Konsultasi Tumbuh Kembang – Speech Delay

Shinta_daniel

Sejak Baron usia 1,5 tahun, saya berencana berkonsultasi ke psikolog tentang tumbuh kembang Baron karena saya merasa Baron mengalami keterlambatan bicara dan kurang konsentrasi, tapi niat tersebut saya tunda sampai ia berusia 2 tahun. Keterlambatan bicara yang saya rasakan adalah, Baron sangat talkative dengan bahasa planetnya (bubbling), mengucap kurang dari 10 kata yang jelas (baru bisa bye, makasih, yah, bu), menirukan beberapa suara binatang dan kendaraan, sisanya hanya ugh ugh ugh sambil menunjuk-nunjuk benda yang ia maksud.

Pertimbangan saya ingin membawa ke klinik tumbuh kembang antara lain:

  1. Saat Baron usia 1,5 tahun, kami menyekolahkan Baron ke preschool dekat rumah agar Baron bisa belajar bersosialisasi, berkomunikasi, meningkatkan kemampuan motorik, belajar mengenal lingkungan di luar rumah. Kami berharap adanya sosialisasi dan tambahan stimulasi dari guru preschool dapat meningkatkan kemampuannya dalam berkomunikasi, beraktivitas, dan berinteraksi, dibandingkan bila hanya di rumah saja. Hanya saja preschool Baron menggunakan bahasa Inggris.
  2. Berdasarkan saran dan masukan dari banyak pihak, tunggu dulu sampai usia 2 tahun, diharapkan saat itu Baron sudah lancar bicara

Seiring berjalannya waktu, Oktober lalu Baron tepat usia 2 tahun dan dari pengamatan saya, ia masih belum menunjukkan perkembangan signifikan dari sisi kemampuan bicara dan konsentrasi, sehingga sesuai rencana semula, saya langsung membuat jadwal konsultasi tumbuh kembang ke Klinik Pela 9, RSPI sebagai 2nd opinion, dan tambahan konsultasi dengan gurunya di preschool. Konsultasi ini atas inisiatif sendiri dan rencananya akan saya konsultasikan juga ke DSAnya.

Saya selalu berpegang teguh pada prinsip “every child is special on his/her way”, dan kemampuan seorang anak tidak datang di saat yang bersamaan, semua butuh proses dan waktu.

Saya tidak tahu teori tumbuh kembang secara mendalam, tapi sepengetahuan saya setiap tahap usia anak ada standar yang menjadi acuan apakah si anak tumbuh dan berkembang dengan ‘sempurna’. Apabila si anak tidak dapat mencapai standar tersebut ada 2 kemungkinan yang perlu diperhatikan oleh orang tua:

  1. Memang belum saatnya si anak mencapai standar dimaksud, tetapi di kemampuan lainnya ia sudah mencapai atau bahkan melampaui standar yg ditetapkan
  2. Si anak mempunyai masalah baik secara fisik maupun psikologis sehingga tidak dapat mencapai standar tersebut

Kemungkinan no.2 ini yang perlu diantisipasi dan saya tidak ingin terjadi pada Baron. Insya Allah, every single thing is just normal & fine. Oleh karena itu, menurut saya sekaranglah waktu yang tepat untuk mengonsultasikan tumbuh kembang Baron ke ahlinya.

Pada dasarnya, metode observasi dan proses konsultasi di klinik/RS manapun hampir sama. Saat konsultasi di Pela 9, saya konsultasi dengan dr. Iramaswaty Kamarul, Sp. A(K), dokter spesialis Neurolog Anak dan seorang psikolog, sedangkan di RSPI dengan dr. Ariyanti Carolina tanpa psikolog.

Ruang konsultasi di Pela 9 didesain seperti di living room saja, jadi kita duduk di sofa berhadapan dengan dokter untuk konsultasi sementara psikolog mengobservasi kemampuan/ketrampilan anak melalui beberapa permainan edukatif (seperti puzzle, susun balok, flash cards, dll). Sedangkan di RSPI sama seperti ruang praktik dokter pada umumnya, hanya dilengkapi pojok untuk anak-anak, yang lengkap dengan permainan edukatif.

Beberapa observasi dan pertanyaan yang diajukan antara lain:

  • Penguasaan bahasa: berapa kata dan kata apa saja yg sudah bisa diucapkan, apakah sudah bisa merangkai kata menjadi kalimat, dll.
  • Kemampuan dan kekuatan otot mulut/rahang: kemampuan mengunyah, meniup, menyedot, menjilat, dll
  • Informasi sekolah: sejak usia berapa sekolah, di mana, menggunakan bahasa apa, pada saat mendaftar di sekolah anak ditanyakan sudah bisa bicara atau belum, dll.
  • Informasi komunikasi: berapa lama menonton TV di rumah, gadget apa saja yang sudah diperkenalkan ke anak, sehari-hari di rumah menggunakan bahasa apa, dll.
  • Informasi sosialisasi: di rumah ditemani oleh siapa saja, apakah ada teman-teman di lingkungan rumah, apakah Baron takut bertemu orang baru, dll.
  • Informasi sensitifitas dan respons: apakah Baron takut/sensitif terhadap sesuatu (misal suara, binatang, bentuk, benda tertentu dll), tingkat respon apabila namanya dipanggil, tingkat sensitif terhadap sentuhan, dll.
  • Kemampuan motorik: kemampuan jalan, lari, loncat, lempar dan& tendang bola, memasukkan benda ke dalam lubang, menyusun balok, dll.

Pertanyaan pertama yang saya ajukan:

“Sebenarnya penyebab Baron mengalami keterlambatan bicara itu apa ya, Dok? Apakah memang secara fisik atau psikologis Baron ada masalah atau karena saya sekolahkan di preschool berbahasa Inggris?”

Penjelasan dari dokter:

Pada dasarnya kemampuan anak itu beda-beda, ada yang cepat di satu sisi tapi lambat di sisi lain, ada yang lambat di berbagai sisi dan ada yang cepat di berbagai sisi. Untuk anak yang mengalami lambat bicara ada beberapa faktor yang mungkin mempengaruhi:

  • Di rumah kurang stimulasi permainan edukatif. Saya akui hal ini, karena permainan yang paling sering dimainkan adalah mobil-mobilan. Permainan lain ada tapi kurang dimanfaatkan dengan baik.
  • Kurang diajak mengobrol oleh pengasuh. Alhamdulillah, pengasuh Baron sangat talkative dan cukup kooperatif, hal ini diakui juga pada saat diobservasi oleh dr. Ariyanti.
  • Di rumah terlalu banyak menonton TV. Alhamdulillah, pengasuhnya Baron bukan tipe yang suka berlama-lama menonton TV dan Baron bukan tipe anak yang duduk berlama-lama di depan TV.
  • Kurang bersosialisasi dengan teman-teman sebaya. Alhamdulillah, temannya Baron di rumah banyak yang sebaya dan mereka sering main sama-sama di pagi hari waktu sarapan dan di sore hari selesai mandi.
  • Sehari-hari menggunakan 2–3 bahasa. Sehari-hari di rumah kami menggunakan bahasa Indonesia, sedangkan di preschool menggunakan bahasa Inggris. Hal ini yang dicurigai oleh dokter penyebab Baron bingung bahasa.

Untuk anak yang tumbuh kembangnya ‘normal’, hal-hal di atas tidak jadi masalah , tapi untuk anak yang ada masalah baik secara fisik maupun psikologis, faktor di atas relatif akan berpengaruh di proses tumbuh kembangnya.

Dari hasil observasi oleh psikolog melalui bermain singkatnya, secara motorik halus, Baron tidak mengalami kendala besar, Baron sudah bisa dan bahkan melakukannya dalam waktu singkat:

  • Menyusun balok menjadi tumpukan yang tinggi
  • Memasukkan koin ke dalam kaleng
  • Mencocokkan puzzle gambar sesuai tempat walaupun suka salah tapi masih wajar

Kesimpulannya, kemampuan Baron dalam mengenal/memainkan bentuk dengan 3 dimensi cukup tinggi, tetapi yang perlu menjadi perhatian adalah pemahaman terhadap arti kata benda dan kata kerja secara harfiah karena pada saat membuka flash card dan buku bergambar binatang, kendaraan, dan anggota tubuh, Baron belum bisa menunjuk ke arah yang benar.

Respons yang dia berikan pada saat ditanya mengenai binatang dan kendaraan adalah suara-nya, misalnya: ini apa? ini kucing, Baron akan bersuara maaemm… maaeem (maksudnya meong)… ini apa? ini mobil, jawabnya greeeng greeeng… kereta api yang mana? jawabnya koo koo jess jess jess, itupun jumlah kata benda masih sangat terbatas.

Hal yang baik dari respons ini adalah:

  1. Baron sudah mengerti apa yang dimaksud, tapi belum bisa memberikan respons yang sesuai.
  2. Modal (kemauan dan kemampuan) menirunya cukup tinggi dengan ia menirukan suara-suara binatang dan kendaraan.
  3. Modal keingintahuannya cukup tinggi dengan ia selalu menanyakan benda-benda yang ada di sekeliling kita dengan kata “ugh..ugh” sambil menunjuk-nunjuk. Kalau kita tidak menjawab pertanyaannya, dia tidak akan berhenti “ugh..ugh” dan kalau kita tidak menengok, ia otomatis ‘memaksa’ muka kita dengan pegang dagu/pipi kita untuk menengok.

Sehingga suatu saat bila kebutuhan bicaranya sudah muncul akan lebih mudah menirukan kata-kata yang kita sebutkan, selama kita sebagai orang tua rajin mengucapkan kata-kata secara tegas dan berulang sampai Baron fasih menyebutkan kata dimaksud walaupun awalnya baru akhirannya saja.

Dalam kasus ini, Baron perlu mendapat stimulus/rangsangan dari luar yang lebih banyak dan efektif untuk dapat mencapai milestone sesuai usianya. Sekali lagi milestone setiap anak tidak dapat dalam waktu singkat dan bersamaan.

Pertanyaan saya berikutnya:

“Usia berapa yang baik/ideal untuk mengonsultasikan tumbuh kembang anak?”

 Penjelasan dari dokter:

Konsultasi tumbuh kembang dapat dilakukan kapan saja, terutama kalau orang tua merasa ada sesuatu yang kurang tepat dalam proses tumbuh kembang anak. Konsultasi dibutuhkan agar orang tua mengetahui apakah si anak perlu terapi atau tidak, dan terapi jenis apa yang dibutuhkan untuk anak.

Konsultasi tumbuh kembang tidak harus selalu untuk anak yang punya masalah atau berkebutuhan khusus. Kadang kala orang tua merasa anaknya tidak ada masalah atau bahkan ada yang pura-pura merasa baik-baik saja karena malu oleh lingkungan/keluarga kalau anaknya ada masalah, tapi begitu dikonsultasikan ternyata dari hasil tes/assesment/observasi anaknya bermasalah di proses tumbuh kembang (misalnya perilaku) walaupun secara fisik dia sehat.

Dari hasil observasi tersebut, dr. Ira maupun dr. Ariyanti mengambil kesimpulan bahwa Baron memang mengalami keterlambatan bicara dan memberi masukan:

  • Melakukan terapi wicara
  • Assessment Sensory Integrasi (SI) terlebih dahulu untuk mengetahui apakah Baron juga butuh terapi SI
  • Sehari-hari menggunakan hanya 1 bahasa saja yaitu bahasa Indonesia sebagai bahasa ibu
  • Menghentikan sementara preschool-nya yang menggunakan bahasa Inggris sampai Baron sudah mahir bicara (atau mengucapkan kata-kata) atau pindah ke preschool berbahasa Indonesia
  • Membatasi menonton TV di rumah. Idealnya 1/2 jam pagi dan 1/2 jam sore. Diusahakan menonton TV yang sifatnya interaktif dialog atau cerita berbahasa Indonesia.

Semoga bermanfaat untuk Urban Mama semua, khususnya yang mempunyai anak dengan masalah speech delay.

29 Comments

  1. purity sabila
    purity sabila January 14, 2013 at 10:31 am

    Wah infonya sangat jelas sekali mbak. Makasih sudah di share di TUM. Sangat membantu saya sebagai ibu baru :)

  2. January 14, 2013 at 11:12 am

    Sama dengan anak gw. Baru bisa ngomong usia 2,5 thn. Awalnya cemas, pengen dibawa ke dokter, dll. Tapi suami dan dirikuh saling menguatkan dan berpedoman sama seperti Shinta bahwa every child is special on his/her way. Usia 2 thn Alun dapat pengasuh yang sangat talkactive dan tetangga bilang “coba deh mulutnya ditepok2 pake daun sirih merah” (buibu ini kata org2 tua jaman dulu loh ya, dan spt nya emang gak ada bukti medisnya, hehehe). Eh ndilalah…si daun sirih merah bekerja! Skr Alun udah 3 thn, bicara udah jelas banget, ngomong “R” udah samasekali gak cadel dan yang paling penting….duh cereweeeeet buaanget! (serba salah ye emaknya.Giliran anak blum bisa bicara resah, skr dah bisa ngomong malah ngerasa kebrisikan sendiri, hahaha).

  3. affriani
    Kharisma Affriani January 14, 2013 at 11:44 am

    mama Shinta,we have a same “challenge”…yg di Pela 9 itu apa ya?klinik tumbang kah?trus yg dr.Ariyanti itu DSA atau dokter fisioteraphis?saya sdh 6x terapis di eka hospital,tp sepertinya fasilitas dan metode nya blm sempurna

  4. crey
    Chrisye Wenas January 14, 2013 at 12:58 pm

    Tfs mbak Shinta…
    To be honest agak2 was2 juga sih dengan El (bulan depan 3 thn) masih belum lancar bicara, masih males sih menurutku… cuman kalo baca2 sebenernya El masih dikategoriin lancar, cuman gemes karna anaknya masih bicara cadel dan kebanyakan suku kata akhir walopun udah bisa bicara beberapa kalimat…
    Jadinya sama kaya Imelda di atas, gw-nya yang resah dan emang harus stimulasi dia biar mau untuk ngomong lengkap…
    Dia belum sekolah sih, cumann mmhh jadi pengen periksa deh, at least ketauan ya tindakannya musti gimana….

  5. Shinta_daniel
    Shinta Daniel January 14, 2013 at 3:27 pm

    @Kharisma: pela 9 itu klinik tumbuh kembang punya Dr. Iramaswaty, kalau Dr Aryanti (RSPI) itu terapis remedial

  6. eka
    Eka Wulandari Gobel January 14, 2013 at 9:32 pm

    shinta, terima kasih share artikelnya..detail sekali. informasinya berguna sekali.

  7. Ginapriadini
    Gina Priadini January 14, 2013 at 9:51 pm

    artikelnya bagus banget Shinta. Anakku juga speech delay. Masih terapi tiap hari di Spectrum, Bintaro. every single improvement of him is miraculous.

  8. ratnasarisunarya
    ratnasarisunarya January 15, 2013 at 11:33 am

    alhamdulillah mba angkat topik ini krn ponakan saya jg mengalami hal yg sama. kmrn konsultasi ke klinik anakku, ponakanku 17m dibilang terkena sindrom asperger. sampai saat ini komunikasi dan interaksi kesekitar sangat kurang. Sediih bgt dgrnya, saya msh berharap hanya keterlambatan yg wajar aja. Utk hal ini ada support groupnya ga ya? minta sharing dari teman2 yaa

  9. donagrestina
    donagrestina January 16, 2013 at 7:27 am

    Bagus sekali artikel nya. Anak ku Danish 16 bulan,skrg baru bs bilang bbrp kata sepotong2. Di rumah sama nenek dan nenek uyut nya. Bahasa kadang2 campur Bhs Indonesia dan bahasa Minang,hehe. Sebenernya jd agak kuatir itu akan membuat Danish mengalami speech delay,tapi msh liat lg perkembangannya. Yg paling susah ngasih pengertian ke Nek Uyut klo ngomong sm Danish pakai bahasa Indonesia,maklum sudah sepuh. :)

  10. miminiko
    Nine Luthansa January 17, 2013 at 2:18 pm

    Makasih infonya bund.. Memang kadang anak tumbuh dan berkembang dgn kecepatan yg berbeda2.. Ketika saya akan konsultasikan anak saya yg (menurut saya) terlambat bicara, orang tua melarang dan menyarankan utk ditunggu aja, toh nanti bakal bisa bicara dgn sendirinya.. Dan ternyata benar, di usianya yg 2,5 th, dia tiba2 bisa ngomong banyaaaaaaak.. :)

  11. mamasha
    mamasha January 17, 2013 at 2:29 pm

    thank you buat infonya. berguna sekali buat saya. saya menyadari sekali Gaby yg sekarang usiangnya 20 bulan masih babbling, menunjuk kalau mau sesuatu dan kosa katanya dikit. salah satu alasannya karena tll sering nonton tv. pengasuh gaby juga jarang mengajak gaby berbicara. sedangkan saya jarang sekali ketemu gaby yang masih bangun, hanya sabtu minggu. susah kan kalau hanya saya dan suami yang mengajarinya. rasanya ingin mematikan saja tvnya tp tidak tega sama neneknya yang kewalahan jaga gaby, krn gaby termasuk aktif sekali. saya mau bawa ke baby school, untuk menstimulasi kosa katanya. seminggu 2hr, 45 mnt menurut saya cukup sekali drpd gaby ntn tv terus. gmn menurut bunda yg lain.

  12. Shinta_daniel
    Shinta Daniel January 17, 2013 at 4:23 pm

    @dear mamasha: bisa dicoba trial dulu di babyschool 2-3 kali sambil dilihat respon dari Gaby, kalau dia merasa enjoy & bisa ikut kegiatan di babyschool gapapa kok lanjut sekolahnya.. tapi jangan lupa, stimulasi di rumah diutamakan..

  13. alfi
    Ning Alfiyah January 19, 2013 at 8:14 pm

    Wah, menarik bgt artikelnya, hrus disimak baik-baik dan save. Tp saya ada yg kurg jelas
    “Membatasi …….. Diusahakan menonton TV yang sifatnya interaktif dialog atau cerita berbahasa Indonesia”

    Contohnya seperti apa ya mom? Kyk Dora, Barney ato apa ya? Anak sy 10mo klo liat video lagu anak-anak smp marah2 klo dilarang, pdhl udh reply 3x.

    Klo stimulasi bicara kan kita mesti cerewet, nah sy tuh pendiem bgt, gmn ya caranya?mo ngmng apaan?plg cuman mainan aja.

    Maapkeun bnyk tanya..Makasih ^_^

  14. mamasha
    mamasha January 19, 2013 at 8:33 pm

    @ mom alfi. Yang dimaksud interaktif mungkin seperti dora. Dan jangan dibiarkan sendirian. Jd pada saat dora bertanya kita ikutan jawab. Jd si baby akan ikutan juga.
    Gimanapun juga “pronounciation” tv akan beda dengan manusia. Jd lebih baik jika kita yg ajak ngomong mereka.

    Anak saya gaby hafal isi film pocoyo, ikutan ngomong juga tp ya gak jelas jadinya. Sampai kita pd ketawa liatnya krn lucu bgt. Buat yg suka nonton pocoyo, gaby lebih bisa bilang “elly” daripada “susu”. Dan dia bs nangis2 mt nonton tv smbl kasih remote tv.

    Jujur saja dgn tv kita jd leluasa melakukan hal lain. Tp krn pengalaman saya, sejak awal jangan dibiasakan nonton tv krn jd telat berbahasa. Skrg saya lg disiplin ke nenek dan pengasuhnya supaya tegas jangan ksh nonton terus. Batasi jam nontonnya.

  15. alfi
    Ning Alfiyah January 19, 2013 at 8:55 pm

    @mamasha. Oh gitu ya? Iya tv emng kdg jd penolong (tp klo di saya kasusnya bkn tv tp si kompi/lappi).

    Wah sprtnya Gaby jg hrs berterima kasih sama tv, hehehe..
    TV bs jd penolong klo kita bs memanfaatkannya ya?

    Makasih..

  16. sherly inababy
    sherly inababy January 21, 2013 at 1:35 am

    nemu artikel ini ibarat menemukan jarum di setumpuk jerami (haha,lebay). anakku 21 bulan dan mirip banget sama baron, baru bisa ngomong ayah, maem, bebek, aeng (mobil), apa, aiyy (air), dan anya (meniru kata ‘hanya’, sampe kepikir klo punya baby cewe kasih nama anya)

    manurutku selama dia masih mengerti apa yg kita maksud saat berkomunikasi berarti masih ok utk ditunggu sampai 2,5thn seperti yg diceritakan oleh mommy lainnya.

    masalah tv selama ini memang kurang komunikatif seperti cars, barney, rio. Dan mungkin itu juga yg bikin delay, terlalu banyak tv/film/games bahasa inggris. Jadi ide film DORA oke juga. Thanx for sharing ya mom ;)

  17. Joan
    joan January 21, 2013 at 8:50 pm

    ehh ada dirimu Shinta… Semangat terus untuk Baron.

  18. Shinta_daniel
    Shinta Daniel January 22, 2013 at 8:36 am

    @joan: ehh ada dirimu juga :) doakan lancar yaa…

  19. Indy Natalia
    Indy Natalia January 24, 2013 at 11:20 am

    Mama Shinta, TFS yaaa… aku selama ini dirumah juga kadang2 pake 2 bahasa. Tapi mungkin selanjutnya akan lebih memperjelas bahasa ibu dulu kali ya..mengingat bingung bahasa juga mungkin terjadi pada anak di kemudian hari:))

  20. iva
    iva rahayu February 14, 2013 at 12:45 pm

    TFS Mommy Shinta…infonya berguna banget..spertinya harus lbih fokus ngajakin Kaleen mainin mainan educative nya yg selama ini lebih sering dilempar2 aja

  21. yoreney
    Reny Lenzo March 1, 2013 at 10:58 am

    anakku dulu juga speech delay, umur 2 tahun lebih baru bisa babbling dan bbrp kata doang. dokternya suruh konsul ke early development program, tapi suami bilang tunggu dulu. ketika 2.5 thn masih juga belum ngomong akhirnya dokternya inisiatif bikin appointment untuk kita. ketika di test terbukti anakku tingkat kepintarannya melebihi anak seumuran (saat itu dia sudah tahu alphabets A-Z, angka 1-20, warna, bentuk, dan nama2 hewan), hanya saja belum ngomong. Test motorik juga hasilnya bagus (masukin beads ke benang, susun balok, dll). Lalu di tes pemahaman instruksi (dikasih instruksi A lalu B.. dilihat apakah anak mengerti dan mengerjakan atau tidak) juga lolos dengan memuaskan. akhirnya speech consultantnya malah bilang ya tunggu saja mungkin bentar lagi ngomong. Eh ternyata ya benar, sebulan kemudian mulai ngomong.. sekarang (3 tahun) ngomong mulu gak brenti2. Jadi terkadang memang harus ditunggu saja sampai anaknya siap. Katanya kalau anak cowok emang suka lelet kok ngomongnya, karena perkembangan fisiknya juga lebih lamban dari anak perempuan.

  22. yoreney
    Reny Lenzo March 1, 2013 at 11:05 am

    btw untuk masalah nonton tv, justru kebalikannya dengan kebanyakan mama.. anakku malah belajar banyak dari tv. pocoyo ngajarin dia nama benda, aktifitas dan cara berekspresi (dia sering ngikutin gaya nya pocoyo). belajar ngomong juga gara2 sering nonton youtube tentang pelafalan huruf (ada lagunya. coba aja cari kidstv123, vidz4kids, tutitutv, hooplakidz.. ini semua channel yg edukatif untuk anak2 usia bayi – toddler (preschool). tapi memang setiap hari gak boleh nonton doang ya. harus tetap ada minimal 1 jam main aktif di luar rumah.

  23. Shinta_daniel
    Shinta Daniel March 1, 2013 at 11:26 am

    @Reny Lenzo: thanks sharingnya.. tes early development programmya dimana ya? mungkin saya bisa konsultasikan Baron kesana..

  24. ona lolita
    ona lolita February 17, 2014 at 11:15 am

    Klinik pela 9 itu didaerah mana ya mom? Anakku usia 3y 5m .. Kakinya skrg ga mau jalan.. Sebenarnya dia sudah bisa jln, cuma Januari kemarin pernah sakit keseleo kayaknya skrg trauma klw disuruh jln ga mau ktnya sakit. Padahal sdh di cek ke dsa + rontgen sih baik2 aja. Bahkan mbah urutnya jg blg uda baikan … Makanya aQ mau coba konsul ke dsa+psikolog . Dgr ttg klinik pela 9 jd pingin kesana.

  25. Shinta_daniel
    Shinta Daniel February 18, 2014 at 10:01 am

    @Ona: Jl. Pela No.9 itu di daerah Petogogan, Kebayoran Baru. Kalau dari Mayestik ke arah Radio Dalam, pas di perempatan Radio Dalam belok ke kiri. Kliniknya ada di sebelah kiri jalan, sebelum perempatan Petogogan.

  26. Renni Soraya
    Renni Soraya March 9, 2015 at 10:47 am

    Ibu2 mau nanya. anaku 8,5 bulan males ngomong. bubbling pun ga. padahal dulu waktu 6 bulanan udah bubbling. anakku udah tes pendengaran, hasilnya normal2 aja. motorik kasar juga oke.. klo untuk terapi wicara terlalu cepat ga ya? mengingat anaknya baru 8,5 bulan.

  27. ummi anas
    ummi anas April 4, 2015 at 11:08 pm

    Saya baru tau kalau ada istilah speech delay. Anak saya november nanti 4 tahun. Sampai saat ini, ucapannya tidak jelas.huruf pertama awal kata sering hilang. Apakah itu termasuk speech delay?
    Terima kasih sharingnya

  28. Mrs. Kiki
    Etta Novretta April 23, 2015 at 4:50 pm

    Mba Shinta, aku baru bener2 baca lagi artikel ini setelah sekarang mengalaminya. Akino (25mo) juga masih belum bicara jelas Mba, sering cerita tapi hanya babling, gak keluar kata2 sama sekali. Sudah pernah aku bawa observasi ke psikolog sebelum usianya 2 tahun dan memang disarankan untuk assessment SI dulu, baru lanjut dengan terapi SI dan wicara paralel (kalau memang perlu ukt terapi SI). Lallu sekarang masih maju mundur utk terapi. Pas baca artikel ini kok kaya pas banget situasinya sm Mba Shinta dulu. Thanks for sharing ya Mbaaa….

  29. indri.s
    Indri Wangsadinata July 28, 2015 at 11:27 am

    Thank you for sharing mba shinta..jd makin ngerti skrg..aku jg br nuat appointment sama dr ira..

Post a Comment

You must be logged in to post a comment.