Jika Anak Terkena Batuk Pilek

eka

Para mama yang punya anak usia balita maupun usia sekolah pasti sudah sering berjumpa dengan sakit batuk pilek. Batuk pilek atau common cold sangat umum terjadi pada anak-anak. Saya pernah baca di salah satu wawancara dengan tenaga medis, disebutkan bahwa dalam setahun anak bisa menderita batuk pilek sebanyak 6 sampai 12 kali. Dan ini normal, kecuali untuk bayi berusia di bawah enam bulan karena pada bayi usia tersebut batuk pilek bisa berkembang menjadi gejala penyakit serius dan harus segera dikonsultasikan ke dokter.

Anak-anak memang relatif lebih mudah sakit karena sering tidak sadar kuman mudah sekali menempel di tangan saat bermain dan beraktivitas. Apalagi ketika Enzo dan Dante sudah bersekolah, di mana mereka lebih banyak lagi terpapar dengan kondisi kesehatan yang beragam dari orang-orang sekitar. Namun seiring dengan bertambahnya usia anak, frekuensi sakit seperti batuk pilek ini akan berkurang karena tubuhnya sudah membangun imunitas terhadap penyakit tersebut.

Untuk menjaga kesehatan dan mencegah anak jatuh sakit, saya sudah membiasakan Enzo dan Dante untuk rajin mencuci tangan, menjaga kebersihan rumah maupun personal hygiene serta memperhatikan asupan gizi pada makanan mereka. Tetapi ada kalanya beberapa faktor memang tidak bisa dikontrol dan anak terkena batuk pilek. Kabar baiknya, batuk pilek bukanlah penyakit yang membutuhkan penyembuhan lewat konsumsi antibiotik (untuk membunuh bakteri) karena seringnya batuk pilek ini disebabkan oleh virus.

Meskipun sudah beberapa kali bertemu dengan si batuk pilek, menghadapi anak sakit tetaplah membuat kita khawatir. Pergantian musim, saat bepergian, dan saat mulai masuk sekolah biasanya menjadi waktu-waktu batuk pilek lebih sering mengintai. Sering kali yang membuat anak tidak nyaman justru adalah efek dari sakit batuk pilek tersebut seperti demam, bersin, hidung tersumbat apalagi kalau batuknya sampai muntah mengeluarkan dahak dan makanan yang sebelumnya susah payah masuk (disertai berbagai bujukan). Yang bisa saya lakukan adalah memberikan ekstra kenyamanan dan perhatian kasih sayang untuk mereka. Menciptakan kondisi senyaman mungkin untuk Enzo dan Dante, serta memperbanyak asupan cairan lewat makanan maupun minuman.

Saat Enzo atau Dante menderita batuk pilek, hidung tersumbat akan membuat mereka banyak bernapas lewat mulut yang membuat tenggorokan menjadi kering dan tidak nyaman. Konsumsi cairan seperti minum jus buah atau makan sup bisa menghilangkan ketidaknyamanan ini, selain menjaga kebutuhan nutrisi anak cukup terpenuhi. Kondisi hidung tersumbat dan rasa perih karena kering juga bisa diringankan dengan menghirup uap air panas atau memberikan tetes hidung dari larutan steril garam fisiologis. Kalau kamar anak memakai AC, mungkin bisa dimatikan dahulu karena AC membuat udara lebih kering.

Untuk gejala batuk dan pilek yang membuat anak-anak tidak nyaman, saya memilih untuk memberikan obat sirup Triaminic. Untuk meringankan batuk berdahak yang disertai pilek, Triaminic Ekspetoran dan Pilek (rasa lemon) yang mengandung pengencer dahak sehingga dahak lebih mudah dikeluarkan saat batuk. Apabila batuknya tidak berdahak, bisa diberikan Triaminic Batuk dan Pilek (rasa berry). Untuk bersin-bersin dan hidung tersumbat karena pilek, saya memberikan Triaminic Pilek (rasa jeruk) yang mengandung antihistamin dan dekongestan pereda hidung tersumbat. Ada juga Neo Triaminic dalam bentuk oral drops untuk mempermudah pemberiannya kepada anak yang lebih kecil. Adapun semua pemberian obat ini harus mengikuti dosis yang tertera pada kemasan; untuk anak usia di bawah dua tahun harus dengan petunjuk dokter.

Setiap varian Triaminic diformulasi khusus untuk si kecil terdiri dari beberapa varian dengan formula yang disesuaikan untuk berbagai indikasi batuk pilek, sehingga dapat mengurangi pengobatan yang berlebihan bagi si Kecil, jadi urban mama jadi tidak perlu khawarir dengan efek sampingnya.

10 Comments

  1. cindy
    cindy vania October 20, 2014 at 12:27 am

    Beberapa saat lalu waktu anak-anak kena batpil aku ngerasa ngga perlu pake ini,tapi lama2 kasian juga karena mereka jadi ngga bisa tidur nyenyak :( akhirnya aku kasih yang rasa berry,untungnya setelah itu anak-anak bisa tidur agak nyenyak,ngga kuatir kebangun tiap batuk.

  2. ZataLigouw
    Zata Ligouw October 20, 2014 at 9:02 am

    ini merek yang selalu gw siapin di rumah juga Ka. Satu karena emang cocok buat anak2, dua harganya terjangkau, dan tiga karena mudah ditemukan di apotik2 deket rumah :)

    Makasih reviewnya Ekaa..

  3. Kira Kara
    Bunda Wiwit October 20, 2014 at 3:38 pm

    Teh Ekaaa.. terima kasih tips-tipsnya! Bener bangeeettt.. Setelah anak masuk sekolah, jadi mudah tertular batpil. Ki-Ka juga baru sembuh dari batpil. TFS teh Eka..

  4. siska.knoch
    Siska Knoch October 21, 2014 at 8:28 am

    Toss sama zata gue juga nyetok ini, buat abang Miguel karena cocok dan gampang di carinya.

  5. eka
    Eka Wulandari Gobel October 21, 2014 at 10:10 am

    cindy – iya, awalnya juga pengennya sembuh sendiri tanpa obat. tapi kasian juga kalau jadi ga nyenyak tidur.

    zata & chika – iya, nyetok ini utk jaga2. diminum sesekali kalau memang perlu.

    wiwit – iya wit, mudah banget ketularan. muter2 deh di rumah semua ketularan ga beres2 :)

  6. ninit
    ninit yunita October 22, 2014 at 6:42 am

    mamah ekaaa… kok sama sih andalannya :) gue juga selalu sedia triaminic di rumah kalo anak2 batuk pilek biasanya pake ini.

  7. mama_ningsih
    mama_ningsih October 22, 2014 at 10:56 am

    tfs mama eka, triaminic boleh gak untuk anak usia 16 bulan? pakainya yg neo triaminic ya?

  8. eka
    Eka Wulandari Gobel October 23, 2014 at 11:58 am

    mamah teteh ninit – toss mamah ceuceu :)

    mama ningsih – sebaiknya konsultasi sama dokter anaknya aja ma. menurutku sih kayaknya boleh ya pake yg neo triaminic. lihat di aturan pakainya aja ma, biasanya ada dosisnya sesuai umur atau berat badan.

  9. rusminah
    rusminah October 28, 2014 at 11:36 am

    Untuk usia 13 bulan boleh ga? Apakah ada efek sampingnya?

  10. astrimomsyakira
    astrimomsyakira December 5, 2014 at 4:36 pm

    Anak saya sewaktu umur 21 hari terkena batuk. Lalu sama dokter dikasih obat batuk sirup racikan. Tapi ternyata tidak ada perubahan. Malah makin menjadi parah batuknya. Umur 28 hari saya pindah ke dokter spesialis anak yg lain. Tapi tetap sama saja anjurannya. Obatnya saja yg di ganti. Yg Kedua ini dikasih puyer dan sirup (mucopect). Dan saat di ruangan dokter (anak saya batuk2, saya tunjukkan, dokter cuma saranin : miringin tubuh lalu tepuk2). Memang berhenti batuk nya. Tapi apakah cuma segitu saja. Padahal muka anak saya sdh merah item (biru). Kenapa tidak ditindaklanjutin utk rawat inap, pasang infus, oksigen dan Kasih antibiotik, ambil darah, rontgen paru dll. Saya waktu itu tidak tahu harus bertindak seperti itu. Setelah saya pulang, saya Kasih obat itu tak ada perubahan juga. Saya sa,a Suami cari2 literature di Internet. Akhirnya saya bawa ke rmh sakit lain. Masuk IGD lalu diinfus dan di pasang banyak alat. Saya menyesal. Kenapa sih. Seorang dokter spesialis melihat batuk anak saya yg sampai mukanya biru hanya dikasih Saran seperti dokter umum saja. Padahal dia kan dokter spesialis. Itu artinya si anak kekurangan oksigen. Namanya dr Aryana diani di mitra keluarga cibubur. Saya pernah baca comment dari mama mama disini. Kalo dokter ini memang tidak suka melakukan tindakan sedikit sedikit ambil darah untuk di tes. Tapi kasus anak saya kan beda. Melihat kondisi anak saya seperti itu kok disamakan dg pasien lain. Sepertinya pasien sekarang mengharuskan punya ilmu yang lebih tinggi dari dokter spesialis. Harus lebih pandai. Tidak perlu dapat gelar tapi punya ilmu tinggi. Singkat cerita, setelah anak saya dirawat di rs lain, krn batuknya sudah parah, Allah telah mengambilnya kembali. Dia telah di surga. Penantian anak saya pertama ini selama 14 tahun. Sakit dan pedih menerima kenyataan ini. Hancur. Tapi “yang telah pergi tak akan kembali Lagi” kita nanti yang akan menyusulnya. Tunggu mommy ya nak. I love u

Post a Comment

You must be logged in to post a comment.