Mewujudkan Impian Nathan di The Living Dinosaur

Mama Windy

Nathan sangat mencintai dunia Dinosaurus, sejak dulu. Sejak mainan bertema dinosaurus belum mudah ditemui seperti sekarang, saat ini ia bahkan bisa hafal setidaknya 30 jenis dinosaurus. Belakangan Nathan sering minta berlibur ke Amerika, karena dari informasi yang ia dapatkan, museum Dinosaurus ada di Amerika, bukan di Indonesia.

Saat pertama kali tahu bahwa mal Living World mengadakan pertunjukan The Living Dinosaur, suami langsung menjanjikan bahwa menontonnya akan menjadi salah satu agenda liburan sekolahnya. Terus terang awalnya saya merasa tiket menontonnya terlalu mahal. Belum lagi si adik, Netta masih terlalu kecil sehingga kami khawatir suasana prasejarah yang disajikan akan terlalu menyeramkan baginya.

Namun mengingat betapa besar kecintaan anak kami pada dunia dinosaurus, dan tampaknya akan jadi liburan yang superseru jika liburan ini mimpinya “bertemu dinosaurus” jadi nyata, berangkatlah kami sekeluarga plus eyang uti ke The Living Dinosaur.

Sesuai dugaan, Nathan benar-benar menghitung hari dengan antusias sampai tibanya hari pertunjukkan tersebut. Pada hari H ia begitu semangat memilih kaus dinosaurus favoritnya sebagai kostum, semangat mandi dan sarapan di pagi hari, dan kami berangkat ke mal tempat pertunjukkan tersebut.

Begitu masuk ke wahana yang terletak di bagian atas mal ini, kami disambut dengan manusia prasejarah yang sedang menggesekkan batu seperti akan membuat api, tambah ke dalam, kami seperti memasuki dunia prasejarah, dengan desain interior serta tata lampu dan suara yang mendukung. Lalu kami di bawa masuk ke pusat wahana yaitu panggung setinggi 50 cm, sedang penonton duduk di bawah, bangku-bangku hanya tersedia di bagian belakang, dan karena saat kami datang pengunjung tidak banyak, bangku-bangku tersebut tidak terisi. Tibalah pertunjukan utama diawali dengan duo penyaji acara datang dan memberi pengetahuan singkat mengenai kehidupan dinosaurus berikut pemutaran filmnya, lalu penonton disuguhkan kehadiran para tiruan binatang purba itu dari mulai serangga purba, bayi dinosaurus dinosaurus herbivora sampai dinosaurus karnivora. Tiap satu spesies hadir, satu volunteer (anak-anak pastinya) diperbolehkan maju untuk berinteraksi langsung pertama kali dengan “binatang purba” tersebut, sambil penyaji acara menceritakan tentang kehidupan spesies tersebut . Di luar dugaan, Netta tidak mengalami ketakutan berlebihan, mungkin karena melihat kakaknya yang senang dan antusias, ia pun jadi ikut senang dan antusias. Ia hanya nangis kecil 2 kali, saat baru masuk dan saat kakaknya naik ke panggung.

Ya, Nathan termasuk satu dari 5 anak yang naik ke panggung. Seperti yang bisa kami duga sebelumnya, Nathan menunjuk dirinya saat host menawarkan siapa yang mau maju “berkenalan” dengan sang Carnivore. Tidak peduli host yang secara hiperbolik menggambarkan betapa berbahaya dan menyeramkannya sang Carnivore Dinosaur itu, Nathan maju ke atas panggung. Ia begitu antusias saat memegang sang Dino dan “memberinya makan” (dengan daging imitasi, tentunya). Bahkan saat penyaji acara bercanda menguji nyalinya dengan menantangnya lompat ke dino, Nathan tetap lompat ke arahnya dengan penuh antusias dan diiringi teriakan penonton-penonton cilik yang takut dengan penampakan dino plus segala suasanan yang dihadirkan. Saya dan suami sungguh ikut antusias dan bangga melihatnya.

Dua jam yang (ternyata) seru itu pun berakhir, dan di akhir pertunjukan, sebelum meninggalkan wahana, kami sekali lagi memuaskan Nathan berkeliling wahana bagai seorang petualang sejati memasuki hutan rimba zaman purbakala dan tentunya berfoto di dalam wahana tersebut.

Menurut kami, secara keseluruhan acara ini cukup menarik dan edukatif untuk anak-anak. Beberapa kekurangan masih ada seperti beberapa pemeran manusia purba masih menggunakan kacamata, dan untuk puppet besar yang butuh pemeran manusia di dalamnya, kaki pemeran masih terlihat (kalau yang kecil tanpa pemeran, melainkan robot). Namun di luar itu, suasana dan puppet yang digunakan cukup baik dan artistik, puppet yang digunakan juga dibuat begitu menyerupai sebenarnya.  Dan di perjalanan pulang, saat melihat Nathan senyum sambil tidur, saya bersyukur menuruti suami membawa anak-anak ke acara ini, karena mungkin jika kami hanya pergi ke hotel atau ke waterpark, senyumnya tidak akan selebar itu. Baginya liburan kali ini bukan sekedar liburan, tapi bagai Mewujudkan Impiannya.

4 Comments

  1. cindy
    cindy vania July 13, 2013 at 10:04 am

    seru banget liburan nya,dan Nathan kelihatan happy banget :D

  2. ninit
    ninit yunita July 13, 2013 at 4:42 pm

    wowww nathan happy banget deh :) bener2 pecinta dinosaurus sejati.
    acaranya bagus banget yaaa… dan fun banget. pantesan nathan seneng banget :)

  3. ZataLigouw
    Zata Ligouw July 14, 2013 at 9:24 pm

    nggak percuma Nathan menghitung hari. Emang keren banget keliatannya.. Kebayang deh betapa senengnya dia..

  4. Mama Windy
    Windy Agnestien July 15, 2013 at 6:35 am

    @cindy vania & zata : happynya hiperbolik pokoknya, bahkan pas hari pertama sekolah, Kamis lalu, dan miss-nya nanya ke kelas tentang cerita liburan, dia sangat antusias cerita pengalamannya “bertemu Dinosaurus” :)

    @teh ninit : bener2 pecinta dino sejati emang dia teh, dari mulai zaman dia suka barney – dia suka dino, ganti suka thomas – masih suka dino, ganti suka superhero amerika – plus tetep koleksi buku dan mainan dino, ganti lagi suka ultraman/kamen rider – masih juga pilih buku dino kalau di toko buku, sekarangpun udah jamannya dia suka bima satria garuda – teteeeep cinta dino :)

Post a Comment

You must be logged in to post a comment.