Pentingnya Tes Darah Saat Hamil

Saat saya memasuki trimester ketiga kehamilan, dokter kandungan mensyaratkan tes darah yang termasuk dalam pemeriksaan rutin lengkap ibu hamil di rumah sakit tempat saya kontrol dari awal kehamilan. Pemeriksaan rutin lengkap ini bertujuan untuk menilai perkembangan janin selama kehamilan dan mendeteksi adanya kelainan perkembangan janin atau penyakit yang mungkin timbul selama masa kehamilan. Selain tes darah, pemeriksaan rutin lengkap terdiri juga atas pemeriksaan laboratorium darah paket prenatal (dengan atau tanpa pemeriksaan imunologi TORCH) dan pemeriksaan USG dengan minimal dua kali selama kehamilan yaitu pada kehamilan 12-14 minggu dan 18-26 minggu.

[caption id="attachment_115793" align="aligncenter" width="496" caption="(Gambar dari www.pixabay.com)"][/caption]

Dari tiga jenis pemeriksaan di atas, hanya tes darah prenatal yang tidak saya laksanakan. Di awal kehamilan, dokter kandungan menyarankan tes darah prenatal ini. Saat saya putuskan untuk pindah dokter dan dokter yang baru tidak mensyaratkan hal yang sama, maka pemeriksaan tersebut tidak saya ambil. Namun pengabaian ini tidak lagi berlaku di tes darah trimester ketiga yang ternyata penting dilaksanakan, apalagi ternyata ditemukan beberapa masalah yang membuat saya bersyukur mengetahuinya lebih cepat sehingga dapat segera ditanggulangi.

Untuk pemeriksaan laboratorium darah, saya diharuskan berpuasa selama 12 jam sebelumnya ini. Adapun spesimen yang diambil berupa sampel darah dan urin. Tes tersebut dilakukan di laboratorium rumah sakit yang sama tempat saya kontrol kehamilan (RS Hermina Bekasi Barat). Biaya sekitar Rp. 1000.000,- lebih sedikit. Cukup mahal, memang. Dalam satu paket tes ini terdapat empat jenis besar pemeriksaan, yaitu pemeriksaan hematologi (pemeriksaan jumlah hemoglobin, leukosit, trombosit, hematokrit, dan sebagainya), kimia darah (pemeriksaan diabetes, cek kadar glukosa darah puasa dan glukosa darah 2 jam PP), imunoserologi (pemeriksaan hepatitis (HBsAg), TORCH (anti toxoplasma IgM), dan serologi anti HIV), serta urinalisa (pemeriksaan urin lengkap mulai dari warna dan kejernihan, kimia urin, serta kondisi mikroskopik urin termasuk pemeriksaan keberadaan bakteri dan ragi yang terkandung dalam urin).

Hasil cek lab keluar tiga hari kemudian, bertepatan dengan jadwal kontrol saya dengan dr. Nina. Dalam hasil cek lab menunjukkan bahwa umumnya semua normal kecuali pemeriksaan urinalisa dan diabetes.

 

Infeksi Saluran Kemih

Dari berbagai sumber yang pernah saya baca, infeksi saluran kemih (ISK) adalah radang pada saluran kemih yang disebabkan oleh bakteri dan dalam setiap tahun ada sekitar 15% perempuan mengalami ISK. Kejadian ISK makin sering terjadi pada masa kehamilan. Perubahan kondisi hormonal yang terjadi saat hamil akan meningkatkan risiko ISK yang membuat urin tertahan di saluran kencing. Adanya peningkatan hormon progesteron pada kehamilan akan menambah besar dan berat rahim, yang berakibat pada otot-otot saluran kencing mengalami pengenduran. Selain itu, ISK rawan terjadi pada ibu hamil karena kebersihan daerah sekitar kelamin luar menjadi bagian yang sulit dipantau oleh ibu hamil, apalagi saat kondisi kehamilan semakin membesar.

Berdasarkan pemeriksaan urinalisa, ditemukan bahwa saya mengidap ISK. Dokter menjelaskan bahwa ini terlihat dari keruhnya urin saya, tingkat pH urine 6,5 (yang seharusnya adalah netral di angka 7), serta terdapatnya leukositesterase, bakteri, dan ragi dalam urin (yang harusnya negatif).  Petunjuk yang paling terlihat adalah tingginya kadar leukosit dalam urin saya (80-100/LPB, padahal nilai rujukan hanyalah sebesar 1-6/LPB). Sebenarnya gejala ISK seperti sakit saat buang air kecil, anyang-anyangan, sakit di pinggang belakang bila ginjal sudah terkena infeksi, hingga demam tidak satupun saya rasakan. Hanya saja, saat itu saya bermasalah dengan keputihan yang terus-menerus. Ternyata hal inilah yang menyebabkan urin menjadi keruh. Kemudian dokter juga menjelaskan bahwa ISK yang parah bisa membahayakan kehamilan seperti menyebabkan persalinan prematur, anemia, hipertensi, dan preeklamsia.

Untuk mengatasinya, dokter meresepkan dua obat yang masing-masing diminum satu kali, berupa antibiotik yang aman untuk ibu hamil dan satu sachet serbuk effervescent rasa jeruk yang dilarutkan dalam air. Lepas minum kedua obat tersebut, keputihan saya berkurang namun masih muncul.

Satu minggu berselang karena keputihan tak kunjung selesai, saya pun waswas dan khawatir masih mengidap ISK. Akhirnya saya memeriksakan diri ke dokter kandungan di klinik dekat rumah. Beliau menolak meresepkan obat yang sama karena dianggap obat tersebut keras dan selang waktu minum harusnya minimal satu bulan. Akhirnya dokter kandungan di klinik meresepkan tiga antibiotik, yang salah satunya adalah amoxicilin. Karena khawatir dengan jumlah dan jenis obat yang terlampau banyak dan harus benar-benar dihabiskan, akhirnya semua obatnya tidak saya minum sama sekali. Sebagai gantinya, saya hanya mencoba lebih banyak mengonsumsi air putih dan mencegah menahan buang air kecil. Selain itu saya juga menerapkan pola hidup yang lebih bersih terutama menyangkut kebersihan daerah kelamin. Selang satu bulan, sebelum sesi kontrol selanjutnya dengan dokter kandungan di rumah sakit, saya berinisiatif untuk kembali melakukan tes urinalisa. Hasilnya kadar lekosit saya 8-9/LPB, lekositesterase sudah negatif, pH urin seimbang. Akhirnya saya terbebas dari ISK.

[caption id="attachment_115794" align="aligncenter" width="496" caption="(Gambar dari www.pixabay.com)"][/caption]

 

Diabetes Gestasional

Dari beberapa sumber yang pernah saya baca, saya jadi mengetahui kalau diabetes gestasional adalah salah satu sub-tipe dari diabetes melitus yang terjadi pada perempuan yang sebelumnya tidak pernah didiagnosis diabetes namun mengalami peningkatan kadar glukosa darah yang tinggi selama kehamilan. Pada wanita hamil, khususnya pada usia kandungan di atas enam bulan, tingkat glukosa dalam darah akan meningkat melebihi batas normal. Diabetes melitus gestasional ini disebabkan karena insulin tidak dapat bekerja sebagaimana mestinya. Hormon kehamilan dapat menghalangi insulin untuk menjalankan fungsinya memecah gula darah. Akibatnya kadar gula darah (glukosa) dalam tubuh menjadi tinggi.

Umumnya diabetes gestasional tidak menunjukan gejala sama sekali, hanya dapat didiagnosis dengan pemeriksaan gula darah puasa dan gula darah sewaktu. Saya menjalani tes glukosa darah puasa (setelah 12 jam puasa makan), hasilnya normal yaitu 93 mg/dl (atas nilai rujukan 80-100 mg/dl). Setelah tes glukosa darah puasa, suster meminta saya untuk minum segelas air gula yang telah disiapkan, dan melanjutkan puasa dua jam lagi untuk selanjutnya kembali jalani tes darah. Tes darah kedua inilah yang disebut dengan tes glukosa darah 2 jam PP.

Setelah meminum air gula, saya mual luar biasa. Salah seorang pasien yang bersamaan tesnya dengan saya malahan harus mengulang tes karena keburu muntah sebelum dua jam. Dua jam menunggu pun rasanya menyiksa karena hanya boleh mengonsumsi air putih. Hasil dari tes ini menunjukkan bahwa kadar gula darah sewaktu saya adalah 171 mg/dl, di mana normalnya hanyalah 70-120 mg/dl.

Dari hasil tes glukosa darah 2 jam PP ini, dokter kandungan menyimpulkan bahwa saya harus menjalani diet gula dan kembali melakukan tes diabetes sebulan kemudian. Dokter khawatir bila kondisi ini dibiarkan, bayi yang saya lahirkan nantinya akan menderita hipoglikemia, yaitu rendahnya kadar gula yang dapat menyebabkan cacat otak karena si bayi terbiasa dengan kadar gula tinggi dari darah ibu yang berkebalikan kondisi setelah lahir di mana ia tak lagi mendapatkan asupan makan langsung dari darah ibu.

Bicara tentang diet gula yang harus dijalani selama sebulan, saya teringat kembali pada hari-hari di mana saya harus menahan keinginan untuk makan beragam camilan manis yang disajikan tiap rapat, atau saat jalan-jalan ke mall. Saat itu saya tak lagi menyeduh teh manis hangat tiap pagi di kantor, membatasi konsumsi nasi dan roti oles selai cokelat malt, dan berhenti makan alpukat dengan gula pasir yang sebelumnya kerap dilakukan. Karena dokter tidak memberikan saran untuk berkonsultasi dengan ahli gizi, jadilah saya maka harus pintar-pintar mengatur sendiri pola makan selama menjalani diet ini, dan mengira-ngira makanan mana yang boleh dikonsumsi. Tiap beli makanan atau minuman kemasan, yang saya teliti adalah kadar gulanya. Saya pun berhenti minum susu hamil rasa cokelat yang ternyata mengandung gula tinggi, dan menggantinya dengan susu UHT tanpa rasa. Di tengah masa diet, iseng-iseng saya lakukan tes gula darah di apotek dekat rumah. Hasilnya membanggakan, hanya 86 mg/dl, masih masuk dalam rentang normal. Sebulan setelah tertib menjalani diet, saat kembali periksa kadar gula darah hasilnya adalah 91 mg/dl. Dokter pun tidak luput mengapresiasi usaha saya. Tetapi diet gula ini berakhir dengan kurangnya berat janin pada usia kandungan di bulan tersebut. Mungkin karena sedikit ngemil dan bingung di awal-awal diet karena susah cari makan yang sesuai kriteria, asupan nutrisi saya jadi berkurang. Solusinya, konsumsi protein harus ditambah demi mengejar ketertinggalan berat janin.

Satu lagi, ternyata keputihan yang sebelumnya saya kira sebagi gejala ISK, kemungkinan besar malah merupakan indikasi tingginya gula darah saya. Kata dokter, ketika gula darah tinggi inilah bakteri dan jamur ragi senang sekali bersarang sehingga menyebabkan keputihan. Terbukti ketika gula darah kembali normal, keputihan yang selama ini saya keluhkan juga berkurang, hanya muncul berupa keputihan yang normal dialami oleh ibu hamil.

Meski mahal dan cukup membuat khawatir, saya bersyukur sudah menjalani serangkaian tes darah saat hamil. Karena setidaknya, saya jadi tahu beragam bahaya penyakit dan kondisi yang mengancam, baik saat kehamilan maupun persalinan, dan lebih paham akan cara mencegah maupun mengobatinya. Sungguh, bantuan medis seperti ini memang sangat membantu menjaga kehamilan ibu dan perkembangan kondisi janin.

6 Comments

  1. avatar
    Nacil May 25, 2016 2:35 pm

    pas banget aku disuruh dokter tes prenatal (urine, anti hiv, golongan darah,dll tanpa torch) uk 17w skarang.. masih blm telat ya? tp ada jg dokter yg ga mengharuskan tes ini yaa, aku tanya2 temen ternyata ga disuruh tes sma dokternya.
    btw,klo boleh tau tes nya dimana mba? di RS nya kah?

    1. avatar

      As .



  2. avatar
    yella meisha indika March 23, 2016 9:57 am

    @woroluvpink wah mbak nambah lagi nih ilmu saya berkat pengalamanmu. Semoga kalian sehat selalu ya :)

    @aini iya siap mbak :) betul sekali, tes darah dan urin saat hamil benar-benar ajarkan saya "hope for the best prepare for the worst"

    @ninit hihi makasih mbak ninit semoga bermanfaat ya

    @bunda amira semoga di kehamilan selanjutnya bisa tes darah ya mbak :) teman saya juga ada yang takut jarum suntik dan benar-benar perjuangan untuk bisa ikut tes darah hihi semangat mbak!

    1. avatar

      As .



  3. avatar
    bunda almira March 21, 2016 8:45 pm

    Thanks bgt buat sharing nya...
    Dulu saya tidak tes darah karna tidak mendapatkan saran dan saya juga takut jarum suntik

    1. avatar

      As .



  4. avatar
    ninit yunita March 17, 2016 5:29 am

    yella... seneng deh, artikel ini penting banget dibaca oleh ibu-ibu hamil supaya kehamilannya sehat dan lancar sampai persalinan nanti. yuk bumil, sempatkan dan (harus) cek darah yaaa & juga urin.

    1. avatar

      As .



  5. avatar
    Aini Hanafiah March 16, 2016 6:44 pm

    Thanks sharingnya ya mama Yella :D betul bgt ini, pas hamil sebaiknya (dan harus disempatkan & harus mau!) tes darah dan tes urin. Karena spt yang mama Yella bilang, manfaatnya banyak dan bisa ketahuan gejala2 kondisi serius yang mungkin tidak terlalu terasa/kasat mata teramati.

    1. avatar

      As .



Post a Comment

You must be logged in to post a comment.