Do Unto Others as You Would Have Them Do Unto You

nisafaridz
Nisa Faridz Saat ini sedang menempuh studi S3 di State University of New York at Albany, USA dengan fokus kajian tentang partnership antara sekolah, rumah, dan masyarakat. Juga menjadi tenaga sukarela di salah satu sekolah dasar di Albany, NY.
Have question for our experts ?
Feel free to ask them here!

Minggu lalu, untuk kedua kalinya, saya ikut tur di kantor pusat PBB (United Nations Headquarters) di New York City. Diantara museum dan tempat bersejarah lainnya, UN Headquarters adalah salah satu tempat favorit saya. Pastinya ini tidak lepas dari impian saya (sudah tua pun tetap bermimpi kan) untuk bisa menjadi bagian dari orang-orang yang berkarya di UN. Buat saya, UN ini ibarat satu kelompok orang yang berusaha memikirkan masalah bersama, nasib orang banyak (sedunia!), bahkan kadang nasib orang ‘lain’ bukannya kelompok atau bangsa sendiri. Ingin sekali rasanya menjadi bagian dari mereka. Tetapi bukan cita-cita itu yang ingin saya share di sini, melainkan pentingnya menumbuhkan rasa kasih sayang (compassion, being compassionate) pada sesama.

Sebuah tapestry membentang di sebidang dinding koridor gedung utama dengan wajah orang-orang dari berbagai bangsa dan kelompok, dan satu tulisan yang menurut Karen Amstrong, adalah “the golden rule”: “Do unto others as you would have them do unto you.” Disebut golden rule karena satu kalimat ini, menurut Karen Amstrong – penulis buku “Twelve Steps to a Compassionate Life” dan peraih penghargaan TED Prize tahun 2008 atas kontribusinya dalam upaya perdamaian dunia – adalah aturan utama kalau kita berinteraksi dengan orang lain, dan beliau juga menekankan bahwa Golden rule ini sebenarnya tertanam dalam semua agama, bahkan menjadi dasar spiritualitas. Perlakukan orang lain seperti kamu ingin diperlakukan! Atau yang biasanya suka saya ucapkan ke murid-murid saya: “jangan ganggu temanmu, kamu ngga mau kan lagi asik belajar diganggu?”

Prinsip yang sangat sederhana, yang mungkin sering kita dengar ketika kecil dulu. Tetapi pelan-pelan ketika beranjak dewasa, kita mulai jauh dari prinsip itu secara sadar atau tidak. Setelah bertemu orang yang mengkhianati kita, bohong, atau memanfaatkan niat baik untuk keuntungan dia; semua itu membuat kita berpikir: “Capek ah, udah bener-bener mau nolong, tapi malah dijahatin.” Dan akhirnya kita tidak lagi selalu berusaha untuk memperlakukan orang lain sebagaimana kita ingin diperlakukan. Dan tidak mustahil, kitapun menjadi lupa mengajarkan the golden rule ini kepada anak-anak karena… ya bagaimana bisa mengajarkan sesuatu yang tidak kita ingat kan? Itulah sebabnya, menurut saya, walaupun golden rule ini adalah prinsip yang sangat “antic”, ia masih sangat relevan untuk dibahas, supaya kita bisa kembali saling mengingatkan.

Golden rule ini adalah prinsip dasar yang melandasi perilaku kita untuk peduli dan menyayangi sesama, bahkan sayang pada mereka yang “berbeda” dari kita. Oh iya, kita perlu sadar juga bahwa anak-anak tahu adanya perbedaan, sehingga kita tidak bisa terus menerus menutup-nutupi adanya perbedaan agama, status sosial ekonomi, ras, etnis, dan sebagainya dengan mengatakan “semua orang sama”. Tidak, orang berbeda-beda, tetapi ketika kita bisa dan perlu terapkan prinsip ini untuk semua orang.

Golden rule ini bukan melulu kita gunakan ketika bertoleransi agama atau budaya saja, tetapi anak-anak juga bisa belajar menerapkannya ketika berhadapan dengan orang lain yang berbeda posisi atau peran. Contohnya, salah satu “oleh-oleh cerita” yang sering dibawa dari negara maju adalah: “Orang di sana antre teratur, tidak desak-desakan. Anak-anakpun antre, ngga ada tuh orang yang cuek nyerobot ngga tahu malu…” atau ini “Mereka kalau ngobrol di kafe ngga teriak-teriak, jadi enak deh kita ngga keganggu. Di sini kayanya orang sengaja ya kalau ketawa kenceng-kenceng banget di kafe…”

Mengapa budaya mereka bisa begitu? Mungkin banyak alasannya, salah satunya yang saya tahu adalah karena mereka sebisa mungkin tidak menggangu orang lain, mereka lebih peka bahwa mereka berbagi space dengan orang lain. Sehingga mereka bisa berpikir: “Kalau aku lagi ngerjain tugas di kafe pun aku tidak ingin terganggu oleh teriakan dan tawa orang lain,” atau “Kalau aku lagi ngobrol sama teman pun tidak ingin dirusak suasananya oleh orang lain.” Dan “Karena kalau aku sudah setengah jam antre pun aku tidak mau diselak oleh orang yang baru datang.” Mereka ingin diperlakukan sama seperti mereka memperlakukan orang lain.

Karen Amstrong mendirikan “Charter of Compassion”, karena beliau tahu penerapan golden rule ini tidak bisa sendirian. Kita harus bangun kebiasaan peduli orang lain secara berbarengan. Kita perlu saling mengingatkan dan berbagi semangat. Ini juga, kan semangatnya theurbanmama, bahwa kita bisa sama-sama belajar untuk kebaikan?

Satu cerita terakhir adalah pengalaman saya ketika mengumpulkan data untuk menulis skripsi, lebih dari sepuluh tahun yang lalu (that’s how old I am J). Saya harus pergi ke sebuah desa yang jauh di atas gunung, yang bahkan angkotpun tidak menjangkaunya. Seorang bapak dari Dinas Pertanian setempat membonceng saya dengan motornya, membantu saya mengumpulkan data, mentraktir makan siang dan mengantarkan saya sampai kembali ke tengah kota. Bukan itu saja, ia pun akhirnya memberi saya ongkos untuk melanjutkan naik angkot sampai ke kos. Tentu saya tolak awalnya, karena ia sudah membantu lebih dari yang saya harapkan. Bahkan saya merasa bersalah karena tidak mampu membalas kebaikannya. Sampai hari ini saya ingat terus respon beliau ketika memaksa saya menerima sepuluh ribu rupiah itu: “Saya punya anak seperti kamu, yang masih kuliah juga. Saya bantu kamu, supaya nanti ada orang lain yang juga tidak ragu-ragu membantu anak saya. Jadi jangan ditolak, Neng.”

Perlakukan orang lain sebagaimana kita ingin orang lain memperlakukan kita, atau anak kita, atau orang tua kita, dan mereka yang kita cintai.

9 Comments

  1. sLesTa
    shinta lestari March 17, 2014 at 10:13 am

    as usual, sangat sukaaa ama tulisan nisa. mewek berkaca-kaca baca cerita tentang si bapak yang bantu nisa mengumpulkan data skripsi. jadi inget film “pay it forward” ya, which is kalo semua orang mempunya based yang sama ketika menolong orang, the world indeed would be a better place.

    thanks for the reminder yah nis! :*)

  2. gabriella
    Gabriella Felicia March 17, 2014 at 10:20 am

    Bagus banget… sama kayak shinta jadi berkaca-kaca pas cerita tentang si bapak itu…
    TFS ya Nisa…

  3. eka
    Eka Wulandari Gobel March 17, 2014 at 4:13 pm

    selalu sukaa tulisannya nisa! terharu deh baca cerita tentang si bapak. iya setuju sama kalimat itu..perlakukan orang lain sebagaimana kita ingin diperlakukan.

  4. drost
    drost March 17, 2014 at 8:06 pm

    Kebetulan kami tinggal di kompleks sekolah terpadu, biasanya ada saja anak yang belum di jemput ortunya, biasanya dg senang hati kami bergantian mengantar anak tsb walau jauh rumah mereka tanpa bayaran. ada yang bilang kenapa sih mbak kok baik banget, jawaban saya simpel biar anak saya ada yg nolong balik.

  5. Shinta_daniel
    Shinta Daniel March 18, 2014 at 9:37 am

    Quote of the day “Perlakukan orang lain sebagaimana kita ingin orang lain memperlakukan kita, atau anak kita, atau orang tua kita, dan mereka yang kita cintai”.. me like it!

  6. Kira Kara
    Bunda Wiwit March 18, 2014 at 1:25 pm

    Kereeennn.. Jadi inget kata-kata “kalo gak ingin dicubit, ya jangan nyubit..” Memang benar, kata-kata itu sudah makin jarang yang ingat. Dan hari ini kembali diingatkan. Thanks for remind us :)

  7. rainiw
    Aini Hanafiah March 19, 2014 at 9:30 am

    Aduh kena banget sama cerita yg terakhir :’) jadi inget pesan ayah saya: berbuat baik itu ya berbuat baik saja, kita itu di dunia buat jadi perpanjangan tangannya tuhan utk bantuin orang lain. TFS ya mba Nisa, diingatkan lagi sama golden rule ini..

  8. tatats
    tatats March 20, 2014 at 1:01 pm

    Salam kenal..keren tulisannya Mba Nisa :) Mamah Saya juga suka baik sama anak yang ditemuin di bis, diajak duduk bareng meskipun tempat duduk mamah sempit, misalnya. Kata-kata beliau persis kata bapak itu, “biar dimanapun kamu berada, selalu ada orang yang menolongmu”. :’)

  9. ZataLigouw
    Zata Ligouw March 23, 2014 at 3:38 pm

    sama dng Shinta, mewek juga baca paragraf terakhir, pernah ngalamin hal yang kurang lebih mirip soalnya..

    makasih tulisannya Nis.., keren…

Post a Comment

You must be logged in to post a comment.