Jika Ibu Hamil Terkena Hepatitis

dr.riyana
Riyana Kadarsari, dr., SpOG Pendidikan: S1 FK Universitas Indonesia. Obgyn di RSIA Hermina Ciputat.
Have question for our experts ?
Feel free to ask them here!

Infeksi virus hepatitis pada kehamilan dapat mengakibatkan berbagai macam komplikasi, tergantung dari tipe virusnya. Virus hepatitis ini ada bermacam-macam, dibagi 2 kelompok besar yaitu akut dan kronik.

Hepatitis virus akut (A dan E) ditularkan melalui kontaminasi kotoran dan saluran cerna (fecal-oral) akibat higienis dan sanitasi lingkungan yang buruk, gejalanya demam tinggi, kuning mual dan muntah. Bisa sembuh sendiri namun sebagian kecil bisa berakibat fatal yaitu gagal liver dan kematian.

Jika ibu hamil menderita kelompok hepatitis virus akut biasanya tidak akan ditularkan ke janin di dalam kandungan, namun infeksi pada trimester akhir bisa menyebabkan kelahiran prematur dan infeksi berat pada bayi yang baru lahir.

Tidak ada terapi khusus untuk hepatitis virus akut selain nutrisi, mengobati gejala dan komplikasi. Adapun kelompok hepatitis virus kronik (tipe B,C,D dan G) dapat mengakibatkan sirosis hepatis (kerusakan hati) dan jangka panjang kanker hepar. Gejalanya tidak khas, karena infeksinya bersifat kronik. Penularannya melalui sekret tubuh (darah, liur, mani) dapat terjadi penularan pada janin dalam kandungan yang mengakibatkan bayi yang lahir terpapar virus dan bayi pada masa tumbuh kembangnya mengalami kerusakan liver.

Apa yang harus dilakukan oleh bumil untuk mengantisipasinya?

  • 1. Skrininglah anda (cek laboratorium HbsAg, HbeAg) jika anda positif maka kemungkinan anda bisa terinfeksi atau pembawa virus, lakukan skrining untuk keluarga terdekat (suami dan anak) apakah juga terkena infeksi. Jika anda penderita hepatitis C sebaiknya lakukan pula skrining HIV.
  • 2. Agar bayi anda yang terpapar tidak menjadi penderita maka berikanlah vaksinasi hepatitis B sekaligus imunoglobulin hepatitis dalam 12 jam pertama kelahirannya.
  • 3. Lakukan kontrol berkala, stop minum alkohol dan obat-obat yang dapat merusak fungsi liver.
  • 4. Apakah harus sesar atau normal masih diperdebatkan, ACOG merekomendasikan SC karena menurunkan transmisi namun hal ini masih debatable.
  • 5. Jika bayi sudah mendapat imunoglobulin dan vaksinasi maka ibu dapat menyusui.

Semoga bermanfaat.

4 Comments

  1. mamaRaihan
    ayu November 7, 2011 at 11:53 am

    tfs doktr

    oot g nih mo sekalian nanya soal hepatitis , ad temenku yg mengidap hepattis ini alhadulillah pas lahiran normal bayi sehat dn lgs dvaksin spy tdk trkena nhepatitis jg, yg jadi pertanyaan sm dokt obgyny dilarang untuk mmberikan asi padahal temenku itu ingin sekali asi,,gimana doktr betulkah yg mengidap hepatitis ini tidak bs menyusui???

  2. unaydian
    Unay Dian November 10, 2011 at 10:57 pm

    Dokter Riyana,

    Saya sedang hamil 29 minggu dan waktu semester pertama kehamilan di tes darah ternyata saya terkena hepatitis B. Tidak tau asalnya dari mana, karena sebelumnya saya tidak ada hepatitis B dan begitu juga dengan suami saya tidak ada hepatitis setelah dilakukan medical checkup. Apakah persalinan yg tepat harus SC ? Dan jika normal apakah ada dampak buruknya ? Dan apakah tidak boleh menyusui ketika baru lahir dan harus menunggu bayi di vaksin ?

    Thank you

  3. DianHilman
    DianHilman December 21, 2011 at 4:21 pm

    saya sedang hamil 10 minggu. suami hepatitis C tertular dari mesin hemodialisis. setelah cek darah alhamdulillah saya negatif hepatitis. tadinya sempat bingung harus bagaimana karena saya takut bayi tertular.

  4. jack_parker
    jack_parker October 10, 2015 at 3:52 pm

    Cara Mengobati Hepatitis B Pada Ibu Hamil – Membunuh dan menghambat penyebaran virus hepatitis b, sehingga dapat mencegah penularan virus hepatitis b ke janin. Pengobatan Hepatitis B Pada Ibu Hamil. Obat Hepatitis B Pada Ibu Hamil. http://goo.gl/vsSPOC

Post a Comment

You must be logged in to post a comment.