Konsumsi Makanan Kuantitas Tinggi Saat Berbadan Dua: Haruskah?

Inayati
Dyah A Inayati, PhD Health & Nutrition Researcher, Nutrition Advisor, Halal Food Auditor. Pendidikan S1 di Universitas Indonesia, S2 di Universitaet Karlsruhe (Jerman), S3 di Universitaet Hohenheim (Jerman) dengan bidang pendalaman nutrisi dan nutrisi populasi/komunitas. Ibu dari dua putera dan satu puteri.
Have question for our experts ?
Feel free to ask them here!

“Wah… Kok makannya banyak banget sih? Lapar ya?”
“Ngga juga sih, cuma saya kan lagi hamil, jadi ya makan buat dua orang dong. Lagi juga kan bagus buat si kecil kalo nutrisi yang diterima makin banyak!”
“Sudah berapa kg sih nambahnya?”
“Ah baru 12 kg kok. Masih punya jatah naik 2-3 kg nih satu bulan ke depan. Kan wajar banget lho kalau hamil tua gini laper mulu! Makin banyak makan, nanti si kecil jadi makin cukup deh kebutuhan makan saat di di rahim.”
“Oh gitu ya? Tapi kalo aku hamil nanti mendingan diet aja deh. Takutnya nanti malah BB ngga balik modal sehabis melahirkan!”

Percakapan demikian pasti sering kita amati, khususnya di kalangan ibu hamil (bumil). Opini yang berkembang di masyarakat dengan pemakluman bahwa seorang bumil harus mengkonsumsi makanan dengan kuantitas lebih berdasarkan acuan bahwa ia harus makan untuk dua orang bukanlah hal yang aneh kita temui.
Demikian halnya dengan patokan pertambahan berat badan (BB) tertentu yang harus dicapai dan kadang membawa situasi “stress” ataupun “toleransi” tertentu atas BB yang ada dan harus diraih oleh seorang bumil.

Namun benarkah harus selalu demikian?
Seperti apakah kebutuhan nutrisi seorang wanita saat menjalani kehamilannya?
Bagaimanakah pengaruh status nutrisi seorang bumil dengan si kecil yang dikandungnya?

Teori Fetal Programming
Salah satu teori yang menjelaskan pengaruh status nutrisi seorang ibu hamil pada janin yang dikandungnya adalah teori yang dikenal dengan nama “Fetal Programming”. Menurut teori ini, seorang ibu hamil yang mengalami kekurangan gizi/malnutrisi akan menyebabkan fetus yang dikandungnya mendapat asupan makanan yang kurang dalam pertumbuhannya. Hal itu mungkin akan memacu timbulnya penyakit kronis yang si kecil derita di masa depan.

Penyakit penyakit seperti jantung koroner, hipertensi, kolesterol, gangguan toleransi glukosa dan diabetes biasa ditemui dari para bayi yang dilahirkan oleh para ibu yang mengalami masalah malnutrisi pada masa kehamilan.

Dari penelitian penelitian tema serupa, disimpulkan bahwa peran status gizi seorang bumil terhadap si kecil yang dikandungnya amat penting. Karenanya lupakan keinginan untuk diet demi tetap langsingnya tubuh saat hamil karena jangan jangan tindakan itu malah membahayakan masa depan si kecil!.

Perubahan Fisiologi dan BB Selama Kehamilan
Saat seorang wanita menjalani masa kehamilan, basal metabolisme tubuh akan semakin meningkat. Bersamaan dengan itu terjadi pula mekanisme adaptasi dalam tubuhnya. Penambahan berat badan di masa akhir kehamilan biasanya disebabkan karena pertumbuhan fetus (ca. 3 kg), pertumbuhan di tubuh ibu yang meliputi uterus, plasenta, air ketuban, air dan darah (ca. 4 kg) dan persediaan lemak (ca. 3kg). Tak heran, seorang bumil akan memiliki berat badan yang lebih dibanding saat ia tak mengandung. Penambahan BB adalah hal yang mutlak!.
Berbeda dari anjuran penambahan BB kehamilan di era 70-80′an, penambahan BB yang direkomendasikan saat seorang ibu mengandung saat ini biasanya berpatokan pada Body Mass Index (BMI) yang ibu miliki sebelum mengandung. Semakin rendah BMI yang ibu miliki sebelum masa konsepsi, semakin tinggi kuantitas pertambahan BB yang diharapkan. Wanita dengan BMI < 20 dianjurkan untuk menambah BB selama kehamilan sebanyak 12,5 – 18 kg. Wanita yang BMI sebelum hamilnya normal (20,0-26,0) idealnya bertambah BB saat hamil sekitar 11,5-16 kg. Sebaliknya, seorang wanita yang terkategori obesitas hanya dianjurkan untuk mengalami penambahan BB tak lebih dari 6 kg hingga masa akhir kehamilannya! (Abrams et al 2000).

Kebutuhan Energi dan Protein
Kondisi kehamilan memang akan menyebabkan kebutuhan energi dan protein yang bertambah. Namun hal tersebut bukan berarti mentolerir seorang bumil dapat makan sebanyak banyaknya dengan alasan “makan untuk dua orang”. Penambahan energi yang direkomendasikan hingga masa akhir kehamilan berdasarkan hasil penelitian terbaru di bidang maternal tak lainnya hanya sebesar 85.000 kcal. Kcal sebesar 85 ribu ini pun telah mencakup energi yang dibutuhkan untuk membentuk jaringan baru, supply energi untuk jaringan baru, simpanan dalam bentuk lemak serta 10% energi yang hilang untuk metabolisme tubuh.

Dengan memperhitungkan masa kehamilan yang hanya 280 hari, rata rata penambahan kalori yang sebenarnya dibutuhkan oleh bumil hanya sebesar 300 kcal (85.000/280). Jumlah ekstra kalori tersebut tak lebih dari pengkonsumsian sebuah joghurt 250-300 gr dengan kadar lemak 3,5%!. Itupun sebenarnya ekstra kalori benar benar dibutuhkan khususnya sejak 5 bulan kehamilan.

Penambahan kebutuhan protein sebenarnya hanya sebesar 0,9-1,0 gr per kg BB per hari. Meningkatkan konsumsi sumber protein sebanyak mungkin dengan alasan “hamil” juga sebenarnya bukan merupakan tindakan bijaksana. Jumlah protein yang ditambah sendiri biasanya hanya dianjurkan bila asupan energi juga cukup. Bila kondisi tersebut tidak dipenuhi, asam amino akan digunakan terlebih dahulu untuk produksi energi.

Kebutuhan Mikronutrisi: Asam Folat dan Vitamin A
Tambahan asupan mikronutrisi juga dibutuhkan selama masa kehamilan. Asam folat, Vitamin A, Sodium, Kalsium, Magnesium, Besi, Yodium adalah beberapa mikronutrisi yang penting dicatat di masa ini.
Asam folat amat dibutuhkan saat terjadinya penambahan jumlah sel di masa awal kehamilan. Kekurangan asam folat biasanya akan dikaitkan dengan tingginya risiko si bayi mengalami “neural tube defects”, Berat Bayi Lahir Rendah (BBLR) dan lahir prematur.

Vitamin A dalam bentuk retinol berkontribusi terhadap kualitas pengelihatan si kecil. Pada daerah dengan masalah defisiensi vitamin A, transfer aktif vitamin A ke fetus akan tetap terjadi walau sang ibu memiliki serum-vitamin A yang rendah dalam darahnya. Bahkan di tri semester tiga kehamilan, fetus akan mulai menimbun vitamin A dalam organ hatinya.

Kolostrum yang ibu produksi setelah melahirkan si kecil merupakan sumber makanan yang kaya akan vitamin A. Namun perlu diperhatikan bahwa seorang ibu yang mengalami defisiensi vitamin A tidak akan memiliki kuantitas transfer vitamin A yang cukup melalui plasenta dan ASI.

Ibu menyusui yang berada di daerah endemik defisiensi vitamin A harus mendapatkan supplementasi vitamin A (200.000 IU) selama masa 8 minggu pertama setelah melahirkan. Supplementasi vitamin A ini tidak boleh dilakukan saat si ibu hamil mengingat adanya efek teratogenik yang diamati pada pemberian dosis tinggi vitamin A pada masa kehamilan.

Kebutuhan Sodium, Kalsium, Magnesium
Pengkonsumsian sodium dan kalsium dengan jumlah “sedang” juga diperlukan. Kalsium berperan penting dalam mekanisme pengaturan selama masa kehamilan dan menyusui. Ia juga akan meningkatkan absorbsi intestinal yang terjadi. Biasanya, setelah masa 6-12 bulan sang ibu melewati masa menyusui, depot kalsium di tubuhnya akan kembali terisi. Seorang bumil yang mengkonsumsi kalsium minimal 1000 mg ca/hari akan kecil memiliki risiko terkena PIH (Pregnancy Induced Hypertension).

Kekurangan magnesium biasanya dialami oleh 5-30% bumil dengan ditandai adanya keluhan kram (Nocturnal Systremma). Suplementasi secara oral dari mikronutrisi ini terbukti akan mengurangi keluhan kram pada ibu yang sedang mengandung.

Kebutuhan Besi dan Iodium
Besi juga merupakan mikronutrisi yang amat diperlukan dalam masa kehamilan. Anemia saat kehamilan biasanya akan mempertinggi risiko terjadinya BBLR pada bayi, tingginya insidens kelahiran prematur dan meningkatkan kemungkinan terjadinya kematian pada ibu saat melahirkan. Perlu diingat, anemia tidak selalu disebabkan karena kekurangan besi dalam darah. Kebanyakan wanita menderita anemia yang disebabkan oleh kombinasi kekurangan besi, asam folat, vitamin B12 dan vitamin A.

Kekurangan iodium saat masa kehamilan sedapat mungkin harus dihindari. Seorang bumil idealnya harus memiliki persediaan iodium yang mencukupi agar transfer iodium ke fetus yang dikandungnya dapat mencukupi. Asupan iodium yang kurang dalam kehamilan dapat menyebabkan terjadinya gangguan pertumbuhan otak fetus, BBLR, kretin dan kongenital yang abnormal. Mengingat pentingnya fungsi iodium dalam masa ini, bumil dianjurkan untuk mengkonsumsi produk produk fortifikasi iodium seperti garam ber-iodium dan minyak ber-iodium.

Kebutuhan Kalori: Haruskah Selalu Tinggi?
Kebutuhan penambahan energi pada kondisi hamil amat variatif antar satu bumil dengan yang lainnya. Seorang ibu hamil yang status nutrisi nya sudah baik atau bahkan overweight tidak perlu meningkatkan asupan energi yang biasa dikonsumsi. Yang diperlukan dalam kondisi ini adalah konsumsi makanan yang variatif, terutama yang mengandung besi dan mikronutrisi yang diperlukan selama masa kehamilannya. Buah buahan, sayur mayur, daging, ikan dan produk turunan dari susu adalah beberapa sumber makanan yang dianjurkan untuk disantap.

Berbeda dengan remaja yang kebetulan mengandung, kebutuhan energi yang harus dicukupi akan tinggi karenanya asupan makanannya pun harus ditingkatkan. Hal itu perlu dilakukan karena di kondisi tersebut sang bumil “remaja” masih memerlukan zat zat makanan yang dibutuhkan untuk pertumbuhan bayinya dan dirinya sendiri.

Konsumsi Kofein, Alkohol dan Nikotin
Tabukah mengkonsumsi kopi selama hamil? Sebenarnya tidak, walaupun akan lebih bijak bila konsumsi kafein “diliburkan” selama masa kehamilan. Kopi tetap dapat dikonsumsi dengan jumlah tertentu. Minum 2-3 cangkir kopi per hari biasanya masih ditoleransi karena dari hasil penelitian terkait, belum ada efek negatif yang ditunjukkan. Sebaliknya, meminum kopi lebih dari 6 cangkir sehari harus dihindari mengingat asupan kofein yang tinggi akan memperbesar pengaruh rendahnya BB bayi saat dilahirkan.

Alkohol memang merupakan pantangan selama masa hamil. Dengan efek negatif pada janin yang nantinya dapat menimbulkan kerusakan syaraf, alkohol memang merupakan barang yang tabu untuk dikonsumsi. Dari penelitian tema terkait terbukti alkohol dapat menyebabkan terjadinya fetal alcohol syndrome pada bayi yang dilahirkan.

Bagaimana halnya dengan rokok?
Serupa dengan alkohol, rokok juga merupakan barang tabu bagi seorang bumil. Merokok saat mengandung si kecil biasanya akan berhubungan dengan tingginya risiko terjadinya aborsi, kelahiran prematur serta penyakit fatal yang timbul pada si kecil seperti penyakit pernafasan dan asma.

Pola Konsumsi Makanan Yang Dianjurkan Pada Bumil
Sebagaimana yang telah disinggung di atas, pola konsumsi makanan yang dianjurkan pada ibu hamil adalah diet makanan yang seimbang dengan kandungan protein dan mikronutrisi berkualitas tinggi serta energi yang cukup. Penambahan energi yang tinggi sendiri baru diperlukan pada tri semester ketiga kehamilan.

Karenanya, tak perlu bumil mengkonsumsi makanan dalam jumlah yang besar besaran atau selalu “ngemil” saat masa kehamilan. Yang sebenarnya dibutuhkan oleh tubuh tak lain kualitas makanan yang variatif. Pun ada penambahan asupan energi di tiga bulan akhir masa kehamilan, “ekstra” yang diperlukan tak lain hanya tambahan kalori setara dengan 250-300 gr yoghurt setiap harinya.

14 Comments

  1. Ochy
    Ochy March 25, 2014 at 7:14 am

    saya hamil naik 12 kg, anaknyabari 1,3 kata dokter, hehe.. Jadi sisanya ke bundanya semua ;)

  2. sLesTa
    shinta lestari March 25, 2014 at 12:29 pm

    wah infonya lengkap sekali!! makasiihhh mbak..
    dulu waktu hamil juga selalu memegang teguh info ini, jadi kalo sampe ada yang bilang, “kok makannya sedikit? kan kamu makan buat dua orang!” suka saya cuekin. ih sedikit tapi penuh nutrisi, bumil makannya ga mesti banyak kok. yang penting makanan yang sehat dan bergizi.

  3. otie
    otie March 25, 2014 at 3:40 pm

    waktu hamil anak pertama, naiknya 11 kg, sementara BB bayi hampir 3,5kg… Ini terkontrol sjk hamil 5 bln. Kebetulan USG 4D sama DSOG yg juga “anak gym”. Dg rada ketus si dokter bilang, “kamu kebanyakan makan karbo tuuuh..” Saya, “tau dr mana dok?” Dokter, “tuh.. tangan kamu..” Saat itu, BB ku sudah naik 10kg… Dg semangat 45, mulailah mengurangi nasi dlm menuku, dan memperbanyak protein dan sayur.. walhasil, s/d lahiran, cuma naik 1 kg… hehe…tp bayi ttp montok :)

  4. Kira Kara
    Bunda Wiwit March 25, 2014 at 6:44 pm

    keren informasinya. Dulu waktu hamil ki-ka pun dituntut menaikkan berat badan banyak sekali karena BMI saya kecil. Jadi genjot nutrisi. TFS :)

  5. drost
    drost March 25, 2014 at 8:00 pm

    Informasinya bagus banget, waktu saya hamil semua saya makan,jadi bb naik 16kg alkhamdulilah setelah de2x lahir turun 14kg, tapi ya itu de2x bbnya hampir 4kg sekarang 2.5m bb 7kg thanks mama Dyah…

  6. Inayati
    Inayati March 26, 2014 at 10:56 pm

    @ ochy: ndak pa pa ochy, yang terpenting semoga pertumbuhan si kecil baik baik saja, aamiin. btw, sekarang jadinya 8,7 nya sudah berkurang ndak? ;)

    @ shinta: seneng kalo bermanfaat infonya shin :). betul banget, ga perlu kok makan buanyaak pas hamil, yang terpenting sehat, bergizi, dan kaya variasi *tos lagi deeh*

    @ otie: great otie! benar, karbo secukupnya saja sesuai kebutuhan :). wah otie rajin gym ya, kereen!

    @ bunda wiwit: iya, benar sekali, kalau BMI kecil, kenaikan juga harus agak banyakkan ;)

    @ drost: terimakasih juga sudah berkenan membaca artikelnya :)

  7. farahbun
    rima ivalia March 27, 2014 at 12:48 am

    Saya baru hamil lagi, kali ini saya cenderung ngidam makanan sehat.. Kalau lapar saya hanya bisa makan buah, homemade food dlm porsi kecil tp sering. Walau msh di trimester 1 sy laper terus sih.. Hehe

    Btw, artikelnya baguusss sekali, terima kasih

  8. yulia handayani
    yulia handayani March 28, 2014 at 10:37 am

    Bagus sekali informasinya, makasih mba Ina.
    Btw, saya hamil ke 2, sudah 30 minggu, bb saya naik 4 kg saja. sedangkan bb si baby 1.3 kg. Sepertinya saya banyak makan tapi tetap timbangan statis aja. Waktu hamil anak pertama, naik 8 kg, lahir 3 kg. Tidak ada ngidam, jadi klo terasa lapar ayo aja dimakan. Yang penting ngemil, makan & minum yang sehat buat saya & baby.

  9. thalia
    thalia kamarga March 28, 2014 at 5:02 pm

    wah ini lengkap banget… bener2 ngejawab FAQ tentang makan dan berat badan dari mama2 newbie. makasih banget mbak Ina!

  10. Inayati
    Inayati April 9, 2014 at 3:58 am

    @rima: selamat menjalani kehamilan lagi ya rima, semoga pertumbuhan dan perkembangan si kecil di rahim optimal dan mamanya selalu sehat di masa kehamilan ini ya, aamiin

    @ yulia: setuju yulia, yang terpenting asupannya sehat dan bergizi plus dijaga bervariasi ya :)

    @ thalia: senaangg sekali bila bermanfaat, apalagi buat mama2 newbie :)

  11. fransiskaestiutami
    fransiskaestiutami July 10, 2014 at 3:03 pm

    wahh betul mb dyah, saya juga diet waktu hamil tp waktu hamil trimester III bb naik 0.5kg bebe di dalem jg naek 0.5kg dr 2.8 langsung jadi 3.3 dalam wkt ga lebih dari seminggu

  12. Inayati
    Inayati July 12, 2014 at 7:45 pm

    @ fransiska: waah, pasti pas lahir si kecil ngegemesin banget yaa…selamat menikmati masa2 balitanya si kecil ya :)

  13. momme
    momme September 16, 2014 at 9:26 am

    Makasih untuk artikelnya, reminder untuk bumil seperti saya yang makannya suka kalap :D

  14. Inayati
    Inayati October 13, 2014 at 5:44 pm

    @ momme: senangnya bila bermanfaat :). selamat menikmati masa kehamilan yang indaah yaa

Post a Comment

You must be logged in to post a comment.