Home Sweet Home

sondang

Mempunyai rumah adalah impian semua keluarga. Dengan segala fasilitas yang diberikan oleh lembaga pembiayaan, nampaknya juga memermudah pasangan muda jaman sekarang untuk mempunyai rumah bahkan sejak awal menikah. Saat menikah, saya dan suami masih mengontrak, dan masih santai-santai saja soal rumah. Apalagi saya masih sibuk dengan urusan pindah mengikuti tugas suami, dari Jakarta ke Bandung. Diikuti dengan kehamilan anak pertama yang membuat kami berdua sibuk sendiri mempersiapkan hal-hal menyenangkan seputar menyambut kedatangan anak pertama. Sampai beberapa teman bertanya kenapa kami tidak membeli rumah, pertanyaan yang muncul biasanya karena mengetahui kami mengontrak dan untuk ukuran rumah kecil sekali seperti itu, biaya kontrakan itu mahal sekali. Lama-lama, kami memikirkan hal ini dengan serius. Lumayan sekali uang kontrakan kalau dipakai untuk membayar cicilan, dan satu lagi kata teman saya, harga rumah tidak akan pernah turun. Gaji naiknya terprediksi, dan harga properti juga terprediksi akan naik melampaui kenaikan penghasilan. Teman-teman memberi testimoni, betapa hanya dalam hitungan bulan, satu rumah dengan tipe yang sama di kompleks yang sama bisa berbeda harga sekian puluh juta rupiah. Oh no! Saat menghitung sumber daya yang mepet, seorang teman memberi saran, membeli rumah harus pakai jurus nekat.

Maka di bulan ke 7 kandungan saya, kami sepakat hunting rumah. Mulai dari memelototi semua iklan baris di semua koran terbitan Bandung, menjelajah seluruh pelosok Bandung di setiap weekend, dan mampir di rumah teman-teman yang kita kenal untuk ngobrol siapa tau ada info soal rumah sambil survey sekitar kediaman mereka.

Rumah impian tentu saja ada. Di tengah kota, air bagus, udara bersih, infrastruktur bagus, fasilitas  umum yang lengkap dan bentuk rumah yang keren tapi tentu harganya pun tidak murah.

Di saat-saat kami hampir menyerah, seminggu menjelang due date kelahiran anak saya, kami mendapat info ada rumah saudara kami yang mau dijual.

Kali pertama melihat rumah itu, jujur saja bukan rumah impian saya. Sekali lagi, saya membandingkannya dengan rumah yang hampir kami beli. Letaknya termasuk jauh, mengikuti kontur Bandung yang naik turun. Jalan ke arah kompleks rumah ada melewati titik yang pas banget dilewatin dua mobil, dan membuat saya berpikir ini sepertinya akan jadi faktor penunda saya untuk memperlancar kemampuan menyetir mobil setelah memperpanjang SIM A sebanyak  3 kali tanpa berani menyetir di jalan raya. Bentuk rumahnya oldies, khas rumah Batak banget yang tidak ada model. Lingkungannya juga kebanyakan orang tua, bukan pasangan muda dengan bayi seperti saya. Aih, akan ada kesenjangan komunikasi, nih, pikir saya.

Tapi di lain pihak, airnya bagus. Udaranya bersih. Harganya miring, dan karena itu milik saudara, bisa dibayar dengan cara mencicil. Seperti kata suami karena kami tidak punya kemampuan finansial luar biasa, maka kompromi harus dilakukan.

Kami memilih untuk berkompromi dengan mimpi tentang rumah. Kami putuskan membeli rumah itu, setelah menghitung segala pros dan cons. Segala proses pindah mudah sekali. Tiga hari kemudian, Ghaffar Ephraim Tamba lahir di rumah itu.  Sembilan belas bulan kemudian, Gaoqi Eustacia Tamba menyusul. Setelah melewati hampir tiga tahun, rumah belum jadi juga dicat ulang warna oranye seperti impian saya. Kedua batita saya berlomba-lomba membuat prakarya di dindingnya, bahkan wall sticker Planet yang saya beli di Circus Giraffe pun ada yang lepas. Sudah tiga kali menambal atap sudut rumah yang bocor. Saya masih menyimpan mimpi tentang rumah idaman, dan saat ini kepuasan mewujudkannya baru dalam tahap membeli tabloid atau buku design interior dan eksterior. Buku favourit saya  mengenai desain ini adalah, ‘Membuat Perpustakaan di Rumah’. Ada beberapa yang pernah datang ke rumah mengeluhkan jalan ke rumah saya, tapi suami saya bilang kalau ada yang mengeluh berarti bukan sahabat yang benar-benar dekat. Karena kalau benar-benar sahabat, maka prinsip the road to a friend’s house is never far akan berlaku. Wah, keberadaan rumah saya punya fungsi tambahan menjadi filter jaringan sosial keluarga.

Meski di awal berat rasanya harus merevisi impian saya tapi ternyata versi revisi ini jauh lebih indah dari yang saya bayangkan, terima kasih untuk keberadaan para penghuninya.

Home is where your heart is.
Home is the people inside the house.

My family is so precious. Yes, this house is far from my dream house, but it’s absolutely my dream home.

63 Comments

  1. tisyonk
    tisa 'tisyonk' July 7, 2011 at 3:48 am

    Jadi orang tua memang ga mudah yahh…harus banyak kompromi di sana sini.
    TFS & tetap semangat ya bu..
    May your dream house comes soon :)

    1. sondang
      Sondang July 7, 2011 at 7:47 am

      iya.belajar kompromi ini ternyata gak gampang yakh :) Thanks buat doanya hihi

  2. yenarosa
    yenarosa July 7, 2011 at 4:03 am

    [duh, barusan salah mosting, nyasar kmn td ya?? maap mamod..]
    anw, tfs mom. spt diingetin lg nih, kapan ya gw punya rumah sendiri…. :( suka iyh sm kalimat inih “Home is where your heart is. Home is the people inside the house.” :)

    1. sondang
      Sondang July 7, 2011 at 7:52 am

      kalo di bandung harus pake jurus super nekat, di sini harga tanah gila2x an naiknya,mungkin karena wilayahnya kecil ya. smoga dapet rumah yg terbaik ya

  3. ifa
    ifa July 7, 2011 at 6:17 am

    pagi-pagi udah baca artikel bagus ;) tfs y sondang :)

    1. sondang
      Sondang July 7, 2011 at 7:53 am

      sama-sama Fa :D

  4. dewiamel
    dewiamel July 7, 2011 at 6:18 am

    OMG mba 3x perpanjang sim tanpa pernah nyetir… seperti ibuku… hobby les nyetir hihihihi

    aniway, gw+suami jg beli rumah pake jurus nekat. jurus itu memang bener harus dilakukan soalnya tanpa itu kenaikan harga rumah sepertinya gak akan terkejar. walaupun setelah beli rumah, keadaan keuangan sempat hampir di titik nadir… kami bertahan. dan untung nya gw orangnya bukan tipe pencemburu. tetangga bikin ini, itu, ini, ono, gw lempeeeeng…. but im human, kalau rasa cemburu itu datang… segera inget anak dan segala keperluannya, dia lebih menjadi prioritas :) bener gak buibu; anak dulu, yg lain belakangan :D:D:D

    1. sondang
      Sondang July 7, 2011 at 7:58 am

      iya itu nyetir sendiri jadi resolusi dari umur 19 ampe 32 ini :p ..oh ya, soal tipikal lempeng ini, itu ngebantu banget, biar gak jor-joran ngebangun/renov dengan hutang mencekik & biaya anak dikorbankan. gak asik kan rumah keren tp anak gak sekolah/makan sehatbergizi KARENA duitnya abis dandanin rumah hihi

  5. wardani
    liana wardani July 7, 2011 at 6:24 am

    setuju …. kadang rumah yg kita dapetin bukan benar2 rumah impian. dulu maunya rumah dengan halaman luas jadi anak2 bisa main puas diluar tp apa daya sekarang “cuma” dapet rumah tipe 45/84. rasanya gak bisa apa2 dengan rumah itu. tp setuju dengan “Home is where your heart is. Home is the people inside the house” (ambil dari mom yenarosa, tq ya…) , tergantung kita membuat suasana rumah jadi hangat, ceria dan selalu ngangenin ….. dan ternyata membeli rumah itu juga kayak cari jodoh, udah cari kemana2 eh jatuhnya situ2 juga …

    1. sondang
      Sondang July 7, 2011 at 8:04 am

      iyaaa…rumah itu jodoh-jodohaan..lah emang berjodoh sama laki-laki batak yg tak bisa merayu, lebih baik dinikmati dan disyukuri kan ya *lho*

  6. trias.kelly
    trias kelly July 7, 2011 at 6:36 am

    Setuju dgn pernyataan beli rumah itu hrs pake jurus nekat, krn kalo enggak, sepertinya penghasilan akan selalu jauh dr ideal untuk membeli rumah. Walaupun seperti bubun hafidz bilang abis beli rumah kondisi keuangan langsung ke titik nadir, tapi Insya Allah rejeki akan slalu datang. Been there done that. TFS ya, semoga segera rumah impian-nya akan segera terwujud, amiin.

    1. sondang
      Sondang July 7, 2011 at 8:10 am

      iya, sebenernya pengennya penghasilan kalau bisa melampaui kenaikan inflasi dan naiknya harga rumah ya.kalo gitu gak bakal kejar-kejaran sama waktu rasanya. hihi iya makasih ya. kayaknya rumah impian tinggal dicat aja deh *sambil ngitung uang sekolah*

  7. ninit
    ninit yunita July 7, 2011 at 6:38 am

    hi sondang,
    great article! dalem :) terutama paragraf terakhir… orang2 yg kita cintai yang mengisi rumah yg jauh lebih penting dari segalanya ya :)

    1. sondang
      Sondang July 7, 2011 at 8:17 am

      thanks Nit :)

  8. marinania
    marina gardenia July 7, 2011 at 7:00 am

    tfs Sondang…jadi nostalgia juga…ceritanya sama bgt…waktu itu malah Allah yang ngasih clue kalo kita harus beli rumah,karena kontrakan mendadak mau dipake sama yg punya…Alhamdulillah setelah hunting sana sini selama 2 bulan akhirnya ketemu “jodoh” — seperti kata bunda nana — dan pas hamil 7 bulan kita sign KPR… yeaah rumahnya lebih kecil dari rumah orangtua kami,apakah rumah impian? Hihi…tentu belum… Tapi menurutku gapapa sih…positifnya kita jadi lebih kreatif nata rumah dengan keterbatasan…dan hidupnya juga lebih variatif ga monoton…seiring waktu besok moga2 kita bisa dong beli rumah baru yang sesuai impian ato alternatif lain beli rumah sebelah kita lalo gabungin deh…biar rumah jd lebih luas…amin :)

    1. sondang
      Sondang July 7, 2011 at 8:20 am

      ikutan doain semoga rumah sebelahmu kebeli yakh. temenku ada yang begitu tuh. dan emang jodoh banget, rumah sebelahnya dijual pas harganya murce, pas dia punya duit, pas deh :)

    2. dewiamel
      dewiamel July 7, 2011 at 9:09 am

      hohohoho itu impian gw+suami jg tuh ngegabungin dengan rumah sebelah. pas rumah sebelah emang di jual, bermimpi bisa kita beli n rumah luasnya jadi 2x lipat deh. malah sempet doain tu rumah jangan laku2 sampai saatnya kita punya uang buat ngebelinya hahahahahaha *evil mode*
      tp mimpi tinggal mimpi, tu rumah dah sold aja kemarin :p

      1. marinania
        marina gardenia July 7, 2011 at 10:10 am

        haha kalau namanya jodoh nanti rumah itu dijual lagi dan kebeli kok sama bubun hahidz… :) ngomong2 soal rumah kecil jd inget anakku kalo liat rumah besar bilang gini “lumahnya itu becal ya…kalo lumah yaya…imuuttt” hehehe… biar imut yang penting barokah dan bawa hepi terus deh tu rumah, alhamdulillah… :p

      2. sondang
        Sondang July 7, 2011 at 10:19 am

        rumah yang di belakangnya? kan bisa dibobol tuh bealakang *hihi, disensus tetangga ke 8 arah mata angin*

  9. tyazpotter
    heidi retnoningtyas July 7, 2011 at 7:39 am

    nice article, mbak. jadi inget sama rumah saya yang kecil mungil bayar nyicil, hehehe :D

    kalau hati kita lapang, rumah mungil pun akan terasa luas ya :)

    1. sondang
      Sondang July 7, 2011 at 8:21 am

      hahaha iyaaa.. dan kalau hati dingin, rumah panas pun rasanya adem hahaha

  10. izoel
    izoel July 7, 2011 at 7:58 am

    Ndang…kamu dah punya rumah sebelum si ucok lahir, lah gue baru punya rumah setelah di precil yg ketiga lahir….wakaka
    Rumah ini juga kita beli setelah si sulung masuk SD. Kita ingin rumah di sekitar sekolahnnya. SD kan 6 tahun lama bo….Kalo dipikir lucu juga ya prosesnya. Hunting rumah sih dari sebelon nikah kale…sampe bosen.
    BTW pastinya your dream house nggak ada artinya dengan rumah yang sekarang (dalam satu paket dgn orang-orangnya). Boleh mampir nggak kalo ke Bandung?

    1. sondang
      Sondang July 7, 2011 at 8:24 am

      hahaha iya rumah yg ini gw juga senengnya, deket banget sama sekolah-sekolah inceran, bisa gue ojek-in tuh nanti anak-anak klo sekolah di situ. MAMPIR dddooooooongg sini nginep. untungnya punya rumah tipikal oldies, banyak kamar iniih!hihi

  11. gabriella
    Gabriella Felicia July 7, 2011 at 8:01 am

    hihihi, sondang, ternyata kita sama, perpanjang sim terus… nyetirnya takut2 melulu… tapi targetnya tahun ini harus bisa…
    Rumahku juga tadinya bukan rumah impian, tapi sekarang jadi tempat ternyaman kami… dan setelah ditinggali ternyata makin lama jadi makin oke…

    1. sondang
      Sondang July 7, 2011 at 8:27 am

      kayaknya kita harus bikin perkumpulan wanita punya SIM takut nyetir, ya. Biar makin semangat buat nyetir (atau alah punya pembenaran? hihi)..iya, aku ngerasainnya juga gitu… sekarang malah makin cinta sama rumah ini…mungkin karena ngeliat jelek-jeleknya dulu, jadi sekarang tinggal ngitung kebaikannya yah

  12. crey
    Chrisye Wenas July 7, 2011 at 8:18 am

    Hi Sondang, wah senangnya yaa.. jadi inget dulu hunting rumah di Bandung yang sekarang ditempatin, saat hampir menyerah ada satu jalan aja :) dan semoga ada jalan nantinya (amiin) pas keluarga kecilku mau pindah rumah in the next 2 years :)
    Tfs yaaa :)

    1. sondang
      Sondang July 7, 2011 at 8:30 am

      iyaaa Crey…mudah-mudahan yaaa biar bisa kopdar sering-sering *agenda terselubung* sini gabung bandung

  13. Tari
    Astari Radinanur July 7, 2011 at 8:31 am

    :’) TFS ya Sondang..
    Cari rumah emang susah dan jodoh2an.. tapi yang penting bukan lokasi atau besar kecilnya rumah..yang penting kehangatan yang terasa di rumah itu.. home is not a place, it its people.. :)

    1. sondang
      Sondang July 7, 2011 at 10:20 am

      iyaaa… kehangatan di rumah itu kan yang bikin kita pasti pengen pulang

  14. mamanyanaya
    Widi Utami July 7, 2011 at 8:40 am

    TFS Sondang :)

    Dulu pas mau nikah dikasi pilihan ama ortu: ikut share buat wedding (termasuk pesta adat, resepsi dll) atau mau nyicil rumah? Dan tentunya gw milih opsi kedua :D

    Pengen deh main ke rumah ndang, kan ngga gitu jauh ama rute weekend gw :D

    1. sondang
      Sondang July 7, 2011 at 10:30 am

      Wiwiiit.. rumahmu ituu rumah idaman kami. nongkrongin segala rumah berawalan sri karena deket banget dr mana-mana. tapi gak bersahabat harganyaaaa!hihi. Iya mampiiirrr *setelah memeprtimbangkan kejagoanmu menyetir hihihi* bawa Princess naya pastii

  15. Ika_Ps
    Ika Ps July 7, 2011 at 8:42 am

    duh, jd brsyukur, dpt rmh yg juga bkn impian krn tdk pny hlman luas dan mepet jln raya, gk da tmpt parkir klo tmn2 mampir, tp brsyukur krn rmh itu peninggaln ortu dan dr kcl sudah tinggal dsna jd byk kngannya. Tfs y mama, makes me so grateful!

    1. sondang
      Sondang July 7, 2011 at 10:39 am

      iya, kita bikin kenangan lebih banyak lagi, Ka, dan kenangan yang manis yang indah diingat, di rumah kita!
      Btw, ini cerita temenku jg, rumah pertamanya itu susah banget dia lepas juga karena…too many great memories there :)

  16. Fransiska Setijono
    Fransiska Setijono July 7, 2011 at 8:45 am

    Waah, senangnya punya rumah di Bandung. Masih impianku punya rumah di Bandung, tiap kali ditunda2 karena tidak sempat survey. Terus lihat kok makin lama makin mahal dan makin tidak terjangkau hik, cepat sekali harganya naik ya.
    Btw, Sondang pernah cerita tahun lalu spacenya lepas ya.. sekarang aku sudah punya koleksi outer space untuk dinding yang bandel2. Nanti aku kirim langsung ke alamatmu ya, anggap saja hadiah untuk menghias perpustakaanmu, pasti kedua anakmu senang deh ;)

    1. sondang
      Sondang July 7, 2011 at 10:37 am

      really? huahahaah senangnyaaaa senangnyaaa… iya iya aku balas yaaaa.anaka-anaka pasti senaaaaang *emaknya apalagi*
      aku balas di PM.
      dan ini tulus lus lus dari hatiku semoga dapat rumah ya di bandung, meski harganya emang fantastis.

  17. Sidta
    Dian Arsita Kurniawati July 7, 2011 at 8:59 am

    seneng banget bacanya mbak, mengademkan hati yg juga masih bekum sreg 100% sama rumah yg udah dibeli

    1. sondang
      Sondang July 7, 2011 at 10:40 am

      for me now, 65 % sreg udah bisalah, lama-lama kan nambah tuh persennya :D

  18. lia_mirza
    lia_mirza July 7, 2011 at 9:27 am

    “this house is far from my dream house, but it’s absolutely my dream home.”

    seneng bgt sama kalimatnyah, tfs yah mom
    ternyata daku tidak sendiri, however mimpi ttg rumah yang sempurna emang kdg susaah bgt kesampean but the most important thing’s having our fully luv own home!! kagak ngontrak lageee *buat ngademin hati:)

    1. sondang
      Sondang July 7, 2011 at 10:42 am

      hahaha…aku dulu pas ngontrak yang kerasa sedih itu, jumlahnya lumayan banyak, seharusnya malah bisa dipake buat nyicil gitu ya..

  19. cyndewi
    cynthia dewi July 7, 2011 at 9:39 am

    seneng ya baca artikel ini plus baca komen mamamama, serasa pengen tetanggan deh kayak wysteria lane :p

    slamat berjuang ya untuk mama2 yg cari rumah smoga dapet sesuai keinginan, smangaaatt :)
    tfs sondang!

    1. sondang
      Sondang July 7, 2011 at 10:46 am

      iya tetanggaan, seru banget itu. Playdate kapan saja, dan bisa pinjem-pinjem alat-alat baking, patungan beli bubuk almond dan cheesecream *kemahalan kan beli sendiri jumlah banyak*, nitipin anak, sama minjem penyedot debu. yuk! :D

  20. MamaAlula
    Rina Aulia July 7, 2011 at 9:55 am

    Jeng sondang… crita kita hampir sama.
    Ketika suami (masih calon waktu itu) menawarkan perumahan yang di rekomendasikan rekan kantornya, saya agak ragu. Kondisi rumah yang sudah tidak ditempati 6 bulan (kotor, plafon banyak rusak, lantai pecah dll). Desainnya pun tak seperti impian saya. Komplek perumahan yang sudah ada dari 20 tahunan yang lalu (sama, saya juga mengkhawatirkan generation gap). Tapi, kami juga dapat harga penawaran yang lebih bagus daripada penawaran-penawaran sebelumnya.

    Dan dibalik semua cons yang tampak didepan mata, banyak pros dibaliknya : Letak komplek dengan pasar lumayan dekat (well, walau ini sumber macet keluar masuk ke arah komplek), pemilik sebelumnya sudah memikirkan kondisi air jadi dia sudah bikin sistem air tanah yang cukup ok, depan rumah ada warung yang tiap subuh sudah standy dengan berbagai bahan2 masakan dll, Sistem keamanan dan kebersihan sudah OK, Alhamdulillah persis sebelah rumah adalah mesjid kompleks (ini salah satu petunjuk yang gampang ditemukan buat cari rumah kami), Akses ke Pamulang, BSD, Ciputat cukup dekat dan terutama cukup 15-20 menit naik motor ke Kantorku.

    Sekarang, kalau lihat Lula yang pagi dan sore hepi banget tebar2 pesona di sekeliling rumah dan jadi terkenal dalam radius beberapa ratus meter, rasanya hepi banget :D

    Totally agree, Home is where your heart is. Home is the people inside the house.

    TFS Sondang

    1. sondang
      Sondang July 7, 2011 at 10:53 am

      hahahaha. Lula jadi idola ya dia antara para sepuh?
      Sama dooong…hihihi trus berasa gak, kita dianggep anak sama semua para sepuh itu? jadi katanya asisten, yang nggak pernah dirumpiin sama ibu-ibu itu ya aku, karena bukan saingan kali ya hihi jadi dianggep anak, trus disayang-sayang hahaha bener deh, ini blessing in disguisenya, dulu aku sebel karena kesenjangan umur, sekarang malah bersyukur :D

  21. jin kura-kura
    jin kura-kura July 7, 2011 at 10:46 am

    “kalau ada yang mengeluh berarti bukan sahabat yang benar-benar dekat. Karena kalau benar-benar sahabat, maka prinsip the road to a friend’s house is never far akan berlaku”

    I so feel you… bener banget nih. soalnya jalan menuju rumahku juga lumayan jauh dari jalan besar dan tidak bisa dibilang nyaman. tfs sondang…

    1. sondang
      Sondang July 7, 2011 at 10:58 am

      iya ini udah teruji kok. sahabat-sahabat dekat (alias malaikat tak bersayap itu yah hihi) itu ke rumah sering banget dan no complain. Lah kalo ada yg baru sekali ke rumah terus complain, kayaknya emang gak terlalu pengen ketemu kita kali ya hihihi (dan bisa jadi makin sering ke rumah kita, makin mantep mengauasai jalannya haha)

  22. ndatha
    PuTRi July 7, 2011 at 11:30 am

    TFS ya mba.
    jd tambah bersyukur, walaupun jauh dr aktivitas sehari2, setiap hari hrs kena macet berjam2 tp alhamduillah udh punya rumah sendiri. dan emang bener, yg paling penting “Home is where your heart is. Home is the people inside the house. Home sweet home” :)

    Btw semoga dream house n lancar menyetir bs segera tercapai yaa hehe..

    1. sondang
      Sondang July 7, 2011 at 3:34 pm

      hahaha makasih doanya ya… kalau kenal sama yang jual keahlian nyetir, kabarin saya ya :)

  23. adisanita
    adisanita July 7, 2011 at 12:09 pm

    Seneng ya bisa punya rumah sendiri, apapun kondisinya, itu bakal jadi kenangan terindah buat anak-anak kita nantinya, karena pengalaman aku sendiri, waktu kecil rumah aku jg ga begitu besar,lumayan aja lah, tapi lama2 Ayahku yg menganut sistem rumah berkembang, jadilah itu rumah memanjang ke belakang dan ke samping.. sampai sekarang, sudah lebih dari 20 tahun pindah dan punya rumah sendiri, saya msih suka tuh mimpi dan di mimpi itu, seperti rumah saya waktu kecil ( jadi, benar2 terkesan kayaknya).

    kalau ada yang mengeluh berarti bukan sahabat yang benar-benar dekat. Karena kalau benar-benar sahabat, maka prinsip the road to a friend’s house is never far akan berlaku”

    Ini juga bener banget.. walaupun jauh kalau emang niat, pasti dijabanin..

    Thanks ya Sondang

    1. sondang
      Sondang July 7, 2011 at 3:38 pm

      iya aku seneng banget waktu ngajak krucil ke mana,gitu, (bahkan mal sekalipun) dan kalimatnya “I want to go home, Mak” aih seneng deh. tinggal effort kita buat bikin rumah jadi tempat yang dikangenin untuk pulang yaaa. Semuanya kan start at home :)

  24. finika
    Finika July 7, 2011 at 12:51 pm

    waaa… Mba sondang… Samaaaa bgt dunx… Dah bosen neh perpanjang SIM tanpa nyetir d jln raya… Xixixi… Tp target thn ni hrs bs, mdh2n qta sama2 dah lancar y next year…
    Trus nice bgt article-ny… Mengingatkan utk bersyukur krn kbtln msh nempatin rmh ortu yg g kepake… Wlpn bkn my dream house jg,tp yg ptg dah misah ma ortu dech&slalu brusaha tuk make it like my dream… Doain y moga bs bli rmh sndr sgra… Krn emg bnr yg mba Sondang blg… D Bandung mahil2 bgt rumahny… Huhuhu…

    1. sondang
      Sondang July 7, 2011 at 3:41 pm

      haha…Bandung-ers juga yaa? I feel you sungguh. Iya, moga cepet dapet rumah impiannya yaaaa

  25. mommie jeff
    minar tiartha July 7, 2011 at 1:12 pm

    ngacung nih gank ibu ibu punya sim tapi takut nyetir…

    gue juga lagi proses pencarian rumah idaman yang belum kunjung ada. masih dilema antara rumah sekompleks dengan ortu tapi perjalanan jauh dan macet sama cari apartemen tapi deket kantor biar bisa cepet sampe rumah.
    tapi setelah baca artikel nya jadi semakin bulatin tekad deh…nekat!
    tfs ya…

    anyway…kayanya satu genk lagi nih jodoh dengan pria batak ga pinter merayu. omigot!!!

    1. sondang
      Sondang July 7, 2011 at 3:43 pm

      haaa Minar, pilihanmu dua-duanya asoy geboy koook… *bisa nitipin anak tercinta ke ortu tersayang dan terpercaya huhu seru sekali… atau di apato, deket dari mana-mana dan pake kolam renang hihi* udah, tutup mata dan pilih satu. Cling!

  26. Travinan
    Travina July 7, 2011 at 2:20 pm

    duh, jadi kangen untel untelan di tempat tidur dengan anak dan suami di rumah yang lokasinya ujung berung hihihi

    yang penting kita berhasil punya rumah yah…aamiin !

    1. sondang
      Sondang July 7, 2011 at 3:45 pm

      yay! Betul bangets! Hai ujung berung-ers..airnya masih cakep banget kan di sanaaaa…. *tepuk-tepuk air bagus, serasa tepuk-tepuk SK II*

  27. sLesTa
    shinta lestari July 7, 2011 at 3:54 pm

    gue pernah nulis yang sama ttg “home is where your heart is” di blog gue dulu. tapi waktu itu bukan refer ke dream home, lebih refer pas lagi bingung mau balik ke indonesia lagi ato gak heheh..

    tapi emang kata2 itu tepat banget, it’s the people that makes your dream home.. a home!

    seneng banget di indonesia bisa beli rumah dengan halaman. disini cuma mampunya beli apartemen huhuu…

    eh ngomong2 SIM, SIM gue udah abis dong, ga bisa diperpanjang krn baru sadar udah abis masa berlakunya, 2 tahun kemudian! *halah*

    1. sondang
      Sondang July 7, 2011 at 5:17 pm

      di sini apato mahal shiin… model yang studio gitu ukuran kecil *bangets* sekarang udah 180 juta. gleks ya, padahal dua tahun lalu teemnku masih bisa beli rumah harga segitu. Oh iya, sim-ku yang dah expired dijadiin pembatas buku :p

  28. nidya
    Nidya July 7, 2011 at 4:53 pm

    sondang..bagus banget tulisannya. gwpun hanya mampu memandangi design rumah idaman dr website, cat rumahpun msh asli dr developer since 3 years ago,dapur impian msh terpendam..ah tp ngednger 2 anak berceloteh dirumah itu bikin gw mampu mengendapkan sesaat impian gw dan bersyukur krn kami bs berkumpul di rumah yg “nyaman” :)

    1. sondang
      Sondang July 7, 2011 at 5:19 pm

      aih makasih :D *blushing* err karena pengalaman nyata kali ye.
      btw, punya impian kan bikin kita berusaha untuk lebih baik . Yang penting impiannya dibarengi rasa syukur gitu ya :D *enak diomongin rada butuh usaha menerapkannya*

  29. ruuzuly
    Ruliyani Nuzuly July 7, 2011 at 11:16 pm

    wow tfs ya mbak.. aku sekarang lg dalm masa2 penyesuaian di rumah baru, jauuuh dari rumah impian, akses masuk komplek naik turun belak belok, tetangga sekitar 90% seumuran mamaku.. rasanya tiap hari perjuangan.. perjuangan untuk menciptakan ‘Rumah Yang Hangat’ buat our lovely Lian..
    aku skrg jd ngerasa ga sendiri lagi :) ternyata banyak yaa pasangan2 yg harus melalui tahap2 seperti ini..
    tfs Mbak Sondang!!!! :D

  30. sondang
    Sondang July 8, 2011 at 7:34 am

    ini dari gambarannya…kok kayak rumah aye sangath hihihi.jgn-jgn bumi asri-ers juga? *nuduh*
    iya yuks sama-sama bikin rumah yang hangat, yang bikin kita sekeluarga betah di rumah, kalo betah di rumah kan hemat.. *emak-irit*

  31. gumzkiew
    gamma sinta rini July 8, 2011 at 3:59 pm

    huhuuy,sondang, tulisannya baguuus!

    mirip2 jg nih ama aku, cpt2 ambil rumah dg alesan makin ntar malah makin ga kekejar. walhasil ya bnyk parameter ideal yg blm tercapai, tipe rumah yg keciiil, kontur komplek yg aduhai (tp kalo kondisiku mau gak mau bkin kepepet harus bs nyetir,dang.kalo ga,terisolir ga bs kmana2 :p), lokasi yg relatif jauh, bikin bnyk yg protes kejauhan bwt didatengin.hihii..

    tp ya optimasi dari sgala hal yg ada, rmh skrg mrpk pilihan yg (sementara dianggap *bold!*) paling ideal :D. cencyuu masi ada cita2 bwt the dream house, tp bersyukur dulu dg yg dimiliki skrg (err,lunasin dl lebih tepatnya,hihi), sambil terus berupaya bwt sang dream house.. :) *nglirik celengan ayam yg masi kuyus*

    1. sondang
      Sondang July 8, 2011 at 4:13 pm

      ooooh gamma (dan suaminyaaa hihi)…arsitek calon rumah idamanku. sama-sama menabung (dan mengirit kayaknya) lah kita yaaakh.mudah-mudahan saat kemampuan bikin dream house ada, tarif kalian masih dalam jangkauan kami (ini niat minta diskon tepatnya hihi)

Post a Comment

You must be logged in to post a comment.