Peran Orangtua Menunjang Keberhasilan Hidup Anak

aldilenggana
Have question for our experts ?
Feel free to ask them here!
dr. Rinaldi Lenggana

Pendidikan: Fak Kedokteran Umum UKM Bandung. ’96 dan S2 Unika Soegijapranata Semarang ’07 Konsentrasi Magister Hukum Kesehatan.

General Practitioner dan PNS Dinkes Sumedang, PKM DTP Jatinangor, Sumedang (2004-sekarang).

Apakah benar bahwa pendidikan formal adalah jaminan keberhasilan hidup anak?

Untuk bisa membantu anak berhasil dalam hidupnya kelak, orangtua perlu mencermati hal-hal mendasar yang dibutuhkan anak sebagai pondasi keberhasilan hidup. Hal mendasar yang harus benar-benar diperhatikan antara lain adalah konsep diri, sikap, kepribadian, karakter, nilai hidup, kepercayaan, kejujuran, kepemimpinan, kemampuan komunikasi, kedisiplinan, dan motivasi yang tinggi.

Secara ringkas, orangtua perlu memerhatikan hal-hal berikut:

  • Membantu anak mengenali dirinya (kekuatan dan kelemahannya).
  • Membantu anak mengembangkan potensi sesuai bakat dan minatnya.
  • Membantu meletakkan pondasi yang kokoh untuk keberhasilan hidup anak.
  • Membantu anak merancang hidup.

Peletakan pondasi sukses diawali sejak anak lahir dan berlanjut hingga tiga tahun pertama. Selanjutnya, dengan bekal yang didapat selama tiga tahun pertama dalam hidupnya, anak mengembangkan dirinya untuk tiga tahun ke dua. Enam tahun pertama merupakan masa yang sangat kritis dalam hidup anak. Apa yang didapat selama masa ini merupakan dasar untuk anak dalam mengkonstruksi dirinya pada enam tahun ke dua dan ke tiga.

Proses pendidikan yang dilalui anak pada masa sekarang ibarat pedang bermata dua. Di satu sisi pendidikan dapat membantu seorang anak untuk mengembangkan kapasitas intelektualnya. Di sisi lain pendidikan, karena proses yang salah, sering kali justru menjadi penghambat hidup anak kelak. Mengapa bisa begini?

Masa kritis anak, dalam proses pendidikan formal adalah selama lima tahun pertama mereka di SD. Masa ini merupakan masa yang sangat menentukan karena sering kali konsep diri anak, rasa diri mampu, dan berharga justru rusak akibat proses pembelajaran yang tidak manusiawi yang hanya menempatkan anak sebagai obyek pendidikan.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan di luar negeri terhadap murid SD kelas 1 sampai 6, didapatkan fakta bahwa pembentukan konsep diri yang terjadi saat anak di SD sangat dipengaruhi oleh prestasi akademiknya. Prestasi akademik seorang anak menentukan konsep diri anak. Selanjutnya konsep diri akan mempengaruhi prestasi akademik. Pada tahap selanjutnya konsep diri dan prestasi akademik akan saling memengaruhi, baik secara positif maupun negatif.

Semua anak pada dasarnya terlahir dengan potensi menjadi jenius. Masing-masing anak mempunyai keunggulan di aspek kecerdasan yang berbeda. Hal ini sejalan dengan teori Multiple Intelligence. Sayangnya, sistem pendidikan kita hanya mengakomodasi dan menghargai salah dua dari delapan kecerdasan yang ada yaitu hanya menghargai kecerdasan logika/matematika dan bahasa (linguistik).

Setiap anak mempunyai kepribadian dan keunikan tersendiri. Salah satu keunikan mereka adalah gaya belajar. Ada tiga gaya belajar yang dominan yaitu gaya belajar visual (berdasar penglihatan), gaya belajar auditori (berdasar pendengaran), dan gaya belajar kinestetik (berdasar sentuhan/gerakan). Setiap gaya belajar ini mempunyai cara belajar yang berbeda. Prestasi akademik anak yang rendah sering kali disebabkan karena guru tidak mengerti cara mengajar yang benar yang sesuai dengan kepribadian dan gaya belajar murid.

Sekolah pada umumnya hanya menggunakan gaya belajar visual dalam proses pembelajarannya. Hal ini sangat merugikan anak dengan gaya belajar dominan auditori dan kinestetik. Anak kinestetik karena sering bergerak dalam belajar, akan dianggap sebagai anak nakal atau hiperaktif. Label ini akan menjadi “cap” yang bersifat negatif dan akan terus terbawa hingga anak dewasa.

Sekolah selama ini tidak pernah mengajarkan anak cara belajar yang benar melalui kurikulum “belajar cara belajar”. Sekolah hanya memberikan bahan ajar tanpa pernah mengajarkan strategi belajar yang sesuai untuk setiap gaya belajar.

Hal lain yang juga sangat disayangkan adalah sekolah, pada umumnya, tidak tahu bahwa sebenarnya semua bidang studi dapat digolongkan menjadi empat kategori yaitu kategori bahasa, konsep, kombinasi, dan hapalan. Setiap kategori ini menuntut teknik atau strategi belajar yang berbeda.

Murid atau anak yang tidak tahu strategi belajar untuk setiap kategori akan mengalami kesulitan belajar yang berakibat pada pencapaian prestasi akademik yang rendah. Pencapaian prestasi akademik yang rendah akan membuat anak yakin bahwa ia adalah anak yang “bodoh”. Apabila pencapaian prestasi rendah berlangsung berulang kali maka dapat dipastikan anak benar-benar menjadi bodoh, sebenarnya bukan karena anak bodoh namun lebih karena mereka percaya bahwa mereka “bodoh”.

Selain perlu mengajar anak strategi belajar untuk setiap kategori anak juga perlu belajar cara membaca yang benar, cara mencatat yang benar, cara menghitung yang benar, dan cara menghapal yang benar. Ini adalah bagian dari keterampilan belajar yang harus dikuasai anak, yang sayangnya tidak pernah diajarkan di sekolah.

Langkah selanjutnya adalah mengajarkan anak strategi yang tepat untuk mengerjakan soal ujian. Mengapa? Karena setiap tipe soal menuntut cara pengerjaan yang berbeda. Misalnya soal pilihan ganda, menjawab singkat, menjodohkan, esai, dan soal cerita.

Selain perlu mengembangkan kecakapan di aspek akademik, anak juga perlu mengembangkan kecakapan lain yang sesuai dengan bakat dan minat. Untuk mudahnya orangtua dapat membantu anak mengembangkan hobi anak.

Fase kritis selanjutnya adalah saat anak di SMU. Pada masa ini orangtua harus bisa membantu anak dalam merencanakan hidup. Penetapan tujuan hidup, walaupun belum bisa dilakukan secara final pada usia remaja, akan sangat menentukan jurusan yang dipilih saat di kelas 2 SMU.

Pada banyak kasus, sering kali orangtua memaksakan kemauan mereka terhadap anak tanpa pernah mengindahkan pikiran dan suara hati anak. Orangtua sering kali merasa tahu semua yang terbaik bagi anak mereka. Pemaksaan kemauan ini semakin diperburuk oleh kerangka berpikir atau paradigma yang sudah usang yang dijadikan pijakan berpikir para orangtua. Seringkali orangtua berusaha mewujudkan impian mereka, yang tidak dapat mereka capai saat mereka masih muda, melalui anak mereka.

Pada masa remaja (SMU) orangtua sebaiknya membantu anak untuk “melihat” masa depan, khususnya dalam aspek karir atau pekerjaan. Ada empat kuadran yang bisa dimasuki anak. Ada kuadran pegawai/karyawan, kuadran pengusaha, kuadran pemilik usaha, dan kuadran investor.

Setiap kuadran mempunyai aturan main yang sangat berbeda dan membawa konsekwensi yang juga berbeda. Tidak tepat bagi kita, selaku orangtua, untuk menentukan kuadran mana yang harus dimasuki anak saat mereka selesai kuliah. Hal terbaik yang bisa dilakukan adalah dengan menyiapkan mereka sebagai pembelajar seumur hidup, yang senantiasa berkembang, yang akan mampu beradaptasi dengan berbagai situasi yang dihadapi.

Semua ini bisa dilakukan anak bila pondasi hidupnya kokoh, bila konsep dirinya kuat dan positif, bila anak merasa dirinya berharga dan layak untuk sukses, dan anak tahu apa yang ia inginkan dalam hidupnya.

Dengan pondasi hidup yang kokoh maka anak akan dapat mengembangkan potensinya secara maksimal. Potensi yang merupakan anugerah dari Tuhan yang dibawa anak sejak lahir. Potensi yang akan menjadi kekuatan dan batu pijakan anak untuk meraih keberhasilan hidup di bidang apa saja.

15 Comments

  1. popobell
    Gisela Sumy Lusianty March 2, 2011 at 1:40 am

    Artikel yg sangat bermanfaat. Sy org yg sgt visual, mgkn krn itu sy cocok dgn gaya belajar visual yg diterapkan di sekolah indonesia, wow now it’s all make sense.. :) sangat berharap guru2 di indonesia baca artikel ini biar lebih terbuka dengan gaya belajar tiap anak yg berbeda2.

  2. koeliz
    Tasya Karissa March 2, 2011 at 5:24 am

    Interesting and Enlightening! Jadi ga usah “ngoyo” masukin anak di sekolah tertentu yang terkenal favorit/unggulan apalagi biaya tak terjangkau yah… Meskipun sekolahnya “biasa-biasa saja” tapi kalau orangtua juga berperan aktif mendidik sepertinya nothing to worries… :)

  3. SunShine
    Fitria Adriadi March 2, 2011 at 7:39 am

    artikel yang menarik :)
    semoga lebih banyak sekolah2 yang ‘aware’ tentang hal ini dan menerapkan di kurikulumnya.
    mungkin pada artikel selanjutnya bisa diberikan tips2 atau langkah2 untuk orang tua mengidentifikasi, memperkenalkan, dan membiasakan cara belajar yang benar untuk anak..

  4. superpippo
    Astrid Lim March 2, 2011 at 8:18 am

    Saya adalah salah satu “korban” salah jurusan karena “kemauan” dan “pandangan” org tua, sampai akhirnya masuk IPA, kuliah teknik, dan jadi insinyur…untung belum terlambat buat banting setir dan sekarang berkecimpung di dunia sosial =D I don’t want to do the same mistake with my son..

    Btw, baca artikel ini jadi inget sama Amy Chua, hahaha…

    thanks dok, really like this!

  5. IntanDian
    Dian Sarwono March 2, 2011 at 9:22 am

    Sejak hamil, saya berjanji tidak akan membiarkan anak saya merasakan cara belajar seperti yang saya alami dulu. Saya mengalami hal yang dr. Rinaldi katakan yaitu umumnya sistem pendidikan kita hanya fokus pada kecerdasan logika dan linguistik. Sehingga anak yang kurang memiliki bakat dalam dua hal tersebut merasa terkucil. I won’t let that happen to Kai. Terima kasih artikelnya dr. Rinaldi. You’ve made my day :)

  6. nuning.purwaningsih
    nuning purwaningsih March 2, 2011 at 10:33 am

    Great Article:) really enlighting. hopefully we can support and working together with our children to develop their future better:)

  7. BunDit
    BunDit March 2, 2011 at 10:48 am

    Jadi langsung ingat cerita Thomas Alva Edison, anak yang dicap bodoh dan dikeluarkan dari sekolahnya tp ibunya, Nancy Matthews Edison dengan keteguhan dan kesabarannya mampu membantu anaknya menjadi salah satu penemu terbesar di dunia!

    Thanks artikelnya dr. Rinaldi, sangat mencerahkan kami sebagai orangtua :-)

  8. ratudewiandrini
    ratu dewi andrini (dinni) March 2, 2011 at 6:33 pm

    wow uber enlightening!!
    sangat setuju kita perlu belajar cara belajar yang benar.. dan tentunya akan ku terapkan ke anakku nanti..

    dan dari artikel ini jadi semakin yakin, untuk pilih sekolah emang harus kita datengin satu per satu, liat proses belajar di sekolah itu dari mulai guru2nya, dan visi misi sekolah itu.. memang sih takes time.. tp dg begitu kayaknya bisa ketemu skolah yang bener2 cocok dengan cara belajar anak kita..

    btw.. gimana bisa taunya yaa anak kita itu termasuk gaya belajar visual (berdasar penglihatan), gaya belajar auditori (berdasar pendengaran), atau gaya belajar kinestetik (berdasar sentuhan/gerakan)? harus melalui tes tertentu atau bisa dari pengamatan thd anak kita aja kah?

  9. mamashofi
    mamashofi March 2, 2011 at 8:30 pm

    Artikel yang sangat bagus, memberi pencerahan…
    Tapi kalo untuk kasus my son hanif (11 y klas 6 SD) gimana ya Dok? Hanif agak kurang untuk math, tapi kalo diajari ayahnya biasanya nilainya lumayan.. (ngaku ibunya kurang ngajari). Tapi di sisi lain dia begitu imaginative, kreatif karena dia begitu tekun dan detil kalo bikin komik. Bahkan hanif sudah mantep kalo besar mau jadi komikus buka studio sendiri mau belajar ke Jepang (amin ya robbal alamin mudah-mudahan terkabul Nak).
    Jadi lulus sd mau smp dan smu mau ke SMSR (sekolah menengah seni rupa), kuliah mau nyari jurusan seni. Bagaimana ini Moms? (hadeuhh.. Pijitin kening karena pusing).

  10. aldilenggana
    Rinaldi Lenggana March 2, 2011 at 10:46 pm

    Dear all mama n papa….terima kasih banyak atas semua tanggapan dan komennya. Semoga artikel yang tidak seberapa ini bisa bermanfaat.

    Mohon maaf apabila banyak sekali kekurangan baik dalam penulisan dan tata bahasanya….

    Sedikit menanggapi beberapa komen…

    @mama BunDit : iya….bener banget….bahkan banyak sekali orang hebat yang karyanya diabadikan sebagai Mahakarya adalah berasal dari seorang yang handicap, bahkan berpenyakit ayan sekalipun….Tuhan maha adil, dan dibalik kekurangan seseorang, pasti diberikan sesuatu yang dahsyat dibaliknya….:)

    @mama Dinni : yups…bener banget…mama teladan nih…memang benar sekali kita mesti sedikit berkorban demi mendapatkan yang terbaik bagi putra dan putri kita tercinta, dan tidak lain yang benar” mengetahui karakter dan kemampuan anak” kecuali mama dan papanya. Oh iya, sebenarnya seorang anak belum bisa kita nilai secara mutlak karakteristiknya (visual, auditorik, dan kinestetik), karena masih labil, dan dalam proses mencari identitas…namun secara kasar, kita bisa membuat sebuah eksperimen sederhana dengan membacakan dongeng. Baik dongeng saja, dongeng beserta gambar, dan dongeng melalui media elektronik. Biasanya anak lebih menikmati lewat media elektronik, karena anak bisa lebih mengekspresikan kesemua karakter tersebut. Good job mama…:)

    @mamashofi : wah ternyata hanif anak yang kreatif yah, dan seorang visioner tentunya !! :)….salut sama mama dan papanya yang bisa memberikan stimulus yang baik sehingga hanif bisa mengeskpresikan kemampuan dan kreatifitasnya. Very very Goood !!! Saran saya, sebaiknya hanif tetap dimasukan ke sekolah smp, namun diberikan kurikulum ekstra diluar sekolah (atau disekolahnya bila ada) untuk mengembangkan kreatifitas dan hobinya. Mengapa demikian ? Karena diusianya yang 11 tahun dan berada dibangku SD, masih banyak ilmu yang belum diperkenalkan kepada Hanif (kimia, fisika, biologi, ekonomi, bahkan kedokteran sekalipun) bisa aja setelah mengenal beberapa ilmu tersebut ternyata Hanif lebih gemar dan bahkan ingin berprofesi dibidang tersebut. Lagipula usia hanif katakanlah masih dalam usia labil. Yang penting kita jangan membatasi kreatifitas anak selama masih dalam batasan kemampuan si anak tentunya…salut banget sama mamashofi….btw biasanya anak memang lebih mudah masuk belajar matematika bila papanya yang turun tangan, karena papa kebanyakan dan biasanya lebih mengutamakan logika dan sistematika dalam mengajarkan matematika…:)

  11. Indah Prabandono
    Indah Prabandono March 3, 2011 at 9:16 am

    Wah aku selalu menggemari setiap artikel dokter Rinaldi deeh :) generasi sekarang memang harus dan sangat layak mendapatkan kualitas pendidikan yang bagus tapi jangan mengesampingkan bahwa setiap anak was born unique. Kalo jaman dulu anak dapet nilai jelek ada yang maen hukum ‘pancung’, ih amit-amit deh kalo jaman sekarang. Justru ortulah yang HARUS menjadi pendidik yang paling baik untuk anak-anaknya :)

    Semoga all Urban Mamas/Papas bisa terus saling belajar dalam mendidik anak-anak kita. Kan bangga banged kalo ada salah seorang anak kita yang jadi ‘orang’ ternyata berkat jadi TUMblers. Amiiinnn :)

  12. mulyssa
    mulyssa March 3, 2011 at 12:08 pm

    sebuah artikel yang harus dicerna berkali-kali ni dok. setiap paragrafnya mengandung ilmu dan tema yg sangat luas :) semoga di artikel lain, bisa fokus ke 1 tema aja tp dalem ya Dok, misal: cara menulis yg benar/ cara menghapal yang benar.

    TFS dok :D

  13. mamashofi
    mamashofi March 4, 2011 at 10:53 pm

    Whaduh Dok… Saya jadi malu atas tanggapan dokter
    Padahal sebenernya kami sebagai orangtua khususnya saya sebagai ibunya sangat khawatir ato mungkin tepatnya gak bisa rela kalo anak kami sudah bercita-cita sebagai komikus…secara dia masih kecil dan benar kata dokter masih labil. Saya tetap mengharuskan Hanif lulus SD masuk SMP, trus SMA, kuliah ambil jurusan favorit orangtua seperti kedokteran, teknik, ekonomi, hukum dll. Tapi si anak malah tambah keukeuh, untungnya si ayah sabar dan bijak (jauuuh..dibandingin si ibu), dan meminta saya untuk berdamai *lebay* dengan Hanif dan menunggu…mudah2an di smp nanti dengan banyak bergaul dan tambah wawasan maka anak bisa menjadi lebih positif. Thanks a lot Dok

  14. diansocool
    Dian Andriani March 13, 2011 at 5:09 am

    good article, sangat bermanfaat, thank for sharing ya dok dan ijin sharing di notes fb, tentu saja dengan acknowledge penulisnya, supaya makin banyak orang tua tahu dan mau mendidik anaknya dengan benar :) semoga sayapun, amin..

  15. citralestari_np
    citra lestari December 25, 2012 at 8:40 pm

    Artikelnya bagus banget. Emang yang namanya mendidik juga harus ada pelajarannya ya, tugas orang tua ya belajar cara mendidik. Saya adalah salah satu korban anak yang dididik untuk menjadi anak sesuai dengan kemauan orang tua, apa emang tipikal orang tua jaman dulu seperti itu ya??
    api mungkin saya ambil positifnya aja, itu ya mereka lakukan demi kebaikan saya. Cuma saya gakkan mau mengulangi hal itu ama anak saya nanti. :)
    BAru aja liat quote yang cocok : “Don’t try to make children grow up to be like you, or they may do it” -Russel Baker-

Post a Comment

You must be logged in to post a comment.