Memerah Asi dengan Menggunakan Breastpump dan Tangan Sekaligus

Sebagai seorang Working Mom (WM) kita harus pandai-pandai mengelola dan membagi waktu agar jadwal memerah ASI tidak terganggu dan pekerjaan di kantor juga tidak terbengkalai. Dari yang pernah saya pelajari di milis yang saya ikuti, semakin sering memerah ASI, semakin banyak produksi ASI. Seiring dengan bertambah dewasanya bayi kita, umumnya produksi ASI mulai menurun. Belum lagi ada beberapa kasus, termasuk saya, di mana setelah kembali haid, produksi ASI pasti terpengaruh tiap bulannya. Tapi bila kita konsisten memerah ASI, Insya Allah produksi ASI akan tetap terjaga kestabilannya, sehingga pemberian ASI tetap bisa terus berlanjut sampai usia anak 2 tahun.


Dengan berpedoman pada pengetahuan tersebut, saya pun menjadwalkan untuk memerah ASI tiap 2 jam sekali di kantor.


Hah? Dua jam sekali? Kapan kerjanya dong?


Pasti itu yang ada di benak para WM, yang sekali memerah ASI membutuhkan waktu setidaknya 30 menit. Dulu saya juga begitu, sebelum akhirnya saya menemukan teknik memerah ASI yang tepat. Teknik ini awalnya saya dapatkan dari sharing teman-teman yang kemudian saya modifikasi sendiri. Saya menggabungkan penggunaan pompa ASI (breastpump) dan memerah dengan tangan secara bersamaan. Sebagai informasi tambahan, justru dengan memerah 2 jam sekali, waktu yang dibutuhkan relatif lebih cepat karena kondisi payudara belum terlalu penuh. Kondisi ini juga akan mempermudah bila kita ingin memerah menggunakan tangan.


Adapun peralatan ASI yang saya bawa ke kantor antara lain:



  • Cooler bag Avent ISIS. Sebenarnya 1 paket dengan breastpump dan botol susunya, tapi karena saya menggunakan breastpump merek lain jadi yang saya bawa hanya cooler bag-nya saja.

  • Ice gel bawaan cooler bag, ada 2 buah berukuran kecil.

  • Ice gel Rubbermaid ukuran sedang. Untuk tambahan supaya lebih dingin dan tahan lama, mengingat waktu tempuh untuk perjalanan pulang kantor minimal 1 jam. Itu pun sudah dengan naik kereta.

  • Breastpump Medela tipe Mini Electric.

  • Botol susu Pigeon untuk menampung ASI (4 – 5 buah).

  • Plastik ziplock untuk menyimpan breastpump.

  • Gelas (milk container) Avent.


Sedangkan peralatan penunjang lainnya yang saya tinggal di kantor antara lain:



Saya memerah di salah satu bilik toilet kantor. Sebenarnya bilik itu berfungsi sebagai kamar mandi, karena ada shower dindingnya, namun tidak pernah dipakai. Jadi saya manfaatkan saja menjadi pumping room buat saya. Saya meminta tolong petugas kebersihan kantor untuk meletakkan sebuah kursi di dalam bilik tersebut dan memintanya untuk tidak memindahkan.


Berikut ini langkah-langkah yang saya lakukan pada waktu memompa sekaligus memerah ASI di “pumping room pribadi” saya di kantor:



  1. Pagi-pagi sampai kantor saya langsung meletakkan cooler bag di balik pintu bilik. Tujuannya agar kalau saya bolak-balik ke keluar ruangan ngga kelihatan banget heboh mau memerah ASI. Jadi kalau lagi meeting pun, saya bisa mencuri waktu untuk memerah ASI dengan alasan ke toilet.

  2. Saat jadwal memerah tiba, saya cuci tangan dulu di toilet sebelum masuk bilik

  3. Masuk bilik langsung buka blazer biar lebih leluasa gerakannya.

  4. Duduk di kursi sambil mempersiapkan peralatan. Jangan lupa juga bawa tissue atau handuk kecil karena kalau memerah pakai tangan suka muncrat ke mana-mana. Letakkan semua peralatan di pangkuan. Hati-hati jangan sampai terjatuh.

  5. Mulai memanggil LDR (let down reflex). Caranya tarik napas, pejamkan mata, sambil baca doa, terus mulai deh puting dikilik-kilik (maafkan pilihan katanya, hehehe).

  6. Tetap rileks, jangan terfokus pada munculnya LDR. Semakin rileks biasanya semakin cepet munculnya LDR. Untuk mempermudah, bayangkan saja lucunya Si Kecil di rumah, biasanya langsung datang LDR.

  7. LDR muncul, ditandai dengan adanya perasaan payudara mengencang tiba-tiba, kemudian aliran ASI mulai menetes deras dari kedua payudara.

  8. Begitu LDR, langsung gunakan breastpump untuk memompa payudara kiri. Tahan breastpump dengan menggunakan siku kiri, sehingga posisi badan agak membungkuk. Dengan demikian tangan kiri bebas dan bisa digunakan untuk memegang gelas menampung tetesan ASI di payudara kanan.

  9. Gunakan momen LDR yang singkat itu untuk memerah PD kanan dengan cepat semampunya. Kalau saya biasanya memerah dalam 10x hitungan cepat, kemudian istirahat 5 hitungan. Begitu seterusnya.

  10. Setelah payudara kiri terlihat mulai sedikit aliran ASI-nya, tukar posisi. Payudara kiri diperah dengan tangan, payudara kanan yang dipompa dengan breastpump.

  11. Lakukan bergantian, 1-2 kali lagi atau sampai kedua payudara benar-benar kosong.

  12. Setelah selesai, masukkan hasil tampungan perahan dari gelas ke dalam botol. Hati-hati jangan sampai tumpah.


Total waktu dari no. 1 – 12 sekitar 7 menit. Setelah selesai, saya langsung ke pantry (dapur) kantor di mana saya menyimpan kettle pemanas air dan sabun Sleek. Sambil menunggu air mendidih, saya mencuci corong breastpump dan gelas Avent. Setelah air mendidih, saya rendam keduanya beberapa menit. Kemudian saya masukkan ke dalam plastik ziplock agar terhindar dari debu atau kotoran. Selesai lah 1 sesi memerah ASI. Dengan cara seperti ini saya bisa menghemat banyak waktu karena saya hanya perlu meninggalkan meja kerja paling lama 15 menit.


Demikian teknik memerah ASI yang saya lakukan sewaktu saya masih bekerja kantoran dulu. Semoga bermanfaat ya, Urban Mamas!


 

37 Comments

  1. avatar
    Ira Soediantoro February 4, 2015 1:45 pm

    jawaban paling perdana di topik ini: tahun 2010!!

    It was almost 5 years ago!
    Mama-ers, yang saya rasakan sekarang dalam hal menyusui, ASi, pumping dan per-ASIA-lainnya. Saat ini sangat jauuuh lebih mudah dibanding jaman anak saya yang pertama.Dia lahiran 4 Oktober 2007. Jaman itu di Surabaya yang namanya IMD, rooming in dan menyusui (ASI)bukanlah topik yang biasa dibicarakan diantara kami sesama Ibu hamil baik di kantor,dengan tetangga maupun keluarga besar. Makanya itu, setelah back to work... wuaaah tantangannya juga,makin beraaat banget!!

    TAPI ITU SEMUA ADALAH MASA LALU.
    Semua pengalaman buruk di atas, bikin saya bertekan sekeras baja untuk TIDAK MAU GAGAL (lagi). Termasuk sekarang di tempat kerja, saya pumping sambil menguji mahasiswa percis bersebelahan dengan Dekan. Di lain hari, saya pumping sambil jalan-jalan di mall bersama keluarga kecil saya. Modalnya pake apron menyusui dan BP elektrik Sprectra 9+. Saya milih BP ini karena double pump (meskipun jarang dipake double, karena sering banget pumping sambil makan,pumping sambil baca tugas2nya mahasiswa, pumping sambil shopping on line, sambil baca TUM dll), batrenya bisa di charge,spare-partnya banyak_gampang diperoleh,ringan ditenteng dan ringan dikantong dibanding BP yang sejenis laen merk (Medela maksudnya..)

    SETUJU banget dengan Mama Femin, ada UU yang menjamin 'kemerdekaan' ibu menyusui untuk tetap bisa menunaikan tugas mulianya, sekalipun di tempat kerja yang full laki-laki.

    Para Mama, klo dulu ada milis Asiforbaby yang dijadikan sumber dari segala sumber informasi oleh para mommies untuk ngerti tentang seluk beluk_ASi dan menyusui dkk-nya, sekarang hayu gabung sama grup AOSIASI IBU MENYUSUI INDONESIA, di FB atau follow di Twitter.

    Enggak ada istilah enggak bisa menyusui/pumping karena inih-ituh!yang akhirnya bikin gala menyusui!

    Itu prinsip saya sekarang, saya mau sukses menyusui sd. baby umur 2tahun (sekarang masih 4M3W) dan mengakhiri dengan Weaning with love.

    1. avatar

      As .



  2. avatar
    femin October 14, 2013 4:24 pm

    Dear Corafemme,
    Kalau aku sih biasanya pumping, max 10-15 menit per 2-3 jam. Ini karena saya menggunakan double pump, tetapi lama waktu perah juga tergantung pada alat dan teknik yang digunakan si ibu untuk memerah ASI, DSA anak saya menyarankan pumping max. 30 menit per 2 jam. Memerah ASI di tempat kerja juga sudah di lindungi UU oleh pemerintah :)

    1. avatar

      As .



  3. avatar
    corafemme July 4, 2013 6:40 pm

    Hai Mba Devin dan Urban Mama-ers,salam kenal :)

    saya kebetulan mengGoogle dan melihat artikel ini dan ternyata tips nya sangat menarik.

    Adalah benar kenyataan bagi beberapa supervisor, meninggalkan pekerjaan untuk breastpumping apalagi dengan waktu yang lama akan terlihat tidak baik di mata atasan-atasan lainnya.

    Saya mau bertanya beberapa hal, sebelum dicap Suuzon oleh staff saya yang memang sekarang sedang dalam masa pemberian ASI xklusif dengan cara breastpumping :D

    yang saya mau tanya adalah sebenarnya waktu yang dibutuhkan untuk breastpumping berapa lama yah? dikarenakan staff saya sekali meminta ijin untuk breastpumping itu memakan waktu minimum 1 jam, bahkan sampai 1,5 jam :( (dan ketika ditanya oleh atasan saya, jujur, saya bingung harus menjawab apa :()

    sedangkan kami bekerja di lantai dasar dan ruangan untuk pumping hanya di lantai 2.

    Mohon info, advise dan suggestion dari Mba Devina & Urban Mamaers lainnya.

    Terima kasih

    1. avatar

      As .



  4. avatar
    Chairunisa June 28, 2013 2:51 pm

    kereeeen *wush wush, iket kepala*

    1. avatar

      As .



  5. avatar
    mandalynn December 1, 2011 2:39 am

    wah salut buat tipsnya mba devina :)

    aku slama ini cmn tergantung sama breastpump electricnya avent klo merah di kantor (secara ga berisik, jdnya aman hihi)

    nanti mo dicoba ah tipsnya, makasih ya mbak dan doain saya berhasil ;)

    1. avatar

      As .



Post a Comment

You must be logged in to post a comment.