Parenting for the Childless

Adhitya

Stresnya Pasangan Muda

Teman kerja saya, sebut saja namanya Dino memiliki istri bernama, sebut saja Dini. Saat makan siang bersama, Dino bercerita bahwa ia dan istri sedang mengalami tekanan batin karena mereka sudah 2,5 tahun menikah dan belum dikaruniai anak. Saya sendiri cukup prihatin dengan fenomena ini. Saya dan istri sempat kosong 2 tahun sebelum akhirnya diberi kepercayaan untuk mempunyai anak. Jadi setiap kali mendengar teman yang stres karena belum punya momongan, saya turut bersimpati. Khusus untuk masalah belum punya anak, saya sempat berpikir lama mengenai hal ini dan menemukan beberapa hal yang berbeda dengan zaman orang tua kita dulu.

Saat saya masih kecil, dari semua teman dan saudara orangtua saya, hanya 1 pasang yang saya tahu tidak dikaruniai anak. Itu mungkin 1 dari 100 pasang. Sisa 99 pasang rata-rata memiliki 1-5 anak. Mungkin ada 1-2 dari 99 pasang itu yang dikaruniai anak dengan kebutuhan khusus. Itu zaman orangtua saya.

Kemudian saya melihat ke zaman sekarang ini. Saat saya dan teman-teman sudah besar dan mengambil peranan hidup sebagai orangtua muda. Statistik personal gue cukup mengejutkan. Satu dari sepuluh pasangan teman yang saya kenal/tahu/dengar, kesulitan memiliki anak.

Saya terus berpikir, apa yang berbeda dari 100 pasangan teman dan 100 pasangan teman orangtua 30 tahun yang lalu. Saya mulai mencoba mendeduksi. Dan menemukan jawabannya dari pangan yang kita makan.

Makanan dan Kita

Saya mencoba membandingkan antara masa kecil kita di tahun 1970-an dan masa kecil orang tua kita di tahun 1950-an. Zaman mereka lebih susah dari zaman kita. Tapi saat mereka kecil, semua pangan yang mereka makan masih original. Masih hasil bumi yang murni dan segar. Masa kecil mereka relatif lebih miskin. Untuk makan daging, pilihan mereka adalah menangkap belut di empang. Memang hanya belut, tapi belut itu adalah belut segar yang ditangkap dari empang dengan air yang jernih. Mungkin sesekali orang tua kita makan ayam. Ayam kampung yang sehat juga. Bukan ayam suntik. Kenapa? Karena pada tahun 1950-an, penduduk Indoensia belum cukup banyak untuk membutuhkan ayam suntik. Zaman orangtua kita masih anak-anak, jumlah penduduk Indonesia belum 240 juta seperti sekarang. Jumlah penduduk bumi juga belum 7 milyar seperti sekarang. Intinya, meski hidup susah, asupan pangan yang mereka makan itu segar, asli, dan cukup.

Tiga puluh tahun dari 1950, lahir kita sebagai anak kecil. Indonesia lebih makmur. Kebanyakan dari kita jauh lebih sering makan ayam dalam 1 tahun ketimbang orangtua kita dalam 10 tahun. Tapi saat itu, bumi Indonesia sudah harus memberi makan jauh lebih banyak manusia. Peternakan ayam suntik sudah dibutuhkan karena jika tidak, anak-anak Indoensia akan kekurangan protein. Tiga puluh tahun kemudian, jumlah lele di empang dan ayam di kampung tidak lagi cukup untuk memberi makan kita. Jadilah kita, makan ayam suntik.

Tiga puluh tahun yang lalu, orangtua kita makan sayur segar tanpa kimia. Sayuran tanpa pupuk, pestisida, dan bahan kimia yang lain. Zaman kita kecil, semua sayur dan beras yang kita makan sudah ada campuran kimianya karena lahan kita jumlahnya tetap sama. Mulut yang harus diberi makan sudah berlipat-lipat. Lahan tani kita tidak pernah bertambah. Malah menyusut karena butuh untuk perumahan, industri dan lapangan kerja. Namun produksi dari lahan tani yang menyusut itu harus ditambah banyak karena populasi bertambah. Suka tidak suka, harus ada pupuk. Harus ada pestisida dan kimia lain.

Bayangkan berapa banyak kimia yang saya, istri, Dini, dan Dino sudah makan dan akumulasikan dari kita kecil sampai sekarang. Bersamaan dengan itu, generasi saya memiliki jauh lebih banyak kasus kesulitan memiliki anak.

Beberapa dari kita tidak sadar dengan kenyataan ini Beberapa dari kita bahkan tidak ada pilihan sama sekali. Apakah salah Dini dan Dino di waktu mereka kecil? Tidak. Apakah salah orangtua Dini dan Dino? Tidak juga. Besar kemungkinan mereka tidak tahu atau bahkan tidak memiliki pilihan lain. Orangtua kita tidak mungkin tahun bahan kimia apa yang telah masuk dan meresap ke setiap daging dan sayuran yang mereka beli. Sama dengan kita ketika kita pergi ke pasar membeli daging dan sayur untuk anak-anak kita.

Ini adalah satu hal penting yang harus disadari oleh pasangan seperti Dini dan Dino. Tidak memiliki anak bukan salah mereka. Tidak memiliki anak juga bukan pilihan mereka. Banyak orang stres karena tidak tahu penyebab mengapa tidak punya anak. Mengetahui perbedaan makanan yang kita makan zaman sekarang dan zaman dulu cukup dapat membantu menenangkan stres Dini dan Dino.

If we don’t have kids yet, don’t worry. Just stay healthy.

Mungkin dulu kalau tidak punya anak selama 2 tahun sudah menjadi bahan cibiran. Namun sekarang, mungkin 3-4 tahun kosong is the new normal.

Finance

Seorang teman saya yang orang asing, umurnya 50 tahun lebih. Sebut saja namanya Doyok, ia adalah seorang advonturir dan terlambat menikah. Ia menikah saat berusia 40 dengan dan saat berusia 50, sekitar 5 tahun menjelang pensiun, ia memiliki anak berumur 10 tahun.

Ini membuat masalah bagi Mr. Doyok. Ia harus tetap produktif sampai anaknya kuliah, yang artinya bekerja sampai di atas 60 tahun. Dari Mr. Doyok-lah saya belajar bahwa meski kita sulit memiliki anak, tetaplah menabung seakan-akan kita memiliki anak. Karena toh akan dibutuhkan untuk beberapa alasan kuat.

Pertama, Meski susah punya anak, kita tetap harus menabung karena jangan sampai suatu hari kita berumur 39 tahun, mendapati istri hamil (semoga oleh kita), dan dana pendidikannya tidak ada.

Kedua, memiliki tabungan anak tetap penting karena mungkin dana dari sana dapat dipakai untuk membiayai bayi tabung. Untuk memberikan gambaran seberapa mahalnya bayi tabung, kira-kira 1 mobil sedan setara dengan 3 kali percobaan.

It still makes sense to save for children, eventhough we are childless.

Pilihan

Terakhir dalam Parenting for the Childless, izinkan saya berbagi sebuah rahasia yang banyak pasangan setuju tapi tidak ingin diungkapkan karena terdengar sangat dingin dalam konteks anak.

Dari semua orang yang saya kenal, juga dari semua orang yang pembaca kenal, alasan utama mereka menikah dengan istri/suaminya karena cinta. Itu alasan utama. Anak selalu menjadi alasan kedua.

Jika anak menjadi alasan pertama menikah, mengapa kita repot-repot cari jodoh? Just pick a random guy from the street. But we never do that, right? Karena dalam pernikahan, yang utama itu cinta, bukan anak

image credit: gettyimages.com

Anak adalah salah satu dari produk dari dihasilkan dari sebuah pernikahan. Tapi bukan tujuan dari pernikahan. Jadi jika beberapa dari kita tidak berhasil mempunyai anak, tidak perlu terlalu bersedih.

Alasan kita menikah adalah cinta. Ingin berkomitmen menghabiskan sisa hidup bersama orang yang kita pilih dan yang memilh kita. Intinya, jika ada teman kita yang sulit memiliki anak, mari kita bantu mereka mengingat lagi, alasan mereka menikah dulu.

5 Comments

  1. Kira Kara
    Bunda Wiwit April 15, 2013 at 5:36 am

    iya,.ya… komitmen awal menikah krn cinta… tapi masih banyak yang mengatas namakan anak apabila terjadi perceraian… *sedih* terima kasih sharingnya.. :)

  2. aulia
    aulia April 15, 2013 at 11:04 am

    Saya dan suami sudah 8 tahun menikah dan masih tetap berusaha. Tekanan yang datang sebagian besar dari luar, bukan dari kami berdua. Mulai pertanyaan dan nada sinis dari keluarga besar atau kerabat sampai ke teman kerja. Jadi buat urban mamas or papas yg punya teman yg masih childless, satu saran dari saya, berempatilah. Jauhi candaan or komen negatif krna menurut saya ini hal yg sensitif dan pribadi. keep supportive :) Thanks artikelnya ya, input yang positif buat saya..

  3. bundonya_aira
    yolanda maharani April 16, 2013 at 8:09 am

    Jadi ingat perkataan kakak ipar saya pas ditanya apa perasaannya setelah 5 tahun menikah tapi belum dikaruniai anak, “aku menikahi kakakmu karena aku sayang dengan kakakmu dan karena aku ingin tua bersama dia, bukan hanya untuk memperoleh keturunan darinya. anak itu rejeki dari Allah”.

    Ditahun ke7 pernikahan mereka, disaat mereka sudah tidak ada ambisi untuk punya anak lagi, Allah memberikan kepercayaan kepada mereka.

  4. dewiamel
    dewiamel April 16, 2013 at 11:47 am

    So sad but true ya… Banyak jg temen2 yg belom dikaruniai anak.
    Beragam penyakit fisik, hormone, tp ada jg yg sehat tp blom jg punya anak. Banyak yg bertahan, ada yg menyerah dgn berpisah.

    Kk jg dl 3th sblm akhirnya hamil. Itupun melewati operasi kista n hilang 1indung telur. Kl dibilang makanan atau apa….ya gw jg kan konsumsi makanan yg sama tp alhamdulillah sehat.
    Jd bukan hanya makanan, pola hidup dll. Juga ini sebagai ujian dr Allah SWT.

    Buat gw, punya anak n ga punya anak sama2 ujian. Jd buat mama yg blum dikaruniai anak….tetap semangat, tawakal, berusaha, berdoa.

  5. gabe1981
    Seymour Magabe April 19, 2013 at 10:27 am

    Kami menunggu Raffa selama 7 tahun dan Allah kasih dia melalui bayi tabung. Menabung seolah-olah anak sudah ada itu betul sekali. Walaupun pada akhirnya bagi kami tabungan itu terpakai untuk proses bayi tabung itu sendiri. Makasih ya udah sharing.

Post a Comment

You must be logged in to post a comment.