Memulai Perencanaan Rumah

erlina_erlina
Erlina Anastasia, ST Lulusan dari Departemen Arsitektur ITB. Pernah bergabung di sebuah studio penulisan arsitektur terkenal di Jakarta. Kini kesibukannya mengurus ketiga putrinya sambil terus menulis, mengerjakan beberapa architecture project dan juga berbisnis. Buku terbaru yang ditulisnya secara mandiri adalah 20 Desain Salon Rumahan yang diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama.
Website: http://ibuarsitek.blogspot.com/
Have question for our experts ?
Feel free to ask them here!

Saat ini mungkin banyak urban Mama Papa yang sedang berencana membeli, membuat, atau merenovasi hunian. Maklumlah inilah kali pertama kita mempunyai hunian secara mandiri. Rasanya pasti semangat sekali punya rumah sendiri. Mau diapakan juga rumah itu kelak terserah kita! Wah senangnyaa!

Namun jangan salah justru banyak teman saya yang malah pusing karena bingung mau mulai dari mana. No worries Mama Papa, artikel pertama saya di The Urban Mama akan mengupas langkah-langkah apa yang sebaiknya dilakukan ketika Anda berencana membuat atau merenovasi rumah (tips membeli rumah mungkin akan dibahas di lain kesempatan ya).

1. Siapkan Budget Pembangunan
Jangan salah! Biaya membuat rumah dari nol dengan merenovasi biasanya tidak jauh beda. Malah kadang kala untuk beberapa kasus biaya renovasi rumah malah lebih besar dari membangunnya. Untuk saat ini harga per meter persegi untuk pembangunan rumah di wilayah DKI Jakarta dan sekitarnya minimal sebesar Rp 3.000.000,- Nah, jika urban Mama Papa berencana membuat rumah seluas 150 m² misalnya, biaya yang dibutuhkan adalah sekitar Rp
450.000.000,-

2. Hubungi Arsitek untuk Membantu Anda Mewujudkan Desain Rumah Idaman
Sama halnya ketika Mama Papa membutuhkan payung hukum atau membutuhkan bantuan pengobatan medis, seorang profesional seperti Pengacara atau Dokter adalah orang yang tepat untuk diminta jasanya.

Profesi Arsitek di Indonesia mungkin belum sepopuler profesi lain, namun kini hal ini berkembang ke arah yang lebih baik. Semakin banyak yang secara sadar sudah memanfaatkan jasa Arsitek saat membutuhkan bantuan dalam proses desain (khususnya ketika membangun atau merenovasi rumah). Urban Mama Papa dapat mengakses website IAI (Ikatan Arsitek Indonesia) yang cabangnya tersebar di hampir seluruh propinsi di Indonesia. IAI Jakarta dapat diakses di www.iai-jakarta.org, sedangkan IAI Nasional dapat diakses di www.iai.or.id.

Siapapun Arsitek yang Anda minta jasanya sebaiknya ‘nyambung’ dengan Anda. Proses desain adalah proses yang cukup panjang dan sepanjang proses itulah Arsitek bekerja menuangkan ide dan mencoba menerjemahkannya dalam gambar perancangan juga melakukan pengawasan di lapangan. So, hargailah profesi ini, jangan terbujuk iklan atau fee murah meriah saja atau pasrah menyerahkan desain pembangunan rumah pada tukang bangunan langganan Anda tanpa didampingi Arsitek. Urban Mama Papa dapat memperoleh gambaran mengenai fee arsitek di website resmi IAI.

3. Siapkan Dokumen Perizinan Pembangunan Rumah
Membangun rumah atau melaksanakan renovasi besar tentu saja memerlukan surat izin yang harus diurus. Kalau Anda tinggal di apartemen, konsultasikan dengan pengelola setempat mengenai hal ini.

4. Berdiskusilah Panjang Lebar dengan Arsitek
Jangan ragu untuk berdiskusi dengan arsitek Anda mengenai segala hal yang Anda inginkan demi terwujudnya hunian idaman.

Apa saja ruang yang dibutuhkan, susun rencana anggaran biaya (RAB) yang disesuakan dengan budget di poin 1 tadi, kapan waktu yang tepat untuk memulai proyek dan kapan pula tenggat waktu proyek harus selesai, apa pembangunan dapat dilaksanakan secara bertahap, sampai style atau garis desain yang ingin Anda terapkan pada hunian baik dari segi arsitektur maupun sentuhan interiornya kelak. Kendali anggaran ada di tangan Anda. Patuhi angka-angka yang tertulis di RAB (Rencana Anggaran Biaya) tadi. Sebagai informasi, RAB berisi perhitungan detail mengenai harga seluruh elemen pekerjaan dari mulai pembersihan lahan saat akan memulai pembangunan sampai penentuan jenis penutup atap rumah, juga mengenai biaya pekerja di lapangan dan lain-lain. Sekali dilanggar, anggaran bisa bengkak.

5. Kumpulkan Berbagai Referensi
Yuk mulai kumpulkan berbagai referensi yang menunjang ide Anda, entah itu dari website, majalah, katalog, anything! Hal ini bisa membantu banyak loh. Buku-buku mengenai Arsitektur maupun Interior lokal maupun import kini mudah didapatkan di toko-toko buku. Di internet juga bertebaran website maupun blog yang membahas hal ini. Jangan lupa kita hidup dan tinggal di negara tropis yang notabene berbeda penerapan desainnya dengan negara di iklim lain. Dengan membuat desain yang kontekstual, maintenance rumah bisa diminimalkan.

Selamat mewujudkan rumah idaman, urban Mama Papa!

16 Comments

  1. sherly inababy
    sherly inababy January 21, 2013 at 1:17 am

    pas banget artikelnya, rencana aku dan suami memang ingin cari rumah second tahun depan. dan betul banget cari arsitek memang cocok2an, mesti ‘nyambung’ dan dapet dulu chemistry-nya ;)
    TFS Mom

  2. eka
    Eka Wulandari Gobel January 21, 2013 at 1:44 am

    erlina, terima kasih infonya, lengkap sekali. pasti berguna bagi para urban mama papa yg akan membangun rumah :)

  3. ninit
    ninit yunita January 21, 2013 at 7:12 am

    lenaaa…
    bener banget! senangnya punya rumah sendiri itu bisa diapain semau kita… sesuai selera :)

    tks untuk tipsnya na. jadi tau skrg kisarannya Rp 3jt/m2. sekitar 6-7 thn yg lalu masih 2jt/m2.

  4. erlina_erlina
    Erlina Anastasia January 21, 2013 at 10:35 am

    Senang banget kalau artikelnya bermanfaat mommy-mommy…:)

  5. fanny
    Fanny Hartanti January 21, 2013 at 6:27 pm

    hi erlina, makasih ya infonya.
    pas banget nih timingnya!
    bener banget, kita juga mutusin buat jual rumah lama dan bangun lagi juga karena setelah dihitung-hitung biaya renovasi gak beda jauh dibanding kalau kita bangun dari 0. dan value rumah baru pasti lebih tinggi dari rumah lama yah :)

    TFS!

  6. ipeh
    Musdalifa Anas January 24, 2013 at 3:16 pm

    senang banget baca artikelnya, sekarang lagi siapin budget buat beli rumah dan jadi tahu kisaran harga /meternya. Pernah dengar, mendingan beli rumah bekas trus kita renovasi daripada beli rumah di komplek perumahan yang baru dipasarkan, harganya lebih mahal. Bener ya mbak erlina?

    Tfs ya artikelnya. Ditunggu artikel selanjutnya.

  7. nyonyawendy
    nyonyawendy January 24, 2013 at 11:23 pm

    Coba aku baca artikel seperti ini dari awal 2011 lalu…! Udah keburu kebangun rumahnya. Pengalaman bangun rumah pertamaku bener-bener unforgettable experience deh! Cape, sedih, seneng..campur aduk, krn ngadepin dan nego sm mandor/tukang cuma berdua doang sama suami itu ternyata gak gampang. Ortu dan mertua hanya tanya sesekali by phone krn di luar kota. Baca artikel ini jadi kepingiin.. kalo ada rejeki bangun rumah sekali lagi semoga bisa lebih well planned! :) Amin

  8. marce febriyanto
    marce febriyanto January 25, 2013 at 6:06 pm

    artikelnya bagus banget,klo kami memilih rumah second tanah luas yg harganya sama ma kompleks perumahan type 21/60 :. buat bekal klo dah mo renovasi :)TFS

  9. erlina_erlina
    Erlina Anastasia January 25, 2013 at 8:22 pm

    @Fanny Hartanti. Kenapa seringkali biaya renovasi lebih mahal dari membangun rumah dari awal? Begini penjelasannya, sebagai ilustrasi bila renovasi cenderung berat (misalnya menambah jumlah lantai dari satu ke dua lantai)otomatis perencanaan struktur rumah harus berubah. Ada penambahan pondasi, penambahan kolom struktur, dan sebagainya. Pada kasus renovasi, tentu saja ada biaya untuk ‘bongkar dan pasang’ belum lagi biaya tukang dan materialnya. Nah, bisa terbayang kan biaya yang harus dikeluarkan. Namun pada kasus renovasi ringan, hal ini bisa dihindari kok. Renovasi juga merupakan salah satu jalan keluar yang baik, asal dilakukan dengan bijak disertai perhitungan yang matang bersama….arsitek Anda:)

  10. erlina_erlina
    Erlina Anastasia January 25, 2013 at 8:31 pm

    @Musdalifa Anas. Harga rumah di perumahan yang dibangun developer harganya bisa melambung jauh salah satunya karena didorong oleh demand yang tinggi. Alasannya macam-macam, misalnya lokasi perumahan yang strategis, akses yang mudah, sampai fasilitas yang komplit. Harganya sekarang ini memang bikin sakit kepala hahaha…Sementara kalau membeli rumah second seperti yang Musdalifa sebutkan, bisa jadi di lokasi lain memang harganya lebih miring. Bahkan dengan luas tanah dan luas bangunan yang lebih besar dari rumah di kompleks perumahan baru yang sedang booming.

  11. erlina_erlina
    Erlina Anastasia January 25, 2013 at 8:44 pm

    @nyonyawendy dan @marce febriyanto. Jangan kapok ya bangun rumah, puas banget kan rasanya pas si rumah impian berdiri. Hasil jerih payah terbayar sudah…hehehe. Lain kali coba deh kerjasama dengan arsitek. Tidak harus dengan arsitek terkenal kok. Kalau ada teman, saudara atau tetangga yang berprofesi sebagai arsitek kan bisa minta jasanya. Bila urban mama-papa ingin mencari informasi tentang para arsitek ini, selain melalui IAI sebagai badan resmi, bisa juga melalui beberapa komunitas seperti Arsitek Muda Indonesia (AMI), jong arsitek , soupchat di Bali, deMaya di Surabaya, dan lain-lain.

  12. eka_sari
    eka_sari January 31, 2013 at 8:18 am

    pas banget mba artikelnya.. makasih yaa.. kebetulan mau bangun ni cuma masih bingung, belum ada arsitek yg klop yaa, nanti coba liat lewat webnya IAI.. btw mba kl permeter kena 5jt, specnya menengah atau udah bagus ya? thanks ya ;)

  13. erlina_erlina
    Erlina Anastasia February 2, 2013 at 12:24 pm

    Hallo @eka_sari. Harga per meter persegi ketika akan membangun rumah sebenarnya dipengaruhi oleh banyak faktor, diantaranya jenis struktur yang digunakan (misalnya jenis pondasi, penggunaan besi, metoda konstruksi plat lantai), jenis dan pilihan material (dari mulai penutup atap sampai penutup dinding serta lantai rumah, lokasi rumah (jauh atau dekat dari penyuplai material, di dalam atau di luar cluster perumahan, sampai keamanan lingkungan setempat), dan masih banyak lagi. Semua hal tersebut pada akhirnya akan berkontribusi mempengaruhi harga pembangunan per meter persegi. Jadi harga Rp 5.000.000,-/m2 akan sangat relatif…di satu pihak bisa mewah, namun mungkin di pihak lain harga tersebut tergolong biasa saja. Sebaiknya tidak selalu terpaku pada angka akhir, namun tentukan saja perimeternya dan sesuaikan dengan kebutuhan, keinginan, dan juga selera masing-masing (siapkan RAB yang detil). Jadi harga minimal membangun rumah di area Jakarta dan sekitarnya sebesar Rp 3.000.000,- yang saya sampaikan di artikel juga bukan merupakan angka mati ya, tapi bisa dijadikan acuan. Semoga penjelasan saya cukup membantu….

  14. d14N
    d14N May 13, 2013 at 3:11 pm

    nice sharing mba.. kasus aku lain lagi mba , saat ini kami berencana untuk membeli rumah baru, krn rumah yg kami tempati skrg dr segi lingkungan mulai berasa ga nyaman dari segi lingkungannya, kepengen perubahan yg lebih baik berencana ingin membeli rumah baru , lokasinya di lihat dr brosur developer dan survey suami saya sepertinya lahan/ tanah nya timbunan hutan bakau, jarak perumahan nantinya 1 km dr laut. saya tinggal dibatam yg memang dikelilingi laut. saat ini disekitar perumahan baru yang kami ingini itu banyak dibangun perumahan,pasar, ruko,kios, dll krn katanya 3-4 thn kedepan akan dibangun jalan raya untuk akses ke pusat kota batam , kami mempertimbangkan program jangka panjang itu,krn klw dihitung msh termasuk lowprice dibanding lokasi lainnya. Nah mbaaa kami masih ragu memutuskan mengingat lahan nya adalah timbunan rawa bakau, sebenernya lahan yg bagus u/ membangun rumah itu lahan yang sperti apa ? terimakasih mba atas jawabannya

  15. gabe1981
    Seymour Magabe September 30, 2013 at 1:45 pm

    mbak, sekalian dong bikin artikel tentang pedoman praktis bikin budgetnya :)

  16. si.ferli
    si.ferli November 14, 2014 at 12:08 pm

    kami lagi ada rencana buat bangun rumah nih mom, kumpulan design rumah atau mau seperti apa rumahnya kurang lebih sudah banyak terkumpul, yang belum terkumpul itu duitnya hehehe

    btw maaf jika melenceng, jadi tanah kami itu di jadikan tempat sampah oleh warga sekitar yg tdk bertanggungjawab, sudah menggunung, sudah lapor RT/RW yo masih tetap begitu, di pagar kayu *sementara* tetap masih nekat, sekali waktu ditungguin sama bapak mertua sampe malem dia nongkrong disitu, ga ada yang berani buang sampah disana.

    Pertanyaannya, apakan nanti akan berimbas dengan kualitas air yang akan kami pakai nanti jika sudah kami bangun rumah?
    sekali lagi maaf jika OOT

Post a Comment

You must be logged in to post a comment.