Don’t Be Too Independent

fitri QM
Fitriavi Noeriman ST, AEPP, CFP Lulusan jurusan Teknik Pertambangan ITB. Perencana Keuangan Independen yang merupakan Head of Sales QM Financial.
Website: http://www.qmfinancial.com/
Have question for our experts ?
Feel free to ask them here!

Mumpung baru sebulan berlalu dari tgl 21 April, jadi masih tidak terlalu basi untuk tetap membahas soal peran perempuan/ibu. Karena zaman sekarang, nilai yang diperkenalkan oleh Ibu RA Kartini, sepertinya sudah mulai bergeser. Banyak sekali saya menemui para perempuan yang sangat independen. Lho, bukannya bagus? Kan memang harusnya perempuan Indonesia begitu. Di artikel bulan lalu, saya menyemangati para perempuan untuk menjadi perempuan bijaksana, mandiri, menjadi contoh dan panutan yang baik untuk anak. Tapi di artikel ini, saya juga ingin mengingatkan bahwa apa pun yang TERLALU, efeknya tidak akan baik. Keseimbangan dan tetap menempatkan diri sebagai perempuan adalah yang terbaik.

Mengapa saya ingin mengangkat hal ini?
Karena sekitar 3 minggu yang lalu, saya bertemu dengan beberapa teman yang telah menikah. Mereka menurut saya adalah gambaran perempuan modern saat ini, wanita karier, ibu rumah tangga, memiliki anak. Tapi setelah mendengarkan cerita mereka, saya jadi deg-degan. Saking independennya, teman-teman perempuan saya ini, Kartini masa kini, melakukan semuanya. Karena mereka bekerja dan karier bagus, penghasilan bulanannya pun besar (ada beberapa yg bahkan penghasilannya lebih besar dari pasangannya). Efek dari memiliki uang sendiri, membuat mereka menanggung semuanya. Cicilan rumah, cicilan mobil, belanja bulanan, gaji pekerja rumah, memberi bantuan pada orangtua dan mertua, listrik, air, semuanya dia yang bayar. Bagaimana dengan pasangannya? Gajinya hanya untuk membiayai kehidupannya sendiri saja. Waduh… zaman tampaknya sudah terbalik, ya! Saya tanya, kenapa kok dibiarkan hal ini terus terjadi? Memangnya tidak pernah dibicarakan? Masa iya sih, pasangannya tidak peduli sama sekali. Di mana rasa tanggung jawabnya sebagai suami yang memberi nafkah pada istri? Kemudian teman saya bilang begini, “Ehm, sudah capek, Fit, dan malas saja terus-menterus minta, jadi seperti pengemis. Lagi pula saya punya gaji sendiri, so I can take care of my own life!”

So independent… or too independent?

Kalau membaca cerita di atas, pasti kita akan bilang. Yah, itu sih suaminya aja yang tidak beres. Masa begitu? Itu yang mendorong pasangannya menjadi sangat independen. Jadi tidak ada salahnya menjadi independen karena keadaan. Awalnya saya pun merasa begitu, apalagi ini adalah teman saya, pasti saya akan berpihak pada dia. Tapi kemudian saya berpikir ulang dan harus melihat semua hal dari dua sisi untuk mendapatkan penilaian yang lebih obyektif. Sekarang coba tempatkan diri, sebagai si suami. Apa yang menyebabkan sang suami menjadi bebal? Tidak peka? Apa karena memang sudah bawaan sejak lahir mungkin, wah susah dong, artinya udah salah pilih suami. Eits, ini contoh jawaban putus asa. Pasti semua masalah ada akarnya, dan sebagai istri yang baik harusnya kita berusaha mencari solusi. Bukan menyerah dan memaksakan diri menjadi perempuan yang terlalu independen. Akhirnya pasangan suami istri jalan sendiri-sendiri. Kalau sudah jalan sendiri, saling mendiamkan, masa depan pernikahan yang jadi taruhannya.

Jadi apa yang harus dilakukan?

  • Perbaiki komunikasi dengan pasangan, karena ini adalah inti utamanya. Saat komunikasi tidak lancar, pokok bahasan apa pun akan jalan di tempat, terlebih lagi tentang uang sangat sensitif. Buat kegiatan rutin kencan dengan pasangan (hanya berdua) seminggu sekali, liburan romantis berdua setahun sekali. Mudah-mudahan komunikasi yang beku bisa perlahan mencair.
  • Harus terbuka membicarakan masalah uang.
  • Menuliskan pengeluaran bulanan, sehingga kita tahu bagaimana membagi peran masing-masing untuk membiayai pengeluaran itu. Mungkin pasangan tidak peka, karena memang tidak tahu berapa besar pengeluaran bulanan keluarga.
  • Memiliki mimpi bersama, misalnya liburan, ibadah, ingin menyekolahkan anak ke mana. Sehingga dengan mimpi yang sama, pasangan suami istri akan memiliki semangat yang sama untuk menata keuangan.
  • Mengurangi dominasi diri dan mulai berbagi peran dengan pasangan. Kalau kita memperlihatkan sedikit saja, rasa pasrah pada pasangan, mungkin pasangan akan mulai peka dan menunjukkan tanggung jawabnya. Kalau melihat sang istri selalu bisa menyelesaikan semua sendiri, suami lama-lama akan mundur dari peran utamanya, lho.
  • Last but not least, inti nya adalah memiliki perencanaan keuangan. Sehingga semuanya lebih terukur. Dan beban keuangan pun dapat dibagi. Tidak ada yang salah dengan penghasilan perempuan lebih tinggi dari pasangan. Tapi tetap pasangan harus memiliki tanggung jawab dalam keuangan keluarga.

Jadi untuk semua perempuan yang merasa saat ini sudah menjadi terlalu independen, tidak ada salahnya untuk berhenti sebentar. Karena semua yang terlalu, bahkan terlalu independen pun efeknya tidak baik.

12 Comments

  1. Sidta
    Dian Arsita Kurniawati May 15, 2012 at 7:47 am

    setuju banget sama mbak fitri ..

    ada salah satu tante yang saking mandirinya, sampai defisit keuangan pun tidak dikomunikasikan. begitu juga suaminya. efeknya berat di akhir ketika semua hutang dibeberkan. kita semua heran, “kok bisa sih ngga saling tahu hutang masing-masing sampe segininya .. “

  2. eka
    Eka Wulandari Gobel May 15, 2012 at 8:12 am

    selalu suka tulisannya fitri :)

    sebelum menikah, semua2 dikerjakan sendiri. setelah menikah, memang jd agak ‘manja’ :) suami yg minta jg sih, maksudnya biar i’m doing my part, and vice versa. lagi pula, intinya menikah kan mmg utk berbagi ya :)

    TFS, fitri!

  3. sLesTa
    shinta lestari May 15, 2012 at 8:54 am

    good sharing, fit! karena terbiasa hidup sendiri sebelom nikah, gue ngerasa gue juga termasuk nih wanita2 independen. tapi pas nikah, gue gak mau dong bayar semua sendiri hihi.. *rugi amat* well, iya sih gue bayar semua sendiri tapi gak dari duit hasil kerja sendiri. gue yang ngurus keuangan keluarga, dimana suami (dan juga gue) wajib memberikan share-nya ke rekening bersama lalu kita kelola bareng2. jadi intinya ya berbagi.. karena duit gaji adalah milik bersama.

  4. fitri QM
    fitriavi noeriman May 15, 2012 at 1:04 pm

    hihi makasihhh ya udah pada baca .. iya bener banget. kadang gw juga suka jaga gengsi, males banget minta2 uang. berasa ah, gw juga punya gaji. klo suami gw telat2 transfer, bisa lah, gw handle semua. pdhal suami gw hanya suka lupa doang, bkn nya ga bertanggung jawab. itu aja gw suka males ingeting. terserah lah, klo inget pasti dia trf. tapi dengan ketemu ama temen2 gw yg udah sangat independen ini, gw jadi mikir harus nulis untuk ingetin diri sendiri + semua mama2 yg pegang uang sendiri. tetep kita harus bisa nempatin diri, dan ingetin pasangan klo dia lupa tanggung jawab nya. jangan hanya gara2 gengsi,kita suffer sendiri.

  5. kikyharahap
    kiky harahap May 15, 2012 at 4:35 pm

    Hal paling penting dlm kluarga adalah komunikasi, baik dengan suami maupun anak..sejak jadi FTM bener2 baru 6 bulan ini, gak ada yg berubah dlm mslh komunikasi, apalagi masalah keuangan, karena suami juga yg dengan sendirinya selalu bilang kalau gaji udah masuk, dan minta saya untuk mengalamatkan gajinya ke semua tujuan kita :) karena emang udah dari awal nikah begitu.

  6. Indri
    Indri Puspitasari May 16, 2012 at 11:23 am

    Wahhh bener banget artikel ini..

    Tp yg paling penting kl masalah uang harus terbuka jg sama suami .. kalo gak yah kejadiannya emang begitu

  7. Honey Josep
    Honey Josep May 16, 2012 at 6:50 pm

    kalau gue ke suami, “uangmu uangku… uangku ya uangku”

    tapi ga selalu sih, cuma klo gue lg gila belanja pasti suami ngasih karena dia tau gue masih bisa nge- rem :)

    tfs, Fitri :)

  8. Bundana Hafshah
    Bundana Hafshah November 28, 2012 at 3:52 pm

    Like this banget mbak,,,:)

  9. BubuBoma
    BubuBoma January 3, 2013 at 1:24 pm

    Nice article… ^^
    dulu sebelum married, janjiannya kalo gaji aq buat aq and kursus2 anak (misal ballet, piano), jalan2, dll tapi klo belanja bulanan dll dia yang tanggung.. hehehe… tapi klo gaji art aq berasa tanggung jawab deh, karena karena aq kerja jadi ga bisa urusin kerjaan “rutin”nya ibu RT bebersih dll..

  10. dianik@
    dianik@ March 8, 2013 at 2:55 pm

    thousand thumbs up,,,
    kejadian yang mba temui itu akan lebih sering ditemui di jaman sekarang ini. aq juga ibu bekerja, semoga bisa nyadar buat “tahu diri” :)
    Belajar banyak dari artikel ini,,,

  11. fauzi
    fauzi March 19, 2013 at 9:37 pm

    Komen2 diatas cukup menarik utk ditanggapi….

    ehm, secara konkrit saya tidak tahu siapa yg membuat standar bahwa perempuan modern itu: karir bagus, mandiri, ibu rumah tangga, memiliki anak…..mungkin ad yg bisa menjelaskan kpd saya mengenai siapa yg menetapkan standar spt ini..?

    Saya berusaha utk memberikan komentar se-netral mungkin.

    Ok, saya rasa mbak fitri cukup memahami alur logika didalam suatu organisasi (kalau kita analogikan bahwa rumah tangga adalah organisasi).

    Jika terdapat satu orang karyawan yang menghandle berbagai macam pekerjaan seperti: administrasi, keuangan, HRD, legal, dll….

    Lalu apa gunanya peran serta dari karyawan lain..?? Lalu dimana fungsi bagian lain yang seharusnya menghandle tugasny masing2 di dalam suatu organisasi…??

    ckckck….saya heran dimana letak “cerdasnya” karyawan tersebut…secara akal sehat, karyawan bagian lainpun pastinya akan protes mengapa ada karyawan yang menyerobot tugas dan wewenang bagian lain ??

    Coba mbak sebutkan bagian mana didunia ini yg dapat berdiri sendiri….?

    1. Tumbuhan tidak bisa berfotointesis tanpa adanya sinar matahari dan tidak bisa berkembang biak tanpa adanya bantuan dr kupu2 atau lebah yg hinggap di bag serbuk sari.

    2. Hewan herbivora membutuhkan tumbuhan untuk dijadikan sebagai makanan dan hewan karnivora membutuhkan daging dari hewan lain untuk dijadikan makanannya.

    3. Manusia….??? apalagi,….membutuhkan berbagai macam hal untuk melangsungkan hidupnya…..

    4. Konsumen membutuhkan produsen utk memenuhi kebutuhan konsumsinya, begitupun sebaliknya

    Lalu apalagi,…Mesin, elektronik, produk mebel, dll…

    Semua hal tersebut saling membutuhkan dan saling terkait untuk membentuk suatu ikatan yang saling berkesinambungan dan membentuk suatu sistem kehidupan…..

    Klo mbak Fitri lupa, silahkan buka kembali buku biologi mbak atau browsing di mbah google….

    Jadi, klo memang mbak konsisten dgn kata “independen” mengenai wanita yg mbak Fitri gambarkan….pertanyaannya adalah..

    Kalau memang wanita tersebut bisa memenuhi segala macam kehidupannya,

    1. Mengapa wanita independen tersebut menikah….?? Kalau wanita tersebut menikah lalu dimana letak kepantasan “gelar” independen tsb..?? Katanya “independen” tapi kok menikah sih..??

    2. Mengapa wanita independen tersebut kok mau menjalani hubungan yg emosional dgn laki2….?? apalagi sampai tahapan yg dalam dan serius…??

    Pertanyaan seperti inilah yang membuat saya berfikir mengapa wanita independen tersebut melakukan sesuatu yg berkebalikan dgn apa yg disebut “independensi”…..??

    Sungguh saya belum bisa memahami mengapa hal yg tidak masuk akal spt ini banyak terjadi di sekeliling kita….

    Aneh sekali perempuan yg digelari “Independen”, tapi kok justru melakukan sesuatu yang berkebalikan dengan “gelar” independen….

    Kalau memang independen ya hidup saja sendirian,
    jangan berhubungan khusus dengan laki-laki apalagi sampai menikah…..

    Hehehehe,…maaf ya, kalau ada kata-kata yg menyinggung perasaan….

    Saya hanya ingin menugutarakan apa yang ada dalam fikiran saya…..

    Sekian dan terimakasih atas tanggapannya…

  12. ditaratri
    ditaratri December 27, 2013 at 9:01 pm

    thanks for the reminder mbak Fit, salam kenal

Post a Comment

You must be logged in to post a comment.