Care for ME! Pengasuhan Berkualitas Untuk Setiap Anak

eka

Sabtu 22 Februari 2014 lalu saya menghadiri  sarasehan soft launching kampanye global “Care for ME! Quality Care for Every Child. Topiknya sangat menarik, “Pengasuhan Berkualitas di Keluarga Kandung dan Alternatif”. Ada dua pembicara dalam acara ini: Ibu Lenny N. Rosaline dari Kementrian Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, dan Bapak Greg Hadi Nitihardjo Direktur Nasional SOS Children’s Villages Indonesia.

Tari Saman yang dibawakan oleh Anak-anak Desa Taruna

SOS Children’s Villages Indonesia adalah organisasi sosial nonprofit yang memberikan pengasuhan alternatif bagi anak-anak yang telah atau berisiko kehilangan pengasuhan orangtua. Berdiri sejak 1949, SOS Children’s Villages  kini ada di 133 negara termasuk Indonesia. SOS Children’s Villages juga memberikan dukungan kepada keluarga kurang beruntung dengan mengasuh 5.500 anak melalui Family Strengthening Program untuk  mencegah terjadinya kondisi terburuk yang dapat menyebabkan terpisahnya anak dari  keluarga biologis mereka.

Ibu Lenny N. Rosaline menuturkan bahwa anak dalam perkembangannya membutuhkan dukungan dari orang lain, khususnya dari keluarga untuk dapat tumbuh dan berkembang dengan optimal. Tidak semua keluarga di Indonesia mampu memberikan dukungan terbaik bagi perkembangan anaknya. Hal ini disebabkan beberapa faktor seperti ekonomi, sosial, kondisi fisik dan psikologis. Tidak sedikit anak menjadi terlantar dan terpisah dari keluarganya. Menurut data Kemensos tahun 2011 jumlah anak terlantar di Indonesia adalah 4,8 juta, kemudian pemerintah mengeluarkan kebijakan yang berorientasi kepada peningkatan kemampuan dalam pengasuhan.

Hak anak untuk mendapatkan pengasuhan berkualitas terungkap dalam UN Guidelines for Alternative Care for Children yang dapat diringkas dalam dua prinsip dasar yaitu ‘Keharusan’ dan ‘Kepatutan’. Keharusan adalah pengasuhan dan perlindungan anak harus diupayakan dilakukan di dalam keluarga atau sanak saudara. Kepatutan adalah segala bentuk pengasuhan formal dan informal harus cocok dengan kebutuhan dan demi kepentingan terbaik setiap anak.

Beberapa ketentuan PBB  untuk pengasuhan tersebut adalah:

  1. Pemenuhan dan perbaikan gizi yang sesuai dengan kebiasaan lokal dan agama yang dianut, perawatan kesehatan dan akses terhadap fasilitas kesehatan dan konseling, pendidikan formal dan nonformal, perlindungan dari segala bentuk pelecehan, penculikan, perdagangan manusia dan bentuk-bentuk eksploitasi, dan hak kebebasan beribadah dan menerima kunjungan dari pemuka agama.
  2. Setiap anak termasuk anak-anak dengan kebutuhan khusus (termasuk anak dengan HIV/AIDS, penyandang disabilitas, anak dalam situasi bencana, anak dengan orang tua tunggal) berhak untuk berkembang melalui kegiatan bermain, rekreasi dan kesempatan untuk beraktivitas di dalam dan di luar pengasuhan dan berhubungan dengan anak-anak di lingkungan sekitar tempat tinggalnya.
  3. Segala bentuk perlakuan yang bersifat menyiksa, kejam, tidak manusiawi, merendahkan martabat manusia, termasuk kurungan atau bentuk lain kekerasan fisik dan psikologis dilarang dengan tegas sesuai dengan Hak Asasi Manusia Internasional. Bentuk hukuman dengan melarang anak berhubungan dengan keluarga dan orang lain yang dekat dengan anak tidak diperbolehkan dan pelakunya harus dijerat secara hukum.

Ibu Lenny menambahkan bahwa kebiasaan makan bersama di dalam keluarga adalah salah satu upaya untuk menyejahterakan anak dan mencegah pemiskinan jiwa anak. Peran ayah sangat berpengaruh dalam pembinaan pengasuhan keluarga; terutama bagi keluarga dengan ibu bekerja/meninggal/berpisah. Orangtua sebagai pengasuh harus mengembangkan budaya dignity, respect, supportive, protective and caring dalam keluarga, agar anak-anak tumbuh penuh percaya diri dan merasa dicintai.

Paduan Suara Anak-anak Desa Taruna Menyanyikan Lagu-lagu Childhood Memories

Setiap anak yang tinggal dengan keluarga biologisnya ataupun dalam pengasuhan alternatif, memiliki hak yang sama untuk merasakan hubungan yang positif, kuat, permanen dan penuh kasih sayang yang dibutuhkan untuk pengembangan pribadinya secara utuh. Setiap anak berhak mendapatkan pengasuhan yang berkualitas,” ungkap Bapak Greg Hadi Nitihardjo. Menurutnya, batasan dari pengasuhan berkualitas hanya dapat dirasakan oleh anak-anak itu sendiri, yaitu saat anak merasa aman, nyaman, dicintai dan dihargai dalam keluarga.

Pak Hadi Nitihardjo menambahkan bahwa keluarga, hubungan orangtua terutama ibu-anak, kakak-adik, harus dipertahankan dalam sebuah lingkungan dan pengasuhan yang berkualitas agar tercipta happy childhood moments. Penuhi hak anak atas pemahaman terhadap identitasnya, hak memiliki akte kelahiran dan akses terhadap informasi yang disertai filterisasi, dan partisipasi. Libatkan anak-anak dalam menyusun arsip identitasnya, membuat buku kehidupan, album foto, benda-benda pribadi dan kenangan tentang setiap langkah kehidupan anak. Contohnya dengan mengarsipkan dokumen akte kelahiran, ijazah, sertifikat, membuat jurnal, buku harian, dan blog pribadi. Hormati hak privasi anak, termasuk hak menikmati fasilitas kebersihan dan sanitasi dengan menghormati perbedaan gender serta ruang penyimpanan yang memadai, aman, dan mudah diakses. Contohnya dengan memisahkan kamar tidur dan toilet anak perempuan dan laki-laki, memberikan lemari penyimpanan untuk barang-barang pribadi anak, dan memberi edukasi kepada anak untuk menjaga kebersihan dan kesehatan pribadi dan lingkungan, karena tidak ada satu anak pun yang berhak tinggal di lingkungan kotor dan kumuh.  Perhatian-perhatian  detil inilah yang memberi dampak besar bagi perkembangan pribadi anak secara utuh.

Foto dari http://www.sos.or.id

Melalui kampanye global Care for ME! Quality Care for Every Child, SOS Children’s Villages ingin menginspirasi masyarakat, pemerintah dan lembaga terkait untuk melakukan perubahan jangka panjang bertindak melawan kekerasan terhadap anak-anak yang berada di bawah pengasuhan keluarga biologis maupun alternatif serta memberikan dukungan terbaik bagi keluarga-keluarga yang berisiko terpisah dari anak-anak mereka.

7 Comments

  1. ZataLigouw
    Zata Ligouw April 3, 2014 at 12:28 am

    selalu suka deh denger Eka cerita soal sekolah dan pendidikan anak2nya, selalu ada yang seru dan menarik serta edukatif tentunya..

    thanks untuk artikelnya ya Kaaa..

  2. drost
    drost April 3, 2014 at 12:39 pm

    lov….lov…lov…..artikelnya mom eka!

  3. eka
    Eka Wulandari Gobel April 3, 2014 at 4:56 pm

    zata & drost: terima kasih, semoga berguna :)

  4. gabriella
    Gabriella Felicia April 4, 2014 at 7:50 am

    Sekolahnya enzo keren deh! Suka deh sama ide mengajak anak mengarsipkan dokumen-dokumennya.

  5. hananafajar
    hanana fajar April 4, 2014 at 7:59 am

    artikelnya mom eka bermanfaat banget..makasi infonya yaa:) acaranya juga bagus banget…

  6. eka
    Eka Wulandari Gobel April 5, 2014 at 2:32 pm

    ella: sama, setuju banget dengan ide itu. ternyata hal-hal kecil yang tampak sepele,sangat berperan membangun happy childhood moments, lho! dan hal ini tetap dipertahankan oleh sos cv sampai sekarang.

    hanana – semoga infonya berguna ya :)

  7. rainiw
    Aini Hanafiah April 10, 2014 at 5:15 am

    iya juga ya, anak2 perlu belajar memahami identitas mereka. Bagus deh ide mengajak anak ikut mengarsipkan dokumen2 identitasnya. Thanks ya Eka :D

Post a Comment

You must be logged in to post a comment.