Peluk Cium Untuk Suamiku

MrsFMY

Saat berbincang dengan Ibu tentang siapa saja pihak yang berperan dalam kesuksesan memberikan ASI dan MPASI kepada Ganesha selama 1 tahun ini, Ibu mengingatkan besarnya peran suami saya.

Kalau diingat-ingat kembali, sepertinya mustahil saya bisa menjalani hari-hari sebagai ibu bekerja, sekaligus bisa menyusui bayi kami secara eksklusif selama 1 tahun ini… tanpa dukungan dan bantuan suami. Begitu banyak ternyata yang bisa dilakukan seorang ayah dalam mendukung proses menyusui dan pemberian makan kepada Ganesha.

Apa saja yang telah dilakukan suami saya?

  • Memastikan saya sebagai ibu menyusui mendapatkan gizi yang baik. Pada bulan-bulan awal, suami sampai belajar masak sayur bening (daun katuk/bayam/pepaya muda) dari Mamanya via BBM. Setiap hari sebelum pergi ke kantor ia masak dulu karena saya sendiri masih lemas setelah melahirkan dan begadang menyusui. Setelah saya kembali bekerja, suami mengambil alih urusan sarapan, membuatkan, bahkan menyuapi saya yang berdandan sambil menyiapkan kebutuhan anak kami selama dititipkan di neneknya.

  • Menurut saya, kegiatan menyusui sebetulnya tidak berat, tapi berjam-jam berada dalam posisi menyusui tertentu, sekaligus wajib sigap menggendong-gendong bayi yang beratnya makin lama makin bertambah membuat punggung pegal-pegal. Pijatan tangan suami pada punggung tidak hanya membuat hati senang dan menyegarkan badan, tapi juga merangsang kinerja oksitosin yang memperlancar ASI.
  • Ada saatnya bayi kami tetap sulit tidur walau sudah berjam-jam disusui, kadang sambil rewel, sementara badan saya sudah remuk rasanya menyusui dalam berbagai posisi. Saya mulai merasa jengkel, apalagi waktu terus berjalan. Malam makin larut, ada seperangkat breastpump dan botol kaca yang perlu dicuci-steril untuk besok. Sementara sesi-pumping-tengah malam tetap perlu dijalani. Inisiatif suami untuk menggendong dan menenangkan/menidurkan bayi kami sangatlah berarti! Walau hanya 10-20 menit dan belum tentu berhasil, waktu itu cukup memberi saya waktu untuk meluruskan punggung, mandi, atau sekadar terharu melihat father & son moment ini.

  • Walau dibantu seorang pengasuh bayi, kami tidak ada ART, jadi ada setumpuk urusan rumah tangga yang hampir terbengkalai. Apalagi saat enam bulan pertama karena bayi kami menempel terus pada saya. Hal ini membuat saya stres karena banyak urusan rumah tidak terpegang. Suami saya kembali berperan, berinisiatif mengambil alih pekerjaan rumah yang paling dikuasainya. Seperti mengurus cucian baju dan menyetrika. Terharu sekaligus bangga rasanya melihat suami telaten menyetrika baju saya.
  • Tidak sedikit kerabat yang belum mengerti keinginan kami memberikan ASI eksklusif dan Mpasi rumahan pada Ganesha. Suami sayalah yang dengan sabar menepis keraguan dari kerabat dan menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka dengan berbagai teori yang telah kami pelajari bersama. Lega rasanya, karena saya sendiri sudah tidak punya cukup tenaga dan kesabaran untuk melakukannya.

Jujur saja, kuping saya sering panas mendengar omelan suami setiap hari yang gemas melihat saya melupakan banyak hal-hal kecil namun penting seperti memakai baju yang pantas ketika mengejar tukang sayur di pagi hari, mematikan lampu kamar mandi setelah keluar, atau kurang sigap menutupi payudara saat bayi kami minta susu dengan tidak sabar di ruang publik. Padatnya hari-hari saya dan waktu yang rasanya berlalu terlalu cepat saat harus mengurus bayi kami ditambah kurang tidur memang membuat saya jadi agak sering melupakan berbagai hal.

Namun, I won’t be able to do this alone without him.

Jadi… tidak perlu punya payudara untuk bisa memastikan anak mendapatkan ASI dan pengenalan makanan yang berkualitas. Saya percaya, dari (hampir) setiap kesuksesan menyusui dan pemberian MPASI rumahan ada perjuangan dan kesabaran seorang Bapak, seorang suami, yang pantas mendapat peluk cium hangat setiap malamnya.

11 Comments

  1. MommyMinjee
    MommyMinjee April 29, 2013 at 7:21 am

    Ahahhaa… Baca critanya jadi ketawa2 sendiri.. Soalnya sama bgt saya.. Sering dimarahin suami krn beli roti suka pake baju tidur sm ga cuci muka abis bangun… Tp semuanya dibantu sm dia.. Ga pake pembantu malah semakin kompak ngurus rumah sm anak..

  2. Tyas
    Tyas Soejoedono-Prabhowo April 29, 2013 at 7:39 am

    Klo saya ingat setiap kali anak kami dibilang oleh kerabat suka nangis krn kurang ASInya (pdhl lagi di resto yg penuh dan panas, wajar kan bayi gak nyaman), dia yg paling sigap utk bilang anak kami baik2x saja krn tahu istrinya akan cepat down. Dan ama nie kalau kecapekan yg bertugas bersihin breastpump dan nyiapin cooler bag selalu suami saya meski dia habis pulang lembur :). Ternyata masih banyak ya suami yg care seperti ini.

  3. dwiarshi
    dwiarshi April 29, 2013 at 7:46 am

    Baca ini aku jadi diingatkan bahwa ternyata selama ini aku ga sendiri. Papanya Jamesha ternyata masih setia di situ, menemaniku, menungguku pulang kantor. Pagi-pagi, aku sibuk siap-siap ke kantor, suami sibuk bersih-bersih rumah. Beberes tempat tidur, nyapu lantai, ngepel bekas pee-nya Jamesha..Salut for all fathers!

  4. ditta
    ditta April 29, 2013 at 12:58 pm

    waaahhh ternyata sama yaaa….soalnya aku sering juga ninggalin khay dinas, dan papa nya sukses handle sendiri kalo malam. mulai dari nyiapin asip, nyusuin, dan nyiapin mpasi,,
    memang sukses breastfeeding itu bukti kesolidan keluarga yaa…

  5. MrsFMY
    MrsFMY April 29, 2013 at 3:04 pm

    Buibuuu…jangan lupa ya nanti sore/malem, suaminya dicium yang mesraaaa yaaaaa d(^,^)b

  6. Mamazra
    Mamazra April 29, 2013 at 3:55 pm

    Aaah, mesranyaaaa…. jadi kangen suami .. *uhuuy
    Menurutku yang seperti inilah definisi romantis.
    Suamiku juga topbgt kalo soal support, mendukung apapun yang aku lakukan, soal ASI, MPASI, breastpump, diapers, bahkan sampe cuci2 steril dan siapin ASIP untuk keesokan harinya dimana aku dah cape badan pulang kantor langsung disetrap ama Azra :)

  7. winyUmmukirana
    winy purtini April 30, 2013 at 3:34 pm

    haduh iya, jd inget cerita diri sendiri. suka kesel kalo suami protes jilbab kurang panjang, jgn pake celana tidur kalo ke tetangga, pisau harus langsung dicuci abis dipake, and so on. padahal dia banyaaak bgt bantu saya soal ngurus kirana. juga banyak toleransinya, termasuk kalo saya gak masak.

  8. adyn
    Dinny Pratami May 1, 2013 at 8:04 pm

    Wahhh jd kangen bgt sm suami nih! Hiks… Kita beruntung bgt ya pny suami yg mau turun tangan langsung ngurus kebutuhan ank & saling membantu ngurusin pekerjaan rumah. Hidup para ayah!! :)

  9. marce febriyanto
    marce febriyanto May 3, 2013 at 3:29 pm

    walau suamiku ga sesigap itu,tapiii.. akan aku peluk juga ntr malam ha..ha.. sharing yg bagus.TFS mom

  10. Brigitta
    Jojo May 3, 2013 at 5:12 pm

    berasa dibawa kembali ke jaman habis melahirkan baca ini…mirip, cuma bedanya suamiku gak pernah comment penampilan (malah enak apa gak enak yakk)..
    sampai sekarang anak umur 1 tahun, suami masih sering ngingetin untuk pumping dan makan yang bergizi..
    sekarang suami kerja di luar kota…
    waaaaa,gak bisa peluk ciuumm donk ntar malam…huaaaww…ayo cepat pulang pap..kangen dimasakin niyyy..

  11. selly_03
    selly_03 May 24, 2013 at 3:58 pm

    klo bs utk para moderator tum, d artikel d tambahin mail to ke yahoo, jd bs ku emailkan ke suamiku, hiks, ngiri dot com.. :(

Post a Comment

You must be logged in to post a comment.