Loving You Means Letting You Go

clara_ng
pregnancy

Menjadi ibu bukan hanya sekadar memiliki anak dan merawat serta menjaga mereka menjadi besar. Menjadi ibu juga berarti berani dengan penuh cinta melepaskan anak ke tangan nasib atau merelakan anak melangkah di jalan takdirnya. Seorang anak yang kehilangan ibu disebut sebagai anak piatu, atau kehilangan ayah disebut yatim, atau bahkan kehilangan kedua orangtuanya disebut yatim piatu. Tapi tidak ada nama apapun yang dapat diberikan untuk seorang ibu yang kehilangan anaknya. Peristiwa itu terlalu tragis dan perih untuk dinamai.

Saya kehilangan bayi pertama saya oleh penyakit kekentalan darah yang berlebihan tapi tak pernah terdeteksi sebelumnya. Penyakit ini kerap disebut dengan ACA (Anti Cardiolipin Antibody). Kehamilan saya mulanya tidak bermasalah sama sekali, bahkan saya tidak merasakan mual yang biasanya muncul pada semester pertama. Yang cukup aneh berat badan saya tidak naik. Saya tidak tahu apakah ini semua dipicu oleh kekentalan darah saya, tapi pada semua kehamilan saya, kenaikan berat badan hanya seputar 5-6 kg.

Pada bulan ketujuh, suatu hari saya tidak merasakan gerakan bayi. Sebagai ibu hamil pertama, saya tidak menganggapnya sebagai hal yang aneh. Barulah pada hari kedua, indra keenam saya memberitahu ada yang tidak beres. Saya terus menerus merasa gelisah seharian dan tidak nyaman dengan kondisi ini. Setelah menunggu sampai 2×24 jam dan tetap tidak merasakan gerakan bayi, jam 11 malam, dengan panik saya menelepon dokter yang memberikan advis agar saya segera ke unit gawat darurat.

Saya langsung berangkat bersama suami yang juga mulai panik. Di sana, suster segera mencari detak jantung bayi. Tidak ketemu. Ke mana pun mereka cari di sekitar perut, mereka tidak berhasil menemukan suara degup jantung. Suster berusaha menenangkan saya yang sangat gelisah. Kepanikan mendera saya. Suami meminta pihak rumah sakit segera mencari dokter kandungan yang biasa merawat saya dan meminta untuk diadakan USG.

Ditinggal suami, saya berbaring di ruang gawat darurat, memeluk perut saya dengan rasa takut yang belum pernah saya rasakan sebelumnya. Malam itu, rasanya saya dapat menimang bayi mungil ini biarpun dipisahkan oleh perut dan rahim. Saya merasa dekat sekali dengannya. Salama menunggu dokter, saya berusaha berbicara kepada si bayi agar dia bertahan. Saya mengusap-usap perut saya berdoa agar Tuhan mendengarkan satu permohonan saya. Dokter tiba sejam kemudian. Melalui USG, terlihat tidak adanya gerakan apa-apa. Dokter menjelaskan dengan lemah lembut bahwa bayi saya telah tiada.

Ucapan dokter seperti hantaman kesedihan yang tak terperi. Saya seperti terjatuh dari tempat yang tinggi, melayang, dan tidak bisa berpegangan dengan apa-apa. Saya masih tidak percaya dengan apa yang dikatakan dokter. Saya melewati seluruh malam dalam denial sampai pagi tiba. Saat dokter mengecek untuk memeriksa bukaan saya (bayi harus dilahirkan sehingga saya diberi obat untuk merangsang kontraksi), saya baru tersadar. Ini riil. Ini nyata. Ini benar. Saya kehilangan bayi saya.

Saya baru menangis. Menangis sampai lama sekali, meratapi kehilangan saya. Sementara di sekeliling saya ibu-ibu hamil 9 bulan yang menjerit-jerit kesakitan sepanjang malam telah dipindahkan ke ruangannya masing-masing karena bayinya lahir dengan selamat. Saya datang dengan perut besar dan akan pulang dengan tangan hampa. Saya kehilangan bayi saya.

Mungkin ini adalah topik yang terlalu pahit untuk para ibu yang sedang merenda harapan dan cinta atas nama kehamilan dan bayinya yang baru saja dilahirkan. Tapi semoga tidak ada kata terlalu pahit karena kita akan diingatkan seorang ibu juga adalah seorang manusia. Manusia yang manusiawi, yang rentan dengan kesedihan dan penderitaan.

Sejujurnya kehilangan karena kematian bukan seperti sakit karena penyakit dan sembuh dengan sediakala setelah menenggak obat yang tepat. Kesedihan karena kehilangan tidak dapat disembuhkan oleh apa pun, bahkan dengan waktu. Sepuluh tahun sudah berlalu, tapi saya selalu mengingat peristiwa malam itu seakan-akan kejadiannya baru kemarin. Saya masih merasakan hangat perut saya ketika saya mendekapnya. Saya masih merasakan wajah bayi saya seperti baru kemarin saya menimangnya. Bulan November adalah bulan bayi saya. Saya akan menghabiskan tiap malam memikirkannya, memasang lilin untuknya, dan berdoa agar dia selalu bahagia di mana pun dia berada.

Para ibu yang mengalami kesulitan hamil atau melanjutkan kehamilannya yang beresiko tinggi karena ACA, hati saya terbang kepada kalian semua. Saya tahu, sungguh susah menjadi hamil dan cemas setiap menit sementara kehamilan bagi perempuan lain tampaknya menyenangkan dan menjadi sumber kebahagiaan keluarga. Percayalah, saya juga seperti itu. Kehamilan selanjutnya (tiga kali lagi, satu kali keguguran, dan dua berhasil, melahirkan dua bayi yang sekarang sudah besar Elysa, 8 tahun dan Catrina, 4 tahun) sungguh merupakan pertempuran dan perjuangan saya dengan maut. Para ibu, jangan takut. Pasangan selalu bisa membantu, tapi kesedihan seorang ibu tidak bisa dihayati oleh siapa pun kecuali mereka yang pernah atau sedang menjadi ibu.

Peristiwa kehilangan mengajarkan saya untuk ikhlas dan menyerahkan semuanya di tangan Tuhan. Serincinya kita merancang masa depan untuk anak tersayang, sebaiknya kita juga merelakan satu lubang agar takdir ikut campur di dalamnya. Melepaskan bukan berarti tidak mencintai, tapi melepaskan terkadang menjadi bentuk cinta tertinggi yang bisa diberikan oleh seorang bunda kepada anaknya.

urban mamas, silakan ikuti diskusi tentang ACA di sini dan simak apa kata dr. Riyana Kadarsari, SpOG tentang ACA dan keguguran.

*image from http://www.sxc.hu/photo/517549

41 Comments

  1. winD
    Winda Deftiani January 20, 2010 at 4:02 am

    mbak Clara…makasih untuk kisahnya.saya tak kuasa menitikkan air mata.

  2. sLesTa
    shinta lestari January 20, 2010 at 6:31 am

    mbak Clara, thanks for sharing! sebagai ibu, saya gak kuasa utk tidak menitikkan air mata membaca cerita ini. gak kebayang rasanya apa yg dialamin mbak clara… my heart goes with you and all moms out there with the same loss.

  3. mama kinar
    mama kinar January 20, 2010 at 7:04 am

    mbak clara, sedih banget baca artikel ini. huhuhuhu… langsung peluk kinar deh. ga kebayang apa yang pernah mbak clara alami.
    turut berduka cita ya mbak… dan juga untuk semua mama yang mengalami hal yang sama dengan mbak clara. stay strong.

  4. kucing penidur
    kucing penidur January 20, 2010 at 7:04 am

    Nangis bacanya hikzz :(

  5. Mommika
    Mommika January 20, 2010 at 7:27 am

    Mba Clara and other mommies yg pernah kehilangan anak / calon anaknya, my heart goes with you.
    Walaupun saya blm pernah merasakan apa yang kalian rasakan, tapi saya tahu kalau tidak ada yang bisa menggantikan anak saya di hati saya.
    Dan mulai sekarang saya nggak akan menganggap remeh ibu hamil yang panik karena bayinya tdk bergerak.

  6. diannyakakak
    Dian Prihatini January 20, 2010 at 7:30 am

    “tapi kesedihan seorang ibu tidak bisa dihayati oleh siapa pun kecuali mereka yang pernah atau sedang menjadi ibu”

    hiks…bener banget mba Clara. Thanks for sharing, hugs for mamas lainnya jg yang pernah mengalami hal ini.

  7. nazla
    Nazla Luthfiah January 20, 2010 at 8:09 am

    Cerita sedih yg diceritakan dgn indah. Mba clara, thx for sharing..

  8. dhira rahman
    dhira rahman January 20, 2010 at 8:15 am

    Ms. Clara Ng, one of my fave writer :)
    Tak ada kata yang bisa saya ungkapkan atas kesedihan ini.. Semoga si kecil yang telah berpulang menjadi malaikat yang akan menyambut kedatangan anda dipintu surga kelak.

    Salah seorang mommy (@wenty) baru saja berpulang karena perdarahan plasenta dan ACA, membuat kita makin merasakan kesedihannya..
    Nampaknya kita harus aware dan mendalami seluk beluk ACA supaya lebih mengerti..

    Thanks for sharing, Ms. Clara Ng

  9. eryka
    Eryka January 20, 2010 at 8:19 am

    Mba clara… Turut berduka… Thanks for sharing dan mengingatkan bahwa ibu adalah manusia biasa yang rentan dengan kesedihan… Semoga kita semua sebagai ibu atau calon ibu diberikan kekuatan selalu untuk menjalani hari2 merawat anak2 kita.. Dan benar apapun yang kita rencanakan hasil akhir pasrahkan kepada Tuhan.

  10. otty
    Pangastuti Sri Handayani January 20, 2010 at 8:37 am

    TFS ya mbak… Saya menangis membacanya, dan langsung kangen banget sama anak yang ada di rumah. Saya ga bisa membayangkan bagaimana rasanya, tapi doa saya berikan untuk mbak dan semua ibu yang pernah merasakan hal ini.

  11. Adhiati
    Ati January 20, 2010 at 8:39 am

    huhu so touching… my heart definitely goes with you.
    I have never heard of ACA before.. thanks for sharing mba Clara.

  12. cacamom
    Vanda Hamim January 20, 2010 at 8:51 am

    Mbak Clara..Aku kehilangan anak pertama-ku juga krn ACA, apa yang mbak Clara ceritain sama persis sama yg aku alami..hari pada saat anak-ku divonis sdh tidak bernyawa lagi dlm perutku, aku berusaha denial..sampai 2 hari aku bertahan gak mau ngeluarin dia..apalagi waktu itu umur kehamilanku baru 4 bulan, dan aku sdg amat sangat bahagia dengan kehamilanku..
    Tapi pasti semua terjadi karena suatu alasan ya mbak..dan alasan yang bisa aku terima krn kejadian itu..Tuhan sedang menguji kedewasaan-ku menjadi seorang ibu dan untuk lebih mengerti ttg makna ikhlas..Alhamdullilah setelah tahu penyebab keguguran-ku krn ACA, kehamilanku selanjutnya dapat berjalan dengan baik, krn saat tau hamil lagi hal inilah yang pertama kali aku bicarakan ke dokter kandunganku..dan saat ini aku sangat amat berbahagia dengan hadiah dari tuhan 2 anak yg sehat, lucu dan Insya Allah akan selalu membahagiakan-ku..

  13. Brenda
    Brenda January 20, 2010 at 9:01 am

    Thanks for sharing mbak, sedih banget bacanya mata sampai berkaca2…

  14. G-Mom
    Indah Kurniawaty January 20, 2010 at 9:03 am

    Thanks for sharing, Mbak Clara.
    Saya sebagai seorang ibu turut sedih membaca kisah ibu yang harus melepaskan anaknya.
    Semoga kisah ini bisa menjadi hikmah buat kita semua

  15. nyanya
    almaviva landjanun January 20, 2010 at 9:12 am

    Terharuuu.Langsung pengen peluk babyku yg di dlm perut.TFS mba Clara.

  16. rooslain
    Rosi January 20, 2010 at 9:15 am

    Beautiful sad story. Thanks Ms. Clara Ng. This will make me love my unborn child even more :) God bless every mother who lost her child in this world.

  17. Medy
    medy January 20, 2010 at 9:30 am

    Mba Clara..jadi nangis bacanya. Ketika air ketuban saya pecah dan dokter ga datang2, saya pun dihinggapi ketakutan yg luar biasa. Berdoa sepanjang malam,memohon agar bayi saya selamat dan sehat. So I know the pain of fear..walaupun akhir cerita kita berbeda.

    Thanks for sharing mba..Doa saya untuk mba dan para ibu yang merasakan hal yg sama…

  18. Alderina
    Alderina Gracia January 20, 2010 at 9:38 am

    :’(

    Sedih bacanya. Bener banget, semua yang kita rencanakan bisa berubah karena yang punya hidup kita ini Tuhan.

  19. Rzk
    Rzk January 20, 2010 at 9:51 am

    Dear Mba Clara..kisah ini menyadarkanqu untuk lebih rela dan ikhlas melepas apa yang belum sempat kita miliki. Mengetahui bahwa aq keguguran dan kehilangan janin berumur 6 minggu saja sudah sedih sekali..apalagi harus mengalami hal seperti mba clara..semua harus kita pasrahkan pada yg kuasa..aq percaya semua akan indah pada waktunya..Thx for sharing this story with us..

  20. fitri7878
    Fitria Yasmin January 20, 2010 at 10:02 am

    Very touching story, Mbak Clara.. Membacanya jadi ikut merasakan kesedihannya ..Thank you for sharing ..

  21. metariza
    Meta January 20, 2010 at 10:53 am

    Mbak Clara, ga bisa nahan tangis baca ceritanya.. salah satu temen deketku lg deg2an nunggu hasil tes darahnya sehubungan dgn ACA. Semoga temenku dan semua expecting mom diberikan yg terbaik…amin

  22. agis
    agis January 20, 2010 at 11:11 am

    thanx 4 sharing, mbak clara…

    saya jg bisa merasakan apa yg mbak rasakan..
    deep condolences 4 u…
    skrg saya jd aware soal ACA..

  23. January 20, 2010 at 12:11 pm

    sama ama yang lain… waktu pertama baca artikelnya mbak clara ini, aku nangis… sedih banget. dan at the same time, bersyukur kalo aku ga ngalamin problem seperti ini (ACA, dan losses). tiba2, hal2 seperti tadinya mo lahiran normal, tapi ternyata mesti ceasar, atau kecewa karena ASI ga keluar, seperti ga sebanding ama cerita losses seperti ini…

    terima kasih ya udah share ceritanya… it really put my issues and problems into perspective.

  24. ipeh
    Musdalifa Anas January 20, 2010 at 12:48 pm

    Sedih dan terharu. Thanks ya mom atas sharingnya. *sambil peluk hangat Lanaku

  25. MammaMia
    Mia Kartina Salim January 20, 2010 at 1:08 pm

    Thank you for sharing, mbak Clara. Saat hamil pertama saya sempat ada ACA. Beruntung masalah itu ditangani dari awal pregnancy dan sehingga anak pertama saya lahir selamat dan kini sudah berumur 6 tahun.

    Big hug and two thumbs up for you! You’re a fighter.

  26. ninit
    ninit yunita January 20, 2010 at 2:23 pm

    mbak clara… baca artikel ini beneran nangis deh :( ga sanggup ngebayanginnya. sedih. terus terang saya baru tau ttg ACA ini baca thread di forum TUM yang dikisahkan doddy ttg istrinya yg juga ACA.

    tfs ya mbak…

  27. riandiani
    ria andiani January 20, 2010 at 3:02 pm

    mbak Clara,

    Temen2 kantor saya kebingungan liat saya tiba2 nangis.Sedih banget bacanya…
    Thanks for sharing mbak

  28. bundadiba
    Ann Sjamsu January 20, 2010 at 3:07 pm

    Mba Clara…thanx for sharing ya mba, I can’t help but shed some tears reading this..I can relate to how you feel, saya juga sempat merasakan hal yg mirip, saya kehilangan baby pertama saya pas usianya baru 6 minggu dalam kandungan, itu aja udah sedih luar biasa. My prayers are with you mba. Btw, thank’s for replying my email ya mba…Dibaku cintaaaaa banget ama buku2nya tante Clara nih

  29. mama riguel
    Ketty Darmadjaya January 20, 2010 at 3:55 pm

    Mbak Clara…
    saya salah satu pengagum tulisan mbak, dan saya mengkoleksi semua buku2nya :)
    membaca artikel ini membuat saya jadi terharu, bagaimana seorang ibu memperjuangkan segalanya demi anak, itulah satu bukti cinta yang tanpa pamrih
    Saya pun menderita ACA, dan kehamilan anak pertama sempat harus disuntik 2 hari sekali.
    Beruntungnya saya kelainan ini dapat terdeteksi jauhsebelum saya hamil sehingga saya bisa mempersiapkan dengan matang. Kini anak-anak saya sudah mulai besar (7 tahun dan 3,5 tahun), walaupun saya masih kerap merasa pusing, pegal dan semutan, bahkan masih sering mengkonsumsi obat-obatannya.
    2 tahun yang lalu kakak sepupu saya pun meninggal karena pendarahan, tepat di meja operasi ketika usia bayi baru 4 bulan dan rahimnya harus diangkat. Sungguh menyedihkan memang, tapi kita sebagai ibu harus tetap kuat dan berusaha serta ikhlas seperti kata mbak.
    Kita boleh berencana tapi Tuhan yang menentukan.
    Semoga anak mbak menjadi malaikat yang selalu menjaga adik2nya :)

  30. clara_ng
    clara_ng January 20, 2010 at 3:55 pm

    Dear all,
    terima kasih buat komen-komennya. Terharu jadinya. Saya menyadari betapa pentingnya saya berbicara seperti ini kepada para ibu agar menyadari pentingnya mengetahui informasi ACA ketika saya berada di rumah sakit mengantar sahabat saya.

    Di lab, duduk seorang ibu di kursi dorong. Karena bosan menunggu, saya sapa ibu tersebut. Mengobrol sana sini, ibu itu tiba-tiba curhat kepada saya tentang kondisinya. Dia sedang hamil 5 bulan dan D-Dimer-nya (kekentalan darahnya) sangat tinggi. Dia menangis merasa cemas dan was-was. Saya duduk diam di sampingnya, tidak kuasa menahan rasa simpati yang bergelombang tinggi. Saya memegang tangannya ikut merasa ketakutan yang sama.

    Dia bilang kehadiran saya 10 menit di sana mententramkan hatinya karena saya pernah melewati apa yang dia lewati. Saya berikan kartu nama saya kepadanya saat saya harus pulang. Saya katakan jika dia membutuhkan teman, saya hanya sebatas telepon.

    Tuhan memang mempunyai jalan untuk semuanya. Mungkin di tempat ini kita bisa sharing dan saling menguatkan tentang bahaya ACA bagi ibu dan bayi yang sedang di kandungnya.

    Para moms yang sedang hamil apalagi moms yang memiliki ACA, semoga kehamilan dan persalinannya berjalan lancar. Selama itu, apabila butuh sesuatu, dukungan hati atau pertanyaan apapun, silakan hubungi saya langsung lewat twitter (id: clara_ng) atau email [email protected]

    :)

  31. shinantya
    Shinantya Prijomustiko January 21, 2010 at 1:26 am

    mbak clara, sorry for your lost and thank you for sharing.

    saya juga mau sharing nih. sebelum nikah saya pernah punya kista endometriosis di indung telur sehingga dioperasi. abis operasi darah kotornya kering, sehingga gak bisa keluar. sehingga menimbulkan radang dan bekas operasi mesti dijahit ulang. kata dokter internis saya, saya punya kecenderungan pengentalan darah, sehingga tiap hari saya disuntik cairan pengencer darah. saya tidak tau itu termasuk ACA atau bukan.

    pada waktu saya hamil kira-kira 4 bulan, saya bilang sama dokter kandungan saya. jadi cek darahlah saya. syukurlah ternyata hasil lab saya baik-baik saja.

    sebagai ibu, kita harus waspada dan cari informasi tentang segala hal. tidak banyak juga yang tau tentang ACA, atau terlambat mengetahuinya.

  32. eka
    Eka Wulandari Gobel January 21, 2010 at 9:25 am

    mbak clara, saya nangis baca cerita ini. ikut berduka :’(
    tfs mbak..

  33. mamanya_cipa
    nad sar January 21, 2010 at 1:43 pm

    aduh mbak saya sedih sekali membacanya.. baru-baru ini teman kantor saya juga mengalami hal yang sama.. saya dapat membayangkan betapa sedihnya perasaannya..

    tiba-tiba saya jadi ingat anak saya, dan bersyukur betapa mudahnya kehamilan saya dibanding mbak dan teman saya tersebut, dan jadi malu waktu hamil saya banyak mengeluh karena masalah yang kecil seperti mual, tak bisa makan dll…

    tfs mbak…

  34. mamidzana
    Ecaterina Silaen January 21, 2010 at 3:08 pm

    TFS ya mbak..
    gak bisa ngebayangin kalo harus ngejalanin semua yg sdh mbak lewatin. semoga semua ibu dengan ACA tetap semangat ya..

    Eca.

  35. Liz
    Liz January 22, 2010 at 4:11 pm

    Clara, saya acung jempol untuk ketabahan & kekuatan hati kamu.

  36. riansr
    Rianasari January 26, 2010 at 1:45 pm

    :( gak bisa deh ngebayangin gimana sedihnya..
    terima kasih ya, mbak, saya jadi tau mengenai ACA

  37. desan
    desanti January 26, 2010 at 6:02 pm

    sedikit sharing..

    soal d-dimer ini juga sedang saya alami mbak. dari angka normal 500, d-dimer saya 2500! lima kali lipat lebih tinggi!

    kondisi ini baru saya ketahui saat kehamilan bulan ke 8, saat dokter meminta cek darah. sempat ada rasa panik sebelum konsultasi dokter dan hasil lab sudah di tangan.. tapi untunglah kalimat dokter bisa sedikit menenangkan saya.

    saat ini kehamilan saya sudah masuk week 37, semoga saja masalah kekentalan darah ini nggak berlanjut.. dan saya bisa melahirkan bayi saya dengan lancar

    tfs ya mbak clara..

  38. Anthy
    Anthy January 27, 2010 at 12:27 pm

    Mba Clara…aku sudah ngefans sama tulisan anda sejak mengeluarkan Indiana Chronicles…i love ur style..and aku jadi nangiiiiis pas baca tulisan ini..ga se”though” karakter yang mba ciptakan di novel2 sebelumnya..but menerutku, tulisan ini yang palin kemilau, paling jujur dan paling dalam..krn dialami sendiri oleh mba..

    TFS ya mba…

  39. aya
    aya February 26, 2010 at 10:10 pm

    Mba Clara. thanks for sharing
    My deep condolences for you….
    Aku juga baru kehilangan calon baby-ku minggu lalu,
    rasanya berat banget, dan aku ngerasa separuh nyawaku udah ilang waktu dokter bilang janinku udah gak ada…
    Tapi itu nggak bakal bikkin aku nyerah kok mbak, tetep semangat!!!! :)

  40. bunda bear
    bunda bear March 11, 2010 at 3:54 pm

    Mba Clara,
    ada setitik air bening di sudut mataku setelah aku baca ceritamu..
    ngga kebayang sedihnya dan rasa kehilangan yang harus mba rasa. My deep condolences for you, mba clara..walaupun belum sempat terlahir ke dunia, malaikat kecil mba clara pasti sempat merasakan kasih sayang ibunya melalui sapa dan suara ataupun usapan halus di perut dari mba..
    thank u for sharing..
    jadi ga sabar untuk pulang ke rumah dan memeluk malaikat kecilku sendiri..

  41. Bunda_Rasyid
    Bunda_Rasyid November 20, 2011 at 4:14 pm

    Dear mba Clara,

    saya jadi menitikkan air mata membaca tulisan ini, karena saya juga mengalami hal yang serupa, anak yang baru kulahirkan 26 okt lalu hanya sempat kupeluk selama 24 jam saja, 48 jam kemudian menghembuskan nafas karena sesak nafas akibat cairan ketuban yang meracuninya. hingga saat ini aku masih sering menangis kalau teringat olehnya, tatapan matanya, sedih…tapi itulah seperti yang mba tulis loving you means letting you go…ini membuat saya menangis haru karena saya yakin ia akan menjadi malaikat kecilku di syurga..Amin

Post a Comment

You must be logged in to post a comment.