak. Karena kerjaannya lebih sibuk ngejelekin sang pasien daripada ngobatin ^_^

    Intinya, hindari aja orang2 seperti ini.
    Mereka terlalu sibuk dengan impiannya sendiri untuk menciptakan “Satu Dunia dibawah ASI EKSLUSIF”.
    Mirip dengan doktrin yang diagungkan oleh Hitler himself, “Weltanschauung”…..”Hanya yang sempurna, yang boleh ada”

  47. Mirza Resita
    July 23, 2010 at 3:00 pm

    Meskipun saya seorang ayah yang udah pasti ngga bisa nyusuin (kalo bisa, malah jadi serem ya ??), tapi saya sangat bersimpati pada mbak Meta.

    Saya juga pernah mengenai hal ini di Kompasiana.
    Hasilnya ?
    Dalam sekejap para Nazi itu segera menyerbu & membantai tulisan tersebut.

    Monggo bisa diliat di
    http://kesehatan.kompasiana.com/group/ibu-dan-anak/2010/06/04/asi-eksklusif-anjuran-yang-kerap-menjadi-doktrin-sebuah-pembelaan-untuk-para-ibu-yang-kurang-beruntung/

    Kebanyakan dari mereka yang mengaku sebagai Konsulen, sebenarnya hanyalah orang2 awam. Yang secara kebetulan tau lebih dulu daripada orang lain & bisa berhasil dalam melakukan ASI eksklusif.
    Namun orang2 seperti ini biasanya terjebak dalam Stigma kesombongan. Suatu penyakit lumrah yang sering hinggap pada orang yang awalnya “rakyat biasa” tiba2 mendadak jadi “pejabat daerah”.

    Kalaupun ada dari lingkungan Medis, umumnya mereka berpikiran sempit dan cenderung memaksakan kehendak. Jika dia Dokter, biasanya pasiennya ga banyak. Karena kerjaannya lebih sibuk ngejelekin sang pasien daripada ngobatin ^_^

    Intinya, hindari aja orang2 seperti ini.
    Mereka terlalu sibuk dengan impiannya sendiri untuk menciptakan “Satu Dunia dibawah ASI EKSLUSIF”.
    Mirip dengan doktrin yang diagungkan oleh Hitler himself, “Weltanschauung”…..”Hanya yang sempurna, yang boleh ada”

  48. Mirza Resita
    July 23, 2010 at 3:58 pm

    @Bpk Leonard Sandan

    terus gimana pak dengan para Ibu menyusui yang “diteror” untuk memberikan sufor? yang diblg ASInya jelek, encer dsb, yang dibilang pelit, bodoh krn masih nyusuin, yang diketawain krn anaknya udah setahun lebih masih ASI?
    Kalo bikin tulisan yang berimbang dong, ngga cuma Ibu yang ngga bisa menyusui aja yang mendapat tantangan dan tekanan, banyak juga lho ibu2 yang mendapat tekanan, pelecehan dan diskriminasi karena memberikan kekeuh ASI
    Salahkah kami yang menurut Bapak “ngotot dan kepala batu” menyusui?
    Salahkah kami yang berusaha memberikan anak ASI even lingkungan ngga mendukung?
    jangan nyalahin orang yang mencoba, berusaha dan mendukung ASI dong sebagai “Nazi” kalo tulisan anda “dibantai” karena isinya ngga berimbang
    Kalau anda memang peduli sama perjuangan seorang ibu coba dong bikin tulisan lain atau dari sisi yang lain.
    saya pengen liat tulisan anda selanjutnya :)

  49. metariza
    Meta July 23, 2010 at 4:26 pm

    @Lie…wah senasib yah, tapi setelah masa pompa memopma itu lewat, gw baca banyak cerita klo inverted nipple atau puting datar juga bisa nyusuin…seneng banget dapet pencerahan gitu, jadi lebih semangat buat ke depannya :) ganbatte :D

    @Dieta..waa sama ya, Mika juga ‘keenakan’ nyusu asip dari botol kaya Nara, malah jadi bumerang buat kita. Gapapa Diet, kita bisa ambil pelajarannya supaya next time bisa sukses…amin. Kan sekarang kita udah jauh lebih pinter berkat TUM…hehe

    @Otty & @Ayu, *pelukbalik*

    @Rufaidah, iyaa…salut sama ibu-ibu yang sukses kasih asix :D karena ngga semua orang beruntung bisa menjalaninya dengan mudah. Sebagian besar orang yang sukses pun perjuangannya banyak yang berdarah-darah, literally…

    @Ikurniati, wah udah selama ini ibunya masih feel guilty? That must be hard…btw so sweet yaa adiknya suka ngedate sama ibu :)

    @Arum, :) yeayyy…semoga lancar terus ya nyusuin Tanisha

    @PiNkmomma, horee Va pinter lebih *seneng*…klo lo malah kebalikannya ya, udah semangat asix dan bisa, malah disuruh-suruh ngasi sufor, aduhhh ada-ada aja ya orang…

    @Kartika, wah breastfeeding association yang mana? Hebat deh…jadi konselor dong ya? *tuing tuing dapet sumber buat konseling lagi, hehe* amin, makasih ya doanya…

    @Mei, alhamdulillah banget asi gw dulu banyak, jujur aja dulu gw pikir emang semua orang akan menghasilkan asi sebanyak itu dan gw ngga pernah kepikiran klo asi gw ngga cukup sampe asip gw bener-bener berkurang setelah training. Barulah mulai panik :P btw gw salut sama orang-orang kaya lo yang sukses asi di tengah tekanan sekitarnya untuk ngasi sufor *thumbs up*

    @Putri, hear hear…seneng dengar Atha bisa terus asi sampe 20bln walau dari botol *hugs* where there’s a will there’s a way :)

    @Mila, makasih yaa..

    @Citta, thanks ya doanya…

    @Yanti, ayo kita semangaaattt…saling mendoakan ya :)

    @Medy, gw tadinya ngga kepikiran buat submit artikel ini di TUM tapi banyak yang nyaranin. Gw berharap mudah-mudahan artikelnya ngga disalahartikan dan ngga menyinggung orang lain. Justru gw pengen share bahwa niat yang baik sekalipun perlu disampaikan dengan cara yang baik supaya tujuannya tercapai. Btw makasih yaa doanyaa, nanti klo lahiran pasti woro2, hehe…twitter mungkin? Hahaha…

    @Nisa, gw deg-degan juga sih submit artikelnya…soalnya takut mengundang kontroversi dan takut disalahartikan. Tapi mudah-mudahan artikelnya dibaca dengan positive thinking dan buat pelajaran serta bisa kasih semangat untuk yang lain supaya sukses :) *hugback*

    @Herlina, Yasmin, Ceicalia & Sukma, thanks ya…

    @Leonardo, ntar dibaca linknya…makasih ya. Walaupun –seperti yang tadi udah sempet saya sebutin- rasanya istilah nursing Nazis itu terlalu kejam, it’s not like they’re out there killing thousands of people right? Saya cuma belum menemukan istilah pengganti yang lebih sopan waktu menuliskan postingan ini. Mungkin yang lebih cocok adalah lactation extremist? I just want to clarify that I don’t hate those people who judge me, tapi menyayangkan sikap mereka yang menghakimi tanpa mengetahui cerita lengkap atau alasan seseorang tidak memberikan asi.

    Bottom line…thanks for the support mamas, let’s campaign breastfeeding without intimidating :)

  50. Mirza Resita
    July 23, 2010 at 4:39 pm

    oya bund…setauku kalau putingnya rata..sementara bisa pakai pelindung puting dulu,sampai putingnya agak keluar…

    Dulu pertama-tama puting kiri ku juga rada mendelep tapi belom tau alat ini..jadi kalau lagi iseng paling ditarik2 sendiri…:)

  51. sLesTa
    shinta lestari July 23, 2010 at 5:25 pm

    hi met, keren deh mama meta perjuangannya untuk memberikan asi ke nara!

    imo, jadi ibu itu gak hanya dilihat dari faktor apakah si ibu lahiran normal atau sesar, bisa IMD atau enggak, bisa asi atau enggak, etc. semua itu hanya faktor kecil sementara parenting in general is more than that! buat apa bela2in mesti normal tapi resikonya gede karena anaknya sebenernya gak di jalur lahir? atau buat apa bela2in mesti asix dan gak mau dikasih tambahan apa2, tapi anaknya kelaperan? there’s always plus and minus in everything.. but beyond everything, one thing for sure.. mothers know best for their children.

    so who are we to judge what other people do and decide for their own child? menurut gue sih disini aja masalahnya. kita, sebagai orang indonesia atau orang asia in general (di negara asia lain juga sama.. suka kepo), seneng banget ikut campur sama urusan orang lain. can’t blame it also, cuz it’s our way of life. tapi mungkin kadang kita juga mesti ngerti, just because it’s our way of life, jadi kita juga mesti memaksakan kehendak kan? kita hanya bisa suggest dan ngasih informasi, tapi decision tetap ada di tangan ibu yang ngasuh anaknya.

    yang penting adalah, kita sebagai ibu2 muda (uhuuyy… ngaku muda loh! heheh) mesti punya bekal ilmu yang banyak jadi gak mudah terpengaruh oleh sekitar kita. dan tentu saja, mudah2an dengan adanya TUM ini, kita juga memberikan wadah informasi untuk para young moms out there to be more educated about parenting and everything in between.

    buat meta, semoga lancar yah lahiran keduanya, dan bisa sukses kasih asi buat adeknya nara nanti. semangat!!

    *pfiiuh panjang ya?*

  52. Mirza Resita
    July 23, 2010 at 5:51 pm

    @mba Dilla

    terus gimana pak dengan para Ibu menyusui yang “diteror” untuk memberikan sufor? yang diblg ASInya jelek, encer dsb, yang dibilang pelit, bodoh krn masih nyusuin, yang diketawain krn anaknya udah setahun lebih masih ASI?
    * Terima kasih atas masukannya. Saya juga punya pengalaman seperti itu. Hanya saja kadar depresinya jauh lebih berat pada yang “tidak bisa ASI” ketimbang “tidak bisa SuFor”.
    Jika ada ibu yang dicela karena tidak mau memberi SuFor, tidak masalah. Toh sejak awal produksi ASInya lancar, bayi pun tetap makan/minum.
    Tapi jika ada ibu yang dicela karena memberikan SuFor (dengan terpaksa, karena keadaan), ASI pun tidak akan keluar. Kenapa ? Karena beban mentalnya 2 kali lipat.
    Sudah ASI susah keluar, SuFor pun tidak boleh dan masih dicela pula.

    Kalo bikin tulisan yang berimbang dong, ngga cuma Ibu yang ngga bisa menyusui aja yang mendapat tantangan dan tekanan, banyak juga lho ibu2 yang mendapat tekanan, pelecehan dan diskriminasi karena memberikan kekeuh ASI.
    * Saya rasa tulisan2 mengenai hal tersebut sudah cukup banyak tertuang dalam media, baik cetak-lisan-elektronik. Dalam sekali Googling, bisa didapat ribuan tulisan mengenai mereka yang bisa memberi ASI namun mendapat tantangan.
    Sedangkan untuk hal yang saya tulis, puluhan pun tidak.

    Salahkah kami yang menurut Bapak “ngotot dan kepala batu” menyusui?
    Salahkah kami yang berusaha memberikan anak ASI even lingkungan ngga mendukung?
    jangan nyalahin orang yang mencoba, berusaha dan mendukung ASI dong sebagai “Nazi” kalo tulisan anda “dibantai” karena isinya ngga berimbang
    * Seperti yang sudah saya tulis.
    Jika anda mampu melakukannya, syukuri dan jangan mencela orang lain yang tidak mampu melakukannya.

    Kalau anda memang peduli sama perjuangan seorang ibu coba dong bikin tulisan lain atau dari sisi yang lain.
    saya pengen liat tulisan anda selanjutnya :)
    *Jika anda memang tergolong sang mayoritas, janganlah menekan yang minoritas.

  53. amira
    anggi sarhosi July 23, 2010 at 6:11 pm

    Meta…baca artikel ini rasanya seperti diguyur air dingin setelah lama kepanasan..hehe. Saya termasuk yg “gagal’ kasi asi eksklusif buat anak saya, cuma bisa kasi selama 5 bulan,itupun campur sufor…selama 5 bulan itu sudah 2x saya mencoba relaktasi, daaan..gagal dua2nya…capek nenangin bayinya yg mostly lebih milih ngedot ketimbang menyusu langsung ke emaknya, belum lagi harus rebus botol2 yg banyak itu…tanpa helper lho!
    Sampai sekarang juga masih sering dapet tatapan sinis dari orang saat tahu saya bukan breastfeeding mom…tapi who cares!…yg penting anakku sehat,dan God knows I’ve been fighting.

  54. Mirza Resita
    July 23, 2010 at 6:25 pm

    @ Bpk Leonard Sandan

    Pak,saya tidak pernah membedakan mayoritas maupun minoritas, setiap Ibu bagi saya memiliki pengalaman dan perjuangannya sendiri2
    dan saya harap Bapak jangan cuma melihat sebelah doang, ada Ibu yang berjuang memberi ASI sampai benar2 tidak keluar seperti Mba Metta ini ada juga Ibu yang ditekan dan dibilang bodoh karena tetap kekeuh menyusui

    Tetap saja anda tidak menjawab pertanyaan saya, anda cuma nyuruh saya googling doang, atau jangan2 ketika anda menulis artikel mengenai “doktrin” tersebut dari hasil googling juga? bukan penelitian maupun pengalaman?

    anda bilang ada dokter atau bidan kurang kerjaan yang mengomentari ibu yang tidak bisa kasih ASI, jangan salah lho banyak juga yang jualan sufor. Mereka kurang kerjaan ? engga juga mereka dapet persenan dari produsen tersebut
    yang saya kasih tau ini cuma pengalaman saya yaahh
    lumayan kan pak buat nambah pengetahuan anda
    kalo ini bukan tentang menyusui atau tidak, tapi pada “oknum” yang menyudutkan baik Ibu menyusui maupun yang tidak bisa menyusui
    dan oknum itu bisa siapa saja baik keluarga terdekat, instansi kesehatan maupun orang2 dari lingkungan sekitar
    Saya menghargai Ibu yang memiliki kesulitan untuk menyusui
    dan saya harap Bapak juga bisa buka mata dan melihat kasus2 dimana Ibu menyusui dizholimi
    jadi kedua belah pihak memiliki kesulitan yang sama gitu, engga ada yang lebih mudah atau lebih berat. Pahami tidak salah satu pihak saja, tapi juga kedua belah pihak Ibu menyusui dan Ibu yang tidak dapat menyusui
    dan jangan cuma bisa lempar “cari aja di google” :p

    Baiknya memberikan semangat secara netral deh, untuk Ibu menyusui, tetap semangat supaya ASI lancar buat yang tidak dapat menyusui tetap semangat dan busungkan dada kalo kita tetap Ibu yang baik :)

  55. Mirza Resita
    July 23, 2010 at 6:49 pm

    Meta,

    salam kenal ^^ about yer story, I’ve been there…

    terharu banget baca ceritanya… cerita kita sebelas dua belas, gak usah deh cerita disini ntar panjang, kalo mau baca boleh cari di thread breastfeeding, hihihi ^^

    anak saiya juga sekarang 90% formula, dan sungguh nursing nazis itu bener bikin saiya tambah depresi, saya sudah deprasi karena gak bisa ASIX, saya sudah depresi karena orang2 disekeliling saya banyak yang gak dukung buat ASIX, tolonglah, jangan buat tatapan sinis pada saya karena saya membri formula pada anak saya dan mengatakan i’m a terrible mother, sebelum saya dikatain gitu juga saya udah ngerasa duluan^^

    ada orang yang baru pertama kali melihat saiya menyusui, bahkan baru sekali ketemu saya, langsung nyerocos, dadanya kecil, badan kecil, puting jelek, kurang makan sayur.. OMG who do you think you are??? baru sekali ketemu liat nyusuin langsung nge-judge kayak gitu??? cuma gara2 anak saya nyusunya rusuh grasak-grusuk???

    btw, congrats bisa 6 bulan full ya, thanks for sharing the story ^^

  56. Mirza Resita
    July 23, 2010 at 7:07 pm

    @dilla,

    setuju banget sama komennya!, 4 thumbs up! mungkin saya memang yang gagal ASIX, dan jadi korban nursing Nazis itu… tapi hanya Allah yang tahu betapa saya meringis setiap tetes sufor yang jatuh ke anak saya. mungkin saya kurang seperti “batu karang” karena itu saya “pecah” saya terintimidasi abis2an, depresi, karena yang mendukung saya hanya bisa dihitung jari! waktu itu kedua puting hancur, ASI tidak keluar banyak, dipompa hanya darah yang keluar, akhirnya anak demam tinggi, kemudian saya ditekan sana-sini dibilang sok2an mau ASIX di anak pertama, dan akhirnya saya “pecah”

    @bpk. leonard,
    saya rasa bapak sulit untuk memahami karena bapak tidak mengalami langsung, mungkin hanya melihat pengalaman istri dan ibu2 lain, namun ada baiknya bapak tidak “ngotot” untuk menulis hal2 semacam ini,karena hanya “experience is the best teacher”

  57. thelilsoldier
    inga July 23, 2010 at 7:41 pm

    Meta.. wadaw gue berasa panas bacanya aja :D

    Ternyata bukan perasaan gue doang ya, banyak konselor laktasi yang harus diedukasi bagaimana menjadi konselor (bukan hanya pengetahuan tentang ASI).

  58. cittacitta
    citta July 23, 2010 at 7:52 pm

    oiya,,michelle duggar aja yang udah nyusuin kurleb 21 anaknya aja awal2 mennyusui perjuangan sekali,dari mulai puting masuk, struggling karena menyusui anak kembar,sampe crack nipple,gimana kita yang cuma punya anak 1/2/3,,hihihi tp ngmg2 brarti beliau udh menyusui kurleb 20tahun yah,,wawww,, :)

  59. puspita_jewel
    Sitha July 23, 2010 at 8:17 pm

    Istilahnya baru denger, nursing nazis, hehe… Tp pengalamanmu memang luar biasa ya. Konsultan tsb bukannya tahu kl busui dikasih pressure mental spt itu malah bisa pengaruh ke produksi ASI?

    Aku jg banyak belajar dari pengalaman menyusui anak pertama yg termasuk ‘gagal’ (ngga ngerti IMD, latch on, bahkan ngga ngerti kl hbs melahirkan itu PD bisa full n bengkak, LOL). Alhamdulillah, untuk anak kedua cukup lancar berkat join milis asi. Kamu nanti pasti bisa, Meta. Semangat ya.

    @ Bpk Leonard: Tulisan yg ini “Bagaimana dengan ibu yang tidak memiliki pembantu/babysitter atau tanpa kehadiran sanak keluarga karena berjauhan lokasinya ?”, wahh… aku banget tuh… ^_^ Makanya pas anak kedua lahir, aku ngga pasang target nyusuin sampai kapan walau kakak udah nyuruh sampai 2 tahun. Aku setuju banget, kondisi orang beda2, ngga bisa dipaksakan. Pernah ASI-ku surut beberapa kali saat aku kecapekan ngurusin rumah dan anak2. Walau akhirnya aku bisa nyusuin sampai skrg (15 months), tapi aku ngga pernah menekan teman2ku di sini utk urusan menyusui. Kalau perlu info dan sharing, aku terbuka buat mereka. Tp kalau mereka memutuskan pakai sufor utk bayinya, aku ngga ada urusan di situ. Itu keputusan mereka. Kondisi mereka beda, walau sama2 tanpa ART dan jauh dr keluarga, apakah suaminya kasih support penuh spt suamiku? Belum tentu. Banyak hal yg kita tidak tahu dalam rumah tangga orang lain. Intinya, saya agree dgn tulisan Bapak. Masih mending dikasih sufor daripada ngga dikasih makan sama sekali. It reminds me about something. Bbrp bln lalu ada berita di TV ttg bayi yg meninggal karena ngga dikasih makan oleh ortunya. Dan ortunya kebetulan both junkies. Well… You see…

    Great article nih… Bikin diskusi yang panjang ^_^

  60. ipeh
    Musdalifa Anas July 23, 2010 at 8:46 pm

    baru buka TUM lagi dan baru baca postingan Meta ini, two thumbs up buat MamaMeta yang super duper keren, perjuangan lo hebat sampe bela2in beli Genset untuk stok ASI, Tfs ya Met!

  61. FriTha
    Fritha July 23, 2010 at 8:48 pm

    Mbak meta, setujuuuuu bangettt!!!
    Perjuangan setiap ibu itu beda2, hanya Allah yg berhak menilai..
    Saling support, selanjutnya terserah masing2, yang jelas, setiap ibu adalah bintang…:))

    Terharu skaligus merinding baca ceritanya *peluk erat mbak meta*

    Semoga lahiran adeknya mas Nara lancar, mbak meta jg lancar memberi asi buat dedeknya, amin…

  62. July 23, 2010 at 11:37 pm

    whoa, jadi rame banget nih komen di artikelnya…

    buat meta, *hugs*… kayak gini ya perjuangan seorang ibu untuk memberi yang terbaik ke anaknya. be it ASI, pendidikan, atau apa deh… smoga sukses ASI-nya di adeknya nara :)

  63. July 24, 2010 at 2:25 am

    meta… love your article, semoga artikel ini bisa memberi pencerahan bagi para mama yg sukses ASI untuk tidak pongah dan tidak juga lantas merasa berhak menghakimi mama2 lain yg gagal memberikan ASI.. aku jg sebel nih klo ada yg terlalu mendewakan ASI.. semoga kita menjadi mama bijak yg berkepala dingin.. amin! lancar ya buat kehamilanmu, met..

  64. gumzkiew
    gamma sinta rini July 24, 2010 at 6:57 am

    meta,great article..mengingatkan diri jgn sampe mjd one of those nazis. I love ur words ‘lets campaign breastfeeding without intimidating’.

    btw,honestly gw br tau dunia breastfeeding nazis sdemikian eksisnya.gw pribadi justru ngerasa sejauh ini hidup di dunia sufor nazis.perjuangan bwt asix sering bgt diganjel ama komentar sadis ‘knp blm dikasi tambahan sufor’.ato tampang merendahkan ketika ditanya skrg susunya apa gw jawab masi asi. ato smacem tampang ‘no wonder anak lu ceking,cuma dikasi asi doang’..and so on..fyuh!

    smg kita smua slalu mjd orang yg bs menghargai apapun pilihan orang lain ya.

  65. morningtea
    morningtea July 24, 2010 at 7:38 am

    Beberapa teman dekat saya juga pernah jd Korban nursing nazis:)
    Dalam hati saya bertekad kalau ada yg gituin saya nanti bakal saya damprat abis2an “ibu galak”
    Tapi ga tau nih abis melahirkan kita kan lemah dan emosional ya.
    Makanya dari sekarang udah ingetin suami buat support.

    Like this article.yang penting jd mama harus pd ya,don’t let the world put you down!

  66. rainiw
    Aini Hanafiah July 24, 2010 at 10:35 am

    Pertama baca artikel ini di blognya Meta, trus baca lagi, dan lagi, dan lagi disini… masih kerasa “nyesss”. Terharu banget! Salut bgt gw ama lo, Met ;-)

    Setuju Met, motherhood world can be so cruel… Tapi bukan berarti kita harus ikutan jadi “cruel” untuk membuktikan diri kita dalam ngasih yg terbaik buat anak. Pembuktian terbaik itu langsung ke Tuhan yak, bukan ke para nursing nazis itu :-P Ayo kita kampanyekan breastfeeding without intimidating… just do your best, let god take care of the rest,insyaAllah

  67. Mirza Resita
    July 24, 2010 at 1:56 pm

    Great story meta…

    Membaca artikel ini, mata hati saya terbuka. Maaf, kadang ada sebagian ibu yang mampu menyusui anaknya tanpa kendala tanpa sadar suka merasa “lebih” dari ibu yang tidak mampu menyusui anaknya. 100% not agree with that!

    Saya berketetapan hati untuk tidak mau tergabung dalam “Nursing Nazis”…

  68. Mirza Resita
    July 24, 2010 at 2:13 pm

    salam kenal mba meta
    hikss,sy pun mengalaminy,berat sekali rasanya…..pasca melahirkan saya mengalami tekanan yg luar biasa berat dan menyakitkan….sayangnya tekanan tsb justru datang dr orang2 terdekat saya….yg men-judge ASI sy sedikit…..atau mengatakan anak sy lebih suka menyusu dengan botol di banding menyusu langsung pada ibunya…..bahkan ketika saya sedang berjuang menyusui anak sy …..ada yg berkata….”knapa anak sy tidak di beri susu?” ….seolah olah ASI saya itu tdk di anggap sama sekali…..saya merasa tertekan sekali….produksi ASI pun otomatis terganggu karena stres. Alhamdlh saya menemukan konselor yg cocok di klinik laktasi…dia meyakinkan saya bahwa ASI saya banyak (setelah di cek oleh konselor tsb)….saya hanya perlu berjuang terus menyusui anak saya yg memang telah mengalami bingung puting……Alhmdlh setelah bayi saya 1,5 bulan ASI saya pun lancar sejak itu saya menyusui ASI full….tapi untuk merasa aman dr “ancaman” org terdekat….saya kadang memompa ASI dan memberikan ASI sy dgn botol agar seolah-olah saya memberikan susu formula pada bayi saya…saya kadang tak habis pikir knapa ada org2 yg begitu kejam pd seorang ibu pasca melahirkan….yang justru membutuhkan dukungan….smoga tidak ada lg yg mengalami hal spt sy.

  69. metariza
    Meta July 24, 2010 at 8:33 pm

    @Shinta, thanks Shin…I couldn’t have said it better! Parenting is much more than just breastfeeding. Salah satu alesan gw ‘betah’ banget di TUM juga adalah karena urban mamas di TUM asik-asik, (muda juga ya Shin? Hehehe) dan menghargai perbedaan soal parenting.

    @Anggi, yup…itu yang penting…God knows we’ve been fighting :)
    @Rimaniss, thanks yaa..

    @Inga, eh ternyata konselor laktasi itu ada sertifkasi internasionalnya loh. Gw baru tau :)

    @Citta, edan emang yaa perjalanan menyusuinya…doi mah bener-bener ‘pro’ abis yah, hehe

    @Sitha, amin Sit…thanks ya supportnya, insyaallah anak kedua akan lebih struggle dan lebih ‘pinter’ :)

    @Ipeh, hihi abis beli genset malah (Alhamdulillah) ngga pernah mati lampu lama, jadi gensetnya nggak pernah dipake sama sekali. Emang ‘cobaan’ aja ya waktu itu…hehe

    @Fritha, makasih yaa *peluk balik*

    @Thalia & Sisca, thanks ya Thal & Sisca…

    @Gamma, setujuu sama yang lo bilang, ‘semoga kita slalu menjadi orang yang bisa menghargai apapun pilihan orang lain”

    @morningtea, agree, jadi ortu musti nambah ilmu terus dan pede. Apalagi waktu masa menyusui, musti pede banget…

    @Aini, telimakati Ai *peluk* yang menilai kita harusnya emang cuma “Allah” ya…afterall, anak kan titipan Dia, bukan titipan orang lain…

    @Citraria, yay…thanks yaa

    @BundaFaiaa, Alhamdulillah ya…ikut senend denger cerita kamu akhirnya bisa tetep sukses :) memang berat klo tekanannya justru dateng dari lingkungan yang dekat sekali, makanya support group itu berguna banget saat menyusui.

  70. the luckiest man on earth
    the luckiest man on earth July 24, 2010 at 10:52 pm

    Bunda, i really hope this time we can do much better than what we did for Nara.
    Nunggu 2 jam utk konsul ke ahli laktasi? No problem. Asal jgn sering2 ya dok :)

    TUMommies, thanks for the kind thoughts ya

  71. Mirza Resita
    July 25, 2010 at 6:30 pm

    hmmm…. musti kasih jempol berapa ni buat momi-momi yang berjuang tuk anaknya “with or without ASI” with or without breastfeeding”…. TOP dah…. gak terhitung jempolnya.

    kasih ibu memang sepanjang jalan….

  72. dr.riyana
    dr. Riyana Kadarsari, SpOG July 25, 2010 at 8:44 pm

    ikutan ah… hmm saya juga punya pengalaman yg sama denganmu meta (salam kenal yah) lucu kan dokter obgin gitu loh tapi kasih ASI campur dengan sufor.
    Tentu saja semua pasti punya alasan kenapa bisa “gagal” ASI ekslusif termasuk saya. Bagi saya tentunya kita sudah berniat dan berusaha memberikan yang terbaik bagi anak kita. Saya sendiri hanya berusaha ikhlas dengan segala kondisi yang mungkin tidak sesukses urban mamas lainnya. Saya hanya sangat mendukung usaha pasien-pasien saya tuk ASI ekslusif, termasuk menyuruh mereka membuka website ini krn banyak sekali tips tuk sukses ASI yang layak utk di share. Memang sebagian besar kegagalan terjadi karena kurangnya pengetahuan saja dan kekhawatiran yg salah tetapi tetapi tentu saja tidak ada yang perlu disalahkan justru motivasi dan dukungan yang perlu diberikan. Nikmati saja setiap momen berharga dengan buah hati kita dengan ikhlas, rumput tetangga selalu terlihat lebih indah bukan padahal kita punya kebun bunga berwarna warni…

  73. Mirza Resita
    July 26, 2010 at 9:38 am

    Meta, keren banget baca artikel mu! Salut dah… Segitu besar perjuangannya buat ngasih ASI apalagi sebagai working Mom!

    Sebenernya masih bingung juga nih, aq termasuk si Nazi itu g y? :P Soalnya aq masih salut banget sama ibu2 yg kasih ASIX even they’re working mom.

    Tapi apa pun yg terjadi, setiap ibu pasti pengen yg terbaik buat anaknya, y kan Met? *wink wink* Pokoknya, I adore you!

  74. marinania
    marina gardenia July 26, 2010 at 12:54 pm

    Meta… lagi hamil kan? semoga anak kedua nanti lancar ya ASIX nya…

    Aku juga salah satu working mom yg gagal ASIX, campur sama sufor, jadi ya memang selalu menghindar dari orang-orang yg kau sebut “nursing nazis” itu… ternyata selalu ada ya di seputar kita… aku kirain ga banyak loh… tetap semangat yaaa!! semoga nanti adeknya alya (yang belum mulai diproduksi) sukses ASIX, amiin… :)

  75. rhisuka
    riska nurmarlia July 26, 2010 at 1:11 pm

    di milis mother and baby met. kayanya ada yang copy paste dari blog lo sih. dan dia ngasi tau sumbernya.

  76. Mirza Resita
    July 26, 2010 at 1:40 pm

    @meta : iya … ibuku emang suka mengulang-ulang cerita sih. Mudah-mudahan nanti Nara suka suka ngedate sama Meta. Hi hi hi anakku juga Nara (lengkapnya Inara-cewek)

    @dr.Riyana: ini Indah, masih ingat aku nggak? Ketemu lagi di sini kita.

  77. restya
    Neneng Restiana July 26, 2010 at 3:14 pm

    Meta..i’ve been there before,&ngerti bgt perasaan itu.Sampe skrg pun msh ngerasa bersalah ga bs ngasih AsiX Ke jibril.Saya justru lbh parah,Dl ga nyiapin diri sm sekali bt ngasih asi,krn PD bahwa asi bs kluar dgn lncarnya,lbh khusuk nyari prlengkpn bt baby(satu2ny prsiapan bt ngasih asi,cm beli Bra menyusui).Dan tnyta pada saatny asi sy cm sdikit&diperparah dgn ketdkngertan sy ttg latch on yg bener,klinik laktasi&relaktasi,mompa asiP,dan bahkan ttg asiP Itu sendiri,jg inverted nipple,dll.Sama dgn meta..tdk ingin kjadian yg sm menimpa anak ke2 saya,kbtlan skrg jg sdg hamil lg.mulai kenal TUM jd byk ilmu ttg perASIan,smg kita berdua bs lbh sukses yah di anak ke2 ini,amin..Skalian tanya pelindung puting itu apa?&belinya dmana?thx ya met..*big hugs*

  78. dhira rahman
    dhira rahman July 26, 2010 at 4:04 pm

    IMO
    start breastfeeding without labelling :)

    Mama Nara, you did it good, the best you can do

  79. Mirza Resita
    July 28, 2010 at 9:39 pm

    huhuhu mau nangis rasanya…
    saya tahu betul rasanya. apalagi saya bener2 gagal kasih ASI. hanya mampu memerah selama sebulan. mungkin kurang berjuang dan tangguh seperti mama Nara…
    Sampe sekarang masih suka sedih dan “tersinggung” tiap ada yang mengungkit1 “kegagalan” ini
    semoga tidak terulang di anak ke2 yg insya Allah lahir bulan depan. amin…

  80. drRee
    Revina July 29, 2010 at 2:26 am

    Metaaa..love the article ;)
    Thanks for sharing yaa.. i feel you.. secara kasus gw mirip2..
    Wish you the best buat anak ke 2, mudah2an lebih sukses kasi ASI yaaa..

  81. Riery Oesin
    Riery July 29, 2010 at 9:49 am

    *langsung ngecek termasuk breastfeeding nazis ato ngga* heheh
    Alhamdulillah hampir ;p, jadi kudu belajar lg cara buat nyemangatin org ksh ASI, tnp jadi breastfeeding nazis
    tapi akupun klo ngsh tau org n dia ga minat aku lgs stop (plg ngerasa sedih n keinget smp rumah-knp ya org itu ga mau bljr ttg ASI selagi hamil) dan krn Kayana blm 6 bln (5 hr lagi) jadi aku ga brani terlalu berkoar-koar, nti org sebel lagi *kt mreka: elo jg blm 6bln ksh ASI udah brani ngajarin gw* heheehe
    oia aku prihatin bgt mengenai konselor laktasi yg ga ngedukung mlh nyalahin ibu,ko ada ya yg bgitu… :(
    eniwei mba meta,,mksh uda sharing, jd ngingetin aku jg..smg untuk anak yg keduanya nanti lbh lncr yaaa
    coep coep bwt Nara

  82. Mirza Resita
    August 3, 2010 at 8:42 pm

    Hi Meta.. seperti comments yang lainnya : I FEEL YOU.

    Those ‘nursing nazis’ (saya suka banget ama istilahnya) can be really intimidating.

    TIDAK BISA kasih ASI (bukannya ga mau) – karena berbagai macam faktor, bukan berarti gagal jadi ibu.

    Saya hanya bisa kasih ASI selama 2 minggu dan itu pun campur dengan formula. ASI saya kebetulan memang sangat sedikit, jadi waktu itu setiap tetes yang keluar rasanya berharga banget. Segala macem uda dilakukan dari pijet, vitamin penambah ASI, sampai makanan-makanan yang katanya bisa meningkatkan produksi ASI.

    Kalo denger temen-temen lain ‘promo’ ASIX abis-abisan, lumayan bikin stress juga, dan sempet merasa bersalah juga karena ga bisa kasih ASIX.

    In the end, saya akhirnya bersyukur aja pada Tuhan, walaupun ga ASIX, anak saya sampai sekarang sehat-sehat, dan puji tuhan belum pernah sakit pilek batuk ataupun yang lainnya…

    We all just want the best for our child, right?

    Thanks for sharing your story :)

  83. adistybudiman
    lilmissclueless August 3, 2010 at 9:15 pm

    aku jg punya kesulitan dgn breastfeeding, pdhl aku rajin cari ilmu, sejak hamil dah beli breastpump yg top, skrg hamil anak ke-3 aja aku dah pesen tea khusus yg ktnya bisa lancarin asi, trus nyari donatur asi just in case. dl abis lahiran aku lgs minta suntik asi, trus nenggak supplemen segala macam, saking pengennya sukses asi. tiap 3 hari selama 2 bln stlh lahiran ada terapis massage payudara khusus, pokoknya apa aja yg dijual yg ktnya bisa lancarin/nambah produksi asi aku beli deh :) mestinya para nursing nazis itu mikir, masa iya ada yg demen keluarin duit berjuta2 buat sufor? enak bgt kan kasih lgs, gak capek, gak pusing, benefitnya banyak bgt, lha kok ada yg gak mau? aku sih lbh percaya klo ada ibu yg gak kasih asi ya memang keadaannya gak mengizinkan. dunno, aku sih mikirnya mereka yg suka ngejudge or those nursing nazis itu simply yah memang orang2nya suka ngerendahim orang aja, mereka butuh merasa ‘lebih’ dari orang lain/other moms. pardon my saying yah :)

    cuma ada nih yg aku sayangkan, dan aku dah pernah menyiratkan ke salah satu temanku yg kebetulan konselor laktasi, aku selama ini selalu konsul ke dia soal breastfeeding, tp tiap dia ajak ke ‘perkumpulan’-nya aku nolak, krn mnrtku banyak yg ‘militan’ alias nursing nazis. dia sendiri pun mengakui lho! makanya bolak-balik aku baca klo dia lg ngeblog/twit/fb soal asi dia selalu ngingetin teman2nya utk support tanpa nge-judge :) kenapa begitu? krn aku byk teman yg jg emoh nanya ke perkumpulan tsb, yg mana mnrtku sayang, klo memang concern mereka adalah better future generation with ASIX, bukannya mereka mestinya lbh banyak merangkul para calon ibu/ibu menyusui dgn cara2 yg lbh simpatik?

    TFS yah, slm ini jg gatel bgt pengen nulis, dan menyayangkan, krn aku tau bgt byk yg msh kesulitan mengenai breastfeeding, tp mgkn krn pengalaman dgn nursing nazis yg gak enak, mereka jd males konsul ke tempatnya. aku sih beruntung punya teman konselor di sana. hopefully ada yg baca dan mgkn mau berubah strategi. gimanapun jg tiap ibu beda situasi dan kondisi, tp pasti maunya hanya yang terbaik utk anak2nya. happy breastfeeding moms :)

  84. adistybudiman
    lilmissclueless August 3, 2010 at 10:37 pm

    nambah dikit, aku pernah baca komentar usil “miris liyat ibu2 ngeluarin sekian juta buat sufor, mending asi kan, murah” sumpah aku bingung? apa yg dimirisin? wong ibu itu punya duit kok? klo mau miris, miris-nya ke ibu2 yg gak mampu, yg bayi2nya kurang atau malah gizi buruk, bukan begitu? pengennya sih para nursing nazis ramai2 ngumpulin asip, trus donasiin ke mereka yg butuh, drpd sibuk komentarin ibu yg naik turun mobil, nenteng tas branded, baby naik stroller mewah, pernah liyat kejadian ada nursing nazis lg nyindirin seleb di mall yg anaknya kebetulan minum botol, aku sampai mau teriak ‘heyyyy, shut the eff up!’ :)

  85. Mirza Resita
    August 4, 2010 at 9:38 pm

    My name is Lydia and I’m a new member (love this Forum!) and would like to share my take on this.

    First of all, thanks for sharing this and I agree 100% that there are people out there (sadly, almost all of them of them are women) that are so narrow-minded about this.

    I have 2 sons (5.5 yo and 1.5 yo) and both were born through c-sections (they’re too big for natural birth) and I had some complications during the process, hence, I could not breastfed them (give them ASI) as I was on antibiotics as well.

    Did not breastfeed my sons does not mean I don’t love them or make me a bad mother. They’re healthy and happy -and that’s all I care about.

    Therefore, I try not to listen to these kind of talks (from these nursing nazis – love the name you gave them by the way!), they are not worth my time.

    Thanks again :-)

  86. August 5, 2010 at 1:52 am

    Terharu baca perjuangannya Meta.. Two thumbs up!!
    *speechless*
    good luck buat anak keduanya ya! Pasti bisa lebih baik dr yg kmrn.. *hugs!*

  87. metariza
    Meta August 5, 2010 at 11:11 am

    @Asni, :) makasih ya

    @Dr. Riyana…another living proof klo dokter juga manusia ya dok, yang sama-sama musti struggle seperti ibu-ibu lain untuk ngasih yang terbaik buat anaknya. Thank you Doc, for the wise words…couldn’t agree more, terutama tentang ikhlas, walaupun itu rada berat karena susah ngilangin rasa bersalahnya.

    @Lidya, @Revina telimakati dears :D

    @Marina, amin…makasih ya doanya. Semoga adeknya Alya cepat diproduksi (hayah kaya procurement aja,hihi) dan sukses untuk anak keduanya ya, cup cup…

    @ikurniati, hihi gw suka banget ngedate sama Nara klo ayahnya lagi keluar kota…rasanya seneng banget, soalnya walaupun masih kecil tapi rasanya kaya ngedate beneran, disayang-sayang dan dijagain sama Nara, hehe. Wah, namanya sama, banyak juga yang nama anaknya Nara…seriously, we shud form a club, hihihi…

    @Neneng, sama banget deh…gw ngga terlalu khusyuk mempersiapkan diri buat nyusuin selagi hamil karena semua orang di sekitar gw nyusuin dan ngga ada kesulitan, jadi gw pikir nyusuin adalah sesuatu yang natural banget dan ngga susah. Hayah, mungkin itu yang bikin stress juga, karena ternyata ngga segampang yang gw liat di kakak gw atau temen2 gw…
    Btw pelindung putting atau nipple shield yang gw pake waktu itu beli di itc, tapi dimana-mana ada kok, merknya pigeon.

    @Dhira, tenkyuu bundazua…Yappp setujuuuu, can we just say breastfeed? Without any label…

    @Rossie, waa udah mau lahiran ya? semoga lancar yah lahirannya, sehat-sehat dan lebih sukses nyusuinnya…kabarin ya di TUM klo udah lahiran :)

    @Riery, :) makasih yaa… cup cup balik kata Nara

    @Carmelita, thanks ya…tadinya gw rada ragu mau submit tulisan ini ke TUM, tapi ternyata banyak sekali orang yang punya pengalaman sama kaya gw (malah banyak yang perjuangannya lebih berat) jadi harapannya ke depan, we mommies bisa lebih mensupport dan merangkul, ngasi solusi instead of menyalahkan dan sekedar mengkritik. Btw istilahnya bukan gw yang bikin, hehe…baca komenmu ngingetin gw sama temen baik gw, yang walaupun berhasil nyusuin anaknya sampe 2taun, tapi ngga pernah menyalahkan gw dan menghibur dengan bilang “tenang aja met, semua ponakan-ponakan gw juga ngga ada yang sukses asix, tapi keren-keren aja, sehat-sehat aja, pinter-pinter aja…karena ibu-ibunya sayang banget dan merhatiin anak-anaknya banget. In the end that’s all that matters to children, the love and affection from their parents” me love it!

    @Adisty, hmmff…sabar ya Dis. Btw kesempatan bagus klo punya temen konselor, jadi bisa ngasi masukan (seperti yang udah adis lakukan) supaya konselor laktasi bisa lebih compassionate dalam memberikan konseling karena cara pemberian konseling ngga bisa disamaratakan ke tiap orang.

    @Lydia, hi…“They’re healthy and happy -and that’s all I care about. “ very well-said :) thanks for droppin by and say hi to your boys

    @Tari *hugback* aminnn, makasih ya supportnya…

  88. Mirza Resita
    August 6, 2010 at 3:34 pm

    meta…touching story…

    gw jg ngalamin nursing nazis, sama mertua gw sndiri malah..sedih banget :(

    skrg anak gw umur 4 bulan, udh sebulan full sufor..tp skrg gw lg semangat2nya mau relaktasi. Bahkan setelah baca cerita lo, gw makin semangat untuk ga akan dengerin kata orang lagi (even mertua gw sekalipun).

    thanks for inspiring me ya n wish me luck :)

  89. Mirza Resita
    September 22, 2010 at 10:51 am

    hi mamas, Alhamdulillah aku berhasil ASIX buat 2 anakku, anak pertama sampai 9bln, karena hamil lagi and disuruh stop utk kasih ASI (walopun aku baca2 byk yg blg terusin aja), tp yah aku serahin ke yg ahlinya deh..

    anakku yg kedua skrg baru aja lulus ASIX, baru 3hr ini mulai makan, aku sih berasanya dulu jg aku ga baca2 sama sekali soal asi-asian ini, cuma tahu ASIX 6 bln, ya kerjain, ga ada makan2an yg spesial, adanya jg apa aja dimakan, makanya aku termasuk the luckiest, ga ada persiapan and knowledge apa2 bisa berhasil, padahal byk yg kbalikannya

    yg mau aku share, aku inget pengalaman waktu aku ngelahirin anak pertama, pas pemulihan disebelahku ada seorang mama yg menurut aku really dedicated mother, 3hr dia berjuang utk melahirkan normal, di induksi bbrp kali, sampe akhirnya dia harus cesar juga, setelah sesar pun dia berusaha IMD walopun ga berhasil, sampe pas aku ketemu dia itu 5hr setelah dia melahirkan, aku ngeliat dia sampe nyedot asi pake tube kayak suntikan itu, bkn ASI yg keluar, tp darah :( Subhanallah, dia blg ini mgkn usaha terakhirnya dia,dia udah coba mijit sendiri, pake breastpump, dr yg manual sampe electric, sampe langsung k bayinya yg nangis2 mungkin lapar tp asinya ga keluar juga

    klo ibu kayak dia masih harus dihina and dicela karena ga bisa kasih ASI, cuma mamas yg ga punya hati aja kali yg berani begitu, stiap aku inget perjuangannya, bener2 inspiring and bikin aku thankfull bgt, karena aku gak ada masalah sm skali dgn breastfeeding

    jd buat mamas yg belum berhasil, you have to appreciate the process, not only see the result, caiyo mamas!

  90. Mirza Resita
    September 29, 2010 at 9:28 pm

    ooh salut bwat mba meta..now that’s what i call an inspiring story –hiksshiksshikss– di Al-qur’an aja dlm surat AnNisaa kan gapapa kalau ibu tdk bisa menyusui sampai 2 tahun,tidak dosa atau apapun,hanya dianjurkan kalau mau sempurna yaa sampai 2 tahun. Karena perjuangan ibu itu beraat bgt yaa…dah hamil,melahirkan,menyusui,mendidik sampai besar.Sungguh Allah Maha Mengetahui dan Maha Penyayang —hikssss—

Post a Comment

You must be logged in to post a comment.