Mengajarkan Demokrasi Pada Anak

nisafaridz
Nisa Faridz Saat ini sedang menempuh studi S3 di State University of New York at Albany, USA dengan fokus kajian tentang partnership antara sekolah, rumah, dan masyarakat. Juga menjadi tenaga sukarela di salah satu sekolah dasar di Albany, NY.
Have question for our experts ?
Feel free to ask them here!

Saya ngga tahu seberapa banyak anak-anak di Indonesia terbiasa dengan pemilihan suara (voting saja ya supaya singkat), tapi namanya juga Amerika, sistem demokrasi negaranya sudah banyak sekali diterapkan juga di rumah mereka. Suatu hari salah satu murid kelas 1 SD datang dengan muka terlipat, pagi-pagi sudah cemberut. “Kesalnya pasti kiriman dari rumah nih,” bisik guru kelasnya kepada saya.

Saya tidak bisa menahan senyum, melihat wajahnya yang kelihatan kesal. Rupanya ia masih ngambek karena tidak berhasil membujuk mamanya untuk membelikan video game. Di rumahnya baru saja berlangsung proses pemilihan suara. Katanya, “Mamaku bilang, kalau beli video game kami tidak bisa jalan-jalan ke luar kota.”

Guru kelasnya menimpali: “itu adil kan, karena pilihan kamu akan mempengaruhi nasib kakak dan orangtuamu, maka perlu juga dong mereka mengambil keputusan, bukan kamu saja.”

Anak itu kalah hitungan suara, rupanya.

Menariknya, ia tidak merasa kalah hanya karena ia merupakan partisipan voting termuda dari empat orang anggota keluarganya. “Mereka tidak suka video gamenya, makanya hanya aku yang vote for video game. Mereka memilih pergi jalan-jalan.”

Lucu juga sih, karena setelah diajak ngobrol, sebenarnya anak inipun mau juga liburan ke luar kota. Layaknya anak kecil di seluruh dunia, ia hanya kesal karena harus memilih dan mengorbankan salah satu keinginannya.

Saat itu saya tidak tega juga melihat si anak, Jamal namanya, yang cukup lama cemberut sampai harus dihibur teman-temannya. Apa iya anak-anak yang masih relatif kecil bisa diajak untuk berdemokrasi? Apakah akan adil keputusannya? Tidakkah orang tua yang akan selalu menang?

Pertama-tama, penting untuk memahami bahwa demokrasi tidak serta merta sama dengan voting. Ada proses yang perlu dilalui sebelum voting dilakukan. Pertama dan paling mendasar, semua orang di dalam rumah akan berpartisipasi, dan masing-masing punya hak suara yang equal. Artinya, walaupun Jamal masih kecil, pilihannya terhitung sebagai satu suara. Begitu pula ayahnya, walaupun ia kepala keluarga, suaranya pun dihitung satu.

Kedua, sebelum berfikir untuk voting, semua anggota keluarga tahu masalahnya apa, dan konsekuensi atau akibat dari keputusan yang akan diambil nantinya seperti apa. Ada yang lucu tentang hal ini. Guru kelasnya cerita pada saya bahwa Jamal punya kemampuan persuasif yang cukup hebat. Bahkan kakaknya yang sudah kelas lima sering terpengaruh olehnya. Jadi sayapun berusaha menahan tawa ketika Jamal yang sudah mulai kembali bagus mood-nya mendemonstrasikan bagaimana ia “berkampanye” tentang video game. “Kita semua akan senang karena aku tidak akan menyusahkan,…” ujarnya mencontohkan bagaimana Jamal berusaha meyakinkan orang tuanya bahwa dengan adanya video game, ia akan jadi anak yang lebih baik.

Dalam proses demokrasi pemerintah, kitapun menghadapi caleg-caleg yang berkampanye seperti Jamal ini. Tetapi kampanye ini sebenarnya bukan menjual-jual janji (saya tidak mau berkomentar soal kampanye pemilu Indonesia ya) tetapi sebenarnya ini proses untuk saling berbagi pandangan. Dalam kasus Jamal, ia diajak berdiskusi mulai dari mengapa video game bisa menyebabkan liburan gagal (hey, Jamal kecil-kecil belajar tentang budget kan!), apa plus-minusnya video game sekaligus apa plus-minusnya atau resikonya jika pergi liburan. Dialog ini adalah proses yang paling penting, sebenarnya, karena apapun keputusan yang akan dipilih setiap anggota keluarga saat voting nantinya adalah keputusan yang sudah didasari oleh pengetahuan (informed decision), bukan tahu-tahu harus memilih.

Bahkan keputusan tentang kapan dan bagaimana voting akan dilakukanpun harus disepakati bersama, bukan ketetapan orang tuanya. Karena itulah pagi-pagi sebelum berangkat sekolah, proses voting dilakukan di rumah Jamal. “Semalam terlalu capek, saya tidak bisa konsentrasi,” ujarnya bak politikus. Super cute!

Pengalaman mendengarkan cerita Jamal membuat saya bertanya-tanya, bagaimana ya demokrasi diajarkan di Indonesia? Saya tidak bilang salah jika murid SD diajarkan “musyarawah untuk mufakat,” atau “apabila tidak mencapai mufakat maka keputusan diambil dengan cara suara terbanyak.” There it is! Itu yang saya hafal ketika menjadi murid. Tanpa jelas mengerti apa itu musyawarah? Apa itu mufakat? Apa maksudnya? Mengapa anak-anak diajarkan demokrasi sebagai suatu hal yang begitu asingnya? Mohon koreksi kalau saya salah, dan saya senang sekali jika ada teman-teman – atau anak-anaknya – yang mungkin memiliki pengalaman belajar berdemokrasi jauh lebih baik daripada apa yang saya alami atau saya baca di buku teks.

Suatu saat anak-anak akan menjadi pemilih resmi, yang akan menentukan pemimpin bangsa; atau justru dipilih oleh jutaan orang untuk jadi pemimpin (amin!). Dan tentunya kita ingin mereka siap untuk jadi pemimpin yang baik. Tetapi mengajarkan demokrasi bukan hanya untuk menyiapkan mereka ketika dewasa nanti. Mereka belajar banyak hal dari proses ini.

Pertama, mereka belajar mengajukan suatu usul yang diikuti dengan alasan. Mereka belajar berpikir logis. Kedua, mereka belajar untuk melihat suatu masalah dari sudut pandang yang berbeda. Ini terjadi ketika mama menjelaskan bahwa budget liburan terbatas sehingga keluarga harus memilih salah satu: ke luar kota atau video game. Ketiga, anak belajar memahami bahwa keputusan akhir mungkin tidak sesuai harapannya, tetapi pelan-pelan ia mengerti (bukan dipaksa mengerti) dan menerima (bukan juga dipaksa menerima) bahwa keputusan tersebut baik untuknya dan seluruh keluarga. Dan keempat, sebenarnya ada proses negosiasi juga, seperti kata Jamal kepada kami di kelas: “mungkin bulan depan, tetapi aku harus bisa merapikan sendiri mainanku,” Hm, okay, tidak terlalu jelas gimana maksudnya, tetapi nampaknya sudah ada negosiasi antara Jamal dan mamanya.

5 Comments

  1. Kira Kara
    Bunda Wiwit October 7, 2013 at 11:29 am

    seperti kata ― Margaret Mead “Children must be taught how to think, not what to think.” Proses demokrasi dalam keluarga bisa jadi bentuk pembelajaran anak tentang proses berfikir :) Setuju sekali mbak Nisa… Artikelnya selalu Keren!!!

  2. ceknonapresident
    eka Sartika October 8, 2013 at 6:10 am

    Artikel yg sungguh penting yg wajib dibaca oleh orang tua dan guru di sekolah, saya merasa beruntung telah membaca artikel ini. Semoga dapat saya implementasikan dgn baik di rumah. Terima Kasih banyak :D

  3. mommymimi
    desmiritha avicenna October 8, 2013 at 10:29 am

    luar biasa keluarganya jamal..saya sampai tertegun2 bacanya…pelajaran yang sangat penting nih. makasih ya mb nisa untuk artikelnya.

  4. sLesTa
    shinta lestari October 8, 2013 at 3:22 pm

    lagi2 observasi dan tulisan yang sangat bermanfaat, nis!! bagus banget .. makin anak gede, makin ngerasa ilmu parenting gue makin cetek deh! :P thanks for sharing yaa..

  5. sultrayani
    Sultra Yani October 9, 2013 at 1:49 pm

    tfs mom, artikel2nya selalu menarik dan bermanfaat. sy ngumpulin & print out lhoo tulisan2 mom nisa :D

Post a Comment

You must be logged in to post a comment.