Menaklukkan GTM

annisa karnadi

Beberapa hari yang lalu kami mengajak Faiz (3 tahun 4bulan) berkunjung ke rumah saudara. Budhe memberikan pujian betapa lahapnya Faiz makan saat melihatnya menghabiskan semangkuk sayur sop tanpa pilah-pilih. Saya pun tersenyum dan mendadak ingat kejadian beberapa waktu yang lalu.

Sejak bayi, Faiz tergolong mudah makan. Saat mulai memberikan MPASI di umur 6 bulan, saya tidak mengalami kesulitan sama sekali. Semua makanan masuk, berat badannya pun melegakan hati karena berada di kurva hijau growth chart KMS. Di saat yang sama, sering saya dengar keluhan ada anak yang susah makan dan berpikir bahwa hal ini tidak akan mungkin terjadi pada Faiz.

Ternyata hal tersebut datang setelah Faiz lancar berjalan dan malas makan di rumah. Ibu pengasuh yang membantu menjaga Faiz pun sempat berinisiatif menyuapi Faiz sambil jalan-jalan. Saat itu saya iya-kan saja daripada pusing sendiri. Akhirnya Faiz memulai fase makan-keliling-kompleks dan terkenal diantara tetangga karena lahap makannya saat makan sambil jalan-jalan.

Akhirnya hal yang paling saya takutkan terjadi juga. Pengasuh mendadak resign di saat Faiz berumur 18 bulan. Kelabakan pastinya. Banyak rutinitas yang kacau tetapi semua bisa teratasi kecuali kebiasaan makan Faiz. Faiz jadi susah makan alias GTM (gerakan tutup mulut). Setiap akan makan pasti ada ‘perang’ tarik ulur. Hingga akhirnya selama sebulan dia hanya mau makan cake, bolu, biskuit, susu dan jus. Olahan nasi, mie, bihun, kentang, pasta semua ditolak. Bahkan brokoli dan wortel yang dulu favoritnya pun tidak mau sama sekali. Ditambah lagi Faiz hanya mau makan sambil jalan-jalan seputar kompleks, itupun di bawah ancaman kalau tidak buka mulut nanti Ummi bawa pulang.

Sementara itu semua orang yang saya kenal bilang, “Ya sudah nggak apa-apa disuapin aja muter kompleks. Biar nggak makan yang penting masih mau minum susu. Masih mending tuh mau kemasukan kue daripada tidak kemasukan makanan…” yang intinya memberikan pembenaran terhadap kondisi Faiz. Saya sendiri tentu gelisah dengan pola makan Faiz. Tidak bisa terus seperti ini, bukan? Haruskah makan itu sambil jalan-jalan? Haruskah menyerah dengan mengglonggong minum susu saja?

Setelah stabil menata hidup tanpa asisten rumah tangga lagi, saya putuskan untuk menata-ulang pola makan Faiz. Dimulai dengan rajin mencari info tentang pola makan anak dari buku, website, dan blog.

Ternyata picky eater dan malas makan ini adalah problem klasik anak-anak. Statistik menunjukkan bahwa 1 dari 5 anak mulai menunjukkan gejala susah makan di umur 15 bulan dan separuh balita mengalaminya. Hal ini biasanya dimulai ketika anak berumur 1- 3 tahun dengan masa paling parah saat anak umur 2 tahun. Ada masa di mana anak hanya mau makan satu jenis makanan saja dan mendadak tidak suka melahap makanan tersebut. Ini terjadi pada banyak anak, baik yang diberi ASI maupun susu formula.

Yang bisa disimpulkan dari beberapa info yang saya dapatkan, penyebab anak mendadak susah makan antara lain adalah:

  • Setelah melewati usia 12 bulan, tubuh anak tumbuh tidak sepesat saat berumur 0 – 12 bulan sehingga tubuhnya memerlukan lebih sedikit makanan dan akibatnya menjadi kurang tertarik makan.
  • Anak cenderung waspada terhadap sesuatu yang baru, termasuk dengan makanan. Anak butuh waktu untuk mengeksplorasi warna, tekstur dan rasa makanan hingga dia merasa makanan tersebut aman untuk dimakan.
  • Anak adalah manusia yang sangat sibuk, baginya ‘makan’ adalah kegiatan yang akan menunda aktivitas eksplorasinya.
  • Anak adalah penguasa kecil yang mulai menunjukkan dan menguji kemampuannya menguasai sesuatu; sesi makan adalah salah satu hal pertama yang ingin dia tunjukkan “kekuasaannya” dengan memilih dan memilah makanan yang akan dimakan.
  • Beberapa hal yang bisa menyebabkan anak malas makan antara lain adalah saat anak sakit, kecapekan atau kelelahan, serta saat anak sedih.

Sebagai orangtua, wajar kalau khawatir saat anak tidak mau makan. Orangtua mana yang tidak khawatir. Dari yang saya baca, meskipun kadang anak susah makan tetapi biasanya ini hanya sementara dan pada waktu-waktu berikutnya anak akan mulai makan lagi. Beberapa tips yang saya dapatkan untuk membuat anak memiliki pola makan yang sehat antara lain adalah:

  • Manfaatkan si penguasa kecil ini untuk ikut memilih makanannya dengan mengajaknya berbelanja bahan makanan.
  • Libatkan anak untuk ikut membantu memasak atau menyiapkan makanannya.
  • Anak suka bingung memilih, maka sebaiknya ibu mengambil inisiatif untuk menawarkan pilihan makanan yang sehat.
  • Ciptakan kebiasaan makan yang teratur bersama anggota keluarga yang lain.
  • Tawarkan menu makanan yang sama dengan anggota keluarga yang lain.
  • Orangtua memberikan contoh ‘makan yang baik’.
  • Ciptakan suasana makan yang menyenangkan. Ini yang juga menantang ya, untuk tidak memaksa, memarahi dan membuat sesi makan sebagai ajang ‘perang’ atas nama makanan.
  • Tawarkan makanan baru secara bertahap: porsi kecil terlebih dahulu, disertai makanan yang sudah biasa anak makan dan sajikan dalam bentuk menarik.
  • Hargai pilihan anak, namun bukan berarti menuruti semua pilihannya apalagi untuk makanan yang tidak sehat.
  • Ajak anak melakukan aktivitas di luar ruangan.

Yang saya lakukan justru bertolak belakang dengan saran orang-orang sekitar. Alih-alih mengajak jalan-jalan, saya mengkondisikan Faiz untuk makan di rumah. Konsumsi susu dan jus pun dibatasi dulu. Dalam sehari, susu cukup 500 ml dan jus cukup 250 ml sehari. Saya membuat kesepakatan jadwal makan pagi, makan siang dan makan malam serta camilan pagi dan sore yang teratur. Adapun poin tips nomor 1 dan 2 tidak berjalan untuk Faiz.

Suatu hari Faiz tantrum karena mau makan camilan kue melebihi jatahnya padahal ia tidak makan siang sesuai kesepakatan kami. Untuk tantrum ini, saya coba solusi lama yang kini ternyata manjur untuk Faiz: ajak main ke taman dan lapangan. Tantrum pun berakhir setelah Faiz berlarian, memanjat perosotan dan bermain bersama teman-teman sebayanya. Sampai akhirnya Faiz haus dan kecapekan lalu minta pulang. Sampai rumah langsung diberi air putih, sepiring buncis dan wortel rebus. Ternyata habis seketika!

Ummi-nya Faiz ini pun merayu Abi untuk beli meja makan mungil sehingga kami bisa duduk bersama saat makan. Setelah tiga hari, akhirnya Faiz mulai makan nasi dan lauk abon dan telor ceplok favoritnya sambil duduk manis di meja makan.

Sekarang kami senang makan bersama sekeluarga. Melihat Ummi dan Abinya makan sayur-mayur membuat Faiz juga ikut lahap makan sayur. Saya tidak perlu memasak makanan khusus untuk Faiz karena dia akan melahap makanan dari menu table-food yang saya siapkan untuk sekeluarga. Kadang picky eater-nya masih suka kumat juga sih, tetapi sudah lebih terkendali.

Akhirnya yang saya dapat simpulkan adalah sebagai ibu, kita tidak perlu tertekan dan frustasi ketika anak malas makan selama anaknya sehat, aktif, ceria dan tumbuh berkembangnya bagus sesuai grafik pertumbuhan dan tahapan perkembangan. Jika anak mengalami kesulitan makan, bisa dikonsultasikan juga ke dokter anak. Jika semua kondisi normal, ibu perlu lebih rutin lagi mengenalkan kebiasaan makan yang sehat. Jika sudah konsisten, biasanya saat umur 3 tahun GTM ini bisa aman terkendali.

 

(gambar: www.thinkstockphotos.com)

22 Comments

  1. allia altair
    allia altair December 9, 2014 at 4:52 am

    Wah,artikelnya dan tipsnya berguna banget. Anak saya termasuk bermasalah dalam makan. Moodnya naik turun banget. Mudah2an tipsnya bisa diterapkan. Terima kasih ya.

  2. ZataLigouw
    Zata Ligouw December 9, 2014 at 7:18 am

    Makasih anissa, bener kata allia altair, tips-nya berguna banget, soalnya seumuran banget sama Faiz dan baru2 ini mulai GTM lagi, pfiuhh..

  3. Kira Kara
    Bunda Wiwit December 9, 2014 at 8:51 am

    GTM dan picky eater adalah sahabat saya bertahun-tahun. heuheu… Tips yang manjur untuk ki-ka adalah dongeng-dongeng tentang makanan dan sayuran. TFS ya anissa! Tipsnya berguna sekali :)

  4. mama_Nara
    mama Nara December 9, 2014 at 10:15 am

    Alhamdullilah, Nara hampir tidak ada kata GTM, apalagi mamaknya nguli jauh dari rumah & tidak pandai memasak, dan harus bw bekal sendiri untuk daycare :) Saat umur anak-anak GTM, ada film kartun kesayangan yang ikut membantu : COCOMONG di B-Channel (RTV sekarang) dimana ada tokoh ROBOKONG yang kuat setelah makan sayuran, lumayan menyemangati si imut untuk makan sayuran (hampir) hambar buatan mamak tercinta ;)

  5. sLesTa
    shinta lestari December 9, 2014 at 11:14 am

    Terima kasih untuk tips dan sharingnya Annisa! Benar sekali, anak2 akan mau makan dengan benar kalau melihat orang tuanya. Anak saya yang pertama kayaknya yang lebih terasa kena GTM ini, dan saya merasa juga karena banyaknya campur tangan dan usaha supaya dia makan, jadi sering dibohongin supaya makan. Walaupun dari kecil dia mau makan apa saja, sayur & buah itu salah satu menu kesukaannya. Tapi karena perawakannya kecil, jadi selalu dibilang kurus seakan2 makannya kurang.

    Anak kedua syukurnya emang senang makan. Kayaknya hampir gak pernah tuh masa GTM mampir. Dia selalu senang makan apa aja, dan senang kalau bisa duduk makan rame2, walopun cemilan tetep seneng sih dan tetap ga ganggu nafsu makannya.

    Yang penting, kita yang tau ya anak kita itu maunya gimana, selama kita menunjukkan yang benar dan konsisten dengan cara kita, yakin pasti anak2 akan mengikuti kok!

    Cium untuk Faiz yang pinter makan sayuran :*)

  6. eka
    Eka Wulandari Gobel December 9, 2014 at 5:54 pm

    Terima kasih Annisa, artikelnya berguna banget nih untuk para mama yang mengalami masalah yang sama.
    Bener deh, usia di atas 1 tahun itu anak memang lagi susah2nya untuk makan. Vaksinasi belum lengkap, sedang tumbuh gigi, baru bisa jalan/ lari, wah sibuk sekali sepertinya ya :)
    Anak2 paling suka kalau diajak main ke luar, jadi dulu saya ngakalinnya, setiap pagi anak-anak diajak jalan/lari/sepeda pagi dulu keliling komplek…pulang ke rumah pasti lahap banget makannya krn capek..abis itu tidurnya jadi lelap :)

    cium untuk faiz yang pinter! :*

  7. cindy
    cindy vania December 10, 2014 at 8:44 am

    Terimakasih untuk artikelnya ya mama Annisa.
    Tipsnya oke banget,dulu saya juga pernah mengalami masa2 anak GTM dan jadi puter otak supaya anak ngga GTM lagi.

    *toss Faiz*

  8. deravee03
    deravee03 December 10, 2014 at 6:26 pm

    Artikelnya bagus^^… Mama pinteerr..manfaatin sikon anak cape abis main ya,pasti bawaannya laper apa aja d makan,buncis sepiring pun abiss woow(y)

  9. enjimagetsari
    Enji Magetsari December 11, 2014 at 4:16 pm

    Wah inget banget deh jaman Maha GTM, sampe ibunya ngutak ngutik makanan supaya jadi menarik dan Maha mau ambil dan makan sendiri, karena kalo dipaksa dia akan batuk batuk sampe muntah dan makanan yang sudah dimakan keluar semua…stress :(

    Thanks for sharing Mama Nissa, salam buat Faiz :)

  10. devinayudist
    devinayudist December 11, 2014 at 11:37 pm

    Makasihh mbak nisa tulisannya. Seperti biasanya, ringan dibaca tapi ‘kena’ bgt. Kadang memang stres berat denger omongan dari luar. Termasuk eyangnya yang bandingin kebiasaan jaman emaknya bahuela yg makan gak pake milih, sayur buah mau, gak kenal GTM2an. Huhu.. Tapi lambat laun gak sadar kalo anak punya polanya sendiri2. Seperti Epin yang akan menolak semua bentuk makanan apapun bahkan jus ketika teething. Dan akan mulai mangap2 lagi kalau masa itu berlalu. Saya ortu yang masih istiqomah utk menerapkan makan sambil duduk. Dan sejauh ini, Epin hampir 14 bln, masih setia sama high chairnya di saat makan.
    Sun untuk mas Faiz. Semoga bisa dicontoh Epin kbiasaan ‘buncis-wortel’nya

  11. devinayudist
    devinayudist December 11, 2014 at 11:41 pm

    Makasihh mbak nisa tulisannya. Seperti biasanya, ringan dibaca tapi ‘kena’ bgt. Kadang memang stres berat denger omongan dari luar. Termasuk eyangnya yang bandingin kebiasaan jaman emaknya bahuela yg makan gak pake milih, sayur buah mau, gak kenal GTM2an. Huhu.. Tapi lambat laun juga sadar kalo anak punya polanya sendiri2. Seperti Epin yang akan menolak semua bentuk makanan apapun bahkan jus ketika teething. Dan akan mulai mangap2 lagi kalau masa itu berlalu. Saya ortu yang masih istiqomah utk menerapkan makan sambil duduk. Dan sejauh ini, Epin hampir 14 bln, masih setia sama high chairnya di saat makan.
    Sun untuk mas Faiz. Semoga bisa dicontoh Epin kbiasaan ‘buncis-wortel’nya

  12. annisa karnadi
    annisa rohima-karnadi December 12, 2014 at 8:11 pm

    Sama-sama Devina… ini dari pengalaman aseli soalnya, hihihii :D Keren yaa Epin istiqomah makan di high chair :D Alhamdulillah sekarang Faiz juga makannya udah di rumah, aku liat2 yg makan berkeliling taman juga tetep GTM kok. Malah ditambah sambil lari-larian dan perosotan, takut tersedak euy..

  13. annisa karnadi
    annisa rohima-karnadi December 12, 2014 at 8:15 pm

    Alia Altair, Zata Ligouw: Sama-sama, semoga segera ketemu kunci yang “klik” buat membuka kunci GTM-nya yaahh. Kalo Faiz kuncinya yaa itu, dibikin lapar. Memang lapar adalah bumbu terbaik buat makan, hehee :D

  14. annisa karnadi
    annisa rohima-karnadi December 12, 2014 at 8:17 pm

    Iya Bunda Wiwit, diajak ngobrol seru kisah si kacang dan wortel yang tumbuh di tanah dan mau main masuk ke goa “mulut” Faiz :D Pokoknya makin seru topik obrolan makin sering buka mulutnya yak..

  15. annisa karnadi
    annisa rohima-karnadi December 12, 2014 at 8:18 pm

    Toss Mama Nara, ini Faiz juga punya serial Cocomong nih :D kemarin doi kekunci di kamar dan gagal gak kuat membuka kuncinya, alasannya karena gak suka makan sayur *Cocomong banget dah*

  16. annisa karnadi
    annisa rohima-karnadi December 13, 2014 at 5:47 am

    Kita jadi tambah pinter masak yaa Enji Magetsari :D

  17. annisa karnadi
    annisa rohima-karnadi December 13, 2014 at 5:54 am

    Terima kasih Deravee03, Cindy Vania, Eka Wulandari Gobel, Shinta Lestari ^_^

  18. gabriella
    Gabriella Felicia December 15, 2014 at 3:12 pm

    TFS tipsnya ya… pasti berguna buat mama2 yang menghadapi GTM.

  19. Ulil
    Ulil December 16, 2014 at 12:17 pm

    Mba nisa makasih tipsnya, mau coba diterapkan. Kebetulan anak saya usia 9bln dan mpasinya ga terlalu lancar lahap jaya. Tapi alhamdulillah kata mbak asal anaknya aktif dan tumbuh kembangnya baik jd ga perlu khawatir, tinggal cri trik biar lahap makan.

  20. Mama Jo
    Mama Jo December 17, 2014 at 7:05 am

    Mbak Annisa, informasinya bermanfaat sekali. Buat orang tua baru seperti saya memang kadang terasa kewalahan dalam urusan makan si kecil. Semoga Joshua juga mengikuti jejak kakak Faiz yang gemar makan makanan sehat ya.

  21. Efrata Sari
    Efrata Sari December 18, 2014 at 10:29 am

    Mah… klo anakku yg skrg ini 2,5th klo mkn masih suka muter sana sini. krn seringny sm pngasuh dibiasakan bgitu krn pngsuhku itu jg ngga mau ribet.. Smntra klo sm sy psti diusahain deh mkn dimeja mkn. So far blm pnh gtm ato picky eater, cumaaann kdng suka ngemut mknan..
    Gmn y carany biar dy ngga ngemut mknan lg.. need advice plz…:’(

  22. tralalatrilili
    tralalatrilili February 4, 2015 at 10:03 am

    Aaaahhh ini sih mirip bangeeeet ama yg aq alami skrg. Baby K 2,5th lg seneng2nya main di luar rumah, dan dia baru mau makan kalau diluar. Setiap hari perang melulu ama mamanya karena aq lbh sreg kalau anak makan di rumah.
    Mmm berarti sekarang harus cari meja kecil yaa biar mama papa ama baby K bisa makan bareng. Tks infonya yaa mom

Post a Comment

You must be logged in to post a comment.