Communication Skills

yashinta1503

Salah satu hal yang saya syukuri bekerja di mancanegara dan berpindah-pindah adalah keanekaragaman makhluk hayati yang bisa ditemui. Walau sudah di ‘seragamkan’ (=procterised).. tapi tetap aja ciri khas negara masing-masing tidak bisa hilang. Sekarang, saya dan keluarga tinggal di London (sebelumnya kami tinggal di Singapore). Satu hal yang saya kagumi dari orang-orang asing, khususnya sekarang orang-orang Inggris ini (berhubung mereka mayoritas, tidak seperti di kantor Singapore dulu yang benar-benar heterogen komunitasnya) adalah satu hal: communication skillnya.

Kagum karena mereka bisa mengungkapkan sesuatu direct to the point, firm, efficient, clear, dan canggihnya dengan bahasa yang halus (manner emang penting banget ya buat orang-orang sini). Mereka bisa menemukan kalimat yang pas dan tentunya politically correct meski emosinya membakar. Di sisi lain, mereka juga jago ngomong dan tentunya ga asal cuap (karena di Singapore dulu, sekarang saya sudah tau yang ‘asal cuap’ itu seperti apa). Selalu ada poin dibalik itu dan valid. Mereka bisa menemukan peluang untuk berbicara dan menelurkan pemikiran-pemikirannya.

Walaupun kontennya ga surprisingly canggih tapi tetap saja bagi saya faktor keterkejutan (positif) itu adalah, “Oh poin sesimple itu bisa diomongin dengan nice ya.”
Hebat.
Dan ini memberi imbas image yang positif terhadap yang bersangkutan.

Saya jadi penasaran. Kok bisa sih? Saya beruntung karena anak-anak mengeyam pendidikan di sini. Jadi mereka terekspos juga dengan cara belajarnya. Satu hal yang significantly berbeda dengan jaman kita dulu adalah fokus pembelajarannya. Dari kecil, mereka di arahkan untuk ‘memahami’, ‘menganalisa’, ‘mengembangkan’ dan ‘mengungkapkan’ poin-poin pemikiran tentang apa yang mereka pahami. Dan ini berlaku tidak hanya di sekolah, tapi dimana pun!

Contoh, dulu waktu saya SD, saya inget banget kalau ada pertanyaan di akhir setiap bab, jawabannya pasti ada di bacaan sebelumnya. Tinggal tergantung memori kita saja. Tinggal copy apa yang si textnya bilang. Anak kedua saya, Fadel, sekarang alhamdulillah dia sudah bisa baca dari umur 4 tahun, tiap hari dia dikasih PR baca. Saya harus mendengarkan dan memberikan komen di reading trackingnya. Dimana itu media saya dan gurunya untuk berkomunikasi tentang ekspektasi dan progres si anak. Nah, si guru ini makin hari semakin memberikan tantangan. Bukan meningkatkan kompleksitas bacaannya, tapi ekspektasinya. Mulai dari; baca kata per kata, lalu pemahaman Fadel tentang cerita itu, dan apa dia bisa jawab pertanyaan-pertanyaan di akhir halaman. Yang saya kaget, pertanyaan-pertanyaannya itu tidak ada jawabannya dalam cerita!

Jadi ngarang? ga juga karena itu membutuhkan analisa dan penggunaan / pemilihan kata-kata sendiri untuk mengungkapkan lagi. Bedanya, kalau dia tidak mengerti ceritanya, itu baru ngarang. Tapi kalau mengerti ceritanya, dia harusnya bisa come up dengan poin yang valid dan di ungkapkan dengan 1-2 kalimat yang efisien.

Contoh pertanyaannya, “Remember about the story of X (di buku yang lain)… what do you think about this story compared to that?”

Ini anak TK lho… tidak mudah untuk mengingat cerita yang dia baca sendiri dan bisa menganalisa kesamaan tentang cerita yang lain dan mengungkapkan. But he did it amazingly well (mungkin karena ada di lingkungan seperti ini hari-hari di sekolah). Sementara kalau saya disuruh jawab itu soal, bisa juga, tapi come up dengan satu paragraf. Dan sekarang ekspektasi gurunya sudah sampai taraf dimana Fadel diharapkan bisa come up dengan pertanyaan-pertanyaan mengenai cerita itu sendiri. Untuk dibacakan di depan kelas. Ini anak TK B.

Contoh lagi dengan kakaknya Fadel, Fay. Satu hal yang saya suka dengan cara di sini dan tidak mengalami waktu SD dulu adalah ‘penilaian’ guru tentang hasil kerja kita. Dulu standar kan, dikasih nilai 0 – 100. Nah di sini tidak memakai angka, tapi feedback si guru langsung. Personalised dengan tulisan tangannya. Saya kagum karena tiap guru ini put effort untuk nulis feedback itu. Yang pasti effort si anak pasti dihargai – ini sudah standar, dan kalau ada fokus improvementnya itu lebih banyak tentang pengembangan ide, logika bepikir, kosa kata. Intinya? lagi-lagi communication skills; written or verbal – yang sepertinya lebih penting dari kontennya itu sendiri.

Contoh, mereka diberi tugas untuk mendesain mainan baru yang tidak pernah ada sekarang ini (ini kelas 1). Mereka harus menggambar, design yang akan dikasih ke pabrik untuk diproduksi. Mereka juga harus membuat ‘surat’ ditujukan kepada pemilik pabrik itu untuk menyakinkan kenapa harus mainan mereka yang dipilih untuk diproduksi bukan yang lain. Mereka juga harus presentasi tentang design itu di depan kelas, tentunya dengan memakai bahasa sendiri dimana ekspektasi adalah kekayaan kosa katanya dan clear communication. Feedback dari gurunya untuk Fay adalah lebih put effort bagian ‘meyakinkan’ itu (kalau dilihat design mainan Fay cukup keren dibanding anak-anak yang lain tapi sayangnya ini bukan fokusnya). Jadi Fay diharapkan untuk put more reasoning behind his idea dalam menjelaskan atau mengungkapkan secara tertulis atau verbal.

Cara si guru memberikan feedback ini juga bukan, “Hey do better job next time, will you?” Tapi memberi masukan konstruktif dengan cara prompting question ke tulisan essay Fay yang meng-encourage dia untuk lebih meyakinkan poinnnya. Contoh si guru menyelipkan, “Tell him more (= si pemilik pabrik) why do you think this is the best toy in the world?”, “which part of your design that you think he will like more?”.

Pantes aja. Sekarang saya mengerti. Ternyata orang-orang yang saya temui di kantor ini sudah dari kecil dibiasakan seperti itu. Semoga kita sebagai orang Indonesia, yang menurut saya sedikit kalah dari sisi komunikasi, bisa mengejar. Dan ini dimulai dari pendidikan. Kalau di sekolah tidak seperti itu… let’s do it at home. Tantang anak-anak ini untuk beragumen, berbicara, berbeda pendapat, mengungkapkan pemahaman dan ide-idenya karena ide tanpa komunikasi… ga akan ada iPad di dunia ini. :)

29 Comments

  1. Medy
    medy November 21, 2011 at 6:16 am

    Thanks banget sharingnya…emang penting bgt kemampuan analisa dan komunikasi ini. Bakal jadi salah satu poin penting buat nyari sekolah,semoga disini jg ada cara belajar seperti ini.

  2. mrs doyi
    indah nildha November 21, 2011 at 6:46 am

    waaahh… amazed…
    masukan yang bagus sekali untuk sistem pengajaran di indonesia…
    duh, jadi pengen nyekolahin anak ke sana… :D

  3. babybenz
    babybenz November 21, 2011 at 6:55 am

    Sharing yg bagus sekali, krn jujur selalu jd pertanyaan saya apa yg bikin beda? Dr segi kecerdasan sy yakin bgt org kita, Asia ga akan kalah. Tp ya itu td, sy seringkali menemukan sistem pendidikan kita apalg jaman sy dulu yg cenderung lbh mematikan kreatfitias, dan memfokuskan hanya pd kedisiplinan (reward n punishment). Jd cenderung apa2 mental sdh ciut duluan dan utk mengemukakan sesuatu lbh kpd text book or gaya dikte bukan lbh ke pemahaman, insights…

    Di kantor kalo uda ada bos bule, kita lbh sering jdnya gagu ” aaa..uuu..aa…uuu…” atau akhirnya mengiya-iyakan aja krn uda look up duluan sama they way they present something hehhe..

    Mdh2an akhirnya akan ada sistem pendidikan yg spt ini ya di Indonesia…

    Oya kalo di Singapore sendiri gimana Mba sistemnya?

    1. sLesTa
      shinta lestari November 21, 2011 at 10:46 am

      ikutan jawab untuk pertanyaan terakhir yaa.. di singapore, sistemnya masih sama kayak di indonesia. bisa dibilang masih one way juga, walopun semakin kesini mereka semakin mencoba merubah itu sih, tapi tetap mereka masih lebih academic minded, dimana ya pelajaran2 academic itu lebih penting daripada mengasah otak untuk kreatif.

  4. SunShine
    Fitria Adriadi November 21, 2011 at 7:21 am

    Wah, terima kasih banyak atas sharingnya..bagus banget.memang sangat penting belajar communication skill ini, karena akan meningkatkan ke-pd-an si anak untuk mengungkapkan apa yang ada di pikirannya.
    and yes, setuju banget sama pernyataan “kalau di sekolah tidak seperti itu… let’s do it at home.”
    salut sama guru yang disebutkan di atas, di mana dia bisa secara personal menilai perkembangan si anak. saya ngga tau juga sih, seberapa banyak guru di indo yang bisa seperti itu saat ini, karena dulu jaman saya sekolah, nyaris ngga ada. kendalanya lebih karena jumlah siswa yang banyak banget di satu kelas.
    well, mari kita sama2 berharap semoga sistem pendidikan di indonesia bisa lebih baik lagi ya..

  5. dewiamel
    dewiamel November 21, 2011 at 8:42 am

    baru2 ini gw jg baru ngeliat sertifikat2 ponakan2 yg tinggal di amerika. kurang lebih sama kaya sertifikat punya Fayaz. kagum juga sama cara kerjanya guru2 itu :) kapaaaaaaan ya sistem pendidikan di indonesia bisa kayak gitu????

  6. otty
    Pangastuti Sri Handayani November 21, 2011 at 9:05 am

    Ih bagus banget ya… Yang gue perhatiin sih, belakangan ini di Indonesia (terutama di kota2 besar) udah mulai ada sistem kayak gini (contohnya penilaian dalam bentuk feedback dari guru, bukan nilai) tapi sayangnya masih terbatas di sekolah2 swasta dan biayanya jelas ga bisa dibilang murah.

    Kalo gue inget2 lagi, dulu gue pernah bete juga sama cara guru ngajarin sesuatu secara saklek. Gue ngajarin adek gue untuk ngerjain PR matematika, ternyata besoknya jawaban adek gue disalahin karena caranya beda dengan yang diajarin gurunya walopun hasil akhirnya bener. Ampun deh…

  7. morningtea
    morningtea November 21, 2011 at 9:42 am

    bagus banget, banyak2in lagi ceritanya Mom,biar bisa ditiru dan dipraktekin disini:). Iya deh, orang UK kl ngomongnya itu enak bgt pilihan kt2nya,2 kali punya bos briton dan tim mayoritas dr UK saya jadi suka terpesona kl mereka udh ngomong *semoga mrk g salah pengertian deh hihi*

    Dan bener banget,kl di singapore, meski udh fasih englishnya ngomongnya ngasal:D *eh ini ga generalisir, yg pas di tim saya dulu*

    Padahal yg diomongin ya gitu, hal yg semua jg pada tau.Beneran kl otak org kita g kalah, tp gmn “ngebungkusnya” dalam kata2 mereka jauhh banget:)

  8. Niniek Rofiani
    niniek rofiani November 21, 2011 at 10:27 am

    thanks for share Moms.

    setuju banget, dalam meeting sehari2 di kantor saja kita sering gagu kalo giliran ditanya bos “ada pertanyaan?” nggak bisa ngomong karena nggak paham gimana cara menganalisa dan mengungkapkannya. nice story to tell. semoga pemerintah lebih memperhatikan pendidikan para guru di Indo, juga kesejahteraaan mereka, jadi pendidikan yang baik juga nanti outputnya untuk anak2 kita.

    setuju banget kita mulai dari rumah untuk generasi penerus Indnesia.

  9. Sidta
    Dian Arsita Kurniawati November 21, 2011 at 10:38 am

    memang tidak mudah ya untuk orang yang dididik dengan cara konvensional.

    setuju sama otty, udah ada beberapa sekolah yang mengarah seperti ini tapi biayanya tentu saja diatas rata-rata

  10. Minski
    Dewi*Minski*Mindasari November 21, 2011 at 10:45 am

    Tfs, sangat menarik, informatif dan bikin mikir :)

    Thanks sekali lagi ya.

  11. sLesTa
    shinta lestari November 21, 2011 at 10:50 am

    thanks for the article, sharing yang luar biasa mudah2an bisa membuka mata para pengajar di indonesia.

    dan gue setuju banget.. krn dari pengalaman pribadi waktu kuliah di amerika, ini yang bikin gue ciut. sempet mikir, ih ya kan gue gak ngomong pake bahasa mereka, makanya gue ga bisa nanya2, tapi lama2 gue pikir.. itu bukan alesan yang tepat. memang anak2 amerika/eropa itu dari kecil diajarkan untuk berkomunikasi, dan critical terhadap apa yang dijelaskan ke mereka. di kelas (waktu gue jaman kuliah) bisa dengan jelas kok terlihat mereka itu lebih berdiskusi daripada one-way communication. dan belajar jadi lebih menyenangkan.

    makanya gue sampe sekarang selalu mikir, academic skills are important tapi bukan satu2nya yang harus dipelajari oleh anak. anak harus bisa dilatih dan di stimulasi supaya otaknya kreatif, dan bisa berkomunikasi dengan baik.

  12. Kira Kara
    Bunda Wiwit November 21, 2011 at 12:48 pm

    woooowww… amazing… ini yg namanya pendidikan dua arah yaa??! hiks… di Indonesia bisa jadi sekolah yang biayanya nun jauh tinggi diawang2 deh kalo ada sistem pendidikan kayak gini… jadi makin speechless deh.. hiks… however thanks for share ya mbak. 2 thumbs up for the article!

  13. ninit
    ninit yunita November 21, 2011 at 3:14 pm

    ochie,
    thanks banget buat artikelnya.
    kalo di sekolah ga diterapkan sistem seperti ini, benerrr banget… tugas orangtua yang melakukannya di rumah.
    biar kemampuan berkomunikasinya bagus. soalnya sayang juga kalau pinter tapi kurang bisa berkomunikasi.

    fay & fadel tambah ganteng ihhh dan semakin bule aja :)

  14. mamashofi
    mamashofi November 22, 2011 at 8:15 am

    Thanks for sharing Mom…
    Menyemangati diri untuk selalu berusaha mengasah communication skills anak-anak di rumah (deuh bahasanya)tanpa emosi dan marah-marah.
    Dan benar…hal ini mulai dilakukan di sekolah-sekolah swasta yang bagus dan pasti mahaaalll
    Sedangkan di sekolah negeri *sekolah anakku* hiks, masih sama dengan waktu kita sekolah dulu : (gak semua) guru galak, (gak semua) gak bisa dibantah, seringkali mempermalukan murid di kelas dll…
    Kita coba dorong anak untuk bicara baik-baik (lapor sih) dengan wali kelas/kepala sekolah eh malah dibilang emang udah sifat gurunya…gubraks!!
    Ikutan Sunshine…mari berharap sistem pendidikan di indonesia berubah menjadi lebih baik lagi

  15. wikit
    wikit November 22, 2011 at 11:33 am

    wow!! nice sharing, Mom!!

    emang sangat disayangkan.. disini anak2 hanya dinilai berdasarkan nilai dan rangking mereka… padahal mereka LEBIH dari sekedar nilai dan rangking…

    sedih banget liatnya…

    constructive feedback dari teachers disana bener2 nunjukkin betapa mereka care secara individu ke murid2 yg mreka ajar…

    nda kaya disini… ~.~”

  16. tephdoetz
    Claudia Harvienda November 22, 2011 at 12:42 pm

    Wowwwww …. Kagum sangat sm sistem pendidikannya. Thank you buat ulasan singkatnya :)

    Teringat pernah punya bos org UK, mksnya dia mau marah tp bs nyampein hanya dgn 1 kalimat yg penuh dgn kata2 halus tp bs lgs “jleb”. Br ngerti skr yg mjd dasar, kok bs ya si bos gw kyk gitu.

    -dudut-

  17. yashinta1503
    Yashinta Tri Wahyuni November 22, 2011 at 4:59 pm

    Dear Moms,

    makasi tuk komen2nya dan sharing pengalamannya. bener bgt tuh. smoga sistem pendidikan di Indonesia jg cepet seperti ini yaa.. masi ada harapan ko.. :)

    stlh sy pikir, mancingnnya itu benernya ga susah. mulai sering tanya ‘what do you think?’ trus stlh keluar komennya. lanjut dengan “oh ic..”… ato “mmm that’s interesting”..ato “tell me more”.. sesekali challenge pilihannya “why is that?”
    dan ini disetiap kesempatan. kta ga usah jelimet2 nanyanya.. krn dr pengalaman cuma ngeliatin genuine interest dengerin cerita mrk, itu mengalir sdiri.. :)

    yg sy plg sering demand klo tantrum mrk kumat; “use your words”. pura2 ga ngerti maksudnya, sampe mrk bisa “bicara”. “you look so sad, something is bothering you .. what is it?” ato
    “it helps me a lot to help you if you can tell me what you want” hehehe.. gtu deh trik yg plg srg sy pake.

    Nit, makasi ya dah di share disini :)
    salam tuk alde ma arza… salam mmmuahhhh, kasep2. hehe.

  18. mommalika
    Masyita November 22, 2011 at 5:11 pm

    gw pernah nanya juga ke sekolah anak gw kenapa kok pendidikan di Indonesia masih yang searah, teks book, n cuma mengingat, ya karena pendidikan Indonesia tuh masih ngejar target materi aja, jadi misalnya dalam semester 1 si anak sudah harus sampai materi X, yg akhirnya anak2 dipaksa harus ngerti materi X itu.. Akibatnya pelajaran jadi cuma dihapal jawabannya.. Guru2 dari sekolahpun sebenarnya memang ingin membuat sistem belajar yg dua arah gitu, yg tiap anak bisa ngeluarin jawaban dari pendapat masing2, tp ya balik lagi, materi akhirnya gak kekejar, karena yg namanya berdiskusi 2 arah itu pasti kan butuh waktu yg lama, dan dilain sisi setiap sekolah juga harus melaporkan proses belajar tersebut ke kantor wilayah… Kata kakak gw yg juga guru, kadang materi di Indonesia itu terlalu tinggi, yg sebetulnya juga gak penting2 amet buat dipelajari anak2 di sekolah…

  19. jasminetea
    Sinta Kurniawan November 22, 2011 at 11:13 pm

    hihihi seru bgt, iya writing and communication skill orang indonesia memang masih kurang. Di sekolah kami (ehm ehm guru nihh) presenting, reading and writing sudah menjadi makanan sehari-hari.
    Mengenai feedback comment, kami pun sudah lama menggunakan itu.

  20. dessy danggraini
    Dessy November 28, 2011 at 12:00 pm

    woow..!! very nice article!

    saya tinggal di singapur, dan aga worry karena disini pendidikannya pun sangat akademis sekali. bayangkan untuk anak 3 tahun aja sudah harus bisa nulis abjad dan angka. (eh, sama ya dengan di Indo?)
    pengennya sih anak2 lebih dikembangin imajinasinya, kreatifitasnya dan communication skillsnya. di rumah saya seneng banget ajak anak saya (3yr) ngobrol, dan meminta dia menceritakan aktifitasnya hari ini, perasaannya atau mengingat2 kegiatan kita wiken kemarin.
    kira2 ada tips dari mom lain ga untuk mengasah communication skills anaknya?

  21. nadmom
    nadmom November 28, 2011 at 2:23 pm

    Wah jadi pengen nyekolahin dhira kesana :)

  22. nadmom
    nadmom November 28, 2011 at 2:26 pm

    Agak ngeri nih gadepin kurikulum Indonesia skrg kok banyak banget yak n kayaknya bukan pemahaman yg dikejar tetapi hafal atau tidak :(
    Sorry bersambung tadi kepencet :)

  23. desy masruri
    desy umi rama November 30, 2011 at 7:42 pm

    memang susah banget ngubah hal yg sdh ratusan thn jd kebiasan. kalo di rmh sdh dibiasakan terlatih dg communication skill ternyata sekolah blm siap, malah guru membatasi & menekan anak ngikuti sistem waduh apa ndak ciut nyali anak utk kreatif?

    paud unggulan di kota saya aja(msh daerah sih) malah menghina anak jika menangis contohnya srng dinyanyikan lagu “buat apa nangis 2x nangis itu seperti adik bayi”, ada anak nangis bukan bertanya kenapa malah disebut si A kan masih adik bayi. akhirnya si anak diem krn takut.

    bingung mau di sekolahin kemana pdhl mas rama itu suka bercerita dan aktif

  24. ainul.farkhan13
    ainul farkhan December 30, 2011 at 2:55 pm

    jadi semakin berhasrat untuk belajar jadi orang tua yang baik buat anak-anak.
    karena tidaj dapat dihindari pola asuh orang tua kita dahulu kiranya ada sedikit perbedaan dengan jaman sekarang.
    skill komunikasi dua arah ini sangat baik diterapkan untuk anak usia emas. dimana di usia2 ini karakter mereka terbangun.
    maka dari itu, kita sebagai orang tua juga harus mengasah skill tersebut.
    banyak cara ; googling, membaca, ikut workshop ataupun gathering2 di forum2
    semoga bermanfaat

  25. bunda bear
    bunda bear January 4, 2012 at 8:19 am

    thanks for sharing this, mom..

    ijin utk share artikel ini ke tmn2ku via fb, ya.. boleh tak mommy yashinta? :)

    your article very inspire me to challenge my boy’s communication skill..

    thank you..

  26. nieza
    nieza January 11, 2014 at 3:18 pm

    aku juga terkagum-kagum sama negara inggris, meskipun cuman ada pengalaman berkunjung. Mereka ramah, to the point tapi bahasanya sangat halus. Usa emang to the point tp gtw kenapa klo denger ngomongnya agak gmn gt..

Post a Comment

You must be logged in to post a comment.