Nipple Confusion pada Hamizan

Bayi laki-laki kami lahir pada tanggal 31 Mei 2016 pukul sembilan pagi. Hamizan harus lahir melalui operasi sesar karena ada indikasi medis yang tidak dapat kami elakkan. Bagaimanapun cara kelahirannya, kami hanya bisa mengucap syukur karena putra kami bisa lahir dengan selamat dan sehat.

Saat Hamizan berusia 22 hari, ia kami bawa ke Malang untuk tinggal di rumah orangtua saya. Saya menghabiskan sisa cuti bersama keluarga besar di rumah. Saya bersyukur sekali bisa berada di antara mereka selama cuti melahirkan ini, apalagi bertepatan dengan bulan puasa dan hari raya Idul Fitri. Sayangnya, sekitar pertengahan Juli, saya harus kembali masuk kerja, dan harus berpisah dari Hamizan karena saya bekerja di Surabaya. 

Saya pulang ke Malang setiap Jumat malam dan kembali lagi ke Surabaya pada Minggu malam. Saya dan suami bertekad akan tetap memberikan ASI kepada Hamizan, jadi selama lima hari kerja saya memompa ASI secara teratur. Setiap akhir pekan saya membawa sekitar 40-45 botol ASI ukuran 100 ml untuk Hamizan. Saat berada di dekat saya Hamizan biasanya menyusu langsung. Bulan pertama berjalan dengan lancar, kebutuhan ASIP Hamizan terpenuhi dan tidak terjadi tanda-tanda bingung puting. 

Ketika Hamizan berusia 3 bulan, ia sudah tidak mau lagi menyusu langsung dari saya. Biasanya ia langsung menangis saat dihadapkan dengan payudara saya. Beberapa kali saya mencobanya tetapi Hamizan terus menangis. Padahal ia termasuk bayi yang jarang menangis kencang dan relatif tenang. Akhirnya saya mengalah, biarlah Hamizan tidak menyusu langsung asalkan tetap minum ASI walau memakai dot. 

Memang sejak awal saya sudah membaca banyak referensi kalau sebaiknya memberikan ASIP tidak menggunakan dot, tetapi ternyata memberikan ASIP dengan cup feeder cukup memakan waktu dan merepotkan Ibu saya yang menjaga Hamizan. Apalagi saat Ibu saya kembali mengajar, Hamizan diasuh oleh Emak, yang tak lain adalah Nenek saya, pahlawan tangguh yang dulu juga mengasuh saya. 

Masalah baru pun muncul, karena Hamizan sudah tidak mau menyusu langsung, produksi ASI saya pun langsung menipis. Kejar tayang pun sudah tidak terkejar lagi dan untuk memenuhi kebutuhan nutrisinya, Hamizan pun minum susu formula. Ia biasanya minum ASIP empat kali sehari dan sisanya susu formula.

Saya pun berusaha kembali meningkatkan produksi ASI dengan mencoba memaksa Hamizan menyusu langsung. Saya mulai dengan mencoba memeluk Hamizan sambil menyodorkan payudara saya, namun belum berhasil. Pada minggu berikutnya saya pulang dengan membawa nipple shield dan saya pakai di payudara saya. Hamizan sempat mau kembali menyusu langsung dan berhasil, ia bisa menyusu sampai kenyang dan tertidur. Namun sayang, hal ini tidak berlangsung lama karena saat mengantuk, justru Hamizan menangis saat harus menyusu langsung. 

Saya mencoba memaklumi karena Hamizan hanya bertemu saya pada akhir pekan. Pasti sulit baginya untuk membiasakan diri lagi menyusu langsung pada saya. Produksi ASI yang makin menipis membuat saya mengikis ego untuk memaksakan pemberian ASI eksklusif pada Hamizan. Saya sadar betul kalau ASI adalah nutrisi yang terbaik tetapi saya berkewajiban memenuhi kebutuhan nutrisi untuk proses tumbuh kembangnya. Sementara ini Hamizan minum ASI dikombinasikan dengan susu formula, sambil saya berjuang mengembalikan produksi ASI baginya.

Kondisi keluarga kami memang belum memungkinkan untuk membawa Hamizan ke Surabaya sehingga kami tidak harus tinggal terpisah. Saya sering mendengar banyak orang yang mempertanyakan mengapa kami harus berjauhan. Namun untuk saat ini belum memungkinkan untuk membawa Hamizan ke Surabaya. Jika saja saya tidak harus berjauhan dengan Hamiz, teknik pemaksaan menyusu langsung yang saya praktikkan kemungkinan besar akan berhasil dengan bantuan nipple shield. Saya melihat pintarnya Hamizan saat menyusu. Beberapa kali saya intip ASI masih mengalir, insyaallah cukup deras karena Hamizan tidak sampai "mengamuk” saat menyusu dengan bantuan Nipple Shield.

Saya pun mulai menjalani exclusive pumping dan terus berusaha agar bisa mengembalikan produksi ASI saya serta menghadapinya dengan ikhlas. Walau sulit, namun saya yakin ini hanya di awal dan selanjutnya Allah akan menghadirkan kemudahan untuk kami. 

featured image credit: freedigitalphotos.net 

 

13 Comments

  1. avatar
    Annisa Bani Salamah December 21, 2016 8:38 am

    Waahhhhh...nipple confusion pernah juga aku alamin sama baby shaliha...
    Tapi berkat dukungan suami dan sering konsul alhamdulillah baby shaliha makin pinter nyusunya...
    Terus semngatt yahh mama

    1. avatar
      Luni Subekti December 21, 2016 10:26 am

      Baby shaliha umur berapa mam sekarang? duhh pinter jadi kangen nenein anak saya lagi deh mam....

      1. avatar

        As .



    2. avatar

      As .



  2. avatar
    Febi December 7, 2016 3:51 pm

    Mama-mama yang e-ping tuh keren! Tentunya butuh komitmen dan disiplin yang tinggi. Semoga dimudahkan ya, mba... Yang penting Hamizan sehat selalu dan tumbuh optimal, mba Luni. Selalu semangat^^

    1. avatar
      Luni Subekti December 21, 2016 10:25 am

      Justru saya rasakan beraat di awal mama Febi, ribetnya loh beberes per-botolan itu hhehee mending sih nyusuin langsung deh hehee tp yaah gmn lagi demi anak saya lakuin aja, alhamdulillah Hamizannya udah mau 7 bulan dan masih mendapat ASI mamanya ini

      1. avatar

        As .



    2. avatar

      As .



  3. avatar
    Eka Gobel December 5, 2016 1:46 pm

    Semangat yaa mama luni! Semoga diberi kelancaran dan kemudahan, dan semoga lekas dikumpulkan dalam kebaikan :*

    1. avatar
      Luni Subekti December 21, 2016 10:22 am

      Semangat mam, Aamiin insyaallah terima kasih mama Eka

      1. avatar

        As .



    2. avatar

      As .



  4. avatar
    Ayu Utami December 5, 2016 2:10 am

    Mbak Luni, kuncinya adalah relax dan yakin kalau ASI adalah hak setiap anak, relax bisa naikin good mood lho mbak Luni supaya cepat mencapai LDR saat pumping, seperti makan makanan favorit, dengerin lagu kesukaan, atau nonton bareng pasangan. kalau ASI Mbak Luni nda terkejar jangan cepat memutuskan menambah sufor mbak Luni, Mbak Luni bisa coba meminta bantuan donor ASI melalui twitter seperti AIMI dll, insya Allah dibantu Mbak Luni. Dan kalau sedang pulang ketemu anak pas weekend, coba skin to skin supaya bonding Mbak Luni dan anak kuat kembali. Saya pun pernah mengalami hal ini mbak dan alhamdulillah bayi Saya mau menyusu kembali langsung pada Saya. Maaf kalau kepanjangan ya Mbak hihihi... Yuk Mbak Luni Semangat jangan menyerah, kita sama - sama pejuang ASI untuk masa depan anak kita :)

    1. avatar
      Luni Subekti December 21, 2016 10:20 am

      Skin to skin juga udah mom, sampai buka baju saya nya. Ehh Hamizannya cuma ngeliatin saya "krik...kriik..." habis itu nangis lagi mom, saya selalu nyerah kl udah nangis tangisannya itu mom bikin ngiluuu ati T.T
      Keluarga saya pada dasarnya kurang pro ASI, jadi buru2 langsung deh dikasih sufor, Saya sempat juga kepikiran donor ASI mom, tp belum tau prosedurnya. Boleh lah saya sempatkan waktu buat cari info yahh sambil pumping juga hee. Terima kasih sekali mom, jadi makin yakin tetep meng-ASI-hi.

      1. avatar

        As .



    2. avatar

      As .



  5. avatar
    Pejuang ASI December 2, 2016 4:59 pm

    coba deh mba baca http://www.nakibu.com/relaktasi-mengatasi-bingung-puting/ semoga membantu ya :)
    tetap semangat mba :)

    1. avatar

      As .



Post a Comment

You must be logged in to post a comment.